Bab 2: Apa yang mereka lakukan?
Kupandang punggung Mas Dika dengan perasaan yang tak karuan, pria itu berjalan mendekati mobil mewah berwarna merah. Glamor dan terkesan elegan.
Sesaat kemudian muncul paras seorang wanita yang terlihat glowing, meskipun ia memakai kacamata hitam, namun paras wajahnya tetap terlihat berbeda dari kebanyakan wanita pada umumnya.
Sungguh terlihat menarik dan energik. Aku semakin tak enak hati.
Dari rumah ini bisa kulihat Mas Dika berbasa-basi dengan wanita tersebut.
Nampak keduanya begitu akrab dan dekat.
Sebagai seorang wanita aku bisa merasakan kedekatan yang tak biasa diantara mereka berdua sayangnya orang akan mengatakan bahwa ini adalah cemburu.
Seolah ada getaran dengan tatapan ku yang tak biasa, wanita yang bernama Cindy itu pun menoleh ke arahku. Detik berikutnya ia melambaikan tangannya ke arahku. Sebagai bentuk respon sopan, aku pun menganggukkan kepala padanya.
Beberapa detik selanjutnya wanita itu pun keluar dari mobilnya, lalu perlahan berjalan dengan langkahnya yang gemulai, meninggalkan suamiku yang tengah berdiri di samping mobilnya.
Dan dalam hitungan beberapa detik wanita itu tengah ada hampir di hadapanku.
"Hai Mbak, aku Cindy."
Wanita itu mengulurkan tangannya ke arahku, tak mungkin mengabaikan perkenalan orang lain, kubalas uluran tangan wanita yang bernama Cindy tersebut seraya mengucapkan nama aku.
"Wafa," balasku.
"Aku tahu, Mbak mungkin segan dengan tawaran aku, tapi nggak ada salahnya kan, Mbak mencoba dulu tinggal di rumah aku.
Aku janji kok aku nggak minta imbalan apapun, aku senang bisa bantu Mas Dika."
Wanita itu berupaya pula membujukku, agar aku mau tinggal di rumahnya.
"Maaf Cindy, tapi ... "
"Aku janji kok Mbak, gak akan meminta balasan apapun,"
Wanita itu pun menyela ucapanku dengan sigap.
Aku tersenyum tipis, berusaha untuk tetap menolak pertolongan atau bantuan dari wanita yang bernama Cindy tersebut.
"Mbak please, ikut sama aku ya!"
Cindy meraih tanganku, tempatnya membujukku.
"Ayo dong Wafa! ayo kita pergi ke rumah Cindy! ini sudah larut malam, aku mau istirahat, aku capek, tolong kamu paham pada posisi aku,"
Dari arah belakang Cindy, Mas Dika sama-sama gigih membujukku, yang pada akhirnya akupun mengangguk terpaksa.
Kuharap, secepatnya aku dan keluarga kecilku bisa keluar lagi dari rumah Cindy.
"Nah gitu dong, kan jadi enak,"
Cindy terlihat sumringah dengan persetujuan dariku, begitu juga dengan Mas Dika.
"Yuk!"
Ajak Cindy seraya mengambil alih koper-koper yang berisi pakaian-pakaian keluarga kecilku.
Aku pun segera menggendong bayi kecilku.
Sedangan saat ini, si cikal tengah menikmati kantuk yang menyerangnya, hingga membuat matanya nyalang, dan mengalahkan kelihaian tangannya yang tengah memegangi handphonenya.
"Mas, tunggu bentar ya! masukin aja barang-barangnya dulu, aku mau pesen taksi online,"
Wanita yang bernama Cindy itu begitu sibuk, lebih kesibukan dariku.
"Mau pesan taksi online? untuk apa Cindy?"
Mas Dika keheranan.
"Ini barang-barang banyak banget Mas, gak memungkinkan muat sama mobil aku, mobil aku khusus untuk bawa orang aja,"
Cindy begitu baik, memikirkan kami sekeluarga, kuharap Cindy benar-benar baik. Dan kuharap firasatku salah.
Tak berapa lama, taksi online yang dibesarkan oleh si Cindy pun datang. Dengan sibuk, kedua orang itu memasukkan barang-barang ke dalam taksi online tersebut.
"Yuk masuk!" ajak Cindy padaku, dengan sedikit malas-malasan, kuseret langkah kaki ini untuk memasuki mobil Cindy, mobil mewah yang sangat terlihat elegan. Bisa kutaksir, harganya pasti mencapai miliaran rupiah. Sekaya apa kehidupan Cindy?
***
Mobil pun sampai di sebuah halaman rumah, yang cukup besar dan megah, setelah kami menempuh perjalanan kurang lebih satu jam. Aku bahkan sempat tertidur di dalam mobil Cindy.
"Mbak, Mbak, bangun!"
Goncangan lembut di bahu, menyadarkanku dari kantuk yang menyerangku.
Dengan perlahan, kubuka mata dan kesadaran pikiran, mengumpulkan puing-puing kewarasan.
"Kita sudah sampai ya?"
Tanyaku basa-basi. Cindy tersenyum manis seraya mengangguk.
"Ayo kita masuk Mbak!" ajaknya lagi. Lalu melenggang ke halaman rumah.
"Bi! Bibi!"
Cindy memanggil asisten rumah tangga dengan setengah berteriak.
Tak berapa lama, datang seorang wanita paruh baya dengan sedikit setengah berlari menghampiri kami.
"Iya non," balasan dari ruangan lain.
"Non sudah pulang,"
Wanita yang dipanggil bibi tersebut menyapa Cindy dengan begitu ramah. Cindy pun mengangguk.
"Kenalin Bi, ini Mbak Wafa, temen aku. Dan mulai sekarang, Mbak Wafa bawa akan tinggal dulu untuk sementara di rumah aku. Jadi, Bibi perlakuan Mbak Wafa dengan baik ya."
Cindy berpesan lembut pada asisten rumah tangganya, dan wanita paruh baya itu pun mengangguk patuh.
"Tolong bantuin bawa barang-barang Mbak Wafa ke ruang tamu ya!" titahnya.
Dengan patuh, wanita yang dipanggil bibi tersebut mengambil barang-barang yang diperintahkan untuk dibawa ke kamar tamu.
Mas Dika pun menghampiri kami seraya menggendong putra kami, Delon dalam dekapannya.
"Sekali lagi, aku ucapin makasih ya Cindy.
Bantuan kamu sangat berarti buat aku,"
Mas Dikaa mengucapkan rasa terima kasihnya atas bantuan temannya tersebut.
"Udah, jangan terus-terusan berterima kasih Mas, anggap aja rumah sendiri, jangan sungkan.
Begitu juga dengan Mbak Wafa, anggap aja ini rumah Mbak ya,"
Ia bertutur kata lembut.
Akupun mengangguk pasrah.
"Yuk kita masuk!" ajak Cindy seraya menggandeng diriku, yang menggendong putri kecilku Della.
***
Tubuhku mengitari kamar yang besar dan luas, kamar tamu yang diperuntukkan untuk aku dan Mas Dika, dari Cindy.
Kamar yang sangat megah dan mewah, yang cukup luas untuk disebut kamar.
Sedangkan Mas Dika, saat ini tengah memeluk Delon yang tengah tertidur pulas di ranjang king size.
Aku bahkan belum mengatakan apapun pada Mas Dika, sekedar bertanya kira-kira kapan kami akan kembali hengkang dari rumah ini.
Sayangnya, suamiku sepertinya tengah pergi ke alam mimpi, menyusul si cikal yang terlelap dalam tidurnya, yang sesekali tersenyum, efek dari mimpi indahnya.
Dengan perlahan aku pun menidurkan Della, bayi mungilku, di samping Mas Dika, lalu turut serta tidur di ranjang yang berukuran besar tersebut, untuk melepaskan penat dan lelah. Setelah seharian ini aku dan keluargaku penuh ketegangan karena memikirkan tempat tinggal dan hal lainnya.
***
Aku terbiasa bangun pagi, sehingga mataku terbuka refleks saat pagi menyapa.
Dengan perlahan aku pun bangkit dari tempat tidur, mengumpulkan kewarasan yang sempat tercerai berai karena lelah dan tidur.
Dengan cepat, aku pun pergi ke kamar mandi, untuk melakukan aktivitas pagi.
Usai dari kamar mandi, aku pun turun ke dapur, terlihat di dapur ada bibi yang tengah memasak.
"Selamat pagi Bi."
Aku menyapa asisten rumah tangga tersebut.
"Pagi juga Mbak, sudah bangun jam segini, Mbak?" dia bertanya keheranan.
"Iya Bi, soalnya saya sudah biasa bangun jam segini, kira-kira ada yang bisa saya bantu nggak Bi?"
Aku tawarkan bantuan pada wanita yang bekerja giat tersebut.
"Jangan Mbak. Kan, di sini Mbak tamu, nanti Non Cindy marah, dikiranya Bibi minta bantuan sama Mbak Wafa,"
Wanita itu menolak dan menjelaskan alasannya.
"Gapapa, saya sudah biasa kok, biasanya di rumah saya juga pagi-pagi bakal beraktivitas masak, soalnya saya punya anak kecil dan suami yang harus diurus, jadinya nggak masalah kalau harus bantu-bantu di dapur."
Balasku.
Setengah jam telah berlalu ...
Aku berjibaku di dapur, bersama asisten rumah tangga.
Lalu mengambil piring-piring untuk ditata di meja makan.
Namun, mataku menyipit kala melihat Mas Dika dan Cindy yang tengah sarapan pagi bersama di meja yang sama.
Apa yang sedang mereka lakukan?
Sejak kapan Mas Dika bangun sepagi ini?
Bab 3: Kalian berdua mandi bareng?
Dadaku memanas, menyaksikan bagaimana Mas Dika dan Cindy begitu akrab, sarapan berdua. Dan, sejak kapan mereka berdua bangun? terutama suamiku.
Biasanya, Mas Dika jam segini belum bangun. Tapi, kali ini mengapa tumben ya, bisa bangun sepagi ini, bahkan bersarapan ria dengan teman wanitanya tersebut.
Dengan perasaan yang pernah penasaran, aku pun menyiapkan makanan, dan piring-piring, menata di meja makan, lalu dengan perasaan sedikit sabar aku mendekati keduanya.
"Mas udah bangun ya," sapaku basa-basi.
"Iya, tapi belum lama kok, kamu ngapain?"
Ia balik bertanya.
"Lagi bantuin Bibi masak di dapur," jawabku.
"Loh, Mbak ngapain bantuin Bibi, nggak usah Mbak, nanti Mbak repot lho. Mbak di sini tuh tamu, aku jadi nggak enak,"
Cindy menyahut jawabanku.
"Gapapa Cindy. Mbak kok, yang inisiatif bantuin bibi di dapur, bukan bibi yang minta bantuan Mbak,"
Ku jelaskan pada Cindy, agar tidak terjadi kesalahpahaman.
"Oh, kirain, ya udah deh, terserah Mbak aja, kalau mau bantu-bantu bibi juga nggak masalah, yang penting bukan aku yang nyuruh ya Mbak,"
Ucapnya bijak. Akupun mengangguk.
"Mas hari ini kita jalan-jalan yuk! Mumpung libur," Ajakku ceria. Senang bisa berkumpul bersama keluarga kecil kami.
"Boleh,"
Suamiku membalas seraya menyeruput kopinya.
"Ya udah, yuk Mas mandi dulu, biar lebih awal pergi jalan-jalannya!"
Ajakku basa-basi, karena sesungguhnya aku tak suka melihat Mas Dika yang kurasa terlalu akrab dengan Cindy.
"Oke! Cindy, aku pamit diri dulu ya,"
Suamiku pamit pada Cindy.
"Oke Mas, nggak papa, silakan. Bentar lagi juga aku mau mau ke kamar kok, mau siap-siap ke suatu tempat," balas Cindy santai.
Aku pun mengekori langkah Mas Dika yang memasuki kamar kami.
"Tumben, pagi-pagi banget Mas bangun, bahkan langsung sarapan,"
Ucapku saat kami sampai di kamar, meluapkan perasaan sedikit sebal padanya, melihat bagaimana Mas Dika yang pagi-pagi begitu ceria bersama wanita lain, padahal biasanya dia begitu susah bangun pagi.
"Iya, Mas tadi sengaja bangun, walau malas, kan nggak mungkin Mas bangun siang di rumah orang,"
Mas Dika beralasan.
"Bagus deh kalau mikirnya gitu. Oh ya Mas, kira-kira kita akan berapa hari tinggal di sini?"
tanyaku.
Aku sungguh tak betah, meskipun belum sehari, bahkan sedari awal pun, aku merasa tak nyaman tinggal di rumah orang, meskipun yang bersangkutan katanya tulus membantu kami.
"Kamu tuh kenapa sih, kita baru aja sehari di sini, Mas juga nggak punya uang untuk pindah dari sini."
Mas Dika seolah enggan membahas tentang perpindahan kami dari rumah ini, padahal ini bukan rumah orangtuanya yang bisa seenaknya ia tempati.
"Aku malu Mas, kalau harus berlama-lama numpang di rumah orang."
Ku keluhkan isi perasaanku padanya, barangkali iya paham.
Mas Dika pun mencopot bajunya, "iya, Mas tau. Tapi, Mas nggak ada pilihan lain Wafa. Mas juga bingung, kecuali kalau kamu siap tinggal sama ibu,"
Lagi-lagi, pria itu membahas tentang ibunya, pembahasan yang paling membuat mood ku hancur, karena dulu aku pernah tinggal bersama ibu mertuaku, dan yang terjadi adalah pengaturan besar-besaran pada rumah tanggaku, seolah-olah aku adalah istri yang tak becus mengurus suamiku.
Dan sikap ibu benar-benar menguasai rumah tanggaku. Bukan aku tak terima ia menguasai keadaan rumahku. Namun, semua yang kulakukan seolah salah dimata ibu mertuaku. Masakanku, cucianku, beres-beres rumah, semuanya di komentari, bahkan ketika aku yang ketiduran bersama putraku pun, ibu pasti mengomel, menganggap aku, seorang ibu yang tidak kompeten dalam mengurusi rumah tangga.
Dan hal itu membuat aku semakin kesal.
"Gimana kalau kita pindah dari rumah ini setelah gajian?"
Usulku kepada suami.
Sesaat Mas Dika pun menghentikan aktivitas mencopot pakaiannya, yang sebentar lagi bergegas untuk mandi.
"Mas setuju kan?" Tanyaku penuh harap.
Aku mau minta jawaban pasti padanya.
"Enggak apa-apa kalau dikontrakkan, yang biasa juga gapapa, atau pun kos-kosan,"
Timpalku meyakinkan Mas Dika.
Pria itu pun menatapku nyalang.
"Emang gak betah banget ya tinggal di rumah ini?"
Suamiku malah balik bertanya.
Aku mengangguk, "ini rumah orang, senyaman apapun, bukan wilayah aku, bukan daerahku, Mas."
Ku utarakan isi hati dengan ekspresi lemas.
"Ya udah, seminggu lagi kita akan gajian, kamu cari saja tempat yang nyaman untuk kita tinggali,"
Akhirnya suamiku pun mengizinkan untuk kami pindah rumah.
Karena senang dan gembira detik itu juga aku pun memeluk tubuh Mas Dika.
"Makasih ya Mas, aku senang dengan jawaban kamu," sumringah kukatakan rasa gembiraku.
Mas Dika pun mengangguk pasrah.
"Ya udah, Mas mau mandi dulu ya," ucapnya.
Akupun mengangguk seraya melepaskan pelukan darinya.
"Mau nemenin Mas mandi nggak?"
Mas Dika menggoda, menaik-turunkan kedua alisnya. Akupun mencubit perutnya.
"Manja,"
Tolakku pura-pura malu.
"Ayo!"
Mas Mas Dika menyeret tanganku kamar mandi.
Dan berakhir dengan aktivitas pasutri.
***
Usai mandi, aku dan Mas Dika menghampiri meja makan di dapur di dapur.
Terlihat Cindy yang telah melahap sarapan pagi, sekilas matanya melirik ku, juga melirik kearah Mas Dika.
Bisa kulihat raut wajahnya yang berubah, seolah ada sesuatu yang ia sembunyikan dalam pikirannya, entah apa itu.
"Kalian habis mandi bareng, ya!" tebak Cindy dengan wajahnya yang serius.
Aku dan Mas Dika pun saling menatap, saling menoleh satu sama lain, ada perasaan yang tak nyaman dengan ucapan wanita itu.
Pertanyaan yang menurutku tak sopan.
"Kami suami istri, ya ... mesra-mesraan itu adalah suatu hal yang lumrah."
Ku jawab dengan jawaban yang mungkin tak enak didengar olehnya. Masa bodo. Toh ia sendiri yang bertanya sesuatu yang tak layak dipertanyakan, karena dia bukan anak kecil.
"Oh."
Cindy menjawab singkat, entah apa dari maksud jawaban tersebut. Cemburu kah?
Sedangkan Mas Dika terlihat seperti malu-malu, lalu dengan perlahan melahap makanannya.
Suara seluler Cindy pun berbunyi lalu dengan tergesa-gesa wanita itu pun keluar dan beranjak dari meja makan kami.
"Bentar ya, aku angkat telepon dulu," ucapnya serius, lalu melangkah pergi menjauhi meja makan kami.
Mumpung wanita itu tak ada disisi kami, aku menoleh ke arah Mas Dika.
"Kok malu banget ya Mas, saat ditanyain barusan? kita mandi bareng, kan kita suami istri,"
Ku ungkapkan rasa tak nyamanku pada Mas Dika.
Mas Dika tak bergeming hanya menunduk tanpa kata.
"Aku mohon Mas, kita harus secepatnya pergi dari rumah ini, kita cari kontrakan, atau kostan. Terserah. Yang terpenting kita nggak numpang lagi di rumah orang "
Ku tekankan alasan dan kalimat pada Mas Dika, agar ia memahami bagaimana rasa tak nyaman dan risihnya aku, yang tinggal di rumah temannya tersebut.
Pria itu pun mengangguk, mungkin dia setuju dengan apa yang kau pikirkan, terlihat bagaimana dari cara ia yang malu saat ditanyai teman dekatnya tersebut.
Lalu beberapa saat kemudian selularnya pun menyala, terpampang sebuah panggilan dari ibu mertuaku.
Dan detik itu juga raut wajah Mas Dika menegang.
"Ini ibu!"
Suamiku terlihat panik, dan aku langsung tak enak hati. Entah drama apa yang akan terjadi di antara kami.
Aku yakin, masalah baru akan datang lagi.
"Halo Dika! kamu di mana? kok pagi-pagi rumah kamu sudah disegel!"
"Jemput ibu saat ini! ibu sedang ada di depan rumah kamu!" cerocosnya.
Wanita itu memerintahkan suamiku tanpa mempertanyakan apa dan bagaimana saat ini keadaan suamiku.
Lucu memang.
Sedangkan Mas Dika terlihat semakin tegang wajahnya.
"Dika! kok gak menjawab!"
Protes suara dari seberang sana, mengagetkan Mas Dika yang tengah kebingungan.
"Kita harus gimana?"
Mas Dika bertanya padaku. Aku sendiri pun bingung harus bagaimana?