Gemerlap lampu kristal menggantung mewah dari langit-langit ballroom Valmere Grand Hotel, menyebarkan cahaya keemasan yang memantul pada setiap permukaan mengilap. Hari itu, sebuah pernikahan agung antara dua nama besar-Sterling dan Harrison-dilangsungkan dengan kemegahan yang nyaris tak masuk akal. Karpet putih salju terbentang sepanjang lorong, dihiasi kelopak mawar putih yang tampak suci, namun sesak oleh kepalsuan yang melingkupi setiap sudut ruangan. Aroma lily dan mawar yang semestinya menenangkan, kini terasa menyesakkan, seolah setiap helaan napas dipenuhi dengan janji-janji kosong dan harapan yang rapuh.
Para tamu, dengan balutan busana desainer dan perhiasan berkilauan, memenuhi kursi-kursi yang berjejer rapi. Mereka adalah jajaran elite masyarakat, para taipan bisnis, politisi berpengaruh, dan figur-figur yang namanya sering terpampang di majalah-majalah finansial. Bisik-bisik dan tawa kecil terdengar samar, menciptakan simfoni sosial yang lazim dalam acara sekelas ini. Namun, di balik senyum-senyum formal dan jabat tangan erat, ada intrik yang tak terlihat, perhitungan strategis, dan rasa ingin tahu yang membuncah tentang masa depan dua keluarga besar ini.
Di ujung altar, di bawah lengkungan bunga yang menjulang tinggi, berdiri seorang pria tinggi dengan setelan jas hitam klasik yang dijahit sempurna, membingkai tubuh atletisnya dengan elegan. Rambut hitam pekatnya disisir rapi, dan rahangnya yang tegas menunjukkan keteguhan yang tak tergoyahkan. Tatapannya tenang, terlalu tenang untuk seorang calon pengantin pria yang seharusnya diliputi kebahagiaan atau setidaknya kegugupan.
Dia adalah Arthur Sterling. Pewaris tunggal Sterling Group, sebuah konglomerat yang merentang luas dari properti, teknologi, hingga media. Namanya identik dengan kekuasaan, kekayaan, dan reputasi sebagai seorang pengusaha yang dingin, brilian, dan tanpa kompromi. Ia adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan, dan hari ini, ia akan "mendapatkan" seorang istri.
Tak ada senyum di bibirnya. Tak ada binar kebahagiaan di mata obsidiannya yang tajam. Hanya wajah datar, nyaris tanpa ekspresi, yang menyiratkan ketidakpedulian yang mendalam terhadap prosesi sakral yang akan segera berlangsung. Baginya, ini hanyalah sebuah kewajiban, sebuah langkah bisnis yang penting, dan sebuah permintaan terakhir dari kakeknya yang sudah renta. Hatinya beku, terlindungi oleh dinding es yang telah ia bangun selama bertahun-tahun. Cinta? Emosi? Itu semua hanyalah gangguan, kelemahan yang tak bisa ia toleransi.
Dari kejauhan, pintu ballroom terbuka perlahan, dan sorot lampu langsung tertuju pada sesosok wanita yang muncul dari baliknya. Lysandra Harrison melangkah perlahan ke arahnya, didampingi oleh Tuan Harrison yang tampak bangga luar biasa. Ayah angkatnya itu berjalan tegak, senyum lebar menghiasi wajahnya, seolah ini adalah puncak dari segala impiannya. Gaun putih Lysandra menjuntai anggun, kain sutra dan renda terbaik memeluk tubuhnya dengan sempurna, memantulkan cahaya kristal dan membuatnya tampak seperti sosok bidadari yang turun dari khayangan.
Wajah Lysandra tersenyum tipis-senyum yang dirancang untuk menyembunyikan kegelisahan yang bergemuruh di dada, badai emosi yang berkecamuk di dalam dirinya. Matanya menatap lurus ke depan, menghindari tatapan penasaran para tamu. Tangannya menggenggam buket bunga lili putih dengan erat, jari-jarinya sedikit gemetar. Setiap langkah terasa berat, seolah ia membawa beban seribu ton di pundaknya, menyeret dirinya menuju takdir yang tak ia inginkan. Tapi ia terus melangkah, selangkah demi selangkah, menapaki karpet putih yang terasa seperti jurang. Karena sekali lagi, ia harus menjadi alat. Alat untuk ambisi ayahnya, alat untuk menyelamatkan nama baik keluarga, dan alat untuk memuluskan kesepakatan bisnis yang melibatkan hidupnya.
Pikirannya melayang pada beberapa bulan terakhir, bagaimana hidupnya berubah drastis setelah kegagalannya dengan Vincent. Bagaimana ia menjadi "aib" yang harus disembunyikan, bagaimana ia ditolak berkali-kali hanya karena statusnya sebagai putri adopsi. Ia bukan darah daging Harrison, dan itu menjadi dosa yang tak terampuni di mata banyak keluarga elite. Lalu, tawaran dari keluarga Sterling datang, seperti badai yang tiba-tiba muncul. Sebuah tawaran yang sulit ditolak, sebuah kesempatan emas yang hanya bisa dibayar dengan kebahagiaan pribadinya.
Ketika akhirnya ia sampai di altar, di hadapan Arthur yang tak bergerak, tangan Lysandra yang dingin dan sedikit basah oleh keringat diserahkan ke tangan Arthur. Sentuhan itu adalah kejutan listrik yang tak menyenangkan. Arthur menatap tangan itu sekilas, matanya seperti pemindai yang menganalisis sebuah objek, bukan seorang manusia. Ia menyentuhnya hanya karena harus, karena itu adalah bagian dari ritual, bukan karena mau, bukan karena ada rasa ketertarikan apalagi kehangatan. Jemarinya kaku, sentuhannya dingin.
Penghulu, seorang pria paruh baya yang terhormat, memulai upacara dengan suara lantang dan khidmat, memecah keheningan yang tegang. "Lysandra Harrison," ucapnya, suaranya menggema di seluruh ballroom, "apakah engkau bersedia menerima Arthur Sterling sebagai suamimu, dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, hingga maut memisahkan kalian?"
Lysandra menelan ludah. Ada ribuan kata yang ingin ia teriakkan, ribuan pertanyaan yang ingin ia lontarkan. Bisakah ia mengatakan "tidak"? Bisakah ia lari dari semua ini? Tapi kemudian ia melihat sekilas wajah ayahnya, sorot mata penuh harapan dan tekanan. Ia melihat para tamu yang menunggu dengan napas tertahan. Tidak ada jalan kembali.
"Saya bersedia."
Suara Lysandra bergetar, tapi tegas. Sebuah janji yang dibuat bukan dari hati, melainkan dari keterpaksaan. Sebuah janji yang akan mengikatnya pada seorang pria asing yang berjanji tidak akan pernah mencintainya.
Lalu giliran Arthur. Penghulu mengalihkan pandangannya pada pria di hadapannya. "Arthur Sterling, apakah engkau bersedia menerima Lysandra Harrison sebagai istrimu, dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, hingga maut memisahkan kalian?"
Arthur diam sejenak. Keheningan menggantung di udara, begitu pekat hingga bisa dipotong dengan pisau. Beberapa tamu tampak gelisah, ada helaan napas kecil yang terdengar samar, dan bisikan-bisikan mulai muncul. Apakah Arthur akan menarik diri? Apakah pernikahan ini akan gagal di menit-menit terakhir? Lysandra merasakan jantungnya berdebar kencang, menanti keputusan yang akan menentukan seluruh sisa hidupnya. Ia tidak tahu apa yang ia harapkan. Kelegaan jika Arthur menolak? Atau kehancuran jika ia menerima?
Kemudian, dengan suara yang dingin, datar, dan tanpa perasaan, Arthur berucap. "Saya bersedia."
Kata-kata itu, meskipun hanya dua suku kata, terasa seperti palu godam yang menghantam dada Lysandra. Bukan karena kebahagiaan, melainkan karena kepastian. Kepastian bahwa ia kini terperangkap dalam sangkar emas ini.
Ijab kabul pun dilangsungkan dengan cepat. Penghulu menyatakan mereka sah sebagai suami istri. Sontak, seluruh ballroom dipenuhi sorak-sorai dan tepuk tangan meriah. Musik mengalun riang, ceria, ironis dengan suasana hati Lysandra. Kilauan kamera menyala-nyala, menangkap setiap momen kebahagiaan yang semu. Namun, tak satu pun emosi terlihat dari Arthur. Ia hanya menoleh pada Lysandra sejenak, tatapan kosong itu menyentuh matanya, lalu dengan cepat mengalihkan pandangan lagi, seolah gadis itu tak lebih dari formalitas dagang, sebuah dokumen yang baru saja ia tanda tangani.
Selesai upacara yang terasa sangat panjang, mereka duduk berdampingan di pelaminan megah yang dihiasi bunga-bunga dan kristal, dikelilingi oleh lautan tamu-tamu elite yang tak henti-hentinya mengucapkan selamat. Senyum palsu sudah terukir permanen di wajah Lysandra. Ia tahu ia harus memainkan perannya dengan sempurna. Ia mencoba bersikap manis, berusaha mencari celah untuk menciptakan setidaknya sedikit kenyamanan di antara mereka.
"Aku tahu ini mendadak... dan mungkin tidak seperti yang kau harapkan," kata Lysandra lirih, suaranya nyaris tenggelam dalam riuhnya pesta, mencoba membuka percakapan. Ia menoleh ke arah Arthur, yang sibuk membalas sapaan para tamu dengan senyum tipis dan formal. "Tapi aku akan berusaha menjalani ini dengan baik. Aku akan melakukan tugasku sebagai istrimu."
Arthur tak langsung merespons. Ia bahkan tak menoleh. Matanya masih fokus pada seorang pebisnis yang baru saja menyalaminya. Lysandra merasa seperti udara tak terlihat di sampingnya. Setelah beberapa saat, tanpa menatap Lysandra, Arthur berkata dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, "Kau tak perlu bersikap sok ramah, Lysandra. Ini pernikahan bisnis, bukan hubungan cinta. Tidak ada yang berharap kau berakting."
Kata-kata itu menusuk, dingin dan tanpa ampun. Lysandra merasakan pipinya memanas, bukan karena malu, tapi karena marah. Namun ia menahannya. Ia harus menahannya.
"Kau bisa berhenti berpura-pura menjadi istri sempurna," lanjut Arthur, akhirnya menoleh padanya, tatapannya menusuk tajam. "Aku tidak tertarik pada penampilan atau kepura-puraan. Aku hanya ingin kesepakatan ini berjalan lancar. Itu saja."
Lysandra terdiam. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia mencoba mencerna betapa kasarnya ucapan pria ini, pria yang kini adalah suaminya. "Kalau begitu kenapa kau menikahiku?" tanyanya pelan, mencoba agar suaranya tidak bergetar. Sebuah pertanyaan yang seharusnya tidak ia tanyakan, tapi rasa sakit dan kebingungan mendorongnya.
Arthur mendengus, ekspresinya dipenuhi kejenuhan yang nyata. Ia mencondongkan tubuh sedikit, seolah ingin memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. "Karena Harrison Group," jawabnya tanpa ragu, tanpa emosi, seolah sedang menyebutkan poin-poin dalam kontrak bisnis. "Dan kakekku ingin melihatku menikah sebelum beliau mati. Kau hanya bagian dari kesepakatan. Jangan merasa lebih dari itu."
Setiap kata adalah tamparan. Sakit. Lebih sakit dari yang bisa ia bayangkan. Ia tahu pernikahan ini bukan tentang cinta, ia sudah mempersiapkan diri untuk itu. Tapi ia tidak menyangka akan diperlakukan seolah ia adalah barang, objek tak bernyawa yang hanya berfungsi untuk memenuhi keinginan orang lain. Lysandra menahan air mata yang mendesak di pelupuk mata. Ia menggenggam tangannya sendiri di pangkuan, buku-buku jarinya memutih, mencoba membenamkan semua rasa sakit itu dalam diam.
"Aku tidak minta kau mencintaiku, Arthur," ucapnya lagi, suaranya kini lebih dingin dan terkontrol, meniru ketidakpedulian pria di sampingnya. "Tapi setidaknya kau bisa bersikap sopan. Kita akan tinggal di bawah satu atap, kita akan tampil sebagai suami istri di depan publik. Aku berhak mendapatkan rasa hormat minimal."
Arthur meliriknya tajam, seringai sinis terukir di bibirnya. "Dan kau pikir aku peduli pada sopan santun? Aku tidak peduli pada apa pun kecuali apa yang ingin kudapatkan. Cukup jalankan tugasmu. Tersenyumlah di depan kamera, berikan kesan yang baik di depan para investor dan mitra bisnis. Dan yang terpenting, jangan buatku malu. Itu saja yang kubutuhkan darimu."
Lysandra menarik napas panjang, sebuah desahan berat yang hanya terdengar di dalam hatinya. Ia membenamkan semua rasa sakit itu dalam diam, menelannya mentah-mentah. Ia sudah tahu, hari ini bukan dongeng. Ia sudah tahu ini adalah pernikahan tanpa cinta. Tapi ia tidak tahu... betapa cepat mimpi buruk itu dimulai. Semalam, ia adalah seorang wanita yang, meskipun terluka, masih memiliki sedikit harapan untuk masa depan yang lebih baik. Hari ini, ia adalah tawanan dalam sangkar emas, terikat pada seorang pria yang memandangnya tak lebih dari sebuah aset.
Di antara para tamu, berdiri seseorang yang menyaksikan segalanya dari kejauhan, senyum tipis penuh kemenangan terukir di bibirnya. Amelia Harrison, adik Lysandra, putri kandung dari keluarga Harrison, memiringkan kepala. Matanya yang tajam menatap kakaknya dengan campuran rasa jijik dan kepuasan. Gaun malamnya yang mewah tampak lebih pas padanya, seolah ia adalah permata yang lebih berharga.
Di sampingnya, Vincent, mantan kekasih Lysandra dan kini tunangan Amelia, menatap Lysandra dengan tatapan mengejek, seringai licik menghiasi wajah tampannya. Tangan Amelia menggenggam lengan Vincent posesif, seolah ingin menegaskan kepemilikan.
"Dia mungkin berhasil berdiri di pelaminan duluan," gumam Amelia, suaranya pelan tapi penuh racun, "tapi lihat saja... Saat Arthur Sterling tahu siapa dia sebenarnya, segalanya akan runtuh. Seluruh kemegahan ini akan hancur menjadi debu." Ia menyesap sampanye di tangannya, matanya tak lepas dari Lysandra.
Vincent menyeringai, matanya yang sebelumnya penuh kasih untuk Lysandra kini hanya menyisakan kebencian. "Dan saat itu terjadi..." ia berhenti sejenak, menikmati antisipasi, "...dia akan belajar, bahwa hidup bukan tentang keberuntungan atau belas kasihan. Tapi tentang darah yang mengalir di nadimu. Darah sejati, yang membuktikan siapa dirimu sebenarnya."
Kata-kata mereka melayang di udara, tidak terdengar oleh siapa pun kecuali diri mereka sendiri, namun memiliki bobot yang jauh lebih berat daripada janji pernikahan yang baru saja diucapkan. Mereka adalah ramalan, kutukan yang siap menimpa Lysandra. Dan Lysandra, yang kini mencoba untuk sekadar bernapas di samping suaminya yang dingin, tidak tahu bahwa bahaya terbesar bukan hanya datang dari Arthur, melainkan dari orang-orang terdekatnya, yang menanti saat yang tepat untuk menjatuhkannya. Masa depannya, yang seharusnya dimulai dengan janji bahagia, kini terhampar sebagai medan perang yang kejam, di mana ia harus berjuang seorang diri untuk bertahan hidup, untuk menjaga rahasia yang mengancam untuk menghancurkan segalanya.
Malam pernikahan, yang seharusnya dipenuhi kehangatan dan romansa, terasa dingin dan hampa bagi Lysandra. Setelah formalitas resepsi yang melelahkan, ia kembali ke kamar suite yang mewah di Valmere Grand Hotel. Kamar itu begitu besar dan mewah, namun terasa seperti sangkar berlapis emas. Aroma bunga dan parfum mahal memenuhi udara, tapi tak mampu menyamarkan bau kepalsuan yang menempel kuat.
Lysandra duduk di tepi ranjang berukuran king, diselimuti piyama tipis yang terasa asing di kulitnya. Kain satin itu memang lembut, namun setiap sentuhannya terasa seperti pengingat akan situasi yang tak nyaman ini. Piyama itu dipilihkan oleh asisten Arthur, yang dengan senyum manis namun tatapan dingin, telah menyerahkannya padanya di kamar ganti. "Tuan Sterling menyarankan ini, Nyonya," ucap asisten itu, seolah piyama itu adalah bagian dari kontrak yang tak terucapkan. Lysandra tahu apa maksudnya. Ini adalah malam pertama mereka, dan ia diharapkan untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Kewajiban yang telah dipertegas oleh Tuan Harrison sebelum pernikahan. "Kau harus bisa memenuhi semua kebutuhan Arthur, Lysandra. Ini demi masa depan kita semua," ayahnya berkata dengan tegas, tanpa sedikitpun kehangatan atau simpati.
Jantung Lysandra berdegup tak karuan. Ia menatap pantulannya di cermin besar di seberang ruangan. Wajahnya pucat, matanya tampak sayu, dan senyum yang ia pamerkan sepanjang hari telah luntur sepenuhnya, digantikan oleh ekspresi ketakutan dan kegelisahan. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Malam ini akan menjadi permulaan dari segalanya, atau akhir dari sisa-sisa kebebasannya.
Terdengar suara pintu dibuka. Jantung Lysandra mencelos. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang masuk. Aroma maskulin yang tajam, perpaduan cologne mahal dan bau khas Arthur, langsung memenuhi ruangan. Ia memejamkan mata sejenak, mempersiapkan diri.
Arthur Sterling melangkah masuk. Ia sudah berganti pakaian, kini mengenakan setelan piyama sutra yang serasi dengan miliknya, meskipun warnanya gelap dan tampak jauh lebih sederhana. Matanya menyapu ruangan, berhenti sejenak pada sosok Lysandra yang duduk di tepi ranjang. Senyum tipis, nyaris tak terlihat, terukir di bibirnya. Senyum yang lebih mirip seringai licik daripada ekspresi kehangatan. Senyum yang membuat bulu kuduk Lysandra merinding.
Arthur berjalan mendekat, langkahnya tenang namun terasa mengancam. "Sudah siap, Nyonya Sterling?" suaranya rendah, nyaris berbisik, namun terdengar seperti gema di telinga Lysandra.
Lysandra mendongak, matanya bertemu dengan tatapan Arthur yang tajam. Ia mencoba mencari jejak emosi, tapi hanya menemukan kehampaan yang dingin. "Aku... aku sudah di sini," jawab Lysandra pelan, suaranya sedikit bergetar. Ia berusaha menunjukkan ketenangan, namun tubuhnya mengkhianatinya.
Arthur mendekat hingga berdiri tepat di hadapannya. Ia mengangkat tangannya, dan Lysandra refleks sedikit tersentak. Tapi Arthur hanya menyentuh dagunya, mengangkat wajah Lysandra agar menatapnya lebih jelas. "Bagus," katanya, suaranya tetap datar. "Karena kita punya urusan yang harus diselesaikan malam ini."
"Urusan?" tanya Lysandra, meskipun ia tahu betul apa yang dimaksud.
"Tentu saja," Arthur menyeringai, senyum liciknya semakin jelas. Ia menoleh ke meja samping ranjang, di mana teronggok sebotol anggur merah dan dua gelas kristal. "Anggur ini tidak akan habis sendiri."
Lysandra hanya mengangguk pelan. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia merasa seperti boneka yang digerakkan oleh benang tak terlihat, tanpa kehendak sendiri. Arthur menuangkan anggur ke dalam dua gelas. Ia menyerahkan salah satu gelas kepada Lysandra, yang menerimanya dengan tangan gemetar.
"Untuk awal yang baru," ucap Arthur, mengangkat gelasnya.
Lysandra mengangkat gelasnya, tetapi ia tidak ikut meminumnya. Ia hanya berpura-pura menyesap, merasakan cairan dingin menyentuh bibirnya. Arthur, di sisi lain, menenggak habis minumannya dalam satu tegukan, lalu menuangkan lagi untuk dirinya sendiri. Lysandra melihat sekilas, ia tampak seperti sengaja meminumnya.
Ia melihat Arthur sedikit memejamkan mata setelah tegukan kedua, seolah ada sesuatu yang bekerja di dalam dirinya. Lysandra bertanya-tanya, apakah ini bagian dari ritual, atau ada sesuatu yang lain. Ia merasakan kegelisahan yang semakin menjadi-jadi.
Arthur meletakkan gelasnya dengan dentingan kecil di meja. Ia berbalik sepenuhnya menghadap Lysandra, matanya kini tampak lebih gelap, lebih intens. "Orang tuamu sudah memberitahumu, bukan?" tanyanya, suaranya kini sedikit lebih serak. "Tentang kewajibanmu sebagai istri."
Lysandra mengangguk, menunduk. Rasa malu dan kemarahan bercampur aduk. "Mereka sudah memberitahuku."
Arthur tersenyum lagi, senyum yang sama sekali tidak tulus. "Bagus. Jadi tidak perlu ada penjelasan lebih lanjut."
Tanpa peringatan, Arthur bergerak. Ia meraih pergelangan tangan Lysandra, menariknya dengan kekuatan yang mengejutkan. Lysandra tak sempat bereaksi. Ia terhuyung, tubuhnya oleng, dan sedetik kemudian, ia sudah jatuh terhempas di atas ranjang yang empuk. Gelas anggur di tangannya terlepas, isinya tumpah membasahi seprai putih.
Arthur menaiki ranjang, tatapan dinginnya kini dipenuhi nafsu yang tak tersembunyi. Ia merangkak di atas tubuh Lysandra, memenjarakannya di antara lengan kokohnya. Lysandra merasakan napasnya tercekat. Rasa takut menyelimutinya.
Arthur menunduk, bibirnya yang dingin dan tipis menemukan bibir Lysandra. Ciuman itu kasar, menuntut, tanpa kelembutan sedikit pun. Lysandra mencoba mendorongnya, tetapi Arthur terlalu kuat. Ia menciumnya seolah ingin mengambil sesuatu, bukan memberi. Ciuman itu turun ke leher Lysandra, meninggalkan jejak kemerahan yang terasa seperti luka bakar. Lysandra merinding, merasakan kulitnya geli di bawah sentuhan bibir Arthur. Ia memejamkan mata, air mata mulai menggenang.
Arthur mengangkat kepalanya sedikit, menatap Lysandra dengan mata penuh gairah yang aneh. Lalu, tanpa ragu, tangannya merobek piyama satin yang tipis itu dengan sekali sentak. Kain itu koyak di bagian depan, memperlihatkan tubuh Lysandra yang kini telanjang, rentan, dan gemetar di bawah tatapan Arthur. Lysandra merasa sangat terhina, dan air mata mulai menetes membasahi pelipisnya.
Mata Arthur berkilat. Ia menatap telanjang tubuh Lysandra, terutama pada kedua gundukan dada yang montok dan membusung. Bibirnya yang basah segera menghampiri, menghisap salah satu puting Lysandra dengan rakus, seperti bayi yang kelaparan. Lidahnya yang kasar menyapu, menghisap, dan menarik, membuat Lysandra tanpa sadar melengkungkan punggungnya. Desahan tertahan lolos dari bibirnya, sebuah desahan yang bercampur antara rasa terkejut, geli, dan sedikit rasa sakit.
"Ah... Arthur..." desah Lysandra, namanya keluar seperti bisikan yang nyaris tak terdengar. Tangannya mengepal erat seprai di bawahnya.
Arthur tak peduli. Tangannya yang bebas meremas dada Lysandra yang lain, menggosok dan memelintir putingnya dengan gerakan memabukkan. Ia terus menyesap, sesekali menggigit kecil, membuat Lysandra kembali mendesah tak berdaya. Sensasi yang aneh, menakutkan, namun sekaligus menggelitik.
Kemudian, Arthur mengangkat kepalanya dari dada Lysandra. Tatapannya kini berpindah ke bawah, ke selangkangan Lysandra yang terbuka. Mata gelapnya menatap area intim Lysandra dengan intensitas yang tak bisa dijelaskan. Lysandra merasa wajahnya memerah padam. Aroma samar, campuran antara keringat dan aroma tubuh Lysandra yang kini bercampur dengan bau maskulin Arthur, memenuhi indra penciumannya.
Arthur menunduk. Bibirnya yang tebal dan basah kini menyentuh kulit di paha bagian dalam Lysandra, merayap perlahan ke atas. Lysandra terkesiap, tubuhnya menegang. Ia merasakan napas hangat Arthur membelai area paling pribadinya.
"Harum sekali," gumam Arthur, suaranya serak dan dalam, membuat Lysandra merinding. Ia merasakan lidah Arthur membelai klitorisnya, sebuah sentuhan yang mengejutkan, mengirimkan sengatan listrik ke seluruh tubuhnya.
"Ah! Arghh..." desah Lysandra, tubuhnya melengkung tak terkendali. Sensasi itu terlalu intens, terlalu baru, terlalu memalukan. Ia mencoba menutup kakinya, tetapi Arthur menahannya dengan lututnya.
Lidah Arthur menjilati klitoris Lysandra dengan rakus, mengulang-ulang gerakan yang sama. Ia memutari, menghisap, dan sesekali menggigit kecil. Lysandra tidak bisa menahan desahannya lagi. Suara-suara kecil keluar dari bibirnya, campuran antara rasa sakit, kenikmatan yang tak diinginkan, dan keputusasaan.
"Mmh... Arthur... hentikan..." bisiknya, namun suaranya terlalu lemah, dan ia tahu Arthur tidak akan peduli.
Arthur semakin mempercepat gerakannya, seolah ingin melihat sejauh mana Lysandra bisa bertahan. Jilatannya semakin dalam, semakin memabukkan. Lysandra bisa merasakan tubuhnya mulai bereaksi di luar kendalinya, sebuah sensasi yang aneh dan menakutkan.
Setelah beberapa saat, Arthur mengangkat kepalanya. Ia menatap Lysandra, matanya menyala-nyala. "Kau siap?" tanyanya, suaranya berat dan menggetarkan.
Lysandra hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan lemah, air mata mengalir dari matanya. "T-tidak... kumohon..."
Tapi Arthur tak peduli. Ia menggerakkan tangannya ke bawah, meraih jemarinya yang panjang dan kuat. Ia memasukkan jari telunjuknya ke dalam lubang vagina Lysandra. Lysandra menjerit kecil, tubuhnya menegang hebat. Rasa sakit yang tajam menyengat. Selaput daranya terasa tertarik, nyeri yang menusuk.
"Ah! Sakit! Arthur, kumohon!" teriak Lysandra, mencengkeram erat lengan Arthur, kukunya menancap di kulit pria itu.
Arthur mendesah dalam, menikmati reaksi Lysandra. Ia menggerakkan jarinya perlahan di dalam, berusaha melonggarkan, membuat lubang. Lysandra terus menjerit dan merintih, air mata membanjiri wajahnya. Rasa sakit itu tak tertahankan, seperti ada sesuatu yang ditarik paksa dari dalam dirinya.
"Ini akan segera selesai," gumam Arthur, suaranya serak karena gairah. Ia menarik jarinya, lalu mengatur posisinya.
Lysandra melihat penis Arthur yang besar, menggantung di antara kakinya. Rasa takut yang nyata mencengkeramnya. Bagaimana mungkin benda sebesar itu bisa masuk ke dalam dirinya? Ia merasa tubuhnya seketika membeku.
Arthur menekan pinggulnya ke depan. Ujung penisnya yang keras dan tebal menyentuh lubang vagina Lysandra. Lysandra menjerit, mencengkeram erat seprai kasur hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sakit itu begitu hebat, seolah ada pisau panas yang merobek bagian dalam tubuhnya.
"Ah! Arya... sakit sekali!" teriak Lysandra, air mata mengalir deras membasahi bantal.
Arthur mendesah dalam, matanya terpejam. "Sedikit lagi, Lysandra," bisiknya, suaranya penuh perjuangan. Ia mendorong lagi, keras dan tanpa ampun. Lysandra merasakan sesuatu merobek di dalam dirinya, diiringi rasa sakit yang luar biasa. Ia berteriak histeris.
Arthur mendorong lebih dalam, menembus sepenuhnya ke dalam tubuh Lysandra. Desahan panjang dan dalam lolos dari bibirnya. Ia memejamkan mata, menikmati sensasi itu.
"Oh... ah... fuck..." desah Arthur, suaranya berat dan dipenuhi kenikmatan. Ia diam sejenak, membiarkan tubuhnya menyesuaikan diri dengan cengkeraman ketat Lysandra.
Lysandra hanya bisa merintih, tubuhnya gemetar hebat. Rasa sakit itu luar biasa, mencengkeram seluruh sarafnya. Ia merasa kosong, hampa, seperti sesuatu telah direnggut paksa dari dirinya.
Arthur mulai bergerak. Gerakannya lambat pada awalnya, lalu semakin cepat, semakin kuat. Setiap dorongan adalah siksaan bagi Lysandra. Ia mencengkeram erat bahu Arthur, kukunya menancap dalam.
"Ah... ah... sakit... Arthur... kumohon..." Lysandra terengah-engah, suaranya serak. Ia tidak bisa lagi membentuk kata-kata.
"Hmm... Ya... bagus... Desah, Lysandra... desah untukku..." desah Arthur, suaranya semakin berat, menikmati setiap reaksi dari Lysandra. Ia terus bergerak, ritmis, tak peduli dengan tangisan dan erangan kesakitan dari wanita di bawahnya. Keringat membanjiri dahinya.
Semakin lama, gerakan Arthur semakin cepat, semakin brutal. Ia mendorong pinggulnya dengan kekuatan penuh, menghantam tubuh Lysandra berulang kali. Ranjang berderit seiring dengan ritme gairah Arthur. Desahan Arthur semakin mengeras, bercampur dengan teriakan dan rintihan Lysandra yang bercampur putus asa.
"Argh! Ah... ah..." Arthur mendesah keras, suaranya menggema di ruangan. Tubuhnya menegang, otot-ototnya menonjol. Ia mencapai puncaknya.
Dengan desahan terakhir, Arthur menarik tubuhnya sedikit, dan cairan spermanya menyembur deras ke dalam rahim Lysandra. Ia terengah-engah, tubuhnya ambruk di atas Lysandra, berat dan basah oleh keringat.
Lysandra hanya bisa terbaring tak bergerak di bawahnya, air mata terus mengalir tanpa henti. Ia merasa hancur, kosong, dan kotor. Malam pertama yang seharusnya sakral telah berubah menjadi mimpi buruk yang merenggut segalanya darinya. Ia merasa tidak hanya kehilangan keperawanannya, tetapi juga martabat dan sisa-sisa dirinya.
Arthur bangkit perlahan dari tubuh Lysandra. Ia menatap Lysandra sejenak, matanya masih berkilat karena nafsu, namun kini kembali diselimuti ketidakpedulian yang dingin. Ia meraih handuk dari samping ranjang dan mengelap tubuhnya sendiri tanpa sepatah kata pun. Ia bahkan tidak menoleh ke arah Lysandra yang masih terbaring telanjang, air mata membasahi pipinya.
Lysandra memalingkan wajahnya, ia merasa jijik pada dirinya sendiri, dan pada pria yang kini menjadi suaminya itu. Ini baru permulaan. Ia tahu ini baru permulaan dari neraka yang akan ia jalani. Pernikahan ini, yang seharusnya menjadi penyelamatnya, justru telah menjerumuskannya ke dalam kegelapan yang lebih dalam.
Suara gemericik air dari kamar mandi memecah keheningan yang menyesakkan di kamar suite. Arthur, setelah "menyelesaikan tugasnya," melangkah masuk ke sana, meninggalkan Lysandra terbaring hancur di ranjang. Lysandra bisa mendengar suara shower menyala, seolah Arthur sedang membersihkan jejak-jejak perbuatannya, membersihkan dirinya dari sentuhan yang baru saja merenggut segalanya dari Lysandra. Setiap tetes air yang jatuh terdengar seperti derai air mata yang tak sanggup ia keluarkan lagi.
Lysandra masih terbaring telanjang, selimut yang sempat tersingkap kini ia tarik erat menutupi tubuhnya yang gemetar. Ia mencoba menghirup napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Rasa sakit fisik bercampur dengan kehampaan emosional yang menguasai dirinya. Ia merasa kotor, direnggut, dan begitu rapuh. Aroma Arthur masih melekat di seprai, di kulitnya, seolah menjadi pengingat pahit akan malam yang baru saja ia lalui. Ia menatap langit-langit, berharap waktu bisa kembali, berharap ia tidak pernah terbangun dari mimpi buruk ini. Namun, kenyataan pahit adalah ia sudah menikah, dan pernikahan ini adalah neraka yang baru saja ia masuki.
Di dalam kamar mandi, uap panas memenuhi ruangan, mengaburkan cermin dan melarutkan ketegangan. Arthur berdiri di bawah aliran air hangat, membiarkan tetesan-tetesan itu membasuh kulitnya. Namun, alih-alih merasa lega atau bersih, ia merasakan sesuatu yang lain. Sensasi gairah yang aneh, residual dari tindakan yang baru saja ia lakukan, kembali merayapi dirinya. Keringat dan kelelahan bercampur dengan dorongan yang baru.
Ia menunduk, melihat penisnya yang kini kembali menegang. Kejutan kecil menyelimutinya. "Sial," gumamnya pelan, sebuah desahan frustasi. "Kenapa ini bisa terjadi lagi?"
Arthur memejamkan mata, bayangan wajah Lysandra terlintas di benaknya. Wajah pucatnya, mata yang dipenuhi air mata, bibirnya yang bergetar. Lalu, bayangan tubuhnya yang ramping, dadanya yang membusung, paha mulusnya yang terbuka di bawahnya. Gairah itu semakin membuncah. Ia merasakan sensasi sentuhan kulit Lysandra, erangan kecilnya, dan bagaimana tubuhnya merespons di bawahnya.
"Sialan, Lysandra," desahnya lagi, suaranya serak. "Kenapa tubuhmu senikmat itu?"
Ia menggerakkan tangannya, meremas penisnya yang sudah keras, mencoba melepaskan ketegangan yang kembali muncul. Sebuah desahan panjang lolos dari bibirnya. "Ah... sial..."
Arthur memejamkan mata, membiarkan imajinasinya bekerja. Ia membayangkan lagi sentuhan kulit Lysandra, aroma tubuhnya yang samar. Ia terus meremas, mempercepat gerakannya, desahan-desahan kecil keluar dari bibirnya. Ia melakukannya berulang kali, mencoba mengusir sisa gairah yang melekat kuat. Ia menggerakkan pinggulnya ke depan, seolah Lysandra masih berada di bawahnya. Ia mendesah, menahan napas, lalu melepaskan erangan panjang saat mencapai klimaksnya lagi.
Setelah beberapa saat, Arthur membuka matanya. Rasa panas di tubuhnya perlahan mereda, tergantikan oleh sensasi lelah. Ia mematikan shower, meraih handuk dan mengelap tubuhnya dengan kasar. Ia melilitkan handuk di pinggangnya, lalu melangkah keluar dari kamar mandi.
Kamar kembali hening, hanya ada suara napas Lysandra yang teratur. Arthur menatap ranjang. Lysandra masih terbaring di sana, meringkuk di bawah selimut putih, memunggungi dirinya. Hanya gundukan kecil yang terlihat, seolah Lysandra ingin menghilang.
Arthur tak berkata apa-apa. Wajahnya kembali datar, tanpa emosi. Ia berjalan ke lemari besar di sudut kamar, membukanya. Ia mengambil celana piyama dan kemeja santai, lalu tanpa ragu, ia melepaskan handuknya di depan Lysandra, memperlihatkan tubuh telanjangnya yang atletis.
Lysandra, yang sebenarnya tidak tidur, merasakan tubuhnya menegang. Ia tahu Arthur sedang berdiri telanjang di belakangnya. Rasa malu kembali menyeruak. Meskipun ia sudah melihatnya beberapa saat yang lalu, rasa tidak nyaman itu tetap ada. Lysandra memejamkan mata erat-erat, berharap Arthur tidak menyadari bahwa ia terjaga.
Arthur memakai pakaiannya dengan tenang, tanpa terburu-buru. Setelah selesai memakai celana piyama, ia menariknya ke atas, menutupi area pribadinya. Baru kemudian ia melirik ke arah Lysandra yang masih membelakanginya.
"Kamu belum tidur?" tanya Arthur, suaranya datar, tanpa intonasi.
Lysandra membuka matanya sedikit, namun tetap tidak berbalik. Ia merasakan amarah kecil muncul. Pria ini begitu tidak peduli. Ia berani-beraninya melepas pakaian di depannya begitu saja. "Kenapa tidak berpakaian di kamar mandi saja, Tuan Sterling?" sindir Lysandra, suaranya serak karena lelah dan emosi. "Tidak perlu repot-repot telanjang di sini."
Arthur mengancingkan kemejanya perlahan, mengangkat satu alisnya. "Kita sudah menikah, Lysandra," jawabnya cuek, sama sekali tidak terpengaruh oleh sindiran Lysandra. "Lagipula, kau sudah melihat milik saya, bukan?" Ia menunjuk ke arah selangkangannya yang kini tertutup kain. "Tidak ada lagi yang perlu disembunyikan."
Lysandra menghela napas panjang. "Terserah," gumamnya, lalu membalikkan tubuhnya sepenuhnya, memunggungi Arthur. Ia menarik selimut lebih tinggi, menutupi sampai ke lehernya, seolah ingin menciptakan benteng tak terlihat antara dirinya dan Arthur.
Arthur tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia selesai memakai kemejanya, lalu berjalan ke sisi ranjang yang berlawanan dari Lysandra. Ia melihat selimut Lysandra yang basah oleh tumpahan anggur dan darah. Ia mengerutkan kening sedikit, namun tidak berkomentar.
"Kamu tidak mandi?" tanya Arthur, suaranya terdengar dari belakang punggung Lysandra.
Lysandra memejamkan matanya erat-erat. Ia ingin sekali mandi, membersihkan dirinya dari semua yang baru saja terjadi. Namun, ia merasa terlalu lelah, terlalu hancur. Ia hanya ingin melarikan diri ke alam mimpi, meskipun ia tahu mimpi buruk itu akan mengikutinya. "Nanti saja," jawab Lysandra pelan, suaranya terdengar lelah. "Aku mengantuk. Aku ingin tidur." Ia memejamkan matanya, berharap Arthur akan mengerti dan meninggalkannya sendiri.
Arthur terdiam sejenak. Ia melihat Lysandra yang memunggungi dirinya, bahunya sedikit bergetar. Ia bisa merasakan kelelahan yang memancar dari tubuh Lysandra. Tanpa banyak bicara, Arthur berjalan ke arah sofa panjang yang ada di seberang kamar. Ia mengambil bantal dan selimut yang sudah disiapkan di sana, lalu membaringkan tubuhnya di sofa.
Lysandra, yang masih terjaga dan mendengar setiap gerakan Arthur, merasakan sesuatu yang aneh. Sedikit kelegaan, karena Arthur tidak akan tidur di ranjang bersamanya. Namun, ada juga perasaan lain, sebuah ironi yang menusuk.
"Percuma saja kita melakukan hubungan intim kalau suaminya saja tidur di sofa," sindir Lysandra, suaranya lebih pahit dari yang ia inginkan. Ia tahu ia seharusnya tidak bicara, tetapi emosinya sudah di ujung tanduk. Perlakuan Arthur yang dingin, perasaannya yang direnggut, membuatnya ingin melukai kembali.
Arthur berhenti sejenak, bantal sudah ada di bawah kepalanya. Ia tidak berbalik, suaranya tetap datar, tanpa emosi, "Tidur saja, Lysandra. Jangan bicara."
Kata-kata itu mengakhiri percakapan mereka, atau lebih tepatnya, mengakhiri upaya Lysandra untuk berbicara. Arthur memejamkan matanya, seolah ia sudah benar-benar selesai dengan hari ini, dengan pernikahan ini, dengan Lysandra.
Lysandra menatap kegelapan di depannya, air mata kembali menggenang di matanya. Ia sudah tahu pernikahan ini adalah neraka, tapi ia tidak menyangka neraka itu akan begitu dingin dan sepi. Ia terbaring di ranjang besar itu, seorang diri, padahal suaminya hanya berjarak beberapa meter darinya. Kesenjangan di antara mereka terasa begitu luas, lebih luas daripada ruangan mewah ini. Ia merasa begitu sendirian, begitu hampa.
Malam itu, Lysandra tidak bisa tidur nyenyak. Setiap kali ia memejamkan mata, ia merasakan lagi sentuhan Arthur, rasa sakit, dan kehampaan. Ia meringkuk di bawah selimut, berusaha mencari kehangatan yang tak bisa ia temukan. Ia menyadari bahwa pernikahan ini bukan hanya tentang kehilangan dirinya, tetapi juga tentang bagaimana ia harus bertahan dalam sebuah kesepakatan tanpa cinta, tanpa kasih sayang, dan bahkan tanpa sedikit pun rasa hormat. Ia adalah Nyonya Sterling sekarang, namun ia merasa lebih seperti tawanan. Fajar yang menjelang tidak membawa harapan, melainkan bayangan dingin dari hari-hari yang akan datang.