Bab 1

"Mas, motor saya mogok lagi nih," keluh seorang wanita berparas cantik, saat baru saja tiba di depan bengkel Amin. Keningnya nampak berpeluh, lelah karena habis mendorong motor.

"Eh, Mbak Sena. Emang kenapa mogok lagi?" tanya Amin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Perasaan kemarin sore, ban motor Mbak Sena pecah, masa pagi ini udah pecah lagi? Padahal baru saja ganti ban dalam.

"Gak tahu saya, Mas. Masa setiap lewat sini langsung kempes bannya," terang Sena.

Lelaki itu menghampiri motor wanita yang ia panggil Sena. Kemudian berjongkok, untuk memastikan keadaan motor Mbak Sena.

"Wah, kena paku lagi, Mbak." Amin menunjukkan paku beton yang menancap di ban motor Sena.

"Yah, gimana dong? Mana saya harus buru-buru kerja, Mas. Masuk pagi."

"Emang kerja di mana?"

"Di salon Jalan Makmur. Mau merias pengantin."

"Oh, Mbak pinter merias pengantin. Hebat!"

"Belum hebatlah, Mas. Orang saya cuma merias doang, entah kapan jadi pengantinnya."

"He he he ... Jadi masih jomblo ya?" tanya Amin sambil menyeringai.

"Iya, Mas. Jomblo paket hemat. He he he ..."

"Kayak makan di restoran aja, ada paket hemat," komentar Amin.

"Iya, nikahi satu dapat empat."

"Maksudnya?"

"Saya janda anak tiga, Mas."

"Oh, sama atuh kayak Nengsih dan Elin teman saya. Dua-duanya janda, dua-duanya suka ke bengkel saya. Kalau Nengsih, janda anak satu, kalau Elin, janda anak dua. Nah, kalau Mbak Sena, janda anak tiga. Bisa begitu ya, satu, dua, tiga. Hi hi hi ...."

*****

Setuju lanjut??

Ramaikan komentarnya yaa dan jangan lupa tekan tanda bintang

Ya

Bab 2

Amin masih saja membetulkan motor Jihan, tetangganya yang mogok, saat menerjang banjir tadi sore. Padahal maksud hati, ia ingin tutup saja sebelum maghrib, tetapi saat melihat Jihan mendorong motor dari kejauhan, rasa ibanya hadir. Apalagi, Jihan si bunga gang tempat ia mengontrak, memang sudah lama ia taksir. Bahkan sejak ia tinggal di Gang Mawar.

"Ganti busi ini, Neng," katanya pada Jihan.

"Ya udah, berapa Bang?"

"Gratis aja deh sama Neng Jihan. He he he ...."

"Hah? Beneran, Bang?" gadis itu terpekik tak percaya.

"Iya, tapi jangan cerita ke tetangga lainnya ya."

"Oke, Bang Amin. Bang Amin baik deh," puji Jihan sore itu dan mampu membuat Amin tak bisa tidur nyenyak malam harinya.

Seandainya kembang Gang Mawar itu mau dengan dirinya yang tamvan ini, tentulah ia pasti akan sangat bahagia dan melakukan sukuran tujuh hari tujuh malam. Amin hanya berbolak-balik di atas kasur busa yang mulai mengempes bagian tengahnya, tanpa berhenti memikirkan Jihan, anak perawan Pak Darwis yang merupakan RW di daerahnya.

"Ya ampun, sudah jam sebelas mata belum ngantuk juga. Padahal besok kudu bangun pagi nih," gumamnya sambil turun dari ranjang. Berjalan ke arah dapur untuk mengambil air minum. Setelah menenggak habis minumnya, ia pun berjalan ke ruang depan, mengintip dari jendela, karena mendengar suara tawa tak asing di depan rumahnya. Matanya tiba-tiba sayu, saat Jihan sedang berbicara ramah dengan Edo, anak Pak Lurah, yang selalu saja mengendarai motor gedenya, jika berkunjung ke rumah Jihan.

"Belum perang gue dah kalah," gumamnya sambil membetulkan letak kain gorden. Ia memilih tidur, melupakan keinginan mempunyai calon istri anak perawan yang bernama Jihan.

****

Seperti biasa, bengkel buka pukul enam pagi. Amin terbiasa sholat shubuh di masjid, baru kemudian ia membuka kios  bengkel, yang alhamdulillah sudah setahun ini ia rintis. Meskipun kiosnya masih mengontrak, tetapi paling tidak, sekarang ia bisa menyisihkan sebagian keuntungannya untuk mengirimkan uang pada ibunya di kampung.

"Mas Amin, si merah mogok lagi nih, gak mau di stater." Kali ini, Nengsih janda beranak satu menghampirinya dengan membawa banyak belanjaan sayur yang menggantung di motor.

"Masa sih? Kenapa ya? coba sini, sama saya."

Amin mulai mencoba tekan tombol stater motor.

Ngeek

Ngeek

"Tuhkan, Mas. Kayak orang bengek suaranya," rengek Nengsih.

"Iya ya, coba saya standar dua aja. Baru diengkol." Amin menegakkan motor Nengsih, lalu mencoba engkol.

Ngeek

Ngeek

Brrruum

Brriumm

"Alhamdulillah, akhirnya bisa," kata Nengsih dengan lega.

"Bang Amin, nih mogok juga si putih. Tolong liatin dong!" kali ini, Elin. Janda beranak dua yang menghampiri Amin pagi hari, berdiri tepat di belakang motor Nengsih.

"Sebentar ya, Mbak Elin. Saya benerin motor Mbak Nengsih dulu."

"Iya, Bang, sabar saya mah, he he he ... asal Abang yang benerin, bukan si Udin."

"Iya, sebentar ya." Amin bersorak dalam hati, baru lima belas menit buka, sudah ada dua motor yang mengantre.

"Dah, bisa nih," kata Amin pada Nengsih.

"Terima ...."

Ttiin

Tiiin

"Mas, saya bannya bocor lagi nih!" teriak Sena yang tiba-tiba sudah mengantre persis di belakang Elin. Amin bangun dari posisi jongkoknya, kemudian memperhatikan pasien bengkelnya satu per satu.

Ya Allah, bisa berurutan gini antrenya, ha ha ha ... Janda anak satu, janda anak dua, yang paling belakang, janda anak tiga.

"Jamu kuatnya Bang Amin," panggil Mbak Katini, si tukang jamu, janda tanpa anak, yang kini sudah duduk manis di bangku.

Mati-matian Amin menahan tawa. Ya Allah, kenapa janda semua?

****

Bab 3

Setelah membereskan motor ketiga wanita single parent itu, akhirnya Amin dapat menikmati sarapan bubur ayamnya dengan tenang. Mbak Katini juga sudah keliling kembali menjajakan jamu gendongnya. Masih belum ada pasien lagi, sehingga Amin sedikit santai.

"Bang Amiin," panggil Jihan yang tahu-tahu sudah di depan bengkelnya.

"Eh, Jihan, ada apa, Neng?"

"Boleh pinjam motornya gak? Jihan mau ke tukang fotokopy, banyak tugas sekolah. Motor lagi di pake babe ke kelurahan. Boleh ya, bang?" wajah Jihan berubah melas.

Amin yang menaruh hati pada Jihan, tentu saja tak masalah motornya dipinjam. Ya, memang bukan motor baru apalagi mahal,  hanya motor seken dan masih sangat layak pakai, yang selalu ia gunakan ke sana-kemari.

"Boleh, Neng. Pakai saja, ini kuncinya." Amin mengulurkan kunci motor pada Jihan sambil tersenyum senang.

"Makasih Bang Amin." Jihan pun melajukan motor Amin dengan kencang. Amin kembali duduk menyantap bubur ayam yang sedikit lagi habis. Dilihatnya jam di dinding kios, masih pukul setengah sembilan pagi, tapi ia sudah memperoleh uang enam puluh lima ribu dari para wanita single tadi.

"Alhamdulillah," ucapnya sambil mengulum senyum.

"Mas, tolong motor saya gak bisa di stater," ucap seorang wanita muda yang membawa empat orang anak.

"Eh, iya Bu. Sebentar." Amin menaruh mangkuk bubur ayam, lalu menghabiskan secara kilat, air putih di dalam gelas. Lekas ia membantu ibu muda tadi untuk menstatee motornya, berulang kali ia coba namun tetap tidak bisa.

"Heek ... Hek ...." si bayi dalam gendongan sudah mulai merengek kepanasan.

"Mbak, duduk di sana saja, kasian di sini panas," kata Amin kemudian. Ia merasa kasihan dengan empat anak yang dengan wajah berpeluh kuhausan.

"Bunda, haus," rengek si kecil yang memakai rannsel sekolah.

"Iya, minum saja air minum yang Bagus bawa." Anak kecil itu pun mengeluarkan botol minum dari dalam tasnya.

"Sabar ya, Kak," ucapnya pada seorang anak lelaki yang mungkin berusia sepuluh tahun.

"Bunda sih, motor bukannya diservice," omelnya.

"Mbak, maaf. Ini motornya gak bisa distater bukan karena ada yang rusak, tapi kehabisan bensin," terang Amin sambil menyeringai.

"Ya Allah, saya kira kenapa. Aduh, maaf ya, Bang," ucapnya merasa sungkan.

"Mbak tunggu di sini ya, biar saya jalan ke depan cari bensin. Gak jauh, kok."

"Ya Allah, terimakasih banyak Bang," ucapnya penuh haru. Amin hanya menunggingkan senyum, dengan setengah berlari, ia menghampiri kios bensin eceran yang letaknya tak jauh dari kios bengkelnya.

"Dua, Din," pintanya pada Udin, ABG penjual bensin eceran.

"Tumben, bukannya tadi shubuh udah beli dua botol?"

"Buat pasien noh, kasian emak-emak bawa anak banyak, kalau gue suruh jalan ke sini ya gak mungkin," terang Amin pada Udin, sambil menyerahkan dua lembar uang sepuluh ribuan. Amin pun berjalan kembali ke kios bengkelnya, dua anak sudah menangis sedih, sedangkan yang dua lagi nampak kesal dan lelah.

Amin membuka tutup tangki bensin, lalu menuangkan bensin yang ia bawa ke dalam tangki bensin motor ibu muda itu.

Brrrmm

Brrrmmm

"Alhamdulillah, makasih Bang," ucap wanita itu sambil tersenyum.

"Sama-sama, Bu. Dua puluh ribu."

"Oh iya, ini. Terimakasih," ucapnya lagi sebelum benar-benar meninggalkan lapak bengkel Amin. "Maaf ya, Bu. Diskon hanya untuk pelanggan yang masih gadis, kalau janda harga normal." Amin bermonolog.

Ia sempat berpikir, saat ini dirinya bisa dikatakan sukses dalam usaha, wajahnya juga tidak jelek, masih muda pula. Wajar jika ia menanti wanita single untuk menjadi pasangan hidupnya kelak. Bukan seorang janda yang hidupnya rumit, ditambah ada anak pula. Maka dari itu, Amin selalu memberikan diskon harga bagi para wanita single yang berkunjung ke bengkelnya . Karena siapa tahu, salah satu diantara mereka ada yang kecantol padanya.

****

Waktu bergulir hingga matahari naik tepat di atas kepala, namun Jihan juga belum kembali bersama motornya. Amin mulai resah, berkali-kali ia menoleh ke arah jalan raya besar, berharap Jihan segera kembali, namun sayang, wanita muda yang ia tunggu-tunggu tak kunjung kembali.

Amin baru saja menyelesaikan menambal ban motor Bu Elis, wanita paruh baya yang baru saja ditinggal suaminya tiga bulan yang lalu. Bu Elis adalah tetangga samping rumah Jihan.

"Ngapa lu, Min? Tangak-tengok bae. Nungguin siapa?" tanyanya dengan logat Jakarta.

"Mbak Jihan pinjam motor saya dari jam sembilan belum balik juga, Bu."

"Lha, ini aja udah lewat dzuhur," timpal Bu Elis lagi.

"Makanya, Bu."

"Makanya, Min. Jangan selalu dituruti maunya Jihan, anak itu tahu dia cantik, kembang Gang Mawar yang banyak digilai tetangga, termasuk kamu. Makanya dia jadi suka manfaatin cowok lugu kayak Bang Amin. Harusnya, Bang Amin cari yang lebih dewasa, modelan kayak saya gini, he he he ...  jangan mainan sama bocah. Habis duit diporotin."

"Eh, gitu ya, Bu. He he he ...."

"Benar, pegang omongan saya."

"Lah, itu Jihan. Kok jalan kaki?" tunjuk Bu Elis membuat Amin menoleh. Perasaannya langsung tak enak melihat Jihan menangis sambil berjalan ke kios bengkelnya. Cepat Amin menghampiri Jihan, "loh, motor saya mana, Han?"

"Maaf, Bang, motor Abang dirampas tadi."

"Sama siapa?" wajah Amin memucat.

"Gak tahu, laki-laki dua orang."

"Ya Allah."

****

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED