Bab 1

“Apa maksudnya, Mas?” tanya Atira saat mendengar ikrar talak dari suaminya melalui sambungan telepon. Ia berharap jika dirinya sedang mendapatkan prank saja tepat di hari ini, hari ulang tahunnya.

“Kurang jelas? Selama hidup bersamamu Aku tak pernah bahagia. Oleh sebab itu aku memutuskan untuk mentalak kau detik ini juga,” jawab Bayu, lelaki yang telah membersamainya selama delapan tahun dan memberi Atira dua orang anak lelaki.

“Mas, ikrar talak itu enggak bisa dipermainkan. Walaupun bercanda, tapi jika kata talak sudah diucapkan maka jatuhlah talak untuk istri. Apa kau sadar dengan ucapanmu, Mas?” cicit Atira dengan air mata yang telah menganak sungai. Ia pun menerima telepon dari suaminya dengan terduduk lemas di lantai rumah.

“Saya enggak main-main, Tira. Saya tegaskan sekali lagi bahwa saya mentalakmu, bahkan... sekalian saja saya talak kau dengan talak tiga. Mulai detik ini kau bukan lagi istriku dan tak akan pernah lagi jadi istriku” jawab Bayu dengan suara yang lebih kencang.

Bagai disambar petir di siang bolong, Atira luruh di lantai.

“Mas! Huhuhuhuhu!” Atira meraung meratapi nasibnya yang seperti terjatuh ke dasar lautan. Akhirnya Ia terkulai lemas dan berada diantara sadar tak sadar. Ponsel yang sedari tadi ia pegang pun terjatuh dari genggamannya.

“Tira... Tira, ada apa, Nak?” bu Asih segera datang menghampiri Atira. Wanita paruh baya yang baru datang dari warung itu shock saat mendapati Atira terkulai lemas di lantai kamarnya.

“Tira, kenapa?” tanya bu Asih panik. Ia pun bergegas membantu Atira agar terduduk atau sekedar bangun dari lantai, tapi ia tak cukup kuat. Atira menangis lemah dalam keadaan setengah pingsan.

“Tolong!” bu Asih berteriak berharap tetangganya ada yang akan mendengar meskipun kemungkinannya kecil. Sedangkan Dafa yang sedari tadi mengekorinya ke warung masih sangat kecil dan tak akan mengerti. Hanya Davin, cucu pertamanya yang sudah cukup besar dan bisa dimintai pertolongan, namun bocah lelaki itu sedang berada di sekolah.

“Mamah!” cicit Daffa seraya mendekati Atira dan berusaha memeluknya.

"Bu!" sahut Atira lemah, sedangkan tangannya kanannya memegangi tangan Daffa dengan lembut.

"Kenapa, Nak?" tanya bu Asih sambil mengelus pucuk kepala Atira. "Sebentar, ibu ambilkan minum ya!" ucap bu Asih seraya hendak berdiri.

"Bu!" panggil Atira yang kini memegang pergelangan tangan bu Asih. Ia menolak mertuanya untuk beranjak.

"Ada apa Nak? bicara sama ibu!" pinta bu Asih dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia pun mengurungkan niatnya untuk pergi mengambilkan minum.

Atira sangat menyayangi bu Asih layaknya ibu kandung sendiri. Ia yang memang sudah tak memiliki orang tua, hanya memiliki bu Asih sebagai sosok ibu baginya.

"Mas Bayu. huhuhuhuhu... " ucap Atira sambil menggeleng-gelengkan kepala. Hatinya sangat sesak mengingat kata-kata talak barusan.

"Bayu kenapa Atira? Bayu kenapa?" tanya bu Asih yang mulai khawatir dengan keadaan Bayu.

"Mas Bayu, Bu!" tangis Atira semakin kencang. Dadanya kembang kempis menahan luka sayatan yang baru saja ia terima.

"Tira, bicara sama ibu! Ada apa sama Bayu?" bentak bu Asih. Ia tak sabar ingin mengetahui apa yang terjadi dengan Bayu.

“Mas Bayu. huhuhuhuhu." Atira terus menyebut nama Bayu. Kali ini ia memukul-mukul dadanya sendiri.

Melihat hal itu, bu Asih semakin merasa takut dengan kabar apa yang belum disampaikan oleh Atira mengenai Bayu.

Bu Asih begitu merindukan Bayu yang sudah hampir 3 tahun bekerja di Jepang. Satu tahun belakangan, Bayu mengaku jika dirinya kabur dari tempat ia bekerja dan terlunta-lunta di negara orang sehingga selama 6 bulan setelahnya ia hanya bisa mengirimkan uang sebanyak satu juta saja. Selebihnya, ia sudah tak mampu mentransfer uang walau satu rupiah pun. Bahkan, 3 bulan terakhir ia pun hilang kontak.

“Tira... ada apa, Nak?” tanya bu Asih sambil mengusap setiap air mata yang mengalir deras dari sudut mata Atira.

“Mamah!” Daffa ikut memeluk Atira, meskipun ia belum mengerti dengan apa yang terjadi. Anak 5 tahun itu hanya takut saat melihat Atira memukul-mukuli dadanya sendiri.

“Atira, anakku. Ada apa?” tangis bu Asih bertambah pecah mendapati sikap menantunya yang tak kunjung menceritakan kesedihannya. Ia betul-betul takut dengan kabar yang akan disampaikan oleh Atira.

“Mas Bayu, Bu. Mas Bayu. Huhuhuhuhu!” Tangis Atira semakin kencang. Air matanya pun semakin deras bercucuran, sedangkan kepalanya terus ia geleng-gelengkan untuk menolak apa yang terjadi padanya.

“Kenapa sama Bayu? Bukankan Bayu telpon mau transfer uang buat anak-anak?” tanya bu Asih yang mulai menerka-nerka apa yang terjadi.

Atira masih menangis dengan tubuh yang lemah. Ia terus menggelengkan kepalanya meskipun pelan. “Mas Bayu, Bu! Huhuhuhuhu!”

“Tira, bicaralah! Jangan buat Ibu bingung!” air mata bu Asih pun bertambah deras saat melihat menantu satu-satunya yang selalu menemani, dalam keadaan yang menyedihkan. Ia pun terus mengusap setiap air mata yang jatuh di pipi Atira dan membiarkan air matanya sendiri terjatuh.

“Aarrggggghhhhh...!” Atira tiba-tiba berteriak seolah ingin melepaskan beban yang teramat berat di hatinya.

Daffa ikut menangis saat Atira berteriak kencang. Ia takut jika ibunya akan pergi jauh seperti ayahnya.

Begitu pun dengan Bu Asih, ia pun tersentak kaget saat Atira berteriak. “Tira, kamu kenapa, Nak?” tangisnya pun semakin keras saat mendengar Atira berteriak. “Tira sayang, bicara sama Ibu, Nak!” bu Asih terus mengelus setiap inchi wajah Atira. Kasih sayangnya memang sangat besar kepada menantunya itu. Bagaimana tidak, Atira yang notabene seorang sarjana mau menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya setelah dinikahi Bayu yang waktu itu kerja serabutan. Karena perekonomian mereka tetap sulit dan hampir selalu mengandalkan uang pensiun ayah Bayu sebagai pensiunan guru yang diterima bu Asih setiap bulannya, akhirnya Bayu memutuskan untuk mengadu nasib ke negri orang.

Awal keberangkatan, Bayu rutin mengirim uang 5 juta per bulan untuk Atira dan anak-anaknya, dua juta untuk ibunya, bu Asih. Di awal kontrak sebagai pekerja pabrik di Jepang, Bayu mendapatkan gaji kotor setara 18 juta rupiah. Kisaran besar biaya hidup di negri sakura itu pun berbanding lurus dengan besar pengeluaran sehingga Bayu hanya bisa mengirimkan sepertiga dari gajinya.

Sebenarnya Bayu bisa saja menyelesaikan pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi seperti yang diharapkan almarhum ayahnya, namun Bayu sempat terombang-ambing dengan kenakalan remaja sehingga ia hanya bisa menyelesaikan studi SMPnya saja. Ijazah SMA yang menjadi bekal untuk berangkat ke Jepang pun ia raih setelah mengambil paket C yang ia selesaikan setelah memiliki Davin, anak pertamanya. Itupun dengan biaya dari ibunya.

Setelah Atira berteriak kencang, kini ia pun lebih tenang, meskipun tangannya masih saja memukul-mukul dadanya.

“Bu, Mas Bayu menceraikan Atira.” Akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Atira.

“Apa? Hah?”

Bab 2

“Bu, Mas Bayu menceraikan Atira.” Atira menatap kosong ke depan dengan tangan yang terus memukuli dada. Akhirnya, ia bisa mengungkapkan rasa sedihnya.

“Maksudnya apa, Tira? Apa? Hah?” tanya bu Asih sambil menatap Atira dengan penuh tanya.

“Sakit, Bu. Sakit banget!” Keluh Atira sambil menepuk-nepuk dadanya lagi. “Mas Bayu, ia talak Atira, Bu.” Atira kembali menitikkan air matanya, bahkan pukulan tangannya semakin kencang ke dada seolah ia menunjukkan rasa sakit yang sangat.

“Enggak ada, Bayu enggak mungkin melakukan hal itu, Tira. Lagipula, kapan dia mengucapkan ikrar talak? Udah lama Bayu enggak ada kabar. Jangan ngada-ngada!” sanggah bu Asih yang tak mau percaya dengan ucapan Atira. Namun demikian, hati bu Asih merasakan denyut nyeri seolah ia percaya dengan ucapan Atira.

“Barusan mas Bayu telpon dan bilang kalau dia ceraikan Atira dengan talak 3.” Atira menatap manik mata bu Asih yang sudah bersimbah air mata.

Mendengar penuturan Atira itu, bu Asih segera mencari ponsel milik Atira. Ia pun segera mendial nomor asing dari negara Jepang yang ada di riwayat panggilan, negara dimana Bayu bekerja sebagai buruh pabrik.

Tak berselang lama, panggilan itu pun diangkat oleh seseorang.

"Hallo!" ucap bu Asih dengan penuh was-was.

"Ya, hallo!" jawab seorang perempuan di sebrang sana.

"Bu!" panggil Atira. Gegas Atira mengendalikan emosinya. Ia berusaha tegar saat mengetahui kalau sambungan telpon bu Asih diangkat oleh seseorang.

Bu Asih pun mengerti, ia segera mengeraskan suara panggilan telepon.

"Ini dengan siapa? Saya ibunya Bayu." ucap bu Asih to the point.

"Oh, sebentar Bu!" ucap perempuan itu. "Sayang, ini ibumu." terdengar lumayan jelas ucapan perempuan itu.

Bu Asih mengerutkan kening saat mendengar ucapan perempuan itu.

"Tira, ini nomer Bayu?" tanya bu Asih menatap menantunya yang masih berurai air mata.

Atira mengendikkan bahunya pertanda jika ia tak tahu pasti.

"Hallo, Bu? Apa kabar? Bayu rindu ibu sama anak-anak," cerocos Bayu dari sebrang telepon.

Bu Asih terdiam demi mencerna kata demi kata yang diucapkan oleh anak semata wayangnya itu.

"Hallo Bu!" panggil Bayu sekali lagi membuat lamunan bu Asih buyar seketika.

"Siapa perempuan yang barusan angkat telpon Ibu?" tanya bu Asih tanpa menjawab pertanyaan Bayu.

Atira langsung memeluk bu Asih dengan erat. Ia tergugu dalam dekapan bu Asih. Hatinya tak siap jika harus mendengar pernyataan tentang siapa perempuan itu.

"Bu, Bayu sudah mentalak Atira dengan talak tiga. Sekarang Bayu sudah berada di bandara untuk pulang ke Indonesia. Bayu pulang sama istri Bayu, Bu!" ucap Bayu dengan sangat lantang.

Bagai disambar petir, ucapan Bayu tak kalah menyakitkan bagi bu Asih. Ia tercenung tanpa menjawab ucapan Bayu lagi.

Atira semakin tergugu saat mendapati bu Asih tak bergeming dalam diam. Telinganya jelas mendengar apa yang diucapkan oleh Bayu ataupun perempuan yang disebut Bayu sebagai istrinya.

"Bu!" Atira terus mendekap bu Asih. Ia menangis tersedu tanpa menyadari keadaan ibu mertuanya.

“Mamah!” rengek Daffa yang ingin ikut dipeluk oleh Atira.

“Hallo! Davin, Daffa, ini Papah. Besok kita ketemu ya, Papah bawain mainan yang banyak buat Davin sama Daffa.”

“Papah?” tanya Daffa sambil mencari-cari sumber suara.

“Hallo. Davin, Daffa. Hallo! Ibu!”

Bayu terus memanggil-manggil ibu dan anak-anaknya.

Atira sudah benar-benar merasa tersisihkan dan terbuang dari kehidupan Bayu. Padahal selama ini, ia begitu setia menunggu Bayu meskipun dalam keadaan kesusahan.

Setelah merasa cukup Atira menumpahkan rasa sesak di dadanya, ia pun melepaskan pelukannya dan mendapati jika bu Asih bukanlah sedang menangis. Wanita paruh baya itu sedang menahan sesak dadanya. Pantas saja ia tak menjawab panggilan dari Bayu.

"Bu! Ibu!" panggil Atira dengan raut kebingungan yang luar biasa.

Bu Asih tak menjawab panggilan Atira. Ia hanya menekan dadanya dengan telapak tangan kanan sambil berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan pasokan oksigen.

"Tolong! Tolong! Daffa, temenin dulu Nenek ya!” titah Atira tanpa menunggu jawaban dari bocah lelaki berusia 5 tahun itu.

Atira segera berlari keluar rumah untuk mencari pertolongan.

"Bu RT, tolong ibu saya! Tolong bawa ke rumah sakit!" teriak Atira tak karu-karuan.

"Kenapa mbak Tira?" tanya Bu RT yang kebetulan sedang berkumpul dengan geng ibu-ibu lainnya di warung bu Retno.

"Tolong cepat! Ambulance!" teriak Atira sambil menangis tergugu.

Mendengar permintaan Atira, Ibu-ibu itu langsung sigap membubarkan diri. Ada yang ke balai desa yang berjarak sekitar 20 meter dari warung bu Retno untuk meminta ambulance desa. Ada yang bergegas ke rumah Pak RT untuk meminta pertolongan. Sedangkan sebagian besarnya menuju rumah Atira untuk melihat keadaan bu Asih.

***

Atira mondar-mandir di depan ruang ICU, ia tak bisa dengan leluasa menunggui bu Asih yang sedang dalam keadaan kritis.

“Sudah, nak Atira. Duduk dulu!” pinta bu RT yang masih setia menunggui Atira di rumah sakit. Sudah satu jam lamanya sejak bu Asih dibawa ke IGD rumah sakit kota, sampai akhirnya harus dirawat intensif di ruang ICU ini.

“Saya bingung bu RT,” keluh Atira sambil duduk di kursi tunggu dekat bu RT.

“Kenapa?” tanya bu RT sambil mengerutkan keningnya. “Bukankah biaya pengobatan bu Asih sudah dicover pemerintah?” tanya bu RT. Ya, bu Asih yang merupakan janda dari pengabdi negara golongan A, memiliki kartu sehat untuk menjamin biaya pengobatan dengan layanan kelas 1.

“Iya, Bu. Alhamdulillah. Cuma saya enggak tenang dengan keadaan ibu, Daffa sama Davin yang sebentar lagi harus saya jemput dari sekolah. Mas Bayu juga enggak bisa dihubungi.” Atira menyugar rambutnya sambil menarik nafas panjang.

“Doakan saja ibumu biar lekas pulih,lekas sadar dan bisa keluar dari ruang ICU. Kalau Daffa, kan sudah dijagain sama bu Retno. Nah kalau Davin, kamu jemput aja dulu biar saya yang berjaga di sini. Kalau ada apa-apa, nanti saya hubungi kamu!” ucap bu Retno panjang lebar.

“Iya, Bu. Enggak apa-apa saya tinggal dulu?” tanya Atira sambil melihat sendu ke arah wajah bu RT.

“Enggak apa-apa. Yang penting, nanti kamu ke sini lagi soalnya saya enggak bisa nungguin bu Asih terus. Banyak hal yang harus saya kerjakan.”

“Makasih banyak, Bu. Makasih banyak!” ucap Atira sambil mengusap setiap kali air matanya jatuh mengenai pipi.

“Keluarga pasien atas nama Asih Juniarti!” panggil seorang perawat membuat Atira dan bu RT saling berpandangan.

“Sa... saya Sus!” jawab Atira sambil mengangkat tangan kanannya.

“Mari ikut saya!” pinta perawat itu lagi.

Atira menatap wajah bu RT yang sama-sama merasa bingung. Ia bingung harus mendahulukan yang menjemput Davin atau mengikuti perawat.

“Cepat, Bu! Ini kritis.”

*Bersambung*

Bab 3

“Ah, baik saya ke sana sekarang!” ucap Atira sambil terus berpikir bagaimana dengan Davin.

“Masuklah! Biar ibu hubungi Danu untuk jemputkan Davin.”

Atira mengangguk tanpa menolak tawaran bantuan dari bu RT. Danu adalah anak pertama bu RT yang kini bekerja di balai desa.

Saat memasuki ruangan penghubung, Atira diminta untuk mencuci tangan dan mengenakan pakaian khusus pengunjung pasien di ruang ICU.

Setelah itu, Atira dibawa masuk ke tempat dimana brankar bu Asih diletakkan.

“Mohon maaf, dari tadi pasien mengigau memanggil-manggil nama Bayu. Dokter menyarankan agar keluarga pasien diminta untuk menemani bu Asih guna memberikan rangsangan dengan harapan agar pasien segera sadar.” Perawat itu menjelaskan dengan cukup rinci, hanya saja hati Atira yang kini bertambah hancur saat mendengarkan penjelasannya. Ibu mertuanya terus memanggil nama Bayu.

“Bagaimana, Bu? Bisa menghadirkan Bayu?” tanya perawat itu lagi.

“Emmhh, gimana ya Sus? Dari tadi saya sudah coba hubungi mas Bayu tapi enggak nyambung.” Ada air mata yang berusaha meringsek keluar, namun berhasil Atira tahan.

“Kalau begitu, cobalah oleh ibu sebagai anaknya untuk mengajaknya berbicara. Saya tinggal dulu!” ucap suster itu lagi. Atira hanya mengangguk setuju.

Atira duduk di sebuah kursi plastik yang disiapkan. Ia pun mengelus lembut lengan bu Asih.

“Bu, ini Tira Bu. Tolong bangun! Jangan membuat Tira semakin takut sendirian. Ibu kuat dan harus kuat! Tira sendirian Bu!” ucap Atira sambil terisak.

Atira mengusap lembut punggung tangan bu Asih. Sebenarnya ia bukan sekedar menguatkan bu Asih, lebih dari itu, justru ia berusaha menguatkan dirinya sendiri.

“Bu, Tira sayang sama Ibu. Hanya Ibu, keluarga Atira saat ini. Tira takut kalau mas Bayu menceraikan Tira, ibu ikut pergi menjauh. Ibu, jangan tinggalin Tira! Tira sayang sama ibu!” ungkap Atira dengan air mata yang telah menganak sungai.

“Bu, coba dibacakan ayat-ayat suci kepada pasien!” ucap suster sambil memeriksa kembali lembar anamnesa yang tadi ditulis bersama dokter.

“Iya, Sus. Nanti saya coba. Tapi, bolehkah sekarang saya pulang dulu? Saya harus jemput anak saya dari sekolah.” Pikiran Atira terus mengingat keadaan anaknya saat ini, anak itu pasti sudah bubar.

“Oh, tidak ada yang menggantikan Bu?” tanya suster itu lagi.

“Tadi bu RT bilang mau minta tolong anaknya buat jemputkan, tapi enggak tahu kenapa hati saya enggak tenang.”

“Baik, silakan Bu. Hanya saja saya minta ibu cepat kembali, atau keluarganya yang lain. Kondisi pasien sangat lemah.”

“Baik, sus!” ucap Atira dengan cepat. Ia pun segera berdiri setelah mengelus lembut punggung tangan ibunya. “Tira pamit sebentar, Bu. Mau jemput Davin dulu. Besok Davin mau izin dulu sekolahnya, mau Tira titip sama bu Retno sekalian sama Daffa. Ibu cepat sembuh ya, biar kita cepat sama-sama lagi.”

Ucapan terakhir Atira membuat ia meringis sendiri. Bisakah mereka masih sama-sama dengan status yang berbeda? Ditambah lagi ada perempuan lain yang tadi mengangkat telepon mas Bayu.

Atira menghembuskan nafasnya dalam-dalam. “Tira pamit Bu,” ucapnya seraya mengecup lembut kening bu Asih. Setelah mengucapkan salam, Atira pun bangkit dari kursi.

Sesaat sebelum ia keluar dari ruangan tempat bu Asih dirawat, Atira berbalik dan menatap bu Asih dengan lekat. “Selamat tinggal, Bu!” air matanya mengalir deras sejalan dengan arah langkahnya yang kini kian menjauh.

***

Atira segera memacu kuda besi butut miliknya. Pikirannya terus menjejaki keadaan Davin yang mungkin sudah sendirian di sekolah.

“Tira, maaf anak ibu enggak bisa dihubungi dari tadi. Mau ngabarin kamu enggak boleh masuk ke dalam sama suster. Tadi ibu mau pergi jemput Davin sendiri, tapi dompet ibu ketinggalan, enggak ada ongkos. Jadi ibu masuk lagi.”

Ucapan bu RT saat ia baru keluar dari ruangan tempat bu Asih dirawat terus terngiang-ngiang. Atira betul-betul khawatir dengan Davin. Meskipun dia anak lelaki, tapi usianya baru 7 tahun dan baru masuk SD dua bulan ini. Setiap hari selalu ia yang mengantar jemput Davin.

Tiiinnn...

Gubrakk!

“Aduh!”

Atira meringis saat ia baru menyadari jika dirinya berada di tepi jalan dalam keadaan terjatuh dari motornya.

“Awww... “ ia mencoba menggeser motornya yang sedikit menghimpit kaki kirinya.

“Enggak apa-apa, Mbak?” tanya seorang lelaki sambil membantu mengembalikan posisi motor Atira sebagaimana mestinya.

“Ya.” Atira segera berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang kotor karena terkena tanah. Ia jatuh ke sisi jalanan yang tak teraspal.

“Mbak nya terluka!” ucap lelaki yang mengurungkan niatnya untuk memarahi Atira. Lelaki bermobil sedan mewah itu terhalangi jalannya oleh Atira yang sedang melamun, menjalankan motor ke kanan dan ke kiri tanpa fokus. Sebenarnya lelaki itu sudah mengklakson Atira sampai dua kali, tapi pikiran Atira sedang tak berada di sana.

“Maafin saya, Pak!” ucap Atira yang menyadari kesalahannya.

“Enggak apa-apa. Tapi, mbaknya terluka!” tunjuk sang lelaki pada betis kiri Atira yang tertutup celana. Dari celana itu nampak merembas darah segar.

“Enggak apa-apa. Sekali lagi saya minta maaf, pak!” ucap Atira mengulangi permintaan maafnya.

“Mbak!” panggil lelaki itu saat melihat Atira buru-buru naik lagi ke motornya.

“Maaf Pak, saya buru-buru!” ucap Atira seraya menancap gas.

Dari kaca spion, Atira sempat melihat lelaki tadi terdiam di tempat sambil memandanginya yang semakin menjauh. Tak apa ia terluka, masih bisa diobati nanti saat Davin sudah ia jemput.

Sesampainya di sekolah, nampak pak Ari, satpam sekolah sedang mengunci pagar sekolah dari dalam.

Tinnn... Tinnn...

Pak Ari menoleh ke arah bunyi klakson dan mendapati Atira yang menghentikan motornya tepat di depan gerbang.

“Pak Ari, lihat Davin?” tanya Atira dengan nafas yang memburu.

“Kelas berapa Bu?” tanya pak Ari yang memang belum mengenal Davin. Bahkan, ada banyak siswa-siswi yang tak dikenali oleh pak Ari saking banyaknya anak yang bersekolah di sini.

“Kelas 1, Pak. Matanya coklat, kulitnya putih, rambutnya baru saya cepak kemarin.” Atira menjelaskan kondisi fisik anaknya. Ia mengungkapkan warna mata karena orang yang bermata coklat itu cukup sedikit dan hampir mudah dikenali.

“Wah, enggak tahu ya. Tapi, semua anak sudah dijemput, ada juga yang pulang sendiri, yang rumahnya dekat atau yang udah besar gitu.”

“Anak saya biasa saya jemput, Pak! Tiap hari saya antar jemput,” jelas Atira.

“Hari ini ibu terlambat jemput?” tanya Pak Ari.

“Iya, Pak. Ibu saya sedang dirawat di ICU, tadi saya harus menemani ibu saya terlebih dulu.”

“Gimana ya, Bu? Guru-guru juga sudah pulang semua, pak kepala sekolah juga. Di dalam sudah saya periksa, kosong semua.”

Atira kembali menghubungi bu Retno dan memintanya untuk memeriksa di rumah apakah Davin sudah ada di rumah atau belum. Lagi-lagi jawaban bu Retno menegaskan bahwa Davin belum ada di rumahnya.

“Mang Sahrul!”

Pak Ari kembali membuka gembok dan mempersilakan mang Sahrul, OB sekolah untuk masuk.

“Mamah nya Ujang Davin ganteng ya?” tanya mang Sahrul tiba-tiba, sebelum ia melewati gerbang.

“Iya. Mang Sahrul lihat anak saya?” tanya Atira berharap.

“Bukannya tadi sudah dijemput pake mobil? Katanya dijemput Mamah, pake mobil hitam.”

“Saya belum jemput, Mang! Siapa yang jemput anak saya?”

Dunia Atira terasa berhenti di detik ini.

*Bersambung*

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED