⛄bab2
Kami duduk di ruang keluarga, udaranya sangat dingin. Aku memegang tangan ibu Syden...
"Tangan ibuku dingin sekali, pakailah sarung tangan agar tetap hangat...".
Saat aku meletakkan sarung tangan di tangan ibu , aku melihat kaki ibu.
"kenakan kaus kaki yang tebal ya, Bu."
Ibu mengangguk dan Syden segera bangkit dan mengambil beberapa kaus kaki dari laci.
"Biarkan aku mengganti kaus kaki ibuku, Adiba.”
Syden jongkok di depan ibunya yang duduk di kursi roda dan mengganti kaus kakinya. Aku memegang bahu beliau..
"Bu... Ayo makan sup makaroni hangat ,Adiba ambilkan ".
Syden menatapku..
"Adiba, ibu sudah minum vitamin, ibu tidak mau makan sup makaroni hangat."
Akumendekatkan wajahku ke Syden...
"Ibu masih perlu makan sup makaroni panas untuk mengenyangkan perutnya, Syden."
"Sup sedikit saja...agar ibu tidak muntah , Adiba."
"Syden, kita sudah menikah tapi kenapa Syden masih suka protes ?".
Pria tampan Rusia itu tertawa..
“Kaulah yang membuatku semakin ingin protes, Adiba".
Aku tersenyum sambil memegang kedua pipi Syden. Aku pergi ke dapur dan mendengar suara Abu..
"Alhamdulillah... anakku Syden dan Adiba, putriku sangat menyayangi ibunya Syden."
Jawab Syden..
“Iya Abu.. Kami sama-sama menyayangi ibu kami, namun sejak kami menikah Adiba selalu merampas semua rasa sayang ibu saya, sehingga ibu lebih menyayangi Adiba dibandingkan ibunya menyayangiku.”
teriakku dari dapur.
" Sydeen.. Adiba di dapur ini mendengar semua bicaramu . Laki Rusia itu berani mengadu pada abu ayahnya Adiba".
Semua orang tertawa dan Syden masuk ke dapur dan memelukku dari belakang.
"Semakin Adiba istriku ini protes, semakin cantik istriku Adiba ini.”
Aku menoleh ke Syden.
"Apa?. Protes?. Adiba protes ?"
"Jangan lihat aku seperti bayi kelinci dengan matamu berkedip-kedip."
Aku menyalakan kompor...
"Jika Adiba adalah bayi kelinci, Syden adalah bayi dinosaurus."
Aku tertawa melihat raut wajah Syden ..langsung berteriak...
"Bu... Adiba bilang aku ini bayi dinosaurus."
Aku langsung berhenti tertawa, mencubit perutnya dan balas berteriak.
"Bu... Syden bilang Adiba ini bayi kelinci."
Seketika ibunya berteriak.
"Ayo... kemarilah bayi kelinci dan bayi dinosaurus."
Syden dan aku tertawa di dapur. Syden membantu membawa semangkuk sup makaroni panas di atas nampan. Aku membawa cangkir, mangkuk, sendok, teh panas di atas nampan. Aku menyuapi ibu mertuaku dengan sup makaroni hangat. Ummu menatapku...
"Adiba anakku, jika kamu tulus dan sabar dalam merawat ibu mertuamu, Allah akan selalu memberkati rumahmu, anakku."
Eama Hanifah menjawab...
"Kita rajin sholat, puasa, dzikir dan sholat, kalau kita menjaga orang tua dengan baik maka ALLAH akan menaikkan taraf hidup kita, Adiba lebih tahu."
Eamm Hassan tersenyum sambil meletakkan semangkuk sup di atas meja sambil berkata...
"SubhanaAllah ibu Syden merawatnya, membesarkan Syden dengan ikhlas sebagai janda islam, kini Allah anugerahkan Adiba yang sangat menyayangi ibunya. Alhamdulillah ... "
Ibu mertuaku mencium keningku...
"Tiap malam... Aku shalat tahajjud agar Syden mempunyai istri yang suci. Alhamdulillah... kini aku mempunyai menantu
menghormati Tuhan dan mencintaiku. Demi Allah, aku menyayangi Adiba."
Aku tersenyum dan menatap Syden...
"Alhamdulillah... Hore, ibu sayang Adiba lho."
Syden menatapku..
"Ibu juga menyayangiku, Adiba."
"Sedikit...".
Syden memandang ibunya.
“Bu, Adiba mengolok-olokku.”
Ibunya langsung memeluk aku dan Syden...
"Ibu sayang kalian berdua, sudahlah jangan ribut"
. Anak Aisyah terbangun sambil menangis. Aisyah dan Alif bergantian menimangnya namun suara tangis bayi mereka semakin keras. Syden mengambil bayi Aisyah dari Alif, tiba-tiba bayi Aisyah berhenti menangis, tertawa dan memegang pipi Syden.
"Matanya berbinar-binar, sama seperti matamu, Adiba. Indah… indah."
Ibu Syden langsung mengulurkan tangannya,
"Bawa ke sini, Syden.Ibu ingin memeluknya".
Syden menaruh bayinya Aisyah di pangkuan ibunya.
"Namanya Soleha bu. Kalau ketawa makin lucu dan cantik, bu."
Ibu Alif bercerita kepada ibu Syden...
"Soleha, cucu bungsuku, pemalu, dia tidak mau dekat dengan siapa pun kecuali Alif dan Aisyah. Sekarang dia pergi bersama Syden dan ibunya."
Aku melihat Alif dan Aisyah ..
"Sebaiknya kalian dan tiga putri kalian tinggal di Russia saja."
Syden langsung menimpali ..
"Alif , bekerjalah di perusahaanku dan aku mau ada pengajian tiap Minggu untuk para karyawan karyawati di rumah kami ini ".
Aku berdiri memeluk bahu Aisyah adikku...
"Terserah kalian, boleh tinggal di rumah ini atau mau tinggal di rumahku yang kosong."
Aisyah dan Alif saling berpandangan. Aku melihat abu dan ummu..
"Alif itu kan bisa berdakwah, perusahaan Syden membutuhkan seorang pendakwah ".
Aku melanjutkan bicaraku..
"Syden, Alif itu sarjana ekonomi. Dulu dia mengundurkan diri dari perusahaan karena menolak di ajak korupsi ".
Alif memandangku. Syden tersenyum ...
" Ok, nanti aku mengurus semua surat kepindahan kalian ke Rusia ini".
Aku tidak memberi kesempatan bicara pada Alif dan Aisyah...
"Di sini ada sekolah Islam.. nanti anak-anak kalian mendapat fasilitas tunjangan pendidikan dan kesehatan lho".
Aku melirik Aisyah...
"Aisyah bisa buka jualan makanan Pakistan di sini , mengajari anak-anak mengaji tiap sore."
Semua dia melihat Aisyah dan Alif yang kebingungan. Aku tetap gak memberikan kesempatan bicara pada mereka berdua..
"Alif dan Aisyah nanti bisa kirim uang bulanan ke abu ummu dan orang tuanya Alif di Pakistan".
Syden tersenyum manis sambil menoleh ke arah ibunya yang duduk di kursi roda...
"Bagaimana menurut ibu ?".
Ibunya gerak cepat menjawab...
"Syden, besok pegawai di perusahaanmu bisa cepat urus kepindahan mereka di khimki, Russia ".
Aku berdiri..
"kalau Alif dan Aisyah menolak tinggal dan bekerja di Russia ini, biar saja mereka pulang ke Pakistan tapi tiga putri kalian... tetap di Russia ".
Serempak Aisyah dan Alif menjawab..
"jangaannn... ukthy Adiba ".
Semua tertawa, Syden langsung mengambil HP telpon ke pengacara kantornya.
"Tolong besok urus surat Alif adik iparku dari Pakistan untuk menetap dan bekerja di khimki".
Syden menutup telponnya.
"Ok, Alif... mulai Senin depan kamu harus ikut denganku ke kantorku. Adiba, tolong besok kamu dan Aisyah urus di mana mereka mau tinggal. ".
Aku menatap Alif dan Aisyah..
"Kalian mau tinggal di mana ?".
Ayahnya Alif menjawab.
"lebih baik mereka tinggal di rumah Adiba yang dulu saja".
Aku tersenyum...
"Besok kita belanja yaa.. Aisyah.".
Aisyah adikku dengan polosnya menjawab..
"Aisyah bingung.. dari tadi Afwan Syden dan ukthy Adiba bicara tanpa memberi kesempatan bicara pada Alif dan Aisyah ".
Aku dan Syden tertawa. Aku melihat si kembar Mohammed dan Mohammad.
"Kalian bisa kuliah di khimki ".
Syden melihat si kembar...
"iya, di sini juga ada perkumpulan remaja islam ".
Eama Hanifah langsung berdiri, menjewer telingaku dan telinga Syden...
"kalian berdua sudah angkut Alif, Aisyah dan tiga anak mereka.. sekarang kalian berdua mau angkut juga si kembar anakku. bandel kalian berdua".
Syden dan aku tertawa keras.
⛄bab.3
Si kembar dengan santun menjawab..
" kami nanti kuliah di Pakistan di bayari ukthy Adiba. kami sudah banyak terima kasih ".
Syden menoleh ke arahku..
" kamu biayai kuliah si kembar, Adiba sayangku ?".
Aku mengangguk. Kami semua terkejut ... syden menghampiri si kembar.
"Lancang sekali Adiba istriku membiayai kuliah kalian berdua. Aku melarang Adiba istriku membiayai kuliah kalian berdua tapi aku yang harus membiayai hidup dan kuliah kalian berdua. Kalian harus kuliah di universitas terbaik nomer satu di Pakistan".
Syden memeluk si kembar yang berdiri di sampingnya..
"kalian berdua harus menjadi orang -orang sukses".
"terima kasih, Afwan Syden ".
"ya, sama-sama".
Aku akui Syden suamiku ini bukan laki pelit.. jiwa sosialnya tinggi meskipun Syden gak gampang percaya orang lain. Ummu membuyarkan lamunanku..
"Adiba anakku, ini sudah malam..kasihan ibu mertuamu sudah mengantuk. Ayo kita antar beliau ke kamar tidurnya ".
"iya ummu ".
Ummu mendorong kursi roda ibunya Syden ke kamar, aku berlari membuka pintu kamar. Ummu menoleh pada Syden...
"nak Syden, ibumu mau tidur.Ajaklah beliau wudhu sebelum tidur dan Al Fatihah, nak ".
Bergegas Syden ikut masuk kamar tidur ibunya sambil menjawab..
"iya, Ummu".
Ummu tersenyum memandang aku dan Syden.
"kalian berdua sudah resmi menjadi suami istri. jangan lupa... harus sholat tahajud berdua. Adiba anakku , jangan lupa... harus cium tangan suamimu tiap selesai sholat ya, nak. "
Aku dan Syden bersamaan menjawab..
"iya, Ummu".
Syden mengangkat ibunya dari kursi roda dan menaruh di tempat tidur. Aku masuk ke kamar tidurku melalui pintu penghubung. Setelah membersihkan badanku, aku hendak tidur. Kudengar suara langkah Syden masuk kamar mandi , keluar dari kamar mandi langsung merebahkan tubuhnya di sebelahku..
"jangan bandel.. pura-pura tidur, Adiba. Aku tahu kamu ketawa di dalam selimut".
Kukeluarkan kepalaku dari bawah selimut...
"Masya ALLOH.. pintarnya Syden suamiku bisa tahu Adiba ketawa di bawah selimut yaa.. ".
Syden memeluk pinggangku, berbisik.
"Aku sudah hafal kebiasaanmu..dasar bandel".
Cepat sekali tangan Syden membuka baju tidurku. Syden mendesis di telingaku .
"Sstt... Adiba berhentilah tertawa, kamu mau ibu terbangun ?".
"Adiba gak kuat geli kalau di ciumin Syden ".
Syden ikut tertawa pelan.
"kalo gitu aku nyalakan lampu kamar yaa. . Adiba sayang ".
"jangaannn...Adiba malu, syden ".
Syden tersenyum.. menindih tubuhku.
"Sstt.. Adiba, kita bikin bayi yaa..
----
Suara teriakan anak-anak Aisyah terdengar sampai kamar mandi. Aku yang sedang memandikan ibunya Syden sampai gak bisa menahan ketawaku.
" ibu .. ibu dengar suara teriakan anak-anak Aisyah... abu dan ummu sampai pernah berkata pada anak-anaknya Aisyah ... kalian jago berteriak seperti halilintar tapi kalau mengaji.. suara semut kalah".
Ibu dan aku tertawa terbahak -bahak di kamar mandi. Ibu melihatku..
"Terus ? apa Aisyah di tegur juga ?".
Sambil mengguyur badan ibu, aku menjawab.
"Berkali-kali Aisyah di tegur abu dan ummu untuk mengajari anak-anaknya untuk gak teriak-teriak , hasilnya Alhamdulillah..".
"Alhamdulillah... Aisyah mengajari anak-anaknya untuk tidak teriak-teriak ya, Adiba ?".
" Alhamdulillah... semua nasehat masuk dari telinga kanan , keluar ke telinga kiri, bu. Mana buktinya Aisyah mengajari anak-anaknya diam, itu teriakannya terdengar sampai sini, Bu".
Aku dan ibu tertawa terbahak, syden ikut tertawa . aku dan ibu menoleh .. ternyata Syden berdiri bersandar di pintu kamar mandi .
"Masya ALLOH... suaminya Adiba yang tampan itu berdiri bersandar di pintu kamar mandi. Dia siap menggendong ibu ke kamar ".
Wajah Syden berseri-seri..
"Bu, Adiba sudah berani merayuku di depan ibu.".
Ibu tertawa , aku mengeringkan badan ibu dengan handuk dan menutup dengan handuk.
" Syden, ibu sudah selesai mandi, tolong pindahkan ibu ke kamar.".
Syden masuk kamar mandi, mengangkat ibunya dari kursi kamar mandi dan membawa ke dalam kamar. Aku meletakkan handuk kering lagi di permukaan tempat tidur.
"Syden, tolong dudukkan ibu agak ke tepi tempat tidur ".
"ya, Adiba ".
Aku mengolesi badan ibu dengan Lotion, menaburi dengan bedak bayi. Terdengar pintu kamar di ketuk..
"Adibaa.. ini eama Hanifah mau masuk kamar ".
"iya silahkan masuk.. pintu gak di kunci".
Syden membuka pintu kamar, eama hanifah masuk sambil membawa bungkusan dan secangkir kopi hitam kurma.
" ini kopi hitam kurma untukmu dan bingkisan baju untuk ibumu, nak Syden.".
Syden memeluk bahu eama Hanifah...
" Alhamdulillah, terima kasih, eama Hanifah ".
Aku mengedipkan mata pada ibu mertuaku.
"ibu, eama Hanifah itu bibinya Adiba yang merawat Adiba dari kecil tapi sekarang eama Hanifah sayang syden, gak sayang Adiba lagi'.
Eama Hanifah mendekatiku..
"lihat .. ini ada coklat kurma keju untukmu dan ibu mertuamu, Adiba ".
Syden mendekatiku..
"Adiba, aku minta coklat kurma keju".
Aku memberinya sebutir..
" cukup sebutir biar syden gak sakit gigi".
Syden mencubit pipiku. Ibu membuka bungkusan dari eama Hanifah..
" Ibu mau pakai baju baru dari eama Hanifah, Adiba".
"iya, bu".
Aku memakaikan baju baru pada ibu.
"Masya ALLOH... ibu jadi perempuan Pakistan.. cantiknya. ayooooo syden.. cepat angkat ibu ke depan cermin itu".
Syden langsung mengangkat ibunya ke depan cermin. Ibunya langsung tersenyum lebar. Eama Hanifah mengikat selendang yang terjuntai ke lantai..
" ini baju khas Lahore. sederhana tapi nyaman di badan..warna pastel membuat ibunya Syden makin cantik saja. . Masya ALLOH. Ayooo kita keluar kamar, biar semua melihat betapa cantiknya ibunya Syden.".
Aku dan ibu tertawa terbahak -bahak melihat eama Hanifah menarik lengan syden.
"Ayooooo syden , agak cepat sedikit ".
Aku membuka pintu kamar sambil berkata...
"Eama Hanifah, bisa terpelanting syden kena tarikan eama Hanifah ".
Eama Hanifah melihatku...
"Adiba cantik, jangan kau lupakan kalau eama Hanifah ini pernah menang lomba tarik tambang dan kuat mendorong mobil mogok".
Aku, Syden dan ibunya tertawa keras terbahak-bahak. Eama Hanifah berteriak..
" Hai lihatlah Syden suaminya Adiba menggendong perempuan Pakistan cantik di hadapanku dan Adiba".
langsung semua diam , menoleh ke belakang... terkejut melihat syden berjalan menggendong ibunya yang memakai baju khas Lahore. Semua terbelalak.Aisyah adikku berteriak..
" Masya ALLOH... luar biasa cantik sekali ibunya Afwan Syden... benar-benar seperti perempuan Pakistan ".
Morgan dan Rowena datang, masuk rumah sambil berteriak...
"Assalam mualaykum, kami datang...".
Morgan melihat syden menggendong ibunya, langsung Morgan berkata...
" Aisyah... ini sarapan buat kita semua. Aku mau menggendong perempuan Pakistan cantik ini".
Aisyah menerima bungkusan makanan dari Morgan , menyajikan di atas meja. Morgan mulai kumat usil, menggendong ibunya Syden dan berteriak lagi ..
" rowenaaaaa... pagi ini aku menggendong perempuan Pakistan cantik.. lihatlah".
Rowena berlari kecil , langsung berhenti .. memandang ibunya Syden..
"yaa ALLOH... cantiknya".