Bab 2

Kecelakaan itu telah mengubah segalanya. Melenyapkan senyum di bibirnya. Bahkan perlahan merenggut tatapan hangat nan menenangkan, serta membuat emosi mas Danang menjadi sangat tidak stabil.

Satu tahun yang lalu…

"Cita, udah siap belum?!" Teriakan mas Danang membuatku terburu meraih tas dan cepat menggendong Tia. Lalu keluar kamar dengan wajah berseri.

"Udah mas. Ayo," Sahutku.

Hari ini hatiku senang sekali, setelah sekian lama tidak menjenguk orang tuaku, hari ini kerinduanku pada mereka akan terbayar tunai.

Aku memang ikut mas Danang tinggal di kampung mertua, mengingat kebun cengkeh milik bapak mertua lebih dekat jaraknya dari sini.

"Oleh-oleh buat emak sama bapak udah dimasukin semua?" Tanya mas Danang sesaat sebelum mobil yang kami tumpangi melaju.

"Sudah mas. Yang di dus itu semuanya oleh-oleh." Jawabku. Sambil menunjuk dus cukup besar di jok belakang.

Mas Danang memang suami yang baik. Tidak pelit dan meskipun jarang menemui emak dan bapak, namun setiap bulan ia selalu menyisihkan sejumlah uang dan menyuruhku mengirimkannya pada mereka.

Mobil baru saja dihidupkan, ketika kulihat ibu mertuaku tergopoh berlari menemui kami.

"Ealah kalian mau kemana, Nang?" Tanyanya dengan napas ngos-ngosan.

"Mau ke rumah emak bapak Cita. Kemarin kan kita udah ngomong sama ibu." Jawab mas Danang.

"Harus sekarang emang? Kenapa nggak lebaran aja nanti. Toh tinggal beberapa bulan lagi. Jangan keseringan nengokin orang tua, nanti istrimu nggak betah dirumah! Lagi pula, besok lusa panen. Siapa yang mengontrol kebun?" Sahutnya seraya melirik padaku.

Kupaksakan tersenyum menjawab ucapan ibu mertuaku.

"Mas Danang langsung pulang lagi kok Bu. Lagian Cita kan udah lama nggak pulang. Pengen nengokin emak sama bapak." Jawabku pelan.

Ibu mertuaku tak menjawab, matanya melirik ke jok belakang. Membuatku salah tingkah. Aku tahu, ibu sedang mencari tahu apa saja yang kami bawa.

"Kok bawaannya banyak banget? Mau lama kamu disana?" Selidiknya. Sesekali tersenyum pada Tia, dan memainkan jari tangannya yang mungil.

"Ng… itu cuma sedikit oleh-oleh, Bu." Sahutku pelan. Mas Danang meremas jariku. Aku paham. Ya, aku selalu mencoba sabar menghadapi sikap ibu mertuaku.

"Itu mah banyak, Cita! Ya udah, hati-hati Nang. Oh ya, mobil mau dipake Sumi nanti malam. Jadi jangan sampai kamu menginap disana." Ingatnya.

Kuhelas napas perlahan, sementara mas Danang hanya mengangguk.

Kami memang belum memiliki mobil. Meskipun orang tuanya terbilang kaya raya dan dikenal dermawan pada orang lain, namun kenyataannya mereka tidak seperti itu. Mas Danang yang anak kandungnya saja, tetap digaji seperti karyawan lainnya.

Namun lain halnya perlakuan mereka kepada kedua kakak lainnya. Mereka sangat baik, terutama pada istri-istri mereka. Apa mungkin karena aku cuma orang kampung yang nggak sederajat dengan kedua kakak iparku yang lainnya?

"Ya sudah kami pamit ya Bu. Assalamualaikum." Pamit mas Danang. Kuraih pula tangan ibu lalu menciumnya takzim.

"Waalaikumsalam." Jawabnya singkat.

Sepanjang perjalanan tak banyak yang kami bicarakan seputar keluarga. Kami hanya membahas tentang perjalanan. Tentang pemandangan dan lainnya.

*

"Mas mau pulang sekarang juga? Tapi hujannya besar banget. Cita khawatir ada longsor di jalan." Ujarku cemas. Menatap keluar rumah emak.

"Tapi mobil mau dipake sama Sumi. Ibu bisa marah besar kalau mas belum pulang sebelum magrib." Sahutnya bersikukuh. Ia memang tak berani membantah orang tuanya, terutama ibu.

"Padahal mobil Bapak ada empat. Masa iya sih mereka nggak boleh pinjam barang sehari aja. Besok pagi mas baru pulang. Mas coba hubungi ibu, bilang kalau disini hujan deras." Usulku.

Gemas pada sifat pelit mertuaku. Sejenak mas Danang terlihat berpikir, kemudian mengangguk. Ia merogoh ponsel dalam tas pinggangnya, kemudian menempelkan ponselnya ditelinga.

"Assalamualaikum, Bu…"

kemudian mas Danang mengungkapkan maksud dan tujuannya.

Aku tidak bisa mendengar jawaban ibu, namun dari raut wajah yang ditunjukkan mas Danang, nampaknya ia kecewa.

"Ya sudah. Danang berangkat sekarang. Assalamualaikum…" tutupnya pelan. Matanya masih menatapku lekat.

Ia menghela napas panjang, lalu mengembuskannya pelan. Kuusap punggung tangannya perlahan.

"Ya sudah, mas jalan ya." Pamitnya.

Aku hanya mengangguk lemah. Entah kenapa perasaanku sepertinya kurang enak.

Setelah berpamitan pada emak dan bapak, aku menatap wajah mas Danang lekat untuk ke sekian kalinya.

"Mas hati-hati ya. Kabari Cita kalo udah sampai rumah." Pesanku.

Mas Danang mengangguk. Ia mengelus puncak kepalaku, dan kuraih tangannya lalu menciumnya takzim.

Tak lupa kugendong Tia, mengantar mas Danang hingga depan rumah.

Mas Danang mencium pipi Tia berulang kali. Kemudian segera berlari menuju mobil.

Rumah emak memang tidak berada di jalur jalan raya. Dari jalan besar, harus masuk lagi dengan jalanan cukup curam. Bisa terjadi kecelakaan jika tidak hati-hati. Terutama saat musim penghujan seperti waktu itu.

Kutatap mobil yang dikemudikan mas Danang. Tak lupa ku doakan semoga suamiku selamat sampai rumah.

Namun satu jam kemudian sebuah kabar kuterima, dari pakle Mukhlis yang kebetulan baru pulang dari kota. Beliau membawa kabar tentang kecelakaan jatuhnya sebuah pohon besar yang menimpa mobil.

Awalnya pakle tak tahu siapa yang kecelakaan, namun setelah melihat korban, ia tahu bahwa itu mas Danang.

Tubuhku seketika jatuh luruh. Kepala pusing dan pandangan berkunang-kunang. Aku jatuh pingsan sebelum menemui mas Danang yang dibawa ke puskesmas terdekat ketika itu.

*

Flashback off

"Mama, mamam…" suara Tia membuyarkan lamunanku.

"Tia mau makan?" Tanyaku.

Tia mengangguk. Aku tersenyum lantas mengambil piring.

"Tunggu sebentar ya." Ujarku. Tia mengangguk.

Kuseret langkah menuju kamar, lalu ku ulurkan kepala ke dalam kamar. Mas Danang tengah berbaring menatap langit-langit kamar. Tatapannya redup seolah tak memiliki lagi semangat hidup.

"Mas mau makan sekarang?" Tanyaku pelan. Kuhampiri dirinya kemudian duduk di sampingnya. Ia menggeleng.

"Dari pagi mas belum makan apa-apa. Atau mau makan donat? Cita tadi lebihin dua. Mau?" Tanyaku lagi.

"Aku nggak mau, Cita! Apa kamu nggak ngerti gelengan kepala?" Teriaknya. Aku berdiri. Lalu meninggalkannya.

Tak ada yang bisa kulakukan setiap kali mas Danang membentakku, kecuali meninggalkannya dengan mata basah.

*

"Cita!"

Aku yang sedang menidurkan Tia sembari menscroll aplikasi biru, mengernyit.

"Tia tunggu sebentar ya."

Aku bangkit lantas perlahan menuruni tempat tidur. Kemudian melangkah keluar kamar.

"Bude Lasmi?" Alisku saling bertaut melihat kedatangan Bude Lasmi. Ingatanku teringat kejadian kemarin.

"Cita, kamu nggak percaya kalo saya bakalan ambil donat kamu?" Serunya.

Aku paham sekarang. Kedatangannya untuk membahas donat yang urung diambilnya.

"Bukan gitu bude, saya cuma takut donatnya udah nggak bagus lagi. Dan benar 'kan, bude nggak datang kemarin." Jawabku membela diri.

"Lah, ini buktinya saya datang! Bilang aja kalau kamu nggak percaya sama saya. Nih, liat! Ini duit semua. Cuma jualan donat aja belagu banget!" Unjuknya sembari menepuk tas yang isinya entah benar atau tidak.

"Maasya Allah bude, Cita percaya kok sama bude. Makanya Cita nggak pengen bude makan kue yang sudah didiamkan beberapa jam. Kalau bude mau pesan lagi, ya boleh. Biar Cita adon sekarang." Bujukku.

"Udah nggak mood! Udah males. Mending jelas-jelas Jajan di mall. Udah bermerk, penjualnya juga nggak belagu. Bahannya juga udah pasti higinis!" Sahutnya sambil menaiki motor maticnya, lantas pergi meninggalkan aku yang masih bengong menatap kepergiannya.

Bab 3

"Itu tadi siapa?"

Mas Danang yang tengah menonton televisi, menoleh padaku.

"Bude Lasmi." Jawabku singkat.

Kutinggalkan mas Danang kembali ke kamar. Tia terlihat sudah tidur lelap. Syukurlah. Aku harus ke dapur untuk mengadon donat. Ada yang pesan satu box dari perumahan sebelah.

Aku beranjak ke dapur. Menyiapkan semua bahan, dan segera mengeksekusinya. Setelah selesai menguleni, ku diamkan adonan beberapa menit.

Aku memang masih menggunakan tangan untuk mengadon. Selain belum kebeli mikser, keuntungannya yang tak seberapa aku berniat akan dikumpulkan untuk membeli kursi roda buat mas Danang.

Kecelakaan setahun yang lalu memang sangat menguras banyak hal. Kami bahkan diusir oleh ibu mertua supaya tidak lagi menempati rumah yang memang pemberian orang tua mas Danang. Ibu bersikeras bahwa kecelakaan yang menimpa mas Danang adalah murni kesalahanku, yang memaksa meminta pulang ke rumah emak dan bapak.

Ibu meminta mas Danang menceraikan aku, baru ia mau membawa mas Danang berobat hingga bisa berjalan lagi. Namun mas Danang menolak mentah-mentah. Ia lebih memilih tetap bersamaku, meski dengan segala resiko yang sekarang harus kami tanggung.

Uang tabungan yang kami kumpulkan bersama selama mas Danang bekerja di kebun cengkeh bapaknya, lambat laun semakin menipis. Selain digunakan untuk terapi yang meski sampai saat ini belum ada perubahan berarti, kami juga gunakan untuk mengontrak rumah dan kebutuhan hidup sehari-hari. Padahal rencananya, uang tabungan itu kami peruntukkan bagi sekolah Tia saat sudah besar nanti. Kami ingin Tia kuliah yang tinggi.

Untuk itulah akhirnya aku memutar otak, mencari resep dan mencoba banyak kue untuk dijual agar bisa menutupi biaya hidup kami kedepannya. Lalu pilihanku jatuh pada donat. Makanan yang disukai oleh banyak orang.

Meski cuma berjualan lewat ponsel, namun syukurlah setiap hari ada saja tetangga yang minta dibuatkan.

"Mas, uang tabunganku baru ada segini. Kira-kira cukup nggak ya, buat beli kursi roda?" Aku menghampiri mas Danang. Membawa kaleng biskuit berisi uang sebanyak enam ratus ribu rupiah.

Mas Danang mendesah. Ia menatapku tanpa ekspresi beberapa lama.

"Cit, kalau kamu merasa mengurusi aku nggak ada gunanya, aku rela jika kamu mau cari suami lagi." Ujarnya pelan. Namun tegas. Aku terhenyak mendengar penuturannya.

"Astagfirullah mas, kamu itu ngomong apa? Apa selama ini kamu lihat aku mengeluh? Istigfar mas, nyebut!" Mataku berkaca-kaca. Sakit sekali mendengar mas Danang berkata demikian.

Suamiku memalingkan wajah. Namun dapat kulihat ada air mata menggenang disana.

Aku berdiri, kumasukkan segera uang ke dalam saku daster lusuhku. Lalu kutinggalkan dia. Aku harus segera menggoreng donat dan mengirimnya.

*

"Aku titip Tia sebentar. Cuma ke kompleks sebelah anter donat. Ini, mas harus makan."

Kuletakkan piring kecil berisi tiga buah donat. Rasa kacang dan keju kesukaannya. Serta segelas teh tawar hangat di atas meja kecil di samping tubuh mas Danang. Ia hanya mengangguk lemah, dan menatap kepergianku.

Kupacu motor matic satu-satunya barang berharga yang kami miliki. Meski termasuk jadul, namun aku bersyukur masih memilikinya. Motor ini membantuku untuk mengantar pesanan.

Kutepikan motor setelah memasuki kompleks perumahan, lalu kuambil ponsel di saku jaketku. Kubaca lagi alamat yang tertera, lalu kembali kulajukan motor secara perlahan. Sambil menoleh kiri kanan.

Setelah berputar-putar, akhirnya dapat kutemukan rumah si pemesan. Kutepikan kembali motor lalu turun dan menghampiri pagar tinggi.

"Assalamualaikum, pak. Saya mau antar pesanan." Ucapku pada satpam rumah yang mengintip dari balik pagar besi.

"Waalaikumsalam. Pesanan siapa?" Tanyanya.

"Bu Nadia." Jawabku.

Satpam mengangguk lalu mengeluarkan HT dan berbicara dengan seseorang. Sementara itu, kuedarkan pandangan ke dalam bangunan di dalam sana. Terkagum aku, sampai tak sadar pak satpam memanggilku.

"Hey mbak, jadi berapa?"

"Oh eh, maaf. Jadi tiga puluh ribu pak." Jawabku.

Satpam mengeluarkan uang selembar lima puluh ribuan. Untung di saku jaket ada kembalian.

Setelah mengucapkan terimakasih, aku pun kembali pulang. Sambil berharap semoga si pemesan tidak kecewa dengan donat bikinanku.

*

Tin tin tin

"Woi!"

"Astagfirullah, ya Allah ya Allah ya Allah!" Aku begitu panik.

Ya Allah, motor yang dikendarai tiba-tiba saja mati di tengah jalan. Hampir saja mobil di belakangku menabrak jika saja pengemudi tidak fokus pada jalanan.

Aku segera turun dari motor dan menepikannya. Kubuka helm bermaksud meminta maaf pada si pengemudi. Namun tak lama, penumpang di belakang sana membuka pintu lalu turun. Aku sudah pasrah, andai si nyonya tersebut memarahiku.

Mataku membulat begitu si penumpang berjalan semakin mendekat.

Ibu?

"Lho, Cita?!" Ibu juga sepertinya tak kalah kaget.

"Pantesan aja! Begitu kalau orang kampung bawa motor di jalanan kota. Pake ini, bukan cuma tangan sama kaki!" Lanjutnya.

Jarinya menunjuk kepalanya sendiri. Aku terhenyak. Kupikir pertemuan pertama kami setelah satu tahun berlalu, akan dipenuhi haru. Namun nyatanya tidak Sama sekali.

Aku yang bermaksud meraih tangannya, seketika terdiam. Sementara orang-orang yang menyaksikan insiden tadi, menatap kami.

"Sudahlah Bu, motornya mungkin mati tiba-tiba. Udah damai aja damai!" Seru seorang lelaki bertubuh kurus. Yang kemudian dianggukkan oleh orang-orang.

"Heh, kalian itu nggak tau dia siapa! Saya kenal baik sama dia. Dia itu orang kampung yang sok sok an bawa motor di jalanan! Untung saja saya yang hampir jadi korban, kalau orang lain, bisa jadi dia dipenjarakan!" Sahutnya galak.

Wajahku merah padam. Tega sekali ibu mencaci maki di depan banyak orang.

"Maaf Bu, Cita nggak tahu tiba-tiba motornya mati." Jawabku pelan. Malu sekali jadi pusat perhatian orang-orang.

"Mbak, coba motornya bawa ke bengkel tuh di depan sana!" Ujar seseorang sambil menunjuk sebuah bengkel. Aku mengangguk.

"Bu, maaf Cita duluan ya. Tia di rumah sama mas Danang. Takut rewel nanti." Pamitku. Jika tidak begitu, ibu bakalan terus mengoceh.

"Dasar kampungan!" Sahutnya lalu pergi.

Kutatap kepergian mobil ibu. Ibu memang seringkali ke kota untuk menandatangani beberapa surat perjanjian dengan perusahaan yang menampung cengkeh milik bapak. Atau ke bank pusat, atau sekedar jalan-jalan belanja. Namun tak kuduga akan bertemu dengannya. Dengan kondisi yang seperti ini.

Kudorong motor menuju bengkel dengan mata basah. Ibu sama sekali tak menanyakan Tia, atau mas Danang, anak kandungnya. Apa benar ibu sudah membuang mas Danang sebagai anaknya, hanya karena lelaki itu memilih untuk mempertahankan rumah tangga?

"Wah, ini mah aki nya udah Soak, mbak."

Si Abang tukang bengkel menunjuk ke arah motor yang baru saja dibongkarnya.

"Berapa kalo di betulin, mas?" Tanyaku.

Cemas melanda sebab di kantong jaket ku cuma ada uang lima puluh ribu rupiah.

"Sekitar seratus lima puluhan ribu." Jawabnya.

Ya Allah, kupijat keningku yang berdenyut serta berkeringat. Helm yang sedari tadi kupakai, segera kulepas. Kemudian kuletakkan di atas pangkuan.

"Uang saya cuma ada lima puluh ribu. Kalau motornya ditaruh disini dulu, bisa bang?" Tanyaku harap-harap cemas.

"Bisa aja sih. Tapi nanti sore harus diambil ya. Soalnya udah nggak ada tempat lagi buat ngaruh motor kalau sampai harus diinapkan." Jawabnya. Aku mengangguk. Nggak ada pilihan lagi kecuali mengiyakan.

"Iya bang. Saya cuma pulang buat ambil uang kok. Ini sekalian titip helm ya." Aku berdiri.

"Oke siap. Taruh disitu aja. Aman kok." Jawabnya. Aku mengangguk lantas keluar dari bengkel.

Kubawa langkah menuju pangkalan ojek yang tak jauh dari pertigaan. Setelah sepakat soal ongkos, segera kuminta bapak ojek mengantarkan pulang.

Sepanjang perjalanan pikiranku tak tenang. Bagaimana kukatakan pada mas Danang soal kejadian ini? Haruskah juga kuceritakan soal pertemuanku dengan ibunya?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED