Flashback on delapan bulan yang lalu....
Seorang gadis cantik, berjalan di gelapnya malam. Berjalan dengan rasa takut karena larut malam telah tiba dan gadis itu tidak kunjung sampai di rumahnya.
Gadis itu adalah Allia Aurora Margaretha, ia menelusuri lorong gelap dengan keringat bercucuran.
"Ya Tuhan tolong Allia, Allia takut," gumam gadis itu sambil berjalan dengan tangan yang sudah basah akibat rasa gugupnya.
Tiba-tiba ia mendengar sesuatu dari depan sana di mana tempat yang akan ia lewati sepertinya banyak gerombolan motor di sana.
Dengan keberanian Allia melewati jalan itu, karena tidak ada lagi jalan selain itu untuk ke rumahnya.
"Eh bro itu ada cewe cantik. Godain yuk," ajak seorang pemuda pada teman-temannya yang sedang duduk di atas motornya.
Orang yang dimaksud pria itu hanya menatap sekilas gadis itu, orang itu adalah Azzel Adisson.
Ia adalah pemuda paling tampan di sekolahnya, banyak yang mengidam-idamkan dirinya. Tapi ia sama sekali tidak tertarik.
Saat sudah melawati kerumunan orang-orang itu, Allia merasa lega. Dengan cepat ia berlari lebih menjauh agar cepat sampai ke tujuannya
Belum sempat berlari tangannya sudah dicekal oleh seseorang.
"Gue anter," ucap pemuda itu.
Allia langsung menganga saat melihat siapa yang mencekal tangannya itu, Azzel adalah orang terkenal jadi Allia tau karena mereka satu sekolah.
"Em, gakpapa aku bisa-" Belum sempat mengakhiri ucapannya Azzel sudah mendahuluinya.
"Nurut bisa?" tanya Azzel dengan suara dinginnya membuat nyali Allia menciut.
Gadis itu hanya mengangguk, dan mengikuti langkah besar milik pemuda itu sampai ke motornya.
"Gue anterin bocah ini dulu, gue duluan," pamit Azzel pada teman-temannya lalu memberikan sebuah helm pada Allia.
"A-aku gak biasa pake helm" Ucap Allia sambil menunduk, rasanya sangat malu mengucapkan fakta itu.
Azzel menyerit-kan kening-nya.
"Maksud?" tanya Azzel.
Belum sempat Allia menjawab salah satu teman Azzel sudah duluan membuka suara.
"Maklumi aja bos kayaknya anak holkay, biasa naik mobil," ucap pemuda yang menggunakan jeket yang sama dengan Azzel.
Azzel terlihat tampak berpikir.
"Pake aja, dibiasakan mulai sekarang!" ucap Azzel terlihat seperti tidak ingin dibantah.
Akhirnya Allia menurut, sungguh sial dirinya bertemu dengan seorang most wanted sekolah yang memiliki sifat seperti ini.
Selama perjalanan Allia berusaha menahan beratnya helm, sebenarnya tidak terlalu berat namun gadis itu belum terbiasa jadi ia merasa sangat berat.
Ia mulai pusing kepalanya mulai terasa sakit.
"Azzel," panggil Allia dengan suara pelan, ia rasa pemuda itu tidak mendengarkan panggilannya.
Azzel memberhentikan motornya di depan rumah yang sangat mewah, lalu segera menyuruh Allia turun dan membukakan helm gadis itu.
"Ko kamu tau rumah aku padahal aku nggak ngasih tau," heran Allia.
"Hm." Hanya deheman yang dibalas pemuda itu membuat Allia kesal sendiri.
"Makasih, aku masuk ke dalam dulu," pamit Allia belum juga satu langkah berjalan Azzel kembali menahan tangannya.
"Tunggu, mulai sekarang dan seterusnya kita pacaran," Pernyataan Azzel membuat Allia terkejut.
"Em mak-"
"Nggak ada penolakan! Udah sanah masuk. Besok gue jemput."
Dan dari sinilah kisah percintaan Allia di mulai, awalnya memang sangat senang karena siapa yang tidak senang diajak berpacaran most wanted sekolah?
Tapi bagaimana kelanjutan hubungan mereka, apakah akan seperti orang pacaran pada umumnya?
Flashback of
✏️✏️✏️
Pagi ini Azzel terlihat sangat marah karena Allia membuatnya menunggu terlalu lama, Azzel sudah berada di rumah gadis itu sejak 40 menit yang lalu.
Azzel merasa rugi karena membuang waktunya sia-sia hanya karena menunggu gadis itu.
"Lo bisa cepetan nggak sih!" teriak Azzel dari depan pintu kamar Allia.
"Iy-yaaaa" teriak Allia membalas buru-buru.
Semalam ia tidak cepat tidur karena harus mengerjakan PR milik Azzel, bukan hanya satu tetapi ada lima mata pelajaran.
Oleh karena itu ia pagi ini bangun terlambat.
"Udah Zel ayok," ujar Allia yang baru keluar dari dalam kamar.
Azzel berdecak menatap sinis gadis di depannya itu.
"Lo buang waktu gue sia-sia gitu aja tau nggak," ketus Azzel lalu segera turun dan keluar dari rumah Allia.
Allia terdiam sebentar, ia begini juga karena pria itu tapi kenapa- ah sudahlah dari pada harus membuatnya marah lagi lebih baik dirinya segera ikut dengan Azzel.
"Cepetan! lelet banget jadi orang," ucap Azzel yang sudah menggunakan helmnya dan duduk di atas motor.
Tanpa banyak bicara Allia segera memakai helm lalu naik di jok belakang.
Lalu Azzel mulai melajukan motornya.
Jangan tanyakan dimana orang tua Allia, karena Allia sendiri saja tidak tau. Tidak memiliki saudara kandung membuatnya kesepian, karena ayah dan ibunya selalu pergi entah kemana dan hanya meninggalkannya di rumah besar itu dengan uang yang tak ada habis-habisnya.
Sesampai di sekolah, Azzel buru-buru turun dan meninggalkan Allia. Gadis itu mengikuti pacarnya dengan susah payah mengimbangi langkah kakinya.
"PR gue mana?" tanya Azzel saat mereka sudah berada di depan kelas Allia.
Allia buru-buru membuka tasnya lalu memberikan beberapa buku milik Azzel.
"Masuk, awas aja salah. Satu salah dapat hukuman!" ancam Azzel sedangkan Allia mengangguk sedikit ragu.
Ia mengerjakan soal-soal itu dengan susah payah, ia tidak terlalu pintar sehingga membuatnya sedikit ragu.
ia berdoa semoga semua jawabannya benar, dan ia tidak terkena amukan pacarnya ini.
"Iyaaa," jawab Allia lalu segera masuk ke dalam kelasnya.
Di dalam kelas, Allia tidak memiliki teman. Tetapi di luar kelas ia memiliki satu teman, yang bernama Diandra.
Diandra sekelas dengan Azzel, dari situ mereka dekat karena Allia sering ke kelas Azzel dan bertemu dengan Diandra di sana.
✏️✏️✏️
Saat bell istirahat berbunyi, Allia segera pergi ke kelas Azzel untuk melihat berapa nilai Azzel untuk soal yang telah ia kerjakan.
Sesampai di sana ia melihat seluruh murid sudah keluar tinggal Azzel di dalam yang sepertinya pria itu sedang di marahi oleh sang guru.
Melihat itu Allia mulai ketakutan, sepertinya Azzel dimarah karena tugasnya tidak benar. Tapi Allia mengerjakan soal itu dengan sangat baik dan hati-hati.
Setelah guru itu keluar dari kelas, Allia segera berjalan menghampiri Azzel.
"Zel, kenap-"
Brakkk
Allia tersentak kaget saat Azzel membanting tas sekolahnya dengan kasar di atas meja.
"Anjing!" umpat Azzel sambil menatap marah.
"A-azzel," panggil Allia dengan suara bergetar.
"Liat! Lo kerjain ini asal-asalan kan?! Biar gue dimarahin guru?" marah Azzel.
Ia melemparkan satu buku di depan Allia, dan gadis itu segera mengambilnya dan terlihat disana angka nol yang dilingkar dengan polpen merah.
"Ta-tapi aku kerjain dengan baik kok, ini bukan aku yang kerjain tulisannya beda sama punyaku," ucap Allia melihat tulisan itu bukan tulisan tangannya.
"Masih ngelak aja yah lo? Kalo emang Lo kerjain dengan baik terus salah, berarti lo yang bodoh? Hah? Dasar bodoh!!" teriak Azzel lalu segera keluar dari kelas.
Allia yang ditinggal hanya menunduk dengan air mata yang mengalir di pipinya, kenapa Azzel begitu kejam padanya. Sebenarnya ada apa dengan pria itu.
Tbc
Setelah membereskan semua alat tulisnya, Allia segera keluar dari kelas dan pergi ke parkiran menemui Azzel.
Ia berniat ingin meminta maaf kepada pria itu, sesampai di sana terlihat Azzel yang sedang berbincang dengan temannya.
Allia berjalan mendekati pacarnya dan berdiri di samping pria itu.
"Azzel," bisik Allia memanggil.
Azzel menoleh, lalu menatap Allia dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Lo pulang sendiri hari ini, jalan kaki! Nggak usah manja. Itu hukuman buat lo," ucap Azzel memberikan hukuman.
Mendengar itu Allia menghela nafasnya, dari dulu memang ia sudah sering jalan kaki dari sekolah sampai di rumah. Sebelum mengenal Azzel memang Allia lebih suka berjalan kaki.
Karena dirinya tidak suka memakai helm jika naik ojek , supir pribadi? Allia lebih suka naik sepeda dan berjalan kaki ke sekolah.
"oh gitu, oke aku duluan yaa," pamit Allia sambil tersenyum manis, kemudian meninggalkan area parkir.
Azzel menatap punggung Allia dengan tatapan yang sulit diartikan. Tanpa sepengetahuan Allia ternyata Azzel mengikutinya dari belakang menggunakan motor. Jaraknya cukup jauh sehingga Allia tidak mengetahui jika ada yang mengikutinya.
Sesampai di rumah, pak satpam langsung membukakannya pintu lalu ia segera masuk. Melihat Allia sudah masuk ke dalam rumahnya Azzel langsung pergi dari area rumah elite yang ada di situ.
Sesampai di dalam kamar Allia segera mengganti pakaiannya, ia pergi ke meja makan dan melihat makan siang yang sudah disajikan oleh pelayan rumahnya.
"Makan sendiri lagi?" gumam Allia merasa sedih.
Tapi ia kembali bersyukur karena mungkin diluar sana banyak yang membutuhkan makanan, sedangkan dirinya bahkan bisa menikmati makanan lezat dari beberapa negara.
✏️✏️✏️
Azzel mengirimkan Allia pesan bahwa dirinya akan ke rumah gadis itu.
Membuat Allia segera menggantikan pakaiannya dari yang tadinya hanya menggunakan baju tipis, mengganti dengan Hoodie putih miliknya.
Azzel tiba di rumah Allia dan langsung masuk ke dalam kamar gadis itu, karena sudah sering pria itu memasuki kamarnya membuatnya tidak lagi kaget.
"Hai Azzel," sapa Allia.
Azzel hanya menatapnya tanpa berniat membalas.
"Kamu mau aku buatin apa? Kamu udah makan belum?" tanya Allia saat pria itu duduk di sampingnya sambil menatap lurus ke depan.
"Diem, gue punya orang tua yang bisa bikinin gue makanan setiap gue pengen makan. gak kaya lo," ucap Azzel, benar-benar membuat hati Allia seperti tertusuk benda yang begitu tajam.
Allia mengangguk mengerti sambil tersenyum masam.
Azzel sedari tadi hanya bermain ponselnya bermain game online, sedangkan Allia sesekali melihat pacarnya bermain sesekali bengong sambil menatap ke luar jendela.
Tiba-tiba Allia mengingat sesuatu jika ia sudah berjanjian dengan Diandra untuk pergi ke toko buku malam ini.
Tapi bagaimana cara agar malam ini ia akan diizinkan pergi oleh Azzel.
"Azzel-"
"Gua mau pergi ke apartemen, lo ikut," ujar Azzel tidak mau dibantah.
Allia menghela nafasnya, lalu mengirimkan pesan untuk Diandra sepertinya mereka akan pergi ke toko buku lain kali saja.
To Dian💖
Maaf kita pergi ke toko buku nanti aja yah
From Dian 💖
yah:( oke deh
Melihat Diandra telah membalas pesannya, Allia langsung menutup ponselnya dan mengikuti Azzel keluar.
✏️✏️✏️
Ternyata Azzel membawanya ke apartemen, yang di sana terdapat sekitar 10 teman laki-laki pria itu. Allia sangat malu karena hanya dirinya yang perempuan disini.
Ia merasa tidak nyaman, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena Azzel pasti akan memarahinya. Sepertinya Kerja pria itu hanya memarahinya setiap waktu.
"Eh ada Lia, bikinin gue kopi dong mumpung lo ada di sini," ucap salah satu teman Azzel yang bernama Nathan.
"Eh gue juga dong, tapi gue gulanya gak usah banyak," Rofli salah satu temannya pun ikut menyuruh Allia seakan gadis itu adalah pembantu.
Allia menatap Azzel, seolah meminta izin dan Azzel hanya mengangguk singkat.
Allia segera pergi ke dapur, dengan perasaan campur aduk. Sedih, disaat semua orang melindungi pacarnya dan tidak mau diperbudak teman-temannya Azzel malah sebaliknya. Pikir Allia.
Selesai membuatkan kopi yang diminta oleh teman-teman Azzel, Allia segera mengantarkan pesanan mereka ke depan.
"Eh, gue juga dong buatin es teh."
"Gue juga, es teh jangan terlalu manis."
"Gue air putih aja."
"gue juga air putih dong haus banget nih."
Teman-teman Azzel yang melihat Allia datang membawa dua kopi, langsung ikut meminta dibikinkan. Allia sendiri hanya menggaruk belakang kepalanya, bingung.
"Kalian bisa buat sendiri kan? Allia itu pacar Azzel bukan budak kalian," ujar Khanza salah satu teman Azzel yang memiliki sifat pendiam
Azzel mengepalkan tangannya, mendengar perkataan Khanza. Ia tidak suka ada yang membela gadisnya itu, eh gadisnya?
"Azzel aja fine-fine aja tuh," ucap Rofli.
"Gakpapa, biar gue yang bantuin dia." Azzel berdiri dari duduknya lalu menarik Allia membawanya ke dapur.
Sesampai di dapur Azzel segera menghempaskan tubuh Allia dengan kasar, ia mendorong gadis itu ke tembok lalu mencengkeram kuat kedua bahu Allia.
"Azz-zel sa-sak-kit." Allia berkata dengan suara terbata-bata, menahan rasa saktinya.
"Lo udah mau jadi wanita penggoda hah?!" marah Azzel.
"Eng-nggak aauwh," ringis Allia karena Azzel beralih mencengkeram kedua pipinya dengan satu tangan kekarnya itu.
"Dasar gak guna."
Setelah mengatakan itu Azzel mencium bibir Allia, ia mulai melumatnya dengan kasar sesekali menggigit bibir gadis itu.
Allia berusaha mati-matian menahan rasa sakitnya, sebelumnya Azzel belum pernah menciumnya seperti ini tapi jujur gadis itu juga menikmati ciuman yang Azzel berikan.
Karena meresa sudah kehabisan nafas Azzel melepaskan ciuman mereka dengan rasa tidak ikhlas. Sedangkan Allia cepat-cepat menghirup udara untuk menetralkan nafasnya.
"Pulang," ucap Azzel dengan suara dingin.
"T-tapi minumannya?" tanya Allia sambil menunduk takut menatap wajah Azzel yang sangat dekat dengan wajahnya.
"Biarin aja." Setelah mengatakan itu Azzel mengambil nampan yang sedari tadi Allia pegang dan menaruhnya di wastafel yang ada di dapurnya itu.
Azzel menarik tangan Allia lalu berpamitan kepada teman-temannya untuk pergi mengantarkan Allia.
"Yah padahal gue haus banget pengen es teh."
"Hahaha palpale," ucap Rofli menertawakan temannya itu sambil memamerkan kopinya.
Azzel segera mengambil kunci mobilnya, ia akan menggunakan mobil malam ini. selama perjalanan pulang Allia mengusap kedua bahunya pelan sambil sesekali meringis.
"Maaf." Suara Azzel sangat kecil sehingga Allia tidak terlalu mendengar apa yang pria itu katakan.
"A-apa? kamu ngomong sama aku?" tanya Allia hati-hati.
"Enggak! Lupain."
"Sialan, gue hampir aja minta maaf sama dia!"
Tbc
Sesampai di rumah Allia, Azzel langsung kembali ke apartemennya karena di sana masih ada teman-temannya.
Allia membersikan dirinya lalu kembali ke ruang makan untuk makan malam, karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan belas kosong-kosong.
"Bosan banget makan selalu sendiri," gumam Allia sambil menatap makanan-makanan yang berada di atas meja.
Ia mulai menyuapi makanan itu ke dalam mulutnya.
✏️✏️✏️
Minggu pagi Azzel dan Allia habiskan di rumah besar milik gadis itu, sejak tadi Allia bosan memperhatikan pacarnya itu yang sedang memeriksa ponselnya.
Saat ini mereka sedang duduk di ruang tengah,
"Siapa Pandji?" tanya Azzel melihat nama pria yang ada di kontak pacarnya itu.
"Oh itu om aku yang punya toko roti itu loh," jawab Allia.
Setelah itu Azzel segera menghapusnya karena menurut pria itu, nomor itu tidak penting.
"Ih ko dihapus," ucap Allia melihat Azzel dengan cepat menghapus nomor itu.
"Kenapa lo? Mau marah?" tanya Azzel dengan nada tajam sambil menatap mata Allia yang membuat gadis itu takut.
"Gakpapa, hapus aja," jawab gadis itu pasrah tanpa banyak bicara lagi Azzel segera menghapus semua nomor-nomor yang menurutnya tidak penting.
Setelah selesai dengan aktivitas nya itu Azzel berdiri dari duduknya.
"Ikut gue kita ke rumah," ajak Azzel menarik tangan Allia berdiri.
Dengan malas gadis itu berdiri berjalan disamping Azzel dengan tangan yang masih di pegang oleh pria itu.
Diperjalanan Allia bersenandung kecil sambil menatap ke luar jendela.
"Gue mau ngomong sesuatu," ucap Azzel membuka percakapan.
Allia menoleh menatap Azzel sebentar.
"Iya mau ngomong apa?" tanya Allia lalu melanjutkan senandungnya.
"Gue udah punya anak."
"Hah? eh maksudnya?" kaget Allia yang menatap Azzel dengan wajah serius.
"Gue punya anak! Lo tuli?" jawab Azzel dengan membentak membuat Allia langsung menunduk takut.
Ia sedang berpikir keras apakah setelah mengatakan ini Azzel akan memutuskan hubungan dengannya? Tapi selama beberapa bulan ini ia sudah menaruh hati pada pria itu.
"Terus kamu m-mau apa?" tanya Allia sambil menahan isak tangisannya.
"Lo nangis? Dasar lemah gitu aja nangis!" ucap Azzel sambil melirik sebentar pacarnya itu.
Ucapan Azzel mampu membuat Allia semakin terisak.
"Te-terus maks-maksud kamu paca-rin aku apaa hiksss....." Allia berucap dengan air mata yang keluar semakin banyak.
Tiba-tiba Azzel memberhentikan mobilnya.
"Cuk, berhenti nangis atau gue turunin di sini," ancam Azzel menatap Allia dengan garang.
Seketika suara tangisan gadis itu tak terdengar lagi, ia berusaha menutup wajahnya agar isak tangisannya tidak terdengar oleh Azzel.
"Buka," Azzel berusaha menarik kedua tangan Allia agar tidak lagi menutup wajahnya.
Azzel memegang pipi Allia yang memerah akibat menangis menghapus sisa air mata gadis itu, lalu menarik gadis itu agar mesuk ke dalam pelukannya.
"Berenti nangis atau gue kasih hukuman lagi," ucap Azzel dengan nada datar.
Allia mengangguk lalu mengeratkan pelukannya pada Azzel.
✏️✏️✏️
Sesampai di rumah Azzel, mereka berdua langsung masuk ke dalam rumah dan mendapati dua orang perempuan yang berbeda usia.
Sepertinya yang satu ibu Azzel yang Allia kenal dengan nama tante Gita dan yang satu lagi mungkin kakak sepupu Azzel dan satu orang bocah perempuan yang sedang bermain di lantai dengan permainan berbie miliknya.
"Lia, lihat itu siapa yang datang" Ucap ibu Azzel atau tante Gita.
Bocah yang mendengar namanya disebut langsung melihat siapa yang datang, saat melihat Azzel yang berjalan sambil tersenyum kearahnya membuat bocah itu senang.
"Daddyyyyy!" teriak bocah perempuan itu yang membuat Allia tersentak mendengar sebutan daddy untuk Azzel.
Allia berusaha menahan cairan bening yang sepertinya akan keluar lagi dari matanya ia berusaha menahannya dengan mengedipkan matanya.
"Eh ada Allia," sapa Gita dengan ramah, wanita paruh baya itu sudah mengenal Allia saat Azzel datang ke sini membawa gadis itu.
"Eh iya hai Tante." Sambil tersenyum manis.
Mereka bertiga berjalan ke kursi dengan bocah bernama Lia itu yang berada di gendongan Azzel.
"Dia ciapa mommy?" tanya Lia sambil menatap heran ke arah Allia.
Allia semakin bingung saat bocah itu memanggil mommy pada wanita yang berada disamping Gita.
"Oh dia pacarnya daddy, mommy Lia juga," jelas wanita itu yang bernama Jeje.
Allia yang mendengar itu langsung merasa canggung dan bingung.
"Yey, Lia punya dua mommy," Ucap bocah itu dengan girang.
"Sekarang Lia ke Mommy dulu yah Daddy mau ke kamar bareng Mommy Rara," ucap Azzel.
Azzel memang sering memanggil Allia dengan sebutan Rara, sekarang Allia berpikir mungkin Azzel memanggilnya Rara karena namanya yang mirip dengan anaknya.
Lia mengangguk lucu dengan wajah tak ikhlas turun dari pangkuan Azzel.
Azzel segera menarik tangan Allia lalu membawanya ke atas.
Sesampai di kamar Azzel langsung menyuruhnya duduk.
Allia sama sekali tidak berbicara ia hanya fokus pada lantai yang sedang ia injak.
"Mulai sekarang lo harus terbiasa dipanggil mommy sama Lia," Ucap Azzel.
"Aku mau putus aja, kamu udah punya keluarga kecil. Kamu nggak seharusnya pacaran sama aku," ucap Allia sambil menunduk memainkan jari jemarinya.
"Lo bilang apa tadi hah?!" tanya Azzel dengan nada membentak.
Allia langsung tersadar dengan apa yang ia ucapkan, ia baru saja mengatakan putus sedangkan Azzel membenci itu.
"Lo bilang apa? Berani lo bilang putus sama gue?" tanya Azzel menarik wajah Allia agar menatapnya.
"Mulai sekarang sampai tiga bulan kedepan Lo nggak boleh ngebantah sama semua ucapan gue! Itu hukuman," jelas Azzel setelah itu mengecup singkat bibir merah alami milik Allia.
Allia hanya bisa mengangguk patuh, walaupun bukan karena hukuman Allia juga selalu mengikuti ucapan Azzel
✏️✏️✏️
Sekarang Rara sedang bermain dengan Lia diatas kasur milik Azzel, sedangkan pemuda itu duduk diatas sofa melihat interaksi kedua perempuan itu
"Mommy bonekanya cantik kaya Lia," ucap bocah itu sambil menyisir rambut bonekanya.
"Iya tapi Lia cantik banget," gemas Rara sambil mencubit pipi bocah itu.
Sepertinya ibu Lia cantik ditambah wajah tampan Azzel yang membuat Rara tergila-gila, gabungan yang sangat bagus dan hasil yang tidak gagal. Pikir Rara
"Mulai besok lo tinggal di rumah gue," ucap Azzel.
Rara menoleh.
"Loh ak-"
"Ingat hukuman," ucap Azzel memotong ucapan Rara.
Rara hanya mengendus kesal.
"Is ngeselin," batin Rara.
"Iyaaa," ucap Rara dengan senyum terpaksa.
Lia yang mendengar ayah dan ibu barunya sedang berbincang ikut bertanya.
"Lia juga ikut daddy sama mommy?" tanya Lia.
"Iya sayang," jawab Azzel sambil tersenyum ke arah Lia.
"Whattt Azzel senyum? Sama aku aja boro-boro ngomong lembut! Is ngeselin," ucap Rara membatin.
Tbc