Bab 1

Rayhan menatap layar ponselnya dengan penuh kebingungan. Aplikasi kencan yang baru saja ia unduh tampaknya tak banyak memberikan pilihan. Sebagian besar profil tampak membosankan, hanya sekadar foto-foto biasa dengan deskripsi yang klise. Namun, satu profil menarik perhatiannya. Seorang wanita dengan senyum lembut, rambut panjang yang tergerai rapi, dan matanya yang tajam seolah memancarkan kepercayaan diri yang luar biasa. Nama pengguna: Elvira.

Rayhan menarik napas panjang. Perasaannya campur aduk. Dalam beberapa minggu terakhir, ia merasa hancur. Ditolak oleh Karina, kekasih yang sangat ia cintai. Semua karena ia tak bisa melanjutkan pendidikan ke spesialis, sesuatu yang membuat Karina merasa seolah ia tidak cukup baik untuknya. Karina memilih Dr. Alvin, seorang rekan sejawat yang juga spesialis bedah kandungan. Mereka menikah setelah berbulan-bulan pacaran, meninggalkan Rayhan dengan perasaan tak berharga.

Kini, setelah beberapa waktu menyendiri, Rayhan merasa butuh sedikit pelarian, meskipun ia tahu perasaan itu hanya sementara. Ia tak berharap banyak dari aplikasi kencan ini. Namun, entah kenapa, ada sesuatu tentang profil Elvira yang menarik hatinya. Pesan pertama ditulisnya dengan hati-hati, berusaha menahan perasaan cemas yang mulai muncul.

"Halo Elvira, senang sekali bisa menemukan profilmu di sini. Sepertinya kita punya beberapa kesamaan dalam minat. Apa kamu suka musik jazz?"

Tak lama setelahnya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.

"Halo Rayhan, terima kasih sudah menghubungi. Ya, aku suka musik jazz, terutama yang klasik. Sepertinya kita bisa berbicara banyak hal."

Rayhan tersenyum sendiri membaca balasan itu. Obrolan mereka berlanjut begitu alami. Topik-topik sepele tentang musik, film, hingga buku yang mereka baca bersama. Elvira tampak cerdas dan memiliki pandangan hidup yang luas. Mereka saling bercerita tentang pekerjaan, tentang kehidupan mereka yang kadang tidak sejalan dengan harapan, tapi tetap berusaha bertahan. Setiap kali Rayhan menatap layar ponselnya, rasanya dunia terasa sedikit lebih ringan.

Seiring berjalannya waktu, percakapan mereka semakin intens. Meski tak pernah bertemu langsung, Rayhan merasa ada kedekatan emosional yang tumbuh. Namun, di balik kebahagiaan kecil ini, ada kegelisahan yang tak bisa ia hilangkan. Apakah Elvira tahu siapa dirinya sebenarnya? Ataukah dia hanya melihatnya sebagai pria biasa, tanpa tahu bahwa ia adalah seorang dokter yang kini terjebak dalam bayang-bayang kesedihan?

Hari itu, suasana rumah sakit tampak lebih sesak dari biasanya. Rayhan baru saja menyelesaikan shift pagi, namun otaknya terasa lelah. Pikirannya kembali terjebak dalam kenangan pahit tentang Karina. Terkadang, rasa cemburu dan marah datang begitu tiba-tiba, mengingatkan pada kenyataan bahwa ia hanya dipandang sebelah mata oleh orang yang paling ia cintai.

"Rayhan!" teriak Dr. Rizal, kepala departemen yang dikenal dengan kepribadiannya yang ceria, namun juga tegas.

Rayhan terkejut dan menoleh. "Ya, dok?"

"Dapat panggilan rapat mendadak di ruang eksekutif. Terkait beberapa perubahan di rumah sakit. Kamu datang, ya?" Dr. Rizal berkata sambil melambaikan tangan.

Rayhan mengangguk, berusaha terlihat santai meski hatinya sedikit gelisah. Rapat dengan pihak manajemen pasti bukan hal yang menyenankan. Namun ia tidak punya pilihan lain selain memenuhi kewajibannya.

Ketika ia berjalan menuju ruang eksekutif, suasana di koridor rumah sakit terasa lebih hening daripada biasanya. Sepertinya hari itu ada suasana yang berbeda. Sesampainya di pintu ruang rapat, ia mendengar suara beberapa orang sedang berdiskusi. Ia merapikan jas putih yang dipakainya dan menarik napas dalam-dalam. Namun, apa yang ia lihat ketika pintu terbuka membuatnya terhenti sejenak.

Di depan meja rapat besar, duduk seorang wanita dengan postur tegak dan wajah yang penuh ketegasan. Wanita itu mengenakan jas hitam yang terlihat elegan dan sangat profesional. Rambut panjangnya diikat rapi, meninggalkan lehernya yang jenjang terlihat semakin menonjol. Dan matanya-mata yang sama dengan yang ia lihat di aplikasi kencan-memandangnya dengan tatapan yang begitu tajam, seolah menilai siapa dirinya.

"Selamat datang, Dr. Rayhan," suara wanita itu terdengar datar namun penuh wibawa.

Rayhan merasa dunia seakan terhenti sejenak. Ia menatap wanita itu, berusaha mencari petunjuk. Mengapa wajahnya terasa begitu familiar? Dan mengapa suara itu terdengar begitu tenang, padahal ada ketegangan yang jelas terasa di udara?

"Elvira?" gumamnya pelan, tidak percaya.

Wanita itu menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Dr. Rayhan, saya Dr. Elvira Maheswari. Saya Direktur Utama rumah sakit ini."

Seketika, segala percakapan ringan yang mereka lakukan di aplikasi kencan terasa jauh dan tak berarti. Kenyataan bahwa wanita yang selama ini membuatnya merasa hidup kembali ternyata adalah sosok yang sangat berkuasa di rumah sakit ini membuat perasaan Rayhan tercampur aduk-antara terkejut, bingung, dan cemas. Apa yang akan terjadi sekarang?

"Sepertinya kita punya beberapa hal yang perlu dibicarakan, Dr. Rayhan." Elvira tersenyum, namun senyumnya tidak menyiratkan kehangatan. Itu lebih seperti senyum yang penuh perhitungan.

Rayhan merasa keringat dingin mulai mengalir di punggungnya. Dunia terasa semakin sempit. Ini bukan sekadar pertemuan bisnis-ini adalah pertemuan yang mengubah segalanya.

Bab 2

Suasana ruang rapat masih tegang. Rayhan menunduk sedikit, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Jantungnya berdetak terlalu cepat, napasnya terasa pendek, dan pikirannya kacau. Bagaimana mungkin wanita yang selama ini menjadi tempatnya melarikan diri dari kesepian ternyata adalah atasan barunya-Direktur Utama yang namanya baru saja diumumkan dua hari lalu melalui surat edaran rumah sakit?

"Saya tahu ini mungkin tidak nyaman," kata Elvira, suaranya tenang namun terdengar tegas. "Tapi saya harap profesionalisme tetap dijaga, Dr. Rayhan."

Kata-katanya menusuk, seolah mengingatkan bahwa kedekatan mereka di dunia maya tak ada artinya dalam dunia nyata. Rayhan mengangguk kaku. "Tentu, Bu Direktur."

Rapat berjalan singkat. Elvira hanya memperkenalkan beberapa kebijakan baru dan restrukturisasi kecil di beberapa divisi. Tapi Rayhan tidak benar-benar menyimak. Fokusnya hanya tertuju pada wanita itu-wanita yang ia kenal sebagai El yang lembut dan hangat, kini berdiri dalam wujud Elvira Maheswari yang dingin dan dominan.

Setelah rapat usai, para dokter dan kepala divisi mulai meninggalkan ruangan satu per satu. Rayhan masih duduk di tempatnya, sengaja menunggu hingga ruangan sepi. Ia tahu ia harus bicara dengan Elvira-entah untuk meminta penjelasan atau sekadar memastikan bahwa semuanya tidak akan menjadi canggung... atau lebih buruk.

Ketika hanya mereka berdua yang tersisa, Rayhan berdiri perlahan. "Elvira..."

Elvira menutup mapnya, tidak langsung menatapnya. "Jangan panggil aku begitu di sini."

Rayhan menelan ludah, merasa tersudut. "Kamu tahu siapa aku sejak awal, kan? Kenapa tidak bilang?"

Elvira mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah Rayhan. Mata itu kini tak lagi menyimpan senyum hangat seperti saat mereka bertukar cerita lewat chat. "Aku tahu, sejak dua hari lalu ketika aku menerima laporan staf lengkap. Tapi sebelumnya? Tidak."

"Kamu serius?" Rayhan nyaris tidak percaya. "Kamu benar-benar tidak tahu aku kerja di sini?"

"Aplikasi itu anonim, Rayhan. Kamu hanya menyebutkan kalau kamu seorang dokter, tapi tidak pernah menyebutkan rumah sakit. Lagipula, aku juga tidak merasa perlu mengungkapkan jabatanku saat itu," jawab Elvira, nada bicaranya tetap stabil.

Rayhan mengangguk pelan. Ia tidak bisa menyalahkannya. Mereka berdua sama-sama menyembunyikan sebagian diri mereka dalam percakapan-percakapannya. Namun, tetap saja... ini terasa seperti tamparan keras.

"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Rayhan lirih. "Kita berpura-pura tidak pernah saling kenal?"

Elvira berdiri, merapikan jasnya. "Kita profesional. Aku Direktur Utama, kamu staf medis. Hubungan personal... sebaiknya berhenti sampai di sini."

Kata-katanya begitu dingin, begitu tajam, seolah menghancurkan semua yang sudah terbangun dalam beberapa minggu terakhir. Rayhan ingin marah, tapi ia juga tahu Elvira benar. Ia atasan, dan ia tidak ingin ada skandal atau rumor di lingkungan kerja.

Tapi tetap saja... rasa sakit itu nyata.

Beberapa hari berikutnya, suasana kerja menjadi aneh bagi Rayhan. Elvira tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka pernah sedekat itu. Ia sangat profesional-terlalu profesional hingga membuat Rayhan bertanya-tanya apakah semua percakapan mereka dulu hanya permainan sesaat baginya.

Namun, apa yang membuat Rayhan semakin gelisah adalah pandangan Elvira. Meski selalu menjaga jarak, setiap kali mata mereka bertemu di lorong atau ruang rapat, ada tatapan dalam yang tidak bisa ia abaikan. Seolah Elvira menyimpan sesuatu yang tidak bisa dikatakan secara langsung.

Dan Rayhan semakin tersiksa.

Satu malam, setelah shift malam yang panjang, Rayhan duduk sendirian di taman rumah sakit. Hujan baru saja reda, menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan. Ia membuka ponselnya, melihat kembali percakapan terakhir mereka di aplikasi. Terakhir online-tiga hari lalu. Sejak pertemuan itu, Elvira tidak pernah membuka aplikasinya lagi. Tidak ada pesan baru. Tidak ada penjelasan.

Namun, Rayhan tidak bisa tinggal diam. Ia mengetik satu pesan terakhir.

"Kamu bisa berpura-pura kita tidak pernah bicara, tapi aku tidak bisa. Aku hanya ingin tahu-apa semua yang kamu katakan waktu itu... jujur?"

Pesan itu tidak langsung terkirim. Ia memandangi layar, ragu. Tapi akhirnya, dengan satu sentuhan, ia mengirimkannya.

Dan menunggu.

Keesokan harinya, ketika Rayhan datang lebih awal untuk menghadiri pelatihan, seorang perawat menyapanya di koridor.

"Dr. Rayhan, Bu Elvira minta Anda datang ke ruangannya. Sekarang."

Rayhan terdiam sejenak. Ada firasat buruk menyelinap. Ia berjalan dengan hati berdebar, dan ketika sampai di depan ruangan Elvira, ia mengetuk pelan. "Silakan masuk," suara dari dalam terdengar.

Ia masuk, dan mendapati Elvira berdiri membelakanginya, menatap ke luar jendela.

"Kamu kirim pesan semalam," katanya tanpa menoleh.

Rayhan mengangguk, meskipun Elvira tidak melihat. "Aku tidak tahu harus bicara ke siapa lagi. Aku hanya ingin tahu kebenarannya."

Elvira berbalik perlahan, dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka di ruang rapat, wajahnya tidak terlihat dingin. Ia tampak... lelah.

"Aku tidak pura-pura, Rayhan. Aku tidak bermain-main." Suaranya melembut. "Apa yang kita bicarakan, aku menikmatinya. Tapi... aku juga tahu batasannya."

Rayhan menatapnya, mencari kebohongan dalam matanya. Tapi yang ia temukan hanyalah keraguan dan rasa bersalah.

"Lalu kenapa kamu menarik diri begitu saja?" suaranya nyaris berbisik.

"Karena aku harus memilih," jawab Elvira pelan. "Dan aku memilih menjaga wibawaku, menjaga karierku. Aku tidak bisa mempertaruhkan reputasi-dan kamu tahu dunia medis ini seperti apa, Rayhan. Semua mata menilai dari kejauhan."

Hening.

Rayhan ingin marah. Ingin membantah bahwa harga diri dan reputasi bukan alasan untuk menghancurkan perasaan seseorang. Tapi ia juga tahu Elvira tidak salah sepenuhnya. Ia hidup dalam dunia yang keras. Seorang wanita dalam posisi puncak, yang setiap langkahnya dinilai dengan kacamata curiga.

Tapi itu tak mengurangi luka yang ia rasakan.

"Aku mengerti," katanya akhirnya. "Tapi aku harap kamu tahu... kamu kehilangan seseorang yang benar-benar tulus melihatmu, bukan jabatannya."

Dan dengan itu, Rayhan melangkah keluar. Menutup pintu.

Meninggalkan Elvira yang tetap berdiri di dekat jendela... dengan sorot mata yang tak mampu lagi menyembunyikan pergolakan hatinya.

Bab 3

Tiga hari berlalu sejak percakapan terakhir mereka di ruangan itu. Dan sejak itu, Rayhan merasa dirinya seperti hantu di rumah sakit sendiri. Ia datang, ia bekerja, ia menyapa rekan sejawat dengan senyum tipis yang dipaksakan. Tapi sejak kata-kata Elvira menusuknya seperti belati, dunia yang semula hanya abu-abu kini terasa sepenuhnya gelap.

Sementara itu, Elvira kembali menjadi sosok yang semua orang hormati-dingin, tajam, dan efisien. Tapi hanya Rayhan yang tahu bahwa di balik tatapan datarnya, tersembunyi seorang wanita yang pernah tertawa lembut di ujung malam. Seorang wanita yang pernah berkata: "Aku merasa hidup lagi saat ngobrol sama kamu."

Rayhan merasa kehilangan seseorang yang tak pernah benar-benar dimilikinya.

Hari itu, rumah sakit sedang kekurangan staf di IGD. Beberapa dokter sedang izin karena seminar medis di luar kota. Rayhan yang harusnya off dipanggil kembali. Ia datang tanpa banyak protes, seperti biasa. Namun energi dalam dirinya sudah habis.

Pukul 02.14 dini hari, IGD sedang sepi. Ia duduk di sudut ruang staf, membuka kotak makan yang sudah dingin. Baru satu suapan, seseorang masuk ke dalam ruangan.

"Rayhan."

Ia mengenal suara itu bahkan dalam tidur sekalipun.

Ia menoleh, dan benar saja-Elvira berdiri di ambang pintu. Ia tak mengenakan blazer direktur, hanya blouse biru muda dan celana panjang hitam. Wajahnya tanpa riasan, rambutnya dikuncir rendah. Dan untuk pertama kalinya... ia terlihat seperti El. Bukan Elvira Maheswari, Direktur Utama Rumah Sakit Harapan Sejahtera.

"Aku mau bicara."

Rayhan menutup kotak makan. "Sudah larut. Kita bisa bicarakan besok."

"Rayhan."

Nada suaranya berubah. Lembut. Memohon. Ia jarang seperti ini. Rayhan mendesah dan mengangguk. "Oke. Duduklah."

Elvira menarik kursi dan duduk di seberangnya. Ada jeda lama sebelum ia bicara. Suaranya nyaris tenggelam dalam suara alat medis dari luar ruangan.

"Dulu aku pernah menjalin hubungan dengan dokter junior. Waktu aku masih Kepala Departemen di Jakarta. Awalnya hanya hubungan kasual, tapi... entah bagaimana, kami jadi dekat."

Rayhan menatapnya, tidak berkata apa-apa. Ia tahu Elvira bukan tipe yang membagi masa lalunya dengan mudah.

"Tapi dia menggunakanku," lanjut Elvira. "Dia memanfaatkan kedekatan kami untuk naik cepat. Dia dapat beasiswa ke luar negeri, dan aku mendukungnya penuh. Tapi di belakang, dia menggunjingku. Mengatakan aku menjadikan hubungan pribadi sebagai alat promosi."

Matanya mulai memerah.

"Aku nyaris kehilangan semuanya waktu itu. Karierku, nama baikku. Dan aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan hal seperti itu terjadi lagi."

Rayhan akhirnya bicara. "Dan kamu pikir aku akan lakukan hal yang sama?"

Elvira menunduk, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku takut. Bukan karena kamu. Tapi karena apa yang dunia lihat dari luar. Aku tidak bisa lagi membela diri tanpa kehilangan sesuatu."

Hening.

Rayhan menghela napas panjang. "Kalau kamu takut dunia, kamu akan kehilangan segalanya, Elvira. Termasuk orang-orang yang sungguh melihatmu, bukan posisimu."

Elvira tidak menjawab. Ia hanya menatap Rayhan, dan kali ini tatapannya kosong-seperti seseorang yang sedang tersesat dan tidak tahu jalan pulang.

Hari-hari berikutnya berubah jadi ladang ranjau. Rayhan dan Elvira berusaha bersikap normal, seolah tidak ada percakapan pribadi yang terjadi. Tapi entah mengapa, justru keheningan itu yang membuat semuanya terasa lebih menyakitkan.

Hingga satu malam, di tengah konferensi internal rumah sakit, badai datang.

Seseorang-entah dari mana asalnya-menyebarkan rumor tentang hubungan antara direktur baru dan seorang dokter muda. Sebuah tangkapan layar percakapan dari aplikasi kencan anonim beredar diam-diam, dikirim dari ponsel ke ponsel oleh staf-staf yang terlalu penasaran.

Rayhan pertama kali mengetahuinya dari salah satu perawat. "Dok... ini beneran tentang Ibu Direktur dan... Anda?"

Ia menatap layar ponsel itu. Dan hatinya tenggelam.

Itu benar-benar tangkapan layar obrolan mereka-nama samaran, tanggal, semuanya. Bahkan potongan percakapan saat Elvira mengatakan, "Aku suka caramu dengar ceritaku. Rasanya aku bukan siapa-siapa lagi saat bicara denganmu."

Rayhan tak butuh waktu lama untuk tahu siapa yang menyebarkannya. Dan ia juga tahu-ini bukan kebetulan. Seseorang ingin menjatuhkan Elvira. Dan mereka menggunakan dia sebagai peluru.

Rayhan langsung menuju lantai delapan, ke ruangan Elvira. Ia mengabaikan tatapan para staf dan ketukan pelan dari mulut ke mulut. Ketika ia tiba, Elvira sudah berdiri dengan mata merah. Wajahnya tak lagi tenang. Tidak ada topeng.

"Aku sudah tahu," katanya sebelum Rayhan bicara. "Komite Etik sudah panggil aku untuk rapat besok."

Rayhan mengatup rahang. "Ini bukan salahmu. Aku yang harusnya melindungimu."

Elvira menggeleng. "Aku bisa hadapi ini. Aku sudah terlalu sering jatuh."

"Bukan ini maksudku!" Rayhan menaikkan suaranya. "Kalau kamu terus berpikir kamu harus hadapi semuanya sendirian, kamu akan hancur sendiri."

Elvira menatapnya tajam. Tapi bukan dengan amarah. Dengan luka. "Karena kamu tak tahu bagaimana rasanya berdiri di tempat setinggi ini dan dilihat dengan kecurigaan. Setiap niat baik selalu dicurigai sebagai kepentingan pribadi."

Rayhan maju satu langkah. "Tapi aku di sini. Aku satu-satunya yang tahu kamu sebenarnya. Jangan usir aku."

Elvira membuka mulut, ingin bicara. Tapi tak ada suara keluar. Hanya air mata yang jatuh perlahan di pipinya. Untuk pertama kalinya, ia runtuh di depan Rayhan. Bukan sebagai direktur. Tapi sebagai El-wanita yang pernah mencintai diam-diam, dan kini terluka karena mencoba berpura-pura kuat terlalu lama.

Rayhan mendekat, menggenggam tangannya.

"Aku gak akan ke mana-mana, El."

Tapi di dalam hati mereka berdua tahu... besok pagi, semuanya akan berubah.

Dan tidak akan ada yang sama lagi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED