"Inilah doaku, yang kupanjatkan di setiap salatku, di setiap Tahajudku, satu-satunya hal yang kupinta kepada Tuhan-ku. Kuharap kamu menjadi suami yang tidak adil, kuharap kamu menjadi suami yang dzalim, kuharap pesonaku yang pudar membuatmu berpaling, hilang rasa cintamu karenanya dan kamu hanya mencintai istri keduamu. Agar halal bagiku untuk menggugat cerai kamu, agar aku bisa meninggalkanmu. Tapi sebagai suami kamu terlalu sempurna. Heran, kenapa cintamu padaku begitu kuat, seakan kamu tidak pernah mendua."
-Doa Istri Pertama-
>><<
POV Annisa
Inilah doaku, sebagai wanita. Sebagai istri pertama. Egois tidak egois, atau bahkan kurang ajar, tapi inilah doaku sebagai seorang istri.
"Mas, kuharap kamu menjadi suami yang dzalim."
Aku berbisik, saat melihat suami yang tadinya sangat kucintai bersanding dengan wanita lain. Mataku memerah, buliran air bening membasahi bingkai mataku. Kedua tangan mungilku saling mencekram satu sama lain. Sakit, sangat sakit. Luka ini begitu perih.
Tadinya, dia menjanjikan keadilan. Tapi aku tidak yakin, sekalipun iya, aku tidak mau memercayainya.
Doaku tetap sama,
"Mas, kuharap kamu menjadi suami pendusta."
Tatapanku mengintai sepasang pengantin baru yang bergandengan, melalui pijakan karpet merah, disambut begitu meriah. Mataku semakin basah, bibirku berbisik.
Dulu, kupikir pernikahan kami di masa lalu akan menjadi satu-satunya untuknya, tapi tidak. Sekarang, secara nyata pernikahan keduanya terpampang di hadapanku.
"Mas, kuharap kamu akan memberikan ketidakadilan."
"Mas, kuharap kamu terbuai oleh pesona istri keduamu, melupakanku, mengabaikanku dan membuatku terkatung-katung."
Aku tidak terima. Dia mendua, secara halal. Aku terluka, tapi dia tidak berdosa.
Jadi, kuharapkan ketidakadilannya atau kedzalimannya, agar dia berdosa atas luka yang dia torehkan sekalipun lebih mendalam.
Andai ancamanmu tidak menakutiku, di hari pertama dia meminta izin padaku untuk menikah lagi ingin aku ajukan gugatan cerai. Tapi aku tidak mau melibatkan keluargaku dalam urusan rumah tanggaku.
Aku takut untuk memutuskan karena kekuasaanmu yang berhasil mengendalikan keliargaku.
Jujur Mas, aku menyesal menjadikanmu kepala rumah tanggaku.
"Mas, kuberdoa semoga kecantikan istri keduamu membuat wajah menuaku terbuyarkan dari kepalamu."
Aku ingat, ungkapan cintanya yang masih sama. "Aku mencintaimu."
Omong kosong, mengingat kalimat buaiannya, dadaku sesak. Tentu saja dia berbohong. Tapi sekali lagi, kedzaliman atas kebohongan yang dia utarakan, tak dicatat dosa manapun untuknya. Karena jika aku membohonginya ataupun dia membohongiku, kami sama-sama tidak berdosa.
Aku memerhatikan wajah semringahnya dari jauh. Wajah tirusnya yang putih, hidungnya yang tinggi dan lurus, dan segaris senyum manisnya yang dulunya selalu memanjakan mataku.
Buliran air bening berjatuhan saat melihat lengannya mengetat di pinggang istri barunya. Kepalaku menunduk.
Mas, ini doaku.
"Semoga, kamu menjadi suami yang dzalim." Dan aku bisa menggugat cerai padamu dan berpisah darimu. Agar luka halal ini bisa dihapus.
Hinanya diriku berharap dan berdoa, lelaki setaat dan sesaleh dirimu jatuh pada dosa yang menjanjikan neraka?
.
.
Apakah Tuhan akan mendengarkan doaku? Apa yang kudoakan selalu sama. Doa yang buruk, seperti mengumpat suamiku sendiri.
Ibadah kuperbanyak dari hal rutin yang biasanya kulakukan, kubentangkan tangan. Mengucap nama suamiku, dan mengharapkan kedzalimannya. Tidak keadilannya. Dan kelalaiannya.
Tanpa malu, aku berdoa kepada Tuhan-ku seperti itu. Di setiap aku bangun Tahajud, dengan kaki kelu sampai Subuh, doaku masih sama.
Mas, semoga kamu menjadi suami yang dzalim.
Tak ada yang lain. Aku tak mengharapkan kamu mempertahankanku, ataupun menceraikan istri keduamu. Aku hanya mengharapkanmu menjadi suami yang dzalim. Agar luka halal yang kamu torehkan, menjadi sumber dosa untukmu. Agar ketidakadilanmu yang kudoakan, bisa menghalalkan diriku untuk pergi darimu.
Sebagai wanita yang lemah, aku tak bisa melakukan apapun selain berdoa. Tuhan mungkin tidak akan mendengarkan doaku atau bahkan mengabaikannya. Tapi sebagai istri pertama yang tak berdaya setelah dimadu suaminya, hanya satu hal yang bisa kulakukan. Yaitu berdoa.
Mengharapkan kedzalimanmu. Agar aku tidak bisa melakukan tindakan lain selain itu.
Setelah resepsi pernikahan Mas Hamza dengan Aina menjelang malam, apa yang akan mereka lakukan dan terbayang di kepalaku, kugantikan dengan dzikir.
Aku harus membuyarkan bayanganku yang membuat kepala dan hatiku panas, jemariku yang menggilir batu tasbih gemetar. Saat kubentangkan tangan hingga larut, doaku masih sama.
Mas, semoga kamu menjadi suami yang dzalim.
Ini ketidakadilan bagiku saat aku terluka, menangis dan tertahan sampai tidak bisa pergi, tapi kamu tidak berdosa untuk itu. Sempat menidurkan diri hanya setengah jam, kulanjutkan dengan Tahajud. Mendoakan hal yang sama, berdiri tegak, beribadah, terus sampai kakiku kelu.
Setelah pergelangan kakiku sakit, aku bersujud. Menangis, berdoa kepada Tuhan. Bukan mengharapkan ketabahan ataupun kesabaran dalam menempuh rumah tangga ini. Tapi ... Mas, semoga kamu menjadi suami yang dzalim. Tangisku berubah menjadi batuk parau di atas sajadah. Ketukan pelan di pintu, saking lirih suaranya aku tidak menyahut karena tidak mendengar.
Pintu yang lupa kukunci didorong, sosok itu terenyuh. Melangkah, mendekatiku dan mengusap punggungku. "Nisa ...." panggilnya, dengan suara hangatnya. Aku mengangkat kepala, berhenti membisikkan doa di atas sajadah. Mata merahku menatap Mas Hamza yang berjongkok di samping tubuhku, matanya berair.
Tangannya beralih ke pipiku mengusap pipi kusamku, "maafkan Mas, ya sayang." Kulihat sudut bibirnya bergetar. Dia pikir, aku beribadah berulang kali, bersujud, berdoa sampai larut, mendoakan ketabahan hati dan kesabaran diri atas pernikahan ini untuk bertahan?
Tidak, Mas. Aku hanya mengharapkan kedzalimanmu agar aku punya alasan untuk pergi.
Aku hanya mengangguk, menegapkan punggung dan mengusap sudut mata dengan kain serat mukenah.
"Kenapa Mas di sini?" Tanyaku, sekilas melirik wajah teduhnya di bawah gelapnya ruangan yang memang kusengajakan untuk mematikan lampu terlebih dahulu sebelumnya. "Bagaimana dengan Aina?"
"Tertidur di kamar." Jawaban lirihnya terdengar seperti merasa bersalah kepadaku.
Dari dekat, aku bisa mencium aroma Aina di tubuh Mas Hamza. Napasku sempit.
"Pergilah, Mas," pintaku.
"Kamu mengusirku?" Tanya Mas Hamza, seperti tersinggung.
"Jangan meninggalkan Aina, ini tidak adil untuknya."
Aku harap aku yang akan menjadi pihak yang tersakiti, Mas. Cukup dzalimi aku dan gilai istri barumu yang cantik itu.
Mas Hamza menghela napas.
"Aku masih mencintamu, Nisa. Sekalipun ada Aina di dalam pernikahan kita, aku tetap mencintaimu." Tangan besarnya yang lembut menyentuh pipiku.
Aku hanya mengangguk. Tapi, Mas. Aku sudah tidak mencintaimu.
Tapi, Mas.
Aku sudah tidak mencintaimu.
Dan kuharap pesona Aina berhasil membuatmu lupa padaku. Saat wajah tampannya mendekat dan memiring, aku refleks mendorong bahunya menjauh.
"Maaf, Mas ...." tolakku, halus. Aku meringis.
Tak disangka, tubuhnya memaksa untuk merapatkan diri. Mengungkung tubuhku yang dibalut mukenah.
Sontak, kutampar wajahnya setelah dia berhasil mengincar satu sentuhan di bibirku. "Maaf Mas ...." ulangku lirih.
Tanganku memerah, berikut pipinya yang kutampar. Mas Hamza hanya menoleh.
"Tunggu tiga hari, setelah aku bermalam dengan Aina. Kamu jangan menolak."
Tungkai kakinya berdiri tegak, lalu keluar dari kamarku. "Tapi perlu kuulangi, Annisa. Aku masih sangat mencintaimu, bahkan satu persen 'pun perasaan ini tidak menyamai bahkan tidak ada untuk Aina. Tapi demi kebaikanku di akherat nanti, aku akan bersikap seadil mungkin," ujarnya di ambang pintu lalu pergi.
Aku Annisa, dari namaku artinya wanita. Identik dengan sosok yang rapuh, mudah tersakiti, perasa--layaknya seorang wanita. Sekalipun kamu mencintaiku, kamu mengembel-embeliku dengan keadilan yang kamu janjikan.
Sebagai wanita yang terluka, doaku tetap sama, Mas.
Semoga kamu menjadi suami yang dzalim.
.
.
Aku usap kepala anak kecil manis itu. Di sebuah panti asuhan yang sering kukunjungi di kota seberang, aku memang memiliki rutinitas untuk berkunjung dan memberikan sumbangan.
Kadang mengundur waktu untuk berceloteh dengan mereka dan bermain bersama-sama. Biasanya, aku pergi bersama Mas Hamza, sumbangan juga menggunakan uang suamiku.
Tapi kali ini aku datang sendiri dan menggunakan uang hasil jerih-payahku sendiri. Biarkan dia sibuk pada istri barunya, tak apa jika dia lupa dan mengabaikanku. Karena memang itu yang kuharapkan.
Jika dia tidak datang menyusulku, sebuah langkah awal menjadi suami yang dzalim, bukan?
"Ah, ada anak baru," sambutku saat melihat seorang bocah lelaki yang malu-malu. Kusodorkan sebuah batang cokelat yang diterimanya dengan senyum malu-malu yang manis.
"Terima kasih, Tante," kuacak lembut rambut cokelatnya. Perpaduan di pahatan wajahnya begitu beragam, seperti ada darah orang western yang mengalir di tubuhnya. Aku kagum pada hidung lurusnya yang begitu mancung dan mata cokelatnya yang berbinar.
"Namanya William," seorang pengurus panti berjalan mendekati kami. Aku mendongak, melirik lelaki itu dan tersenyum, membalas senyumnya yang manis.
"Hai Willy," sapaku dan membuka telapak tangan. Mengajak bertos ria. William menepuk telapak tanganku dengan tangan mungilnya. Aku yang gemas, mencium pipinya yang berisi.
"Mbak, datang sendiri?"
Pengurus panti bertanya, dahinya mengerut. Tumben, pasti itu yang dia pikirkan. Biasanya aku datang bersama suamiku.
hanya mengangguk dengan ulasan senyum. Menggendong Willy dan membawanya ke pangkuanku, bocah itu lahap memakan cokelat pemberianku.
"Suami Mbak di mana, tumben banget, ya?"
Yoga bertanya, pengurus panti yang barusan. Hasil dari ceritanya, dia tinggal di panti ini sedari bayi. Umurnya lebih muda tiga tahu dariku, 28 tahun.
Awalnya dia mendapatkan pekerjaan bagus di luar negeri, tapi memilih kembali ke sini setelah pengurus panti sebelumnya yang mengurusnya sedari kecil meninggal dunia, Yoga hadir untuk menggantikan peran beliau, mengurus adik-adik mereka.
Aku hanya tersenyum, tidak menjawab.
"Yog," panggilku. Yoga yang dipanggil menyahut dengan gumaman.
Kuserahkan seamplop uang sumbangan, Yoga dengan canggung menerimanya.
Lirihan ungkapan terima kasihnya, kuberi anggukan.
Sebuah mobil mewah berhenti di depan halaman panti. Mas Hamza turun dengan wajah pias.
"Annisa," panggilnya dengan kerongkongan kering. "Kenapa kamu pergi tidak mengajakku?" Aku hanya mendongak dan melirik Yoga. Kudekati suamiku, "untuk apa menghiraukanku? Masih ada hari ini dan besok jatahmu bersama Aina 'kan?"
Matanya berembun, aku segera mengemasi barang-barangku. Hendak pulang, setelah berpamitan dengan Yoga dan anak-anak. Mas Hamza menarik lenganku, membawa tubuhku bertubrukan di dadanya. "Kuantar, pakai mobil."
"Aku bawa motor," kilahku, lalu menaiki motorku.
Kusalami punggung tangannya, lalu melaju pergi meninggalkannya. Diiringi dengungan motorku, di atas jalan raya gigiku saling menggertak.
Kuharap Mas Hamza terbuai oleh kecantikan istri keduanya. Tidak memerdulikanku. Tapi melihatnya begitu mencemaskanku, masih perduli padaku dan sepertinya benar-benar memegang janjinya ... kuharap Tuhan mendengarkan doaku.
Tidak, Annisa.
Ini baru di awal.
Pada dasarnya, semua lelaki itu sama saja.
Sesampainya aku di rumah, kuperhatikan wajah memesona Aina saat kami berpapasan. Umurnya masih 24 tahun, semampai dan sangat cantik. Bagaikan bidadari.
Aku tersenyum sinis. Mas Hamza tidak memberitahuku kenapa dia meminta izin untuk menikahi Aina?
Adakah dorongan lain selain hasrat kelakian? Tapi kutebak, pasti kecantikan yang begitu menggugah tersebut. Kuusap wajahku sendiri, memerhatikannya di cermin saat berada di dalam kamar.
Aku masih cantik ... di usiaku yang menginjak 31 tahun. Tapi jika dibandingkan dengan Aina, aku kalah jauh. Dia daun muda, tubuhnya masih begitu terawat.
Aku tidak siap. Hari keempat pernikahan Mas Hamza dengan Aina. Setelah itu, hari ini jatahku. Dalam jangka waktu tiga hari. Saat Mas Hamza mendatangiku, merapatkan tubuh bidangnya dan terpaut di wajahku. Diambilnya parfum, menyemprotnya ke bahu dan sela leherku, mengendusnya sedikit lalu tersenyum. Kembali dia merapatkan tubuh, hendak membaringkanku ke atas selimut.
Aku mendorong tubuhnya perlahan.
Mas Hamza terlihat heran.
"Setiap malam yang Mas jalani bersama Aina pasti terasa begitu menyenangkan, ya? Sebagai sepasang pengantin baru?"
Dahinya mengernyit, "ada apa, Annisa?"
"Aina pasti kesal, jika ada yang menganggu momen hari-hari awal pernikahan kalian. Jadi kupikir, Mas, aku harus rela memberikan tiga hari waktuku untuk Aina. Sudah sepantasnya bagi kalian, menikmati waktu berdua lebih lama. Mumpung, masih menjadi pengantin baru."
Untuk membujuknya, kuusap rahangnya yang keras. Beralih ke keningnya. Buliran keringatnya membasuh kulit tanganku. "Datangilah Aina, Mas."
Dan terbuailah oleh kemolekan tubuhnya, agar kamu lupa pada tubuhku yang selama ini tentunya membosankan bagimu, menjadi satu-satunya tubuh yang terbaring di bawahmu.
Apakah dia akan menolak?
Ada dua sisi pada diriku yang berharap dan saling bertolak-belakang.
Malah dia mengangguk. Aku kecewa, sekalipun ini yang kuinginkan. Aku mengharapkan kedzalimannya. Dan ini langkah awal kedzalimannya.
Lihat dia, memang sangat mengharapkannya.
Mungkin bayangan tubuh molek Aina membuatnya keburu nafsu. Dia menjauhkan tubuhnya dariku, lalu memakai kemejanya yang sempat ditanggali. Semerbak aroma parfumnya pergi menjauh, meninggalkanku yang mematung di atas ranjang.
Setelah ungkapan salam, dia pergi.
Air mataku menetes. Bibirmu bilang adil, mencintaiku. Tapi gerakan tubuhmu lain.
Inilah langkah awalnya, jadilah suami yang dzalim, Mas.
Lambat-laun Aina akan membawamu pada kedzaliman itu, maka aku akan melepaskan diri setelah itu. Bibirku tersenyum, tapi air mataku menetes. Perlahan sesegukan, sambil tertawa.
Doaku masih sama, Mas.
Jadilah, suami yang dzalim.
Gilailah istri keduamu.
Dan abaikan aku.
Agar luka halal ini, kamu akan berdosa karena telah menorehkan luka itu.
Pukul 02.30, setelah lelah melaksanakan ibadah Tahajud aku tertidur.
Aku bisa merasakan belaian seseorang. Aroma parfum yang menyengat menusuk penciumanku, aku membuka mata, napasku tertahan saat mendapati wajah Mas Hamza menghadapku dari atas.
Dengan hati-hati diraihnya rahangku, menempelkan bibirnya lalu tersenyum.
"Mas tidak akan mendzalimimu, sayang."
Bisikannya, membuat kepalaku menggeleng samar.
"Hari ini Mas untuk Annisa, tetap akan untuk Annisa. Termasuk besok dan lusa. Tak bisa diberikan ke lain wanita jika bertentangan dengan jadwal yang sudah ada."
Kembali diambil parfum vanilla favoritnya. Menyemprotnya ke sela leher dan bahuku. Meratakannya, mengendusnya, lalu dia tersenyum.
Aku mengharapkan dia mendapatkan dosa dari kedzaliman yang kudoakan, tapi Mas Hamza terlalu sempurna. Dia mencintaiku dengan baik, dia memperlakukanku dengan baik. Dia bisa menjaga keadilannya, sekalipun ada Aina yang bisa meruntuhkan pendiriannya.
Apakah Tuhan tidak mendengarkan doaku?
Atau Mas Hamza memiliki doa lain, hingga doa kami saling bertentangan?
Jadi, Tuhan tengah memutuskan untuk mewujudkan doa mana di antara kami?
Aku jatuh dalam pelukannya, tapi aku benci itu. Inilah pahala yang sangat kubenci, berada dalam dekapannya.
.
.
Aku menangis di atas sajadah. Berdoa, berharap, menyembah, kepada yang Di Atas. Aku ingin memisahkan diri darinya.
Aku ... masih mendoakan hal yang sama. Tanganku mencekram serat sajadah. Apakah Tuhan tidak akan mengabulkan doaku tanpa tindakan yang berarti? Ataukah doaku terlalu buruk? Hingga Tuhan mengabaikannya.
Sebulan Mas Hamza menikah lagi, dia masih selayaknya suami yang sempurna. Tak ada tanda ketidakadilan darinya. Dia enggan mendzalimiku. Dia masih mencintaiku.
Tatapan matanya masih teduh saat menatapku, melebihi dari saat dia melihat Aina. Dengan jangka waktu masing-masing tiga hari, Mas Hamza masih berperilaku adil. Apakah semua doa yang kupanjatkan takkan berlaku? Apakah alasan syar'I yang kuharapkan memang takkan pernah bisa terpenuhi, untuk menggugat cerai darinya memisahkan diri darinya dan lari darinya tanpa terkena dalil keras, haram bagiku aroma surganya saja?
Tangan besarnya membelai rambutku keesokan harinya saat dia menyambutku di pagi hari. Perilakunya masih sama seperti saat dia belum menikah lagi. Masih mendamba, masih perhatian. Seakan memang tidak ada orang ketiga di antara kami, seakan aku masih satu-satunya. Entah sehebat apa Mas Hamza, hingga perannya bisa terjaga. Sebagai suami, yang sempurna adil.
Doaku memang terlalu buruk, untuk dikabulkan.
Ingin aku teriakkan kepada Aina! Mana perannya sebagai pelakor! Menggoyahkan hati suamiku seutuhnya. Agar Mas Hamza benar-benar direbut dariku.
Tidak ... aku malah tidak bisa membenci wanita itu. Tapi membayangkan tubuh ini sudah terbagi, bibir Mas Hamza, dada bidangnya, rahangnya, matanya, hidungnya, untuk wanita lain. Hatiku masih tidak terima ...
Ya Allah, kabulkan doaku.
Setidaknya jika Engkau memang terlalu sayang kepada hamba-Mu—Mas Hamza—Engkau tidak mau menjadikannya lelaki yang dzalim, buat dia mengucapkan kata talak untukku.
Tapi dilihat dari tatapan matanya saja, Mas Hamza ... tak mau dan takkan pernah melepaskanku. Dia pernah berjanji tentang itu. Padahal bukan janjinya yang kuharapkan.