Bab. 2.
"Darimana kamu sepagi ini.?"
Suara lembut keibuan dari seorang wanita cantik yang duduk di atas kursi meja makan.
"Aku baru saja mengantar mooi pulang , bibi Monalisa."
Ujar Don Juan sambil melangkah menghampiri bibinya..
"Ada apa lagi dengan calon tunanganmu .?"
Tanya bibi Monalisa dengan senyum manis mengembang di bibirnya. Don Juan menghampiri dan mencium kening beliau.
"Mooi kumat cemburu lagi , bi. Dia memutuskan hubungan kami. Pusing kepalaku dibuatnya.!"
Sahut Don juan, dengan kasar menghempaskan pantatnya di atas kursi.
"Dia gadis baik dan sederhana tapi kamu masih mempermainkannya , mooi. Sekarang gadis itu sedih , mau memutuskan hubungan kalian."
Bibi Monalisa mengolesi roti tawar dengan margarine rendah lemak dan selai nenas.
"Aku tidak mempermainkannya, bi.!"
Elak Don juan sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Buktikan itu dengan sikap bukan hanya dengan ucapan saja.!. Bibi tidak membela calon tunanganmu tapi ia butuh kenyataan yang pasti bukan rayuan dan janji-janji manis, Don juan.!"
Bibi Din juan menyodorkan roti tawar isi selai nenas pada Don Juan keponakannya.
"Iya bibi tapi tolong aku agar mooi mau meneruskan hubungan kami , bi.!. Aku mohon sekali ini saja, bibi Monalisa.!"
Don Juan menggigit roti tawar isi selai nenas. Bibi Monalisa menatap keponakannya yang duduk di hadapannya dengan tatapan lembut penuh kasih sayang .
"Don Juan, bukannya bibi tidak mau menolongmu tapi kamu selalu menganggap bibi ini selalu melindungi dan membelamu tiap kamu menyakiti hatinya .Dia gadis polos yang mencintaimu dengan segenap hatinya."
Kata wanita separuh baya yang berpenampilan elegan.
"Huff.. bibi, aku sudah bersih tidak bergonta-ganti perempuan semenjak aku menjalin hubungan dengan mooi. Perempuan-perempuan itu yang mengganggu dengan menunjukkan foto-foto kami padanya , itu yang membuat mooi cemburu."
Don Juan menatap bibinya dengan tatapan yang meyakinkan.
"Itu artinya kamu harus bisa mengambil sikap tegas terhadap perempuan-perempuan itu agar berhenti mengganggunya jika memang kamu serius ingin mempertahankan hubunganmu dengannya. Kasihan dia, gadis baik-baik , mooi.!"
Sahut bibi Monalisa dengan nada pelan tapi penuh penekanan.
" Aku pasti bertindak tegas pada perempuan-perempuan itu , bi.!"
Don Juan memeluk bahu bibinya
"Bibi mau menelponnya sekarang.!"
Don juan tersenyum sambil memberikan ponselnya pada bibi Monalisa yang langsung menelpon ..
#"Hallo , mooi."#
#"Hallo, bibi monalisa."#
#"Hari ini aku mau mengajakmu sarapan , mooi."#
#"Tapi..."#
#"Tapi apa , Monalisa .?. Kamu menolak sarapan denganku .?"#
#"Tidak.. tidak , bibi Monalisa. Maksudku tidak seperti itu."#
#"Lalu apa, monalisa .?"#
#"Saat ini aku sedang memasak nasi goreng kornet dengan telur mata sapi , bibi monalisa. Tidak apa-apa, biarkan kumatikan kompor dan aku ke rumahmu , bi." #
#"Wouuw.. pasti lezat masakanmu. Aku mau mencicipi, mooi. Bawalah kemari, kita makan bersama.!"#
#"Benarkah bibi ingin makan masakanku ini.?"#
#"Pastilah, mooi. Kusuruh Don juan menjemputmu.!"#
#"Jangan...jangan... Tidak perlu Don Juan menjemputku. Aku bisa sendiri ke rumah bibi.!. Kuselesaikan masakanku dulu."#
#"Baiklah , mooi. Aku sekarang menunggumu.!"#
*click..*
Hubungan telepon seluler dimatikan, bibi Monalisa menatap wajah Don Juan.
"Terakhir ini bibi membantumu , Don Juan.!"
"Iya bibi, terima kasih. Aku harus mandi , sebentar lagi mooi datang .!"
Ujar Don Juan seraya bangkit dari tempat duduknya langsung menuju ke kamarnya. Bibi Monalisa hanya bisa tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Lima belas menit kemudian , terdengar ketukan dari luar pintu depan.
"Masuklah, mooi.!. Pintu tidak di kunci."
Ucap bibi Monalisa dengan mengalihkan pandangannya ke arah pintu depan yang terbuka. Seorang gadis cantik dengan membawa bungkusan masuk ke dalam rumah , berjalan menghampiri bibinya Don Juan. Mooi mengenakan rok panjang semata kaki berwarna biru tua yang dipadukan dengan atasan biru muda , penampilannya sangat sopan namun tampak sangat cantik, meski pakaian yang dikenakan tergolong pakaian yang sederhana bukan pakaian mahal ber-merek.
"Selamat pagi, bibi Monalisa."
Sapa mooi sambil mencium punggung telapak tangan kanan beliau.
"Selamat pagi juga , mooi. Mana masakanmu .?"
"Ini , bibi Monalisa."
Dengan cekatan gadis cantik itu membuka bungkusan yang dibawanya, lalu meletakkan di atas meja makan kemudian melangkah ke dapur mengambil piring , sendok , garpu. Don Juan yang sudah selesai mandi dan memakai baju bersih masuk ke ruang makan dan memeluk pinggang ramping kekasihnya.
"Selamat pagi, sayang."
Pelan-pelan mooi melepaskan tangan kekasihnya yang memeluk pinggangnya.
"Maaf, juan. aku harus menyiapkan nasi goreng untuk sarapan."
"Kamu masih marah , mooi .?"
Gadis itu terdiam tidak mau menjawab pertanyaan kekasihnya. Rambut coklat sengaja di gerai bebas, tangannya membawa sepiring nasi goreng yang diletakkan di hadapan bibi Monalisa
"Silahkan makan , bibi.!. Ini nasi goreng kornet dan telur mata sapi sudah kupotong kecil-kecil. "
"Terima kasih, mooi. Baunya lezat sekali."
Bibi Monalisa langsung makan dan mengacungkan ibu jarinya .
"Aku juga mau nasi goreng kornet dan telur mata sapi, mooi."
Pinta Don Juan . Mooi mendekatkan mangkuk besar berisi nasi goreng ke piring kosong Don Juan.
"Nasi goreng masakanku tidak selezat makanan di restoran mahal langgananmu , Juan. Silahkan ambil kalau mau mencicipi.!"
Ujar mooi dengan lirih , kepala menunduk. Don juan menahan nafas mendengar sindiran halus kekasihnya.
"Aku mau diambilkan nasi goreng seperti kamu mengambilkan nasi goreng untuk bibi Monalisa ..!"
Cetus don juan sambil menatap tajam wajah cantik kekasihnya Perlahan tangannya terulur mengambilkan nasi goreng lalu diletakkan di atas piring makan kosong Don juan. Bibi Rosella menyentuh lengan gadis cantik yang berdiri di sampingnya.
"Duduklah di dekatku, kita sarapan bersama.!"
"Ya , bibi monalisa."
Mooi dengan anggun duduk di samping bibi Monalisa, kemudian mengambil sepotong roti tawar berlapis selai nenas . Don juan memandangi kekasihnya yang tertunduk sambil memakan roti selai nenas.
"Mooi.."
"Ya , bibi Monalisa."
"Hari ini aku mau mengajakmu ke toko untuk membeli cincin tunangan untukmu dan Don Juan ."
Tangan lembut bibi monalisa mengelus pipi gadis cantik yang duduk di sampingnya.
"Nyonya Rosella Gustron , aku minta maaf. Sebaiknya nyonya tidak perlu membelikan cincin tunangan karena kami berdua putus."
Ucap mooi dengan suara teramat sangat lirih. sontak emosi pria tampan italia itu meledak .
*BRUAAKK ...*
tangannya memukul meja makan.
"KAMU MAU TUNANGAN DENGAN LAKI LAIN .?. KAMU PACARAN DENGAN LAKI LAIN, MOII .?"
Teriak Don Juan penuh amarah , gadis cantik itu menggeleng. Bibi Monalisa memeluk bahu mooi ..
"Ada apa , mooi.?"
Bisik bibi Monalisa sambil mengelus-elus punggung bee.
"Aku sadar diri kalau aku tak pantas bagi Don juan. Lebih baik ia dengan gadis lain saja, bibi monalisa."
Kata mooi dengan suara lirih bergetar menahan tangis. Bibi Monalisa menarik nafas dalam-dalam , menatap wajah mooi dan Don Juan secara bergantian.
Bab. 3
*KRING...KRING...*
#"Hallo , Don Juan apa kabar ?"#
#"Hallo juga , Don Julian. Kenapa kamu tidak tanyakan kabar bibi Monalisa .?"#
#"ha..ha..ha.. ya.. ya.. apa kabar bibi Monalisa .?. Semoga bibi baik-baik saja , Don Juan ."#
#"ya , aku dan bibi Monalisa baik-baik saja , Don Julian. Aku sibuk , nanti kutelpon . Ok salam buat papa mama ."#
*CLICK*
Hubungan telepon seluler dimatikan. Don Juan dan Don Julian adalah sepasang saudara kembar. Usia mereka dua puluh lima tahun. Hidup mereka sengaja dipisah, Don Julian hidup bersama orang tua mereka di Amerika , sedangkan Don Juan adiknya hidup bersama bibi Monalisa di Italia.
"DON JUAN , APAKAH DON JULIAN KAKAKMU TELPON .?"
Teriak bibi Monalisa dari dapur . Dari dalam selimut , Don Juan membalas teriakan bibinya...
"TELPON SALAH SAMBUNG , BIBI."#
Bibi Monalisa hanya bisa tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya . Don Julian sudah menikah dan dikaruniai satu anak laki , Don Julian bekerja sebagai politikus mengikuti jejak ayah mereka. Sedangkan Don Juan mempunyai bisnis perdagangan senjata api meneruskan bisnis almarhum paman eduardo suaminya bibi Monalisa.
*BIP..BIP..*
Suara notifikasi dari WhatsApp, dibacanya
#Apakah kita bisa berkencan , Don juan.?.#
#Tidak bisa, Aliyah#
Jika Don Julian terkenal sebagai pria baik dan sopan , beda dengan Don Juan adiknya yang terkenal playboy kelas kakap , bagi Don Juan perempuan bagaikan tissue yang sekali pakai buang. Sudah rahasia umum , orang tua Aliyah cerai karena ibunya selingkuh dan ayahnya menikah lagi , tak lama kemudian ayahnya meninggal dan ibu tirinya di penjara karena terlibat kasus penggelapan uang. Aliyah mempunyai kebiasaan suka berfoya-foya dan hidup mewah , kebiasaan ini menurun dari ibu kandungnya dan ibu tirinya. Untuk memenuhi gaya hidupnya yang mewah , Aliyah tak segan-segan mengobral tubuhnya ke para pria kalangan atas. Aliyah tergila-gila pada Don Juan bukan karena cinta tapi karena kekayaan pria itu bahkan ia menghalalkan segala cara untuk menguasai kekayaan Don Juan.
"Don Juan. Jika sudah bangun , turunlah sebentar, !"
panggil bibi Monalisa dari bawah , sambil menengadahkan kepalanya ke atas. Don Juan malah menutupi kepalanya dengan selimut.
"Ok, jika kamu masih tidur. Bibi mau pergi sendirian ke makam paman Eduardo."
Seru bibi Monalisa.
"Jangan pergi sendiri , bi. Kita berdua ke makam paman Eduardo. Tunggulah sebentar , bibi Monalisa.!,"
jawab Don juan sambil bergegas bangkit berdiri dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi. Sepuluh menit kemudian , Don Juan keluar kamar dan menuruni anak-anak tangga , menghampiri bibinya. Mereka berdua pergi ke makam paman Eduardo suaminya bibi Monalisa. Semua orang tahu kalau ayah kandungnya Don Juan adalah kakak kandungnya bibi Monalisa . Namun sejak awal menikah bibi Monalisa dan paman Eduardo , sama sekali tidak mempunyai anak maka Don Juan keponakannya di ambil sejak usia setahun dan di rawat hingga dewasa. Tak heran jika Don Juan sangat lengket pada bibi Monalisa dan paman Eduardo yang sudah di anggap seperti orang tua kandungnya sendiri. Semenjak paman Eduardo meninggal, ia bagaikan layangan putus. Selesai dari makam paman Eduardo langsung bibi Monalisa mengajak...
"Don Juan , ayo kita mampir ke rumah mooi .!"
"Iya , bibi Monalisa ."
Don juan langsung meluncurkan mobilnya ke rumah mooi.
"Mooi.."
Suara pintu ruang tamu di dari luar, membuat mooi terjaga, gadis cantik itu tidak tidur di kamarnya melainkan di ruang keluarga , di sofa bed dengan tv yang menyala. Rupanya Don Juan membuka pintu dengan kunci cadangan.
"Bibi , masuk dulu.!. Aku ambilkan kue di mobil ."
Don Juan kembali ke mobil. Mooi terkejut melihat bibi Monalisa masuk ke dalam rumahnya.
"Bibi Monalisa ..."
Mooi berusaha bangun dan duduk di sofa bed.
"Wajahmu pucat sekali , mooi. Apa kamu sakit .?"
Tanya bibi Monalisa sembari membungkukkan badannya dan memegangi dahi mooi.
"A..a..aku sehat , bi."
Sahut mooi dengan gagap dan bangkit berdiri dari sofa bed. Kakinya melangkah hendak ke dapur namun tubuhnya agak sempoyongan karena kepalanya sangat pening ,
*PRANGG..*
tidak sengaja lengannya mengenai vas bunga di atas meja hingga terjatuh , pecah . Don Juan yang baru masuk ke dalam rumah mooi , melihat tubuh kekasihnya hampir jatuh , langsung Don Juan lari menangkap tubuh mooi dan memapahnya . Tampak wajahnya pucat pasi. Don Juan merebahkan tubuh mooi di atas sofa bed.
"Kamu sakit , mooi. Badanmu demam dan wajahmu pucat. Aku antarkan kamu ke dokter sekarang ya..!"
Ujar Don Juan dengan nada gusar melihat kekasihnya sakit.Tiba-tiba saja , mooi gadis cantik itu tersenyum getir, matanya tampak setengah terbuka dan sepertinya dia susah sekali untuk membuka lebar matanya.
"Aku istirahat di rumah saja, Juan. Ini hanya demam biasa."
Ucapnya dengan sangat lirih , nyaris tak terdengar suaranya.
"Mooi, jujurlah padaku.!. Kamu sakit apa .?. Jika kamu tidak mau jujur , kubawa kamu ke rumah sakit.!"
Ucap Don Juan setengah mengancam membuat kekasihnya makin ketakutan.
"Ja..ja..jangan bawa aku ke rumah sakit , Juan. Vertigo-ku kambuh tapi aku sudah minum obat."
Mooi menunjuk plastik berisi beberapa obat.
"Ayo , makan dulu. Bibi bawakan sup ayam dan garlic bread."
Bibi Monalisa mengeluarkan bungkusan makanan dan Don Juan menyuapi kekasihnya. Selesai menyuapi ,
"Huaamm.."
Mooi menguap dan matanya mulai terpejam. Gadis itu tertidur. Bibi Monalisa dan Don Juan pulang. Mooi adalah seorang gadis yatim piatu. Dia tidak tahu siapa orang tua kandungnya karena ibunya langsung meninggal di saat melahirkan dan saat ia masih berusia dua tahun , ayahnya terkena sakit malaria lalu meninggal. Karena tidak ada sanak saudara , beberapa tetangga menitipkannya ke panti asuhan. Setelah ia lulus SMA ..kembali ke rumah orang tuanya. Namun ia tinggal seorang diri di rumah sederhana peninggalan mendiang orang tua kandungnya. Mooi dan Don Juan sudah dua bulan pacaran setelah sebulan mereka berkenalan saat Don Juan melihat bee sedang melukis di dekat menara Eiffel. Memang mooi adalah seorang pelukis , namun Don Juan masih merahasiakan identitas sebagai anak jutawan dan mengaku bekerja sebagai pegawai kantor biasa. Meskipun demikian, Don Juan selalu menyuruh beberapa anak buahnya menjaga mooi tanpa sepengetahuan mooi. Don Juan juga merahasiakan hubungannya dengan mooi , hanya bibi Monalisa dan beberapa anak buahnya Don Juan yang mengetahui jika mooi kekasihnya Don Juan. Tapi tetap saja, banyak perempuan yang tergila-gila pada Don Juan terutama Aliyah pelacur kelas kakap.