"Mas, aku hamil!" ucap Queenza pada sang suami, dengan tangan yang bergetar ia menyodorkan sebuah testpack pada suaminya.
Ervan yang tengah asik bermain game mendongakkan kepalanya. Ia menatap Queenza dan juga testpack itu secara bergantian. Ia lalu berdiri dan mendekati Queenza.
PLAAKK!
Ervan menampar keras pipi Queenza sampai Queenza terhuyung dan jatuh ke atas lantai.
Queenza terduduk di lantai sambil memegangi pipinya yang berdenyut. Ia sekuat tenaga menahan tangisnya. Hati Queenza sakit teramat sakit. Karena bukan senyuman bahagia dan pelukan hangat yang ia dapatkan dari sang suami, akan tetapi tamparan keraslah yang ia terima.
"Sial! Kenapa kamu bisa hamil? Kamu itu bodoh atau bagaimana sih! Aku kan sudah beberapa kali bilang, pakai alat kontrasepsi! Kenapa kamu gak nurut? Atau ini memang rencana kamu? Kamu pikir dengan kamu hamil, aku akan mencintai kamu? Jangan mimpi! Sampai kapanpun aku gak akan pernah mencintai kamu. Ngerti!" ucapnya dengan sinis. Ia lalu pergi begitu saja dari kamar itu.
Saat Ervan melewati Queenza yang masih terduduk, bukannya membantu Queenza untuk berdiri ia malah menendang tubuh Queenza agar tak menghalangi jalannya.
"Mas! Kamu mau ke mana? Ini sudah malam!" seru Queenza saat ia melihat suaminya yang hendak membuka pintu.
Ervan menoleh dan tersenyum menyeringai, "Bukan urusanmu aku mau pergi ke mana. Yang perlu kamu urus sekarang adalah janin yang ada di dalam perut sialanmu itu! Lebih baik kau musnahkan bayi itu! Aku gak sudi memiliki keturunan darimu!" ujarnya sarkas sambil pergi melangkah dan membanting pintu dengan keras.
Queenza menangis tersedu-sedu. Ia tidak menyangka kehidupannya akan berubah drastis seperti ini. Ia pikir ia akan hidup bahagia bersama Ervan, walaupun mereka menikah karena terpaksa dan tak saling mencintai, ia pikir mungkin dengan kehadiran bayi ini, Ervan akan berubah. Namun, nyatanya tidak. Ervan masih tak peduli padanya dan menganggap dia hanya hewan peliharaan. Bahkan hewan peliharaan saja masih lebih mulia dibanding dia.
Queenza memegangi perutnya. Ia berjanji tak akan menggugurkan bayi yang kini tengah tumbuh di dalam rahimnya. Ia akan mempertahankan bayi itu bagaimanapun caranya. Apapun yang terjadi, ia akan melindungi bayinya.
Keesokan harinya.
Queenza yang merasa tak enak badan tidak langsung bangun dan masih meringkuk dibalik selimut. Karena pusing dan mual yang ia rasakan membuat ia menjadi lemas dan tak bertenaga.
Beruntungnya Ervan semalam tak pulang jadi Queenza bisa beristirahat sejenak sebelum melakukan aktivitasnya seperti biasa. Namun, ketenangan yang Queenza baru rasakan sejenak, harus sirna kala ia mendengar suara pintu yang dibuka dengan kasar. Ia tau siapa itu, tapi ia enggan untuk bangun karena tubuhnya yang terasa lemas.
Queenza terkejut saat Ervan menarik tangannya dengan kasar dan menyeretnya ke dalam kamar mandi.
Setelah sampai di kamar mandi, Ervan mengisi bathtub dengan air dingin. Saat bathtub itu sudah terisi penuh Ervan menjambak rambut Queenza dan melelepkan kepala Queenza ke dalam bathtub itu. "Bangun sialan! Dasar pemalas."
"A-ampun Mas! Ampun!" Dengan napas yang membu-ru ia berucap saat Ervan melepaskan kepalanya dari air. Ia meraup oksigen sedalam-dalamnya.
Ervan tak berucap apa-apa lagi dan pergi keluar dari kamar mandi begitu saja.
Queenza bergegas mandi dan berganti pakaian, ia tak ingin membuat kesalahan lagi dengan membuat Ervan menunggunya untuk sarapan.
**
Di dapur.
Queenza yang tengah asyik memasak dikejutkan dengan suara seseorang dari arah belakangnya.
"Tumben kamu baru masak jam segini?" tanya orang itu sambil membuka pintu kulkas. Ia lantas membawa sebotol air mineral dari dalam kulkas itu.
"Ah ... i-iya, ta-tadi saya bangunnya kesiangan," ucap Queenza dengan terbata. Ia merasakan gugup dan juga canggung dengan kakak iparnya ini.
"Kenapa kamu selalu gugup seperti ini? Bukannya kita sudah sepakat untuk melupakan kejadian itu," bisiknya tepat di telinga Queenza.
Queenza tersentak dan jantungnya berdetak dengan cepat kala ia mengigat kembali kejadian beberapa minggu yang lalu.
Queenza yang hendak tertidur mengurung niatnya saat seseorang masuk ke dalam kamarnya. Ia pikir itu Ervan sang suami dan ia pun membiarkannya saja.
Queenza memutuskan untuk menutup kembali matanya. Tapi, ia terkejut saat sebuah tangan kekar melingkar di perutnya dan dengan nakalnya tangan itu bergeliara di dadanya.
Queenza yang tengah membelakangi orang itu pun berpikir, jika itu adalah suaminya dan membiarkannya saja. Ia dengan cepat mematikan lampu tidurnya karena tak ingin sampai sang suami mengamuk karena tak dimatikan lampunya saat mereka akan bercinta.
Ervan memang sering kali marah jika mereka akan melakukan hubungan suami istri dengan lampu yang terang. Dan selalu menginginkan kamar gelap gulita. Karena Ervan selalu berucap tak ingin melihat wajah Queenza yang menji-jikan menurut Ervan.
Tangan yang semula hanya bergeliara di dada Queenza kini turun ke bawah.
Kecupan-kecupan nakal Queenza rasakan di lehernya. Ia merasa senang dan menikmatinya.
"Mas, Kamu abis minum ya?" tanya Queenza saat orang itu sudah melepaskan pagutan bibir mereka.
"Hmm!"
Tak lama kemudian lelaki itu segera melepaskan baju Quenza dengan perlahan. Ia menciumi seluruh tubuh Queenza.
Queenza yang terlena dengan cumbuan itu hanya menggeram nikmat. Ia merasakan keanehan dengan suaminya ini. Namun, ia tak ingin memikirkannya, karena ia sudah terlena dengan cumbuan-cumbuan yang memabukan dari lelaki yang kini tengah berada di atas tubuhnya.
Saat kejantanan sang lelaki itu menghujam milik Queenza. Queenza sempat mengerang kesakitan karena merasakan sesak di bawah sana.
"Mas ... Ahh sa-kit!" ucap Queenza saat senjata lelaki itu terus menghu-jam milik Queenza.
Lelaki itu memelankan temponya dan dengan segera melumat kembali bibir Queenza yang sedari tadi tak bisa diam.
Queenza mengernyitkan keningnya. lagi-lagi ia merasa aneh dengan lelaki yang kini ada di atasnya ini. Tak biasanya suaminya ini mendengarkan rintihannya. Dan membuat ia rileks serta membuat ia menikmati permainan mereka.
Biasanya Ervan selalu mementingkan kepuasannya sendiri, tapi kali ini suaminya itu mendengarkannya.
Tapi lagi-lagi Queenza mengenyahkan pikiran itu karena saking nikmatnya permainan mereka.
Tiba puncaknya mereka berdua pun mencapai klimaks bersama.
Setelahnya lelaki itupun turun dari atas tubuh Queenza dan berbaring di sisi Queenza.
Queenza hendak menyalakan lampu tidur. Namun tangannya segera ditarik oleh lelaki itu dan membawa Queenza dalam dekapannya yang hangat.
Queenza yang baru pertama kali merasakan dekapan hangat sang suami pun urung untuk menyalakan lampu dan memilih menikmati malam yang indah ini.
Pagi harinya.
Queenza yang masih merasa nyaman dengan dekapan sang suami enggan untuk bangun. Ia pun semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang itu. Akan tetapi indra penciumannya yang tajam mengendus bau parfum yang berbeda dari tubuh yang kini tengah ia peluk itu.
"Apa Mas Ervan ganti parfum? Wangi banget deh, meskipun semalam sudah berkeringat," gumam Queenza sambil terkekeh pelan. Ia terus mendusel-duselkan hidungnya di dada bidang itu.
Lelaki yang dipeluk Queenza merasa terusik, ia pun mengerjapkan-ngerjapkan matanya. Perlahan ia melihat sekelilingnya. Keningnya mengernyit kala ia melihat ruangan yang asing baginya. Dan saat ia hendak bangun. Ia terkejut melihat seorang wanita yang tengah memeluknya dan ia pun memeluk wanita itu.
"Kamu siapa?" tanya lelaki yang tengah Queenza peluk itu.
"Queenza yang tengah menikmati aroma tubuh lelaki itu pun mendongakan kepalanya. dan Ia sangat terkejut saat melihat siapa yang tengah ia peluk saat ini.
"Queenza,"
"Mas Dimas,"
Ucap mereka berdua bersamaan. Mereka sama-sama terkejut dengan apa yang sudah terjadi.
Queenza tak pernah menyangka jika yang semalam ia kira suaminya itu, ternyata kakak iparnya.
Lamunan Queenza buyar saat ia mendengar bisikan seseorang di telinganya.
"Jangan kebanyakan ngelamun! Nanti masakannya gosong," bisik Dimas tepat di telinga Queenza. Ia pun pergi begitu saja meninggalkan dapur.
Queenza menatap punggung Dimas yang mulai menjauh. Ia pun memegangi perutnya dan bergumam, "Apa jangan-jangan ....?"
"Gak ... gak mungkin, ini sudah pasti anaknya mas Ervan! Aku yakin itu," ucap Queenza. Ia mencoba mengenyahkan pikiran yang sempat terlintas dibenaknya. Ia tak ingin menduga-duga dan akan meyakini hatinya, jika anak yang tengah ia kandung adalah anak dari suaminya.
Queenza pun kembali fokus pada masakannya. Ia tak ingin memikirkan sesuatu yang akan membuat kepalanya semakin pusing. Setelah selesai dengan masakannya. Ia pun bergegas pergi ke kamar untuk memanggil sang suami.
Namun, saat Queenza akan ke kamar. Ia tanpa sengaja berpapasan kembali dengan kakak iparnya itu di tangga. Queenza dengan cepat menundukan kepalanya. Ia tak ingin melihat sorot mata Dimas yang tajam itu.
"Udah selesai masaknya?" tanya Dimas saat Queenza akan melewatinya.
Queenza hanya menganggukan kepalanya dan segera pergi dari hadapan Dimas.
Quuenza pergi dengan jantung yang berdebar kencang. Entah apa yang tengah ia rasakan saat ini. Apa mungkin ia tengah merasakan perasaan berdosa pada sang suami sehingga jika ia berpapasan atau bertemu dengan Dimas, jantungnya akan berdetak dengan cepat.
"Ah iya, sudah pasti ini itu perasaanku yang merasa sangat bersalah pada mas Ervan," gumam Queenza sambil terus berjalan ke arah kamar.
Tiba di kamar.
"Mas! Makanannya udah siap!" ucap Queenza pada suaminya.
Ervan mendongakkan kepalanya, ia segera berdiri lalu pergi dan meninggalkan Queenza begitu saja.
Queenza menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia sebenarnya sudah tak kuat dan tak tahan lagi dengan pernikahan ini. Namun, ia harus bertahan karena ia sudah berjanji pada sahabatnya dan ia pun tak ingin terjadi apa-apa pada ibu dan adiknya.
Queenza dengan cepat menyusul suaminya. Ia tak mau jika Ervan marah lagi padanya.
Tiba di ruang makan, Queenza menghentikan langkah kakinya saat melihat Dimas yang tengah duduk di meja makan.
Queenza pun memberanikan diri dan mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Ia tak ingin membuat Ervan curiga padanya, dan saat Queenza hendak duduk di kursi sebelah Ervan. Ervan sudah lebih dulu berucap yang membuat Queenza urung untuk duduk.
"Kamu mau ngapain? Jangan duduk, berdiri di belakang!" titah Ervan.
Queenza pun menurut dan segera berdiri di belakang Ervan.
Dimas yang melihat perlakuan Ervan pada Queenza mengangkat sebelah alisnya.
'Perasaan pas waktu ibu sama ayah ada, Ervan gak sekasar ini sama istrinya! Apa memang hubungan mereka itu tak baik sejak awal?' batin Dimas sambil terus menatap Queenza. Matanya menyipit saat ia tanpa sengaja melihat pipi Queenza yang sedikit bengkak. 'Itu pipinya kenapa bengkak gitu?' Sambungnya masih dalam hati.
"Kenapa lo lihat bini gue segitunya? Lo naksir bini gue?" sentak Ervan pada Dimas.
Dimas segera mengalihkan pandangannya ke arah lain saat mendengar ucapan Ervan.
"Enggak," jawabnya singkat.
"Awas aja kalau berani macam-macam sama bini gue. Habis lo," ucap Ervan dengan nada yang mengancam.
GLEKK!
Queenza menelan salivanya dengan kasar saat mendengar ancaman sang suami. Entah apa yang akan suaminya perbuat pada dirinya, saat tau jika ia dan kakak iparnya itu sudah pernah menghabiskan malam yang panas.
Queenza dengan cepat menuangkan nasi dan lauk pauk ke piring Ervan.
Dimas terus memperhatikan gerak-gerik Queenza. Keningnya mengkerut saat ia melihat pergelangan tangan Queenza yang lebam. Ia menatap intens pergelangan tangan Queenza.
"Ekhemm!" Queenza berdehem saat menyadari tatapan Dimas yang terus menatap pergelangan tangannya. Ia pun dengan segera menyembunyikan luka lebam itu, dengan cepat ia mundur kembali ke belakang Ervan.
Dimas yang penasaran ingin bertanya. Tapi urung, saat melihat tatapan tajam Ervan padanya. Ia pun dengan segera menyantap makanan yang sudah dimasak Queenza. Sudut bibirnya terangkat saat ia merasakan masakan adik iparnya itu. Ini kali pertamanya makan masakan Queenza, karena selama ini ia tak pernah sarapan di rumah semenjak ayah dan ibunya pergi keluar kota.
Setelah selesai Dimas dengan cepat berdiri dan pergi begitu saja dari sana tanpa berucap apapun.
Queenza yang melihat sikap dingin kakak iparnya itu hanya menggelengkan kepalanya. Ia pun menatap sang suami yang kini tengah asyik makan.
"Duduk," seru Ervan tiba-tiba pada Queenza.
Queenza tersentak saat mendengar seruan sang suami, dengan cepat ia duduk di sebelah Ervan.
"Makan," titah Ervan sambil menyodorkan makanan sisa yang tak habis dimakan olehnya.
Queenza mengernyitkan keningnya ia tak paham dengan ucapan Ervan. Ia lalu menoleh dan menatap suaminya itu dengan tatapan penuh tanya. Apa ia tak salah dengar? Suaminya
menyuruh ia memakan makanan sisa?
"Kamu menyuruh aku makan ini Mas?" Akhirnya pertanyaan itu terlontar juga di bibir Queenza. Ia menunjuk makanan yang ada di depannya.
"Iya. Kenapa? Kamu gak mau? Ya kalau kamu gak mau, berarti hari ini kamu gak bisa makan! Aku sih gak akan memaksa kamu. Pilihan ada di tangan kamu! Kalau kamu gak mau kelaparan, ya makan itu. Tapi kalau kamu gak mau makan itu. Ya siap-siap kamu kelaparan seharian!" jawab Ervan sambil pergi berlalu dari meja makan itu.
Queenza menatap horor makanan yang ada di hadapannya. Ia menelan salivanya kasar. Ia mamandangi makanan yang entahlah harus dibilang apa. Ini terlihat seperti makanan untuk kucing dibanding makanan untuk manusia. Ia menggeserkan makanan bekas Ervan itu dan hendak mengambil makanan baru. Namun, baru juga ia membuka tutup saji, sebuah tangan mencekalnya. Queenza yang terkejut terperanjat dan tak sengaja menjatuhkan tutup saji itu. Ia lalu menoleh dan ia membelalak matanya kala ia melihat suaminya yang kini manatapnya dengan tajam.
"M-Mas?" ucap Queenza gugup.
"Kamu mau ngapain? Mau makan ini?" Tunjuk Ervan ke arah makanan yang ada di meja itu.
Queenza dengan polosnya menganggukan kepalanya.
Ervan tersenyum sinis lalu tangannya terulur ke arah rambut Queenza dan menjambaknya.
"Siapa yang suruh kamu makan makanan yang baru, Hah? Aku tadi kan suruh kamu makan ini!" ucap Ervan sambil membawa makanan sisanya tadi. Dengan kasar Ervan menyuapkan makanan itu pada Queenza.
Queenza tak berani memberontak dan memilih untuk memakan makanan yang rasanya entah lah. Susah untuk dijabarkan. Dengan air mata yang mengalir di pipinya. Ia mencoba menelan makanan itu.
"Nah gitu dong! Ayo makan lagi!" ucap Ervan sambil terus menyuapi Queenza.
Queenza yang sudah tak kuat lagi untuk makan makanan itu ingin memuntahkan makanannya . Namun dengan cepat Ervan memberi ancaman untuk Queenza.
"Kalau kamu berani memuntahkan makanan itu! Siap-siap kamu mendengar kabar kematian ibu kamu!" ujarnya dengan seringai di bibirnya.
Mau tak mau Queenza mengunyah kembali makanan itu dan menelannya dengan paksa.
Setelah makanan itu habis tak tersisa. Ervan pergi begitu saja dari hadapan Queenza.
Queenza menatap nanar pungung Ervan yang kini sudah menjauh dari hadapannya. Ia tidak menyangka jika pernikahannya ini akan membawanya pada penderitaan. Andai dia tau jika akan bernasib seperti ini. Ia lebih memilih mati daripada hidup tapi mati seperti ini.
Saat Queenza mengalihkan pandangannya. Tatapan matanya tanpa sengaja melihat ponsel yang tergeletak di meja makan. Ia pun dengan cepat membawa ponsel itu.
"Punya siapa?" gumamnya sambil membolak balikan ponsel itu. Ia pun mencoba menyalakan ponsel itu dan terkejut saat melihat foto wallpaper di ponsel itu.
"Eh ... ini punya mas Dimas?" Queenza lantas berdiri dan berniat ingin menyimpan ponsel itu di kamar Dimas. Namun, saat Queenza berbalik ia terkejut melihat Dimas yang berada di hadapannya kini.
"Ma-Mas Dimas?" seru Queenza dengan gugup. Ia terkejut melihat Dimas yang ada di sana.
"Kamu mau bawa ponselku ke mana?" tanya Dimas dengan alis yang terangkat.
"Ah ... i-ini tadinya mau saya simpan. Tapi berhubung Mas Dimas ada di sini, saya kembalikan sama Mas Dimas." Queenza menyerahkan ponsel itu pada Dimas.
"Thanks," ucapnya sambil membawa ponselnya. Ia lalu mendekat ke arah Queenza dan berbisik. "Makasih atas makanannya hari ini, enak banget. Aku tidak meragukan kemampuanmu, karena apapun tentang kamu, pasti enak dan legit."
Deg!
Queenza terdiam membeku kala mendengar ucapan Dimas yang ambigu.
Dimas lalu menjauhan wajahnya dari wajah Queenza dan tersenyum tipis saat melihat Queenza yang kini hanya diam menatapnya.
"Pake ini, jangan biarkan luka di tangan dan pipimu itu merusak tubuh cantikmu." Dimas lalu membawa tangan Queenza dan menyimpan sesuatu di telapak tangannya. Dan setelahnya ia pergi begitu saja dari hadapan Queenza.
Queenza yang masih terkejut hanya diam saja. Ia lalu menatap salep yang kini ada di tangannya. Tanpa Queenza sadari sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. Walaupun tipis dan nyaris tak terlihat.
"Queen," teriakan Ervan membuyarkan lamunan Queenza.
Queenza pun dengan cepat menghampiri Ervan yang sedari tadi terus memanggilnya.
"Ada apa Mas?" tanya Queenza saat ia sudah tiba di kamar.
"Kamu dari mana aja?" tanya Ervan dengan nada yang dingin.
"Abis beresin dapur Mas," ucap Queenza bohong. Ia tak mungkin memberitahukan jika ia baru saja berbicang dengan kakak iparnya.
"Pijitin aku, badanku pegal semua" titah Ervan.
Queenza pun dengan cepat menuruti kemauan sang suami dan ia dengan segera memijit tubuh Ervan. Matanya tanpa sengaja melihat beberapa bercak merah di leher sang suami.
"Mas, kamu semalam dari mana?" tanya Queenza mencoba memancing Ervan.
Namun, bukan Ervan namanya jika ia akan menjawab pertanyaan Queenza.
"Mas kamu habis main sama perempuan ya? Ini kenapa ada banyak bercak merak di leher kamu?" ujar Queenza yang sudah tak bisa memendam rasa penasarannya lagi.
"Brisik!" Ervan lalu membalikan badannya. Yang semula tengkurap kini terlentang dan memandang Queenza dengan tajam.
Queenza yang menyadari kesalahannya pun terdiam dengan tubuh yang bergetar.
"Aku itu pulang buat istirahat, bukan mau dengar ocehanmu itu, dan satu lagi, jangan pernah kamu ingin tau urusanku. Karena kamu itu hanya istri di atas kertas. Jangan pernah berpikir kamu bisa jadi istriku yang sesungguhnya." Ervan lalu bangkit dari baringnya dan kemudian dia duduk di sofa yang ada di sana.
Queenza menghela napas panjang.
"Ambilin aku roti tawar di bawah," ucap Ervan sambil mengeluarkan sebatang rokok dan korek api. Ia lalu menyalakan rokok itu.
"Mas, apa bisa kamu jangan merokok di dalam kamar? Aku lagi hamil Mas," ucap Queenza yang masih duduk di atas kasur.
Ervan menatap nyalang Queenza.
Queenza yang tau arti dari tatapan Ervan pun dengan segera turun dari atas ranjang dan bergegas ke dapur untuk mengambil roti tawar yang diminta sang suami. Tak lupa juga ia menyeduhkan kopi kesukaan suaminya.
Setelah selesai ia segera membawa kopi dan roti itu ke kamar. Dan langsung menyajikan pada sang suami.
Queenza tak berani beranjak dari tempatnya karena tak ada perintah dari sang suami. Ia lalu menatap Ervan yang kini tengah menikmati roti tawar itu dengan nikmat. Queenza beberapa kali menelan ludah.
Ervan menoleh sekilas ke arah Queenza dan tersenyum menyeringai.
"Kamu mau?" tawar Ervan sambil menyodorkan selembar roti tawar pada Queenza.
Queenza dengan semangat menganggukan kepalanya.
Namun Ervan dengan sengaja menjatuhkan roti yang ia pegang saat Queenza hendak mengambil roti itu dari tangan Ervan.
"Upss! Kamu sih kelamaan ambilnya, tanganku kan jadi pegal," ucap Ervan.
Queenza tak berkata apa-apa, ia segera berjongkok dan akan mengambil roti itu. Namun lagi-lagi dengan tega, Ervan menginjak roti itu.
"Yah ... keinjak ya? Mana gak ada lagi rotinya, tinggal sisa itu aja. Kalau kamu masih mau, makan aja yang itu," ujar Ervan dengan seringai di wajahnya.
Dengan tangan yang bergetar Queenza membawa roti itu dan dengan ragu-ragu ia mendekatkan roti itu pada mulutnya.
"Aish kelamaan." Ervan dengan cepat merebut roti di tangan Queenza dan menyuapi Queenza roti kotor itu dengan kasar.
"Makan. Tadi katanya mau roti itu," ucap Ervan tak berperasaan.
Queenza mengunyah roti itu dengan air mata mengalir di pipinya. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Ingin rasanya ia menghajar lelaki di hadapannya ini. Namun, ia sadar jika ia melawan. Nyawa ibu dan adiknya akan terancam. Ia pun menatap Ervan dengan tajam.
Ervan yang melihat tatapan Queenza pun dengan cepat mencengkram wajahnya.
"Kenapa? Kamu mau marah? Marah aja. Silakan! Tapi kamu harus ingat! Kamu hidup itu berkat siapa! Dan kamu harus ingat. Jika kamu berani macam-macam sama aku! Aku gak akan segan-segan menghabisi nyawa ibu dan adikmu!" ucap Ervan dengan tersenyum sinis.
Queenza hanya diam menatap Ervan dengan sorot mata yang penuh amarah. Ingin rasanya ia mencekik lelaki yang kini ada di hadapannya ini.
Ervan kembali duduk di kursinya dan menatap tajam pada Queenza yang kini menatapnya.
"Apa? Pergi sana!" usir Ervan pada Queenza.
Queenza pun dengan segera bangkit dari duduknya dan pergi keluar dari kamarnya itu untuk mengerjakan pekerjaan rumah.
Sore harinya.
Queenza kini tengah berdiri di pinggir jalan untuk menunggu kendaraan umum. Ini adalah kesempatan emas untuknya keluar. Karena sang suami tidak ada di rumah dan sudah pasti akan pulang larut malam. Ia akan memakai waktu ini untuk pergi ke klinik. Ia akan memeriksakan kehamilannya.
Saat Queenza tengah asyik mengelus-elus perutnya, ia dikejutkan dengan seorang pengendara motor yang menghentikan motornya tepat di depannya.
Dengan cepat Queenza bergeser. Namun pengendara itu malah ikut bergeser. Queenza yang takut dan heran mencoba memberanikan diri untuk berbicara pada pengendara motor itu, "Maaf Masnya menghalangi saya."
Pengendara motor itu tak menjawab dan sedetik kemudian ia membuka helm full facenya. Ia lalu membenarkan rambutnya yang berantakan dan menatap Queenza dengan sorot matanya yang tajam.
Queenza tertegun kala melihat siapa yang kini ada di hadapannya. Ia terdiam menatap orang yang kini tengah menatapnya itu.
"Kamu mau ke mana?" tanya orang itu dengan nada yang dingin dan wajahnya yang datar.
Queenza tak menjawab karena masih terkejut dengan kehadiran orang yang kini ada di depannya.
"Heii," tegur orang itu sambil menjentikan jari di depan wajah Queenza.
Seketikan lamunan Queenza buyar dan dia menjadi gugup saat tatapan matanya dan orang itu bertemu.
"Ah ... Ma-maaf! Kenapa Mas?" tanya Queenza sambil menetralkan degub jantungnya yang entah kenapa berdetak lebih cepat saat ia melihat dan bersama orang tersebut.
"Kamu mau ke mana?" tanya orang itu lagi.
"Oh ... itu, saya mau ke klinik Mas!" jawab Queenza jujur.
"Klinik? Kamu sakit?"
Queenza menggelengkan kepalanya.
"Terus kamu mau ngapain ke klinik?" tanyanya lagi dengan alis yang terangkat sebelah.
"Mau check up aja Mas, Mas Dimas sendiri ngapain berhenti di sini?" tanya Queenza pada Dimas. Ya, orang itu adalah Dimas. Kakak iparnya Queenza.
"Aku tadi gak sengaja lihat kamu yang lagi bengong sendiri di sini, ya udah aku samperin aja. Siapa tau aja kan kamu butuh teman buat ngobrol," ucap Dimas.
"Gak usah Mas. Saya gak butuh teman ngobrol. Lebih baik sekarang Mas pulang aja. Saya gak butuh di temani," jawab Queenza.
Dimas turun dari atas motornya dan menghampiri Queenza dengan cepat ia memegang tangan Queenza dan menariknya sambil berucap, "Ya udah aku anterin kamu!"
"Gak usah Mas," sahut Queenza sambil mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Dimas.
"Diam." Dimas membawa Queenza ke dekat motornya, lalu ia memakaikan helm pada Queenza.
Blush.
Queenza merasakan pipinya panas dan jantungnya jedag jedug kala Dimas mamakaikannya helm. Ia menatap wajah yang kini hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya itu dengan intens. Tangannya lalu terulur memegangi dadanya yang berdegup dengan kencang, 'Kenapa dengan jantungku? Apa penyakit jantungku kumat?' batinnya.