Setelah membereskan semua alat tulisnya, Allia segera keluar dari kelas dan pergi ke parkiran menemui Azzel.
Ia berniat ingin meminta maaf kepada pria itu, sesampai di sana terlihat Azzel yang sedang berbincang dengan temannya.
Allia berjalan mendekati pacarnya dan berdiri di samping pria itu.
"Azzel," bisik Allia memanggil.
Azzel menoleh, lalu menatap Allia dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Lo pulang sendiri hari ini, jalan kaki! Nggak usah manja. Itu hukuman buat lo," ucap Azzel memberikan hukuman.
Mendengar itu Allia menghela nafasnya, dari dulu memang ia sudah sering jalan kaki dari sekolah sampai di rumah. Sebelum mengenal Azzel memang Allia lebih suka berjalan kaki.
Karena dirinya tidak suka memakai helm jika naik ojek , supir pribadi? Allia lebih suka naik sepeda dan berjalan kaki ke sekolah.
"oh gitu, oke aku duluan yaa," pamit Allia sambil tersenyum manis, kemudian meninggalkan area parkir.
Azzel menatap punggung Allia dengan tatapan yang sulit diartikan. Tanpa sepengetahuan Allia ternyata Azzel mengikutinya dari belakang menggunakan motor. Jaraknya cukup jauh sehingga Allia tidak mengetahui jika ada yang mengikutinya.
Sesampai di rumah, pak satpam langsung membukakannya pintu lalu ia segera masuk. Melihat Allia sudah masuk ke dalam rumahnya Azzel langsung pergi dari area rumah elite yang ada di situ.
Sesampai di dalam kamar Allia segera mengganti pakaiannya, ia pergi ke meja makan dan melihat makan siang yang sudah disajikan oleh pelayan rumahnya.
"Makan sendiri lagi?" gumam Allia merasa sedih.
Tapi ia kembali bersyukur karena mungkin diluar sana banyak yang membutuhkan makanan, sedangkan dirinya bahkan bisa menikmati makanan lezat dari beberapa negara.
✏️✏️✏️
Azzel mengirimkan Allia pesan bahwa dirinya akan ke rumah gadis itu.
Membuat Allia segera menggantikan pakaiannya dari yang tadinya hanya menggunakan baju tipis, mengganti dengan Hoodie putih miliknya.
Azzel tiba di rumah Allia dan langsung masuk ke dalam kamar gadis itu, karena sudah sering pria itu memasuki kamarnya membuatnya tidak lagi kaget.
"Hai Azzel," sapa Allia.
Azzel hanya menatapnya tanpa berniat membalas.
"Kamu mau aku buatin apa? Kamu udah makan belum?" tanya Allia saat pria itu duduk di sampingnya sambil menatap lurus ke depan.
"Diem, gue punya orang tua yang bisa bikinin gue makanan setiap gue pengen makan. gak kaya lo," ucap Azzel, benar-benar membuat hati Allia seperti tertusuk benda yang begitu tajam.
Allia mengangguk mengerti sambil tersenyum masam.
Azzel sedari tadi hanya bermain ponselnya bermain game online, sedangkan Allia sesekali melihat pacarnya bermain sesekali bengong sambil menatap ke luar jendela.
Tiba-tiba Allia mengingat sesuatu jika ia sudah berjanjian dengan Diandra untuk pergi ke toko buku malam ini.
Tapi bagaimana cara agar malam ini ia akan diizinkan pergi oleh Azzel.
"Azzel-"
"Gua mau pergi ke apartemen, lo ikut," ujar Azzel tidak mau dibantah.
Allia menghela nafasnya, lalu mengirimkan pesan untuk Diandra sepertinya mereka akan pergi ke toko buku lain kali saja.
To Dian💖
Maaf kita pergi ke toko buku nanti aja yah
From Dian 💖
yah:( oke deh
Melihat Diandra telah membalas pesannya, Allia langsung menutup ponselnya dan mengikuti Azzel keluar.
✏️✏️✏️
Ternyata Azzel membawanya ke apartemen, yang di sana terdapat sekitar 10 teman laki-laki pria itu. Allia sangat malu karena hanya dirinya yang perempuan disini.
Ia merasa tidak nyaman, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena Azzel pasti akan memarahinya. Sepertinya Kerja pria itu hanya memarahinya setiap waktu.
"Eh ada Lia, bikinin gue kopi dong mumpung lo ada di sini," ucap salah satu teman Azzel yang bernama Nathan.
"Eh gue juga dong, tapi gue gulanya gak usah banyak," Rofli salah satu temannya pun ikut menyuruh Allia seakan gadis itu adalah pembantu.
Allia menatap Azzel, seolah meminta izin dan Azzel hanya mengangguk singkat.
Allia segera pergi ke dapur, dengan perasaan campur aduk. Sedih, disaat semua orang melindungi pacarnya dan tidak mau diperbudak teman-temannya Azzel malah sebaliknya. Pikir Allia.
Selesai membuatkan kopi yang diminta oleh teman-teman Azzel, Allia segera mengantarkan pesanan mereka ke depan.
"Eh, gue juga dong buatin es teh."
"Gue juga, es teh jangan terlalu manis."
"Gue air putih aja."
"gue juga air putih dong haus banget nih."
Teman-teman Azzel yang melihat Allia datang membawa dua kopi, langsung ikut meminta dibikinkan. Allia sendiri hanya menggaruk belakang kepalanya, bingung.
"Kalian bisa buat sendiri kan? Allia itu pacar Azzel bukan budak kalian," ujar Khanza salah satu teman Azzel yang memiliki sifat pendiam
Azzel mengepalkan tangannya, mendengar perkataan Khanza. Ia tidak suka ada yang membela gadisnya itu, eh gadisnya?
"Azzel aja fine-fine aja tuh," ucap Rofli.
"Gakpapa, biar gue yang bantuin dia." Azzel berdiri dari duduknya lalu menarik Allia membawanya ke dapur.
Sesampai di dapur Azzel segera menghempaskan tubuh Allia dengan kasar, ia mendorong gadis itu ke tembok lalu mencengkeram kuat kedua bahu Allia.
"Azz-zel sa-sak-kit." Allia berkata dengan suara terbata-bata, menahan rasa saktinya.
"Lo udah mau jadi wanita penggoda hah?!" marah Azzel.
"Eng-nggak aauwh," ringis Allia karena Azzel beralih mencengkeram kedua pipinya dengan satu tangan kekarnya itu.
"Dasar gak guna."
Setelah mengatakan itu Azzel mencium bibir Allia, ia mulai melumatnya dengan kasar sesekali menggigit bibir gadis itu.
Allia berusaha mati-matian menahan rasa sakitnya, sebelumnya Azzel belum pernah menciumnya seperti ini tapi jujur gadis itu juga menikmati ciuman yang Azzel berikan.
Karena meresa sudah kehabisan nafas Azzel melepaskan ciuman mereka dengan rasa tidak ikhlas. Sedangkan Allia cepat-cepat menghirup udara untuk menetralkan nafasnya.
"Pulang," ucap Azzel dengan suara dingin.
"T-tapi minumannya?" tanya Allia sambil menunduk takut menatap wajah Azzel yang sangat dekat dengan wajahnya.
"Biarin aja." Setelah mengatakan itu Azzel mengambil nampan yang sedari tadi Allia pegang dan menaruhnya di wastafel yang ada di dapurnya itu.
Azzel menarik tangan Allia lalu berpamitan kepada teman-temannya untuk pergi mengantarkan Allia.
"Yah padahal gue haus banget pengen es teh."
"Hahaha palpale," ucap Rofli menertawakan temannya itu sambil memamerkan kopinya.
Azzel segera mengambil kunci mobilnya, ia akan menggunakan mobil malam ini. selama perjalanan pulang Allia mengusap kedua bahunya pelan sambil sesekali meringis.
"Maaf." Suara Azzel sangat kecil sehingga Allia tidak terlalu mendengar apa yang pria itu katakan.
"A-apa? kamu ngomong sama aku?" tanya Allia hati-hati.
"Enggak! Lupain."
"Sialan, gue hampir aja minta maaf sama dia!"
Tbc
Sesampai di rumah Allia, Azzel langsung kembali ke apartemennya karena di sana masih ada teman-temannya.
Allia membersikan dirinya lalu kembali ke ruang makan untuk makan malam, karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan belas kosong-kosong.
"Bosan banget makan selalu sendiri," gumam Allia sambil menatap makanan-makanan yang berada di atas meja.
Ia mulai menyuapi makanan itu ke dalam mulutnya.
✏️✏️✏️
Minggu pagi Azzel dan Allia habiskan di rumah besar milik gadis itu, sejak tadi Allia bosan memperhatikan pacarnya itu yang sedang memeriksa ponselnya.
Saat ini mereka sedang duduk di ruang tengah,
"Siapa Pandji?" tanya Azzel melihat nama pria yang ada di kontak pacarnya itu.
"Oh itu om aku yang punya toko roti itu loh," jawab Allia.
Setelah itu Azzel segera menghapusnya karena menurut pria itu, nomor itu tidak penting.
"Ih ko dihapus," ucap Allia melihat Azzel dengan cepat menghapus nomor itu.
"Kenapa lo? Mau marah?" tanya Azzel dengan nada tajam sambil menatap mata Allia yang membuat gadis itu takut.
"Gakpapa, hapus aja," jawab gadis itu pasrah tanpa banyak bicara lagi Azzel segera menghapus semua nomor-nomor yang menurutnya tidak penting.
Setelah selesai dengan aktivitas nya itu Azzel berdiri dari duduknya.
"Ikut gue kita ke rumah," ajak Azzel menarik tangan Allia berdiri.
Dengan malas gadis itu berdiri berjalan disamping Azzel dengan tangan yang masih di pegang oleh pria itu.
Diperjalanan Allia bersenandung kecil sambil menatap ke luar jendela.
"Gue mau ngomong sesuatu," ucap Azzel membuka percakapan.
Allia menoleh menatap Azzel sebentar.
"Iya mau ngomong apa?" tanya Allia lalu melanjutkan senandungnya.
"Gue udah punya anak."
"Hah? eh maksudnya?" kaget Allia yang menatap Azzel dengan wajah serius.
"Gue punya anak! Lo tuli?" jawab Azzel dengan membentak membuat Allia langsung menunduk takut.
Ia sedang berpikir keras apakah setelah mengatakan ini Azzel akan memutuskan hubungan dengannya? Tapi selama beberapa bulan ini ia sudah menaruh hati pada pria itu.
"Terus kamu m-mau apa?" tanya Allia sambil menahan isak tangisannya.
"Lo nangis? Dasar lemah gitu aja nangis!" ucap Azzel sambil melirik sebentar pacarnya itu.
Ucapan Azzel mampu membuat Allia semakin terisak.
"Te-terus maks-maksud kamu paca-rin aku apaa hiksss....." Allia berucap dengan air mata yang keluar semakin banyak.
Tiba-tiba Azzel memberhentikan mobilnya.
"Cuk, berhenti nangis atau gue turunin di sini," ancam Azzel menatap Allia dengan garang.
Seketika suara tangisan gadis itu tak terdengar lagi, ia berusaha menutup wajahnya agar isak tangisannya tidak terdengar oleh Azzel.
"Buka," Azzel berusaha menarik kedua tangan Allia agar tidak lagi menutup wajahnya.
Azzel memegang pipi Allia yang memerah akibat menangis menghapus sisa air mata gadis itu, lalu menarik gadis itu agar mesuk ke dalam pelukannya.
"Berenti nangis atau gue kasih hukuman lagi," ucap Azzel dengan nada datar.
Allia mengangguk lalu mengeratkan pelukannya pada Azzel.
✏️✏️✏️
Sesampai di rumah Azzel, mereka berdua langsung masuk ke dalam rumah dan mendapati dua orang perempuan yang berbeda usia.
Sepertinya yang satu ibu Azzel yang Allia kenal dengan nama tante Gita dan yang satu lagi mungkin kakak sepupu Azzel dan satu orang bocah perempuan yang sedang bermain di lantai dengan permainan berbie miliknya.
"Lia, lihat itu siapa yang datang" Ucap ibu Azzel atau tante Gita.
Bocah yang mendengar namanya disebut langsung melihat siapa yang datang, saat melihat Azzel yang berjalan sambil tersenyum kearahnya membuat bocah itu senang.
"Daddyyyyy!" teriak bocah perempuan itu yang membuat Allia tersentak mendengar sebutan daddy untuk Azzel.
Allia berusaha menahan cairan bening yang sepertinya akan keluar lagi dari matanya ia berusaha menahannya dengan mengedipkan matanya.
"Eh ada Allia," sapa Gita dengan ramah, wanita paruh baya itu sudah mengenal Allia saat Azzel datang ke sini membawa gadis itu.
"Eh iya hai Tante." Sambil tersenyum manis.
Mereka bertiga berjalan ke kursi dengan bocah bernama Lia itu yang berada di gendongan Azzel.
"Dia ciapa mommy?" tanya Lia sambil menatap heran ke arah Allia.
Allia semakin bingung saat bocah itu memanggil mommy pada wanita yang berada disamping Gita.
"Oh dia pacarnya daddy, mommy Lia juga," jelas wanita itu yang bernama Jeje.
Allia yang mendengar itu langsung merasa canggung dan bingung.
"Yey, Lia punya dua mommy," Ucap bocah itu dengan girang.
"Sekarang Lia ke Mommy dulu yah Daddy mau ke kamar bareng Mommy Rara," ucap Azzel.
Azzel memang sering memanggil Allia dengan sebutan Rara, sekarang Allia berpikir mungkin Azzel memanggilnya Rara karena namanya yang mirip dengan anaknya.
Lia mengangguk lucu dengan wajah tak ikhlas turun dari pangkuan Azzel.
Azzel segera menarik tangan Allia lalu membawanya ke atas.
Sesampai di kamar Azzel langsung menyuruhnya duduk.
Allia sama sekali tidak berbicara ia hanya fokus pada lantai yang sedang ia injak.
"Mulai sekarang lo harus terbiasa dipanggil mommy sama Lia," Ucap Azzel.
"Aku mau putus aja, kamu udah punya keluarga kecil. Kamu nggak seharusnya pacaran sama aku," ucap Allia sambil menunduk memainkan jari jemarinya.
"Lo bilang apa tadi hah?!" tanya Azzel dengan nada membentak.
Allia langsung tersadar dengan apa yang ia ucapkan, ia baru saja mengatakan putus sedangkan Azzel membenci itu.
"Lo bilang apa? Berani lo bilang putus sama gue?" tanya Azzel menarik wajah Allia agar menatapnya.
"Mulai sekarang sampai tiga bulan kedepan Lo nggak boleh ngebantah sama semua ucapan gue! Itu hukuman," jelas Azzel setelah itu mengecup singkat bibir merah alami milik Allia.
Allia hanya bisa mengangguk patuh, walaupun bukan karena hukuman Allia juga selalu mengikuti ucapan Azzel
✏️✏️✏️
Sekarang Rara sedang bermain dengan Lia diatas kasur milik Azzel, sedangkan pemuda itu duduk diatas sofa melihat interaksi kedua perempuan itu
"Mommy bonekanya cantik kaya Lia," ucap bocah itu sambil menyisir rambut bonekanya.
"Iya tapi Lia cantik banget," gemas Rara sambil mencubit pipi bocah itu.
Sepertinya ibu Lia cantik ditambah wajah tampan Azzel yang membuat Rara tergila-gila, gabungan yang sangat bagus dan hasil yang tidak gagal. Pikir Rara
"Mulai besok lo tinggal di rumah gue," ucap Azzel.
Rara menoleh.
"Loh ak-"
"Ingat hukuman," ucap Azzel memotong ucapan Rara.
Rara hanya mengendus kesal.
"Is ngeselin," batin Rara.
"Iyaaa," ucap Rara dengan senyum terpaksa.
Lia yang mendengar ayah dan ibu barunya sedang berbincang ikut bertanya.
"Lia juga ikut daddy sama mommy?" tanya Lia.
"Iya sayang," jawab Azzel sambil tersenyum ke arah Lia.
"Whattt Azzel senyum? Sama aku aja boro-boro ngomong lembut! Is ngeselin," ucap Rara membatin.
Tbc