Bab 2

"Ayo Zen. mereka sudah menunggu didalam," ucap Surya setelah mobilnya terparkir dihalaman restoran.

Tempat dimana yang akan menjadi saksi bisu pembahasan yang terjadi malam ini.

"Tapi yah, emang siapa sih yah orangnya? Namanya aja, Zen kan juga perlu tau." Kembali sebuah pertanyaan terlontar karena sebuah penasaran.

"Nanti juga kamu akan tau sendiri," jawab Surya tanpa memandang.

"Tapi yah, emang harus ya nikah bulan depan? Zen belum siap yah."

"Ya harus dong, udahlah Zen apapun alasanmu, sekarang kamu harus ikut ayah masuk untuk bertemu dengannya!" ucap Surya seraya melangkah keluar.

Kini Alzena pun melangkah dengan malas. Meski dengan wajah yang terus ditekuk, namun Alzena menemui tamunya dengan penampilan yang sangat cantik. Mengenakan midi dress berwarna hitam dan aksesoris sederhana yang membuat penampilannya tampak elegan.

Tiba tiba "dreet dreeet" terdengar suara ponselnya bergetar, nama Jody menari nari dilayar ponselnya. Dengan cepat Alzena meraih ponselnya dan menjawab panggilan itu.

"Hay Jod."

"Hay sayang, kamu lagi sibuk ngga? Aku jemput ya kita ke area balap malam ini," ucap Jody yang membuat ekspresi wajah Alzena seketika berubah.

Sungguh tawaran yang sangat menarik, Sebenarnya ia ingin sekali menerima ajakan itu, namun sayangnya ia terlanjur mengikuti keinginan sang ayah.

"Maaf ya Jod, malam ini aku ada keperluan sama ayah, jadi aku ngga bisa ikut kamu," jawab Alzena yang membuat Jody kecewa.

"Yaudah deh kalau gitu, next time ya."

"Oke, next time aku ikut kamu!"

Mendengar percakapan itu membuat Surya kini kembali mendekat. Seketika Alzena pun terbelalak, saat melihat sang ayah yang tiba tiba meraih ponsel digenggamannya.

"Ayah, kembalikan handphone Zen!"

"Ngga, ayah ngga akan kembalikan kalau kamu masih terus berhubungan sama Jody, ayah ngga mau kamu terbawa pengaruh buruknya Zen, mau jadi apa kamu nanti kalau terus terusan bergaul dengan laki laki itu? Udah jangan banyak bicara, ayo kita masuk."

Mendengar ucapan itu membuat Alzena kini terdiam, dan terpaksa menurutinya, memasuki restoran dan menemui laki laki serta keluarga yang hendak dijodohkan dengannya.

Sementara dimeja yang tidak jauh dari pintu, tampak sepasang suami istri yang sudah menunggu lebih dulu. Mungkin mereka adalah orang tua dari laki laki tersebut.

Melihat kedatangan Surya dan Alzena, sepasang suami istri itu pun menyambutnya dengan hangat, dengan senyuman merekah dan wajah yang tampak bahagia.

Namun yang membuat Alzena bingung adalah, mengapa tak ada laki laki seumurannya disana? Lalu siapa yang hendak dijodohkan dengannya?

"Maaf, Emilio kemana?" tanya Surya yang membuat Alzena melebarkan mata.

Nama itu tak asing ditelinganya, bahkan hampir setiap hari nama itu digadang gadang dilingkungan kampusnya. Dan tadi pun ia sempat berdebat dengan laki laki yang bernama persis dengan yang disebutkan sang ayah.

Apa mungkin mereka orang yang sama, atau hanya kebetulan saja persis namanya?

Tak lama kemudian.

"Nah itu dia Emilio," ucap seorang wanita tua yang menunjuk ke arah pintu masuk.

Membuat Surya dan Alzena turut mengikuti arah pandangannya. Seketika Alzena melebarkan mata, setelah melihat laki laki yang kini berjalan mendekat.

"Pak Emil," gumam Alzena tanpa suara.

Ternyata laki laki yang dijodohkan dengannya itu tidak lain adalah dosen killer dikampusnya.

Pandangannya tak terhenti memperhatikan laki laki bertubuh tegap itu terduduk. Tapi mengapa reaksinya biasa saja setelah melihat Alzena? Apakah mungkin ia sudah tau jika Alzena lah wanita yang dijodohkan dengannya?

"Jadi laki laki yang ayah maksud itu pak Emil yah?" Tanya Alzena yang membuat Surya mengangguk.

Anggukan itu benar benar membuat Alzena tak dapat berfikir jernih, ulah sang ayah yang dianggapnya benar benar aneh.

Usia keduanya terpaut sangat jauh, lalu mengapa Surya dengan mudah hendak menjodohkan laki laki itu untuk Alzena? Bukan kah lebih pantas menjadi paman nya, dari pada harus menjadi suaminya?

Kini Alzena pun berniat membicarakan hal ini empat mata dengan Emil, berusaha mendekat dan membawa Emil menjauh dari keluarga.

"Jadi bapak tau tentang ini?" Tanya Alzena memperhatikan wajah Emil dengan tajam.

"Ya, saya tau," jawab santai Emil yang membuat Alzena melebarkan mata.

"Kalau bapak tau, kenapa bapak ngga tolak perjodohan ini aja sih? Saya kan ngga mau nikah sama bapak, saya udah punya pacar nama nya Jody, dia seumuran sama saya, ngga kaya bapak yang udah tua," tutur Alzena yang membuat Emil melebarkan mata.

"Kamu bilang saya tua? Jadi kamu bawa saya ketempat ini hanya untuk mengatakan saya tua?"

"Iyalah kan umur bapak udah empat puluh tahun, sedangkan saya baru dua puluh lima tahun, saya ngga tau gimana jadinya kalau saya nikah sama bapak," jawab Alzena yang membuat Emil kini geram.

Pandangan matanya tertuju tajam, dan rahangnya sedikit mengeras.

"Memang sih bapak ganteng, saya akui itu. Tapi ya tetep aja, bapak ini tua, ngga cocok sama saya," tambah Alzena yang benar benar menguji kesabaran Emil.

"Kamu fikir saya mau menikah dengan kamu?"

"Terus kenapa bapak terima perjodohan ini? bapak harus batalin, saya kan ngga mau nikah sama om om kaya bapak."

"Oke, lihat saja nanti, laki laki yang kamu bilang om om ini akan membuatmu jatuh cinta padanya," ucap Emil memalingkan wajah dan membuat Alzena melebarkan mata.

"Dih ngga akan, udah saya bilang, saya udah punya pacar, dan saya sangat mencintainya, saya ngga mau tau, bapak harus bisa batalin perjodohan ini!"

"Lalu, kenapa bukan kamu saja yang membatalkannya?"

"Saya ngga berani pak, ayah pasti marah kalau permintaannya ngga diturutin."

"Nah itu juga jawabannya. Saya ngga bisa karena saya takut kualat pada orang tua saya," jawab Emil yang membuat Alzena kini terdiam.

Wajahnya kembali ditekuk, dengan pikiran yang terus bermain. Entah apa perjodohan ini benar benar akan terlaksana?

Jika iya, Alzena tak bisa membayangkan akan seperti apa hari harinya nanti, jika hidup berdua bersama laki laki bersifat dingin seperti Emil.

Wajahnya tampak sangat frustasi, kini pandangannya tertuju pada tempat dimana Surya dan kedua orang tua Emil berada, namun matanya melebar setelah tak ia dapati mereka lagi disana, apakah mereka sudah pulang? Lalu mengapa tak memberitahunya?

"Ayo, saya antar!"

Tiba tiba terdengar suara itu mendekat.

"Ngga usah, saya bisa pulang sendiri," tolak Alzena yang lalu melangkahkan kakinya keluar dari restoran.

Langkah kebutnya kini terhenti, setelah ia teringat jika ponselnya sedang tak bersamanya. lalu bagaimana caranya untuk memesan taxy online? Tampak bingung kini menghampiri wajah yang terpoles make up tipis itu.

"Yakin mau pulang sendiri?" tanya Emil setelah berada didekat Alzena kembali.

Sebenarnya ia tak ingin menerima bantuan itu, namun jika tidak, bagaimana cara nya ia kembali ke rumah? harus menunggu taxy yang lewat? Mau sampai kapan? Sedangkan semakin lama hari semakin malam.

"Yasudah, kalau kamu memang mau pulang sendiri, saya duluan," ucap Emil yang kini melangkah pergi, yang membuat Alzena melebarkan mata. Dengan spontan Alzena memanggil Emil kembali.

"Pak Emil, yaudah saya mau pulang bareng bapak deh," ucap Alzena yang membuat langkah Emil seketika terhenti, dan sedikit tersenyum.

Sesampainya di rumah, kini Alzena merebahkan dirinya di tempat tidur ternyaman nya, matanya berkedip berulang kali dengan pandangan yang terus tertuju pada langit langit kamarnya.

"Ganteng sih, dan lumayan baik juga, tapi... Tetep aja dia tua, aaaah ayah kenapa sih harus pak Emil laki laki pilihan ayah itu? Terus gimana sama Jody? Aku kan cintanya sama Jody, malah ayah jodohin sama om om kaya pak Emil begitu."

•••

Bab 3

Pagi ini, matahari bersinar sangat cerah, secerah wajah ayu, gadis mungil yang kini melangkah menyusuri koridor kampus, kembali ia berjalan seorang diri dengan penampilan sederhana yang membuatnya tampak anggun.

Tanpa memperhatikan sekeliling, Alzena yang dengan percaya diri membuka pintu ruang kelasnya, Namun seketika matanya melebar, saat ia dapati Emil yang sudah berada ditempat duduknya.

Pandangannya tak percaya, pasalnya selama ini ia tak pernah datang terlambat. Namun mengapa saat ini keadaan justru terbalik?

"Loh kok? Ini dia yang kepagian atau aku yang kesiangan?" batin Alzena dengan pandangan yang terus tertuju pada wajah tegang Emil.

Wajah itu memperhatikannya dengan tajam, membuat Alzena kembali ingat akan si raja hutan. Ya, singa.

Perlahan pandangan Alzena pun tertuju pada jam dinding dikelasnya, kembali matanya melebar setelah ia melihat jarum jam itu menunjukan pukul 09:30.

"Jamnya, kenapa sih ini Aneh banget, bukannya ini masih pagi?" gumam Alzena yang terdengar disemua telinga.

Melihat bingungnya Alzena membuat seisi kelas menahan tawa termasuk Riska, yang kini menggelengkan kepala melihat keunikan sahabatnya.

Perlahan kini Alzena pun melangkah, mendekati Emilio Cullen laki laki yang sedari tadi terlihat ingin menerkamnya itu.

"Maaf pak, berarti saya terlambat ya?" tanya Alzena yang membuat Emil mengerutkan dahi.

Emil menatapnya dengan pandangan tajam, karena menganggap ini adalah hal yang sangat ceroboh, masuk terlambat namun tak menyadarinya, tak masuk akal.

"Menurut kamu?" Jawab Emil singkat yang membuat Alzena menggaruk bagian rambutnya yang tidak gatal.

Beberapa menit terdiam, tak ada tanggapan, juga tak ada pernyataan, Emil yang hanya terdiam tak membuka suara sedikitpun, pandangannya kembali pada layar laptob yang sedari tadi menyala.

Alzena dibiarkan berdiri sendiri dihadapan teman teman sekelasnya. Malu dan seperti tak dihargai.

"Yaudah deh pak, saya keluar aja!" ucap Alzena beberapa menit kemudian.

Karena sudah menahan malu yang menggunung, tak ada satu kata pun terlontar dari bibir dosen killer itu, boro boro menyuruhnya kembali ke tempat duduk, memperhatikannya pun tidak, benar benar menyebalkan.

Saat Alzena hendak melangkahkan kakinya pergi, tiba tiba Emil memanggilnya hingga membuat langkahnya terhenti kembali.

"Alzena, duduk!" ucap Emil yang membuat Alzena berwajah muram.

Rasanya kesabarannya sudah habis, Ia tak ingin diperlakukan seperti ini, ia fikir Alzena anak kecil yang hanya dibiarkan saja dan dipermalukan didepan semua mahasiswa/i nya.

"Ngga usah pak, lebih baik saya keluar."

"Kalau kamu keluar kamu tidak akan mendapat nilai hari ini "

"Saya ngga peduli!" jawab Alzena.

Jawaban itu membuat semuanya terbelalak, termasuk Emil dan Riska, jawaban itu terlontar karena hatinya yang sudah terlanjur sakit, karena perbuatan yang mungkin tidak seberapa, tapi sangat memalukan itu.

Dengan cepat Alzena melangkah keluar kelas dan berjalan menuju taman kampus, dengan mata memerah dan wajah kesal.

"Katanya calon suami, tapi ngga punya hati, emang harus ya dia permalukan aku kaya gini? Dia fikir aku anak kecil? Yang bisa dipermalukan seperti ini," gerutu Alzena sepanjang perjalanan nya.

Tiba tiba...

"Sayang." terdengar suara laki laki yang membuat langkah Alzena terhenti dan dengan cepat menoleh.

Ekspresi wajahnya seketika berubah, kesedihan dalam hatinya kini menghilang, karena memandang wajah yang ia rindukan, tampak tersenyum bahagia pada wajah Alzen kali ini.

"Jody!"

"Hay sayang, aku kangen banget sama kamu," sambutnya penuh kehangatan.

"Iya aku juga, oiya aku minta maaf ya semalam aku ngga bisa ikut kamu ke area balap, aku ada keperluan sama ayah."

"Oke, ngga papa kok. Zen nomor kamu kenapa ngga bisa dihubungi? Aku telfon kamu berkali kali ngga ada respon."

"Maaf ya Jod, handphoneku di pegang ayah," jawab Alzena yang membuat laki laki berambut gondrong itu mengerutkan dahi.

"Dipegang ayah, Kenapa?"

"Ngga papa kok, yaudah kita ke taman yuk aku lagi badmood banget nih," ajak Alzena yang kini melangkahkan kakinya berbarengan dengan Jody.

Seketika langkah keduanya terhenti, setelah Emil tampak melintas, langkahnya terlihat dari arah toilet. Pandangan laki laki bertubuh tegap itu kini tertuju pada Alzena dan Jody yang bergandengan tangan.

Memandang wajah itu membuat Alzena seketika membuang muka, rasanya tak sudi lagi melihat ataupun bertemu laki laki yang telah membuat moodnya berantakan hari ini.

Tak berkata apa pun, dengan cepat kini Alzena membawa Jody meninggalkan tempat, dan membuat ekspresi wajah Emil tampak bingung.

"Kamu kenapa Zen? Lagi sedih ya?" Tanya Jody setelah memperhatikan wajah sang kekasih yang tampak uring uringan.

"Lebih ke rasa kesel Jod. Aku lagi kesel banget sama dosen killer itu."

"Pak Emil maksut nya?"

"Iya, udah kaya kulkas, kaya kanebo kering dan sekarang malah kaya orang yang ngga punya hati."

"Emang kenapa sih? Kenapa kamu sampe sekesel ini sama dia?"

"Aku telat masuk jamnya," jawab Alzena yang membuat Jody menghela nafas.

"Pantes aja, kan kamu tau sendiri pak Emil memang orang yang disiplin."

"Ya tapi kan... Ah udahlah Jod aku males bahas laki laki itu, bikin moodku berantakan aja."

Sementara di ruangannya, Emil yang kini tak berhenti memikirkan Alzena, perasaannya kini tak tenang setelah ia melihat perubahan sifat Alzena padanya.

"Apa saya keterlaluan, Sampai dia marah seperti ini?" batin Emil dengan pandangan merenungnya.

Ia tak menyangka jika rasa penyesalan akan menghampirinya seperti ini, karena mungkin Alzena sekarang bukan hanya sebagai mahasiswinya, tapi Alzena adalah wanita yang satu bulan lagi menjadi istrinya.

Dengan cepat Emil pun membereskan semua miliknya dan beranjak meninggalkan ruangan, entah hendak pergi kemana ia kali ini, langkahnya terlihat sangat terburu buru.

Beberapa jam kemudian.

Sepulang kuliah, Jody yang kini menghentikan motornya dihalaman rumah Alzena.

"Makasih ya Jod."

"Sama sama sayang, yaudah aku terus aja ya, oiya jangan lupa nanti malam."

"Oke!"

Kini motor sport Jody pun melaju pergi, setelah kepergiannya, Alzena pun memasuki rumahnya, ingin beristirahat dan mempersiapkan diri untuk nanti malam bertemu Jody kembali.

Namun langkahnya seketika terhenti, setelah ia dapati Emilio yang sudah terduduk seorang diri disofa ruang tamunya.

Pandangan matanya melirik dengan ekspresi wajah kesal, tak berkata apa pun Alzena yang terus berjalan tanpa menyapa Emil, malah justru langkahnya kini menjauh.

Dengan cepat Emil pun mengikuti dan meraih tangan Alzena, hingga membuat langkahnya terhenti. Namun seketika Alzena menarik tangannya kembali hingga terlepas dari genggaman Emilio.

"Saya mau minta maaf Zen!" ucap Emil pada wanita yang enggan menatapnya ini.

Tak sedikit pun pandangan Alzena memperhatikan Emil, mungkin masih terbawa rasa kesalnya, bahkan sampai sekarangpun bayang bayang malu itu masih ada.

"Zen, saya tau saya salah. Kamu pasti sakit hati dan malu dengan perlakuan saya tadi kan?"

Belum menjawab Alzena mengernyitkan bibirnya dan menggelengkan kepala.

"Menurut bapak?" ucap Alzena yang kini menatap tajam kearah Emil.

"Mending sekarang bapak pergi deh, saya capek mau istirahat."

"Oke saya pergi, tapi sekali lagi saya minta maaf!"

"Bodo amat."

•••

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED