happy reading:")
***
Siang itu seorang gadis cantik berpenampilan sederhana terlihat sedang berbincang dengan seorang lelaki yang penampilannya berbanding terbalik. Tubuh proporsional dibalut dengan setelan jas warna hitam, wajah sangat tampan, dan senyuman yang menawan membuat para perempuan di sekitar curi-curi pandang.
Keduanya terlibat obrolan ringan sambil menikmati menu yang tersaji di meja Restoran, yang cukup terkenal. Di weekend seperti sekarang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh pasangan serasi itu. Bertemu dua kali dalam seminggu merupakan salah satu cara agar hubungan mereka tetap terjaga.
Dan di setiap pertemuan, mereka akan membahas mengenai apa saja tak terkecuali masalah pekerjaan. Sang wanita terus tersenyum, kadang tersipu apabila mendapat perhatian kecil dari pujaannya. Namun senyuman itu seketika pudar ketika bunyi pesan masuk terdengar.
Wanita yang memakai jumpsuit dress warna maroon sebatas lutut itu melirik pada ponselnya, lalu mengejanya dalam hati.
Kai : [Ke sini sekarang! Gue tunggu! Gue duduk di deket pintu keluar restoran ini.]
Safira berdecak setelah membaca notifikasi pesan yang masuk lewat pop up layar ponselnya. Dia membiarkannya, tak berminat untuk membukanya. "Dia gak tau apa, kalo aku lagi sama Arkana?" cicitnya lirih yang hanya dapat didengar dirinya sendiri.
Kai selalu saja mengganggu di mana pun Safira berada. Bahkan tak segan untuk menerornya. Menyebalkan!
Pesan dari Kai, Safira abaikan, dan dia memutuskan kembali berbincang dengan Arkana. Namun, belum ada satu menit, bunyi notifikasi pesan masuk kembali berdenting. Manik Safira memejam sesaat, seraya mengontrol emosi agar tidak meledak, dan bisa membuat Arkana curiga.
Akan tetapi, Arkana tidak tuli, dan dia cukup peka.
"Siapa, Fir? Kayaknya dari tadi ada yang kirim chat? tanyanya, melirik ponsel Safira yang tergeletak di meja. Layarnya perlahan meredup sehingga Arkana belum sempat melihat notif pesan yang masuk.
Safira membeku seketika, otaknya mendadak blank, dan tidak bisa digunakan untuk berpikir cepat.
Pertanyaan Arkana jelas memaksa perempuan itu untuk menjawabnya, dan mengarang satu kebohongan lagi.
"Ah, eng … gak, kok, Mas. Bukan siapa-siapa." Safira menampik dengan senyum terkesan kaku, dan sudut matanya terus melirik pada ponselnya. Beruntung Arkana mengangguk percaya pada jawaban yang diberikan Safira.
'Bener-bener si Kai!' umpatan itu terlontar dalam hati Safira.
Mau tidak mau, Safira harus menemui Kai, supaya dia berhenti mendapat teror dari lelaki itu. Ya, harus!
Berdeham singkat, sambil mengatur napas, dan degup jantung yang seperti habis dikejar-kejar setan, Safira pun beranjak dari duduknya dan berpamitan, "Mas, aku ke toilet bentar, ya?"
Arkana mengangguk tanpa menaruh curiga sedikit pun pada kekasihnya itu. "Iya, Fir. Jangan lama-lama. Habis dari sini kita harus ke butik buat fitting baju."
"Iya, Mas." Mendapat izin dari Arkana, Safira tak membuang-buang waktu lagi. Dia melenggang dengan cepat, sedikit berlari sambil menggerutu kesal. "Gara-gara si Kai, aku jadi bohong terus sama Arkana."
Sambil berjalan, Safira menghubungi Kai yang katanya berada di Restoran yang sama. Gadis itu memelankan langkah, ketika mengenali sosok berbaju lengan panjang hijau army melambai ke arahnya. Niat menghubungi pun dia tunda.
"Kai?" desis Safira dengan perasaan dongkol setengah hidup, meremas benda pipih di tangan, kemudian berjalan menghampiri Kai yang duduk agak jauh dari tempatnya berdiri.
Rupanya, Kai tidak pernah main-main dengan kata-katanya. Buktinya, lelaki bertato dan bertindik di telinga itu benar-benar menyusulnya ke tempat ini.
Sial!
Hidup Safira selalu dirundung kesialan selama mengenal dan berurusan dengan makhluk bernama Arthur Barack Kai.
-
"Duduk!" Kai memerintah seenak jidat begitu gadis yang dia tunggu tiba di depan mata.
"Gak mau! Aku nyamperin kamu cuma bentar doang. Tadi aku alesan sama Mas Arkana cuma ke toilet," tolak Safira menyahut ketus, wajahnya masam sambil bersedekap dan mata memicing tajam ke arah Kai yang terlihat santai.
Benar-benar menyebalkan!
"Dia masih di sini?" Lelaki yang siang ini memakai topi hitam itu mendengkus, mendengar Safira menyebut nama Arkana dengan panggilan 'MAS'. Berbeda sekali dengan cara Safira memanggilnya.
Safira memutar bola matanya, "Masihlah! Habis dari sini aku sama dia mau ke butik."
Sepasang alis Kai terangkat tinggi, "Mau ngapain?" tanyanya, seraya melarikan pandangan ke arah Arkana yang duduk agak jauh memunggungi posisi keduanya. Agak jauh dan tentu saja Arkana tidak tahu jika tunangannya menghampiri pria lain di satu tempat yang sama. "Suruh dia pulang, Fir! Gue mau ngajak lu pergi."
"Eh?" Safira mengerjap heran mendengar Kai lagi-lagi memerintah. Menghela napasnya kasar, Safira tidak mengacuhkan pertanyaan Kai sebelumnya, dia justru melayangkan protes, "Ya … Gak bisa, dong! Sekarang 'kan memang waktunya aku pergi sama dia. Ini weekend, Kai. Kamu gak bisa perintah aku seenaknya."
Perjanjian awal tidak seperti ini. Setiap weekend atau saat Safira off. Dia dan Arkana hanya sempat bertemu di hari tertentu. Sedangkan urusan Kai, kapan pun lelaki itu mau, Safira akan menuruti perintahnya. Dan hari ini Kai sudah melanggar perjanjian dengan datang diam-diam mengikuti Safira dan Arkana.
Apa-apaan, coba?
Satu sudut bibir Kai naik, lalu menanggapi protes Safira, "Gue tau ini weekend. Tapi gue maunya pergi sekarang sama lu, Fir."
"Kai, please …." Raut Safira memelas, tatapannya terlihat memohon pada seorang Kai. "Kamu 'kan bisa pergi sama pacar kamu. Lagian, aku sama Mas Arkana cuma dua kali, loh, ketemuannya." Safira tidak berhenti mengingatkan si kepala batu di hadapannya ini.
"Gue gak peduli, Fir! Itu urusan lu sama dia! Yang jelas, gue mau perginya sama elu bukan sama Eve." Kai mengangkat bahu sekilas, menolak mentah-mentah rengekan Safira, dan berkata tidak sedang ingin pergi dengan pacarnya. "Cari alesan apa aja. Gue tunggu sepuluh menit di parkiran. Cepetan!" Pemuda itu lantas bangkit dan melenggang dari hadapan Safira tanpa menoleh lagi.
Safira menelan ludah, lalu berteriak memanggil pemuda sinting yang tidak mengacuhkannya. "Kai! Kai! Kai! Arrghh …! Kai ngeselin!" Kakinya menghentak-hentak kesal di lantai, dan otomatis orang-orang di sekitar langsung memusatkan perhatian pada Safira.
Perempuan itu tidak peduli dengan tatapan nyalang orang-orang yang tidak tahu menahu masalah yang sedang dia hadapi saat ini. Mungkin, sebagian besar dari mereka menganggap Safira wanita aneh.
"Hfft … Aku mesti alesan apa, coba, sama Mas Arkana?" Kepala Safira terantuk lesu, seraya memutar tungkai untuk kembali ke tempat Arkana berada. Otaknya yang kecil sedang dipaksa berpikir, mencari alasan. "Kai sialan! Sialan!"
-
"Kenapa mendadak?" Arkana bertanya dengan nada bicara terdengar kecewa setelah Safira mengatakan hendak menggantikan salah satu temannya yang tidak bisa berangkat bekerja karena anaknya tiba-tiba jatuh sakit.
"Iya, Mas. Maaf …." Yang hanya bisa dilakukan Safira adalah menundukkan kepala, menyembunyikan matanya dari tatapan Arkana yang bisa saja membaca kebohongannya. Kedua tangannya saling meremas di atas paha dengan perasaan bersalah.
Arkana bisa apa, selain mengizinkan. "Ya udah. Enggak apa-apa, Fir. Kita ke butiknya Minggu depan," ucapnya, lalu menghela besar. "Sebenernya aku masih kangen sama kamu. Kita ketemu cuma seminggu dua kali. Ini aja belum ada sehari kita barengan, tapi kamu—"
"Makasih, Mas. Sekali lagi maafin, ya …?" Safira menyela perkataan Arkana, mengangkat pandangannya, dan melihat sorot kekecewaan dari mata kekasihnya. Dia sungguh tidak bisa berbuat banyak.
"Iya." Dan, Arkanalah yang pada akhirnya mengalah.
-
Dalam diam, Safira dan Arkana berjalan menuju parkiran. Tak ada obrolan diantara mereka. Meskipun begitu, Arkana tetap menggenggam tangan Safira sampai tiba di mobilnya. Namun, kesialan sepertinya tak berhenti menghampiri Safira, sebab tiba-tiba saja Kai muncul di hadapannya.
"Kai?" Bukan Safira yang menyebut nama itu, melainkan Arkana. "Kamu ngapain di sini?" tanyanya dengan alis menaut. Arkana hanya heran bertemu dengan Kai di tempat ini.
Manik Kai menatap sekilas wajah Safira yang memucat. Dia tahu pasti jika perempuan itu takut ketahuan oleh sang pacar. "Suka-suka guelah, mau ada di mana? Gue ada urusan di deket sini," jawabnya ketus.
"Ohh …" Arkana percaya. "Ya udah silakan lanjutkan. Aku sama Fira pergi dulu. Ayo, Fir."
"Mas." Safira menahan tangan Arkana yang hendak membawanya masuk ke mobil.
"Ya?" Arkana berbalik menatap Safira.
Safira menelan ludah, berdeham singkat, lalu bicara, "Aku … berangkat naik taksi aja. Mas gak perlu anterin."
Kening Arkana mengerut. "Kenapa? Kan, sekalian aku anter. Nanti pulangnya aku jemput."
Perkataan Arkana jelas membuat Safira serba salah. Tidak mungkin dia berangkat bekerja, sedangkan pada kenyataannya itu cuma alasannya agar bisa menuruti kemauan Kai.
"Hmm … Aku gak pa-pa, kok, Mas, berangkat sendiri. Lagian, aku mau pulang ke rumah dulu, mau ambil seragam. Pasti itu bakalan ngerepotin kamu, kalo mesti bolak-balik." Safira melirik sekilas ke arah Kai yang tidak berniat beranjak dari tempatnya. Dan, sepertinya memang sengaja melakukan hal tersebut.
"Tapi, Fir—" Ponsel Arkana berdering. "Sebentar." Dia melepas tangan Safira, lalu mengambil ponsel dari saku celana. "Aku jawab ini dulu. Kamu tunggu di sini," pinta Arkana yang langsung dianggukki Safira, dia pun pergi menuju belakang mobil untuk menjawab panggilan telepon.
Merasa memiliki kesempatan, Safira lantas menegur Kai dengan raut geram. "Kamu apa-apaan, sih, Kai? Kamu sengaja, iya?" Suaranya pelan tetapi terdengar tegas.
"Menurut lu?" Kai malah bersedekap, kemudian mempersempit jarak dengan Safira. "Gue tunggu di mobil!" Setelah itu dia pergi dari hadapan Safira dengan seringai puas.
Tangan Safira sontak mengepal kuat di sisi tubuh, dia bergumam dengan rahang mengatup rapat "Sialan kamu, Kai."
"Fir." Arkana menghampiri setelah menyelesaikan percakapan di telepon.
"Iya, Mas." Raut Safira kembali normal. Lembut dan memasang senyum manis.
Arkana mencari keberadaan Kai. "Kai udah pergi?"
"Udah, Mas."
"Oh …" Angguk Arkana tak banyak bertanya mengenai Kai. "Kayaknya, aku memang gak bisa anter kamu. Aku harus segera pergi. Di gudang ada barang datang, tapi agak bermasalah, dan aku diminta segera ke sana untuk ngecek."
Dalam hati, Safira bernapas lega. "Iya, Mas. Kan, tadi aku juga udah bilang. Aku bisa berangkat sendiri. Mas kalo mau pergi, pergi aja." Dia mengelus lengan Arkana seraya tersenyum lembut.
"Aku pergi dulu. Maaf, gak bisa cariin kamu taksi." Sebelum benar-benar pergi, Arkana memberi kecupan mesra di kening Safira serta usapan lembut di pipi kekasihnya.
Safira tak banyak protes, karena dia sendiri yang menjadi penyebab awal kencan mereka berantakan. Setelah memastikan mobil yang dikemudikan Arkana menghilang dari pandangan, Safira kemudian membuang napas kasar. Kaki jenjangnya terasa berat ketika melangkah menghampiri mobil warna hitam milik Kai.
Kesal.
Itulah yang dirasakan Safira detik ini. Tidak bisa berbuat apa-apa mau pun menolak keinginan konyol dari pemuda di sampingnya yang tengah fokus menyetir. Kebohongan demi kebohongan seakan menjadi teman baik dalam kehidupan Safira selama hampir tiga bulan terakhir ini. Walaupun itu bukanlah maunya. Akan tetapi, Safira juga terlalu pengecut untuk berkata jujur kepada Arkana—pria baik yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
'Hfft …'
Helaan frustrasi tak pernah berhenti berembus dari hidung dan mulut Safira. Rasa bersalahnya seolah-olah membuat dadanya terasa sangat sesak. Arkana sangat mempercayai serta mencintai Safira. Tak pandang bulu meski status sosial mereka amatlah berbeda jauh. Cinta Arkanalah yang membuat Safira menjadi tidak percaya diri, memilih memendam masalahnya sendiri sekaligus menutupi fakta lain mengenai pekerjaan sambilan yang dilakoninya selama ini.
Namun, rahasia yang coba dia tutupi dari Arkana lantaran malu, malah justru diketahui tanpa sengaja oleh Kai. Safira tak pernah berhenti merutuk kejadian hari itu—ketika Kai memergokinya. Dan, karena kejadian itulah, kini dia harus berurusan dengan Kai. Pemuda yang tidak lain dan tidak bukan calon adik iparnya.
"Gue gak nyangka aja, kalo calon istri sekaligus calon menantu dari keluarga Barack ternyata jadi pemandu karaoke di Bar. Ck, malu-maluin!"
Malam itu Kai tidak segan berbicara ketus dan memandang remeh Safira, ketika mereka tak sengaja bertemu di Bar yang ternyata adalah milik temannya Kai.
Kepergok bukanlah kemauan Safira. Apalagi, yang memergoki merupakan calon adik iparnya. Mengelak pun tak ada gunanya. Jika fakta yang ada di depan mata telah memberikan bukti yang nyata. Sebelumnya, hubungan Safira dengan Kai memang tidak terlalu dekat. Bisa dikatakan keduanya jarang sekali bertemu.
Namun, dengan adanya kejadian sialan itu, mau tidak mau Safira harus berurusan dengan pemuda itu, karena Kai telah mengambil keuntungan dari nasib miris yang dialami oleh Safira. Alasan Safira bekerja sambilan pun hanya ditanggapi enteng oleh pewaris kedua dari keluarga terpandang di Jakarta tersebut.
"Kerja jadi SPG itu gajinya kecil. Kalo cuma ngandelin itu aja, mana bisa aku bayar utang bapakku yang jumlahnya hampir ratusan juta itu. Makanya, aku ambil kerjaan sambilan ini demi bayar utang bapakku. Ngerti kamu!" kata Safira pada malam di mana Kai memergokinya dan menuduhnya yang tidak-tidak.
Reaksi Kai di luar dugaan. Safira pikir, pemuda yang hobi bertato itu merasa bersalah karena sudah menganggapnya sebagai perempuan murahan. Akan tetapi, tanggapan Kai sungguh membuat Safira semakin muak.
"Alesan! Bilang aja kalo emang lu nikmatin kerjaan lu ini." Kai berdecih di depan Safira yang geram.
"Ngomong sama kamu emang gak ada gunanya, ya! Kamu itu cuma anak manja yang gak pernah kenal apa itu namanya hidup susah! Kamu sama Mas Arkana memang beda jauh!"
Kai tersenyum miring mendengar ocehan Safira sambil mengorek telinga kirinya dengan kelingking. Tak acuh dengan cibiran Safira yang membandingkannya dengan Arkana, sebab dia dan Arkana memang tidak bisa disamakan. Kai hanyalah orang asing bagi keluarganya sendiri, sementara Arkana adalah orang yang selalu dibangga-banggakan.
Hidup ini memang penuh dengan orang-orang munafik, pikir Kai.
"Abang gue ternyata bego! Gampang banget ketipu sama muka polos lu!" celetuk Kai, lalu meneliti penampilan Safira yang sangat jauh berbeda bila saat bekerja menjadi Sales Promosion Girl di sebuah pusat perbelanjaan.
Dia bersedekap, dan berkata lagi, "Gue penasaran, kira-kira Abang gue masih mau, gak, ya, nikahin elu? Atau kalo perlu gue bantu sampein ke dia aja, ya?" Pemuda itu bersiap hendak menghubungi Arkana dengan mengutak-atik ponsel di tangan.
"Jangan!" Safira seketika panik, membuat Kai mengurungkan niatnya untuk menelepon Arkana.
"Kenapa? Elu takut?" sindir Kai sambil memainkan lidah di dalam rongga dinding pipi kanan, dan memasukkan ponselnya ke saku celana bagian kiri. Tubuhnya yang menjulang bersandar pada bingkai pintu ruang VIP di bar tersebut.
Raut panik Safira membuat Kai ingin tertawa. Bagaimana mungkin dia menghubungi Arkana jika nomornya saja dia tidak punya. ckckck...
Perempuan di depannya ini sungguh sangat naif, pikir Kai.
Safira menelan ludah atas dugaan yang dilayangkan Kai padanya. Takut?
Mungkin bisa dikatakan Safira lebih merasa malu dibandingkan takut. "Aku …" Dia menggigit bibir bawah bagian dalam, sambil berpikir keras supaya Kai tidak membongkarnya pada Arkana.
Tak pernah sedikit pun dia berniat membohongi calon suaminya yang baik hati itu. "Pokoknya Mas Arkana gak boleh sampe tau kalo aku kerja di bar ini," pintanya dengan nada bicara memohon dan raut memelas, tetapi lagi-lagi tanggapan Kai membuat Safira mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Kalau tidak ingat Kai itu siapa, mungkin sedari tadi heels yang dipakai Safira sudah melayang ke kepala pemuda bertindik di telinga itu. Ck!
"Kenapa?" Sebelah alis Kai yang terdapat tindikan naik sangat tinggi, tangannya bersedekap di dada, dan semakin melayangkan tatapan remeh.
"Ya ... pokoknya aku gak mau! Aku belum siap!" sahut Safira, mulai merendahkan suaranya agar Kai mau berbaik hati padanya. "Alasan utamanya tentu kamu udah tau," lanjutnya sambil melangkah mendekati Kai. "Aku mohon ...."
Bila perlu Safira akan berlutut di depan pemuda itu. Tak masalah jika dia harus menurunkan sedikit harga dirinya. Tetapi, kalimat selanjutnya yang terlontar dari mulut Kai membuat Safira tidak jadi melakukan niatnya.
"Oke. Gue gak akan kasih tau Abang gue," ucap Kai mengedikkan bahunya sekilas seakan-akan dia tidak peduli dengan pekerjaan sampingan Safira.
"Yang bener? Kamu ... beneran gak akan ngomong 'kan sama Mas Arkana?" cicit Safira sumringah. "Ma—" Baru saja dia ingin mengucapkan terima kasih, Kai lebih dulu memotong perkataannya.
"Ets! Elu jangan seneng dulu! Karena ini semua harus lu bayar dengan mahal, Nona Safira." Kai menyeringai penuh arti, hingga mampu membuat Safira bergidik dengan sorot mata itu.
"Ba-bayar? Kamu mau aku bayar kamu berapa?" Lenyap sudah harapan Safira, pemikiran mengenai Kai yang tidak punya hati pun makin menjadi-jadi. "Uangmu udah banyak, Kai. Kamu masih minta uang sama perempuan miskin ini? Apa gak salah? Kalo kamu mau, aku bisa kasih apa pun asal kamu jangan pernah kasih tau Mas Arkana soal kerjaan sampingan aku ini. Selain uang tentunya."
Kalimat terakhir yang meluncur dari mulut Safira memelan seiring kepalanya yang menunduk. Uang? Untuk bayar utang saja Safira masih harus banting tulang siang malam. Apalagi jika Kai sungguh-sungguh memintanya untuk membayar uang tutup mulut. Uang dari mana, coba?
"Gue gak butuh duit lu, Fir."
Eh?
Fir? Barusan Kai manggil aku, Fir? batin Safira yang harus menahan kesal karena Kai tidak menghargainya sebagai calon istri dari kakaknya.
'Tenang Fira. Tenang.' Safira bermonolog dalam hati sambil memejamkan mata dan mengatur napas.
Kira-kira apa yang diinginkan Kai jika bukan uang?
Kai menegakkan tubuh, meluruskan tangan, kemudian memangkas jaraknya dengan Safira. Tinggi Safira yang hanya sebatas dada, memudahkan pemuda penyuka warna hitam itu menjangkau keseluruhan penampilan calon kakak iparnya.
'Lumayan.' Serunya dalam hati sembari mengusap-usap dagu.
Kali pertama Kai sedekat ini dengan Safira semenjak pertunangan sang Abang dan perempuan ini diresmikan satu tahun yang lalu. Kai tidak pernah melihat Safira dengan jarak sedekat ini. Terlebih selama ini dia memilih tinggal sendiri di apartment dan tidak serumah dengan Arkana.
"Elu bisa bayar gue dengan cara lain, Fir," ucap Kai yang seketika membuat Safira mendongak, lalu tercengang.
Reflek, kaki Safira mundur satu langkah, menjaga jarak aman sekaligus demi kebaikan cara kerja jantungnya yang mulai tidak terkontrol. Bisa-bisanya darah Safira berdesir hanya dengan menatap sepasang manik Kai.
"A-apa? Cara lain apa?" Kerongkongan Safira mendadak kering, karena Kai tak berhenti menatapnya. Tatapannya seolah-olah ingin menerkam Safira hidup-hidup.
"Tubuh lu. Bayar pakek tubuh lu."
Detik itu juga Safira tidak ragu untuk melayangkan satu tamparan keras di pipi Kai. "Berengsek kamu!" umpat Safira, dengan segala amarah yang ingin dia luapkan secara bersamaan. Telapak tangan bekas menampar pipi Kai memanas. "Kamu pikir aku cewek apaan, hah!"
Murka sudah. Safira mencengkeram erat jaket kulit warna hitam yang membalut tubuh Kai. Tak hanya marah dengan perkataan Kai, Safira juga merasa terluka karena terinjak-injak harga dirinya. Bola matanya sudah memanas dan mungkin sebentar lagi akan menangis.
"Gue cuma ngasih ide lain buat lu. Gak ada salahnya 'kan?" Kai menanggapi kemarahan Safira dengan santai. Tamparan yang baru saja dia dapatkan tak berpengaruh sama sekali. "Terserah. Gue juga gak maksa lu." Dia singkirkan tangan Safira dari jaketnya.
"Kamu emang berengsek!" Rahang Safira mengetat, dengan tangan yang tertahan di udara karena Kai lebih dulu memegangnya. Niat ingin menampar Kai lagi seketika urung.
"Kalo lu kayak gini, gue gak segan-segan bakal ngasih tau Papi gue. Ngerti!" Kai menyentak tangan Safira dengan sangat kasar, serta sorot mata mengancam. "Impian lu nikah sama orang kaya bakalan ancur!"
"Kamu!" Telunjuk Safira mengacung di ujung hidung Kai. Napasnya memburu akibat kemarahan yang tidak sepenuhnya bisa disalurkan. Kai ini memang tidak bisa diremehkan, pikir Safira.
"Jadi kamu mau ambil kesempatan dalam kesempitan? Ck, gak gentleman!" Safira berdecih, menurunkan telunjuknya, kemudian bersedekap, tetapi Kai malah tertawa.
"Bukannya ada hal yang harus kita bayar mahal dalam kehidupan ini? Lu tentu tau itu, Fir! Apalagi bagi orang-orang kelas rendah kayak lu," cibir Kai mulai bersikap semena-mena. Perkataannya jelas menyinggung Safira.
Tawa miris lolos dari mulut Safira, serta satu titik cairan bening menetes di pipi perempuan yang mengenakan pakaian seksi tersebut. "Aku mungkin memang miskin, tapi aku gak serendah yang kamu pikirkan. Apa salah, aku kerja sampingan seperti ini? Enggak 'kan? Aku juga gak merugikan orang! Apalagi kamu!" Telunjuknya mendorong dada Kai, tetapi itu tidak berpengaruh sedikitpun.
"Tapi lu udah nipu keluarga gue sekaligus Abang gue!"
tok! tok!
Suara ketukan di kaca jendela mobil memecah lamunan Safira pada kejadian beberapa bulan yang lalu. Menoleh ke samping, dan tidak mendapati Kai di balik kemudi.
"Fir!" Kai mengetuk kaca jendela lagi, dan Safira sontak menoleh, lalu berdecak. "Turun!" titah Kai.
"Iya, bentar!" Safira menghela sesaat sebelum kemudian membuka pintu mobil dan turun. "Kenapa kita ke sini? Jam kerjaku masih lima jam lagi," tanyanya, sambil membenarkan tali tas selempang yang dia bawa.
Kenapa Kai membawanya ke Bar tempatnya bekerja sambilan, pikir Safira.
"Gue ada urusan bentar sama orang," sahut Kai, tidak memedulikan raut cemberut Safira. "Ayo." Setelah menekan tombol otomatis pada kontak mobil di tangan, Kai melangkah lebih dulu, meninggalkan Safira yang bersungut-sungut di balik punggungnya.
"Ngeselin banget ini orang!" Mau tak mau Safira menyusul Kai masuk ke Bar itu.
"Elu tunggu di sini dulu. Jangan ke mana-mana sebelum gue samperin lu. Ngerti?" titah Kai setelah menggiring Safira masuk ke Bar, dan mengajaknya ke ruangan VIP. Pemuda itu hanya berdiri di depan pintu seraya bersedekap, menunggu Safira masuk ke dalam.
"Kamu mau ke mana lagi?" tanya Safira, masih berdiri di depan pintu sama seperti Kai. Dia kesal, tetapi tidak bisa protes. Untuk apa Kai jauh-jauh mengajaknya ke tempat ini, bila ujung-ujungnya harus menunggu sendirian.
Kai menghela napas panjang, meraup kasar wajahnya sesaat, lantas menyahut, "Tadi 'kan gue udah bilang kalo ada urusan bentar. Nanti gue balik lagi ke sini. Elu tenang aja." Dia pun melihat jam tangannya sekilas dengan gusar. "Udah sana masuk. Tunggu di dalem. Kalo mau tidur, silakan."
"Tap—" Belum juga menuntaskan kalimat protesnya, Kai lebih dulu mendorong lengan Safira supaya segera masuk, sebab dia sudah ditunggu oleh seseorang di rooftop tempat tersebut. "Ish! Kasar banget kamu!" Safira merengut sambil mengusap lengannya.
"Kalo sama gue gak usah manja, ngerti!" ketus Kai, yang kemudian segera berlalu dari hadapan Safira. Dari kejauhan telinganya pun masih bisa mendengar perempuan itu mengumpat dengan suara lantang.
Kai tidak pernah menanggapi serius umpatan Safira yang terkadang terlalu berlebihan. Dia sengaja membuat calon kakak iparnya itu jengkel, dan paham akan posisinya. Jika bersamanya, Safira hanya boleh menurut dan menurut. Titik!
_
Kai melangkah keluar setelah pintu lift terbuka lebar, berjalan santai dengan posisi kedua tangan masuk ke saku celana panjang warna hitam. Lorong yang dilewati cukup sepi, karena di jam sekarang Bar tersebut belum terlalu ramai, dan akan beroperasi di jam malam. Di lorong kedua, ada sebuah pintu besi, dan Kai membukanya. Pintu itu menghubungkan ke sebuah rooftop.
Dua orang pria berjas serba hitam terlihat sedang duduk dengan tiga orang perempuan berbaju sangat seksi. Di tengah-tengah ada meja kaca berbentuk bundar yang di atasnya ada dua botol minuman, empat gelas berkaki tinggi, serta beberapa macam snack. Satu diantara dari pria setengah baya itu sedang asyik bercumbu dengan dua perempuan yang berada di atas pangkuan.
"Eh, Kai? Sudah datang? Sini!" Pria paruh baya kisaran usia empat puluh tahun melambaikan tangan ke arah Kai yang berjalan menghampiri. Perempuan di sampingnya segera berdiri, untuk menyambut Kai.
"Halo, Kai." Sang perempuan berambut cokelat terang itu menggelayut mesra di lengan Kai, dan mendapat kecupan di pipi. "Tambah ganteng aja," pujinya sambil membelai sekilas rahang tegas milik Kai.
Kai tidak pernah keberatan dengan sikap para gadis-gadis di sampingnya. Sebagian dari mereka bahkan pernah berbagi desah dengan pemuda itu.
"Sorry, nunggu lama," ujar Kai, yang langsung duduk berhadapan dengan kedua pria berjas hitam tersebut, lalu menarik pinggang wanitanya supaya duduk di pangkuannya. "Di sini aja, Nggun," pintanya sambil mengusap lengan telanjang Anggun.
Perempuan bernama Anggun itu tentu tidak menolak. Lengannya dengan agresif mengalung di pundak Kai, posisinya miring ke samping, dan dengan leluasa memandang wajah tampan di hadapannya.
"Kamu gak lupa 'kan pesanan saya?" tanya pria yang sama, lalu menyesap minumannya.
"Tenang aja. Saya gak lupa," sahut Kai sambil merogoh kantong bagian dalam jaketnya.
_
Nyatanya, Safira tidak menuruti perintah Kai yang memintanya menunggu di ruangan VIP tersebut. Kebosanan membuatnya memilih keluar dari sana, dan turun ke lantai bawah. Saat tiba di bawah, Safira bertemu dengan teman seprofesinya yang sedang bersiap-siap di ruangan khusus.
"Loh, Fir, kamu … Ngapain di sini? Bukannya jam kerja kamu masih lama?" Teman Safira yang tengah menyapukan kuas blush on di pipi sampai menghentikan pergerakan tangannya, terheran dengan keberadaan perempuan cantik itu.
Safira duduk di samping temannya itu, lalu mengambil botol air mineral yang tersedia di meja, dan membukanya. Dia minum terlebih dahulu, setelah itu lalu menjawab, "Aku ke sini diajak Kai." Botol minum bekasnya dia letakkan lagi ke meja.
"Hah? Sama Kai? Kamu … masih jalan sama dia?" Perempuan berpakaian kurang bahan yang sibuk memoles bibir dengan lipstik seketika kaget.
"Kai yang temennya bos kita itu 'kan?" timpal salah satu dari mereka yang sama-sama berbaju kurang bahan dan riasan menor.
Safira hanya menanggapi malas pertanyaan dari mereka. Kenapa semua temannya terutama perempuan pasti langsung heboh kalau sudah membahas Kai.
'Ck, apa sih istimewanya dia? Menang ganteng doang, tapi akhlaknya zonk!' Safira mencibir Kai dalam hati sambil mengambil ponselnya dari tas selempang yang dia bawa. Berharap ada pesan masuk dari Arkana.
"Kayaknya Mas Arkana beneran sibuk," gumamnya dengan wajah sendu, kemudian meletakkan asal ponselnya di atas meja.
"Kamu gak takut ketauan tunanganmu, Fir? Kalian bentar lagi nikah, tapi kamu masih jalan sama adiknya. Gila kamu!" Satu dari mereka bertanya perihal hubungan antara Safira dan Arkana sekaligus Kai.
"Ya … Aku juga gak ada pilihan lain, tau! Tuh anak maksa banget! Dia ngancem bakal kasih tau Mas Arkana. Bisa gak jadi nikah aku sama dia," cicit Safira, mengurut pangkal hidung karena kepalanya terasa sangat pusing bila sudah membahas mengenai Kai.
Kedua teman Safira mengangguk paham dengan masalah yang menimpanya. Antara mereka tidak ada rahasia apa pun. Bisa dikatakan ketiga orang itu adalah teman dekat serta seperjuangan.
"Utang bokap lu, gimana?" tanya teman Safira bernama Anya. Dari mereka, cuma Anya yang berani mengambil job di luar pekerjaannya.
"Jangan nanya utang, deh! Pusing aku! Sampe ubanan, tuh, utang gak bakal lunas," sahut Safira yang sudah benar-benar merasa pusing dan lelah.
Tiba-tiba teman Safira bernama Lolita menyeru, "Eh, denger-denger dari bos, kalo utang bapak kamu udah lunas, Fir."
"Apa?" Safira sampai melotot dengan mulut ternganga lebar. "Kamu kalo ngomong yang bener, Lit. Utang Bapakku jumlahnya gede. Mana setiap hari dia kalah judi terus di sini. Pak Bos salah omong kali?"
Jumlah utang ayahnya Safira itu mencapai 250 juta, itu pun baru di bayar seperempat dari jumlah total sebenarnya. Belum lagi ada bunga yang hampir setiap hari bertambah jumlahnya. Gaji pokok SPG Safira hanya cukup untuk membayar bunganya saja. ck!
Lolita menggeleng. "Aku beneran denger sendiri, kok. Waktu itu Pak Bos ngomong sama si Farhan," ungkapnya dengan raut meyakinkan. Farhan itu kaki tangan bos pemilik Bar tersebut.
"Wah, masa kamu gak tau, Fir? Emang Pak Bos gak ngomong sama kamu?" Anya menimpali.
Yang lainnya ikut menimpali. "Iya, Fir. Harusnya kamu dikasih tau."
Otak Safira yang kecil tengah bekerja dengan cepat untuk berpikir serta mengingat-ingat. Seingatnya, terakhir kali dia mencicil itu Minggu lalu. "Pak Bos gak bilang apa-apa kemarin waktu aku ke ruangannya seminggu yang lalu," ucapnya sambil menggaruk alis.
"Mungkin lunasnya baru kemaren kali."
"Iya, juga, sih …."
"Eh, tapi kira-kira siapa yang ngelunasin, Fir? Kalo Mas tunanganmu gak mungkin." Anya yang cukup cerdas mulai berasumsi.
"Ya, gak mungkinlah!" Safira bahkan tidak kepikiran sampai ke sana. "Mendingan aku tanya aja, deh, sama Bos." Tak mau capek-capek mikir, Safira pun memutuskan untuk bertanya langsung pada Bosnya.
"Iya, bener. Mending tanya aja sama Bos," kata Lolita, dan yang lain ikut mendukung.
Safira mengangguk, memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu berdiri. "Ya udah. Aku ke ruangannya sekarang aja."
_