Bab 1

Menikah, lalu hidup bahagia selamanya bersama pria yang di nikahinya karena saling jatuh cinta. Dia, Ayundia; wanita desa yang jatuh cinta pada seorang pria kota. Dia mencintai pria itu dengan setulus hatinya, dia bahkan rela menyerahkan hidupnya hanya untuknya, tapi malangnya nasibnya; pria itu tak benar-benar tulus mencintai dirinya.

Ayundia meninggalkan semuanya hanya demi bisa bersama dengan pria pujaan hatinya. Dia meninggalkan desa, dan juga Ibunya– satu-satunya keluarga yang masih ia miliki. Semuanya ia tinggalkan, semuanya ia berikan, tapi sungguh pahit balasan yang ia dapatkan. Pria itu mengkhianati dirinya. 

Ketulusan cinta yang ia berikan, justru di balas dengan pengkhianatan. Pria itu ternyata sudah menikah kembali dengan wanita lain tanpa sepengetahuan dari Ayundia. Pria itu menikah kembali di saat dirinya masih menjadi Istrinya. Kenapa dia melakukan hal itu? 

Ayundia yang mengetahui pengkhianatan Suami tercinta pun sontak langsung mempertanyakan hal itu. Dia marah, kecewa, sedih dan hancur. Air mata terus menghiasi wajah cantiknya.

“Kenapa kamu melakukan semua ini? Apa kurangnya aku? Semua telah aku lakukan demi kamu. Aku tinggalkan desaku. Aku tinggalkan Ibuku. Semua aku lakukan untuk kamu, tapi kenapa kamu balas aku seperti ini?”

Ayundia bertanya dengan air mata yang terus jatuh dari kelopak matanya. 

Walaupun sudah hancur, tapi Ayundia masih berharap jika sang Suami bisa memberikan penjelasan yang membuatnya sedikit merasa lebih baik, atau bahkan dia meminta maaf atas kesalahan yang di perbuatanya. Tetapi, tak terduga jawaban yang ia berikan. 

Bukannya memberi alasan yang jelas, atau meminta maaf, sebaliknya ia malah mengatakan dengan terang-terangan jika dirinya tak menginginkan Ayundia lagi. 

“Aku tidak ingin bersama kamu lagi! Aku bosan sama kamu. Kamu itu nggak bisa mengerti aku. Ya, aku paham kamu cuman wanita kampungan. Tapi, aku sudah nggak tahan lagi hidup bersama kamu. Aku tidak mencintai kamu lagi! Jadi aku harap kamu bisa segera pergi dari sini! Pergi dari rumahku! Pergi dari hidupku! Jangan pernah kembali lagi!” 

Pria tak bertanggung jawab! Bagaimana bisa dia melakukan ketidakadilan ini pada Ayundia? Dia benar-benar kejam!

Rasanya benar-benar menyakitkan mendengar pria yang sangat di pujanya mengatakan hal seperti itu. Akan lebih baik jika dia berbohong saja. Mengatakan kebenaran itu benar-benar melukai dan menghancurkan Ayundia.

Wanita itu hanya bisa terdiam, tak melakukan apa-apa. Dia hanya menangis, meratapi dan menyesali perbuatannya. Demi cinta sesaat ia menghancurkan hidupnya. Kehidupannya yang dulu bahagia bersama Ibunya, kini semua telah hancur. 

Kehidupannya benar-benar hancur. Wanita itu membawa tas besar, berjalan tanpa tujuan dengan tatapan mata kosong, berlinang air mata, menyesali akan tindakan bodohnya. 

Kini semua hanya tinggal kisah yang menyedihkan. Takdir akhirnya membawanya kembali ke desa, kembali pada Ibunya. Untungnya Ibunya masih menerima dirinya, memberikannya sedikit harapan untuk melanjutkan hidup yang kejam ini.

Setelah berbulan-bulan ia kembali bersama Ibunya, banyak lamaran yang datang padanya. Lamaran itu di tujukan untuk dirinya, untuk meminangnya menjadi Istri seorang pria. 

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuknya mendapatkan calon pengganti karena kecantikan Ayundia yang benar-benar memikat hati para lelaki. Tapi trauma akan hubungan masa lalu membuatnya tak berani memulai kembali. 

Banyak lamaran yang datang padanya, tapi semuanya ia tolak. Hampir semua pemuda desa ingin meninangnya menjadi Istri mereka, tapi lagi dan lagi Ayundia menolaknya.

Penolakan itu benar-benar melukai banyak pria. Mereka mulai menaruh rasa dendam pada Ayundia, hingga suatu malam yang membuat kehidupan Ayundia berubah.

Malam itu ia baru saja kembali dari warung untuk membeli minyak goreng dan telur, tapi di tengah perjalanan beberapa orang pria yang wajahnya tak asing di lihatnya mencegat dirinya, menahannya dengan paksa.

Ayundia berusaha keras untuk melarikan diri, tapi para lelaki itu tak membiarkan dirinya pergi. Terlihat jelas dari wajah mereka, mereka menaruh dendam yang mendalam pada Ayundia. 

Dendam itu membuat mereka gelap mata hingga akhirnya mereka pun melecehkan dan memperkosa wanita malang itu secara bergantian, membuat wanita malang itu kini tak bisa lagi mengeluarkan air mata. 

Air matanya kini telah habis. Para lelaki terus saja menghancurkan hidupnya. Pertama pria yang di cintainya, dan kali ini para pria yang menyukainya. Kenapa takdir begitu kejam padanya? 

Setelah beberapa hari setelah kejadian itu Ayundia mengunci dirinya di kamar, dia tak keluar sama sekali. Dia hanya diam, menatap dirinya di cemin. Saat melihat bayangan dirinya, dia merasa jijik hingga akhirnya menghancurkan cermin itu.

“Lelaki jahat …!”

Hidupnya dua kali di hancurkan oleh lelaki. Hal ini benar-benar membuatnya merasa benci dengan lelaki, dan mungkin ia tak akan bisa lagi percaya dengan mereka. 

“Mereka menghancurkan hidupku ….”

Ayundia menangis dengan keras. 

“Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali! Aku sudah muak terus menjadi mainan mereka! Aku muak!”

Matanya yang selalu mencerminkan sikap polos dan baiknya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian. Kebencian itu terlihat jelas dari matanya. 

“Kalian menghancurkan hidupku? Baik, hancurkan saja. Coba saja. Tapi, kali ini itu tidak akan berhasil! Aku akan hancurkan kalian sebelum kalian yang menghancurkanku!”

Ayundia mengambil pecahan kaca cermin, lalu menyayat sedikit telapak tangannya hingga mengeluarkan darah yang cukup banyak. 

“Aku bersumpah, sampai Tuhan mencabut nyawaku, aku akan terus mempermainkan para lelaki itu. Aku akan hancurkan hidup mereka, aku akan buat mereka tunduk di bawah kakiku! Itu sumpahku!”

Ayundia bersumpah akan menghancurkan kehidupan para lelaki yang sudah menghancurkan hidupnya, bahkan bukan hanya mereka tapi semua lelaki yang jatuh pada pesonanya. 

Luka yang ia dapat membuatnya mendapatkan keberanian untuk membalas. Dan hal itu pun benar-benar ia lakukan.

Keesokan harinya Ayundia benar-benar berubah. Berubah dari wanita lugu dan polos, kini menjadi wanita yang suka menggoda lelaki di desanya, bahkan para pengunjung dari luar desanya pun tak luput dari godaannya. 

Para lelaki yang lemah iman jatuh dalam perangkapnya hingga akhirnya bersedia memberikan apa saja kepadanya. Hari demi hari berlalu dan tindakan Ayundia semakin di luar batas. Bukan hanya sekedar menggoda, tapi kini dia bahkan bersedia tidur dengan lelaki mana saja asal diberikan uang yang banyak.

Tindakan tak pantas ini membuat para wanita di desanya menjadi marah, tapi Ayundia tetap tak peduli. Bahkan, kepala desa pun tak ia lepaskan. Kini dirinya lah yang memegang kendali atas desanya.

Kini dirinya menjadi orang paling kaya di desa. Ayundia memiliki rumah yang besar, perkebunan teh, ternak, dan juga kebun cabai. Semua adalah miliknya. Itu semua ia dapatkan dari pekerjaan kotornya. 

Melihat Putrinya yang terjerumus dalam kesesatan Mak Ratih yang merupakan Ibu dari Ayundia pun sudah beberapa kali menasihatinya, tapi sudah terlambat. Ayundia kini benar-benar sudah terjerat dalam jurang kemaksiatan. 

Ayundia terus melakukan dosa tanpa takut hukuman yang nanti akan ia dapatkan. Matanya dan mata hatinya kini sudah tertutup. Wanita lugu, baik dan polos itu kini sudah tiada lagi. Kini yang ada hanyalah wanita yang tujuan hidupnya mencari dosa dunia.

Tindakan tak pantas itu terus berlanjut sampai pada suatu hari Ayundia mengetahui jika dirinya saat ini tengah mengandung. Dia sedang hamil! 

Hamil? 

Walaupun awalnya tak percaya, tapi hal itu benar adanya. Saat ini ia tengah mengandung. Di dalam rahimnya kini ada satu nyawa bertubuh kecil dan indah.

Ayundia merasa sangat senang mengetahui kehamilannya tersebut, tapi ada satu hal yang membuatnya sedih dan bingung. Hal itu tidak lain adalah, siapa Ayah dari anak ini? 

Ia tak bisa mengklaim satu lelaki sebagai Ayah anak ini, karena tak sedikit pria yang telah menghabiskan malam panjang bersamanya. 

Bingung, dan tak tahu harus bagaimana lagi. Sempat terlintas dalam benaknya untuk mengakhiri semuanya dengan cara bunuh diri, tapi ketika ingat akan kehidupan kecil dalam dirinya membuatnya mengurungkan niat tersebut. 

Akhirnya Ayundia pun memutuskan untuk menghentikan segala tindakan tak pantas yang selama ini ia lakukan. Awalnya memang tak mudah untuk berhenti, karena para lelaki itu tak menerima dan datang kembali padanya, tapi Ayundia menolak. Ia ingin berhenti berbuat dosa. Ini semua untuk anaknya. 

Sekali lagi keputusan Ayundia itu membuatnya di benci oleh masyarakat. Tapi kali ini yang membuatnya berbeda adalah, mereka tak bisa berbuat semena-mena lagi pada Ayundia, karena kini mereka semua bergantung padanya. 

Hampir seluruh warga desa bekerja di kebuh milik Ayundia. Dengan adanya kekuasaan ini membuat dirinya, Ibunya dan anak yang di kandungnya aman dari warga desa yang bisa saja melakukan sesuatu yang membahayakan. 

Bulan demi bulan, perut Ayundia kini mulai membesar dan saat sembilan bulan telah berlalu, kini waktunya baginya untuk melahirkan anaknya ke dunia.

Malam itu hujan lebat saat dimana Ayundia melahirkan seorang putri yang berwajah cantik seperti dirinya. Belum sempat ia melihat wajah sang Putri, Ayundia telah lebih dulu meninggal dunia. 

Karena pendarahan Ayundia pun meninggal saat melahirkan Putrinya. 

Akhirnya sang Putri kini hanya punya Mak Ratih yang merupakan Neneknya. Ayundia yang merupakan Ibunya meninggal saat melahirkan dirinya. Dia, Zina; gadis cantik baik hati yang memiliki wajah yang sama cantiknya dengan sang Ibu. 

Nama Zina diberikan kepadanya oleh kepala desa. Hal itu bukan tanpa alasan, karena sudah menjadi tradisi di desa itu. Setiap kali ada bayi yang lahir, maka yang berhak memberikan nama hanyalah kepala desa. 

Nama Zina diberikan kepadanya untuk melambangkan tindakan tak pantas yang Ibunya lakukan. Zina, adalah buah dari dosa; Dosa yang indah.

Bab 2

Zina, gadis cantik dan baik hati itu tumbuh menjadi gadis yang lemah lembut dan murah senyum. 

Sejak lahir ia sudah di asuh oleh Mak Ratih yang merupakan Neneknya. Tapi Zina lebih suka memanggilnya dengan panggilan, 'Mak'. 

Menjalani hidupnya bersama dengan Mak Ratih di desa kecil yang sepi tak serta merta membuatnya menjadi sedih dan merindukan akan sosok Ibunya.

Sejak kecil Zina tak pernah melihat wajah sang Ibu, tapi Zina tahu akan satu hal. Yaitu, Ibunya meninggal saat melahirkan dirinya. Hal itu membuat Zina sangat menghormati sang Ibu, baginya Ibunya adalah wanita terbaik. Dia Ibu terbaik! 

Dari kecil hingga remaja Zina hidup dengan nyaman tanpa harus khawatir akan kekurang uang. Neneknya yang kini masih terus melanjutkan usaha milik almarhum Ayundia. Ia terus melanjutkan usaha itu walaupun ia tahu jika semua itu Ayundia hasilkan dari perbuatan tak pantas. Tapi demi menujang kehidupan yang layak bagi Zina, Mak Ratih pun terpaksa melanjutkan apa yang sudah di mulai oleh Ayundia. 

Kini usianya Zina sudah menginjak 15 tahun. Kini ia sudah remaja. Ia tumbuh menjadi remaja yang cantik, dan juga baik hati. Dia tak pernah sombong kepada teman-temannya, tapi sebaliknya; tak ada satu pun anak seusia dirinya yang mau bicara dengannya. Hal itu terus terjadi dari dulu sampai saat ini. 

Zina tak pernah tahu kenapa mereka tak mau bicara dengannya, bahkan warga desa juga sepertinya tak suka dengan dirinya. 

Kenapa? 

Zina terus bertanya kepada Mak Ratih, tapi Mak Ratih tak pernah memberitahu apa pun, walaupun sesungguhnya ia tahu kenapa orang-orang desa melakukan itu padanya. 

Jelas saja mereka melakukan semua itu. Melihat sosok Zina mengingatkan mereka pada Ayundia. Mengingat dosa apa yang telah Ayundia lakukan membuat warga desa takut, khususnya para wanita yang tak ingin sejarah terulang kembali. 

Akhirnya para wanita di desa pun melarang anak-anak mereka untuk berbicara dengan Zina, apalagi berteman. Mereka tak akan mengizinkan hal itu. Mereka takut jika nanti Zina akan seperti Ibunya, karena wajah mereka saja mirip. 

Berbelas-belas tahun Zina hidup dalam tanda tanya. Kenapa orang-orang di desa tampaknya sangat membenci dirinya? Kenapa? 

Tetapi tak ada satu pun orang di desa yang bisa menjawab rasa penasarannya itu. Sampai suatu hari, di hari di mana hasil panen sangat melimpah. Mak Ratih memutuskan untuk mengadakan syukuran untuk merayakan hal itu. Tak lupa juga Mak Ratih mengundang warga desa untuk menghadari acara tersebut. 

Walau sesungguhnya malas, tapi mereka tetap pergi untuk menghormati Mak Ratih karena jika bukan karenanya mereka mungkin tak akan bisa makan hari ke harinya. 

Acara syukuran tersebut berlangsung dengan lancar. 

Zina merasa sangat senang melihat banyak orang ada di rumahnya, tapi sayangnya tak satu pun dari mereka yang merasa senang akan kehadirannya. Hal itu membuatnya merasa sedih. Lalu dengan langkah berat ia meninggalkan acara tersebut dan keluar rumah seorang diri.

Ia berjalan-jalan di sekitar rumahnya, tapi tanpa di sangka-sangka di tengah perjalanan ia bertemu dengan seorang pria paruh baya yang tampaknya tengah mabuk. 

Menyadari akan hal itu membuat Zina takut. Lalu dengan perlahan ia berusaha menjauh, tapi pria itu dengan cepat menangkapnya. 

“Mau kemana Zina cantik?”

Pria paruh baya itu mencengkam erat tangan Zina. 

Rasanya sakit, membuat Zina menangis. 

“Sakit,” rintihnya berlinang air mata. “Lepaskan!” Zina memberontak. 

Ia berusaha keras melepaskan genggaman tangan pria itu, tapi tak bisa. Tenaganya tak bisa di bandingkan dengannya. 

“Kamu sangat cantik. Wajahnya sama cantiknya dengan Ibumu ….” 

Pria paruh baya yang tengah mabuk itu terus meracau tak jelas.

“Melihatmu benar-benar mengingatkan aku pada Ibumu. Dulu Ibumu juga memiliki wajah cantik sepertimu, tapi kamu sedikit lebih cantik dari pada dia ….”

Entah apa yang pria itu katakan? Zina tak peduli dan tak mendengarkan. Ia hanya terus berusaha melepaskan diri. Saat ini ia benar-benar takut. Hampir semua warga desa ada di rumahnya, dan tak ada orang lain di dekatnya saat ini. Ini benar-benar menakutkan. 

“Aku jadi merindukan Ibumu. Dulu dia sangat pintar memijatku,” ungkapnya. 

Zina sontak berhenti berusaha melepaskan genggaman tangan pria itu. Ucapan pria itu membuatnya bingung. 

“Maksud Paman?” tanya Zina. 

“Oh iya ya, aku baru ingat. Kamu kan tidak tahu apa yang Ibumu itu lakukan ….” Pria itu tertawa bagaikan orang gila. 

“Memangnya apa yang Ibuku lakukan?” tanya Zina lagi. 

“Jadi, sebenarnya … Ibumu itu … dia itu sebenarnya bukan wanita baik-baik,” ungkapnya. 

Duarrr!

Bagaikan petir menyambar dirinya. Perkataan pria paruh baya itu membuatnya marah. Berani-beraninya dia mengatakan jika Ibunya bukan wanita baik-baik. 

“Apa maksud Paman? Kenapa bilang Ibuku bukan wanita baik-baik? Jangan asal bicara ya!” seru Zina terdengar sangat marah. 

“Hahahaha ….” Pria itu tertawa terbahak-bahak. “Zina … Zina, kamu itu tidak tahu wanita seperti apa sebenarnya Ibumu itu. Dia bukan wanita baik-baik!”

Air mata Zina jatuh. Dia benar-benar merasa sakit hati mendengar hinaan pria itu terhadap Ibunya. 

“Berhenti mengatakan jika Ibuku bukan wanita baik-baik! Dia itu wanita terbaik! Dia Ibu terbaik!” tegasnya. 

“Kamu hanya tahu dia meninggal karena melahirkanmu. Tapi apa kamu tahu apa pekerjaan sebelum itu? Kamu mau tau? Akan aku beri tahu.” Pria itu tersenyum licik. “Ibumu itu wanita penggoda,” bisiknya pelan. “... bisa dibilang juga dia itu pelacur. Karena dia tidur dengan hampir semua lelaki di desa ini hanya untuk uang. Makanya sekarang keluargamu itu kaya!”

Apa yang baru saja di dengarnya? Itu semua adalah kebenaran yang membuatnya mendapatkan semua jawaban atas semua pertanyaan yang selama ini menghantui dirinya. 

Apa ini benar? Apa ini nyata? 

Zina terus bertanya-tanya, tak percaya dan tak ingin percaya dengan apa yang di katakan pria mabuk itu tentang Ibunya. 

Selama ini wanita yang ia anggap sebagai wanita terbaik, tapi ternyata ia adalah wanita terburuk.

“Satu lagi. Apa kamu tahu kenapa kepala desa memberikan nama Zina padamu? Dia memberikan nama itu untuk melambangkan perbuatan hina Ibumu. Zina itu adalah buah dari dosa. Dosa yang indah,” ucapnya seraya menyetuh lembut pipi Zina.

Merasa jijik dengan sentuhan itu membuat Zina dengan cepat sekali lagi memberontak untuk melepaskan diri, tapi genggaman pria itu justru semakin kuat. 

“Kamu apa? Lari? Tak akan bisa! Kamu harus tetap disini untuk menemaniku. Cantik ….”

Sekali lagi pria tua tak tahu malu itu ingin menyetuh Zina, tapi untungnya sebuah batu mengenai tangannya dan membuatnya seketika melepaskan Zina. 

Hal itu membuat Zina mendapatkan kesempatan untuk melarikan diri. 

Belum sempat ia melarikan diri pria itu kembali menangkapnya sambil berteriak memanggil orang yang telah melukai tangannya. 

Dari balik pohon besar seorang pemuda dengan tatapan dingin menujukan diri. Di tangan pemuda itu terlihat beberapa batu lain yang siap ia lemparkan kepada pria itu. 

“Dalam hitungan ketiga, lari kearahku. Kamu paham?” Tatapan pemuda itu tertuju pada Zina. 

“Heh?” Zina tak mengerti dengan apa yang ia katakan. 

“Satu ….” Pemuda itu bersiap melemparkan batu lainnya. “Dua ….” Sudah siap melempar. “Tiga ….” Batu itu langsung melayang cepat kearah pria mabuk itu. “Sekarang, lari!” titahnya dengan suara lantang. 

Zina yang mengikuti apa yang dikatakan pemuda itu dengan cepat berlari kearahnya, lalu saat Zina telah datang padanya pemuda itu menggenggam erat tangan Zina dan berlari bersamanya. 

“Hey, jangan lari kalian!”

Pria paruh baya yang tengah mabuk itu dengan susah payah mengejar Zina dan pemuda itu sampai akhirnya ia kehilangan keduanya.

Tidak mengetahui jika mereka tidak lagi di kejar, pemuda itu terus berlari sambil terus menarik Zina yang saat itu terus berpikir soal apa yang dikatakan pria tadi yang mengatakan jika dirinya adalah buah dari dosa.

Bab 3

Pemuda tak di kenal itu menariknya dan membuatnya berlari sangat jauh hingga akhirnya mereka pun berhenti. Mereka berhenti tepat di ujung tebing yang lumayan tinggi; dibawah tebing itu terbentang luas lautan beserta ombaknya. 

“Hufhh.”

Pemuda itu terlihat kelelahan, tapi tidak dengan Zina.

“Kamu baik-baik aja?” tanya pemuda itu. 

Zina tak menjawab pertanyaan itu. Dia hanya diam. Saat ini kepalanya masih penuh dengan pertanyaan. Semua yang terjadi beberapa saat yang lalu benar-benar membuatnya syok. 

“Hey!”

Pemuda itu menepuk kedua telapak tangannya tepat di depan wajah Zina, membuatnya sontak tersadar dan air matanya yang dari tadi berusaha ia tahan kini jatuh membasahi wajah cantiknya. 

“Hmmm?” Zina sontak melihat kearah pemuda itu yang terlihat bingung melihatnya. 

“Kamu menangis? Kenapa? Kamu baik-baik aja kan? Apa kamu terluka?”

Pemuda itu melontarkan banyak pertanyaan, tapi semua itu hanya di jawab gelengan kepala oleh Zina. 

Melihat respon Zina, pemuda itu langsung paham kenapa sikapnya seperti ini sekarang. Pemuda itu tak segaja tahu akan alasan sikap Zina. Beberapa saat yang lalu ia tengah bersantai di bawah pohon sampai waktu santainya terganggu oleh Zina dan pria paruh baya tadi. 

“Kamu mikirkan perkataan Pak tua tadi?” tanya Pemuda itu seraya duduk dekat dengan ujung tebing.

Sekali lagi Zina hanya menggeleng.

“Jangan bohong. Aku tahu, dan maaf karena aku nggak segaja nguping percakapan kalian,” ucapnya seraya tersenyum menatap laut. 

“Nggak papa,” sahut Zina pelan. 

“Kamu bakal terus berdiri? Duduk!”

Zina melihat ke pemuda itu, dan tampaknya dia anak baik-baik, jadi Zina pun mengikuti perkataannya. Zina duduk tepat di sampingnya, dan masih dalam kondisi termenung memikirkan perkataan pria paruh baya tadi.

“Kamu masih memikirkan tentang tadi?” Sekali lagi pemuda itu menebak dengan tepat. 

“Nggak,” sahutnya dengan cepat. 

“Jangan berbohong, aku nggak bisa di bohongin. Jangan coba menipu aku. Itu nggak akan berhasil,” ucapnya.

“Terserah.” Zina merasa tak memiliki cukup tenaga untuk melawani pemuda itu. 

“Tapi, kamu siapa?” tanya Zina baru menyadari jika wajah pemuda itu tampak asing baginya. Jelas dia bukan warga desa ini. 

“Kamu bukan warga desa ini 'kan? Kamu siapa?” tanya Zina. 

Pemuda itu tersenyum kecil. 

“Aku? Aku, Rama. Aku memang bukan orang sini,” ungkapnya. 

“Terus?”

“Sebenarnya aku disini datang bareng orang tuaku. Nenekku yang orang sini, jadi hari ini Ibu mau ketemu sama Nenek, makanya kami dateng. Nama kamu Zina 'kan?” Rama balin bertanya. 

Zina mengangguk kecil. 

“Berapa usiamu? Sepertinya kamu lebih muda,” katanya. 

“Aku 15. Kamu?”

Rama tertawa kecil. 

“Wah, aku benar. Aku lebih tua. Aku 18 tahun,” jawabnya.

“Oh ….”

Zina memberikan reaksi yang biasa saja. 

“Kenapa reaksimu begitu?”

“Jadi aku harus gimana? Harus gitu aku bilang wow?”

“Nggak harus juga sih ….”

“Kalau begitu baguslah.”

Zina kembali tertunduk. Ia merasa sangat frustrasi dengan apa yang baru saja terjadi. Ia tak ingin percaya, tapi … yang pria tadi katakan itu memberikannya alasan yang kuat untuk percaya, karena hal itu membuatnya mendapatkan jawaban tentang alasan sikap warga desa padanya.

Beberapa kali air matanya jatuh. 

Rama melihat hal itu. Melihat itu membuatnya merasa tak enak. 

“Berhentilah menangis!” serunya.

“Berhenti ikut campur!” jawabnya dengan tegas. 

“Kamu menangis karena memikirkan perkataan Pak tua tadi 'kan?” 

“Aku bilang berheti ikut campur!”

“Kenapa? Kamu tidak percaya dengan apa yang dia katakan? Atau, tidak ingin percaya?”

Zina terdiam. 

“Yang dikatakan Pak tua benar,” ungkapnya secara tiba-tiba. 

“Apa?” Zina terkejut.

“Sebenarnya aku dan keluargaku sudah beberapa kali kesini, dan beberapa kali juga aku dengar Ibuku dan Nenekku membicarakan tentang anak perempuan yang bernama Zina yang lahir karena dosa. Ternyata itu kamu ….”

Rama tersenyum kearah Zina, seakan-akan mengejeknya. 

“Itu nggak benar! Ibuku bukan wanita seperti itu!” seru Zina dengan suara lantang.

“Berhenti menyangkal fakta jika memang benar Ibumu itu bukan wanita baik-baik.”

“Berhenti!” teriaknya dengan keras. 

“Sekeras apa pun kamu menyangkal kenyataan, hal itu nggak akan berhasil ngerubah apa pun! Kamu terima aja kenyataan soal kamu yang lahir dari rahim wanita nggak baik-baik!”

“Aku bilang berhenti!” sekali lagi Zina berteriak dengan keras di sertai dengan air mata.

“Cukup … aku mohon,” pintanya dengan berlinang air mata.

Rama menatap Zina, lalu perlahan menghapus air mata Zina dengan tangannya. Zina terkejut.

“Jangan menangis. Aku nggak suka liat orang nangis,” ucapnya setelah selesai menghapus air mata di wajah Zina. 

“Kamu cantik, jadi jangan biarkan air mata membuat kecantikan kamu ternoda,” ujar Rama. 

Entah mengapa, tapi setiap kalimat yang Rama ucapkan membuat Zina merasa sedikit tenang. 

“Jangan bicara omong kosong!”

Beberapa detik kemudian Zina kembali sadar. Pemuda asing itu membuatnya sempat kehilangan kesadarannya sesaat. 

“Aku nggak bicara omong kosong,” elaknya dengan tawa kecil. “Kamu memang cantik,” sambungnya dengan senyuman manis yang membuat Zina merasa sedikit berdebar.

Melihat tingkah Rama membuat Zina tertawa kecil. 

“Heh? Kamu tertawa? Lihatkan, kamu cantik kalau kamu bahagia,” ucap Rama terus saja mengatakan hal-hal manis pada Zina, membuatnya hampir terbang. 

“Selalu tersenyum, jangan sampai kehilangan senyumanmu. Kamu cantik saat tersenyum.” Lagi dan lagi Rama terus memberikan kata-kata manis pada Zina. 

“Kamu sepertinya ahli dalam bicara manis,” kata Zina. 

“Nggak kok. Ini pertama kalinya aku bilang cantik ke cewek. Sebenarnya aku gugup,” ungkapnya. 

“Bohong.” Zina tak percaya dengan apa yang dikatakan Rama.

“Aku nggak bohong. Kalau kamu nggak percaya, nih cek aja sendiri ….” Rama menggapai tangan Zina, meletakkan tepat di jantungnya membiarkan Zina merasakan betapa gugupnya ia saat ini. 

Zina terdiam, merasakan detak jantung Rama yang tak stabil. Kemudian dengan cepat Zina melepaskan tangannya. 

“K-kamu ada riwayat penyakit jantung?” tanya Zina dengan gugup.

Rama tertawa. 

“Nggak ada,” jawabnya. 

“E-hmm, aku rasa kamu harus periksa sekali-kali.”

“Oke. Nanti aku periksa.”

Di detik berikutnya hanya tawa kecil yang ada di antara mereka. 

Rama, dia pemuda yang baik dan sangat manis. 

“Ngomong-ngomong kenapa dari tadi kamu bicara dengan santai denganku? Aku ini lebih tua dari pada kamu. Aku tiga tahu lebih dulu makan nasi sebelum kamu,” ujarnya seketika langsung di sambut tawa kecil oleh Zina. 

Tiga tahun lebih dulu makan nasi? Itu benar-benar ungkapan yang konyol. Itulah yang di pikir Zina. 

“Kenapa ketawa? Aku bukan komedian.” 

“Iya. Maaf …,” ucap Zina dengan suara pelan. 

Kemudian suasana di antara mereka pun kini sunyi kembali. 

Walaupun tertawa beberapa saat yang lalu, tapi Zina tak bisa melupakan apa yang baru saja ia dengar tentang Ibunya. Bukan hanya satu kali, tapi dua kali ia mendengar cerita buruk tentang Ibunya dan dirinya.

Apakah ini kebenaran dari semuanya? Jika memang benar, akan lebih baik jika dirinya hidup dalam tanda tanya selamanya. Zina benar-benar terpuruk. Lagi dan lagi air matanya tak berhenti jatuh, bahkan kini Rama hanya membiarkannya menangis. 

“Nangis aja, jangan di tahan. Kalau kamu tahan itu hanya akan buat kamu makin sesak.”

Akhirnya Zina pun menangis sejadi-jadinya. Ia menangis dengan keras, ia berteriak beberapa kali. Hatinya terasa sangat sakit ketika tahu akan kebenaran hidupnya, ini benar-benar menyakitkan. 

“Arghhh!” teriknya keras. “Ibu ….” 

Hanya bisa menangis dan berteriak untuk mengeluarkan segala macam ganjalan yang ada di hatinya. Entah kenapa tapi rasanya sangat sakit dan menyesakkan.

Seumur-umur belum pernah Zina menangis sebanyak ini. Ini adalah kali pertamanya ia merasa sangat sakit hati. Dia tak bisa menerima kebenaran tentang Ibunya. Semua itu melukainya.

Andai saja waktu bisa ia putar, mungkin Zina akan lebih memilih hidup dalam ruang tanya agar hatinya tak merasakan sakit seperti ini. Setidaknya jika masih tetap berada di ruang tanya, mungkin ia akan hidup dengan baik-baik saja. 

Zina benar-benar menyesal.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED