“Sudah puas sekarang?” Dewi kembali bersuara.
Aku tak menyangka kalau semuanya akan jadi begini. Belum reda keterkejutanku kini Rafa sudah keluar dengan ranselnya yang entah ada apa di dalam sana. Lebih mengejutkan lagi Rio dan Adit berada di belakangnya, mereka berjalan mendekat ke arah kami, lengkap dengan tas ranselnya masing-masing. Sebenarnya masih ada satu lagi Yuri namanya. Namun, si bungsu masih tinggal di kamar kami.
“Ayo kita pergi dari sini Mah! Rafa lebih baik enggak punya Papah! Ayo pergi Mah, buat apa kita masih di sini!” Rafa semakin meninggikan suaranya. Dan itu membuatku sakit bukan main. Aku bisa saja menamparnya saat itu juga, karena perkataannya barusan, sungguh keterlaluan. Namun apa jadinya nanti, dia bisa saja semakin membenciku. Ya Tuhan, kenapa semuanya jadi begini. Kupikir hanya Dewi yang perlu kutangani, tapi kenapa justru seisi rumah malah membenciku. Aku harus bagaimana?
“Ini sudah tengah malam, yang benar saja kalian mau pergi di jam segini, enggak bisa!”
“Pilihannya gampang, kita yang pergi atau kamu?”
Kenapa bisa ada pilihan seperti itu. Ini rumahku, mana bisa aku pergi, tapi anak-anak, ah sial!
“Oke biar aku yang pergi, tapi enggak sekarang, besok pagi. Pokoknya enggak ada penawaran lagi! Sini ayo balik ke kamar lagi ya sayang, tasnya kasih Papah ya.”
“Enggak usah!” Rafa dengan kasar menepis. Sedang adik-adiknya yang lain hanya menggeleng pelan, kemudian memilih berjalan mengikuti Rafa. Disusul Dewi yang memilih masuk dengan Yuri dalam gendongannya.
Aku tidur sendirian malam ini tetapi besok mungkin kami bukan hanya berbeda kamar, namun tak lagi seatap. Sudahlah buar kupikirkan bagaimana caranya agar kami masih tinggal sama-sama. Ponselku berdering. Nama Eiden terpampang di sana.
Aku tersenyum saat melihat wajahnya yang tersenyum di balik layar. Suaranya yang mendayu-dayu sering kali membuatku terbuai, sejenak mampu melupakan kejadian buruk yang baru saja menimpaku.
“Kenapa belum tidur?”
“Aku kangen kamu, eh istrimu ke mana?”
“Tidur di kamar sebelah.”
“Hahaha kalian pasti ribut ya?”
“Sudahlah enggak penting juga.”
“Mending ke sini, tidur sama aku!”
“Nakal ya kamu.”
“Memang kamu enggak?” katanya seraya tertawa kecil, dan tentu saja membuat hasratku naik, apa lagi di sana dia hanya berbalut piyama tipis.
Kami mengobrol cukup lama hingga entah sejak kapan ada Dewi di samping ranjang, mungkin karena aku memakai earphone, hingga tak menyadari ada seseorang yang masuk kamar.
“Wi? Hmm eh kamu kenapa di sini?”
Dewi tak menjawab, seperti biasa dia hanya menatap dingin ke arahku.
“Hmm ini teman kerja.”
“Memang enggak ada waktu lagi buat telepon ? Enggak sekalian pakai pengeras suara? Anak-anak mau tidur!” katanya dengan nada yang biasa tapi sungguh benarkah suaraku sampai ke kamar sebelah. Ya Tuhan, akan semarah apa Rafa padaku kalau begini. Lantas tanpa pikir panjang aku berniat untuk pergi ke kamar anak-anak.
“Mau apa lagi?” tanya Dewi.
“Ya aku harus menjelaskan semuanya.”
“Mas! Mereka itu sudah besar, enggak bisa kamu bohongi lagi, sudahi drama kamu, aku muak!”
“Wi tolong jangan begini, jangan jadikan anak-anak durhaka.”
“Sekarang aku tanya, yang durhaka itu mereka atau kamu?”
Aku terdiam, kenapa Dewi jadi pintar bicara, dia selalu membalikkan semua yang kukatakan.
“Di balik anak durhaka sekali pun, lihat dulu seperti apa orang tuanya mendidik mereka! Aku enggak peduli kamu mau tidur dengan perempuan mana pun, asal jangan pernah usik anak-anakku, cukup di kamu, enggak akan kubiarkan anak-anakku tumbuh jadi laki-laki yang enggak pandai menghargai perempuan!”
“Apa maksud kamu? Wi! Tunggu!”
Argh!! Sial kenapa bisa begini? Ceroboh!
Esok hari seperti hari-hari sebelumnya sarapan sudah tersedia di meja makan, hari itu aku kesiangan, namun sayangnya Dewi seperti sengaja tak membangunkan. Aku paham mungkin dia masih marah, meski sebenarnya tak masalah juga karena hari ini aku tak masuk kantor. Aku pergi bergabung dengan mereka yang tengah makan seraya bercanda. Namun seketika, mereka terdiam saat aku sampai ke sana.
“Kenapa? Kok pada diam?” tanyaku yang keheranan. Namun sekali lagi, mereka tak mau menjawab.
“Ayo keluar Mah, aku ikut ke tukang sayur ya,” kata Rafa, yang kemudian disusul adik-adiknya yang lain.
Aku tersenyum miris, mereka benar-benar pergi, mengabaikanku yang sejak tadi mengajaknya bicara. Namun saat itu kami dikejutkan dengan bel rumah yang di tekan berkali-kali. Aku yang penasaran mengikuti Dewi yang hendak membuka.
“Suprise!!!” Dua orang berteriak dari arah luar. Itu Pakde dan Bude Dewi, mereka datang dengan 2 bungkusan plastik besar sudah dipastikan isinya oleh-oleh untuk kami.
Wajah mereka tampak semringah, begitu anak-anakku yang kegirangan, menyambut kedatangan kakek dan neneknya. Kami yang bingung hanya mampu saling menatap. Kalau sudah begini rencanaku untuk pergi dari rumah akan tertunda, tetapi bukankah ini lebih baik. Aku membantu membawa beberapa barang bawaan mereka masuk ke rumah, anak-anak sudah sibuk bercerita dengan kakek dan neneknya. Mereka seakan lupa dengan apa yang terjadi di antara kami, bahkan saat Pakde memanggilku untuk bergabung. Mereka sama sekali tak keberatan. Berbeda sekali saat sarapan tadi. Meski begitu, aku masih bisa merasakan tatapan tak suka Rafa saat Pakde terus saja mengajakku bicara.
Anak ini kenapa tumbuh terlalu cepat. Dia bisa mengerti dengan masalahku, bahkan mampu menghasut saudaranya yang lain untuk ikut membenci Papahnya sendiri.
“Ayo minum teh dulu semuanya, Pade Bude sudah sarapan belum? Kita sarapan dulu sini!” tawar Dewi, dengan 2 cangkir Teh hangat.
Akhirnya aku ikut sarapan dengan Pade dan Bude. Mereka cukup hangat padaku, lagi-lagi aku ditawari beberapa kue yang mereka bawa dari kampung. Saat aku ingin memakannya entah kenapa aku jadi penasaran dengan ekspresi Dewi, tepat saat itu mata kita bertemu, rupanya ia juga tengah memperhatikanku. Menyadari kami telah saling menatap, dengan cepat dia berpaling.
“Cie, sudah bukan pengantin baru kok masih tatap-tatapan saja.” Bude meledekku.
“Jadi ingat zaman kita pas masih muda ya Bu,” timpal Pakde, diiringi tawa renyahnya. Dan itu tentu menular padaku, tapi tidak untuk Dewi, yang hanya menampilkan senyum paksa.
“Aku mau pergi belanja dulu, aku titip anak-anak enggak apa-apa ya?”
“Kamu ini, kayak sama siapa saja, Bude sama Pade datang ke sini kan, karena kangen sama cucu Bude ganteng dan cantik ini.”
“Terima kasih ya Bude.”
Bude hanya mengangguk.
“Kamu enggak diantar Dani?”
“Enggak usah Bude, lagian dekat kok.”
Dewi terlihat cukup gugup karenanya, dan entah kenapa dia terlihat berbeda, saat seperti itu.
“Tuh kan, cie, masih aja tatap-tatapan begitu, sudah sana antar, kalian pasti enggak punya momen berdua, karena sibuk urus anak-anak, sekarang ayo temani istrimu.”
“Enggak usah Bude, malah jadi lama kan, lagian belum tentu juga Mas Dani mau.” Dewi tertunduk, dan entah kenapa dua terlihat menggemaskan. Sepertinya aku sudah gila kali ini. Apa memang benar kami tak pernah menghabiskan waktu berdua, karena terlalu sibuk mengurus anak-anak? Ah sudahlah setidaknya dengan begini, aku punya waktu bicara berdua dengan Dewi.
“Aku enggak keberatan sama sekali kok, ayo kita pergi sekarang.”
“Tuh Nduk, ayo buruan pergi, orang suamimu saja mau kok, ya kan Dan?”
“Enggak usah!” tegasnya dengan nada cukup tinggi.
Bude sepertinya terkejut dengan apa yang baru saja Dewi ucapkan. Tetapi saat itu juga Dewi langsung tersenyum menenangkan keterkejutan mereka.
“Biar Mas Dani temani Bude di sini saja.”
“Ya sudah kalau kamu maunya pergi sendiri.”
Dewi bergegas pergi, dia bahkan sengaja mempercepat jalannya. Bude tersenyum padaku, lalu menyuruh agar aku duduk di sampingnya.
“Wajar kalau suami istri ada masalah, Bude enggak mau ikut campur, tapi Bude minta kamu jangan pernah sakiti ponakan Bude, kalau kamu sudah bosan, kembalikan! Kasihan dia sudah enggak punya siapa-siapa, ini sekedar cerita saja ya, jangan tegang!” Bude tersenyum ramah, tetapi justru membuatku semakin kikuk dibuatnya. Bagaimana aku tak tegang, kenyataannya aku telah menyakiti Dewi.
“Ada apa toh Bu, kok tegang banget, lagi bahas apa?”
Sekarang Pakde ikut bergabung bersama kami, satu saja aku kebingungan menghadapinya. Lengkap sudah penderitaanku, aku semakin gugup saja.
“Ini biasa, cuma mengingatkan saja, kalau sekiranya sudah bosan sama Dewi, ya kembalikan ke kita secara baik-baik, pintu rumah kita juga terbuka lebar, jangan sampai disakiti.”
“Ya ampun Bude, masa iya Dani sakiti Dewi, orang tadi saja tatap-tatapan, mesra begitu kok.”
“Ya kan Ibu cuma mengingatkan Pak.”
“Sudah-sudah kita ke sini kan buat tengok cucu, jangan bahas yang berat-berat, itu Rafa sama Adit sudah menunggu di atas, ambilkan coklat yang kamu beli itu loh Bu, Bapak cari kok enggak ketemu.”
“Iya nanti Ibu carikan, Bapak ini cari barang apa saja pasti enggak ketemu.”
“Hehe Ibu ish.”
“Ingat ya Dan, jangan sakiti Dewi.”
“I iya Bu.”
“Sudah toh Bu, kasihan itu Dani sampai keringat dingin.”
“Ibu kan cuma mengingatkan Pak.”
“Iya sudah sana cari coklatnya, enggak usah dimasukkan ke hati Dan, biasalah perempuan suka cerewet."
“Hmm iya Pak.”
Ibu ini seperti tahu saja apa yang tengah terjadi. Kenapa dia terus menyudutkanku.
Tak lama, Dewi datang dengan plastik belanjaan yang berisi sayuran tetapi kali ini, wajahnya sembab, lengkap dengan mata yang memerah. Jelas kami semua merasa heran sayang Dewi tak mau menjelaskan apa pun dia lebih memilih pergi ke dapur, mengolah sayuran, bahkan kalau biasanya dia akan memasak dengan Budenya kali ini, dia justru menyuruh Bude untuk pergi dari dapur. Aku bisa melihatnya dari sini. Karena memang dapur kami terhubung langsung dengan ruang keluarga.
“Ada apa sih?” tanya Pakde.
Aku menggeleng, tak biasanya Dewi menunjukkan kesedihannya di depan orang banyak. Ya Tuhan jangan-jangan di sepanjang jalan tadi dia sudah menangis. Apa yang sudah terjadi padanya. Aneh.
“Pak, sini!”
Sekarang pasangan suami istri itu saling mendekat, entah tengah membicarakan apa yang jelas sesekali dia melirik ke arahku lalu bergantian pada Dewi.
Kacau! Memang aku menginginkan supaya kami tetap tinggal seatap tetapi tidak dengan cara seperti ini, sekarang aku seperti terjebak.
Setelah mereka pergi ke lantai atas, aku mendekati Dewi ke dapur.
“Kamu kenapa?”
“Pergi!”
“Wi aku cuma khawatir, kamu enggak kenapa-kenapa kan? Kamu jatuh di jalan, ada yang sakit? Coba aku lihat?”
“Apa sih?”
“Bagaimana aku enggak khawatir, kamu datang-datang menangis begitu, mana ada Pakde dan Budemu, mereka juga pasti bingung.”
“Kamu itu bukan khawatir, tapi takut disalahkan!”
“Apa pun itu terserah kamu, yang penting kasih tahu dulu kamu kenapa, ada yang sakit?”
“Aku malu! Malu sama kamu! Pergi aja deh, aku enggak mau lihat muka kamu lagi Mas! Pergi!” Dia kembali mendorongku, aku harus bagaimana kalau tak segera pergi, mungkin pertengkaran kami kali ini bisa memancing perhatian mereka.
Kenapa sih? Kenapa begini!
Sampai malam hati Dewi hanya berdiam diri di kamarnya, bahkan Bude dan Pakde saja dia abaikan, Dewi beralasan kalau dia sedang tak enak badan. Memang saat kulihat wajahnya pucat, tetapi tentu saja kalau hanya deman biasa, seharusnya dia masih bisa beraktivitas seperti biasa.
“Kamu yakin enggak mau ke dokter?”
Dia tak menjawab hanya menatap sekilas, lalu kembali memunggungiku.
“Kasihan anak-anak bingung, Bude sama Pade juga khawatir.”
Aku mencoba meraih keningnya, panas sekali.
“Kita periksa ya, kamu sakit loh, ayolah aku memang salah tap enggak baik menyiksa diri kamu seperti ini, aku antar ke dokter sekarang, mau ya?”
Dewi tak merespons, alu yang gemas dengan tingkahnya, dengan cepat membaringkan tubuh di sampingnya, kini jarak kami hanya sejengkal. Sekuat tenaga aku menahannya agar tak berpaling.
“Aku salah Wi, aku minta maaf tapi jangan begini, ada anak-anak yang butuh kamu, mereka terus menanyakan Mamahnya, kamu enggak kasihan sama mereka? Sekarang kamu mau aku bagaimana?”
“Enggak ada jalan lagi buat kuta selain pisah.”
“Kalau kita pisah bagaimana nasib anak-anak, mereka masih kecil, kamu tega?”
“Aku atau kamu yang tega, aku ini manusia biasa, sekali kamu bilang khilaf aku bisa terima, tapi ini dua kali, masih dengan perempuan yang sama, jadi selama ini yang kamu bilang putus, itu cuma kebohongan? Harus bagaimana lagi sih aku sama kamu, kurangnya aku apa? Kamu bisa bilang, enggak harus main belakang kayak begini, itu sama saja kamu menginjak-injak harga diri aku.”
“Wi, kamu enggak salah, sama sekali enggak salah, aku saja yang enggak bisa menahan diri.”
“Bohong!”
“Sumpah Wi, aku sebenarnya ingin berhenti, tapi enggak bisa Wi?”
“Ya apa alasannya aku perempuan dia juga perempuan, apa yang dia punya sampai-sampai kamu enggak bisa melepaskan dia, atau jangan-jangan kalian memang sudah menikah?”
PRAYY!!!
Suara piring jatuh, mengejutkan kami, begitu berpaling, ternyata orang yang menjatuhkan piring itu Bude.
Jadi dia telah mendengar semuanya.
Seketika hening tercipta, kami hanya saling memandang satu sama lain.
“Bapak! Pak! Cepat ke sini!” Sekarang Bude malah berteriak memanggil suaminya.
Sial! Habislah aku!