Deg!
Sepatu keduanya hampir saja bersentuhan. Tapi, mereka berdua berhasil menahan tubuh mereka masing-masing dengan cepat.
“Hampir, hampir, hampir saja…” ucap Maryam dengan nafas terengah-engah, seraya memperbaiki posisi berdirinya, setelah dia melepaskan tatapan matanya dari laki-laki itu.
Laki-laki itu pun tersenyum melihat sikap perempuan yang ada di hadapannya saat ini. Kedua matanya sedikit melirik ke arah buku yang ada dalam pelukan satu tangan perempuan itu.
“Maaf, aku sedang terburu-buru. Jadi, aku tidak melihat jalan yang ada di depanku.” Kata Maryam menjelaskan, agar laki-laki itu tidak salah paham padanya.
“Benarkah itu?” tanya laki-laki itu, tersenyum. Cara bertanyanya terdengar seperti sedang menggoda Maryam.
Maryam cukup dikagetkan dengan suara berat dari laki-laki, yang sejak tadi terus menatap wajahnya dengan senyuman. Reflek, wajah Maryam pun ikut tersenyum.
Maryam mengangguk dengan malu-malu.
“Kalau begitu— silahkan jalan.” Kata laki-laki itu, yang kemudian menggeser tubuhnya ke samping dan memberikan jalan untuk perempuan itu lewat.
Maryam mengangkat pandangannya. Dia ikut menatap sama seperti yang sedang laki-laki itu lakukan padanya. Lalu, dengan senyumannya yang lembut, Maryam pun berpamitan untuk pergi.
Anggukannya dibalas oleh laki-laki itu dengan senyuman yang sama.
Setelah meninggalkan tempat itu, Maryam menoleh ke belakang sekali untuk melihat sosok laki-laki itu kembali. Sebelumnya, Maryam mengira kalau pertemuan dengan laki-laki itu di depan masjid, ternyata pertemuan mereka di depan gereja yang berada di dekat masjid.
***
Akhirnya, Maryam pun tiba di tempat pertemuan dengan laki-laki yang akan dijodohkan dengannya, satu jam dari waktu yang sudah diberitahukan oleh orang tuanya.
Arga sempat merasa kesal pada putrinya, lantaran kedatangannya sangat terlambat dari waktu yang telah dijanjikan dengan keluarga Adyaksa.
Tapi, saat dia melihat sikap santun dan keramahan yang ditunjukkan oleh putrinya pada keluarga laki-laki dan juga pada laki-laki pilihannya. Rasa kesal Arga pun perlahan menghilang.
Arga merasa yakin, kalau laki-laki pilihannya kali ini akan diterima oleh putri bungsunya itu. Dia bisa melihatnya dari cara Maryam bersikap yang terlihat malu-malu selama pertemuan itu berlangsung.
Namun, dibalik senyuman dan sikap malu-malu Maryam, bukanlah karena dia menyukai laki-laki pilihan orang tuanya. Melainkan, yang dia pikirkan adalah laki-laki yang dia temui di depan gereja tadi.
“Bagaimana dengan mas Abi?” tanya Arga, saat di perjalanan pulang.
“Mas bi?” tanya Maryam, bingung.
“Mas Abizar, maksud ayahmu.” Kata Ibu memperjelas.
“Oh—” mulut Maryam langsung membulat.
“Baik… baik…. Tidak ada masalah.” Jawabnya, sekenanya.
“Berarti kamu setuju kalau dia melamarmu?” tanya Arga kembali.
“APA?” Maryam terkesiap mendengar pertanyaan itu. Matanya langsung mendelik, dan sikapnya berubah kikuk.
“Kenapa kamu kelihatan kaget begitu?” tanya Arga, melalui kaca mobil melihat ke arah putrinya yang duduk di belakangnya.
“Ti-tidak. Hanya saja— aku—” Maryam ragu untuk mengatakannya.
“Maryam, jangan bilang kalau kamu ingin menolak lagi perjodohanmu.” Arga sudah mulai mewanti hal itu, sebelum putrinya mengatakan penolakannya.
“Bu-bukannya begitu, ayah. Tapi—” Maryam bingung, sangat bingung untuk mengatakannya.
“Tapi, apa?” Arga mau mendengar alasan Maryam kali ini.
“Sebenarnya, aku sudah punya pilihan laki-laki lain.” Terpaksa Maryam berbohong. Matanya mengerjap, dia pun menggigit ujung bibirnya. Menyadari kebohongan pada kedua orang tuanya yang terpaksa dia lakukan.
“Kenapa kamu baru mengatakannya?” Ibu terkesiap. Dia pun tak masalah jika putrinya memang sudah memiliki laki-laki pilihannya sendiri. Ibu adalah sosok Ibu yang flexible.
“Aku cuma takut kalau hubungan aku sama dia tidak disukai oleh ayah. Karena selama ini Ayah terus memaksa untuk menjodohkan aku dengan laki-laki pilihan ayah. Sedangkan, ayah tak pernah memberiku ruang untuk bicara.”
“Kamu sudah pacaran dengan laki-laki itu?”
“I-iya,”
“Sudah berapa lama?”
“Sekitar— satu tahunan.”
Arga sangat kecewa mendengarnya. Tapi, dia hanya diam tanpa mau berkomentar apa-apa.
Maryam pun langsung melihat ekspresi ayahnya melalui kaca depan. Terlihat jelas, ada raut kekecewaan yang mendalam yang dirasakan oleh ayahnya saat ini.
“Kalau Ibu sih, siapapun laki-laki pilihan Maryam untuk menikah dengan kamu nantinya. Yang terpenting buat Ibu adalah laki-laki itu harus seiman.”
Maryam hanya tersenyum, ketika mendengar pesan dari Ibunya itu. Dia pun merasa yakin kalau laki-laki yang dia temui tadi sore adalah seorang muslim.
***
Keesokan harinya, Maryam mendatangi rumah Tyas. Dia sudah menginap di rumah itu, karena jarak rumah kakaknya lebih dekat dengan kampusnya daripada rumah orang tuanya.
Maryam langsung menghempaskan tubuhnya di atas sofa setelah Tyas membukakan pintu untuknya.
“Kelihatan capek maset kamu, dek.” Kata Tyas, seraya duduk tak jauh dari Maryam yang tengah dirundung kegalauan saat ini.
“Bukan capek badan, kak. Tapi, aku capek pikiran!” tukasnya, dengan nada kesal.
“Pikiran soal perjodohan?” terkanya. Karena memang itu satu-satunya yang membuat adik semata wayangnya itu sering dilanda kegalauan akibat desakan pernikahan yang terus diminta oleh kedua orang tua mereka.
Maryam tak menjawab. Dia hanya mendesah amat berat. Rasanya, beban hidupnya seperti paling sulit diantara orang-orang yang ada di sekitarnya saat ini.
“Aku— menyukai seorang laki-laki, yang baru aku temui kemarin sore, sebelum aku pergi ke tempat perjodohan itu.” Kata Maryam mengakui dengan sangat jelas pada kakaknya.
Mendengar pengakuan dari adiknya itu, tentu saja membuat Tyas langsung merasa khawatir. Karena dia tahu, Maryam bukanlah perempuan yang mudah jatuh cinta. Dia tak akan menyukai seorang laki-laki kalau dia tidak benar-benar jatuh cinta pada laki-laki itu.
“Itu artinya, kamu akan kembali menolak perjodohan kamu kali ini?”
“Iya.”
Tyas mencoba untuk memahami perasaan Maryam saat ini. Dia tak akan menjudge perasaan adiknya itu. Dia juga tidak akan meminta Maryam untuk menerima perjodohannya itu, atau pun berhenti menyukai laki-laki itu.
Yang Tyas lakukan adalah mencoba untuk benar-benar memahami perasaan Maryam.
“Kamu tau siapa laki-laki itu?”
“Yang aku temui kemarin?”
“Iya,”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Aku sangat ingin mengenalnya. Bahkan, selama semalaman aku tidak bisa berhenti memikirkan sosoknya. Dia— begitu menawan. Senyumannya yang ramah, membuat jantungku terus berdebar setiap kali teringat dengan wajahnya.”
“Mungkinkah ini cinta?” tanyanya, mengakhiri kalimat hiperbolanya tentang perasaannya pada laki-laki itu.
“Mungkin saja.” Tyas pun tak memungkiri hal itu.
Maryam pun mulai merenungkan obrolannya yang baru saja terjadi dengan kakaknya mengenai pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Entah apa daya tarik dari pria itu, tapi Maryam mengenyahkan semua yang buruk dari pria itu menjadi indah, indah, dan indah di dalam pikiran juga hatinya saat ini. Rasa yang sudah lama sekali tidak dia rasakan dan dia bisa merasakan kembali rasa itu, yang dia kira berada di waktu yang tepat di saat dirinya harus mencari jodoh untuknya.
***
Sore ini, dengan segala kenekatannya. Maryam sengaja menunggu laki-laki itu di halaman Masjid. Tujuannya memang hanya ingin menunggu laki-laki itu saja, setelah dia selesai sholat Ashar di Masjid tersebut.
“Sebodoh ini. Aku begitu merindukannya. Sampai membuatku rela menunggu seperti ini.” Batinnya.
Tapi, Maryam mencoba untuk mengabaikan kebodohannya itu. Dia memang benar-benar tertarik pada laki-laki itu dan ingin mengenalnya.
“Maryam?”
“Mas Abi?” Maryam terkejut saat melihat Abizar yang tiba-tiba muncul di hadapannya, tanpa dia sangka-sangka.
Maryam langsung maskit dari duduknya, dan mencoba menyapa laki-laki perjodohannya itu.
“Kamu lagi ngapain di sini?” tanya Abizar.
“Aku habis sholat,” jawabnya dengan sikap canggung.
“Hanya sholat saja?”
“Aku memang biasa mengikuti kajian agama di Masjid ini.”
“Oh, kamu biasa ikut kajian agama di sini?”
“I-iya,”
Abizar tersenyum tipis. Dia seperti sedang merasakan sesuatu yang tidak nyaman untuknya.
“Memangnya kajiannya jam berapa?”
“Sudah selesai,”
“Lalu, kenapa kamu masih di sini? Apa masih ada yang sedang kamu tunggu?”
“Hah?” Maryam terkesiap, ketika pertanyaan sederhana itu jadi terdengar tak biasa. Abizar memang menerka dengan tepat.
“Teman?” terkanya kembali, dan jauh lebih jelas.
“I-iya.” Maryam tak bisa menutupi kecanggungannya. Dia merasa, kalau keberadaan Abizar malah akan merusak rencananya saja.
“Mau Mas Abi temenin?” sekarang, Abizar malah menawarkan itu padanya.
“Apa…?!” jelas saja Maryam semakin terkesiap mendengar tawaran itu. “Memangnya apa yang mau Mas Abi lakukan di sini tadinya?”
“Mas mau sholat,”
“Sholat?”
“Kok bisa kebetulan gini ya?” batin Maryam, agak aneh.
“Mas Abi kan bekerja di daerah sini.”
“Oh.” Mulut Maryam langsung membulat, setelah mengetahui alasan kenapa dia bisa bertemu Abizar di tempat ini.
“Kebetulan Mas tidak sengaja bertemu dengan Maryam. Ya sudah, sekalian saja kita ngobrol, biar kita semakin akrab.”
“Akrab?” Maryam sampai tertegun mendengar ucapan laki-laki itu.
Entah harus dengan cara apa Maryam menolak perjodohannya kali ini. Tapi, baru kali ini dia merasa terjebak sendiri dengan perjodohan yang tidak pernah dia inginkan. Maryam malah harus berpura-pura menyetujui perjodohan tersebut di depan laki-laki itu.
“Mas Abi sholat dulu ya?” kata Abizar, dengan suara lembut meminta izin pada wanita yang sudah dia anggap sebagai calon istrinya itu.
“Iya,” Maryam menjawab dengan suara sangat pelan. Dia tak mampu berkata-kata lagi pada laki-laki itu.
Baru saja Abizar masuk ke dalam masjid untuk sholat, Maryam langsung melihat laki-laki yang sudah di tunggu olehnya dari tadi berjalan di depan masjid.
Tak ingin menunggu lebih lama lagi, Maryam pun segera berlari menghampiri laki-laki itu dengan langkah kaki penuh semangat.
“Aku akan mengajaknya berkenalan sekarang juga!” Niat itu sudah Maryam ucapkan berulangkali di dalam hatinya sejak pertemuan pertama mereka kemarin sore.
Tapi,
Mendadak langkah kakinya berhenti, ketika dia menyadari sesuatu. Kalau dirinya adalah— seorang perempuan.
Maryam terdiam. Dia tak menggerakkan kakinya sedikit pun. Namun, tatapan matanya tak berhenti mengikuti ke mana langkah kaki laki-laki itu berjalan.
Tiba-tiba dia menjadi lemah sebagai manusia. Perasaan cintanya terhadap laki-laki itu tetap tak sekuat imannya kepada Tuhannya.
“Bodohnya aku. Bodohnya aku bisa jatuh cinta seagresif ini pada seorang laki-laki yang belum aku kenal.”
“Ada apa denganku? Kenapa aku hampir rela mempermalukan diriku sendiri sebagai seorang perempuan?”
Kini, Maryam tak berdaya. Dia hanya bisa memandangi sosok pujaan hatinya itu dengan tatapan sendu. Dia sangat ingin mengenalnya, tapi dia tak punya kuasa atas perasaannya untuk melangkah sampai sejauh itu.
Maryam pun memutuskan untuk diam dan berhenti mengurungkan niat besarnya itu. Dia mencoba tersenyum untuk dirinya sendiri, memuji kehebatan perasaannya yang tak goyah meski dia sedang mencintai seseorang.
“Kamu hebat, Maryam.”
“Maryam?” suara Abizar melepaskan lamunan panjangnya.
Maryam segera menoleh perlahan ke belakang, ke arah laki-laki yang sedang berdiri jauh di belakangnya dan memberikan senyuman hangat padanya.
***
“Jadi, kamu tidak berani mengajaknya berkenalan?” tanya Tyas, ketika Maryam datang ke rumahnya kembali untuk curhat.
“Iya. Ternyata aku tidak punya keberanian sebesar itu untuk berkenalan dengannya.” Maryam mengakui dengan berat.
“Jika dia yang mengajakmu lebih dulu untuk berkenalan, bagaimana?”
“Aku akan memberi waktu untuk diriku selama satu minggu lamanya.”
“Waktu? Waktu apa yang kamu maksudkan?”
“Waktu untuk memberinya kesempatan mengajakku berkenalan.”
Tyas tercengung mendengar perkataan Maryam. “Wah! Adikku memang beda. Dia bisa seberani itu mengambil keputusan untuk masa depannya.” Kata Tyas memuji dengan tepukan tangan.
“Itu artinya, jika laki-laki itu tak juga mengajakmu berkenalan. Kamu akan menerima perjodohan kamu dengan Abizar?”
Maryam tak langsung menjawabnya. Dia terdiam beberapa saat untuk memastikan jawabannya itu.
“Tapi, kamu sudah tidak punya pilihan lain. Banyak teman-teman kamu yang sudah menikah.” Tyas mengetahui kegelisahan Maryam saat ini, dan dia pun mencoba untuk mengingatkan hal itu pada adiknya.
“Jangan terlena oleh waktu kesedirian kamu yang terasa nyaman. Kamu butuh seseorang untuk menjalani kehidupan suka dan dukamu.”
“Jangan seperti aku, yang salah memilih laki-laki. Hingga akhirnya aku terjebak dalam kesulitan yang salah. Kamu, harus berbeda dariku.”
“Kakak rasa, Abizar adalah laki-laki yang tepat untukmu.”
Maryam cukup kecewa mendengar perkataan Tyas. “Kenapa kakak malah jadi tidak mendukungku untuk memilih laki-laki pilihanku sendiri?”
“Karena aku sudah merasakannya.”
“Apa yang kakak rasakan?”
“Cinta.”
Maryam kembali terdiam. Terdiam semakin dalam ketika Tyas menyebutkan satu kata itu.
“Cinta tidak bisa membuat kamu menjadi jauh lebih baik, jika kamu memilih sesuatu hanya dengan emosimu saja.”
“Pikirkan secara matang, tujuan hidupmu. Jangan hanya karena kamu jatuh cinta padanya, lalu, kamu bisa mengatakan, kalau kamu hanya ingin menikah dengannya. Seperti itu kan yang kamu inginkan?”
“Tidak juga.”
“Lalu, apa yang kamu pikirkan?”
Sebelum menjawab pertanyaan dari Tyas, Maryam terlebih dahulu mengingat pada kejadian sore tadi. Saat dia mengobrol bersama Abizar di sebuah taman yang tak jauh dari masjid itu.
“Mas Al akan mengakui, kalau Amas menyukai Maryam. Tapi, Mas juga tidak bisa memaksa Maryam, kalau Maryam tidak menyukai Mas.”
“Jika Maryam memang bersedia untuk menikah dengan Mas, Mas akan melamarmu setelah Ramadhan nanti.”
“Hanya saja, Mas tidak bisa menunggu jawaban kamu terlalu lama. Maaf, Mas meminta jawaban kamu setidaknya dua minggu dari sekarang.”
“Mas butuh keputusan cepat, karena usia Amas yang sudah bukan lagi mencari pacar, melainkan mencari seorang istri.”
Semua ucapan Abizar membuat Maryam mulai memikirkan tentang masa depannya. Terasa konyol jika harus dipikirkan, bisa jatuh cinta pada seseorang pada pandangan pertama. Dan, yang meresahkannya, perasaan itu begitu amat mendalam.
Laki-laki itu masih tetap membuat Maryam sangat penasaran.
***