Prolog Dosa terindah
"Bawa keluar gadis itu, bukankah sudah papa tegaskan berulang kali Dika! Mama papa tidak merestui kalian!" Kata pak Heru orang tua Andika.
"Tapi pa, Dika cuma mau sama Ina." Tegas Andika dengan menggenggam tangan Lisna dengan begitu erat.
"Siapa pun nama gadis itu. Papa tidak setuju, silahkan bawa keluar. Kalau kamu mau menikahi nya, silahkan cari kehidupan sendiri dan biaya sendiri. Jangan berharap sepeserpun dari uang papa!" Sahut sang Ayah lebih tegas tegas.
"Pa.."
"Diam Andika! Jangan membantah kata-kata papa lagi! Papa hanya mau hidup bersama anak yang menuruti kemauan papa. Yang membangkang silahkan angkat kaki dari rumah ini!" Pak Heru menatap wajah Andika tajam. Lisna yang tersudut hanya diam membisu. Ia meremas tangannya, rasanya ia ingin berlari namun kakinya seperti terikat beban seberat seribu ton. Tak bisa bergerak sama sekali.
"Baik jika itu titah dari papa, Andika terima. Ayo Ina kita pergi." Andika menarik lengan Lisna dan membawa keluar dari rumah besar itu.
"Kembalikan kunci mobil papa." Andika menghentikan langkahnya. Merogoh kantong celana lalu mengambil kunci mobil dan melemparkan ke meja yang berada di hadapan papa mamanya. Andika terus berjalan menggenggam tangan Lisna erat.
Bab 1
Lara Terpendam
Pagi yang indah bagi Lisna, setelah terlelap sepanjang malam bersama suami tercintanya dalam pelukan hangat penuh cinta. Matanya terbuka dengan senyuman mengembang. Ia memberikan kecupan hangat di pipi suaminya.
Danar mengerjap mendapatkan sentuhan hangat di pipinya dari sang istri. Ia menarik tubuh Lisna kembali dalam pelukan hangatnya. Lisnas tersenyum mendapati itu. Sebagai pengantin baru, Lisna sangat menikmati masa-masa indah yang membawanya ke surga kenikmatan yang selalu membuatnya terengah kelelahan.
Namun lelah itu membuatnya selalu tersenyum dan bisa melewati malam-malamnya dengan begitu nyenyak dalam dekapan hangat sang suami. Lengkungan indah dari bibirnya selalu terulas ketika sang suami mampu membuatnya melewati klimaks yang membuatnya merasa lemas dan terlena.
Dan adalah kepuasan tersendiri baginya ketika mendapatkan pelukan erat dari sang suami ketika tubuh lelakinya menegang hingga terkulai lemas dalam dekapannya. Ia akan membisikkan ucapan lembut dengan manis tepat di telinga suami.
"Aku mencintaimu Mas, terima kasih, ini enak banget. Muach."
Bisikan itu membuat tangan Danar yang sedikit gemetar akan meraup tubuh Lisna ke dalam dekapannya, hingga malam berlalu. Masa-masa yang indah yang tak ingin ia lewati sepanjang ia bersama sang suami.
Namun itu tak berlangsung lama bagi Lisna, ia mulai mendapatkan perubahan yang signifikan dari sang suami. Danar yang sejak awal pernikahan begitu manis dan romantis padanya, sedikit demi sedikit mulai berubah tak acuh padanya.
Tak jarang ia pergi sampai larut malam tanpa kabar apapun. Belum lagi ketika Lisna tak lagi diizinkan oleh suaminya memegang ponselnya. Dengan alasan, ia tak ingin ada laki-laki lain yang menghubunginya.
Satu sisi ia bahagia, karena Lisna merasa suaminya begitu mencintainya. Namun disisi lain ia sangat tersiksa, karena pekerjaannya yang membutuhkan komunikasi bersama rekan kerjanya.
Hingga suatu pagi, untuk pertama kalinya, Lisna akan ikut suaminya ke kantor sang suami untuk mengambil gajinya. Ia tak terlalu memikirkan perubahan yang terjadi pada suaminya. Ia berpikir itu hanya proses saling mengenal pasangan saja.
"Lisna kita pergi lebih pagi saja ya, biar nggak macet" kata sosok tinggi tegap yang baru tiga pekan yang lalu mengesahkan Lisna sebagai istrinya di depan penghulu.
"Iya mas, sebentar lagi Lisna siap. Kita sarapan dulu ya." jawab Lisna sambil merapikan kerudungnya. Setelah rapi Lisna menyiapkan sarapan di atas balai. Mereka menikmati makanan mereka dengan tenang.
Setelah selesai mereka pergi ke kantor Danar yang berada di kabupaten. Perjalanan mereka ditempuh sekitar dua jam dengan menggunakan kendaraan roda dua. Setelah sampai, Lisna melepas penutup kepalanya, dan meletakkan di atas motor suaminya. Sementara Danar sudah memasuki Kantor terlebih dahulu tanpa menunggu sang istri untuk diajak bersamanya.
Lisna segera berlari menyusul suaminya yang sudah sedikit jauh darinya. Karena ia tidak tahu ruangan-ruangan yang ada di kantor suaminya itu. Danar masuk ke sebuah ruangan yang ada seorang karyawan wanita duduk fokus dengan komputernya.
Semua proses tanda tangan dan lain-lain selesai. Dan mereka pun pulang. Hati Lisna begitu gembira karena membayangkan akan memegang uang dari suami tercinta untuk pertama kali setelah status lajangnya berubah menjadi seorang istri.
Sambil memikirkan apa saja yang akan Lisna lakukan dengan uang-uang itu. Bagaimana cara mengolahnya nanti. Lisna berkhayal sendiri dalam hati. Biarlah nanti mengalir sendiri, ia hanya ingin menjadi istri Sholehah. Itu yang tersemat di dalam hati dan otaknya saat ini.
Setelah hampir seratus dua puluh menit berkendara, akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Namun Lisna tak memperhatikan kemana suaminya membawanya pulang. Saking sibuknya dengan angan dan khayalan, Lisna tak menyadari kalau rumah yang dituju bukan gubuk tempat mereka tinggal. Tapi rumah mertuanya Lisna atau rumah orang tua Danar.
"Kok ke rumah Mama mas?" Tanya Lisna pada Danar suaminya.
"Iya, kan duitnya harus dibagi dulu." Jawab suaminya dengan enteng.
"Hah?" Lisna terbengong.
"Maksudnya apa. Kok dibagi?" Batinnya lagi. Belum jadi Lisna bertanya, suaminya sudah masuk saja ke dalam rumah ibunya itu. Lisna pun mengekor di belakang Danar, mengikuti kemana suaminya melangkah.
"Assalamualaikum." Lisna masuk dengan salam dan senyuman.
"Waalaikumussalam." Mama mertua datang dari kantin belakang dan menyalami Lisna. Sebagai menantu yang baik Lisna pun mencium punggung tangan mertuanya takdim. Ia memilih duduk di kursi, dekat suaminya.
Beberapa menit kemudian semua berkumpul. Ada adik bungsu dari pak suami namanya Ruli dia masih SMA kelas 12, semester genap. Sebentar lagi akan memasuki ujian kelulusan. Papa mertua tidak hadir, karena beliau bekerja sebagai sopir angkot, jadi jarang sekali berada di rumah.
Setelah obrolan kosong beberapa menit. Akhirnya Danar membuka kalimatnya sambil mengeluarkan uang sebanyak tujuh juta lima ratus ribu rupiah dari tasnya. Lalu menyerahkan ke pangkuan sang Ibu, dan Marwati-Ibu Danar menerimanya dengan senyuman mengembang.
"Ma, ini uangnya dihitung dulu, silahkan di bagi." Ucap Danar dengan kepasrahannya.
Lisna terbengong, dengan apa yang ia lihat di depan matanya itu. Peraturan macam apa ini? Kenapa justru ibunya yang mendapat gaji suaminya, sementara kini status mereka jelas sudah menikah.
Batin Lisna berkecamuk, berbagai macam pertanyaan muncul dalam benaknya. Beginikah pernikahan? Mengapa tak seperti yang ia pelajari dan ia paham selama ini.
Ia hanya mengira-kira, apa ini kenyataan yang belum ia tahu, atau mereka yang belum paham hakikat nafkah itu apa. Dalam kebingungannya ia terus mengikuti alur yang sedang ia tonton. Mencari fakta yang ingin ia jabarkan satu persatu.
Ibunya tersenyum lalu mengambil uang tersebut dalam genggamannya. Dan mulai menghitung dan membagi sesuai keinginannya. Tak masuk akal bagi Lisna, namun benar bagi mereka.
"Satu juta lima ratus Mama yang pegang. Ini yang tiga juta buat persiapan adikmu kuliah, yang satu juta lima ratus lagi buat pegangan adikmu. Nah ini sisanya buat persiapan kandang lagi.” sambil menyerahkan sisa yang disebutkan Ibu mertuanya lagi ke suami Lisna si Danar. Danar pun menerima uang tersebut dan menyerahkan pada Lisna.
Masih dengan terbengong-bengong Lisna menatap uang yang kini ada di pangkuannya. Ia tak menyentuh sama sekali lembaran-lembaran berwarna biru yang berserakan itu. Ia hanya menatap penuh kebingungan.
'Subhanallah' batin Lisna perih, menatap sekeliling yang tersenyum bahagia. Hanya perasaannya yang di hujani berjuta tanya tanpa jawab.
"Ambil Lisna, jangan cuman di lihat begitu." Kata Danar menarik tangan Lisna dan meletakan uang itu di tangan Lisna.
Lisna yang masih bingung itu hanya menatap nanar penuh tanya pada wajah suaminya. Belum juga memasukkan uang itu. Tiba-tiba adik perempuan Danar si Aini, gadis yang bertubuh melebar ke samping, dengan bentuk pantat yang begitu menonjol membuatnya terlihat begitu seksi.
Usianya yang sudah berusia dua puluh tahun, dan hanya bersantai di rumah bersama sang Ibu membuatnya tumbuh dengan tubuh yang semakin melebar ke samping. Namun bulu mata lentiknya di padu dengan mata bulat dan iris coklatnya itu membuatnya terlihat menarik dan cantik. Ia yang ternyata tertidur di kamarnya masuk dan berkata dengan santai sambil mengucek matanya berlenggok ke arah Lisna.
"Bagian aku mana mas?” katanya singkat, dan tangannya mengayun langsung merebut lembaran-lembaran yang tergenggam di tangan Lisna.
💦❤️ B E R S A M B U N G ❤️💦
Bab 2
Kesunyian Malam
"Satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan, cukup." Gadis itu tersenyum dan melempar sisa lembaran berwarna biru itu ke pangkuan Lisna dan berlalu pergi. Lisna dibuat bingung dengan semua adegan yang sedang ia tonton. Sungguh ia tak paham semua itu.
Mengembun sudah mata Lisna, ia meremas sisa-sia lembaran itu dan memegang tangan suaminya yang duduk di sampingnya, lalu menyerahkan semua uang itu padanya.
"Ambil semua mas, sepertinya aku tak membutuhkannya." kata Lisna tegas. Ia berdiri dan melangkah keluar tanpa menghiraukan lagi yang terjadi. Namun ia penasaran dengan sikap suaminya, ia menghentikan langkahnya dan melirik ke arah suaminya. Sungguh ia terkejut, Danar mengambil lembaran-lembaran itu. Merapikan lalu memasukkan ke dalam dompetnya.
Lisna menggelengkan kepalanya, mengelus dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Sungguh ia merasa semua di luar nalarnya. Jauh dari apa yang ia bayangkan, bahkan ia tak pernah sedikit pun tahu ada hal seperti itu.
Lisna melanjutkan langkahnya menjauh dari mereka yang sedang sibuk menghitung hitung bagian mereka masing-masing. Ia memilih berjalan kaki pulang ke gubuk yang ia tempati bersama suaminya. Sesekali ia menatap ke belakang, berharap ada sosok suaminya mengejar langkahnya. Namun getir, sungguh semakin terasa perih menusuk relung hatinya.
Di bawah terik ia terus melangkah, ia berharap segera sampai. Lima belas menit berjalan, akhirnya Lisna sampai ke tempat tujuan. Lalu ia membuka pintu dan menuju ruang tengah yang terdapat meja kecil di mana ia meletakkan teko berisi air minum dan beberapa gelas diatas nampan kecil.
Berjalan di tengah terik membuat tenggorokannya terasa kering. Lalu ia menuang segelas air dan menenggaknya hingga habis tak bersisa. Sejuk menjalar ke dalam dadanya, sedikit mendinginkan perasaannya. Namun perjalanan dengan perasaan tak menentu sungguh membuatnya lelah. Ia masuk ke dalam bilik kecil yang terdapat di gubuk itu, bilik tempat ia dan suaminya beristirahat. Lisna merebahkan diri ke atas balai yang hanya beralaskan bambu tanpa tikar.
"Huft, Keras juga ini bambu. Sekeras Hati mereka. Ah, bukan keras lagi kalo mereka, Atau malah membatu. Ya salam, kenapa begini? Sepertinya aku benar-benar salah melangkah.” Gumam Lisna lirih.
Perih itu kembali menjalar dalam dada, tanpa terasa matanya sudah basah berlinang air mata. Angannya menerawang jauh, terbayang semua perjalanan kisah hidupnya yang penuh lika liku. Kerikil-kerikil tajam yang menghadang jalannya selalu bisa ia lalui. Penantian panjang yang tak berujung pun ia tempuhi meski berujung lara.
Kala itu Rahmah sang sahabat sempat memperingatkan Lisna, kalau Danar bukalah laki-laki yang baik. Namun yang terlihat di mata Lisna hanyalah keindahan. Ketika hati diliputi cinta, hal buruk tak akan terlihat meski sebesar gunung.
"Kenapa tak ku hiraukan mereka yg pernah menasehati ku dulu. Ya Rabb,,, bisakah ku ulang waktu." Bathin Lisna lirih.
**
Malam mulai merayap, tapi Danar belum terlihat datang untuk pulang. Lisna menikmati malamnya dalam kesendirian. Tak ada yang bisa ia lakukan, hanya mengikuti alur yang sudah terlanjur ia lalui. Menapakinya dengan perlahan, meski duri tajam mungkin menghadang.
Ia memejamkan matanya, namun pikirannya terus melayang. Bayangan indah janji-janji manis Danar terlintas. Semua berputar bagai rol film yang berputar begitu cepat. Indah dan sangat menjanjikan keindahan. Ia menghela nafasnya panjang, lalu memejamkan matanya sekejap lalu membuang nafasnya perlahan.
Ingin rasanya ia terlelap dan melupakan semua yang terjadi hari tadi. Namun semua melintas begitu saja tanpa jeda. Rekaman yang tak ingin sekali ia ingat itu terus saja mengotori ingatannya.
Lisna mengusap wajahnya kasar, menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Membuka matanya kembali, menatap langit-langit, tampak barisan genteng dari tanah liat yang tersusun rapi.
Ia menarik selimutnya untuk menghilangkan hawa dingin yang kian menusuk kulitnya yang kian meremang. Berbaring dengan posisi miring, memaksa matanya terpejam. Namun gagal, semua yang ia lalui kian menghantui pikirannya.
"Astaghfirullah."
Gumamnya lirih, lalu ia menyingkap selimutnya dan beranjak keluar bilik, menyalakan lampu dan membuka pintu dapurnya yang menuju kamar mandi yang ada di belakang rumahnya. Membuka gentong yang tersedia khusus untuk wudhu, lalu ia mulai bersuci di sana.
Setelah itu, ia kembali ke gubuknya lagi, menggelar sajadahnya dan mengenakan mukenanya. Dua rakaat ia lakukan, memohon petunjuk atas segala yang melaju dalam kehidupannya. Doa terbaik dalam sujud panjangnya ia lantunkan. Lalu ia menambah tiga rakaat untuk menutupnya. Setelah itu, ia meraih kitab suci Al-Qur'an yang ada di dekatnya, membaca surat yang mengawali juz 29 dalam kitab suci tersebut.
Lima belas menit ia selesai membaca surat Al-Mulk, lalu ia mendekap kitab suci itu, lalu menciumnya. Setelah itu ia meletakkan kembali ke tempatnya. Ia melipat mukenanya, dan kembali ke biliknya, merebahkan tubuhnya lalu menutupi dengan selimut. Bibirnya mulai membaca ayat kursi, tiga Qul, lalu bershalawat, setelah itu ia membaca istighfar seratus kali, dan diakhiri dengan doa sebelum tidur.
"Bismika Allahumma Ahya Wa Amuut."
Gumamnya lirih, lalu memulai memejamkan matanya.
**
Pagi Pun menjelang, Lisna terbangun saat adzan subuh menggema. Setelah melaksanakan kewajiban, Lisna menyibukkan diri untuk murotal. Rasanya malas untuk bergelut dengan wajan dkk. Tak berselera, ah biarlah.. toh dia punya uang. Biar saja dia mencari sarapan dan makan siangnya sendiri, batin Lisna bermonolog.
Tak terasa sudah beranjak itu matahari. Terasa hangat saat sinarnya mengintip di antara celah dinding geribik bambu yg Lisna tinggali.
“Maa syaa Allah.. nikmat mana lagi yg ku dustakan” gumam Lisna tersenyum simpul menenangkan hatinya sendiri.
Lisna beringsut dari tempat duduk dan mengambil handuk bersiap mandi dan pergi ke kantor. Tinggalkan urusan tak penting di gubuk ini.
Setelah siap, Lisna melirik balai bambu yg digunakan untuk tidur. Ada sosok yang semalam ia nantikan kehadirannya. Bahkan lisna tidak tahu kapan suaminya itu kembali ke gubuk itu.
"Hmmmm... Biarlah.. terserah hidupmu mau bagaimana. Aku bisa sendiri" gumam Lisna melangkah keluar.
Setelah menunggu beberapa menit ada angkot yg lewat. Lisna menghentikan angkot itu dan pergi memakai angkot untuk ke kantornya. Sampai di kantor Lisna membuka pintu dan mulai beraktifitas menghilangkan penat. Satu persatu teman yg lain pun hadir.
"Pagi mbak, aduh pengantin baru berangkatnya pagi banget. Tidak tidur apa semalam, itu mata sampai bengkak begitu." Sapa Rahmah teman satu kantornya meledek Lisna yang matanya sembab karena tak bisa tidur semalaman.
"Saking lelapnya malah.. makanya bangunya kepagian. Hahahaa." Jawab Lisna dengan senyum terlebar.
"Diiiiiih... Yang pengantin baru... Aromanya wangi. Eh salah... Aroma bawang ya, kan masak buat suami tercinta" si Hadi ikut nimbrung.
"Hahaha... Ra Kober masak pak (tidak Sempat masak pak). Orangnya aja masih merem waktu aku pergi. Kalo laper nanti bangun kan cari makan sendiri" jawab Lisna ringan.
"Ih tidak sopan mba, pengantin baru mah mesra-mesraan gitu.. males ngapa-ngapain maunya berdua dikamar Mulu ama suami" Rahmah masih meledek jg.
"Hadooooh.... Ada tema lain tidak yg bisa dibahas pemirsa.. " kata Lisna berkacak pinggang.
"Hahahaha... Jo nesu mbaaaa.... Marai cepet tuwek (jangan marah mba, bikin cepat tua) " si Hadi duduk dibangkunya dengan segelas kopi dari pantry.
Dan kami melanjutkan aktifitas kantor seperti biasa. Lisna yg menjabat sebagai staff administrasi. Sibuk dengan tumpukan kertas yg sempat terbengkalai karena ditinggal cuti menikah sepekan yg lalu.
"Alhamdulillah.. beres juga". Lisna melirik arloji yg melingkar di lengan kirinya sudah menunjukan pukul 16:15. Selalu tersenyum jika menatap arloji yang setia menemani kemanapun ia beraktifitas. Arloji kesayangannya, benda yang tak pernah lepas dari pergelangan tangan kirinya itu.
"sudah sore saja, rasanya enggan mau pulang." Gumam Lisna lirih.
" Mbak mau bareng tidak? Kebetulan aku mau lewat arah rumah mbak Lisna nih." Rahmah menawari tumpangan.
"Eh boleeeeh." Lisna beranjak dari kursi malasnya, ia meraih tas dan keluar lalu mengunci pintu.
"Tapi aku rasanya tidak pengen balik ke rumah Lo mah. Yuk makan mie dulu" kata Lisna menepuk pundak Rahmah ketika melewati gerobak mie ayam di pinggir jalan. Rahmah pun membelokkan motornya ke depan gerobak mie ayam yang ditunjuk Lisna. Mereka pun turun dan mencari bangku kosong yang disiapkan penjual mie ayam tersebut.
"Emang mas Danar nggak dirumah mba?" Tanya Rahmah menyelidik.
"Ada, enggak tahu males Saja balik" jawab Lisna pelan. Rahmah menangkap kecurigaan dengan sikap sahabatnya itu.
"Lagian kenapa enggak ngontrak saja si Mba. Apa tinggal dulu sama mama atau mertua gitu. Kok Yo tinggal di tengah kebon begitu. Habis nanti kamu dimakan nyamuk mba.. hihihi" Rahmah nyerocos tanpa jeda.
"Besok lah aku tak cari kontrakan." Jawab Lisna lirih tanpa ekspresi dari candaan Rahmah.
“Iyalah, mas Danar kan gajinya besar, masa iya tinggal di gubuk begitu, mana di tengah hutan pula. Nasibmu mbak." Kata Rahmah lagi.
Lisna mencebik mengingat kisah cinta sahabatnya itu. Mengapa begitu malang, setelah menemukan sosok yang pas di hati, tiba-tiba pergi begitu saja. Kini menikah dengan orang yang sepertinya menyayangi Lisna, tapi entah apa kabar pernikahannya yang baru seumur jagung tapi keadaan menyatakan tidak baik-baik saja.
Pesanan datang, mereka pun hendak menikmatinya. Tiba-tiba ada yang mengagetkan mereka dengan suara lantang.
“Mbak Lisna! Ngapain di sini, pulang kerja itu langsung pulang. Bukan keluyuran nggak jelas. Ingat sudah punya laki juga, dasar!”
Rahmah dan Lisna serta beberapa pengunjung menatap ke sumber suara. Sebagian orang berbisik-bisik, sebagian lagi tak acuh dengan keberadaannya.
"Kamu?” Lisna terperanjat mendapati sosok yang berdiri di depan gerobak mie ayam dan masih duduk manis di atas jok motor melipat tangan menatapnya sinis.
💦❤️ bersambung 💦❤️
Bab 3. Kegelisahan Lisna
"Hah! Kamu? Ngapain disini?” Tanya Lisna pada gadis muda yang tak lain adalah Aini adik iparnya sendiri.
"Beli mie ayam lah. Masa iya beli paku. Tuh suami di rumah kelaparan. Sudah pagi nggak dimasakin, pergi tanpa pamit, ini sudah jam pulang kantor bukannya langsung pulang malah cari makan sendiri." ia menghakimi Lisna dengan asumsinya sendiri.
Lisna mengacuhkan gadis itu, ia melanjutkan menyantap mie ayam yang sudah tersedia di meja yang ia pilih bersama rahmah tadi. Rahmah yg bingung dan mempunyai banyak pertanyaan untuk sahabatnya itu hanya sanggup menatap datar.
Karena Aini adalah teman sekelas Rahmah kala SMP dulu, jadi ia paham betul bagaimana watak adik ipar sahabatnya itu. Sangat judes dan sombong, karena itu Rahmah pernah melarang Lisna untuk berhubungan dengan Danar. Namun Lisna yang memang rindu akan perhatian dan kasih sayang, yang saat itu didapatkan dari Danar sudah dibutakan hatinya oleh rayuan Danar.
"Mba Lisna ada masalah sama mas Danar?" Rahmah yg penasaran akhirnya bertanya juga dengan sedikit berbisik. Karena si Aini masih ada di depan gerobak mie ayam sedang menunggu pesanannya selesai dibuat oleh tukang mie ayam.
"Terima kasih ya bang, yang bayar itu yg pakai kerudung hitam ya." Suara Aini lantang ke Abang mie ayam, sambil menunjuk Lisna yang sedang asik menikmati mi di mangkuknya.
"Eh, kok?" Abang mie ayam bingung menatap Lisna meminta penjelasan. Sementara Ainu sudah berlalu menjauh.
"Dasar gak ada akhlak. Ketemu bukan nyapa baik-baik, main maki-maki orang seenaknya sendiri. Eh masih minta dibayarin mie ayam". Gerutu Lisna kesal.
"Iya bang gak apa-apa. Biar nanti sekalian saya yang bayar." Jelas Lisna ke Abang mie ayam.
"Ah syukurlah, lha empat mangkok mba. Main bawa saja Nggak bilang dari awal kalo ada orang yang bayarin. Sampean mbaknya mba?" Abang mie ayam bertanya pada Lisna.
"Eh iya bang, ipar tepatnya. Baru jadi ipar padahal." Lisna menjawab dengan malas. Enggan rasanya mengakuinya sebagai saudara ipar. Tapi kenyataannya memang dia adalah adik ipar Lisna kini.
"Banyak betul empat mangkuk. Satu rumah dong mba?" Rahmah menyela.
"Iya kali, entahlah mah? Jawab Lisna lagi.
Rasanya hilang sudah nafsu makan Lisna kini, ia mengaduk-aduk isi mangkuknya. Rahmah melirik sahabatnya itu.
“Kasihan itu mie di putar-putar begitu, masukkan mulut kenapa. Biar cacing yang di perut bahagia.” Sela Rahmah mencoba meledek untuk membuat sahabatnya tersenyum. Namun Lisna tetap diam, Rahmah paham apa yang sedang berkecamuk dalam hati sahabatnya itu. Ia pun menyudahi kegiatannya makan mie ayam
Setelah selesai makan mie ayam dan membayarnya kami pun melanjutkan jalan. Lisna minta diturunkan di gang masuk rumah yang ditinggali, Gubuk lebih tepatnya. Rumah kecil berdinding geribik bambu dan berlantai tanah.
"Aku anterin sampe depan pintu ya mba?" Kata Rahmah.
"Tidak usah mah, sini saja." Pinta Lisna yang turun dari boncengan motor Rahmah. Setelah menyerahkan helm Rahmah melanjutkan perjalanannya pulang.
"Makasih ya mah, Nggak usah mampir lah. Tidak ada apa-apa jg dirumah. Adanya cucian kotor kayaknya deh. Tadi pagi nggak nyuci aku. Sama cucian piring kemarin. Kalo mau nyuci gak papa deh mah yuk mampir." Kata Lisna ke Rahmah yang sudah berlalu dari hadapannya.
"Diih, tadi nggak boleh mampir. Diantar sampai depan pintu nggak mau. Giliran inget cucian kotor aja nawarin. Ogah ya. Wek." Ramah tertawa.
"Ya udah mbak, aku langsung ya. Makasih mie ayam baksonya. Gajian besok aku yg traktir ya. Gantian kita. Rahmah tersenyum sangat manis dengan mengedipkan matanya sebelah.
"Hahaha. Boleh boleeeeh... Yesss... Bakal makan mie ayam bakso gratis bulan depan. Aduh gak sabar nunggu bulan depan nih." kata Lisna sambil tertawa.
"Hahahaha, baru tanggal 15 ini mbaaa. Masih lamaaaa Wek." Jawab Rahmah menjulurkan lidah meledek Lisna.
"Dah mbak Lisna... See you next time ya. Tak tunggu ceritamu besok. Wajibun!" Rahmah sedikit berteriak karena motornya sudah melaju menjauh dariku.
Lisna tersenyum getir, rasanya enggan melangkah. Ia menatap jalan hitam itu. Kelam, sekelam hidupnya kini. Akhirnya ia ayunkan langkah kakinya malas. Sampai di depan gubuk ia mengetuk pintu.
"Assalamualaikum." Tak ada jawaban.
"Mas. Mamas? Mas? Kok sepi. Hm, Lupa kalo lagi makan mie ayam di rumah emaknya." Lisna bermonolog sendiri.
Ia membuka pintu yang ternyata tak terkunci. Ia menyisir isi ruangan yang tidak begitu luas, hanya ruangan kecil berukuran dua setengah meter kali tiga meter yang di sekat geribik bambu tanpa pintu hanya tertutup dengan sehelai tirai dari kain jarik, yang ia tempati untuk tempat tidur yang di dalamnya ada sebuah dipan kecil terbuat dari kayu yang beralas pipihan bambu beralas tikar.
Dan ruangan kosong di sebelahnya ia gunakan untuk memasak dan makan. Ada meja kecil yang ia gunakan untuk meletakkan makanan yang ia masak dan menutupinya dengan tudung saji yang terbuat dari rotan.
"Bismillah, assalamualaikum." Lisna masuk rumah dan langsung menuju bilik. Mengambil handuk dan membersihkan diri di kamar mandi.
Selepas mandi ia bersantai melepaskan penat yang ia simpan sendiri. Lisna duduk di balai depan rumah yang memang disiapkan untuk bersantai. Ia menikmati cemilan yang ia bawa menggunakan toples kecil dari dalam. Camilan kesukaan Lisna, yaitu klanting.
"Subhanallah, Alhamdulillah untuk segala nikmat ya Rabb." Lisna menghempaskan bobotnya di atas balai. Membuka toples dan mulai menikmatinya.
Baru kunyahan pertama ada suara deru motor memasuki gang ke arah gubuk Lisna.
"Siapa ya?" bathin Lisna bertanya-tanya. "Semoga mas Danar".
"Mbak, kata mas Danar minta duit buat beli sate lima puluh ribu." Kata Irul masih diatas motornya dan tanpa mematikan mesin motornya.
"Hah!? Kok bisa? Enggak ada lah. Kan mas Danar Yang punya uangnya. Kemarin kan liat sendiri mas Danar Yang simpan semua uang dia." Jawab Lisna tegas.
"Itu tadi mba bisa bayarin mie ayam buat kami. Berarti kan mbak punya uang. Kami mau makan mbak, cuma ada nasi dirumah mama. Pingin makan pake sate. Cepet Lho mba. Laper ini!" Dengan nada yg sedikit meninggi.
"Astaghfirullah. Lha itu tadi udah buat bayar mie ayam. Makanya nggak ada lagi Rul" jawab Lisna lagi.
"Nggak mungkin mbak, jangan bohong deh, mau duit mba Lisna ilang beneran?" Irul tersenyum picik.
"Hih!! Apaan si ini. Udah laki gajian gak dikasih, kok bisa-bisanya minta duit buat beli-beli makanan. Keluarga Aneh. Kok ada si keluarga kayak gitu. Nih! Nggak ikhlas aku!" seru Lisna menyerahkan lembaran berwarna biru ke adik iparnya. Dengan sigap ia meraih uang itu dan melajukan motornya kencang tanpa permisi.
"Apaan sih ini! Awal saja sudah begini. Ya Allah, Keluarga macam apa ini?"
Gerutu Lisna kesal, ia menatap punggung adik iparnya yang kian menghilang dari pandangannya. Lalu ia menyeret langkahnya kembali ke gubuk kecilnya. Dadanya berkecamuk, ada banyak hal yang ia pikirkan kali ini. Ada sesal yang tak mampu ia urai, namun sakralnya hubungan pernikahan tak ingin ia nodai.
Ia menarik nafasnya dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Ujung netranya menghangat, ia mengusapnya cepat. Ia menghela nafasnya panjang, lalu melirik ke arah jalanan setapak. Berharap sosok lelakinya datang untuk menenangkan hatinya.
"Haruskah aku bertahan? Pernikahan apa seperti ini? Menyakitkan?"
Gumamnya lirih, dilema menyelimuti hatinya yang kian terasa begitu perih.
💦❤️bersambung❤💦