Dante Alvarado duduk di meja kerjanya yang besar, matanya merenung kosong menatap keluar jendela kaca yang memisahkannya dari dunia luar. Dunia yang penuh dengan kegilaan, kekuasaan, dan permainan tak terduga. Di luar sana, hujan turun dengan deras, seperti mencerminkan badai yang tak kunjung reda dalam hatinya.
Dante adalah sosok yang tak terbantahkan dalam dunia gelap. Nama Alvarado adalah kata yang paling ditakuti, lebih dari apapun. Semua orang yang mendengar namanya tahu bahwa dia adalah mafia yang kejam, tak peduli apapun-termasuk perasaan manusia. Namun di balik topeng kebengisannya, ada luka yang tak kunjung sembuh. Luka yang bernama Valentina.
Valentina-nama itu masih menghantui setiap langkah Dante. Mereka pernah bersama, saling mencintai dengan segenap hati, sampai hari yang paling kelam dalam hidupnya. Ketika Valentina, wanita yang ia percayai, memilih untuk menikahi pria lain. Dan sejak saat itu, Dante menutup hatinya rapat-rapat, tidak ada ruang untuk wanita, tidak ada tempat untuk cinta.
Namun takdir, dengan cara yang begitu licik, mempertemukannya dengan sosok yang sama sekali tak ia inginkan-seorang gadis muda bernama Seraphina. Ia pertama kali bertemu dengan Seraphina di sebuah acara malam yang diadakan oleh salah satu sekutunya. Gadis itu tiba-tiba muncul di depannya, dengan wajah polos dan mata yang penuh keyakinan, menyebut dirinya sebagai calon istri Dante.
"Anda tak ingat saya?" tanya Seraphina dengan nada ringan, seperti itu adalah sebuah lelucon. "Kita sudah dijodohkan, Dante."
Seketika itu juga, Dante merasa sesuatu dalam dirinya terguncang. Entah apa yang salah dengan dunia ini, tetapi dia merasa seperti terperangkap dalam sebuah permainan yang tidak pernah dia pilih. Gadis ini, yang belum pernah ia lihat sebelumnya, dengan entengnya mengklaim dirinya sebagai calon istrinya. Bahkan di depan banyak orang yang mengenalnya.
"Jodoh?" Dante mengerutkan kening, wajahnya yang biasanya dingin dan tak terbaca kali ini menunjukkan ketidaksabaran. "Apa maksudmu?"
Seraphina hanya tersenyum manis, seolah dia tidak tahu bahwa kata-kata itu dapat membuat Dante merasa seperti sedang dipojokkan. "Keluarga kita sudah sepakat. Kita akan menikah, Dante. Itu sudah diatur."
Dante hanya bisa menatapnya dengan tatapan kosong. Sungguh, tidak ada yang bisa membuatnya lebih marah daripada ini. Gadis ini, siapa dia? Apa yang diinginkannya darinya? Kenapa dia harus muncul dengan klaim seperti itu? Di tengah kebingungannya, suara tawa yang familiar membuat hatinya tersentak.
Dante menoleh dan mendapati Valentina, mantan kekasihnya, berdiri tak jauh dari situ, mata mereka bertemu. Valentina tampak lebih dewasa, lebih anggun, namun ada sesuatu yang tidak berubah. Di matanya, Dante masih melihat secercah rasa cinta yang terpendam, sebuah perasaan yang tak pernah dia harapkan untuk dilihat lagi.
"Valentina," gumam Dante, dengan suara yang hampir tak terdengar. "Apa maksud semua ini? Apa kau... masih mencintaiku?"
Valentina tidak langsung menjawab, malah menundukkan kepalanya. Hatinya dipenuhi dengan rasa bersalah, namun juga rasa yang masih ada. "Dante, aku... aku tak tahu bagaimana cara mengungkapkan ini. Aku tak pernah berhenti mencintaimu, tapi... aku tak bisa kembali."
Dante merasa seperti seluruh dunia runtuh di hadapannya. Kata-kata itu-sebuah pengakuan yang terlambat-membuat amarahnya membuncah. Mengapa semuanya selalu datang terlambat? Mengapa Valentina, yang telah meninggalkannya, baru sekarang menyatakan perasaannya?
Namun, sebelum dia bisa mengatakan apapun, Seraphina menyela. "Jangan biarkan perasaan lama itu menghalangimu, Dante. Kita sudah dijodohkan. Ini sudah takdir kita."
Dante merasakan darahnya mendidih. Dia bisa merasakan seluruh dunia berputar semakin cepat di sekitarnya. Pengkhianatan, kebingungannya, dan amarahnya semuanya bercampur menjadi satu perasaan yang membuatnya hampir kehilangan kendali.
"Jodoh? Takdir?" Dante mendekatkan wajahnya ke Seraphina dengan tatapan tajam, membuat gadis itu terdiam. "Kau tak tahu apa-apa tentang aku. Jangan pernah sebut kata takdir di hadapanku."
Namun, sebelum suasana semakin memanas, Dante berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu. Hujan semakin deras di luar, tetapi itu tidak bisa menghapus kemarahan yang bergelora di dalam dirinya.
Dante tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Semua yang terjadi terasa seperti permainan kotor yang tak pernah ia inginkan. Gadis itu, Seraphina, dengan pengakuannya yang tak masuk akal, Valentina yang kembali dengan perasaannya yang terlambat, dan dunia yang seolah sedang mengguncangnya tanpa ampun.
Apa yang sebenarnya mereka inginkan darinya? Apa yang harus dia pilih? Cinta yang dulu? Atau perasaan yang baru saja muncul, meskipun terasa begitu memaksakan?
Dante menghela napas panjang, berusaha menenangkan pikirannya yang kacau. Hanya satu yang pasti-apapun yang terjadi, dia tidak akan membiarkan siapa pun mengatur hidupnya. Tak ada yang bisa menentukan takdirnya selain dirinya sendiri.
Dante kembali ke ruangannya, pintu berat itu menutup dengan keras di belakangnya, seakan dunia luar ingin masuk namun ia tidak akan membiarkannya. Matanya yang tajam memandang ke arah meja kerjanya, namun tidak ada satu pun hal yang bisa ia fokuskan. Semua yang ada di pikirannya hanya wajah Seraphina, gadis yang tiba-tiba muncul entah dari mana, dan pernyataan mengejutkan itu-bahwa mereka telah dijodohkan. Entah oleh siapa dan untuk apa.
Namun ada satu hal yang lebih mengguncangnya dari itu semua. Kehadiran Valentina, yang sepertinya tidak pernah benar-benar meninggalkannya. Ada sesuatu yang berbeda di matanya, rasa penyesalan yang begitu kuat, yang seolah memanggilnya untuk kembali ke masa lalu yang penuh luka. Dante tahu, di dalam hatinya, Valentina tetap memiliki tempat-meskipun dia tak ingin mengakuinya.
Dante duduk di kursi besar yang menghadap jendela, menatap hujan yang masih turun dengan deras, seperti suasana hatinya. Semua hal yang ia anggap pasti kini terasa rapuh, dan semakin rumit. Dalam dunia gelap yang ia jalani, ia terbiasa mengontrol segalanya-namun kali ini, ia tidak bisa mengontrol perasaan yang datang begitu mendalam dan tak terduga.
Ponselnya bergetar di atas meja, memecah kesunyian. Dante menatap layar dengan enggan. Itu adalah pesan dari salah satu sekutunya, Marco. Pesan yang tak pernah bisa diabaikan.
"Dante, ada sesuatu yang perlu kamu tahu. Seseorang mencoba mengancam keluarga kita. Saya rasa ini lebih dekat dari yang kita kira."
Dante meremas ponselnya dengan tangan yang gemetar, amarah mulai mengalir ke seluruh tubuhnya. Tidak ada tempat untuk ancaman dalam dunia ini. Tidak ada yang bisa mengancam kekuasaan yang telah ia bangun, bahkan jika itu datang dari musuh di luar sana, atau-mungkin-dari dalam lingkarannya sendiri.
Namun sebelum dia bisa melangkah lebih jauh, pintu ruangannya terbuka dengan perlahan. Seorang pria muda, berpenampilan rapi, masuk tanpa diundang. Namanya Julian-anak buah yang sudah lama bekerja untuk Dante. Julian membawa kabar buruk.
"Maaf, Dante, tapi saya rasa Anda perlu melihat ini."
Dante menatapnya dengan tatapan datar, tidak berkata apa-apa. Julian meletakkan sebuah amplop di atas meja. Itu tampak biasa saja, tetapi Dante tahu, di balik benda sederhana itu pasti ada sesuatu yang besar.
"Ini tentang Seraphina," Julian melanjutkan. "Saya menemukan sesuatu yang mungkin perlu Anda ketahui."
Dante membuka amplop itu dengan gerakan lambat, seolah ia tahu bahwa apa pun yang ada di dalamnya akan merubah segala sesuatunya. Ketika kertas itu terbuka, sebuah foto terjatuh. Itu adalah foto Seraphina-tapi yang mengejutkan adalah pria yang ada di sampingnya. Bukan hanya pria biasa. Itu adalah pria yang dikenal Dante, seorang pengusaha yang memiliki koneksi dengan dunia gelap. Seorang yang memiliki banyak pengaruh dan ambisi yang sangat besar.
"Ini..." Dante terdiam, mencerna setiap detail dalam foto itu. "Dia tahu lebih banyak daripada yang kita kira."
Julian mengangguk, wajahnya serius. "Sepertinya dia lebih dari sekadar gadis biasa. Ada sesuatu yang lebih besar di balik pengakuannya. Saya rasa, ini bukan sekadar permainan untuknya."
Dante bisa merasakan ketegangan yang mulai membesar di dadanya. Ia tak ingin terjebak dalam permainan politik dan manipulasi, apalagi jika itu melibatkan Seraphina. Namun, kenyataannya adalah-mungkin dia sudah terjebak tanpa sadar.
"Jadi, dia terlibat dengan orang-orang ini?" Dante bertanya dengan nada dingin. "Apa yang sebenarnya dia inginkan dariku?"
Julian menggelengkan kepala. "Kami belum tahu pasti, tapi satu hal yang jelas-itu bukan kebetulan. Ini permainan yang lebih besar, Dante."
Dante menghela napas panjang. Permainan ini semakin dalam, dan dia semakin jauh dari kenyataan yang dia inginkan. Gadis itu-Seraphina-mungkin hanya catur dalam permainan yang lebih besar. Tapi apa sebenarnya peran Valentina dalam semua ini? Mengapa dia muncul lagi setelah bertahun-tahun, dengan penyesalan yang belum sempat dia ungkapkan?
Tanpa peringatan, pikirannya kembali ke momen ketika dia bertemu Valentina di acara itu. Wajahnya yang sedikit lebih tua, lebih matang, namun di matanya, Dante masih bisa melihat cinta yang tak pernah dia dapatkan kembali. Mengapa sekarang? Mengapa harus sekarang, saat semuanya sudah jauh berbeda?
Dengan langkah tegas, Dante berdiri. "Temukan lebih banyak tentang Seraphina. Dan tentang orang-orang yang ada di belakangnya. Aku ingin tahu siapa yang mencoba memainkan permainan ini dengan cara seperti ini."
Julian mengangguk, lalu berbalik untuk pergi. Dante kembali duduk, perasaan frustrasi menguasai dirinya. Dunia ini penuh dengan intrik, dan dia-Dante Alvarado-harus menjadi pemimpin yang tak terbantahkan. Tidak ada ruang untuk kelemahan, tidak ada tempat untuk perasaan yang tidak bisa ia kendalikan.
Namun, di dalam hatinya yang terdalam, ada pertanyaan yang terus mengganggu. Apakah mungkin, dalam dunia yang penuh kebohongan dan pengkhianatan ini, ada seseorang yang benar-benar menginginkan kebaikannya? Atau apakah semua ini hanya permainan yang akan membawa lebih banyak luka bagi dirinya?
Satu hal yang pasti-Dante tidak akan membiarkan siapapun mengendalikan takdirnya. Tapi sekarang, dia harus memutuskan: apakah dia akan kembali menghadapi masa lalunya, ataukah dia akan menutup pintu itu selamanya?
Dante berjalan keluar dari ruangannya, langkahnya cepat dan pasti. Setiap inci dari langkahnya dipenuhi dengan amarah yang semakin membesar. Benar apa yang Julian katakan-ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi, dan Seraphina mungkin hanyalah pion dalam permainan yang lebih rumit daripada yang bisa ia bayangkan. Namun, ada satu hal yang mengganggu pikirannya lebih dari semuanya-Valentina. Kehadirannya di dunia ini kembali, dan entah mengapa, dia merasa seperti kembali terperangkap dalam perasaan yang sudah ia kubur begitu dalam.
Dante berhenti di depan jendela besar yang menghadap ke kota, matanya menatap tanpa melihat. Angin malam yang dingin menyentuh wajahnya, dan meskipun udara itu menenangkan, hatinya tetap panas. Ini bukan tentang Seraphina atau pengkhianatan yang dia rasakan. Ini lebih dalam. Ini tentang Valentina. Keinginan untuk tahu kenapa dia muncul kembali, kenapa dia membiarkan waktu berlalu begitu saja sebelum akhirnya mengungkapkan rasa bersalah yang terbakar di matanya. Rasa sakit yang seharusnya tidak ia rasakan lagi.
"Dante."
Suara itu membuatnya tersentak. Valentina. Dia berbalik, melihat sosok itu berdiri di pintu, wajahnya lebih serius dari yang ia ingat. Tidak ada lagi senyum manis yang biasa ia lihat di masa lalu. Yang ada hanya kecemasan yang jelas terlihat di matanya.
"Kamu tahu aku di sini karena tidak ada pilihan lain, bukan?" Valentina berkata, suaranya rendah, hampir seperti bisikan. "Aku tahu kamu marah. Aku tahu aku salah. Tapi... Aku harus memberitahumu sesuatu."
Dante tidak menjawab, hanya menatapnya dengan tatapan kosong. Entah apa yang ingin Valentina katakan, tapi dia tidak yakin dia siap mendengarnya. Apa pun yang dia katakan, itu tidak akan mengubah apa yang telah terjadi. Apa pun yang dia katakan, itu tidak akan menghapus pengkhianatannya.
"Tidak ada yang bisa mengubah apa yang sudah terjadi, Valentina," kata Dante akhirnya, suaranya serak. "Kamu pergi. Kamu menikah dengan orang lain. Aku tidak punya tempat untuk rasa bersalahmu sekarang."
Valentina berjalan mendekat, matanya memohon. "Dante, aku tidak menikah dengan dia karena aku tidak mencintaimu lagi. Aku menikah dengan dia karena... karena aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan. Aku terjebak, dan aku pikir itu adalah pilihan terbaik."
Dante merasakan hatinya berdegup lebih cepat. Kalimat itu, penuh dengan penyesalan, membuat rasa sakit di dalam dirinya semakin tajam. "Lalu kenapa sekarang?" katanya dengan nada yang sedikit terputus. "Kenapa datang kembali setelah semuanya berakhir?"
Valentina menunduk. "Karena aku sadar, aku tidak pernah bisa melupakanmu. Dan sekarang, melihatmu seperti ini-dengan dia-aku merasa semuanya salah. Aku tidak bisa hidup dalam kebohongan lagi."
Dante memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Valentina. Cinta itu, meskipun sudah lama terkubur, masih ada-masih membara dalam dirinya. Namun, dia tidak bisa begitu saja menerima apa yang Valentina katakan. Terlalu banyak yang telah rusak. Terlalu banyak yang telah hilang.
"Semuanya sudah berubah," jawab Dante dengan suara dingin. "Kamu dan aku, Valentina, kita sudah menjadi masa lalu. Tidak ada yang bisa mengubah itu."
Namun, Valentina tidak menyerah. "Aku tahu. Tapi tolong, Dante. Dengarkan aku sekali ini saja. Aku tahu ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi. Aku tahu kamu terjebak dalam permainan yang lebih gelap dari yang bisa kamu bayangkan. Kamu sedang terjebak, dan aku ingin membantumu."
Dante berhenti sejenak, mencerna kata-kata Valentina. Apa yang dimaksudnya dengan permainan yang lebih besar? Apa yang dia tahu tentang Seraphina dan para pengusaha yang mengendalikan dunia ini?
"Jangan coba memanfaatkan kelemahan yang kamu tahu tentang aku," kata Dante dengan suara berat, meskipun dia tahu dia sedang berbohong pada dirinya sendiri. "Aku bisa menghadapinya sendiri."
Valentina menatapnya dengan tatapan yang dalam, seolah melihat ke dalam dirinya. "Kamu mungkin bisa, Dante. Tapi aku tidak yakin kamu tahu siapa yang sebenarnya berada di balik semua ini. Seraphina, orang-orang yang ada di dekatnya, mereka tidak datang tanpa alasan. Ada kekuatan yang bekerja di belakang layar, dan aku takut kamu sedang jatuh ke dalam perangkap yang tidak bisa kamu keluar dari."
Dante terdiam, suara hati yang ingin ia abaikan kini semakin keras. Ada sesuatu yang tidak beres dengan semuanya. Benar kata Valentina, ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi. Seraphina bukanlah gadis biasa, dan dunia ini bukanlah tempat untuk rasa sesal atau keraguan. Ini adalah dunia yang kejam, dan hanya yang kuat yang bertahan.
"Tunggu," kata Dante, mendekati Valentina dengan tatapan yang lebih serius. "Katakan apa yang kamu tahu, sekarang."
Valentina menghela napas, tampaknya menyadari bahwa ini adalah satu-satunya kesempatan untuk mengungkapkan segalanya. "Ada pertemuan rahasia yang akan dilakukan dalam waktu dekat. Aku mendengar mereka merencanakan sesuatu yang besar, dan aku khawatir Seraphina terlibat lebih dalam dari yang kamu kira."
Dante merasa ketegangan semakin meningkat. Ini bukan sekadar masalah pribadi. Ini lebih dari itu. Ini adalah perang yang belum dimulai, dan dia baru saja dipaksa menjadi bagian darinya.
"Saya ingin tahu semua yang kamu tahu tentang mereka, Valentina," kata Dante, tatapannya tajam dan penuh tekad. "Jika kamu benar-benar ingin menebus semuanya, ini adalah kesempatanmu. Beritahukan aku segalanya, atau kita berakhir di sini."
Valentina mengangguk pelan. "Aku akan memberitahumu, Dante. Tapi kamu harus siap menghadapi kenyataan yang lebih gelap dari yang kamu bayangkan."
Dante menatapnya sejenak, kemudian mengangguk. Sebuah jalan yang lebih berbahaya baru saja terbuka, dan dia harus memilih-apakah dia akan terus maju, atau berbalik dan membiarkan semua ini hancur begitu saja. Namun, satu hal yang pasti: Dante tidak pernah mundur dari pertempuran.