Bab 1

"Kamu hamil."

Kata-kata tak terduga yang keluar dari mulut sang dokter membuat Livia Parsaulian tertegun. Dia mengira mual di pagi hari yang dia rasakan ini adalah akibat dari salah makan.

Melihat ekspresi kaget di wajah Livia, dokter melanjutkan, "Sangat penting untuk memutuskan apakah kamu ingin melanjutkan kehamilan ini. Jika tidak, ada pilihan lain seperti aborsi."

Sambil menenangkan diri, Livia menjawab, "Aku ingin vitamin untuk ibu hamil."

Dengan pil yang diresepkan di tangan, dia meninggalkan rumah sakit, sementara pikirannya melayang kembali ke malam yang berapi-api sebulan yang lalu. Kenangan akan pelukan kuat pacarnya, tubuh yang hangat, dan dorongan yang kuat berputar-putar di benaknya, membuat pipinya memerah.

Bayi kejutan ini mungkin tidak direncanakan, tetapi ini adalah bukti cintanya pada pacarnya, Ilham Lazuardi. Livia sudah bertekad bulat untuk mempertahankan bayinya.

Saat pulang ke rumah dan membuka pintu kamar tidurnya, Livia disambut dengan suara erangan.

"Oh ... Kakak Ipar. Kamu hebat sekali."

Kengerian seketika mencengkeram dirinya. Dia menyerbu masuk ke dalam kamar, dan suaranya bergetar tak percaya. "Kalian ... apa yang sedang kalian lakukan?"

Ilham yang tertangkap basah segera menarik selimut unuk menutupi dirinya dan wanita misterius itu.

Hati Livia hancur saat dia mengenali wanita itu.

Wanita itu adalah adik perempuannya sendiri, Adelina Parsaulian.

Adelina pernah hilang saat masih kecil dan kemudian ditemukan. Sejak saat itu, keluarganya hampir selalu memanjakannya secara berlebihan setelah dia kembali. Semua yang dimiliki Livia adalah barang bekas dari Adelina. Namun, melihat adiknya merebut pacarnya? Itu bagaikan sebuah tikaman yang tidak pernah Livia duga sebelumnya.

"Tunggu, Kakak, biar kujelaskan," ucap Adelina dengan suara bergetar. "Jangan salah paham. Hanya saja ... aku terlalu menyukai Kak Ilham. Aku tidak bisa menahan diri. Jika kamu ingin marah pada seseorang, marahlah padaku!"

"Plak!"

Tanpa pikir panjang, tangan Livia menampar pipi Adelina.

Adelina terlihat sangat terkejut. Sambil memegang pipinya yang memerah, dia merintih, "Kakak, lampiaskan saja padaku sesukamu. Tapi tolong, jangan lakukan itu pada Kak Ilham."

Melihat Adelina yang lemah, keinginan Ilham untuk melindunginya langsung muncul. Dia memeluknya dengan lembut.

"Livia, dia itu adikmu. Bisa-bisanya kamu menamparnya seperti ini? Apa yang terjadi di antara kami, itu hanya kejadian satu kali."

Perut Livia bergejolak, dan dia memuntahkan isi perutnya ke sepatu Ilham.

Ekspresi Ilham menjadi muram dalam sekejap.

Setelah mendapatkan kembali ketenangannya, Livia berseru, "Jangan pura-pura tidak bersalah, Ilham! Apakah dengan menyebutnya 'kejadian satu kali', kesalahanmu jadi berkurang? Aku mencurahkan tahun-tahun terbaik di masa mudaku untukmu, dan kamu mengesampingkan cinta itu!"

Ilham tidak bisa berkata-kata.

Namun Adelina langsung menimpali, "Kakak, tenanglah. Kamu selalu menahan diri, sementara pria punya kebutuhan yang harus dipenuhi. Aku hanya mencoba membantu kalian, oke? Aku berjanji tidak akan menghalangi kalian berdua. Aku akan pergi."

Adelina bergerak untuk pergi, tetapi dia melihat secarik kertas yang terjatuh dari saku Livia. Dia memungutnya, dan setelah membacanya, dia menyerahkannya pada Ilham dengan ekspresi terkejut.

Livia memusatkan pandangannya pada Ilham, memperhatikan reaksinya.

Tak disangka, Ilham justru dikuasai oleh amarah.

"Livia! Bagaimana bisa kamu menuduhku? Bayi siapa yang kamu kandung? Bayi orang asing?"

Livia merasa dunianya runtuh.

"Ilham, aku tidak akan pernah melakukan itu! Ingatkah kamu pada malam tanggal 9 di Hotel Kristal bulan lalu? Atau kamu sudah lupa?"

"Itu konyol! Saat itu aku sedang berada di luar negeri untuk bekerja!" Ilham meraung.

Dia marah karena membayangkan orang lain yang menikmati malam pertama Livia.

Rasa bingung berputar-putar di kepala Livia. Apakah Ilham menipunya? Kemudian dia tersadar, Adelina telah menyuruhnya pergi ke hotel malam itu.

"Ternyata kamu!"

Melihat sorot mata Adelina yang penuh kepuasan, Livia langsung tersadar. Dia telah dipermainkan. Dengan penuh amarah, dia menerjang Adelina, siap untuk menghajarnya. Namun Ilham lebih cepat darinya. Dia bergerak di antara mereka, lalu mendorong Livia ke samping.

Livia menabrak lemari di dekatnya, dan rasa sakit yang menusuk merayapi perutnya. Rsaa sakit itu disusul dengan perasaan yang intens dan memilukan.

Dengan usia kehamilannya yang masih sangat dini, ini adalah waktu yang sangat rentan.

Noda merah perlahan-lahan muncul.

Livia mulai ketakutan dan berteriak, "Tolong, antar aku ke rumah sakit!"

Namun alih-alih mengulurkan bantuan, Ilham hanya menatapnya dengan dingin. Dengan gigi terkatup, dia berkata, "Mungkin ini yang terbaik, Livia. Jika kamu menggugurkan kandunganmu, aku mungkin akan berpikir untuk tetap menikahimu."

Kekejamannya membuat Livia terkejut.

Saat keputusasaan melanda dirinya, Livia dapat merasakan hubungannya dengan bayi dalam perutnya semakin menjauh. Dengan panik, dia berlari keluar rumah. Tiba-tiba saja, lampu mobil menyorot ke arahnya. Rasa sakit yang luar biasa menghantam Livia, dan kemudian semuanya menjadi gelap.

Bab 2

Lima tahun telah berlalu.

Di Bandara Lewo, seorang wanita, mengenakan atasan hitam yang ramping dan rok merah tua dengan belahan, tengah mendorong sebuah koper. Dia menarik perhatian orang-orang ke mana pun dia pergi.

Kacamata hitam besar itu menyembunyikan sebagian besar wajahnya, tetapi tidak bisa menyembunyikan fitur-fiturnya yang menakjubkan. Tubuhnya yang tinggi, kulitnya yang sempurna, dan langkahnya yang penuh percaya diri terlihat sangat menawan.

"Aku di sini." Suara Livia terdengar mantap, bahkan saat dia berbicara di telepon. "Percayalah, aku tahu jalan di sekitar sini."

Senyumnya yang santai itu telah kembali, tetapi matanya? Matanya seperti baja.

Lima tahun yang lalu, Livia telah mengalami patah hati karena kehilangan anaknya yang baru berusia tujuh bulan. Dengan dukungan dari orang yang telah menyelamatkannya, dia pergi ke luar negeri untuk memulihkan diri dan belajar.

Namun kini, sebuah kesempatan kerja membawanya kembali ke Lewo.

Selain itu, ada urusan yang harus dia selesaikan.

Setelah memanggil taksi, ketika Livia hendak naik, ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

Dia melihat seorang anak laki-laki, mungkin sekitar empat tahun, berdiri di tengah jalan. Anak itu tersesat, ketakutan, dan ada sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya.

Koper Livia menghantam trotoar. Dia bergegas ke arah anak laki-laki itu.

Ban mobil itu berdecit dengan bunyi yang menusuk telinga saat meluncur di trotoar.

Rem mobil berderit, dan Livia merasakan gesekan kasar jalanan di kulitnya.

Namun, dia berhasil melindungi anak itu. Anak itu aman dalam pelukannya, sementara mobil itu hanya meleset beberapa senti dari mereka. Luka-luka di tubuhnya tidak menjadi masalah. Dia hanya mengkhawatirkan anak itu.

Anak laki-laki itu, dengan pipi gemuk dan mata besar yang ketakutan, menatap ke arahnya.

Livia merasakan ada yang menarik-narik hatinya. Jika anaknya sendiri masih hidup, pasti usianya hampir sama dengan anak laki-laki ini.

Bagaimana mungkin seseorang bisa begitu ceroboh membiarkan seorang anak berkeliaran di tengah lalu lintas seperti itu?

Seandainya Livia tidak ada di sana, keadaan mungkin akan menjadi lebih buruk.

"Di mana orang tuamu, Sayang?" Livia bertanya dengan lembut.

Sang anak, yang bernama Joshua Herdian, hanya menggelengkan kepalanya.

"Apa mereka berada di dekat sini?" Livia melanjutkan, berkata dengan suara selembut mungkin. "Atau apakah kamu tahu nomor telepon mereka?"

Matanya yang besar dan bulat berkilauan kebingungan.

Rasa khawatir melanda Livia.

Sekarang bagaimana?

Anak itu tampaknya tidak mengerti, dan meninggalkannya bukanlah sebuah pilihan, membuat Livia merasa buntu.

Klakson sopir taksi membuyarkan pikirannya.

"Nona, jadi naik tidak? Aku tidak bisa menunggu di sini selamanya."

Livia harus menghadiri sebuah pertemuan penting. Namun, dia tidak bisa meninggalkan anak itu. Dia harus berpikir cepat.

"Bagaimana kalau kamu ikut denganku sekarang?"

Mata anak laki-laki itu dengan ragu-ragu mengamati wajahnya.

Merasakan keraguan anak itu, Livia menawarkan, "Bagaimana kalau kita pergi ke polisi? Mereka akan membantumu menemukan keluargamu. Setuju?"

Namun sebagai tanggapan, Joshua dengan cepat menggenggam tangan Livia, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

Hati Livia terasa penuh dengan belas kasihan. Yang dia inginkan hanyalah melindungi anak itu.

Jadi, dia menggendong anak itu dan menuju ke mobil.

Saat mereka pergi, sekelompok pengawal mengerumuni daerah itu dan tidak dapat menemukan anak yang baru saja dibawa pergi oleh Livia.

Melihat sosok tangguh berjalan ke arah mereka, mereka menunduk dengan gentar.

"Di mana dia?" tanya Glen Herdian. Wajahnya sangat tampan, tetapi suaranya sedingin es, membuat para pengawal merinding.

Pemimpin pengawal membeku karena ketakutan.

"Kami sudah mencari ke mana-mana, Pak. Putra Anda tidak bisa ditemukan."

Mata Glen menggelap, menandakan badai yang akan datang.

Para pengawal tidak berani mengeluarkan suara saat bernapas.

"Jangan repot-repot kembali jika kalian tidak bisa menemukannya!" geramnya.

Di sisi lain kota, Livia telah melaporkan situasi anak itu di kantor polisi dan memesan sebuah kamar hotel bersamanya. Namun saat mereka sedang beristirahat, pintu kamarnya terbuka. Segerombolan pengawal bergegas masuk, seperti sedang menciptakan kembali sebuah adegan dari film penuh aksi!

Livia secara naluriah melangkah mundur, memeluk anak itu lebih dekat. Matanya mengamati para penyusup, dan akhirnya tertuju pada pemimpin mereka. Pria itu benar-benar tampan, tinggi, dengan tubuh yang kuat, dan wajah yang terukir dengan fitur-fitur yang mencolok.

Dia mengenakan setelan jas hitam yang dirancang dengan sempurna, yang memancarkan aura elegan dan kewibawaan.

Matanya yang dalam dan tajam memancarkan kehadiran yang mengintimidasi, jelas memperlihatkan bahwa dia terbiasa memerintah orang lain.

Anak itu, yang merasakan ketegangan, mendekat ke arah Livia, tetapi pria itu tidak ragu-ragu untuk merenggutnya.

"Siapa kamu?" Livia menuntut jawaban, suaranya sedikit bergetar karena marah.

Glen mengabaikan pertanyaan Livia. Wajahnya yang tegas menunjukkan sedikit rasa jengkel saat dia menampar bokong anak itu dengan ringan.

Tangisan lirih Joshua memenuhi ruangan, dan air mata membasahi pipinya, membuat hidungnya memerah.

Dengan marah, Livia menerjang pria itu. Namun dengan gerakan cepat, pria itu menghindar, menangkap pergelangan tangan Livia dan menjepitnya ke dinding.

Bab 3

Suasana di dalam ruangan menjadi tegang.

Dari jarak sedekat ini, Livia mendapati bahwa fitur wajah pria itu semakin mencolok. Matanya, yang gelap dan tak bisa dipahami, menarik perhatiannya untuk sesaat.

"Kak ...." Suara lembut Joshua memecah keheningan.

Semua orang di ruangan tersebut mengalihkan perhatian mereka pada anak itu.

Wajah Glen tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Putranya, yang biasanya hemat bicara bahkan saat bersamanya, kini berbicara pada seorang wanita yang baru saja dia temui?

Saat genggaman Glen mengendur, anak itu dengan cepat berlari ke arah Livia, memeluk kakinya.

Livia dengan hati-hati melepaskan anak itu dari kakinya dan menghadap Glen dengan tenang.

"Apakah kamu ayahnya? Meninggalkannya sendirian itu satu kesalahan, tapi memukulnya begitu bertemu kembali? Itu bukan cara yang tepat untuk memperlakukan seorang anak."

Asisten Glen di dekatnya menelan ludah dengan gugup, lalu melangkah maju untuk menengahi.

"Nona, sepertinya kamu salah paham. Kejadian hari ini adalah sebuah anomali. Pak Glen sangat menyayangi putranya. Reaksinya tadi hanya karena panik dan khawatir."

Mata Livia menyipit saat dia merenung. Nama "Glen" tampak tidak asing baginya.

Namun, melihat kepedulian pria itu yang tulus dan sekelompok pengawal yang siap mengawalnya, dia menduga bahwa pria itu pasti sangat peduli pada anak itu.

Sambil menyingkirkan pikiran negatifnya, Livia menoleh ke arah anak itu.

"Sayang, apakah ini ayahmu? Sekarang karena dia sudah ada di sini, kamu harus ikut dengannya."

Namun, Joshua ragu-ragu. Dia mendekati Glen dan menunjuk ke arah siku Livia yang tergores.

Livia tertawa kecil dengan canggung, menyadari bahwa anak itu ingin ayahnya yang tegas itu mengobati lukanya.

"Tidak apa-apa. Tante bisa mengobatinya sendiri," ucap Livia meyakinkannya, sambil berjongkok untuk membelai rambutnya yang lembut.

Namun, Joshua tetap bersikeras, menarik-narik kaki celana Glen.

Tatapan Glen berpindah-pindah antara putranya dan Livia, memperhatikan sikap lembut Livia pada sang anak dan sikap kerasnya yang kontras terhadap dirinya. Hal ini membuatnya semakin penasaran.

"Ambilkan kotak P3K." Glen menginstruksikan, suaranya tanpa emosi.

Dia telah mengetahui tentang cedera yang dialami wanita ini ketika menyelamatkan putranya dalam perjalanan mereka ke sini. Dia merasa wajib membalasnya atas hal itu.

Hotel sekelas ini tentu saja memiliki perlengkapan untuk pertolongan pertama. Saat Glen mulai mendisinfeksi lukanya, Livia terkejut.

Dari kedekatan ini, dia benar-benar dapat menghargai betapa tampannya pria ini. Wajahnya yang bagai dipahat dilengkapi dengan alis yang tajam dan mata yang dalam. Batang hidungnya yang mancung dan warna bibirnya yang memikat, melukiskan sebuah sosok yang memikat.

Namun, terlepas dari ketampanannya, dia tetap menjaga jarak dan wibawanya.

Livia terkesiap pelan saat cairan disinfektan menyentuh kulitnya.

"Mungkin aku harus menanganinya sendiri," sarannya.

Sambil mengangkat matanya, Glen menjawab, "Maaf. Pengalamanku terbatas pada perawatan luka selama dinas militer. Aku akan lebih lembut."

Tatapan tajam Glen bertemu dengan tatapan Livia, membuatnya terdiam sejenak. Dia mengangguk, mengizinkannya untuk melanjutkan.

Sesuai dengan janjinya, sentuhan Glen menjadi lebih ringan.

Joshua mengamati seluruh proses itu dengan saksama. Hanya setelah luka Livia dibalut, barulah ekspresinya yang tegang mereda. Namun, keraguannya untuk meninggalkan Livia masih terlihat jelas saat mereka bersiap-siap untuk pergi.

Sambil menegakkan tubuh, Glen berbicara padanya. Nadanya masih dingin, tetapi menarik di telinga yang mendengar.

"Terima kasih telah membantu Joshua. Anggaplah aku berutang budi padamu. Jika kamu membutuhkan bantuan di masa depan, jangan ragu untuk menghubungiku."

Dia mengulurkan sebuah kartu nama pada Livia.

Asisten yang berdiri di dekatnya mengerjap kaget. Atasan mereka biasanya lebih suka menyelesaikan masalah dengan uang. Menawarkan bantuan pribadi adalah hal yang tidak biasa, terutama mengingat pengaruh yang dimiliki Glen di kota ini.

Saat Livia menerima kartu itu, jari-jari mereka bersentuhan. Sebuah sentakan listrik tak terucapkan mengalir di antara mereka, meninggalkan sensasi yang membekas.

Napasnya tersengal-sengal saat matanya tertuju pada nama itu. Alhasil, tubuhnya langsung menjadi tegak.

Glen Herdian.

Dia adalah kepala dari Keluarga Herdian yang termasyhur, yang memegang kendali dinasti keuangan terkemuka di Lewo.

Di luar kehebatan bisnis mereka, garis keturunan Keluarga Herdian dikenal sebagai penghasil tokoh-tokoh terkemuka di bidang politik dan hukum.

Dan Glen berdiri di puncak semua itu.

Livia tersadar bahwa anak yang dia selamatkan adalah bagian dari garis keturunan Keluarga Herdian, membuatnya bingung dengan perasaannya, bersyukur atau khawatir.

"Aku mengerti," jawab Livia singkat.

Keheningan pun terjadi.

Tentu sudah waktunya bagi mereka untuk pergi?

Suasana di dalam ruangan menjadi tegang.

Sambil menarik napas dalam-dalam, Livia menawarkan, "Haruskah aku mengantar kalian ke pintu?"

Sebuah emosi sekilas, yang tidak dapat Livia tangkap, berkedip-kedip di mata Glen yang dalam. Dia mengangguk kaku, menggendong putranya, dan keluar dari sana.

Livia sengaja mengalihkan pandangannya, memilih untuk tidak menatap tatapan penuh kerinduan dari sang anak.

Setelah mereka pergi, suasana ruangan berubah dari tegang menjadi kesunyian yang luar biasa. Pada saat ini, ponselnya berdengung, menandakan sebuah pesan baru.

"L.P, ini Adelina Parsaulian, CEO Grup Parsaulian. Apakah kamu luang untuk pertemuan?"

Adelina Parsaulian!

Pesan tak terduga dari Adelina menarik perhatiannya, terutama karena keberadaan Livia saat ini di Lewo didorong oleh balas dendam!

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED