"Zen, ayah tau kamu masih kuliah, tapi kamu harus tetep menikah sama laki laki pilihan ayah."
"Ayah apaan sih? Alzen ngga mau ya dijodohin, emangnya ini jaman Siti Nurbaya? Lagian Alzen kan udah punya Jody, laki laki yang Alzen cinta," jawab Alzena kala mendengar pernyataan yang baru saja Surya ucapkan.
Sebuah pernyataan aneh yang tiba tiba disampaikan, bak suara petir yang terjadi tanpa hujan, mengejutkan. Hendak menjodohkan Alzena dengan laki laki pilihannya?
Sementara Alzena yang kini telah menaruh hatinya pada laki laki bernama Jody, laki laki yang dianggapnya akan menjadi cinta terakhirnya.
"Zen, ini demi kebaikanmu. Ayah ngga suka kamu bergaul sama Jody, apa lagi kamu bilang cinta didepan ayah, dia ngga baik buat kamu, kamu lihat aja tingkahnya yang suka balapan liar, seperti anak ngga terdidik."
"Tapi balapan kan emang hobinya yah."
"Tapi kan ngga harus balapan liar, Zen. Kenapa ngga sekalian aja ikut kompetisi balap motor? pokoknya ayah ngga mau tau, bulan depan kamu harus mau menikah sama laki laki pilihan ayah!"
Menikah bulan depan? benar benar aneh, apa yang terjadi pada sang ayah, hingga tiba tiba ia memutuskan untuk menjodohkan putrinya secepat ini? Sementara statusnya masih menjadi mahasiswi, haruskah Alzena menikah ditengah tengah perjalanan pendidikannya?
"Bulan depan? Ayah, Zen kan belum tau siapa laki laki itu? Dan kak Adit juga belum menikah, apa Zen harus mendahuluinya?" ucap Alzena melirik Aditya Dinata yang sedang asik menyantap makanan dalam piringnya.
"Siapa bilang? bulan depan kakak juga nikah kok," sahut Adit dengan menjulurkan lidahnya.
Namun pernyataan itu pun membuat Alzena terkejut, karena sebelumnya ia tak mendengar apapun tentang pernikahan ini.
"Kalian akan menikah dihari yang sama. Dan kamu ngga perlu tau tentang laki laki itu Zen, karena ayah bisa pastiin dia adalah laki laki yang baik, dia laki laki yang tepat buat kamu."
Seketika mood makan malam Alzena kali ini menghilang, apa mungkin ia harus pasrah dengan perjodohan ini?
Alzena tahu bagaimana sifat ayahnya, ia adalah laki laki tegas yang segala peraturannya harus di patuhi, meski dalam hatinya bertekad untuk tidak menerima perjodohan itu, namun yang bisa ia lakukan saat ini adalah diam, demi amarah sang ayah agar tidak terjadi.
Namun karena nafsu makannya kini sudah menghilang, ia bergegas menuju kamarnya, menangis dan berharap, semua ini hanyalah mimpi. Ayahnya tak mungkin menjodohkannya!
Tanpa terasa matanya mulai sayup dan ia akhirnya tertidur dengan sebuah keresahan.
Sampai kemudian pagi menyapanya, jam sudah menunjukan pukul 08:00. Tanpa sarapan dan menyapa semuanya, Alzena pergi ke kampus. Pikirannya benar benar kacau dan berpikir kampus akan menjadi tempat untuk bisa menenangkan pikirannya saat ini.
Dikampus, Alzena melangkahkan kaki tak sesemangat biasanya, Langkahnya malas dan dengan tatapan merenung. Lantaran ia yang terus teringat akan perjodohan yang diucapkan sang ayah tadi malam.
"Kenapa sih ayah bertindak secepat ini? Aku kan belum siap nikah, apa lagi sama laki laki yang ngga tau siapa," batin Alzena dengan terus melangkah.
Dari depan, tampak langkah tegap seorang pria berjalan menuju ruangan dosen, dia adalah Emilio Cullen, seorang dosen killer yang sedang viral dikalangan mahasiswinya.
Meski usianya kini sudah berkepala empat, tapi wajahnya terlihat lebih muda. Tubuh atletisnya membuat para mahasiswi tak berkedip saat memandangnya. Kehadirannya selalu menjadi fokus utama bagi seluruh mahasiswi yang melihat.
Begitupun Alzena, yang lamunannya seketika terbuyar kala ia memperhatikan laki laki berwajah bule itu melangkah semakin mendekat.
Tak bisa dipungkiri, jika dosen yang terkenal killer tersebut, ternyata memang mempunyai wajah yang sangat tampan.
Namun tiba tiba "bruuuuk" Alzena menabrak sebuah pilar, hingga membuatnya terjatuh.
"Aduuh," desah Alzena seraya mengusap bagian keningnya yang terasa sedikit sakit.
Karena desahan Alzena, semua pandangan kini beralih padanya, pandangan dari wajah tampan, dan beralih pada seorang gadis mungil yang terjatuh karena sebuah pilar. Lucu, cukup menjadi komedi dipagi hari.
Sementara Emil, yang juga memperhatikannya dengan pandangan aneh, karena jaraknya kini tak lagi jauh, Alzena terjatuh tepat dihadapannya.
Namun melihat itu Emil tak menolong ataupun membantu Alzena berdiri, Emil justru terdiam memperhatikan wajah Alzena yang terus mendongak menatapnya.
Setelah sadar akan keberadaan Emil, Alzena pun melebarkan mata, ia terkejut dengan pemandangan yang ada dihadapannya saat ini, Laki laki berkarisma, dan berparas bule itu memperhatikannya dengan pandangan tajam.
"Kalau jalan hati hati, matanya dipake untuk melihat, bukan untuk melamun," ucap Emil yang membuat Alzena terbelalak.
Terkejut dengan reaksi serta ucapan dari Emil, tanpa basa basi kini Alzena pun beranjak dan meninggalkan tempat, ia tak peduli siapa Emilio ini, yang jelas ia mengenal Emil sebagai laki laki menyebalkan yang tak pernah tersenyum.
Melihatnya terjatuh pun tak ada inisiatif untuk menolongnya, malah hanya terdiam, seperti melihat seseorang yang tak perlu ditolong.
"Laki laki berusia matang? Tapi Senyum aja ngga pernah, pantes aja ngga laku laku. Yaampun ngga kebayang deh, siapa yang akan menjadi istrinya nanti, dan yang pasti, dia ngga akan bahagia hidup bersama laki laki tanpa senyuman dan kaku seperti kanebo kering itu?"gerutu Alzena kala kini ia duduk seorang diri.
Wajahnya tampak sangat kesal, ia menahan emosi dipagi hari seperti ini, hingga membuat moodnya hancur berantakan.
Berbeda dengan Riska, Riska adalah sahabat baik Alzena yang bisa dibilang fans berat dari dosen killer ini, ia selalu terpesona dengan penampilan serta damage dari dosen satu ini, pandangannya tak akan pernah berpaling jika laki laki tampan bertubuh atletis itu masih ada dihadapannya.
"Oh my god, pak bule hari ini ganteng banget," gumam Riska dengan pandangan penuh pesona.
Mendengar ucapan Riska membuat Alzena mengangkat alis sebelah kirinya dan menggelengkan kepala, heran dengan sang sahabat karena telah menyukai laki laki kulkas yang dianggapnya menyebalkan ini.
Sepanjang Emil menjelaskan materi, Alzena sepertinya enggan untuk memperhatikan, entah karena ia malu atau karena ia kesal dengan laki laki yang kini terduduk dihadapannya itu.
Hingga kini Emil melontarkan sebuah pertanyaan pada Alzena, mungkin karena ia tahu jika Alzena sedari tadi tak memperhatikannya.
"Alzena Dinata, apa kamu faham dengan maksut saya?" tanya Emil yang membuat Alzena gelagapan.
Tak menyangka jika pertanyaan itu akan terlontar untuknya, pandangannya bingung, kini ia memperhatikan Riska dan berharap mendapat jawaban darinya, namun ternyata Riska hanya mengangkat kedua bahunya.
"Jadi dari tadi kamu tidak memperhatikan materi saya? Kamu main main dengan kelas saya?" imbuh Emil yang membuat Alzena menunduk, rasa takut seketika menghampiri, setelah mendengar ucapan Emil yang penuh penegasan.
"Maaf pak," ucap Alzena dengan pandangan menunduk kebawah, ia tak kuasa memperhatikan wajah tegang yang kini semakin mendekatinya itu.
"Karena kamu tidak memperhatikan materi saya, maka hari ini saya anggap kamu tidak hadir dikelas saya," ucap Emil yang membuat Alzena terbelalak.
Peraturan macam apa ini? Mengapa sekejam ini? Sudah hampir dua jam Alzena duduk hingga rasa tubuhnya kaku, namun malah dianggap tak masuk, apa ini sebagian peraturan yang benar?
"Ngga bisa gitu dong pak, saya dari tadi duduk disini loh, sampe pantat saya rasanya panas, dan sekarang malah bapak anggap saya ngga masuk," bantah Alzena pada peraturan Emil yang dianggapnya aneh.
"Kalau kamu duduk dari tadi, lalu mengapa kamu tidak bisa jawab saat saya beri pertanyaan?" ucap Emil yang membuat Alzena kembali terdiam.
Ia mengaku salah karena memang ia tak memperhatikan penjelasan materi Emil, namun tetap saja ia tak terima dengan peraturan yang tiba tiba dibuat seenaknya itu.
"Tapi pak..."
"Stop! Don't talk here, saya tunggu kamu diruangan saya!" ucap Emil yang kemudian meninggalkan tempat, kepergiannya membuat Emosi Alzena memuncak.
"Dosen sialan," gerutunya dengan wajah muram.
Dengan cepat kini Alzena pun melangkahkan kakinya menuju ruangan Emilio, muncul perasaan takut saat kini ia berada didepan ruangan itu.
Tok tok tok
"Come in."
Terdengar suara itu dari dalam ruangan menyeramkan ini. Perlahan Alzena pun melangkah masuk dan terduduk dihadapan laki laki yang sedang sibuk dengan layar laptopnya.
Setelah cukup lama terdiam, kini Alzena pun mulai membuka suara.
"Pak..."
"Saya tau maksut kamu," sambar Emil pada ucapan Alzena yang belum selesai.
"Kamu mau protes kan dengan peraturan yang saya buat tadi?"
"Iya lah pak, saya ngga mau dong duduk sia sia kaya tadi, dua jam loh saya duduk masa ngga dianggap."
"Lalu apa kamu menganggap saya? Kamu juga tidak menganggap saya kan? kamu tidak mendengarkan penjelasan saya,"
sambar Emil yang membuat Alzena seketika terdiam.
Ia tak kuasa lagi menjawab ucapan laki laki yang terlihat ingin menerkamnya itu. Namun tak dapat berkata kata, bukan berarti Alzena membuang pandangannya, malah justru pandangannya kini tertuju pada wajah tampan laki laki dihadapannya tersebut. Pandangannya penuh dengan teka teki.
"Kenapa kamu liatin saya seperti itu?"
tanya Emil yang membuat pandangan Alzena seketika buyar.
Tak ingin berbasa basi, dengan cepat Alzena pun bersiap siap hendak melangkah kabur dari hadapan singa menyeramkan tersebut, namun sebelumnya ia ingin sekali mengutarakan isi hatinya sekaligus menjawab pertanyaan Emil barusan.
"Pak, ternyata bener ya kata Riska, kalau Bapak itu... ganteng!" ucap Alzena dengan suara lirih, yang lalu dengan cepat berlari meninggalkan tempat.
Mendengar ucapan itu membuat Emil tak dapat berkutik, sejenak membeku, dan tertegun dengan pujian Alzena untuknya, hingga bibirnya kini sedikit tersenyum dengan lirikan mata yang terus tertuju pada kepergian wanita cantik itu.
Baru kali ini ada seorang wanita yang berhasil membuat Emilio Cullen salah tingkah, hanya karena sebuah pujian yang sepertinya membuatnya tak dapat lupa satu hari satu malam.
"Gimana Zen, Aman kan?" tanya Riska kala kini Alzena menghampirinya.
"Aman Ris, meski pun aku masih deg-degan banget nih, takut diterkam," jawab Alzena yang kini terduduk dan menyeruput minuman dihadapan Riska.
"Diterkam?"
"Iya lah, pak Emil itu kalau marah kaya singa, menyeramkan," jawab Alzena yang membuat Riska terkekeh.
"Emang ada ya singa seganteng itu?"
Mendengar jawaban itu membuat Alzena menggelengkan kepala. Heran dengan sang sahabat yang begitu memuji Emil.
"Ganteng sih, tapi kan dia tua."
"Dih, jaga ucapan mu Zen, dia itu bukan tua, tapi matang, laki laki itu semakin matang semakin menawan, hati hati aja loh, awas jatuh cinta," ucap Rizka yang membuat Alzena mengernyitkan bibirnya.
"Ngga akan mungkin."
•••
"Ayo Zen. mereka sudah menunggu didalam," ucap Surya setelah mobilnya terparkir dihalaman restoran.
Tempat dimana yang akan menjadi saksi bisu pembahasan yang terjadi malam ini.
"Tapi yah, emang siapa sih yah orangnya? Namanya aja, Zen kan juga perlu tau." Kembali sebuah pertanyaan terlontar karena sebuah penasaran.
"Nanti juga kamu akan tau sendiri," jawab Surya tanpa memandang.
"Tapi yah, emang harus ya nikah bulan depan? Zen belum siap yah."
"Ya harus dong, udahlah Zen apapun alasanmu, sekarang kamu harus ikut ayah masuk untuk bertemu dengannya!" ucap Surya seraya melangkah keluar.
Kini Alzena pun melangkah dengan malas. Meski dengan wajah yang terus ditekuk, namun Alzena menemui tamunya dengan penampilan yang sangat cantik. Mengenakan midi dress berwarna hitam dan aksesoris sederhana yang membuat penampilannya tampak elegan.
Tiba tiba "dreet dreeet" terdengar suara ponselnya bergetar, nama Jody menari nari dilayar ponselnya. Dengan cepat Alzena meraih ponselnya dan menjawab panggilan itu.
"Hay Jod."
"Hay sayang, kamu lagi sibuk ngga? Aku jemput ya kita ke area balap malam ini," ucap Jody yang membuat ekspresi wajah Alzena seketika berubah.
Sungguh tawaran yang sangat menarik, Sebenarnya ia ingin sekali menerima ajakan itu, namun sayangnya ia terlanjur mengikuti keinginan sang ayah.
"Maaf ya Jod, malam ini aku ada keperluan sama ayah, jadi aku ngga bisa ikut kamu," jawab Alzena yang membuat Jody kecewa.
"Yaudah deh kalau gitu, next time ya."
"Oke, next time aku ikut kamu!"
Mendengar percakapan itu membuat Surya kini kembali mendekat. Seketika Alzena pun terbelalak, saat melihat sang ayah yang tiba tiba meraih ponsel digenggamannya.
"Ayah, kembalikan handphone Zen!"
"Ngga, ayah ngga akan kembalikan kalau kamu masih terus berhubungan sama Jody, ayah ngga mau kamu terbawa pengaruh buruknya Zen, mau jadi apa kamu nanti kalau terus terusan bergaul dengan laki laki itu? Udah jangan banyak bicara, ayo kita masuk."
Mendengar ucapan itu membuat Alzena kini terdiam, dan terpaksa menurutinya, memasuki restoran dan menemui laki laki serta keluarga yang hendak dijodohkan dengannya.
Sementara dimeja yang tidak jauh dari pintu, tampak sepasang suami istri yang sudah menunggu lebih dulu. Mungkin mereka adalah orang tua dari laki laki tersebut.
Melihat kedatangan Surya dan Alzena, sepasang suami istri itu pun menyambutnya dengan hangat, dengan senyuman merekah dan wajah yang tampak bahagia.
Namun yang membuat Alzena bingung adalah, mengapa tak ada laki laki seumurannya disana? Lalu siapa yang hendak dijodohkan dengannya?
"Maaf, Emilio kemana?" tanya Surya yang membuat Alzena melebarkan mata.
Nama itu tak asing ditelinganya, bahkan hampir setiap hari nama itu digadang gadang dilingkungan kampusnya. Dan tadi pun ia sempat berdebat dengan laki laki yang bernama persis dengan yang disebutkan sang ayah.
Apa mungkin mereka orang yang sama, atau hanya kebetulan saja persis namanya?
Tak lama kemudian.
"Nah itu dia Emilio," ucap seorang wanita tua yang menunjuk ke arah pintu masuk.
Membuat Surya dan Alzena turut mengikuti arah pandangannya. Seketika Alzena melebarkan mata, setelah melihat laki laki yang kini berjalan mendekat.
"Pak Emil," gumam Alzena tanpa suara.
Ternyata laki laki yang dijodohkan dengannya itu tidak lain adalah dosen killer dikampusnya.
Pandangannya tak terhenti memperhatikan laki laki bertubuh tegap itu terduduk. Tapi mengapa reaksinya biasa saja setelah melihat Alzena? Apakah mungkin ia sudah tau jika Alzena lah wanita yang dijodohkan dengannya?
"Jadi laki laki yang ayah maksud itu pak Emil yah?" Tanya Alzena yang membuat Surya mengangguk.
Anggukan itu benar benar membuat Alzena tak dapat berfikir jernih, ulah sang ayah yang dianggapnya benar benar aneh.
Usia keduanya terpaut sangat jauh, lalu mengapa Surya dengan mudah hendak menjodohkan laki laki itu untuk Alzena? Bukan kah lebih pantas menjadi paman nya, dari pada harus menjadi suaminya?
Kini Alzena pun berniat membicarakan hal ini empat mata dengan Emil, berusaha mendekat dan membawa Emil menjauh dari keluarga.
"Jadi bapak tau tentang ini?" Tanya Alzena memperhatikan wajah Emil dengan tajam.
"Ya, saya tau," jawab santai Emil yang membuat Alzena melebarkan mata.
"Kalau bapak tau, kenapa bapak ngga tolak perjodohan ini aja sih? Saya kan ngga mau nikah sama bapak, saya udah punya pacar nama nya Jody, dia seumuran sama saya, ngga kaya bapak yang udah tua," tutur Alzena yang membuat Emil melebarkan mata.
"Kamu bilang saya tua? Jadi kamu bawa saya ketempat ini hanya untuk mengatakan saya tua?"
"Iyalah kan umur bapak udah empat puluh tahun, sedangkan saya baru dua puluh lima tahun, saya ngga tau gimana jadinya kalau saya nikah sama bapak," jawab Alzena yang membuat Emil kini geram.
Pandangan matanya tertuju tajam, dan rahangnya sedikit mengeras.
"Memang sih bapak ganteng, saya akui itu. Tapi ya tetep aja, bapak ini tua, ngga cocok sama saya," tambah Alzena yang benar benar menguji kesabaran Emil.
"Kamu fikir saya mau menikah dengan kamu?"
"Terus kenapa bapak terima perjodohan ini? bapak harus batalin, saya kan ngga mau nikah sama om om kaya bapak."
"Oke, lihat saja nanti, laki laki yang kamu bilang om om ini akan membuatmu jatuh cinta padanya," ucap Emil memalingkan wajah dan membuat Alzena melebarkan mata.
"Dih ngga akan, udah saya bilang, saya udah punya pacar, dan saya sangat mencintainya, saya ngga mau tau, bapak harus bisa batalin perjodohan ini!"
"Lalu, kenapa bukan kamu saja yang membatalkannya?"
"Saya ngga berani pak, ayah pasti marah kalau permintaannya ngga diturutin."
"Nah itu juga jawabannya. Saya ngga bisa karena saya takut kualat pada orang tua saya," jawab Emil yang membuat Alzena kini terdiam.
Wajahnya kembali ditekuk, dengan pikiran yang terus bermain. Entah apa perjodohan ini benar benar akan terlaksana?
Jika iya, Alzena tak bisa membayangkan akan seperti apa hari harinya nanti, jika hidup berdua bersama laki laki bersifat dingin seperti Emil.
Wajahnya tampak sangat frustasi, kini pandangannya tertuju pada tempat dimana Surya dan kedua orang tua Emil berada, namun matanya melebar setelah tak ia dapati mereka lagi disana, apakah mereka sudah pulang? Lalu mengapa tak memberitahunya?
"Ayo, saya antar!"
Tiba tiba terdengar suara itu mendekat.
"Ngga usah, saya bisa pulang sendiri," tolak Alzena yang lalu melangkahkan kakinya keluar dari restoran.
Langkah kebutnya kini terhenti, setelah ia teringat jika ponselnya sedang tak bersamanya. lalu bagaimana caranya untuk memesan taxy online? Tampak bingung kini menghampiri wajah yang terpoles make up tipis itu.
"Yakin mau pulang sendiri?" tanya Emil setelah berada didekat Alzena kembali.
Sebenarnya ia tak ingin menerima bantuan itu, namun jika tidak, bagaimana cara nya ia kembali ke rumah? harus menunggu taxy yang lewat? Mau sampai kapan? Sedangkan semakin lama hari semakin malam.
"Yasudah, kalau kamu memang mau pulang sendiri, saya duluan," ucap Emil yang kini melangkah pergi, yang membuat Alzena melebarkan mata. Dengan spontan Alzena memanggil Emil kembali.
"Pak Emil, yaudah saya mau pulang bareng bapak deh," ucap Alzena yang membuat langkah Emil seketika terhenti, dan sedikit tersenyum.
Sesampainya di rumah, kini Alzena merebahkan dirinya di tempat tidur ternyaman nya, matanya berkedip berulang kali dengan pandangan yang terus tertuju pada langit langit kamarnya.
"Ganteng sih, dan lumayan baik juga, tapi... Tetep aja dia tua, aaaah ayah kenapa sih harus pak Emil laki laki pilihan ayah itu? Terus gimana sama Jody? Aku kan cintanya sama Jody, malah ayah jodohin sama om om kaya pak Emil begitu."
•••
Pagi ini, matahari bersinar sangat cerah, secerah wajah ayu, gadis mungil yang kini melangkah menyusuri koridor kampus, kembali ia berjalan seorang diri dengan penampilan sederhana yang membuatnya tampak anggun.
Tanpa memperhatikan sekeliling, Alzena yang dengan percaya diri membuka pintu ruang kelasnya, Namun seketika matanya melebar, saat ia dapati Emil yang sudah berada ditempat duduknya.
Pandangannya tak percaya, pasalnya selama ini ia tak pernah datang terlambat. Namun mengapa saat ini keadaan justru terbalik?
"Loh kok? Ini dia yang kepagian atau aku yang kesiangan?" batin Alzena dengan pandangan yang terus tertuju pada wajah tegang Emil.
Wajah itu memperhatikannya dengan tajam, membuat Alzena kembali ingat akan si raja hutan. Ya, singa.
Perlahan pandangan Alzena pun tertuju pada jam dinding dikelasnya, kembali matanya melebar setelah ia melihat jarum jam itu menunjukan pukul 09:30.
"Jamnya, kenapa sih ini Aneh banget, bukannya ini masih pagi?" gumam Alzena yang terdengar disemua telinga.
Melihat bingungnya Alzena membuat seisi kelas menahan tawa termasuk Riska, yang kini menggelengkan kepala melihat keunikan sahabatnya.
Perlahan kini Alzena pun melangkah, mendekati Emilio Cullen laki laki yang sedari tadi terlihat ingin menerkamnya itu.
"Maaf pak, berarti saya terlambat ya?" tanya Alzena yang membuat Emil mengerutkan dahi.
Emil menatapnya dengan pandangan tajam, karena menganggap ini adalah hal yang sangat ceroboh, masuk terlambat namun tak menyadarinya, tak masuk akal.
"Menurut kamu?" Jawab Emil singkat yang membuat Alzena menggaruk bagian rambutnya yang tidak gatal.
Beberapa menit terdiam, tak ada tanggapan, juga tak ada pernyataan, Emil yang hanya terdiam tak membuka suara sedikitpun, pandangannya kembali pada layar laptob yang sedari tadi menyala.
Alzena dibiarkan berdiri sendiri dihadapan teman teman sekelasnya. Malu dan seperti tak dihargai.
"Yaudah deh pak, saya keluar aja!" ucap Alzena beberapa menit kemudian.
Karena sudah menahan malu yang menggunung, tak ada satu kata pun terlontar dari bibir dosen killer itu, boro boro menyuruhnya kembali ke tempat duduk, memperhatikannya pun tidak, benar benar menyebalkan.
Saat Alzena hendak melangkahkan kakinya pergi, tiba tiba Emil memanggilnya hingga membuat langkahnya terhenti kembali.
"Alzena, duduk!" ucap Emil yang membuat Alzena berwajah muram.
Rasanya kesabarannya sudah habis, Ia tak ingin diperlakukan seperti ini, ia fikir Alzena anak kecil yang hanya dibiarkan saja dan dipermalukan didepan semua mahasiswa/i nya.
"Ngga usah pak, lebih baik saya keluar."
"Kalau kamu keluar kamu tidak akan mendapat nilai hari ini "
"Saya ngga peduli!" jawab Alzena.
Jawaban itu membuat semuanya terbelalak, termasuk Emil dan Riska, jawaban itu terlontar karena hatinya yang sudah terlanjur sakit, karena perbuatan yang mungkin tidak seberapa, tapi sangat memalukan itu.
Dengan cepat Alzena melangkah keluar kelas dan berjalan menuju taman kampus, dengan mata memerah dan wajah kesal.
"Katanya calon suami, tapi ngga punya hati, emang harus ya dia permalukan aku kaya gini? Dia fikir aku anak kecil? Yang bisa dipermalukan seperti ini," gerutu Alzena sepanjang perjalanan nya.
Tiba tiba...
"Sayang." terdengar suara laki laki yang membuat langkah Alzena terhenti dan dengan cepat menoleh.
Ekspresi wajahnya seketika berubah, kesedihan dalam hatinya kini menghilang, karena memandang wajah yang ia rindukan, tampak tersenyum bahagia pada wajah Alzen kali ini.
"Jody!"
"Hay sayang, aku kangen banget sama kamu," sambutnya penuh kehangatan.
"Iya aku juga, oiya aku minta maaf ya semalam aku ngga bisa ikut kamu ke area balap, aku ada keperluan sama ayah."
"Oke, ngga papa kok. Zen nomor kamu kenapa ngga bisa dihubungi? Aku telfon kamu berkali kali ngga ada respon."
"Maaf ya Jod, handphoneku di pegang ayah," jawab Alzena yang membuat laki laki berambut gondrong itu mengerutkan dahi.
"Dipegang ayah, Kenapa?"
"Ngga papa kok, yaudah kita ke taman yuk aku lagi badmood banget nih," ajak Alzena yang kini melangkahkan kakinya berbarengan dengan Jody.
Seketika langkah keduanya terhenti, setelah Emil tampak melintas, langkahnya terlihat dari arah toilet. Pandangan laki laki bertubuh tegap itu kini tertuju pada Alzena dan Jody yang bergandengan tangan.
Memandang wajah itu membuat Alzena seketika membuang muka, rasanya tak sudi lagi melihat ataupun bertemu laki laki yang telah membuat moodnya berantakan hari ini.
Tak berkata apa pun, dengan cepat kini Alzena membawa Jody meninggalkan tempat, dan membuat ekspresi wajah Emil tampak bingung.
"Kamu kenapa Zen? Lagi sedih ya?" Tanya Jody setelah memperhatikan wajah sang kekasih yang tampak uring uringan.
"Lebih ke rasa kesel Jod. Aku lagi kesel banget sama dosen killer itu."
"Pak Emil maksut nya?"
"Iya, udah kaya kulkas, kaya kanebo kering dan sekarang malah kaya orang yang ngga punya hati."
"Emang kenapa sih? Kenapa kamu sampe sekesel ini sama dia?"
"Aku telat masuk jamnya," jawab Alzena yang membuat Jody menghela nafas.
"Pantes aja, kan kamu tau sendiri pak Emil memang orang yang disiplin."
"Ya tapi kan... Ah udahlah Jod aku males bahas laki laki itu, bikin moodku berantakan aja."
Sementara di ruangannya, Emil yang kini tak berhenti memikirkan Alzena, perasaannya kini tak tenang setelah ia melihat perubahan sifat Alzena padanya.
"Apa saya keterlaluan, Sampai dia marah seperti ini?" batin Emil dengan pandangan merenungnya.
Ia tak menyangka jika rasa penyesalan akan menghampirinya seperti ini, karena mungkin Alzena sekarang bukan hanya sebagai mahasiswinya, tapi Alzena adalah wanita yang satu bulan lagi menjadi istrinya.
Dengan cepat Emil pun membereskan semua miliknya dan beranjak meninggalkan ruangan, entah hendak pergi kemana ia kali ini, langkahnya terlihat sangat terburu buru.
Beberapa jam kemudian.
Sepulang kuliah, Jody yang kini menghentikan motornya dihalaman rumah Alzena.
"Makasih ya Jod."
"Sama sama sayang, yaudah aku terus aja ya, oiya jangan lupa nanti malam."
"Oke!"
Kini motor sport Jody pun melaju pergi, setelah kepergiannya, Alzena pun memasuki rumahnya, ingin beristirahat dan mempersiapkan diri untuk nanti malam bertemu Jody kembali.
Namun langkahnya seketika terhenti, setelah ia dapati Emilio yang sudah terduduk seorang diri disofa ruang tamunya.
Pandangan matanya melirik dengan ekspresi wajah kesal, tak berkata apa pun Alzena yang terus berjalan tanpa menyapa Emil, malah justru langkahnya kini menjauh.
Dengan cepat Emil pun mengikuti dan meraih tangan Alzena, hingga membuat langkahnya terhenti. Namun seketika Alzena menarik tangannya kembali hingga terlepas dari genggaman Emilio.
"Saya mau minta maaf Zen!" ucap Emil pada wanita yang enggan menatapnya ini.
Tak sedikit pun pandangan Alzena memperhatikan Emil, mungkin masih terbawa rasa kesalnya, bahkan sampai sekarangpun bayang bayang malu itu masih ada.
"Zen, saya tau saya salah. Kamu pasti sakit hati dan malu dengan perlakuan saya tadi kan?"
Belum menjawab Alzena mengernyitkan bibirnya dan menggelengkan kepala.
"Menurut bapak?" ucap Alzena yang kini menatap tajam kearah Emil.
"Mending sekarang bapak pergi deh, saya capek mau istirahat."
"Oke saya pergi, tapi sekali lagi saya minta maaf!"
"Bodo amat."
•••