Dirka Heka, dia adalah anak laki-laki satu-satunya dari pasangan Darwis Heka dan Marika Heka.
Heka adalah nama yang diwariskan dari nama keluarga ayahnya. Kalangan pengusaha dan pebisnis besar lebih mengenal mereka sebagai Heka Group.
Dirka pernah bertanya pada ayahnya. Apa sebenarnya arti dari nama Heka. Ayahnya hanya memberitahunya, bahwa nama Heka diambil bahasa yunani 'Hekate'.
Waktu itu ia masih kecil dan belum tahu apa-apa mengenai apa itu Yunani. Ayahnya juga memberi tahu apa maksud dan arti dari nama itu. Hekate adalah sebuah mitologi yang mengait dalam beberapa hal yang bisa disimpulkan sebagai awal dan pengetahuan. Dirka masih tidak paham dengan maksudnya, dan apa kaitannya dengan keluarganya.
Namun, Dirka yang masih anak-anak sama sekali tidak terlalu memperdulikannya, dan lebih tertarik dengan bermain.
Dirka bisa dibilang anak yang sangat dimanja oleh kedua orang tuanya. Tidak ada kata tidak saat dirinya meminta sesuatu, orang tuanya pasti menurutinya. Tapi, selama itu masih normal untuk anak seumurannya.
Dirka bisa dibilang anak yang sangat beruntung karena lahir di keluarga ini. Hidupnya sangatlah bahagia, tidak hanya sangat disayang dan dimanja, dia juga hidup dalam kemewahan yang tidak semua orang bisa seperti dirinya.
Tetapi kebahagiaan yang dirasakannya, sirna, saat kedua orang tuanya mengalami sebuah insiden yang mengakibatkan mereka meninggal dunia.
Waktu masih berumur sembilan tahun ini lah pertama kalinya dia mengalami kesedihan dan merasakan kehilangan.
Tidak ada yang bisa diperbuat. Dia hanya bisa menangis, berteriak-teriak memanggil-manggil kedua orang tuanya di depan makam mereka.
Sejak saat itu, Dirka mulai diasuh oleh kakek dan neneknya. Saat tinggal bersama mereka, Dirka selalu diajari bagaimana menjalankan sebuah bisnis sejak kecil, dia juga diajarkan beladiri dan bagaimana menggunakan senjata.
Dirka tidak tahu mengapa dia harus mempelajari semua itu.
Dirka juga diperkenalkan mengenai semua aset-aset peninggalan kedua orang tuanya. Dirka selalu berusaha keras untuk belajar. Itu dilakukannya demi menjaga apa yang diwariskan kedua orang tuanya.
Walaupun dia mendapatkan pendidikan yang bisa dibilang jauh lebih banyak untuk anak seusianya. Dia juga masih merasa bahagia, karena kakek dan neneknya selalu memberinya kasih sayang dan perhatian padanya.
Tetapi, beberapa tahun berlalu. Dan hal itu tidak pernah terjadi lagi. Kakek dan Neneknya meninggal akibat sebuah kecelakaan. Itu terjadi 10 tahun setelah kedua orang tuanya meninggal. Dirka merasa waktu 10 tahun yang dia lalui bersama kakek dan neneknya hanya terasa sangat sebentar baginya.
Sekali lagi … dia harus merasakan kehilangan untuk kedua kalinya, karena ditinggalkan oleh kakek dan neneknya.
Dirka tidak memiliki siapapun lagi yang bisa disebutnya keluarga. Dirka sekarang hidup tanpa keluarga kandung, atau kerabat satupun.
Dia sangat depresi, sejak saat itu.
"Haaaa!" Dirka berteriak merusak semua benda-benda yang ada di hadapannya.
Dirka merasa semua kemilau dunia yang dimilikinya ini hanya ilusi untuknya. Keterpurukan karena tidak memiliki siapapun lagi, membuatnya sadar. Dia tidak perlu semua harta ini.
Harta yang bahkan tidak bisa digunakan untuk menghidupkan kembali keluarganya.
Dirka yang sangat depresi saat itu, merasa hidupnya sangatlah kosong dan tidak berpihak padanya. Di dalam tekanan itu ia berpikir untuk mengambil jalan pintas. Dirka mencoba untuk mengakhiri hidupnya, dengan menyuntikkan bisa beracun langsung ke tubuhnya.
Beruntung ada dua pelayan yang menyadari hal itu, dan nyawanya pun berhasil terselamatkan.
★★★
3 tahun berlalu sejak kejadian itu.
Di sebuah lapangan yang menyerupai lapangan baseball terlihat Dirka dan pria paruh baya, berdiri menghadap ke arah yang sama.
Dirka sekarang terlihat sedang memegang pistol sambil memfokuskan pandangannya pada piring besi berjajar rapi jauh di depan yang menjadi incarannya.
Tidak seperti pada umumnya, Dirka sama sekali tidak menyelaraskan antara titik timbul yang ada di moncong dan di pangkal senjata dengan target. Dia harus bisa mengenai target walau tanpa harus melakukan itu. Ini adalah latihan untuk mempertajam instingnya.
Selama tiga tahun Dirka sudah banyak berubah. Tidak hanya sifat, tapi juga penampilannya. Tingginya sekarang 175 cm, dengan rambut hitam panjangnya tampak dikuncir ke belakang.
Pria paruh baya di sebelahnya bernama Deni, yang dari tadi terus mengawasi Dirka, dengan wajah serius.
'Melihat tuan muda sekarang, seperti melihat orang yang memiliki karakter dingin dan angkuh,' batin Deni.
Dengan tatapan tajam, seolah mengunci melalui matanya. Tanpa ragu, Dirka menekan pelatuk pistolnya.
Terdengar, gema tembakan pistol diikuti suara peluru mengenai piring besi yang menjadi sasarannya.
Melihat itu, Deni tersenyum puas sambil bertepuk tangan. "Bagus … sangat bagus, tuan. Ini jelas kemajuan yang sangat baik," Deni memuji Dirka dengan jujur.
"Terima Kasih," balas Dirka sembari tersenyum canggung. "Tapi aku merasa ini belum seberapa dibandingkan Pak Deni, yang mampu mengenai lebih dari sepuluh target dalam waktu singkat," ungkapnya.
Dirka menyampaikan apa yang sebenarnya. Jika dibandingkan dengan Deni dia jelas tidak ada apa-apanya.
"Hahaha," Deni tertawa saat mendengar dirinya dibandingkan dengan tuannya. "Tolong jangan bandingkan denganku yang sudah lebih dari dua puluh tahun bertugas sebagai tentara. Tuan muda yang hanya dalam sebulan sudah bisa mengenai semua target yang berjarak dua puluh meter. Jelas kemajuan yang luar biasa," jelasnya.
Deni menambahkan, "Belajar menembak bukanlah belajar mengendarai kendaraan. Dibutuhkan konsentrasi yang dan ketenangan dalam melakukannya. Melihat tuan muda mampu mengenai target dengan sempurna, ini jelas kemajuan yang sangat baik."
Deni yang sudah menginjak 55 tahun, ditambah pengalamannya sebagai tentara pasukan khusus, membuatnya paham betul apa itu senjata.
"Tapi tetap saja, aku,-"
"Tuan, janganlah terlalu sering merendah. Kamu harus bisa mengakui dirimu sendiri. Tapi juga jangan sampai terbuai dengan pencapaian itu," Deni menegur dan menasehati tuannya. Selayaknya orang tua, mendidik anaknya sendiri.
"Ya, Itu benar … juga, terima kasih," balas Dirka. Dia senang mendapatkan teguran itu dari Deni. Baginya, ini adalah bentuk kepedulian Deni padanya.
Dirka tidak pernah menganggap siapapun yang bekerja di rumah ini sebagai pelayannya. Sejak dia sudah tidak memiliki keluarga kandung. Para pelayan lah yang selalu menemani dan merawatnya. Itulah yang membuat Dirka selalu menganggap mereka semua sama seperti keluarganya sendiri.
"Pak Deni, apa kamu sudah sarapan? Kalau belum, mau sarapan bersamaku?" ajak Dirka. Mengingat ini masih pagi, ia berinisiatif mengajak mentor menembaknya ini untuk sarapan.
"Tuan Muda, aku senang kamu menawariku. Tapi … bagaimana aku mengatakannya—," kata Deni, dengan wajah tampak bermasalah.
"Ayolah pak, sesekali temani aku sarapan," Dirka sedikit memaksa.
"Tapi tuan, aku cuma pelayan di rumah ini. Jika pelayan lain melihatnya, aku takut jika muncul opini-opini yang tidak mengenakkan," balas Deni dengan senyum kecut di wajahnya.
"Aku heran, sama semua orang di rumah ini … setiap kali aku ajak makan bersama. Selalu saja mereka menjawab sama jawaban yang sama seperti ini," keluh Dirka dengan wajah kecewa.
Deni yang melibat wajah kecewa tuannya, sebenarnya merasa tidak enak hati karena sudah menolaknya.
Tapi mau bagaimana lagi. Deni tidak mungkin menerima tawaran Dirka. Deni yang tahu seperti apa dan siapa semua karyawan yang bekerja di rumah ini, membuatnya harus menolak tawaran ajakan dari tuannya.
Semua karyawan yang bekerja di rumah ini, bukanlah orang sembarangan. Mulai dari pelayan biasa hingga sekretaris. Bahkan Deni yang adalah seorang tukang kebun di rumah ini, sebenarnya adalah mantan anggota pasukan elit angkatan darat. Dan semua karyawan yang bekerja di rumah ini, mereka adalah para ahli bertarung dan bahkan ahli senjata.
Jika dia terlihat sarapan dengan Dirka, itu pasti akan memicu kecurigaan pelayan lain kepadanya. Orang-orang seperti mereka, tidak bisa disamakan dengan rasa curiga orang biasa.
Karena ada saat di mana rasa curiga mereka yang seharusnya disampaikan menggunakan lisan, berubah menjadi pedang atau bahkan pistol. Itu sama sekali tidak lucu, memikirkannya saja sudah membuat Deni sakit kepala.
Melihat ekspresi rumit Deni, Dirka hanya bisa mendesah lelah. 'Sebenarnya apa masalahnya sarapan dengan ku?' pikir Dirka dengan wajah kecut.
"Ya sudah, kalau Pak Deni nggak mau gak papa … Tapi pak, sekali lagi terima kasih bimbingannya hari ini," ucap Dirka.
"Sama-sama Tuan muda, senang rasanya jika memang ilmu saya bisa berguna," balas Deni.
"Ya sudah kalau begitu. Pak Deni, aku kembali dulu," ucap Dirka.
"Ya tuan, silahkan," sahut Deni sambil menunduk.
Dirka pun berbalik dan berjalan menuju kediamannya. Terlihat Deni yang melihatnya sedikit membungkuk hormat.
★★★
Di ruangan yang luasnya sama seperti dua kali luas lapangan badminton. Di tengah-tengahnya itu terdapat meja makan berbentuk oval, yang bahannya berasal dari kayu fosil dengan panjang dan lebarnya adalah sepuluh kali tiga meter.
Dirka berjalan memasukinya.
"Selamat pagi, tuan," sambutan beberapa pelayan wanita dan laki-laki yang yang berbaris rapi di pinggir ruangan.
"Pagi," balas Dirka singkat.
Semua pelayan itu terlihat mengenakan setelan jas dengan celana panjang berwarna hitam. Walaupun mereka semua pelayan, tapi tidak sedikitpun dari mereka yang tampak seperti pelayan. Penampilan mereka semua lebih seperti pegawai kantoran, yang mengenakan setelan jas seragam.
Di balik jas yang mereka semua kenakan, terdapat sebuah pistol khusus yang di gagangnya terdapat lambang huruf 'H', yang merupakan lambang keluarga Heka.
Dirka berjalan menuju meja makan besar itu. Di sana sudah ada dua pelayan satu laki-laki dan satunya perempuan. Dirka langsung di sambut salam oleh keduanya.
"Selamat pagi, tuan," sambut keduanya bersamaan sambil menunduk sopan.
"Pagi," sahut Dirka.
"Silahkan, Tuan Muda," ucap pelayan laki-laki, sembari menyiapkan kursi tempat Dirka akan duduk.
"Terima kasih," balas Dirka kepada pelayan itu, dan duduk di kursi yang disiapkan-nya.
"Sama-sama, tuan," balas pelayan itu sembari tersenyum ke arahnya.
Dia adalah Adrian, dia laki-laki berusia 35 tahun. Terlihat ada penutup mata seperti bajak laut yang menutupi mata sebelah kirinya. Itu bukan untuk bergaya. Tapi, memang karena matanya mengalami kebutaan karena suatu hal.
Dirka tidak tahu pasti apa yang membuatnya sampai mengalami luka, dan membuatnya buta seperti ini.
Tetapi, dulu dirinya pernah menyuruh Adrian untuk membukanya. Dirka pun memahami saat melihat luka di matanya, yang sangat jelas bahwa itu terluka karena terkena senjata tajam.
Sejak saat itu, Dirka tidak pernah lagi menanyakan masalah ini, karena dia hanya tidak ingin mengungkit masalah, yang seharusnya memang tidak ia ungkit .
★★★
Pandangan Dirka sekarang menatap ke arah meja makan panjang yang ada tepat di hadapannya.
"Hmmm," sesekali Dirka melihat kearah semua pelayan yang ada disana. Tapi mereka terlihat seolah mencoba menghindari tatapannya.
'Yah, ini lah mereka … seolah sudah tau apa niatku,' dihatinya Dirka mengeluhkan ini. Bagaimana tidak? Dia sudah tahu jika mereka menghindari tatapannya karena mereka takut jika diajak sarapan bersama dengannya.
"Tuan muda, apa ada sesuatu?" tanya pelayan Wanita yang berdiri di sampingnya.
"Tidak, tidak ada," balas Dirka.
Dia bernama Yuli, istri dari Adrian. Umurnya lima tahun lebih muda dari Adrian. Keduanya adalah kepala pelayan di kediaman ini. Semua pelayan yang bekerja di sini, bisa dikatakan sebagai bawahan mereka berdua.
Dirka lalu berkata, "oh iya, Yul ... aku ada usulan."
"Usulan? usulan apa, tuan?"
"Bagaimana, kalau mulai hari ini kita semua sarapan bersama?" saran Dirka.
"Kami semua sudah sarapan tuan," semua pelayan serentak langsung menjawab itu. Benar-benar seperti tidak ada jeda. Semuanya langsung menjawab sepersekian detik setelah Dirka menyelesaikan pertanyaannya.
"K-kalau begitu, bagaimana kalau mulai bes,-"
"Kita biasa sarapan jam 3 pagi tuan," kata semua pelayan itu lagi secara serentak.
Kali ini bahkan dia belum menyelesaikan perkataannya, dan mereka semua sudah menjawabnya. Seolah mereka sudah tau apa yang ingin dikatakannya.
Dirka pun langsung terdiam mendengar jawaban sekaligus penolakan tidak langsung, dari semua pelayannya ini.
★★★
Setelah sarapan Dirka langsung menuju ruang kerjanya. Adrian dan Yuli juga terlihat berjalan mengikuti di belakangnya.
"Yul, jadi bagaimana kelanjutan kontrak kerja sama dengan Mr.Braiman?" tanya Dirka tanpa menoleh ke arah Yuli.
"Sampai sekarang, semuanya berjalan lancar, tuan," balas Yuli.
"Baguslah, kalau begitu," sahut Dirka. "Juga, tolong nanti siapkan list detail kerjasama dengan Mr.Braiman, dan jangan lupa sekalian siapkan semua data mengenai semua hal mengenai perusahaannya. Aku ingin mempelajarinya lagi," pinta Dirka.
Yuli mengangguk ."Baik tuan, akan saya segera siapkan."
"Dri ... apa ada kendala dalam perkembangan proyek yang berjalan di Bali?" tanya Dirka. Sudah dari dulu Dirka selalu memanggil Adrian dengan panggilan Dri.
"Mengenai itu … ada sedikit kendala dengan warga sekitar, tuan," kata Adrian. "Banyak dari mereka yang memprotes di bangunnya kompleks perhotelan di sana. Tapi, semua sudah diselesaikan, dan sekarang sudah berjalan lancar sesuai keinginanmu, tuan."
Mendengar itu terlihat ada senyum puas di wajah Dirka sekarang. "Kalian berdua, Kerja bagus!"
" " Terima kasih, Tuan." "
Keduanya tersenyum senang setelah mendapatkan pujian dari Tuan muda mereka.
★★★
Sesampainya di ruangan kerjanya, Dirka melihat ada sebuah kotak box berwarna cokelat tua di atas meja kerjanya.
"Hm? apa ini?" tanya Dirka sambil membuka box itu. "Jam tangan?" gumamnya, saat melihat ada sebuah jam tangan hitam, yang tampak sangat elegan.
"Ah itu, hadiah Dari nyonya Karnia, tuan." kata Yuli.
Dirka menoleh memandang ke arah Yuli. "Karnia? Siapa Karnia?" tanya Dirka dengan wajah penasaran. Dirka merasa, dirinya tidak memiliki kenalan yang bernama Karnia.
"Nyonya Karnia itu, istri dari Bapak Susilo, jam ini adalah hadiah darinya. Itu karena tuan muda sudah membantu usaha suaminya yang mau bangkrut." jelas Yuli.
"Jadi begitu … jujur, aku merasa tidak melakukan apapun, lagi pula bagaimanapun itu sebuah investasi, jadi seharusnya hal seperti ini tidak perlu," balas Dirka, sembari mengambil jam tangan itu, dan mencoba memakai ditangannya.
Bagi Dirka apa yang dilakukannya hanyalah sebuah bisnis, dan Susilo adalah seorang partner bisnisnya. Mendapatkan hadiah karena dianggap membantu usaha dari partner bisnisnya, jelas bukanlah niatnya. Itulah yang Dirka pikirkan.
"Saya rasa tidak seperti itu, tuan," tiba-tiba Adrian menanggapi pemikiran Dirka.
"Hm?" Dirka menoleh ke arah Adrian dengan wajah bingung. "Maksudmu?"
"Tuan … biarpun itu sebuah investasi … tetap saja jika itu tidak dilakukan, sudah dipastikan perusahaannya akan bangkrut," jelas Adrian.
"Itu benar, tuan," Yuli mengangguk setuju dengan perkataan suaminya. "Karena pendanaan investasi yang tuan lakukan jelas sangat membantu dan bahkan juga menyelamatkan perusahaannya."
"Begitukah, aku tidak pernah berpikir sampai sana," balas Dirka.
Dirka hanya merasa, kalau dirinya hanyalah seseorang yang ikut menabur pupuk di pohon orang lain. Dan berharap bisa ikut merasakan rasa manis dari buahnya.
Tetapi, mendengar Adrian dan Yuli memberitahunya masalah itu, membuatnya sadar akan satu hal. Bahwa apa yang dilakukannya, ternyata bisa memiliki arti lain bagi orang lain.
Sama seperti memberi sebotol air minum, kepada orang yang haus. Disaat dirinya menganggap bahwa apa yang dia berikan hanyalah air. Namun, orang yang menerimanya mungkin akan menganggap dan menilainya lain. Bisa saja bahwa air itu sangat berharga baginya.
Sambil tersenyum memandangi jam tangan baru yang diterimanya. Dirka berkata. "Kalau begitu, tolong buatkan surat ucapan terima kasih dan kirimkan secepatnya."
"Baik tuan," sahut Yuli.
"Oh iya, aku hari ini ingin keluar, jadi kalian berdua tolong urus semuanya jika ada apa-apa," kata Dirka.
Adrian mengangguk. "Baik tuan, kalau begitu saya akan memerintahkan beberapa orang untuk mengawal kam,-"
"Tidak perlu, aku ingin pergi sendiri," Dirka memotong perkataan Adrian.
"T-tapi Tuan, itu berbahaya!" seru Yuli.
"Itu benar Tuan, saya tidak bisa menyetujui,-"
"Kalian berdua, Stop!" kata Dirka.
Keduanya pun langsung terdiam karena perintahnya.
"Hahh," Dirka mendesah lelah. "Berbahaya? apanya yang berbahaya? lagian aku hanya ingin mencari angin sebentar."
"Tapi tetap saja itu,-"
Dirka langsung memotong perkataan Yuli. "Aku ingin pergi sendiri, jadi kalian juga jangan suruh orang untuk mengikuti ku," perintahnya.
"T-ta,-"
"Titik!" Dirka kali ini memotong perkataan Ardian.
Jika sudah seperti ini, keduanya pun hanya bisa terdiam, dan tidak berani membantah perkataan tuannya lagi.
Dirka sekarang berada di garasi, terlihat ada lebih dari 10 mobil mewah yang berjejer di sana. Ada juga beberapa mobil classic produksi tahun 40-60an.
Walaupun dia memiliki banyak mobil mewah seperti Porsche, Lamborghini, Ferrari, Bugatti. Tapi, tidak ada satupun dari semua mobil itu yang dibeli dengan uangnya sendiri.
Semua itu didapatkannya sebagai sebuah hadiah di hari ulang tahunnya, dari beberapa rekan bisnisnya. Bahkan semua mobil Classic yang ada di sana, juga hanyalah peninggalan dari almarhum kakeknya.
Tapi, dari semua mobil yang dia miliki, hanya ada satu kendaraan yang sering digunakan. Kendaran itu adalah sepeda motor.
Dirka sekarang berjalan menuju motor peninggalan ayahnya.
"Caky, kita jalan-jalan hari ini," Dirka berbicara sendiri sambil menepuk-nepuk tangki motornya.
Caky adalah nama yang dia berikan pada Motor BMW R25 peninggalan ayahnya. Memang tidak terlihat sebagus layaknya motor sport jaman sekarang. Dengan warna cat pada body-nya yang tampak sedikit kusam. Menunjukkan betapa tuanya usia motor ini.
Tetapi walaupun begitu, ada rasa nostalgia tersendiri baginya saat mengendarai motor ini. Karena mengingatkan dirinya saat masih kecil, yang selalu mengelilingi kota bersama ayah dan juga ibunya menggunakan motor ini.
★★★
Saat Dirka menaiki motor kesayangannya, dan sebelum mengenakan helmnya.
Adrian datang menghampirinya dan berkata, "Tuan, tolong bawalah ini untuk berjaga-jaga," kata Adrian sambil menyerahkan sebuah kotak yang seukuran smartphone kepada Dirka.
Tentu saja, Dirka spontan menerimanya.
"Hm? benda apa ini, Dri?" tanya Dirka sambil mengamati dengan wajah penasaran kotak besi tipis yang dipegangnya.
"Itu pistol lipat, tuan," jawab Adrian.
Dirka terdiam sesaat saat mendengarnya. Lalu mendongak dan memandang Adrian dengan tatapan konyol yang berdiri di depannya.
"Aku cuma pergi ke tebing hutan pinus, bukan mau merampok … buat apa coba, aku bawa benda kayak gini!?" tanya Dirka dengan sedikit nada kesal.
Dirka juga merasa tidak memiliki musuh sama sekali. Jadi dia hanya berpikir, seperti membawa senjata api atau senjata apapun, untuk berjaga-jaga jelas hal yang sangat tidak perlu, pikirnya.
"Aku tahu tuan, tapi paling tidak saya bisa sedikit tenang jika tuan membawa benda ini," kata Adrian. "Kalau tuan menolak, maka aku akan memerintahkan beberapa orang untuk mengawalmu!" tegasnya.
"Bukannya sudah aku bilang aku tidak butuh pengawalan!" balas Dirka dengan kesal.
"Tidak tuan, aku tetap tidak bisa mengikuti perintahmu ini," bantah Adrian. "Bagaimanapun tuan adalah satu-satunya tuan kami sekarang, apa jadinya jika terjadi apa-apa padamu, tuan!" jelasnya dengan nada tegas.
"Tapi, aku tidak pergi ke tempat berbahaya!" balas Dirka.
"Tetap tidak, tuan!"
"Lalu kapan aku bisa pergi tanpa harus membawa benda-benda, seperti ini?!" ujar Dirka, dengan wajah jengkel.
"Mungkin jika Tuan, sudah memiliki pewaris," sahut suara perempuan.
Dirka dan Adrian pun spontan menoleh ke arah pemilik suara itu, yang tiba-tiba menyahuti perdebatan mereka.
"Yuli!? Sejak kapan kamu disini?" tanya Dirka heran.
"Dari tadi Tuan," jawab Yuli.
"Ha!? Tapi aku dari tadi di sini cuma berdua dengan Adrian!" ucap Dirka.
Dirka sangat sadar, bahwa dia dari tadi di sini hanya berdua dengan Adrian.
"Tapi, yang dikatakan Yuli memang ada benarnya juga, tuan," menghiraukan Tuannya yang terlihat kebingungan, Adrian malah menyetujui perkataan istrinya.
"Bi-bisakah kalian berdua untuk tidak membicarakan masalah ini?" keluh Dirka.
"Tapi, bukankah memang seperti itu?" balas Adrian. "Tuan, bahkan saya lihat tidak tertarik sama sekali dengan perempuan."
"Oi Dri! dari mana datangnya pemikiran liar seperti itu!?" Dirka hanya tidak habis pikir, bagaimana bisa Adrian menyimpulkan bahwa dirinya tidak memiliki ketertarikan sama sekali kepada seorang wanita. Seolah mengarahkannya pada kesimpulan yang sebaliknya.
Yuli ikut menambahkan. "Tapi bukannya itu memang benar, tuan? disaat ada perempuan cantik mendekatimu, bahkan tuan tidak terlihat menunjukkan ketertarikan sama sekali," ucapannya sambil berakting sedih sembari menghapus air matanya.
"Yuuul! Kamu juga jangan berpikiran yang macam-macam!" Bentak Dirka dengan wajah sangat kesal. 'Apa-apaan mereka berdua ini?! bisa-bisanya mereka berdua berpikiran kalau aku kelainan!' dihatinya Dirka mengeluh.
"Lah, mau bagaimana lagi, tuan. Ini semua juga sudah menjadi pembicaraan di antara para pelayan," ungkap Yuli.
Mendengar informasi itu, mata Dirka membesar tidak percaya. "Ha! Serius?"
Keduanya mengangguk, dengan wajah prihatin.
"Bisa-bisanya kalian semua ngegibahin tuan kalian sendiri! siapa yang berani-beraninya menyebarkan gosip sesat seperti ini!?" tanya Dirka.
Yuli pun menjawab. "Yang memberi tahu kami ini Anas, Tuan."
"Sialan! anak satu itu emang kampret!" gerutu Dirka dengan wajah sangat kesal. "Awas kalau ketemu besok!"
"Tapi tuan, jika kamu ingin membuktikan kalau itu memang cuma gosip, hanya ada satu cara melakukannya," jelas Adrian.
"Apa itu? katakan!"
"Carilah perempuan, dan nikahi dia, Tuan," kata Adrian dengan nada penuh keyakinan.
Dirka pun langsung terdiam sambil menatap lurus ke arah Adrian dengan wajah konyol.
Disisi lain, Yuli terlihat mengangguk setuju dan sangat mantap. "Itu benar sekali tuan … terus setelah menikah, kamu juga harus cepat punya anak. Karena itu akan menjadi bukti kalau yang kamu nikahi memang benar-benar seorang wanita, tuan," imbuhnya.
"Ap,-!!"
Tidak membiarkan Dirka mengeluh, Adrian langsung menambahkan. "Benar Tuan, karena kalau tidak … mungkin akan ada gosip baru, di mana kamu menikahi seorang yang tampak seperti wanita tapi ternyata dia seorang laki-laki tuan!" Adrian mengatakan itu dengan memasang wajah ngeri.
Keduanya benar-benar tidak memiliki belas kasihan sama sekali pada Dirka, dan langsung menghujaninya dengan pernyataan dan kesimpulan yang benar-benar membuat Dirka tidak mampu menjawab bahkan membantahnya sama sekali.
Dirka pun tanpa memperdulikan dan tanpa mengatakan apa-apa lagi langsung menyalakan motornya. Lalu pergi meninggalkan keduanya sambil menggeber motornya sekeras mungkin, agar tidak mendengar lagi nasihat yang penuh dengan sindiran menyakitkan itu.
Melihat tuannya melarikan diri. Adrian dengan wajah tersenyum, berteriak. "Hati-hati tuan!"
"Tuan, jangan lupa pulang bawa calon istri!" seru Yuli dengan teriakan yang lebih keras.
"Aaaaa! gak denger!" teriak Dirka, sambil menggeber suara motornya lebih keras.
★★★
"Sepertinya kita kelewatan ya," kata Adrian.
"Mau bagaimana lagi, mungkin dengan cara ini tuan mau mulai berpikir mengenai masa depannya," balas Yuli.
"Ya, kau benar," Adrian mengangguk setuju.
Mungkin ini tidak sopan, di mana mereka yang hanyalah seorang pelayan, mengerjai tuan mereka sampai seperti ini.
Tapi keduanya juga senang, walaupun sebenarnya Dirka bisa saja memarahi mereka kalau mau. Tetapi dia malah memilih pergi dan menganggap bahwa ini hanyalah sebuah candaan biasa.
Walaupun sebenarnya, candaan tadi adalah keinginan sebenarnya dari mereka semua yang melayani Dirka.
Karena mereka tahu, kalau Dirka sekarang sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi, memang harus membuat keluarga untuknya, dan demi kebahagian masa depannya.
Adrian menoleh ke arah istrinya, dan bertanya, "jadi, apa kamu sudah memerintahkan orang untuk mengawasi tuan?"
"Sudah," balas Yuli. "Aku juga menyuruh mereka berdua untuk menyamar, agar tidak ketahuan," ungkapnya.
"Memang siapa yang kamu kirim?" tanya Adrian penasaran
"Susan dan Yunita, bersama anak buah mereka masing-masing."
"Semoga mereka bisa bekerja dengan baik, dan tidak membuat masalah," ucap Adrian sambil mendongak membayangkan kelakuan kedua wanita itu.
"Mau bagaimana lagi, orang yang sekarang tidak ada misi, cuma mereka berdua," sahut Yuli dengan nada terpaksa. "kalau Yunita, aku yakin dia tidak akan membuat masalah, tapi—," Yuli berkata sambil tersenyum kecut. "... aku tidak yakin dengan Susan."
"Ya, aku juga berpikiran sama," sahut Adrian, sambil memijat kening di antara kedua alisnya, seperti orang yang sedang sakit kepala.
★★★
Dilampu merah, terlihat Dirka menggerutu dengan wajah kesal. "Bisa-bisanya mereka menyuruhku menikah, disaat aku masih berumur 22 tahun!"
"Mama, kenapa kakak itu ngomong sendiri?" tanya anak dari pengendara motor di sebelah Dirka, sambil menunjuk ke arahnya.
"Ssst, jangan nunjuk-nunjuk," tegur ibunya, sambil tersenyum dan mengangguk canggung ke arah Dirka.
Dirka pun hanya bisa membalasnya dengan senyum canggung yang sama, lalu menutup helm untuk menyembunyikan wajah malunya.
★★★
Butuh dua jam bagi Dirka mengendarai motornya untuk sampai di tempat yang ia tuju. Sesampainya sana dia pun masih harus berjalan kaki setengah jam melalui hutan pinus.
'Sudah lama sekali aku tidak merasakan udara sesegar ini,' batin Dirka sambil terus berjalan.
Dirka dengan wajah tersenyum memandangi rimbunnya hutan pinus yang ada disekelilingnya, saat berjalan.
"Dari dulu sampai sekarang tidak ada yang banyak berubah dari tempat ini, ya," gumamnya. Dirak sangat ingat betul mengenai tempat ini. Sejak kecil Dirka sudah sering kemari. Hanya baru kali ini dirinya sempat kemari setelah setahun harus berada di luar negri. Namun, tidak ada yang banyak berubah dari tempat ini, jalan setapak masih tanah sama seperti dulu, hanya pepohonan muda yang bertambah di beberapa tempat, membuat hutan ini tampak lebih lebat.
Setengah jam Dirka berjalan, dan kini merasakan angin sepoi yang sangat sejuk. Aroma lautan ikut dalam hembusan kesejukan yang ia rasakan.
Dirka semakin bersemangat dan mempercepat langkahnya.
"Huuuoo!" Dirka bersorak, ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat benar-benar sampai ditempat yang ia tuju.
★★★
Dirka disuguhi panorama indah lautan yang ia lihat dari atas tebing, tentu masih sama seperti dulu. Namun, matanya seolah tak pernah bosan memandanginya.
Dirka memandangi garis semu yang seolah memisahkan antara langit dan laut. Selayaknya sebuah ilusi fatamorgana, membuatnya seperti melihat ujung dari samudra ini.
Ombak ditengah lautan yang sesekali terlihat ada bercak putih dan membentuk garis di permukaannya, lalu secara perlahan mulai menghilang.
Dirka menghirup nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Tempat ini memang yang terbaik," gumamnya, dengan senyuman kedamaian di wajahnya.
Dirka seolah sangat disambut di sini. Suara debur ombak yang menghempas dinding tebing, ditambah suara dari daun di pepohonan yang terkena angin menjadi suara khas di tempat ini. Seperti alam yang bernyanyi dengan melodinya sendiri.
"Sudah berapa lama aku tidak kemari ya?"
Dirka mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali ia datang ketempat ini. Walaupun pada akhirnya tidak bisa mengingatnya. Dirka tetap merasa senang akhirnya dia ketempat ini setelah sekian lama.
★★★
Beberapa menit berlalu.
Dirka sekarang tampak masih di tempatnya, dengan sebatang rokok ditangannya. Tidak ada hal lain yang dia lakukan kecuali itu.
Namun, disaat Dirka masih menikmati kesunyian yang tenang ini. Tiba-tiba dirinya mendengar suara langkah kaki seseorang yang berjalan.
"Hm?" Dirka pun menoleh kebelakang, mencari tahu siapa pemilik suara langkah kaki itu.
Matanya langsung tertuju pada seseorang yang berjalan mengenakan jaket hoodie berwarna abu-abu.
Dengan wajah penasaran, Dirka menatap ke arahnya. Tidak jelas siapa, dengan tudung jaket yang menutupi kepalanya, dan berjalan dengan wajah menunduk, membuatnya tidak bisa melihat wajah orang ini.
Tapi, apa yang mencuri perhatiannya bukanlah hal itu.
'Apa ia menangis?' batin Dirka. Melihat pundak orang itu yang bergerak naik turun tak beraturan.
Saat sosok itu berjalan ke arahnya. Dirka berdiri dari duduknya bermaksud mengajak orang itu bicara. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dirka.
Dirka dihiraukan olehnya, dia bahkan tidak merespon dan menjawabnya sama sekali, dan terus berjalan melewatinya begitu saja.
'Kenapa perasaanku jadi nggak enak gini?' batin Dirka, sambil berbalik memandangi punggung orang itu berjalan.
Dirka hanya berdiri diam di tempatnya sambil terus memandang ke arahnya.
Perlahan Dirka mengerutkan keningnya dengan perasaan curiga, karena orang itu terus berjalan menuju tepi tebing. Perasaannya semakin tak karuan. Lalu memutuskan berjalan mengikuti sosok di depannya.
Orang di depannya tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Rasa khawatirnya semakin menjadi.
Dirka pun mempercepat langkahnya.
Jarak orang itu dengan tepi tebing sekarang hanya sekitar dua meter. Mengetahui itu, tanpa pikir panjang Dirka langsung berlari secepat yang ia bisa.
"Sial!" Dirka sadar apa yang ingin orang ini coba lakukan.
Dirka terus berlari secepat yang ia mampu, dan menggunakan tangan kanannya berusaha meraih apapun yang bisa ia raih dari orang ini.
"Oi berhenti!" Saat kaki orang itu melangkah ke pijakan kosong di tepi tebing jurang. Dirka sambil berteriak langsung mencengkram bagian punggung jaketnya dan sekuat tenaga langsung menariknya ke belakang.
"Kyaaa!" jeritan seorang perempuan.
Dirka sangat terpaksa melakukannya, mungkin yang dilakukannya terlalu berlebihan. Tapi apa daya, dirinya terlalu panik. Sedetik saja terlambat, maka sudah dipastikan orang ini akan jatuh ke dasar tebing, yang merupakan lautan dengan ombak yang sangat ganas.
Sambil menahan amarahnya Dirka berbalik dan memandang ke arah orang yang baru saja ia tolong.
★★★
Dengan nafasnya yang tersengal-sengal. Dirka memandangi gadis di depannya sembari menahan emosinya.
Tampak rambut hitam panjang gadis di depannya terurai dan mengibas karena terbawa angin. Wajah tangis tersedu-sedu, melukis penderitaan di paras cantiknya, seperti menusuk perlahan bagian terdalam jantung dirka.
Dirka perlahan berjalan ke arahnya dan berjongkok sambil menatap wajah gadis itu dengan wajah pahit.
Melihat gadis di depannya, membuat Dirka teringat dengan masa lalunya. 'Apa dulu aku juga membuat ekspresi seperti ini,' batin Dirka.
Dirka seperti ingin meremas jantungnya kara rasa sakit yang dirasakannya tidak mungkin bisa dijangkaunya, saat melihat raut wajah tangis gadis di depannya yang benar-benar tampak sangat menyakitkan. Seolah dari sanalah rasa sakit itu di ke dalam perasaannya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dirka. 'Bodohnya aku menanyakan ini, bukankah dia jelas tidak baik-baik saja!' Dirka mencemooh dirinya sendiri karena menanyakan hal yang seharusnya dia sudah tahu jawabannya.
Walau ada rasa marah dengan yang gadis ini coba lakukan. Dirka sangat sadar tidak ada gunanya menghujatnya.
Itu jelas bukanlah solusi untuk sekarang. Lawan bicaranya adalah orang yang mengalami depresi berat, sampai-sampai berpikiran dan mencoba mengakhiri hidupnya yang jelas salah.
'Entah apa yang dialaminya sampai dia memilih jalan seperti ini. Melihat dari parasnya sepertinya ia masih berumur belasan tahun,' pikir Dirka. Walau dia tahu, tidak bisa menilai umur seseorang hanya dari wajah.
'Hidup terkadang memang tak adil, aku juga pernah seperti mengalaminya, tapi pernahkan ia berpikir bahwa penderitaan yang membuatnya bertindak seperti ini? bukanlah sebuah kata yang tertulis pada halaman terakhir?' batin dirka.
'Ya, mungkin ia tidak tahu kalau di balik halaman itu masih ada halaman kosong, yang masih bisa ia lukis dengan tintanya sendiri,' batin Dirka.
Namun Dirka tahu yang terpenting sekarang bukanlah masalah itu.
'Apa yang harus aku lakukan sekarang?' batinnya. Dirka mencoba mencari tahu apa yang harus ia lakukan untuk gadis ini sekarang. ia merasa tidak boleh mendiamkan gadis ini begitu saja.
"Boleh aku tahu, siapa namamu?" tanya Dirka. ia memutuskan untuk bertanya hal paling dasar terlebih dahulu. Dirka tidak ingin terlalu terburu-buru di sini.
Tapi, Gadis itu tetap tidak menjawab pertanyaannya sama sekali.
'Sepertinya tidak ada gunanya berbicara dengannya sekarang,' batin Dirka. 'Tapi, aku juga tidak boleh meninggalkannya begitu saja.'
Dirka sangat sadar, ia tidak bisa meninggalkan gadis yang terlihat sangat depresi ini begitu saja sendirian.
Karena jika ia meninggalkannya begitu saja, bukan hal yang tidak mungkin kalau gadis ini akan mencoba hal yang sama sekali lagi.
Dirka pun membuat keputusan.
"Kamu, ayo ikut aku," ajak Dirka sambil meraih tangannya, dan menariknya untuk berdiri.
Melalui tangannya Dirka merasakan tangan kecil gadis ini, dan entah mengapa itu terasa sangat rapuh.
Gadis itu terus meronta berusaha melepaskan tangannya, dari tangan Dirka.
Tapi Dirka tidak peduli, dan terus menuntunnya, sembari berkata. "Kamu ingin bunuh diri bukan? Akan aku ajarkan bagaimana cara bunuh diri yang paling baik," kata Dirka sambil terus berjalan menuntunnya.
Mendengar perkataan Dirka mata gadis itu menatapnya dengan tatapan yang sangat menyakitkan bagi Dirka.
Tidak ada sepatah kata apapun yang keluar dari gadis ini. Tapi, melalui tangannya Dirka merasakan bahwa perlawanan yang ia tunjukkan padanya mulai melemah. Seolah pasrah dengan apa yang akan terjadi.
★★★
Di sisi lain.
Terlihat seorang anak laki-laki berumur 17 tahun, yang mengenakan jas hitam terlihat bergelantungan di atas pohon dengan seutas kawat besi yang mengait di pinggangnya.
ia memegang teropong kecil di tangannya, dengan serius mengamati Dirka yang berada di kejauhan.
Melalui earphone yang ia kenakan ia melapor kepada atasannya. "Miss … lapor! tuan muda, terlihat pergi meninggalkan tempat ini. ia juga membawa seorang gadis yang tidak dikenal."
Setelah melaporkan kepada atasannya, melalui earphone-nya. Terdengar suara perempuan membalasnya. [Bagus! kirimkan posisi tuan muda secara real time! sambil terus awasi dan ikuti dia! serta berikan laporan setiap lima menit, padaku!]
"Baik!" sahut Lingga.
★★★
Di tempat berbeda dan diwaktu yang sama. Setelah mendapatkan laporan dari anak buahnya.
Terlihat seorang perempuan mengenakan jaket kulit hitam, dan celana jeans berwarna biru muda yang terdapat sobekan di lututnya. Dengan sepatu boots kulit berwarna coklat gelap.
Dia adalah Yunita. Yunita tanpa berlama-lama langsung berjalan ke arah motor sportnya.
Di kacamata hitam yang ia kenakan, terlihat sebuah peta hologram yang menunjukkan di mana posisi dari Dirka sekarang.
Yunita menghidupkan motornya, dan langsung memacunya dengan kecepatan tinggi, diantara keramaian jalan kota, menuju tempat Dirka berada.
Dirka sekarang mengendarai motornya sambil membonceng gadis yang baru saja ditemuinya.
Dia sangat canggung sekarang. Bukan karena ini pertama kalinya dia membonceng seorang gadis. Tetapi memang tidak ada pembicaraan apapun yang terjadi antara dia dan gadis ini.
'Sekarang, apa yang harus kukatakan untuk mengajaknya bicara,' pikir Dirka, mencari cara bagaimana memulai pembicaraan. Dirka hanya takut, jika dia salah dalam memilih kata-kata.
"H-hei lihat, ada kereta lewat!" seru Dirka sambil menunjuk kereta yang terlihat melintas di kejauhan yang ada di tengah persawahan.
Tentu saja tidak ada jawaban.
'Apa yang aku katakan! dasar idiooot!' Dirka merasa sangat malu sekarang, dengan apa yang baru saja dia katakan.
Bisa-bisanya dia mengajak bicara seorang gadis depresi dengan menunjuk kereta melintas sebagai topik pembukanya. Ingin sekali rasanya dia memukul wajahnya sendiri, karena rasa malunya.
Beruntung lawannya bicara tidak melihat wajahnya. Jika dia melihatnya, mungkin Dirka akan jadi semakin tidak kuat, karena wajah malunya dilihat.
Hasilnya, suasana pun semakin canggung.
'Semoga saja dia nggak menganggap aku orang aneh,' batin Dirka, lalu bertanya, "B-boleh aku tahu namamu?"
Namun, tetap tidak ada jawaban sama sekali.
'Hahh, sepertinya nggak ada gunanya mengajaknya bicara sekarang,' Dirka tidak tahu bagaimana ekspresi gadis di belakangnya. Jujur dia sangat penasaran bagaimana warna wajahnya sekarang.
★★★
Beberapa menit pun berlalu cepat. Hingga Dirka akhir sampai di tempat yang dia tuju.
Dilihat sekilas dari gerbang masuk, tempat ini seperti perkomplekan gedung universitas yang memiliki banyak gedung bertingkat.
Ada total 10 gedung yang berdiri kokoh. Gedung-gedung dihuni oleh para siswa dan dikelompokkan menurut umur mereka. Gedung-gedung itu juga tidak hanya berfungsi sebagai sekolah tetapi juga sebagai asrama.
Namun, kali ini Dirka membawa gadis ini ke gedung yang dimana isinya hanyalah anak-anak kecil berumur 5-6 tahun.
"Kita sudah sampai," kata Dirka.
Mendengarnya, gadis itu pun mengangguk pelan lalu turun dari motor Dirka.
"Ayo," ajak Dirka sambil menuntun gadis ini, berjalan menuju sebuah gedung yang ada di sana.
Dari luar terdengar samar-samar suara tawa ceria dari banyak anak-anak kecil, yang seperti sedang bermain bersama teman-temannya.
Sesampainya di dalam gedung, gadis itu sedikit menunjukkan ketertarikan dengan suasana yang ada di dalam. Dirinya tak menyangka jika lantai dasar dari gedung ini ternyata sama seperti aula besar yang sangat luas. Di sekelilingnya ada ruangan yang berfungsi sebagai kelas.
Terlihat ada banyak anak-anak seumuran yang sedang bermain satu sama lain dengan teman mereka. Wajah mereka juga tampak sangat ceria.
Saat itu salah satu anak perempuan menoleh ke arahnya.
"Kak Dirkaaaa!" teriak anak perempuan itu.
Mendengar nama Dirka anak-anak lain pun langsung menghentikan permainan mereka masing, sambil menoleh memandang kearah Dirka.
"Woaa kak Dirkaa!"
"Lihat kak Dirka datang!"
Anak-anak mulai ribut saat melihat kedatangan Dirka.
"Yuhuu~" Dirka tersenyum sambil mengangkat tangannya, menyapa semua anak-anak yang ada di sana.
Seolah melihat orang yang sangat mereka tunggu. Mereka pun langsung berlarian, menghampiri Dirka.
Dirka sekarang dikepung oleh puluhan anak-anak. Seperti semut yang mengerumuni cairan gula.
'Jadi namanya Dirka,' batin gadis itu sambil memandangi pria di sebelahnya yang masih memegangi tangannya seolah tidak mau melepaskannya.
"Woaa kak Dirka, ayo main~," ajak salah satu anak laki-laki.
"Eeh, kan aku dulu yang liat kak Dirka, jadi kak Dirka harus main sama aku," keluh anak perempuan yang menyapa Dirka sebelumnya.
"Itu nggak adil, aku dulu!"
"Aku!"
"Aku!" sahut anak lain dengan berteriak panjang.
Dalam sekejap keributan di antara anak-anak langsung terjadi. Dirka yang melihatnya hanya bisa tersenyum lelah.
'Ha ha, lihat … mereka mulai ribut lagi,' batin Dirka, saat melihat anak-anak yang tadinya tampak damai, sekarang ribut sembari saling berebut menarik-narik tangannya.
"Hayoo, kalian gak boleh gitu. Liat tu kak Dirka jadi bingung," tegur seorang Wanita.
Dirka melihat ke arah wanita itu. "Ah, Ayu," panggil Dirka. "Maaf, aku nggak ngabarin kalau mau datang."
"Tidak tuan, kamu tentu bisa datang ketempat ini sesukamu. Lagi pula tempat ini adalah milikmu," balas Ayu sambil membungkuk sopan. Lalu menoleh kearah anak-anak dengan senyum di wajahnya. "Anak-anak, kalian nggak boleh nakal sama kak Dirka, liat kak Dirka jadi bingung … hayo~ sekarang minta maaf," tegurnya dengan nada lembut.
"Nggak apa-apa, Yu. Aku gak masalah sama sekali," sahut Dirka.
Namun anak-anak, tetap menurut mengikuti nasihat guru mereka, dan meminta maaf dengan wajah polos mereka.
"Kak Dirka maaf."
"Aku juga maaf."
"Aku juga."
Mendengar itu, Dirka tersenyum lembut, melihat bagaimana anak-anak di depannya. Walaupun bagi Dirka sudah mengatakan bahwa mereka tidak salah.
Dirka pun berjongkok dan menatap ke wajah polos mereka satu persatu. "Aku gak marah, jangan sedih gitu hayo … kakak juga sedih nanti kalau kalian sedih," kata Dirka.
Mendengarnya semua anak-anak mengangguk menuruti perkataan Dirka.
"Oh iya. Liat siapa yang kakak bawa. Jeng~ jeng~," paparnya sambil mengangkat tangan gadis yang dia bawa. Seperti menunjukkan sebuah kado istimewa kepada semua anak-anak.
Mendengarnya, gadis itu langsung menatap ke arah Dirka. Ekspresi wajahnya yang tadinya tampak tidak peduli, sontak berubah seolah memprotes Drika, dengan berkata, 'apa yang kamu katakan!?'
"Eh? siapa kakak ini?"
"Kakak~."
"Woaah~."
Semua anak-anak yang tadinya memasang wajah sedih, dalam sekejap berubah menjadi wajah senang. Ada juga yang bingung, dan ada juga yang terlihat sangat kagum, seperti melihat mainan baru yang baru pertama kali mereka lihat.
Dirka berakting dengan berakting memasang wajah sedih. "Kalian tau? Kakak ini sekarang sedang sedih, jadi kalian harus ajak dia bermain sampai dia nggak sedih lagi, oke?"
"Eeee!" semua anak-anak, yang mendengar permintaan Dirka langsung mengeluarkan suara keluhan dan memasang wajah enggan.
Ya itu wajar, dengan pemikiran polos mereka, jelas mereka akan lebih memilih bermain daripada harus menghibur orang lain.
Tapi Dirka tidak kehabisan akal. "Oh iya! Yang bisa membuat kakak ini tertawa, nanti semua kakak belikan mainan baru!" Dengan terang-terangan Dirka menyogok mereka.
Tentu saja sogokannya berhasil dan sukses. "Woooaah~," mata semua anak-anak langsung berbinar saat mendengar kata mainan baru.
Di sisi lain, gadis itu hanya menatap Dirka dengan wajah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Kakak, ayo main sama aku!"
"Ayo kak~."
"Kak, ayoo main sama aku~."
"Aku juga~."
"Iya, ayo~."
Semua anak-anak mulai berlomba meraih tangan gadis itu. Dan langsung menarik, membawanya ikut bersama mereka. Gadis itu sama sekali tidak bisa melawan dan hanya bisa pasrah dirinya dibawa oleh semua anak-anak.
'Anak-anak, Good Job!' batin Dirka, sembari mengacungkan jempol pada mereka, dan anak-anak membalasnya dengan hal yang sama.
Namun, berbeda dengan anak-anak gadis itu menoleh ke arahnya, dengan wajah kesal dan tak percaya, karena dia mulai sadar bahwa dirinya benar-benar sudah ditipu oleh Dirka.
'Semangat!' batin Dirka sambil mengacungkan jempolnya ke arah gadis itu.
★★★
Ayu yang hanya diam dari tadi, sambil menonton Dirka dan anak-anak, bertanya. "Tuan muda, siapa dia?"
"Oh dia adalah gadis yang baru saja aku tipu," jawab Dirka terang-terangan.
"Eh!?" Ayu memasang wajah kaget dengan perkataan Dirka. "T-tuan s-sejak kapan kamu jadi penipu wanita!?"
"Ha!? Oi jangan berkata seperti itu, seolah aku laki-laki brengsek!" tegur Dirka. "Aku nggak ngelakuin aneh-aneh ke dia," jelas Dirka, mencoba mengendalikan kesalah pahaman Ayu.
"Ya aku percaya—," balas Ayu dengan diikuti gumaman dan mata menatap curiga.
Dirka yang melihat ekspresi wajah Ayu, mengeluh di dalam hatinya. 'Yu, apa kau sadar? Kalau ekspresimu sangat bertolak belakang dengan perkataanmu!'
"Yu, tolong jangan memasang wajah seperti itu," keluh Dirka. "dan juga jangan berpikiran yang aneh-aneh!"
Melihat dari ekspresi wajahnya, Dirka entah mengapa merasa sedikit kesal. Dirka sadar bahwa Ayu pasti berpikiran hal yang tidak-tidak mengenai dirinya.
"T-tapi, tuan mengatakan kalau—." Dirka langsung memotongnya. "Biar aku jelaskan!" Dirka pun berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya tidak ingin ada gosip sesat baru mengenai dirinya lagi.
★★★
"Bunuh diri?" Ayu tersentak kaget, setelah mendengar perkataan Tuannya.
Dirka hanya mengangguk pelan. "Ya, untungnya aku masih sempat meraih dan menariknya. Jika tidak—." Dirka tidak sampai hati melanjutkan perkataannya.
"Jadi begitu," gumam Ayu. Tidak perlu Dirka melanjutkan perkataannya. Ayu sudah paham apa maksudnya.
Dirka menoleh ke arah gadis yang dia bawa. Terlihat gadis itu sekarang sedang kewalahan, menghadapi anak-anak yang seolah tidak ada henti, mengajaknya bermain.
"Jadi begitulah aku bertemu dengannya, dan dia aku bohongi kalau aku akan mengajarkannya cara bunuh diri yang benar," ungkap Dirka.
"Eh?!" Ayu tertegun. Dia hanya tidak mengira akan mendengar tuannya mengatakan itu.
"Siapa sangka, dia akan nurut dan mau ikut dengan ku." Dirka tersenyum kecut. 'Walau itu tidak sepenuhnya kebohongan.' batinnya.
Ayu hanya terdiam sambil memandangi Dirka, yang terlihat memandang ke arah gadis itu. Walau apa yang dikatakan Tuannya hanyalah kebohongan, dan bukanlah solusi, tapi paling tidak Ayu paham maksud dari tuannya terpaksa melakukan itu.
Ayu yang tahu seperti apa masa lalu Dirka, seperti memahami apa yang dilakukan tuannya sekarang. Tapi tetap saja, untuk berbohong dengan mengatakan akan mengajarkan cara bunuh diri yang benar, menurutnya adalah sesuatu yang salah. Walau di balik itu, ada seserpih niat baik di dalamnya.
"Tapi, ini lebih baik daripada harus meninggalkannya di sana," jelas Dirka, dan melangkah berjalan menuju gadis itu.
"Ya, tuan … aku juga berpikiran sama," balas Ayu. Tuannya mungkin tidak sepenuhnya pilihan lain waktu itu. Namun, jika dia berada di sana mungkin dirinya juga lebih memilih membohonginya daripada meninggalkannya begitu saja.
Saat itu, Ayu sekilas memandangi wajah tuannya. Ekspresi yang ada di wajahnya, sangat sulit untuk dibaca. Tetapi Ayu sadar betul, bahwa ada warna sedih dibalik senyum Tuan Mudanya itu.
★★★
Dirka bersedekap, sambil bersandar di dinding. Dari sana Dirka memandangi gadis itu. Dia tersenyum, saat melihatnya tampak kelelahan dengan kelakuan anak-anak yang tanpa henti menyeretnya ke sana ke mari.
'Disaat seperti ini dia ternyata masih peduli dengan orang lain juga, ya,' batin Dirka sembari memandangnya.
Gadis itu tentu tidak dalam suasana hati bahagia. Namun, dia tetap memaksakan senyumnya didepan anak-anak. 'Mungkin dia hanya tidak ingin kesedihannya membebani orang lain,' pikir Dirka.
Tiba-tiba ada suara berdering keras. Itu adalah suara Alarm. Semua anak-anak langsung mengeluarkan suara keluhan mereka masing-masing mendengar itu.
"Anak-anak, sudah waktunya belajar. Ayo kembali ke kelas kalian masing-masing," seru Ayu memberitahukan kepada semua anak-anak.
"Yaa," anak-anak dengan wajah malas mereka menyahuti perkataan ayu. Namun, walau mereka tetap patuh pergi ke kelas mereka masing-masing.
Disisi lain gadis itu langsung memasang wajah lega. Seolah baru saja lepas dari beban berat. Dirka mendekat ke arahnya. Yang terlihat duduk bersimpuh di lantai karena kelelahan.
★★★
Sesampainya di sana, Dirka langsung duduk di sebelahnya. "Gimana rasanya bermain dengan mereka?" tanya Dirka pada gadis itu, dengan senyum di wajahnya.
Gadis itu sama sekali tidak menyahutinya, dan malah memalingkan wajahnya.
Dirka yang melihatnya, sadar. Mungkin dia masih kesal karena sudah dibohonginya. Namun, Dirka sama sekali tidak peduli.
Dirka pun mulai berbicara sendiri. "Dulu, saat baru bertemu pertama kali anak-anak ini, mereka tidak pernah memasang senyuman seperti itu di wajahnya," ungkap Dirka. "Tidak ada orang tua, atau bahkan keluarga. Kebanyakan dari mereka saat ditanya, di mana ayah dan ibumu? mereka selalu menggelengkan kepala menjawab tidak tahu. Ada juga yang langsung menangis saat ditanya seperti itu."
Tidak ada respon sama sekali dari gadis di sebelahnya.
'Andai dia tahu bahwa anak-anak ini adalah anak jalanan dan korban penculikan, serta penjualan organ tubuh. Aku penasaran bagaimana dia akan menanggapinya,' batin Dirka.
Tapi Dirka tidak ingin membicarakan masalah ini pada orang luar. Jadi dia tidak ingin mengungkapkan identitas anak-anak.
"Tapi, senang rasanya melihat mereka sekarang sudah bisa tertawa kembali seperti itu," gumam Dirka, sembari memandangi anak-anak yang sekarang belajar di kelas.
★★★
POV Viona.
Papaku meninggal. Ibuku yang selalu menyayangiku tiba-tiba pergi meninggalkanku begitu saja tanpa tahu apa penyebabnya.
Aku tidak memiliki siapapun lagi. Bahkan keluarga dari ibu dan ayahku juga tidak ada lagi.
Rumah satu-satunya tempatku tinggal, tiba-tiba diminta orang lain. Dia mengatakan bahwa rumah itu adalah jaminan dari hutang ibuku.
Karena kondisiku yang tidak bisa berbicara membuatku sulit mencari pekerjaan. Ditambah aku juga masih kelas dua sekolah menengah. Membuatnya jadi lebih sulit.
Karena tak ada biaya. Aku juga harus keluar dari sekolah. Tidak ada orang yang peduli. Bahkan orang-orang disekitarku tidak pernah menanyakan kondisiku. Aku juga tidak punya teman sama sekali. Mungkin karena kondisiku mereka menjaga jarak dariku.
Aku lelah, dan sangat lelah. Tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku sangat frustasi. Aku juga tidak memiliki siapa-siapa lagi. Aku tidak sanggup hidup seperti ini.
'Mungkin lebih baik aku mati saja.'
Pemikiran itu muncul begitu saja di kepalaku, dan anehnya tidak ada rasa penyesalan sama sekali saat mengucapkan itu. Bahkan rasa takut sekalipun.
★★★
Hari ini aku pergi ke tempat yang dulu pernah aku datangi dengan papa, saat masih kecil. Tempat ini adalah tebing pinggir pantai. Walau hanya sekali aku kemari. Namun itu juga menjadi terakhir kalinya aku keluar bersama papa.
Saat berangkat menuju tempat ini. Langkah kakiku terasa sangat ringan. Namun, saat sampai di tempat itu … semua kenangan masa lalu bersama ayahku, dan ibuku tiba-tiba terlintas di kepalaku.
Aku menangis. 'Mengapa kenangan ini tiba-tiba muncul?'
Di sana aku melihat ada seseorang. Tapi aku tidak peduli sama sekali. Bahkan saat dia menyapaku, aku sama sekali tidak menanggapinya. Dan terus berjalan ke arah tebing.
'Akhirnya, penderitaan ini sebentar lagi akan hilang.'
Namun saat aku hampir melangkah jatuh ke dasar jurang. Seseorang berteriak dari belakang dan langsung menarikku dengan keras.
Rasa sakit saat terjatuh, seoral menjadi pemicu rasa sakit di hatiku, dan membuatku semakin menangis sejadi-jadinya.
Aku melihat wajahnya. Saat dia berkata menanyakan kondisiku, dia ternyata pria yang menyapaku barusan.
'Kenapa kamu melihatku seperti itu?' ini pertama kalinya aku melihat seseorang memasang wajah khawatir untukku.
Banyak pertanyaan yang dilontarkannya, namun aku tidak bisa menjawabnya. Andai aku menggunakan bahasa isyarat, apa dia akan paham? Aku tidak yakin.
Pria ini jelas lebih tua dariku. Namun kenapa dia terlihat sangat peduli padaku, walau dia tidak mengenalku sama sekali?
Tiba-tiba dia meraih tanganku, dan memaksaku untuk ikut dengannya. Aku awalnya menolak, namun setelah mendengar perkataannya, aku menurutinya begitu saja. Itu Karena dia mengatakan akan mengajarkanku cara bunuh diri yang lebih baik.
Mendengar itu, membuatku sadar. Bahwa ternyata dia sebenarnya tidak peduli sama sekali padaku.
Namun, pada kenyataannya. Aku benar-benar sudah di tipu olehnya.