Suatu malam hujan yang begitu deras, terlihat seorang wanita yang berlari sambil melirik ke belakang dan ketakutan. langkah kaki seorang pria yang sedang mengejarnya tanpa berhenti.
Wanita itu pun menuju ke jembatan untuk menjauh dari pria itu. tidak ada yang tahu apa yang terjadi dan siapa mereka berdua.
Wanita tersebut yang sudah tidak larat untuk berlari, pada akhirnya ia hanya bisa memilih mengakhiri hidupnya.
Di saat dirinya memanjat ke atas besi pembatas jembatan, ia berteriak," Aku lebih rela mati dari pada bersamamu...." teriakan wanita itu yang kemudian melompat ke laut dengan pasrah.
Tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi di antara mereka. Pria yang mengejarnya frustasi dan berteriak di saat wanita itu melompat ke laut untuk mengakhiri hidupnya.
3 Tahun Kemudian.
Di tengah-tengah kota Seoul, berdiri megah sebuah gedung rumah sakit terbaik di Korea Selatan. Dari luar, bangunan tersebut tampak modern dan mewah, layaknya sebuah hotel bintang lima. Di dalamnya, fasilitas yang tersedia sangat lengkap dan canggih, menjadikan rumah sakit ini sebagai pilihan utama bagi para pasien yang membutuhkan perawatan khusus.
Suatu malam, langkah mantap seorang pria berjaket kulit hitam terhenti tepat di depan salah satu pintu kamar pasien. Rambutnya hitam legam, dan mengenakan masker. Matanya menelisik nama yang tertera di papan nama di depan pintu, "Kim Ae Jin."
Perlahan, pria itu membuka pintu kamar pasien dan melangkah masuk. Ruangan itu tampak bersih dan tertata rapi, dengan dinding berwarna putih dan jendela yang memperlihatkan pemandangan kota Seoul yang indah. Di sudut ruangan, ada seorang wanita berparas cantik yang tengah tidur pulas di atas ranjang pasien.
Pria itu mendekat ke ranjang pasien dengan langkah yang pelan dan hati-hati, Matanya memandangi wajah wanita tersebut dengan penuh perhatian.
Pria berjaket tebal itu menatap lembaran data pasien yang tergantung di ujung ranjang, membaca dengan seksama setiap detail yang tertulis di sana. Setelah cukup lama mempelajari informasi tersebut, pria itu menggantung kembali lembaran data pasien dan melangkah mendekati Kim Ae Jin.
Dengan lembut, ia mengecup dahinya, tak ada yang tahu siapa sebenarnya pria itu. Ia datang dengan wajah yang tertutup, seolah-olah tak ingin ada yang mengenali dirinya.
"Kim Ae Jin, kamu hanya bisa menjadi milikku," ucapnya.
Tak lama setelah itu, pria misterius tersebut meninggalkan Kim Ae Jin yang masih tertidur pulas.
Keesokan harinya, Kim Ae Jin terbangun dari tidurnya. Suster yang bertugas memeriksa kondisinya datang seperti biasanya, menanyakan kabar dan memastikan bahwa Kim Ae Jin dalam kondisi yang baik.
"Suster, Apakah semalam ada yang datang melihatku?" tanya Ae Jin yang penasaran.
"Semalam tidak ada yang datang," jawab suster itu.
"Aneh sekali, kenapa aku sepertinya merasakan seseorang mencium dahiku," batin Ae Jin.
"Nona, kita akan ke ruangan pemeriksaan. sebentar lagi Dokter akan datang untuk memeriksamu. Jadi buka semua bajumu dan menunggu di sana!"
"Suster, Siapa dokter yang mengobatiku? Dokter wanita, kan?" tanyanya yang berharap.
"Tenang saja! Dokter wanita atau Dokter pria juga akan menjalani pembedahan," jawab Suster.
"Ini ketiga kalinya aku ganti rumah sakit, karena dokter pria yang akan memeriksa payud4r4ku. Semoga kali ini bukan Dokter pria lagi," gumam Ae Jin.
Di sisi lain, seorang pria muda tampan, berpostur tinggi melangkah masuk ke dalam rumah sakit besar itu. Kehadirannya menarik perhatian semua wanita yang ada di sana. Pesona pria itu memabukan semua orang yang melihatnya. Ia adalah seorang dokter muda lulusan kedokteran dari Amerika yang baru saja pulang ke Seoul untuk melanjutkan kariernya sebagai dokter bedah. Pria itu memiliki wajah yang tampan dengan rambut hitam lembut yang tersisir rapi. Matanya yang tajam seolah menembus jiwa orang yang dilihatnya, membuat para wanita di sekitarnya merasa terpesona dan berdebar kencang.
Selain itu, senyum yang kerap menghiasi wajahnya membuat siapa pun yang melihatnya merasa hangat dan nyaman. Dirinya juga dikenal sebagai seorang dokter yang pintar dan berbakat dalam hal pembedahan. Ia telah menangani banyak kasus sulit dan berhasil menyelamatkan nyawa pasiennya.

Sementara Ae Jin berada di ruangan pemeriksaan. Ia melepaskan baju dan bra nya sehingga terlihat dua dadanya yang bulat dan mulus.
"Silakan menunggu sebentar! Dokter akan segera datang," ucap Suster itu dengan nada sedikit tegas.
"Suster, Aku ingin tahu, Dokter pria atau wanita?" tanya Ae Jin yang penasaran lagi.
"Kalau ingin sembuh, Kenapa harus tahu siapa doktermu," jawab suster itu dengan nada sedikit kesal dan beranjak dari sana.
"Aneh sekali, Padahal aku hanya bertanya. Apa salahnya," gerutu Ae Jin yang kemudian naik ke atas ranjang dan menarik selimut menutupi tubuhnya.
Seorang pria tampan berjubah dokter itu melangkah mantap memasuki ruangan, diikuti oleh suster yang menemaninya. Dengan senyum ramah dan mata tajam, ia menatap sekeliling ruangan, mencari pasien yang ditunggunya.
"Dokter Han, pasiennya sedang menunggu," ujar suster dengan suara halus, memberi isyarat pada Dokter Han untuk segera menemui pasien tersebut.
"Baik, terima kasih," sahut Dokter Han, dengan suara yang merdu dan berwibawa. Suaranya terdengar begitu jelas hingga ke telinga Ae Jin yang sedang terbaring di ranjang.
Mendengar suara itu, Ae Jin merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia penasaran ingin melihat siapa pria yang memiliki suara seindah itu. Ae Jin segera bangkit dari ranjangnya, dan mengintip dari balik gorden pembatas.
Begitu matanya tertuju pada sosok Dokter Han, Ae Jin langsung terpana. Pria itu memiliki wajah tampan yang mempesona, membuat Ae Jin merasa jantungnya berdegup kencang. Tak bisa menahan rasa kagumnya, Ae Jin terus memandangi sosok Dokter Han yang tengah berbicara dengan suster dan memeriksa berkas pasiennya. Ada perasaan hangat yang menyelimuti hatinya.
"Aku sudah kabur dari dua rumah sakit karena dokternya adalah seorang pria. Tapi, kali ini lebih parah lagi malah seorang Dokter yang begitu tampan. Harus letak di mana wajahku. Tidak mungkin aku membiarkan dia memeriksa dua bola seksiku," gumam Ae Jin yang mengambil bajunya dan kembali naik ke atas ranjang.
Tak lama, dokter itu masuk dan menarik gorden yang menutupi tempat Ae Jin berada.
Dia tersenyum ramah dan memperkenalkan dirinya, "Nona Kim, saya adalah Dokter Han yang akan mengobati penyakit Anda."
Ae Jin menutupi wajahnya dengan selimut. Ia menunduk dan menggigit bibirnya karena malu.bingung harus bereaksi seperti apa.
Dokter Han menyadari kegelisahan Ae Jin, lalu berusaha menenangkan hati Ae Jin dengan menunjukkan sikap profesional dan sopan. "Jangan khawatir, Nona Kim. Saya akan memastikan pemeriksaan ini berjalan dengan baik dan Anda merasa nyaman," ujarnya dengan lembut.
Namun, Ae Jin tetap merasa tidak nyaman dan bingung menghadapi situasi tersebut. Dia berusaha keras untuk menenangkan dirinya, namun tetap saja hatinya berdebar kencang saat dokter tampan itu akan memulai pemeriksaan.
"Ehm...itu...Maaf...Aku tidak ingin diperiksa," ucap Ae Jin yang masih menutup wajahnya agar tidak dikenali.
"Nona Kim, Kalau begitu Anda bisa tentukan sendiri kapan ingin diperiksa. Sebenarnya ini hanyalah pemeriksaan saja. Bukan pemeriksaan yang memakan waktu lama," kata Dokter Han.
"Iya, Aku tahu. Tapi, aku belum siap," jawab Ae Jin dengan alasan. Ia sangat malu dan tidak ingin diperiksa Dokter tampan itu. Bahkan menatapnya saja ia tidak sanggup.
"Baiklah, kalau begitu. Hubungi suster ketika Anda sudah siap," ujar Dokter Han dengan senyum.
"Sialan, kenapa dokternya tampan sekali. Malu sekali kalau sampai harus buka-bukaan di hadapannya. Sepertinya aku harus cari rumah sakit lain. Iya, sekarang juga aku langsung kabur," gumam Ae Jin.
"Siapa orang tuanya? Bisa-bisanya melahirkan anak yang begitu tampan," gerutu Ae Jin sambil mengenakan pakaiannya.
Setelah berpakaian, Ae Jin berburu-buru meninggalkan rumah sakit.
Ae Jin berjalan dengan langkah yang cepat, perasaan khawatir dan gugup menyelimuti dirinya. "Seharusnya dia sudah pergi, dia tidak akan mengenalku. Karena tadi aku menutup wajahku," gumam Ae Jin sambil sesekali melirik ke belakang untuk memastikan tidak ada sosok Dokter yang di sana.
Namun, Ae Jin terlalu fokus pada kekhawatirannya hingga tidak menyadari ada seseorang yang berdiri tepat di depannya.
Dalam sekejap, tubuhnya menabrak orang tersebut, dan kepalanya terbentur dada pria itu. "Maaf!" ucap Ae Jin dengan wajah memerah, ia menoleh ke atas untuk melihat siapa orang yang ia tabrak. Matanya membelalak melihat wajah pria tampan yang menatapnya dengan ekspresi terkejut.
Sejenak, Ae Jin lupa akan rasa khawatirnya tadi dan terpaku pada tatapan pria tersebut.
"Nona, kamu baik-baik saja?" tanya pria itu yang adalah Dokter Han. Senyuman pria itu membuat jantung gadis itu berdegup dengan kencang.
"Sebenarnya kamu berasal dari planet mana?" tanya Ae Jin yang tanpa sadar dengan ucapannya.
"Apa?" tanya Dokter Han.
Ae Jin berusaha tidak gugup di hadapan pria tampan itu," Ah...Maksudku aku harus pergi! Sampai jumpa!" ucap Ae Jin yang melangkah pergi.
Dokter itu teringat suara gadis itu yang tidak asing, Lalu, memanggilnya," Nona."
Ae Jin menghentikan langkahnya sambil menepuk kepalanya dan takut dikenali oleh Dokter itu. Dengan terpaksa senyum ia menoleh ke arah pria itu sambil bertanya," Iya, ada apa?"
"Nona Kim Ae Jin, bukan?" tanya Dokter Han.
"Bu-bukan, Bukan aku!" jawab Ae Jin yang berusaha menyangkal.
"Apakah aku salah orang," gumam Dokter Han.
"Pasti salah orang, Aku pergi dulu!" pamit Ae Jin yang kemudian melangkah dengan cepat.
"Bukankah dia ingin pergi? Kenapa menuju ke arah sana?" gumam Dokter Han yang melihat gadis itu berjalan ke arah lain.
Beberapa saat kemudian.
Ae Jin berjalan dengan langkah ragu di koridor rumah sakit, mencari jalan keluar setelah berhasil menghindari Dokter tampan yang sempat membuatnya gugup. Tiba-tiba, ia berhenti di depan sebuah ruangan yang ternyata adalah kamar mayat. Wajahnya pucat seketika, tak menyangka akan sampai ke tempat seperti ini.
"Bukankah aku ingin pulang, kenapa malah menyasar ke sini? Kalau bukan karena menghindar Dokter tampan itu, tidak mungkin aku bisa menyasar," keluh Ae Jin dalam hati, matanya memandang pintu kamar mayat dengan rasa takut dan gemetar.
Sementara itu, di ruangan kantor Profesor Dokter Han, Dokter Han sedang membaca data pasien Kim Ae Jin yang diberikan padanya. Dia melihat foto Ae Jin di berkas tersebut dan mulai merasa penasaran.
"Bukankah gadis tadi itu? Kenapa dia tidak mengaku dan pergi dengan terburu-buru?" gumam Dokter Han, seraya menggaruk dagunya yang mulai gatal karena kebingungan.
"Dokter Han," sapa seorang suster yang memasuki ruangannya.
"Apakah pasien Kim Ae Jin sudah mengambil obatnya?" tanya Dokter Han sambil fokus pada berkas yang di tangannya.
"Belum! Pasien itu pergi begitu saja. Padahal sebelumnya dia yang mengatakan kalau badannya merasa tidak nyaman. Hasil laporan dari pihak rumah sakit lain mengatakan dia mengidap tumor jinak di bagian dadanya. Tidak tahu apa alasanya kenapa dia tidak melanjutkan pengobatan di sana," jawab Suster.
"Apakah dia tidak peduli dengan kesehatan sendiri," gumam Dokter Han.
"Hubungi dia dan minta datang besok, Dia harus diperiksa sebelum terlambat," perintah Dokter Han.
"Baik," jawab susternya yang kemudian beranjak dari ruangan itu.
Ae Jin, gadis itu mencoba mengumpulkan keberanian untuk meninggalkan koridor kamar mayat dan mencari jalan keluar yang benar. Namun, langkahnya terasa berat dan ragu, takut salah jalan lagi dan menemukan tempat yang lebih menyeramkan.
"Lebih baik aku mencari seseorang untuk bertanya, Dari tadi aku keliling sampai lupa jalan. Ada apa dengan otakku.
***
Sebuah Cafee.
Ae Jin dan seorang wanita duduk berhadapan dan menikmati minuman hangat di malam hari.
"Kamu kabur lagi? Apa kamu sudah gila, ya? Bagaimana kalau bibi tahu kamu tidak menjalani pemeriksaan? Pasti bibi marah lagi." Teman Ae Jin berbicara tidak berhenti dan tidak setuju dengan perbuatan temannya itu.
"Apakah begitu sulit mencari seorang dokter wanita? Kenapa semua dokter pria yang mengobatiku?" keluhan Ae Jin murung.
"Sudah sampai tahap seperti ini, Kamu masih saja pilih-pilih, Bagaimana kalau tumorny semakin membesar? Jangan main-main! Utamakan kesehatan dan kasihan bibi!"
"Aku malu sekali, Dokternya....sangat tampan," ucap Ae Jin.
"Kamu ini benar-benar pemalu, Mereka adalah dokter Profesional. Tidak akan tertarik pada tubuhmu," kata wanita itu sedikit kesal karena mengkhawatirkan nya.
"Yuri, Jangan bicara seperti itu. Dokter Han membuat jantungku hampir melompat keluar. Rasanya sangat malu dan takut. Dia memiliki aura yang mempesona dan di satu sisi dia juga memiliki aura mematikan," ujar Ae Jin.
"Lebih baik kamu cari saja Dokter lain kalau begitu," ucap Yuri.
***
Mansion mewah milik Dokter Han Jang Woo terletak di kawasan elite, dikelilingi oleh taman-taman yang rimbun dan indah. Sebuah kolam renang besar menghiasi halaman belakang rumah, dengan pemandangan langit senja yang begitu mempesona. Langkah Dokter Han begitu tergesa-gesa saat memasuki mansion tersebut, terlihat jelas kelelahan di wajahnya setelah seharian beraktivitas di rumah sakit.
Dokter Han menghampiri pub mini yang terletak di sudut ruang keluarga, mengepakkan dasi dan melonggarkan kancing bajunya. Dengan tangan gemetar, ia menuangkan minuman beralkohol ke dalam gelas bening, lalu meminumnya sekaligus tanpa ragu. Setelah menghabiskan segelas minuman, pria itu menghela napas lega sebelum merogoh dompetnya. Dari dalam dompet tersebut, Dokter Han mengeluarkan selembar foto yang begitu berarti baginya.
Fotonya bersama seorang wanita cantik yang memiliki senyum manis dan tatapan mata yang hangat. Dokter Han menatap foto tersebut dengan tatapan fokus dan dalam, seolah-olah ia tengah berbicara dengan wanita dalam foto itu. Diiringi rasa rindu yang memenuhi hatinya, air mata mulai mengalir di pipi Dokter Han, mencoba merasakan kehadiran wanita itu meski hanya dalam kenangan.
"Aku akan membuatmu kembali, Walau apa pun yang terjadi," ucap Jang Woo yang menyentuh cincin yang melingkar jarinya.
Tempat tinggal Ae Jin.
Rumah sederhana yang terdapat dua kamar dan ruangan tidak begitu luas. Terlihat dua wanita sedang berdebat. Seorang wanita paruh baya adalah ibu dari Ae Jin.
Wanita itu tidak berhenti memukul putrinya karena melarikan diri dari rumah sakit.
"Mama, hentikan! Jangan pukul aku lagi! Nanti aku bisa cepat mati!" pinta Ae Jin yang berusaha menghindar pukulan ibunya.
"Kenapa kamu lari lagi, ha? Apakah harus aku sendiri yang mengantarmu ke ruangan operasi." Suara ibunya meninggi dan kesal.
"Ma, dia adalah dokter pria, Aku tidak mau," jelas putrinya yang mencoba menghentikan ibunya.
"Mama tidak peduli lagi, dia pria atau wanita. Yang penting tumormu segera dikeluarkan. Kalau tidak, percaya atau tidak kamu akan kehilangannya. Apa kamu mau kehilangan sebelah dadamu?" ucapan ibunya menakuti putrinya.
"Tentu saja aku tidak mau," jawab Ae Jin.
Besok aku yang akan membawamu sampai ke hadapan dokter itu, Aku akan menunggu kamu diperiksa. Bila perlu aku juga akan menunggu di ruangan operasi. Pihak rumah sakit menelpon memintamu bekerja sama. Besok harus ke sana lagi," kata ibunya dengan nada tegas.
"Ma, Apa bisa cari rumah sakit lain atau...cari dokter lain saja!" Pinta Ae Jin.
"Setelah operasi, Kamu tidak perlu lagi berjumpa dengan dokter itu. Untuk apa kamu harus malu seperti ini. Pergi tidur sana dan jangan berulah lagi," kata ibunya dengan nada tinggi.
"Galak sekali! Kenapa ibu-ibu kalau mengamuk menjelma menjadi harimau," gerutu Ae Jin yang bangkit dan menuju ke kamar.
"Hei, siapa harimau, Ha?" teriak ibunya kesal.
"Ibu tetangga," jawab Ae Jin yang langsung masuk ke kamarnya.
"Huff...menakutkan sekali," gumam Ae Jin yang menutup pintunya kembali.
Keesokan harinya.
Ae Jin dibawa ibunya kembali ke rumah sakit itu. Ia harus inap di sana tanpa bisa menolak permintaan ibunya yang begitu tegas terhadap dirinya.
"Obati dirimu di sini dan jangan coba-coba melarikan diri lagi!" kata ibunya dengan sedikit mengancam.
"Iya, Iya," jawab Ae Jin dengan terpaksa. Ia duduk di sofa kamarnya yang dia gunakan sebelumnya.
"Suster, Tolong awasi anak ini, Kalau dia kabur lagi ikat saja kaki dan tangannya. dan pastikan dia patuh dan diperiksa dokter!" pesan ibunya pada Suster.
Suster dengan tersenyum dan menjawab," Baik, Nyonya."
"Mana ada orang tua yang menyuruh orang lain mengikat anaknya sendiri," ujar Ae Jin dengan kesal.
"Kalau kamu masih tidak patuh, Jangankan ikat. Aku juga akan meminta mereka mengurungmu di kamar," jawab ibunya dengan tegas.
"Mama selalu saja begini," gerutu Ae Jin.
Tidak lama kemudian Dokter Han melangkah masuk ke kamar itu dengan jubah dokternya.
Mendengar suara langkah kaki ibu Ae Jin menoleh ke arah dokter itu. dalam seketika mata wanita itu membulat besar menatap Dokter Han yang menyapanya.
"Saya adalah Dokter Han," sapanya dengan senyum ramah.
Bukannya ditanggapi, ibu Ae Jin malah gemetar sehingga kedua kakinya berlutut di hadapan pria itu.
"Ma, Walau dokter ini tampan, Kamu tidak perlu sampai berlutut di hadapannya," bisik Ae Jin di telinganya.
Ibunya hanya diam dan gemetar seakan sedang ketakutan yang meliputi dirinya. kedua tangannya gemetar dan terdiam tanpa kata-kata.
"Dokter Han yang ingin memapah ibunya Ae Jin yang masih berlutut di sana, Akan tetap wanita itu menolak dengan cara sopan.
"Aku...aku bisa berdiri, tidak apa-apa..." ucap ibunya yang gugup.
"Nyonya Kim, Apakah Anda baik-baik saja? Wajah Anda pucat?" tanya Dokter Han dengan penuh perhatian.
Ae Jin memperhatikan ibunya yang tiba-tiba tampak pucat dan lemas. "Mama, kenapa wajahmu tiba-tiba pucat? Apakah sakit? Bagaimana kalau minta Dokter Han memeriksamu dulu?" tanya Ae Jin khawatir, sambil memapah tubuh ibunya yang lemah.
Ibu Ae Jin mencoba menahan rasa pusing yang melanda, sambil merenung dalam-dalam. "Kenapa dia sangat mirip dengan orang itu, Apakah aku salah mengenal orang atau bagaimana? Tapi, dia terlihat tidak jahat dan baik. Sementara orang itu terlihat sangat kejam dan tanpa cinta," gumam ibu Ae Jin dalam hati, merasa bingung dan takut.
Dengan susah payah, ibu Ae Jin berusaha berdiri meskipun kakinya masih lemas dan gemetar. Ketakutan yang mendalam melanda dirinya saat menatap wajah Dokter Han yang berdiri di hadapannya. Wajah itu begitu mirip dengan sosok yang pernah dia temui. namun aura yang terpancar darinya berbeda.
"Aku tidak sakit, Mungkin hanya kurang tidur," jawab ibunya dengan alasan.
"Ma, Aku akan inap di sini, Sampai hasil laporan keluar. Bagaimana kalau Mama pulang istirahat dulu. Jangan bekerja hari ini!"
"Iya, Mama akan pulang, kamu jangan berulah lagi dan bekerja sama dengan dokter," kata ibunya.
" Nyonya Kim, Jangan khawatir! Tumor jinak tidak akan membahayakan pasien kalau cepat ditangani," kata Dokter Han yang menyakinkan ibu pasiennya.
"Aku percaya pada dokter," jawab ibu Ae Jin yang terpaksa senyum.
Tidak lama kemudian Oh Ju, ibunya Ae Jin beranjak dari kamar putrinya. ia berjalan sambil mengingat kembali Dokter Han yang dia temui tadi. Raut wajah wanita itu masih terlihat cemas dan takut. Tidak ada yang tahu apa yang ada dipikiran wanita berusia lima puluhan itu.
"Kalau Dokter itu adalah orang yang sama, Bagaimana dengan nasib Ae Jin nanti? Tapi, dia sangat berbeda sekali. Apakah di dunia ada orang yang sangat mirip wajahnya," gumam Oh Ju yang cemas.
Seorang suster datang menghampiri Oh Ju dan menyapanya," Nyonya Kim."
"Suster, ada apa?" tanya Oh Ju.
"Hari ini obat Anda sudah bisa diambil, Jangan lupa rutin minum obatnya!" pesan suster itu.
"Iya, Sebentar lagi aku akan mengambilnya," jawab Oh Ju.
"Nyonya, Apakah suami Anda mengidap penyakit yang sama?"
"Suami?"
Suster berbicara dengan nada lembut dan bersahabat kepada Oh Ju, menjelaskan tentang penyakit yang menurun kepada anak-anak dari orang tua yang mengidap penyakit yang sama.
Wajah Oh Ju tampak serius memperhatikan penjelasan Suster tersebut. "Iya, ketika kedua orang tua mengidap penyakit yang sama, Maka, anak-anak berkemungkinan besar juga akan mengidap penyakit yang sama dengan orang tuanya. Penyakit Huntingon tersebut akan menurun ke anak-anak pasien," jawab Suster. Oh Ju mengangguk pelan, meresapi setiap kata yang diucapkan Suster.
"Ternyata begitu," jawab Oh Ju dengan suara lirih.
Merasa prihatin, Suster menawarkan saran kepada Oh Ju. "Bukankah putri Anda rawat di sini? Bagaimana kalau kesehatannya diperiksa juga?"
Namun, Oh Ju langsung menolak dengan tegas. "Tidak perlu! Dia baik-baik saja selama ini. Hanya tumor yang menyulitkan hidupnya. Sisanya baik-baik saja," jawab Oh Ju.
"Kenapa harus diperiksa, Aku saja tidak menikah apa lagi punya anak," gumam Oh Ju dalam hati.