Bab 2

"Astaga Lucy! Apa yang terjadi padamu?"

Seruan bernada khawatir keluar dari mulut wanita paruh baya ketika Lucy tiba dirumah dalam kondisi mengenaskan. Gadis itu tidak banyak bicara dan hanya diam meskipun memang wajar bila wanita itu menyambutnya langsung dengan penuh kepanikan.

Bagaimana tidak? Lucy datang dalam kondisi kacau balau. Bibirnya terluka, rambutnya acak-acakan, tangannya berdarah, dan dibeberapa bagian juga ditemukan luka lebam. Terutama di kaki karena memang bagian itu sempat terkena benturan keras ketika Lucy setengah dibanting lantaran enggan melayani dan pakaian yang menutupi tubuhnya hanyalah sebuah kimono handuk yang sudah urakan tidak berbentuk.

Setiap pulang dari pekerjaannya maka namanya akan berubah kembali menjadi nama aslinya. Luciana alias Lucy. Rose? Itu hanyalah nama yang dia gunakan saat sedang bekerja.

"Hai Bi, aku tidak apa-apa. Tidak perlu khawatir, tapi karena aku pesan taksi tadi, aku belum membayarnya jadi tolong ya Bi," sahut Lucy seraya masuk ke dalam sementara wanita yang dipanggil bibi tersebut langsung keluar dan mendekati taksi untuk membayar ongkosnya.

Selesai dengan itu, sang bibi kembali masuk ke dalam rumah untuk kembali merecoki Luciana. "Katakan padaku apa yang sudah terjadi padamu? Apa kau bertengkar dengan seseorang? Apa kau ribut dengan pelangganmu lagi? aku tadi sempat lihat orang yang membawamu memang orang yang cukup menyeramkan. Apa yang dia lakukan sampai kau semenyedihkan ini?" tanya bibinya lagi tidak puas karena Lucy yang masih pula memilih tutup mulut alih-alih buka suara dan jujur terhadap kejadian yang baru saja menimpanya.

"Ini kan hal yang sudah biasa, Bi. Resiko wanita pekerja malam," sahut Lucy santai.

Mendengar hal itu, mau tidak mau sang Bibi menghela napas panjang sambil menatap keponakannya lekat-lekat. "Kalau tidak sanggup jangan memaksakan diri. Aku sudah bilang padamu sejak awal bahwa kehidupan seperti ini tidak mudah dijalani dan berat. Kita hanyalah alat yang digunakan untuk memuaskan hasrat mereka. Tidak ada satu pun yang akan menghargai kehidupan kita. Bagi mereka, kita hanyalah sampah Masyarakat. Tidak pantas hidup dengan layak dan tidak berhak mendapatkan cinta. Aku tidak mau kau bernasib sama denganku, Luciana," jelas wanita itu dengan ekspresi yang sedih di wajahnya.

"Aku tahu itu semua Bibi, dan sebelum memutuskan untuk terjun pun aku sudah memahami resikonya. Tolong jangan kasihani aku seperti ini."

Sesaat Lucy bisa melihat air mata menetes dipelupuk mata bibinya, tetapi setelah melihat Lucy yang tampak begitu tegar wanita itu mencoba untuk ikut tegar dan menghapus air matanya yang tumpah sembari menganggukan kepala. "Baiklah, aku tidak akan melakukannya. Kalau begitu kau mandi saja. Mulai sekarang, kau jangan melayani pelanggan diluar bar. Jangan mau dibawa ke hotel. Aku akan mengawasimu lebih ketat dan obati dulu lukamu  itu. Maaf ya, pelanggannya masih banyak di luar. Kau tidak keberatan kutinggal 'kan?"

Lucy tidak merespon dengan kata, cukup dengan anggukan sebelum akhirnya dia meninggalkan sang bibi begitu saja.

Hanya perlu waktu kurang dari lima belas menit saja bagi Lucy untuk membersihkan tubuhnya dengan air dingin. Dia segera masuk ke dalam kamar yang dia huni, tepatnya di lantai teratas sebuah klub malam di kota Jakarta.

Sudah hampir empat tahun Luciana tinggal disini dan dia memilih ikut bekerja sebagai pelayan nafsu para pria hidung belang. Tepatnya setelah perceraian kedua orangtuanya, dan masing-masing dari mereka memilih hidup dengan selingkuhannya. Kebetulan Lucy adalah anak tunggal, jadi tidak ada satu pun dari pihak keluarga yang mau bertanggung jawab atas dirinya. Singkat kata kehadiran Luciana tidak diinginkan oleh siapa pun. Karena dia anak haram, begitulah kedua keluarga menyebutnya.

Makanya Lucy bertahan disini, sebab wanita yang bernama Yuichi tersebut adalah satu-satunya yang mau menerima Lucy dengan sepenuh hati, bahkan bisa dibilang dia menyayangi Lucy seperti anak sendiri. Dia sudah selesai dengan segalanya dan kini Lucy hendak memejamkan mata.

"Saatnya bermimpi, bahwa aku adalah anak yang paling beruntung dibumi."

***

"Nah Pak General Managerku yang terhormat, ini laporan yang kau minta padaku beberapa waktu yang lalu. Sudah aku kukerjakan dengan baik dan tanpa kesalahan sedikit pun, oke? Jadi tolong jangan bersikap seperti manusia jomblo menahun yang hobby mengganggu dan merusak jadwal kencanku lagi. Semalam kau benar-benar mengesalkan, kau sadar itu kan? Gadis seperti Yui itu susah di cari di tempat mana pun. Dia juga gadis yang susah dipesan!" Kembali si rambut merah merutuk pada atasannya.

"Oh ya? Menurutku biasa saja tidak ada yang Istimewa. Gadis seperti dia bisa dicari dimana pun, kau saja yang bodoh dan tidak pandai berburu. Kerja bagus untuk laporanmu, Kenny," sahut si pria dengan piercingnya itu, dia tidak terlalu peduli dengan ekspresi rekan kerjanya karena saat itu dia kembali bergelut dengan layar monitor di depan matanya.

"Kalau kerjaku bagus, tolong jangan hubungi aku diluar jam kerja oke? Hari ini aku mau ke klub malam lagi," balas si kepala merah, tetapi karena dia merasa bosan karena pria itu tidak terlalu memperhatikan dia lantas melongokan kepalanya untuk mengintip layar monitor yang sedang di tatap oleh pria itu. "Hei, kenapa kau buru-buru mengerjakan laporan itu Rookie? Bukannya laporan itu untuk akhir bulan nanti?"

"Ini gara-gara si sialan Bima itu. Dia mendesakku terus untuk mengejarkan ini. katanya aku tidak bisa mengontrol anak buahku sendiri dan tidak pantas duduk di kursi jabatanku sekarang ini. Apa maksudnya coba si bedebah itu? memangnya dia pikir dia siapa? Baru jadi wakil presdir saja sudah belagu dan judgemental begitu," rutuk Rookie.

"Hei, bung kalau sampai ada yang mendengar ucapanmu tadi, kau bisa mampus. Lagipula kalau kau melawannya kau tidak bisa menikah dengan adiknya yang manis itu. Ah... kenapa ya hidup pria itu begitu sempurna. Bikin iri saja," timpal Kenny sambil bersiul.

"Dia bukannya sempurna. Kebetulan saja dia lahir dari keluarga kaya, dan punya orang dalam."

"Ya, sama saja. Kita kan tidak bisa seperti dia. Eh ngomong-ngomong kau mau ikut tidak? di klub kali ini akan menampilkan strip dance dari gadis paling populer dan sulit di pesan urutan nomor satu. Dia itu primadonanya di klub, banyak pria yang mau tidur dengan dia, tapi rumornya bilang dia tidak pernah melayani satu pria pun dan masih perawan. Kau kan tahu sendiri bagaimana rasanya gadis perawan itu. Mendekati mawar yang penuh duri itu sangat menarik dan menantang!" jelas Kenny penuh semangat dilihat dari matanya saja pria itu sepertinya sudah punya rencana gila yang akan dia eksekusi malam nanti.

"Paling banter dia cuma gadis sok jual mahal. Bagaimana mungkin dia tidak pernah melayani satu pria pun. Dia kan seorang pelacur."

Sebab bagi Rookie, perempuan yang memutuskan hidup di dunia malam untuk mencari uang atas dasar alasan apa pun tidak punya harga. Perempuan yang rela tubuhnya dijamah oleh sembarang pria adalah perempuan yang tidak punya harga diri.

"Wow ... apa yang kudengar ini? apakah playboy kelas kakap kita kali ini merasa takut untuk mencoba tantangan baru? Kudengar belum pernah ada gadis yang menolakmu, kalian sepertinya kombinasi yang bagus. Kau kan berpengalaman juga soal perempuan, mau coba menaklukan gadis primadona itu?"

"Kau sedang mencoba menantang aku?" sahut Rookie.

"Tidak, hanya memastikan saja. Kalau gadis itu saja bisa menolakmu berarti sebutan playboy yang tidak pernah ditolak siapa pun itu cuma isapan jempol belaka. Copot saja gelar cassanova yang melekat padamu itu, gak guna."

"Sebenarnya pelacur bukan kelasku, tapi kalau dia semenarik itu, kurasa aku mau coba hal baru."

Kenny langsung menyeringai dan tertawa terbahak sambil meremehkan Rookie. Sebenarnya dia hanya suka saja memanasmanasi pria itu, dia mudah sekali diprovokasi karena sifatnya yang tidak mau kalah itu lah dia jadi menyenangkan untuk dipermainkan.

Kenny kemudian berlalu setelah mengatakan jam keberangkatan mereka untuk pergi ke klub itu lalu dia pergi begitu saja. Setelah dia ditinggal sendirian, saat itu pula Rookie kembali termenung agak lama dan menghentikan jemarinya yang mengetik di atas keyboard dan menatap layar yang telah dia nyaris selesaikan.

Semalam ketika dia keluar untuk menemui Kenny yang pada dasarnya memang tipe pria nakal yang usil dan suka bermain dengan wanita nakal di hotel, Rookie sempat bertemu dengan seorang gadis yang hanya mengenakan kimono handuk dan kondisinya benar-benar berantakan dan bahkan berdarah-darah. Gadis itu keluar dari sebuah kamar dengan ekspresi ketakutan dan dia bahkan berlari tanpa arah dan linglung, dia bahkan sempat jatuh terjembab dan tampak kepayahan untuk berdiri.

Rookie yang melihat situasi itu bergerak tanpa pikir panjang, dan menghajar pria yang mengejarnya karena dia yakin bahwa pria itu adalah hidung belang yang hendak melakukan tindakan tidak senonoh kepada gadis itu. Sayup memang Rookie mendengar gadis itu mengucapkan terimakasih sebelum berhasil kabur.

Rookie sempat mengejarnya tetapi dia kehilangan jejak. Dan sialnya lagi Rookie juga tidak sempat melihat dengan jelas bagaimana rupanya karena saat itu rambut panjangnya berantakan dan nyaris menutupi wajahnya. Pertemuan mereka yang terbilang unik tersebut membuat Rookie dibuat penasaran. Apakah gadis yang dia tolong itu adalah seorang pelacur? Apakah mereka bisa bertemu lagi?

Bab 3

Begitu masuk ke dalam club yang Kenny bicarakan. Rookie langsung mendapatkan sorotan dan perhatian dari para gadis yang menjajakan diri mereka dan berebut menggodanya. Tetapi Rookie tidak tertarik pada mereka semua dan menolaknya cukup tegas sehingga dia ditinggalkan sendirian. Dia lebih penasaran dengan gadis yang ditunjukan Kenny kepadanya, si gadis primadona.

"Rose itu primadona-nya disini dan dia satu-satunya yang tidak pernah seks dengan tamunya. Banyak pria yang berusaha mengambil keperawanannya tetapi dia selalu berhasil mengatasi semua itu. Terakhir kali aku dengar dia bahkan sampai babak belur gara-gara berusaha kabur dari kliennya."

Begitulah yang dikatakan pelacur disekitarnya ketika Rookie bertanya soal Rose, tetapi buat Rookie rasanya itu tidak masuk akal, dan itu barangkali hanyalah rumor agar harganya jadi berkali-kali lipat lebih mahal saja. Rookie lebih percaya kalau dia hanya so jual mahal. So suci di tempat yang hina, sangat kontradiktif.

Rookie mulai bergerak mendekati panggung dimana sang primadona club sedang menari, secara impulsive dia langsung menarik lengannya. Gadis itu berhenti bergerak ketika tubuhnya bertabrakan dengan dada bidang Rookie.

Dia berbalik dengan gerakan yang anggun, rambut panjangnya menyibak wajah putih bersih yang disinari oleh lampu panggung, kesan yang menggoda dan lumayan mendebarkan.

Rookie nyaris tidak berkedip ketika dia menatap wajah sang primadona dari jarak dekat seperti ini. Ternyata benar, alasan mengapa dia begitu familiar karena dia adalah perempuan yang pernah dia tolong di hotel waktu itu. Benar dugaannya bahwa ternyata perempuan itu bukan korban melainkan hanyalah seorang pelacur yang sedang mencari nafkah malam itu.

"Mengecewakan," gumam Rookie.

Tak berbeda jauh dengan Rookie, gadis itu juga tampak sama terkejutnya. Apalagi ketika matanya bersitumbuk dengan piercing telinga yang pria itu kenakan. Namun dengan keahliannya dalam bersandiwara dan memainkan peran. Keterkejutan itu berganti dengan sebuah senyuman yang kelewat manis yang cukup untuk menggoda keimanan.

"Mengecewakan apa, Tuan?" ujar gadis manis itu.

Pembawaannya sangat tenang, dan elegan. Jika saja Rookie bertemu dengan dia bukan di tempat seperti ini. Dia mungkin akan langsung terpesona dan jatuh cinta. Tapi sayangnya, dia bukan levelnya.

"Hai Rose, kau primadona di klub ini kan?" tanya Rookie.

"Ya, ada yang Tuan inginkan dari saya?"

"Tidurlah denganku, dan kau boleh meminta uang sebanyak apa pun dariku." Sangat tegas dan maskulin. To the point. Itulah cara Rookie saat sedang berbincang dengan perempuan yang menjadi targetnya. Biasanya perempuan yang diperlakukan demikian akan langsung memberinya senyuman termanis.

Tetapi siapa sangka, Rose sang primadona klub langsung menatap tajam ke arah Rookie. Sorot mata itu langsung memperlihatkan ekspresi terganggu dan jijik kepadanya. Ekspresi yang begitu alami, tidak dibuat-buat dan sialnya Rookie malah terpesona pada pancaran kebencian yang menguar secara spontan dari gadis itu.

Sungguh, belum pernah ada perempuan yang berani menatapnya dengan mata yang seolah hendak membunuhnya seperti ini kecuali satu orang. Dan itu pun hanyalah orang dimasa lalunya, dia tidak ada gantinya.

Tetapi setelah mereka bersitatap dia merasa bahwa sebelum menyelamatkan perempuan ini Rookie yakin pernah mengenalnya jauh sebelum itu Tapi tidak yakin dimana dia tahu gadis itu. Haruskah Rookie memastikannya? Tapi bagaimana langkah pertamanya?

"Jadi bagaimana? kau mau? Aku bisa membayarmu sebanyak mungkin," lanjut pria itu dengan nada suara yang begitu angkuh.

Gadis bermata indah tersebut secara perlahan melepaskan tangannya dari pria itu. Masih seperti itu, sorot matanya tidak mengendur sedikit pun. Tidak ada perubahan.

"Apa Tuan tahu kalau mawar itu punya duri? Duri tajam yang bisa membuat luka di tangan tuan. Itulah saya. Kalau tuan tahu cara memangkas duri itu dan tidak melukai tangan tuan, saya bersedia menyerahkan malam pertama saya kepada tuan. Tetapi jika tidak tahu caranya, menyerah saja atau silahkan pergi."

Pria itu hanya mendengus kesal. Sepertinya dia baru saja merasakan rasa sebal luar biasa. Ini adalah sebuah penolakan dan Rookie tidak suka mendapati kenyataan seperti itu.

Maka pria tampan itu lantas kembali meraih lengan Lucy dan menggenggamnya dengan erat. "Apa maksud perkataanmu? Gadis murahan sepertimu itu bisa kubeli dengan harga berapapun! Jangan sombong dengan mengatakan soal analogi tidak berguna macam duri atau mawar. Bilang saja kalau kau sudah tidak perawan dan julukan yang kau dapatkan jelas hanyalah branding. Pelacur tetaplah pelacur," sembur Rookie yang tidak tahan mengutarakan semua hal yang ada di kepalanya tanpa rem sedikit pun.

Dengan sekali sentakan, Lucy mendekatkan wajahnya ke arah pria itu. Lalu dengan satu tangannya yang bebas, yang tidak digenggam pria itu, Lucy langsung menarik lehernya hingga sejajar dengannya dan mencium bibir pria itu secara impulsive. Pria itu jelas langsung kaget dengan tindakan tiba-tiba Lucy.

Tanpa merasa perlu ragu sedikitpun, Lucy menjilat bibir merah si pria berambut gondrong itu. Tentu saja aksi mereka langsung ditonton oleh pengunjung klub malam itu. Banyak yang membelalakan mata dan berteriak heboh. Lucy masih tidak peduli dan tetap melanjutkan kegiatannya.

Lucy menjilat permukaan bibirnya meminta izin masuk kesana. Tidak perlu waktu, Rookie yang memang sudah lihai tanpa perlu buang waktu memberikan akses lebih sehingga Lucy semakin liar, beradu lidah dengan sang tuan rumah. Lucy memejamkan matanya mencoba menikmati setiap detik yang berlalu dengan adegan ini dan sepertinya pria itu juga telah tenggelam dan menikmatinya. Baru saja akan menikmatinya, Lucy lantas menarik bibirnya menjauh secara tiba-tiba ketika Rookie meminta lebih. Membuat pria itu frustasi sedangkan Lucy mengulas senyum manisnya tanpa sedikit pun memperlihatkan keinginan lebih untuk menjamah lebih dalam lagi. Pandangannya kini meremehkan pria itu,

"Lihat siapa pria angkuh yang bicara, apa ciuman saya begitu menggairahkan sehingga membuat Anda linglung, tuan? Nama saya Rose, dan jika tidak berhati-hati duri saya akan melukai Anda. Harap Anda ingat itu."

Gadis itu kemudian pergi meninggalkan panggung itu dengan memberikan tanda tanya pada si pria. Namun sebelum benar-benar pergi, Lucy berhenti sejenak dan mengerjapkan matanya berkali-kali. Menahan air mata yang mungkin akan mengalir deras tanpa penyumpalnya. Sial ... kenapa harus sekarang?

"Ternyata seorang pahlawan yang menolongku saat itu adalah kau ... Rookie," bisik Lucy.

Lucy menyandarkan tubuh mungilnya pada dinding kamar mungilnya. Perasaannya dipenuhi oleh banyak hal, masih berkecamuk luar biasa. Dia sama sekali tidak menyangka akan ada kejadian seperti itu. Bahwa dia ... setelah lima tahun lalu, dia akan kembali bertemu lagi dengan orang itu.

Dan dari apa yang terjadi, sepertinya orang itu benar-benar sudah melupakan siapa dirinya. Orang itu tidak mengenalnya. Oh tidak! jika pun orang itu mengenal dia, mungkin Lucy sudah tidak punya muka lagi untuk bertemu dengannya. Bisa dipastikan mungkin saja pria itu tidak mau lagi bertemu dengannya atau mungkin dia akan menyesal mengenalnya. Itu pasti. Tapi sayang sekali, Lucy tidak bisa melupakan perasaan yang dia miliki. Meskipun bertahun-tahun lalu, perasaan itu masih melekat erat di dalam dirinya.

"Kau berharap apa? bisa saja dia sudah punya istri sekarang. Ah... kau benar-benar menyedihkan Luciana. "

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED