"Maaf, saya buru-buru Pak. Ada pasien yang mengalami pendarahan, yang harus segera mendapat tindakan." Uma segera berlalu dan meninggalkan aku begitu saja.
Uma pasti malas menjawab pertanyaan basa basiku, karena setelah bercerai, kami benar-benar putus komunikasi. Tak ada lagi nafkah untuk anak-anak, atau sekedar perhatian, aku sudah menelantarkan mereka.
Aku bahkan tidak menyerahkan dia secara baik-baik kepada orang tuanya, seperti ketika aku meminangnya untuk menjadi istriku. Aku tidak pernah menengok anak kami, atau sekedar menanyakan kabarnya.
Bahkan aku tak tahu bagaimana wajah anak kedua ku. Bagiku mereka sudah mati, meski terkadang terselip rasa rindu, tapi ego sebagai lelaki menahanku.
Kupandang punggung mantan istriku itu, hingga menghilang di ujung lorong rumah sakit. Jujur ada getaran aneh dalam dadaku, saat bertemu dengannya tadi. Apa masih ada cinta untuknya? Entahlah, yang jelas dari tiga pernikahanku, dialah istri terbaik yang pernah kupunya.
"Kok berhenti Mas? Kan Mas Afnan tahu sendiri, menjadi dokter itu impianku sejak kecil," protes Uma, saat ku-utarakan keinginanku agar dia berhenti bekerja.
"Lihatlah perut buncitmu itu, tak lama lagi akan lahir buah hati kita. Aku tidak mau anakku diasuh oleh pembantu," ucapku berlasan.
"Tapi tugas dokter itu mulia Mas, banyak dibutuhkan orang, banyak menyelamatkan nyawa manusia," sanggah Uma, bulir bening mulai menetes di pipinya.
"Setinggi apapun pekerjaanmu, tugas utamamu adalah mengabdi pada suami, dan itu lebih mulia dibanding kamu mengurus orang lain," ucapku dengan nada dingin.
Uma tertunduk, sesekali dia mengusap sudut matanya. Aku tahu dia menangis, tapi berusaha tegar di depanku.
"Kalau Mas Afnan memintaku berhenti, bicaralah pada Bapak. Karena menjadi dokter bukan hanya impianku, tapi impian keluargaku juga, Mas," lirih Uma, tanpa berani menatapku.
Bapak mertuaku Dokter spesialis penyakit dalam, sedangkan ibu mertuaku Dokter spesialis anak. Wajar kalau Uma ingin menjadi seperti kedua orang tuanya.
Dan di sinilah aku sekarang, di rumah orang tua Uma.
"Kalau berhenti total, Bapak kurang setuju. Bagaimanapun juga, Uma satu-satunya harapan kami, untuk meneruskan tugas kami menolong sesama, dengan menjadi dokter.
Kalau dia berhenti, ilmu yang sudah dia pelajari akan sia-sia, dan impian kami untuk punya penerus akan sirna," ucap mertuaku merasa keberatan, saat aku memberi tahu Bapak, bahwa Uma akan mengundurkan diri dari rumah sakit dia bekerja, untuk fokus menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya.
"Saya hanya tidak ingin, Uma lalai pada tugasnya sebagai seorang Ibu dan istri, Pak. Kalau dia masih tetap bekerja. Kan ilmunya masih bermanfaat untuk keluarga kecil kami," ucapku meyakinkan.
"Hhh," Bapak menghela nafas, kemudian berkata, "Kalau saja aku masih punya hak mengaturnya, aku tidak akan membiarkan Uma, berhenti menjadi dokter.
Kamu tahu sendiri, Kakak Uma, lebih memilih menjadi pengusaha, dan Uma yang sudah susah payah menempuh pendidikan, dengan prestasi yang membanggakan, kini harus berhenti demi mengabdi pada suami.
Jujur Bapak kecewa, tapi apa mau dikata, ini sudah menjadi pilihan kalian berdua, semoga ini bukan keputusan yang keliru," pungkas Bapak.
Kulirik Uma yang duduk di sampingku, dia hanya diam menundukkan kepala. Aku tahu dia merasa berat melepas karir yang sudah lama diimpakannya, tapi demi aku rela melakukannya.
Waktu itu Uma baru enam bulan menikah denganku, dan sedang hamil lima bulan. Dengan alasan kesehatan janin, aku minta Uma berhenti kerja. Meski awalnya dia keberatan, toh akhirnya dia manut juga.
Sejak itu kegiatan Uma, hanya seputar dapur sumur dan kasur, tak ada lagi jas putih dan stetoskop yang menghiasi tubuhnya.
Dia mulai bisa menikmati perannya sebagai ibu rumah tangga, dia juga tidak keberatan merawat ibuku yang sakit-sakitan. Dia begitu telaten, tak salah aku menikahinya.
Sebenarnya, ada alasan lain kenapa aku melarang dia menjadi dokter. Uma itu cerdas dan berprestasi, baru saja lulus tapi langsung ditarik untuk bekerja di RSUD, dia juga dipromosikan untuk mendapat beasiswa untuk mengambil spesialis.
Aku tak ingin tersaingi oleh istriku sendiri, aku akan merasa minder kalau karirnya melesat sementara aku masih begini-begini saja. Aku takut kalah pamor.
"Mas, kok malah bengong di situ! Ayo pulang!" ucapan Sandi seketika membuyarkan lamunanku.Istri ketigaku itu menatapku penuh selidik.
"Eh, i--iya, sudah dapat obatnya?" ucapku gugup, takut ketahuan Sandi aku memikirkan mantan istriku.
"Sudah, Mas. Lihat siapa sih?" tanya Sandi penasaran, dia melongok ke arah lorong, di mana aku menatap kepergian Uma tadi.
"Nggak ada, ayo pulang!" ajakku, lalu segera meninggalkan ruang tunggu.
Sepanjang perjalanan pulang, fikiranku masih tertuju pada Uma, wanita yang kuceraikan lima tahun yang lalu.
Rupanya setelah bercerai dia kembali mewujudkan mimpinya, menjadi dokter seperti cita-citanya dulu. Tak kusangka secepat itu dia sampai pada posisi se-prestis ini.
"Aku tuh pengen banget jadi dokter anak, kayak Ibu, Mas. Kayak nggak tega lihat anak-anak kehilangan keceriaannya karena sakit, kepengen segera menolongnya agar dia sembuh, terus bisa main lagi," ucapnya dengan mata berbinar, waktu kami dalam perjalanan pulang ke rumahnya, saat itu kami masih pacaran.
Tapi jalan nasib merubahnya menjadi dokter kandungan, entah apa alasan yang melatar belakanginya? Ingin kutanyakan pada Uma secara langsung, tapi apa dia mau menjawab, bertemu denganku saja dia pura-pura tidak kenal.
"Mas mikirin apa sih? Perasaan dari tadi bengong mulu deh? Di ajak ngomong nggak nyahut!" seru Sandi, membuatku terpaksa berhenti memikirkan Uma.
"Eh iya, kamu ngomong apa tadi?" Jelas Sandi protes, biasanya kami sering bercanda atau ngobrol apa saja, meski nyetir.
"Mas Afnan naksir dokter kandungan tadi ya?" tuduh Sandi.
"Naksir gimana? Orang mukanya nggak keliatan gitu?" sanggahku.
"Meski pakai masker, aura kecantikannya tetap terpancar lho, iya kan Mas?" sahut Sandi.
Uma memang cantik, Sandi. Bukan hanya wajahnya yang cantik, tapi hatinya juga cantik. Aku yakin kamu bakal cemburu berat kalau tahu Uma adalah mantan istriku.
"Semua wanita cantik," jawabku asal.
"Tapi tetep aku yang paling cantik, iya kan?"
"Iya, kalau nggak cantik mana mau Mas menikah denganmu." ku elus puncak kepala Sandi, dan wanita yang kunikahi setahun lalu itu pun menyenderkan kepalanya di bahuku.
Meski secara fisik Sandi jauh lebih menarik dari Uma, tapi bagiku Uma tetap lah wanita sempurna yang pernah kujumpa.
Ah Uma, andai kamu tahu ngenesnya nasibku setelah bercerai denganmu.
Bersambung....
Kira-kira nasib sengenes apa sih? Suami egois ini? Baca terus kisahnya ya?
Ah Uma, andai kamu tahu betapa ngenesnya hidupku setelah bercerai denganmu.
Lihat saja, pagi-pagi bukannya bangun menyiapkan sarapan untuk suami, Sandi malah asik molor.
"Dek, bangun! Sudah siang!" Ku guncang-guncang kaki Sandi, yang masih terlelap dalam mimpi.
"Dek, kamu belum solat subuh lho!" sekali lagi ku bangunkan Sandi.
Tapi Sandi tak bergerak sama sekali, tak memberi respon meski ku bangunkan berungkali, begitulah istriku ini, kalau sudah tidur seperti orang mati.
Tak pernah ada sarapan pagi, atau menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya, aku ini beristri tapi rasanya seperti duda saja. Apa-apa melakukan sendiri.
Gontai ku langkahkan kaki ke dapur, terpaksa aku membuat telur dadar sendiri, nasi kemarin yang dimasak Bi Murni masih ada di magic com. Bosan tiap hari hanya sarapan roti, karena Sandi tak pernah mau masak.
"Sebelum menikah dulu, Kan aku sudah bilang Mas, aku mau jadi istrimu, melayani urusan ranjangmu, tapi urusan dapur dan sumur aku tidak mau tahu.
Bisa rusak riasanku kalau masuk dapur, badanku bau asap, tanganku kasar karena pegang cucian, ogah aku Mas!
Lagian sudah ada Bi Murni, biar dia yang mengerjakan semua, buat apa bayar mahal-mahal, kalau aku masih ikut mengerjakan juga.
Aku ini istrimu, Mas. Ratu dalam rumah tanggamu, bukan babu!" ketus Sandi, tiap aku protes karena dia tidak pernah mau masak.
Ucapanku yang singkat selalu dibalas dengan serangkaian pembelaan, yang menurutku nggak masuk akal.
Sebelum menikahi Sandi, dia memang sudah minta, untuk tidak berkutat dengan urusan dapur, dan aku menyetujui, karena sudah kadung jatuh cinta dengan, kecantikannya yang sempurna.
Tapi, masak hanya membuat sarapan untuk suaminya saja dia tidak mau? Di sini memang ada Bi Murni pembantu kami, tapi dia datang jam delapan pagi dan pulang jam empat sore.
Bahkan bekas makan malam kami pun, belum Sandi bereskan, nunggu Bi Murni katanya. Kupikir wanita secantik dia nggak tahan lihat rumah berantakan, dapur berserakan, nyatanya?
Aku jadi kembali teringat Uma, wanita berparas ayu yang pernah menjadi istriku selama enam tahun itu.
Sebelum azan subuh berkumandang, dia selalu membangunkanku. Usai mandi pakaian kerja sudah tersedia rapi, sebelum berangkat kerja, sarapan sudah tersedia.
"Sarapan dulu Mas, ada sup ayam kampung kesukaaanmu," ujar Uma seraya memamerkan senyum manisnya.
Setiap pagi, Uma selalu menyediakan sarapan untukku dan ibuku, yang kala itu masih hidup. Semua masakan yang Uma sediakan selalu memenuhi kriteria makanan sehat, dengan gizi seimbang, maklum dokter.
"Mmh..., baunya harum banget, kayaknya sedap ini." Aku menghirup uap yang mengepul dari mangkuk, aroma masakan Uma memang selalu menggugah selera.
"Dijamin enak pokoknya, kan masaknya pakai cinta Mas," ucapnya manja.
Aku ini orangnya kaku, tak pandai merangkai kata mesra. Rasanya canggung, dan aneh menurutku. Tapi Uma dengan entengnya mengucap kata-kata gombalan padaku, hingga membuat hari-hariku terasa lebih berwarna.
Uma...Uma...sejak bertemu denganmu hari itu, aku jadi ingat masa lalu kita, andai saja waktu bisa diputar kembali, aku ingin memperbaiki kesalahanku, memulai semua dari awal dan tidak akan mengabaikanmu lagi.
Kuambil handuk dan bergegas mandi, bukankah hidup harus tetap berjalan? Percuma menyesal, semua sudah terlanjur terjadi, meratap tidak akan membuat Uma kembali padaku.
Kulihat Sandi masih bergelung dengan selimut, dia tidak merasa terganggu sama sekali dengan aktifitasku di kamar ini. Entah bagaimana cara mertuaku dulu mendidik anak perempuannya ini.
Sampai aku berangkat kerja, Sandi belum bangun juga. Tak ada ritual cium tangan, apalagi cium pipi kanan kiri, seperti saat Uma menjadi istri.
Aku hanya bisa mengelus dada, memikirkan kelakuan Sandi. Kok ada perempuan model begitu? Tak habis pikir aku, ya beginilah akibatnya kalau milih istri hanya karena kecantikan lahiriahnya saja. Dalamnya Zonk!
Kadang terbit sesal, kenapa aku bisa menikahi wanita seperti dia? Selama setahun menikah dengan Sandi, aku merasa tidak bahagia. Sebagai istri tidak bisa melayaniku sepenuhnya, dia hanya bisa dandan, shoping dan jalan-jalan.
"Yakin, mau menikahi wanita seperti Sandi?" tanya Mbak Yeni, sepupuku sekaligus atasanku di kantor.
Perusahaan tempatku bekerja adalah, milik Om Rusdi, ayahnya Mbak Yeni. Sedangkan Sandi bekerja sebagai staf administrasi. jadi Mbak Yeni, juga kenal Sandi.
Kedua orang tuaku sudah meninggal, Mas Fatah kakakku, dia anggota TNI dan sedang tugas di daerah perbatasan. Dan Mbak Nunik kakak perempuanku, menikah dengan orang Sumatra, dan sekarang menetap di sana.
Kupikir hanya meminang saja, biarlah Mbak Yeni dan suaminya yang menjadi wakil keluargaku, saat menikah nanti baru kakak-kakakku harus hadir.
"Memang kenapa Mbak?" tanyaku penasaran.
"Kamu nggak lihat dandanannya?" jawab Mbak Yeni, balik nanya.
"Iya, dia modis pandai merias diri, bukankah itu modal untuk menyenangkan suami?" jawabku heran.
"Modal cantik paras saja nggak cukup Afnan, kamu sudah menyelidiki latar belakang keluarganya?" tanya Mbak Yeni lagi.
"Sudah, dia tinggal di kosan, orang tuanya cerai, dan masing-masing sudah berkeluarga."
"Kamu sudah bertemu kedua orang tuanya?"
"Baru bertemu ayahnya, memang kenapa sih, Mbak? Aku jadi bingung."
"Afnan, kamu sudah pernah gagal dua kali. Harusnya kamu hati-hati dalam memilih istri, kalau tidak ingin gagal untuk ketiga kalinya.
Saranku, selidiki dulu bagaimana calon istrimu sebenarnya, pergaulannya, gaya hidupnya, bahkan kalau perlu masa lalunya.
Dan satu lagi, apa kamu tidak merasa risih dengan penampilannya yang terlihat "berani" itu?"
"Soal penampilan, aku tidak mempermasalahkannya. Soal masa lalu, aku tidak perduli, aku juga punya masa lalu Mbak. Lagi pula aku sudah terlanjur janji pada Ayah Sandi, akan membawa keluargaku untuk meminangnya."
"Hhh..., terserah kamu Af. Orang jatuh cinta memang susah dinasehati. Yang menjalani kamu, semoga ini pernikahan terakhirmu," pungkas Mbak Yeni.
Dan sekarang aku baru sadar, ucapan Mbak Yeni benar, paras saja tidak cukup membahagiakan.
"Citt...!" Aku menginjak rem tiba-tiba.
Sialan! Gara-gara melamun aku sampai tidak melihat ada anak kecil menyebrang jalan, buru-buru aku menepikan mobilku, dan menghampiri bocah lelaki yang terduduk di aspal itu.
"Adek nggak apa-apa?" tanyaku panik.
"Nggak pa-pa Om, tapi celana bagian lututku sobek," ucap bocah itu, dia meringis menahan sakit, sambil menunduk mengelus lututnya yang sedikit lecet.
"Ayo ikut Om ke mobil! Biar lukanya Om obati."
"Nggak usah Om, bundaku dokter, nanti biar Bunda aja yang obatin."
"Deg!" tiba-tiba aku merasa berdebar, ketika anak itu menyebut, kalau bundanya adalah seorang dokter.
Aku menatap wajah bocah itu, aku merasa tidak asing dengan wajahnya. Dia mirip dengan..., apa mungkin?.
Lalu pandanganku beralih ke papan nama di dada bajunya "Muhammad Alfarizi Baadillah," Nama itu....
Bersambung....
Penyesalan memang selalu belakangan, Om. Kalau di depan, namanya pendaftaran.