Bab 1

Bab 1: Numpang Di Rumah Teman

"Apa? tinggal di rumah temen kamu, Mas? apa nggak salah Mas? Masa kita numpang di rumah orang lain sih!"

Entah otakku yang sulit untuk mencerna ucapan suamiku, atau kewarasanku hilang kala Mas Dika, mengutarakan keinginannya mengajakku dan keluarga kecilku untuk tinggal di rumah temannya Mas Dika, yang bernama Cindy.

"Nggak Wafa, kamu nggak salah dengar, Mas bener-bener ... "

Mas Dika terlihat frustasi, ia bahkan tak melanjutkan ucapannya, kedua tangannya menjambak rambutnya kasar. Aku tahu, saat ini, dirinya sangat depresi atas apa yang terjadi beberapa waktu lalu, pada pekerjaannya yang membuat hidup kami, di titik terendah saat ini.

"Oke Mas, aku ngerti, saat ini kita harus pergi dari rumah ini, tapi Mas, masa sih harus tinggal di tempat teman kamu!"

Aku mengeluh, ini sulit untuk kuterima, karena wanita yang bernama Cindy tersebut, bukankah saudara dekat Mas Dika, apalagi keluarganya. Hanya teman.

"Ya terus gimana lagi Wafa, kita nggak mungkin tinggal di jalan! coba kamu pikir, dimana kita tinggal dengan anak-anak? Mas juga bingung, saat ini Mas nggak punya uang, gajian juga seminggu lagi, Mas sudah hubungi teman-teman Mas, tapi mereka nggak ada yang bisa bantuin Mas, selain Cindy, jadi Mas mohon sama kamu, supaya kamu ikut sama Mas ya!"

Lagi-lagi Mas Dika meyakinkan aku untuk mengikutinya ke tempat wanita yang, sejujurnya aku tidak mengerti mengapa wanita yang bernama Cindy itu mengijinkan aku, tepatnya keluarga kecilku tinggal bersamanya. Mengapa dia sebaik itu?

Pertanyaan mendasar dari seorang istri adalah, sedekat apa wanita itu dengan suamiku, sehingga wanita itu bersedia menampung kami di tempat tinggalnya ini sulit kuterima sebagai wanita biasa.

"Apa kita tinggal di rumah ibu saja Mas,"

Kuharap saranku bisa Mas Dika terima. Walaupun sejujurnya, aku pun tak yakin akan mampu berdampingan dengan wanita yang disebut mertua tersebut. Karena bagi kaum hawa, tinggal di pondok mertua itu lebih horor ketimbang tinggal di tempat yang lama tak berpenghuni.

"Nggak Wafa, kamu sendiri juga tau, gimana keadaan ibu dan kamu. Kalian selalu cekcok. Memangnya, kamu bersedia tinggal dan berdamai dengan ibu? sedangkan kalian selalu saja berbeda arah, berbeda pendapat."

Kedua bola mataku terpejam. Ya, apa yang diucapkan Mas Dika memang ada benarnya, aku dan ibu mertuaku selalu saja beda paham, kami seperti dua arah yang berbeda, selalu berlainan dan selalu berbeda paham. Bahkan meskipun itu hal kecil.

Dengus napas kasar keluar dari hidungku, rasanya keadaan ini benar-benar membuat otakku pecah. Disaat seperti ini orang-orang yang dibutuhkan pun seolah menghilang dari hidup kami. Padahal, hidup kami tak pelit-pelit amat kok untuk menolong orang lain. Dulu.

"Mas, ini ada cincin pernikahan kita, gimana kalau kita jual saja dulu, atau kita gadaikan saja, barangkali kita bisa menemukan kosan kecil, atau kontrakan."

Aku berikan saran lain pada Mas Dika, karena aku memiliki firasat yang tak nyaman tentang rumah tangga kami, jika harus menumpang di rumah teman suamiku tersebut. Risih pula

Apapun alasannya, aku sangat yakin bahwa dalam rumah tangga, yang terbaik adalah pisah rumah. Jangankan dengan teman wanita, bahkan dengan mertua pun atau bahkan sekalipun dengan orang tua sendiri, ngontrak atau berpisah adalah jalan yang terhormat.

Dan aku memperjuangkan hak untuk dihormati orang lain dengan cara mengontrak atau ngekost.

"Jual cincin kawin? Ya Tuhan, Wafa, kamu tuh aneh ya, cincin kawin itu cincin yang sangat sakral untuk pernikahan, lambang ikatan suci pernikahan, kok bisa-bisanya sih kamu kepikiran untuk menggadaikan atau menjual cincin demi menghindari numpang di rumah temen aku!"

Sudah kuduga, Mas Dika menolak saran dariku, padahal aku hanya berniat menggadaikan, nanti jika sudah gajian, aku bisa menembusnya kembali, itu pikirku.

"Mas jangan salah paham, aku cuman pengen menggadaikan, bukan menjual Mas, nanti kalau kita sudah dapat uang lagi, kita terus lagi cincinnya,"

Selaku, tak terima dengan pemikiran dan penolakan Mas Dika. Entah harus bagaimana cara meyakinkan suamiku agar kami mandiri. Tak perlu mengandalkan bantuan dari orang lain. Agar kedepannya tak perlu menjadi hutang budi.

"Enggak ah, Mas enggak setuju, lagian nggak ada yang jamin kalau cincin kita akan tetap ada di tempat itu, takut juga jika seandainya gak ke tebus. Jadi, Mas gak setuju kalau kamu, gadaikan cincin itu. Cincin pernikahan itu sakral untuk kita Wafa,"

Mas Dika tak setuju dengan ideku.

Aku senang Mas Dika menghargai arti kesakralan pernikahan kami. Namun, saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas tentang simbol cincin pernikahan. Ada yang lebih penting dari itu semua.

Jari jemariku memijit pelipis yang terasa pening. Entah harus ucapan seperti apa yang harus ku lontarkan kepada suamiku, agar dia tidak menerima penawaran dari teman baiknya yang bernama Cindy tersebut untuk menampung kami.

Parahnya, saat ini memang aku sama sekali tidak memegang uang yang besar untuk menyewa hotel atau apartemen barang sehari, dua hari. Tragis memang.

"Coba aja Mas, kalau saat itu kamu nggak teledor dengan barang orang lain, Mas!"

Tanpa sadar, mulutku begitu saja mengeluarkan keluhan tentang kejadian yang membuat keadaan kami saat ini terpuruk.

Yaitu, tentang kejadian beberapa minggu lalu, tentang suamiku yang meminjam mobil temannya yang milyaran rupiah, teledornya lagi, ia malah mengalami kecelakaan yang menyebabkan ganti rugi yang tak sedikit bagi dompet kami.

Dan akibat keteledoran tersebut, membuat uang tabungan kami terkeruk untuk ganti rugi mobil tersebut, bahkan rumah minimalis satu-satunya kami pun, harus dijual akibat keteledoran suamiku.

"Kamu nyalahin Mas, Wafa!"

Tajam Mas Dika menatapku. Pastinya ia tersinggung. Salahku.

"Maaf Mas, aku keceplosan."

Tanpa sadar, aku telah membuat suamiku tersinggung. Aku menutup mulutku, sebal pada diri sendiri.

"Harusnya kamu bersyukur Wafa! Seenggaknya aku itu masih hidup dan selamat! Hanya mobil itu yang cidera! Bukan aku!"

Mas Dika melotot emosi menatapku. Aku menunduk takut dan menyesal.

"Maaf Mas," ucapku lirih dan malu.

Benar juga, harusnya aku bersyukur karena suamiku masih selamat dan sehat. Hanya cidera sedikit, itupun diawal kecelakaan.

"Kamu pikir Mas mau kehilangan uang kita! Gara-gara kecelakaan mobil itu. Tapi, satu hal yang harus kamu tau, meskipun Mas mengganti mobil itu, uang itu, uang Mas! Mas yang bekerja, bukan seperti kamu yang setiap hari hanya di rumah ongkang-ongkang, yang hanya menerima gaji bulanan, belanja tiap bulan, minta ini, minta itu sama aku!"

Suamiku murka dengan ucapanku. Aku benar-benar bodoh telah mengucapkan kalimat yang tak seharusnya terucap.

"Dasar gak tau diri!"

Mas Dika mengumpat dan mengataiku. Benar-benar emosi tinggi.

"Loh, Mas, udah dong marahnya, aku kan nggak sengaja, Mas. Maaf Mas," ucapku menyesal. Kesal juga dengan umpatan darinya.

Aku tahu, aku salah bicara. Tapi, mendengar kalimat ongkang-ongkang di rumah saja, membuat aku merasa terhinakan sebagai seorang wanita. Karena, jika boleh memilih, aku juga ingin bekerja, agar aku tidak perlu menengadahkan tangan ini, kepada suamiku.

"Ya terus apa namanya! emang aku salah bicara? kan kenyataannya gitu! kamu cuman ongkang-ongkang di rumah, cuman tau gajian, uang bulanan, tanpa tau gimana capeknya aku, banting tulang untuk kalian!"

Mas Dika menatapku tajam, kedua bola matanya merah, kutahu ada amarah yang siap meledak dengan ucapanku, dan aku sungguh menyesal telah mengungkapkan apa yang ada di pikiranku barusan. Meskipun itu kenyataan.

"Maaf Mas, Wafa salah, udah ngomong kayak gitu, maaf ya," ucapku lagi.

Mas Dika hanya mendengus kesal, tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan tak berapa lama kemudian kami pun saling mendiamkan satu sama lain. berkecamuk dengan pikiran masing-masing.

Disaat seperti ini, rumah tangga terasa panas dan gaduh. Hal sekecil apapun menjadi titik api yang pada akhirnya berkobar-kobar menjalar ke segala arah perdebatan.

Terutama masalah perekonomian, hal itu sangat mudah menyulut emosi dan pertikaian.

Rumah tanggaku yang harmonis pun tak luput dari ujian ini. Walaupun sebenarnya tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa kami akan menjumpai sebuah masalah serumit ini.

Beberapa menit kemudian suara klakson mobil pun terdengar, membuyarkan lamunan kami berdua.

Mas Dika mengerjap, begitu juga dengan diriku.

Mobil mewah pun datang. Aku menyipitkan mata saat melihat mobil tersebut berhenti di depan rumah kami. Tepatnya, bekas rumah kami.

"Sekarang terserah kamu! Mau ikut sama Mas, atau tetap disini! Mempertahankan gengsimu!"

Dengan tegas Mas Dika menekan perasaanku.

Dan aku, sungguh tak ingin menumpang hidup di rumah orang. Apalagi rumah orang lain. Bukan saudara ataupun handai taulan.

Aku harus bagaimana?

Bersambung ...

Bab 2

Bab 2: Apa yang mereka lakukan?

Kupandang punggung Mas Dika dengan perasaan yang tak karuan, pria itu berjalan mendekati mobil mewah berwarna merah. Glamor dan terkesan elegan.

Sesaat kemudian muncul paras seorang wanita yang terlihat glowing, meskipun ia memakai kacamata hitam, namun paras wajahnya tetap terlihat berbeda dari kebanyakan wanita pada umumnya.

Sungguh terlihat menarik dan energik. Aku semakin tak enak hati.

Dari rumah ini bisa kulihat Mas Dika berbasa-basi dengan wanita tersebut.

Nampak keduanya begitu akrab dan dekat.

Sebagai seorang wanita aku bisa merasakan kedekatan yang tak biasa diantara mereka berdua sayangnya orang akan mengatakan bahwa ini adalah cemburu.

Seolah ada getaran dengan tatapan ku yang tak biasa, wanita yang bernama Cindy itu pun menoleh ke arahku. Detik berikutnya ia melambaikan tangannya ke arahku. Sebagai bentuk respon sopan, aku pun menganggukkan kepala padanya.

Beberapa detik selanjutnya wanita itu pun keluar dari mobilnya, lalu perlahan berjalan dengan langkahnya yang gemulai, meninggalkan suamiku yang tengah berdiri di samping mobilnya.

Dan dalam hitungan beberapa detik wanita itu tengah ada hampir di hadapanku.

"Hai Mbak, aku Cindy."

Wanita itu mengulurkan tangannya ke arahku, tak mungkin mengabaikan perkenalan orang lain, kubalas uluran tangan wanita yang bernama Cindy tersebut seraya mengucapkan nama aku.

"Wafa," balasku.

"Aku tahu, Mbak mungkin segan dengan tawaran aku, tapi nggak ada salahnya kan, Mbak mencoba dulu tinggal di rumah aku.

Aku janji kok aku nggak minta imbalan apapun, aku senang bisa bantu Mas Dika."

Wanita itu berupaya pula membujukku, agar aku mau tinggal di rumahnya.

"Maaf Cindy, tapi ... "

"Aku janji kok Mbak, gak akan meminta balasan apapun,"

Wanita itu pun menyela ucapanku dengan sigap.

Aku tersenyum tipis, berusaha untuk tetap menolak pertolongan atau bantuan dari wanita yang bernama Cindy tersebut.

"Mbak please, ikut sama aku ya!"

Cindy meraih tanganku, tempatnya membujukku.

"Ayo dong Wafa! ayo kita pergi ke rumah Cindy! ini sudah larut malam, aku mau istirahat, aku capek, tolong kamu paham pada posisi aku,"

Dari arah belakang Cindy, Mas Dika sama-sama gigih membujukku, yang pada akhirnya akupun mengangguk terpaksa.

Kuharap, secepatnya aku dan keluarga kecilku bisa keluar lagi dari rumah Cindy.

"Nah gitu dong, kan jadi enak,"

Cindy terlihat sumringah dengan persetujuan dariku, begitu juga dengan Mas Dika.

"Yuk!"

Ajak Cindy seraya mengambil alih koper-koper yang berisi pakaian-pakaian keluarga kecilku.

Aku pun segera menggendong bayi kecilku.

Sedangan saat ini, si cikal tengah menikmati kantuk yang menyerangnya, hingga membuat matanya nyalang, dan mengalahkan kelihaian tangannya yang tengah memegangi handphonenya.

"Mas, tunggu bentar ya! masukin aja barang-barangnya dulu, aku mau pesen taksi online,"

Wanita yang bernama Cindy itu begitu sibuk, lebih kesibukan dariku.

"Mau pesan taksi online? untuk apa Cindy?"

Mas Dika keheranan.

"Ini barang-barang banyak banget Mas, gak memungkinkan muat sama mobil aku, mobil aku khusus untuk bawa orang aja,"

Cindy begitu baik, memikirkan kami sekeluarga, kuharap Cindy benar-benar baik. Dan kuharap firasatku salah.

Tak berapa lama, taksi online yang dibesarkan oleh si Cindy pun datang. Dengan sibuk, kedua orang itu memasukkan barang-barang ke dalam taksi online tersebut.

"Yuk masuk!" ajak Cindy padaku, dengan sedikit malas-malasan, kuseret langkah kaki ini untuk memasuki mobil Cindy, mobil mewah yang sangat terlihat elegan. Bisa kutaksir, harganya pasti mencapai miliaran rupiah. Sekaya apa kehidupan Cindy?

***

Mobil pun sampai di sebuah halaman rumah, yang cukup besar dan megah, setelah kami menempuh perjalanan kurang lebih satu jam. Aku bahkan sempat tertidur di dalam mobil Cindy.

"Mbak, Mbak, bangun!"

Goncangan lembut di bahu, menyadarkanku dari kantuk yang menyerangku.

Dengan perlahan, kubuka mata dan kesadaran pikiran, mengumpulkan puing-puing kewarasan.

"Kita sudah sampai ya?"

Tanyaku basa-basi. Cindy tersenyum manis seraya mengangguk.

"Ayo kita masuk Mbak!" ajaknya lagi. Lalu melenggang ke halaman rumah.

"Bi! Bibi!"

Cindy memanggil asisten rumah tangga dengan setengah berteriak.

Tak berapa lama, datang seorang wanita paruh baya dengan sedikit setengah berlari menghampiri kami.

"Iya non," balasan dari ruangan lain.

"Non sudah pulang,"

Wanita yang dipanggil bibi tersebut menyapa Cindy dengan begitu ramah. Cindy pun mengangguk.

"Kenalin Bi, ini Mbak Wafa, temen aku. Dan mulai sekarang, Mbak Wafa bawa akan tinggal dulu untuk sementara di rumah aku. Jadi, Bibi perlakuan Mbak Wafa dengan baik ya."

Cindy berpesan lembut pada asisten rumah tangganya, dan wanita paruh baya itu pun mengangguk patuh.

"Tolong bantuin bawa barang-barang Mbak Wafa ke ruang tamu ya!" titahnya.

Dengan patuh, wanita yang dipanggil bibi tersebut mengambil barang-barang yang diperintahkan untuk dibawa ke kamar tamu.

Mas Dika pun menghampiri kami seraya menggendong putra kami, Delon dalam dekapannya.

"Sekali lagi, aku ucapin makasih ya Cindy.

Bantuan kamu sangat berarti buat aku,"

Mas Dikaa mengucapkan rasa terima kasihnya atas bantuan temannya tersebut.

"Udah, jangan terus-terusan berterima kasih Mas, anggap aja rumah sendiri, jangan sungkan.

Begitu juga dengan Mbak Wafa, anggap aja ini rumah Mbak ya,"

Ia bertutur kata lembut.

Akupun mengangguk pasrah.

"Yuk kita masuk!" ajak Cindy seraya menggandeng diriku, yang menggendong putri kecilku Della.

***

Tubuhku mengitari kamar yang besar dan luas, kamar tamu yang diperuntukkan untuk aku dan Mas Dika, dari Cindy.

Kamar yang sangat megah dan mewah, yang cukup luas untuk disebut kamar.

Sedangkan Mas Dika, saat ini tengah memeluk Delon yang tengah tertidur pulas di ranjang king size.

Aku bahkan belum mengatakan apapun pada Mas Dika, sekedar bertanya kira-kira kapan kami akan kembali hengkang dari rumah ini.

Sayangnya, suamiku sepertinya tengah pergi ke alam mimpi, menyusul si cikal yang terlelap dalam tidurnya, yang sesekali tersenyum, efek dari mimpi indahnya.

Dengan perlahan aku pun menidurkan Della, bayi mungilku, di samping Mas Dika, lalu turut serta tidur di ranjang yang berukuran besar tersebut, untuk melepaskan penat dan lelah. Setelah seharian ini aku dan keluargaku penuh ketegangan karena memikirkan tempat tinggal dan hal lainnya.

***

Aku terbiasa bangun pagi, sehingga mataku terbuka refleks saat pagi menyapa.

Dengan perlahan aku pun bangkit dari tempat tidur, mengumpulkan kewarasan yang sempat tercerai berai karena lelah dan tidur.

Dengan cepat, aku pun pergi ke kamar mandi, untuk melakukan aktivitas pagi.

Usai dari kamar mandi, aku pun turun ke dapur, terlihat di dapur ada bibi yang tengah memasak.

"Selamat pagi Bi."

Aku menyapa asisten rumah tangga tersebut.

"Pagi juga Mbak, sudah bangun jam segini, Mbak?" dia bertanya keheranan.

"Iya Bi, soalnya saya sudah biasa bangun jam segini, kira-kira ada yang bisa saya bantu nggak Bi?"

Aku tawarkan bantuan pada wanita yang bekerja giat tersebut.

"Jangan Mbak. Kan, di sini Mbak tamu, nanti Non Cindy marah, dikiranya Bibi minta bantuan sama Mbak Wafa,"

Wanita itu menolak dan menjelaskan alasannya.

"Gapapa, saya sudah biasa kok, biasanya di rumah saya juga pagi-pagi bakal beraktivitas masak, soalnya saya punya anak kecil dan suami yang harus diurus, jadinya nggak masalah kalau harus bantu-bantu di dapur."

Balasku.

Setengah jam telah berlalu ...

Aku berjibaku di dapur, bersama asisten rumah tangga.

Lalu mengambil piring-piring untuk ditata di meja makan.

Namun, mataku menyipit kala melihat Mas Dika dan Cindy yang tengah sarapan pagi bersama di meja yang sama.

Apa yang sedang mereka lakukan?

Sejak kapan Mas Dika bangun sepagi ini?

Bab 3

Bab 3: Kalian berdua mandi bareng?

Dadaku memanas, menyaksikan bagaimana Mas Dika dan Cindy begitu akrab, sarapan berdua. Dan, sejak kapan mereka berdua bangun? terutama suamiku.

Biasanya, Mas Dika jam segini belum bangun. Tapi, kali ini mengapa tumben ya, bisa bangun sepagi ini, bahkan bersarapan ria dengan teman wanitanya tersebut.

Dengan perasaan yang pernah penasaran, aku pun menyiapkan makanan, dan piring-piring, menata di meja makan, lalu dengan perasaan sedikit sabar aku mendekati keduanya.

"Mas udah bangun ya," sapaku basa-basi.

"Iya, tapi belum lama kok, kamu ngapain?"

Ia balik bertanya.

"Lagi bantuin Bibi masak di dapur," jawabku.

"Loh, Mbak ngapain bantuin Bibi, nggak usah Mbak, nanti Mbak repot lho. Mbak di sini tuh tamu, aku jadi nggak enak,"

Cindy menyahut jawabanku.

"Gapapa Cindy. Mbak kok, yang inisiatif bantuin bibi di dapur, bukan bibi yang minta bantuan Mbak,"

Ku jelaskan pada Cindy, agar tidak terjadi kesalahpahaman.

"Oh, kirain, ya udah deh, terserah Mbak aja, kalau mau bantu-bantu bibi juga nggak masalah, yang penting bukan aku yang nyuruh ya Mbak,"

Ucapnya bijak. Akupun mengangguk.

"Mas hari ini kita jalan-jalan yuk! Mumpung libur," Ajakku ceria. Senang bisa berkumpul bersama keluarga kecil kami.

"Boleh,"

Suamiku membalas seraya menyeruput kopinya.

"Ya udah, yuk Mas mandi dulu, biar lebih awal pergi jalan-jalannya!"

Ajakku basa-basi, karena sesungguhnya aku tak suka melihat Mas Dika yang kurasa terlalu akrab dengan Cindy.

"Oke! Cindy, aku pamit diri dulu ya,"

Suamiku pamit pada Cindy.

"Oke Mas, nggak papa, silakan. Bentar lagi juga aku mau mau ke kamar kok, mau siap-siap ke suatu tempat," balas Cindy santai.

Aku pun mengekori langkah Mas Dika yang memasuki kamar kami.

"Tumben, pagi-pagi banget Mas bangun, bahkan langsung sarapan,"

Ucapku saat kami sampai di kamar, meluapkan perasaan sedikit sebal padanya, melihat bagaimana Mas Dika yang pagi-pagi begitu ceria bersama wanita lain, padahal biasanya dia begitu susah bangun pagi.

"Iya, Mas tadi sengaja bangun, walau malas, kan nggak mungkin Mas bangun siang di rumah orang,"

Mas Dika beralasan.

"Bagus deh kalau mikirnya gitu. Oh ya Mas, kira-kira kita akan berapa hari tinggal di sini?"

tanyaku.

Aku sungguh tak betah, meskipun belum sehari, bahkan sedari awal pun, aku merasa tak nyaman tinggal di rumah orang, meskipun yang bersangkutan katanya tulus membantu kami.

"Kamu tuh kenapa sih, kita baru aja sehari di sini, Mas juga nggak punya uang untuk pindah dari sini."

Mas Dika seolah enggan membahas tentang perpindahan kami dari rumah ini, padahal ini bukan rumah orangtuanya yang bisa seenaknya ia tempati.

"Aku malu Mas, kalau harus berlama-lama numpang di rumah orang."

Ku keluhkan isi perasaanku padanya, barangkali iya paham.

Mas Dika pun mencopot bajunya, "iya, Mas tau. Tapi, Mas nggak ada pilihan lain Wafa. Mas juga bingung, kecuali kalau kamu siap tinggal sama ibu,"

Lagi-lagi, pria itu membahas tentang ibunya, pembahasan yang paling membuat mood ku hancur, karena dulu aku pernah tinggal bersama ibu mertuaku, dan yang terjadi adalah pengaturan besar-besaran pada rumah tanggaku, seolah-olah aku adalah istri yang tak becus mengurus suamiku.

Dan sikap ibu benar-benar menguasai rumah tanggaku. Bukan aku tak terima ia menguasai keadaan rumahku. Namun, semua yang kulakukan seolah salah dimata ibu mertuaku. Masakanku, cucianku, beres-beres rumah, semuanya di komentari, bahkan ketika aku yang ketiduran bersama putraku pun, ibu pasti mengomel, menganggap aku, seorang ibu yang tidak kompeten dalam mengurusi rumah tangga.

Dan hal itu membuat aku semakin kesal.

"Gimana kalau kita pindah dari rumah ini setelah gajian?"

Usulku kepada suami.

Sesaat Mas Dika pun menghentikan aktivitas mencopot pakaiannya, yang sebentar lagi bergegas untuk mandi.

"Mas setuju kan?" Tanyaku penuh harap.

Aku mau minta jawaban pasti padanya.

"Enggak apa-apa kalau dikontrakkan, yang biasa juga gapapa, atau pun kos-kosan,"

Timpalku meyakinkan Mas Dika.

Pria itu pun menatapku nyalang.

"Emang gak betah banget ya tinggal di rumah ini?"

Suamiku malah balik bertanya.

Aku mengangguk, "ini rumah orang, senyaman apapun, bukan wilayah aku, bukan daerahku, Mas."

Ku utarakan isi hati dengan ekspresi lemas.

"Ya udah, seminggu lagi kita akan gajian, kamu cari saja tempat yang nyaman untuk kita tinggali,"

Akhirnya suamiku pun mengizinkan untuk kami pindah rumah.

Karena senang dan gembira detik itu juga aku pun memeluk tubuh Mas Dika.

"Makasih ya Mas, aku senang dengan jawaban kamu," sumringah kukatakan rasa gembiraku.

Mas Dika pun mengangguk pasrah.

"Ya udah, Mas mau mandi dulu ya," ucapnya.

Akupun mengangguk seraya melepaskan pelukan darinya.

"Mau nemenin Mas mandi nggak?"

Mas Dika menggoda, menaik-turunkan kedua alisnya. Akupun mencubit perutnya.

"Manja,"

Tolakku pura-pura malu.

"Ayo!"

Mas Mas Dika menyeret tanganku kamar mandi.

Dan berakhir dengan aktivitas pasutri.

***

Usai mandi, aku dan Mas Dika menghampiri meja makan di dapur di dapur.

Terlihat Cindy yang telah melahap sarapan pagi, sekilas matanya melirik ku, juga melirik kearah Mas Dika.

Bisa kulihat raut wajahnya yang berubah, seolah ada sesuatu yang ia sembunyikan dalam pikirannya, entah apa itu.

"Kalian habis mandi bareng, ya!" tebak Cindy dengan wajahnya yang serius.

Aku dan Mas Dika pun saling menatap, saling menoleh satu sama lain, ada perasaan yang tak nyaman dengan ucapan wanita itu.

Pertanyaan yang menurutku tak sopan.

"Kami suami istri, ya ... mesra-mesraan itu adalah suatu hal yang lumrah."

Ku jawab dengan jawaban yang mungkin tak enak didengar olehnya. Masa bodo. Toh ia sendiri yang bertanya sesuatu yang tak layak dipertanyakan, karena dia bukan anak kecil.

"Oh."

Cindy menjawab singkat, entah apa dari maksud jawaban tersebut. Cemburu kah?

Sedangkan Mas Dika terlihat seperti malu-malu, lalu dengan perlahan melahap makanannya.

Suara seluler Cindy pun berbunyi lalu dengan tergesa-gesa wanita itu pun keluar dan beranjak dari meja makan kami.

"Bentar ya, aku angkat telepon dulu," ucapnya serius, lalu melangkah pergi menjauhi meja makan kami.

Mumpung wanita itu tak ada disisi kami, aku menoleh ke arah Mas Dika.

"Kok malu banget ya Mas, saat ditanyain barusan? kita mandi bareng, kan kita suami istri,"

Ku ungkapkan rasa tak nyamanku pada Mas Dika.

Mas Dika tak bergeming hanya menunduk tanpa kata.

"Aku mohon Mas, kita harus secepatnya pergi dari rumah ini, kita cari kontrakan, atau kostan. Terserah. Yang terpenting kita nggak numpang lagi di rumah orang "

Ku tekankan alasan dan kalimat pada Mas Dika, agar ia memahami bagaimana rasa tak nyaman dan risihnya aku, yang tinggal di rumah temannya tersebut.

Pria itu pun mengangguk, mungkin dia setuju dengan apa yang kau pikirkan, terlihat bagaimana dari cara ia yang malu saat ditanyai teman dekatnya tersebut.

Lalu beberapa saat kemudian selularnya pun menyala, terpampang sebuah panggilan dari ibu mertuaku.

Dan detik itu juga raut wajah Mas Dika menegang.

"Ini ibu!"

Suamiku terlihat panik, dan aku langsung tak enak hati. Entah drama apa yang akan terjadi di antara kami.

Aku yakin, masalah baru akan datang lagi.

"Halo Dika! kamu di mana? kok pagi-pagi rumah kamu sudah disegel!"

"Jemput ibu saat ini! ibu sedang ada di depan rumah kamu!" cerocosnya.

Wanita itu memerintahkan suamiku tanpa mempertanyakan apa dan bagaimana saat ini keadaan suamiku.

Lucu memang.

Sedangkan Mas Dika terlihat semakin tegang wajahnya.

"Dika! kok gak menjawab!"

Protes suara dari seberang sana, mengagetkan Mas Dika yang tengah kebingungan.

"Kita harus gimana?"

Mas Dika bertanya padaku. Aku sendiri pun bingung harus bagaimana?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED