Lia Adelia benci dengan Minggu sore. Dulu, hari Minggu sore adalah aroma martabak manis keju susu yang dibawa almarhum suaminya, Doni, dan suara tawa dua anak lelakinya yang berebut remote TV. Sekarang? Hari Minggu sore cuma sisa bau debu, keheningan yang menyesakkan, dan tumpukan tagihan yang bikin mata Lia perih.
Udah tiga bulan Doni pergi. Tiga bulan yang terasa seperti tiga puluh tahun neraka. Doni meninggal karena serangan jantung mendadak, pas lagi main bola sama anak-anak di taman. Cepat banget. Nggak ada sakit, nggak ada firasat, tahu-tahu aja Doni ambruk. Dan, seperti semua hal baik di hidup Lia yang mendadak hilang, ternyata kepergian Doni nggak cuma menyisakan kesedihan. Tapi juga bom waktu keuangan.
"Mama? Kenapa Papa nggak pulang-pulang, Ma? Sekolah bilang liburan semester cuma dua minggu," tanya Arka, si sulung yang baru masuk kelas dua SD. Pertanyaan polos itu selalu berhasil merobek hati Lia.
Lia cuma bisa tersenyum miring sambil memeluk Arka, "Papa lagi kerja keras, Nak. Di tempat yang jauh. Tempatnya bagus banget, banyak bintang." Lia membohongi anaknya, membohongi diri sendiri. Doni lagi di tempat yang jauh, iya. Tapi nggak akan pernah pulang.
Doni memang suami yang sempurna. Dia effortless banget dalam mencintai Lia, dari Lia yang dulu ramping sampai sekarang badannya jauh lebih berisi-atau gampangnya, gendut-setelah melahirkan dua anak. Doni nggak pernah protes. Doni malah sering bilang, "Aku suka, Yang. Kayak bantal, empuk!"
Cuma Doni yang bisa bikin Lia pede dengan badannya. Dan cuma Doni yang tahu kalau semua aset yang mereka miliki selama ini, rumah yang mereka tempati, mobil, bahkan asuransi jiwa Doni, itu semua atas nama mertuanya, Mama Ratna.
Doni terlalu baik dan terlalu percaya.
Lia menghela napas panjang. Udah seminggu ini dia resmi nggak lagi tinggal di rumah itu. Ya, lo denger sendiri: diusir.
Tepat sebulan setelah Doni meninggal, Mama Ratna datang dengan wajah dingin dan membawa berkas-berkas pengacara. Mereka menyangka Lia adalah wanita matre yang cuma mengincar harta anak mereka. Gila. Padahal Lia dan Doni merintis semuanya dari nol, tapi karena Doni terlalu polos dan terlalu mencintai ibunya, semua kepemilikan dipegang Mama Ratna.
"Kamu pikir gampang ya, Lia, mengurus dua cucu dan menjamin masa depan mereka? Sekarang Doni sudah nggak ada. Sebaiknya kamu kembali ke rumah orang tuamu. Rumah ini akan kami jual untuk biaya sekolah mereka," ujar Mama Ratna waktu itu. Nadanya datar, tapi dinginnya menusuk sampai ke tulang.
Lia nggak melawan. Dia nggak punya energi untuk itu. Dia sadar, statusnya cuma menantu tanpa kuasa hukum apa-apa. Dua anaknya, Arka dan si bungsu Bima, memang dijamin biaya sekolahnya, tapi Lia harus pergi. Harus angkat kaki dari kenangan Doni.
Sekarang, Lia dan anak-anaknya tinggal di kontrakan kecil di pinggiran kota. Kamar yang cuma muat satu kasur, dapur mungil, dan kamar mandi yang selalu mampet. Jauh banget dari rumah mewah mereka yang dulu punya kolam renang mini.
Dan di sinilah tragedi Lia Adelia yang sesungguhnya dimulai: kebutuhan uang.
Uang sewa kontrakan, biaya makan sehari-hari, susu Bima, pulsa internet buat Arka belajar online. Semuanya mendadak jadi beban gunung yang menindih punggung Lia. Dia nggak punya skill spesial, cuma lulusan SMA yang langsung nikah dan jadi ibu rumah tangga. Tugasnya selama ini cuma masak, ngurus anak, dan memastikan Doni bahagia.
"Aku harus kerja. Harus," gumam Lia pada bayangannya sendiri di cermin buram.
Montase Pahit Pencarian Kerja
Minggu pertama pencarian kerja adalah mimpi buruk yang berulang-ulang.
Lia mencoba melamar ke sebuah butik sebagai Sales Assistant. Dia berdandan rapi, memakai kemeja yang masih muat (susah banget nyari ukuran XL yang nggak kelihatan kayak karung), dan sepatu pantofel yang bikin kakinya lecet.
"Terima kasih sudah datang, Mbak Lia. Kami sangat menghargai pengalamanmu sebagai ibu rumah tangga," ujar HRD butik, seorang perempuan muda yang terlihat stylish dan kurus, senyumnya seolah mengejek. "Tapi, mohon maaf, untuk posisi Sales Assistant kami butuh body goals yang bisa merepresentasikan produk kami. Kami juga butuh yang belum menikah, supaya fokusnya penuh."
Lia menahan air matanya. Body goals? Doni nggak pernah peduli. Kenapa dunia ini sekejam ini?
Lia coba lagi. Kali ini melamar di sebuah kantor properti sebagai Admin Gudang. Kedengarannya gampang, kan? Cuma urus berkas dan stok kunci.
Wawancara kedua, dengan seorang Bapak-bapak berkumis lebat.
"Jadi janda ya, Bu?" tanyanya tanpa basa-basi, mata genitnya menyapu tubuh Lia dari atas ke bawah. Lia menggenggam tangannya erat-erat, menahan amarah.
"Iya, Pak. Tapi saya jamin, saya profesional. Saya bisa kerja keras."
Bapak itu tertawa kecil, suara tawanya bikin Lia merinding. "Kerja keras sih kerja keras, Bu. Tapi kalau janda, suka banyak godaan. Apalagi... hmmm... Ibu kan masih muda dan... sehat."
Lia berdiri, mengambil tasnya, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia keluar. Nggak sudi diperlakukan serendah itu. Dia bukan barang, dan status janda bukan label dosa.
Dia terus mencoba. Administrasi, kasir supermarket, bahkan pernah coba daftar jadi driver ojek online, tapi motornya disita karena nggak mampu bayar cicilan yang udah nunggak.
Setiap penolakan adalah pukulan di ulu hati. Setiap tatapan merendahkan seolah menggarisbawahi kegagalan Lia: dia gendut, dia janda, dia nggak punya ijazah sarjana. Dia adalah sampah yang dibuang dari kehidupan sempurna.
Dia sempat berpikir untuk menyerah. Dia memandang wajah pulas Arka dan Bima yang tidur di kasur sempit mereka, dan rasa putus asa itu lenyap seketika.
"Aku nggak boleh menyerah. Doni, bantu aku," bisik Lia lirih, air mata jatuh membasahi pipinya.
Panggilan Telepon yang Janggal
Puncaknya adalah saat uang di dompet Lia cuma sisa seratus ribu, dan persediaan beras di dapur tinggal buat dua kali masak. Lia sudah mengirimkan hampir lima puluh lamaran, dari yang formal sampai yang absurd. Semuanya nihil.
Tepat jam sebelas siang di hari Selasa yang terik, ponsel butut Lia berdering. Nomor nggak dikenal.
"Halo?" suara Lia serak karena hampir seharian dia nangis diam-diam.
"Selamat siang, saya Dinda dari HRD Bank Arta Utama. Dengan Ibu Lia Adelia?" Suara perempuan di seberang sana terdengar formal, tapi agak buru-buru.
Lia mengerutkan dahi. Bank Arta Utama? Dia ingat, dia pernah asal kirim lamaran ke sana. Posisi Office Girl, cuma iseng-iseng. Nggak mungkin kan dia dipanggil? Itu bank swasta elite, gedung kacanya aja kayak menara di film Hollywood.
"Iya, saya Lia. Ada yang bisa saya bantu, Mbak?"
"Begini, Bu. Kami sudah mempelajari berkas Ibu, dan kami tertarik untuk menawarkan Ibu wawancara besok pagi jam sembilan. Untuk posisi... Asisten Direktur."
KLIK.
Lia yakin telinganya kotor. Asisten Direktur? Lia? Yang ijazahnya cuma SMA, nggak bisa excel selain buat bikin daftar belanjaan, dan badannya melar? Ini pasti salah sambung.
"Mbak, maaf. Sepertinya ada kesalahan. Saya melamar sebagai Office Girl," potong Lia, berusaha sopan.
Dinda di ujung sana malah terdengar kesal. "Tidak ada kesalahan, Bu. Kami mendapat instruksi langsung dari Direktur Utama untuk memanggil Ibu. Besok jam sembilan pagi. Berpakaian profesional. Jangan terlambat."
Sambungan terputus. Lia menatap ponselnya, tangannya gemetar. Ini jebakan? Atau cuma lelucon kejam dari semesta?
Tapi Lia nggak punya pilihan. Seratus ribu di dompet, dan dua anak kelaparan di rumah. Apapun risikonya, besok dia harus datang. Setidaknya, dia akan tahu apa maksud semua ini.
Jubah Tempur dan Rasa Insecure
Pagi itu, Lia menghabiskan waktu dua jam di depan cermin. Dia cuma punya satu setel baju formal yang lumayan layak: blazer hitam kebesaran dan rok span selutut yang terasa mencekik. Sepatu pantofel yang kemarin bikin lecet, dia paksakan lagi.
Dia terlihat... profesional, dalam batas kemampuannya. Tapi rasa insecure itu lebih tebal dari lapisan bedak yang dia pakai.
Dia memandang tubuhnya, yang terasa makin besar di tengah pakaian ketat itu. Dia teringat ucapan HRD butik soal body goals. Rasanya pengen nangis lagi, tapi Lia harus kuat. Dia mencium kening Arka dan Bima, menitipkan mereka pada tetangga sebelah yang baik hati, Bu Tati.
Bank Arta Utama. Gedungnya menjulang angkuh, dilapisi kaca biru yang memantulkan langit pagi yang cerah. Saat Lia masuk, aroma AC yang mahal dan bau parfum mahal langsung menyambutnya. Resepsionisnya cantik-cantik, tinggi, dan mereka menatap Lia dengan tatapan aneh. Tatapan yang sama, yang selalu Lia terima: siapa kamu, kenapa kamu ada di sini?
Lia menghiraukan itu. Dia mendatangi meja resepsionis, menyebutkan namanya dan tujuannya.
"Asisten Direktur? Oh, ya ampun," bisik resepsionis itu pada temannya, tapi suaranya cukup keras sampai Lia mendengarnya. Mereka cekikikan.
Lia Adelia, wanita gendut, janda, dan nggak berijazah tinggi, melamar jadi asisten Direktur. Ini memang komedi gelap.
Lia diantar ke lantai paling atas. Lantai yang hening, karpetnya tebal, dan pemandangannya langsung ke seluruh kota. Ruang tunggu tempat Lia duduk dilengkapi sofa kulit Italia dan lukisan abstrak yang harganya pasti bisa buat bayar sewa kontrakannya setahun.
Lima belas menit berlalu. Lia terus mengulang-ulang kalimat perkenalan di kepalanya, sambil mencoba mengatur napas agar rok span-nya nggak meledak.
Seorang wanita dengan setelan jas abu-abu ketat, rambut disanggul rapi, dan wajah tanpa ekspresi, muncul.
"Ibu Lia Adelia? Silakan masuk. Bapak Direktur sudah menunggu," katanya, suaranya dingin tanpa sapaan.
Pertemuan dengan Si Galak: Guntur Mahendra
Lia didorong pelan ke dalam ruangan yang luar biasa besarnya. Dindingnya kaca semua, dan di tengah ruangan ada meja kerja kayu gelap yang panjangnya hampir separuh lapangan bulu tangkis. Di belakang meja itu, duduklah sosok yang bakal jadi mimpi buruk Lia: Guntur Mahendra.
Dia bukan cuma Direktur, dia adalah Dewa Es yang turun ke bumi.
Guntur Samudra adalah pria berusia akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan, dengan aura yang sangat mengintimidasi. Wajahnya tampan, itu nggak bisa dipungkiri. Tapi ketampanannya nggak ramah. Rahangnya keras, matanya tajam, dan dia nggak menunjukkan satu pun ekspresi hangat.
Dia nggak menyapa Lia. Dia bahkan nggak mendongak. Dia sibuk menatap laptopnya.
Lia berdiri di ambang pintu, menunggu instruksi. Lima detik. Sepuluh detik. Keheningan itu terasa mematikan.
"Duduk," katanya tanpa melihat, suaranya rendah dan berat. Terdengar seperti perintah, bukan ajakan.
Lia buru-buru duduk di kursi kulit yang nggak kalah mahalnya. Kursi itu terasa nyaman, tapi suasana di ruangan itu bikin Lia merinding.
"Kamu melamar di sini sebagai Office Girl," Guntur akhirnya mendongak. Matanya yang gelap menatap Lia, seolah Lia adalah setitik debu yang harus segera dia sapu.
"Iya, Pak. Tapi..."
"Stop. Saya nggak peduli. Saya lihat berkas kamu. Lia Adelia. Alamat, kontrakan di pinggiran. Pendidikan, SMA. Status, janda dengan dua anak." Guntur membaca data Lia seperti seorang jaksa sedang membacakan dakwaan pidana. Dingin, jelas, tanpa emosi.
Lia merasa pipinya memerah. Kenapa dia harus menonjolkan semua kekurangannya di awal begini?
"Apa skill yang kamu punya yang membuat kamu berpikir bisa jadi asisten saya?" Guntur menyandarkan punggung ke kursinya, melipat tangan di dada. Posturnya menunjukkan dominasi mutlak.
Lia menarik napas dalam-dalam. "Saya... saya pandai memasak, Pak. Saya jujur. Dan saya punya pengalaman mengurus rumah tangga selama delapan tahun. Itu artinya saya teliti, cekatan, dan bisa mengatur waktu dengan baik."
Guntur tertawa. Bukan tawa yang menyenangkan, tapi tawa mengejek yang terdengar hampa.
"Memasak? Mengurus rumah tangga? Ibu Lia, ini bank investasi, bukan dapur rumah tangga. Asisten saya harus menguasai regulasi keuangan, menjadwalkan pertemuan klien VVIP, dan mengurus deal miliaran rupiah. Apa kamu pikir saya sedang mencari istri?"
Seketika, Lia merasa dunianya runtuh lagi. Dia tahu ini cuma lelucon, tapi mendengar Guntur mengatakannya langsung ke wajahnya terasa menyakitkan.
"Maaf, Pak. Saya mengerti. Saya akan segera pergi," kata Lia, suaranya nyaris nggak terdengar. Dia bangkit dari kursi.
"Duduk," perintah Guntur lagi.
Lia menurut. Duduk lagi. Jantungnya berdebar kencang.
Guntur menatap Lia lekat-lekat. Pandangan itu lama banget, seolah dia sedang memindai DNA Lia. Lia mulai nggak nyaman. Dia ingat almarhum Doni. Doni selalu menatapnya dengan cinta dan kehangatan. Tatapan Guntur ini... cuma ada penilaian.
"Baiklah. Kamu diterima," kata Guntur tiba-tiba.
Lia melongo. "Hah?"
"Diterima. Mulai kerja besok jam delapan pagi. Gaji kamu... tiga kali lipat dari gaji Office Girl. Sudah termasuk biaya lembur yang bakal sering kamu jalani."
Lia nggak bisa memproses. Ini pasti tipuan. "Tapi... kenapa, Pak? Bapak bilang saya nggak punya skill yang sesuai."
Guntur menghela napas, terlihat bosan. "Kamu benar. Kamu nggak punya skill yang sesuai. Tapi saya juga nggak butuh asisten yang pintar. Asisten saya yang terakhir terlalu pintar. Dia mencoba menggulingkan saya. Yang saya butuhkan sekarang adalah seseorang yang desperate, loyal, dan... yang nggak akan menarik perhatian saya."
Dia memandang tubuh Lia yang berisi dari ujung kaki ke ujung kepala. Tatapannya dingin, nggak ada gairah sama sekali, hanya perhitungan.
"Kamu janda. Kamu punya dua anak. Kamu terlihat sangat butuh uang. Dan kamu... uhm... secara penampilan, kamu adalah profil risiko paling rendah untuk menciptakan drama kantor. You are safe."
Lia merasa tertampar, tapi pada saat yang sama, dia merasa lega. Lega karena dia dapat pekerjaan. Sakit hati karena dia diterima cuma karena dia nggak menarik.
"Jadi, saya diterima karena saya gendut dan nggak punya apa-apa?" tanya Lia, suaranya tegas. Untuk pertama kalinya, dia menantang Guntur.
Guntur menyeringai tipis, pertama kalinya Lia melihat ekspresi itu. Itu bukan senyum, tapi lebih mirip seringai predator.
"Tepat sekali. Itu sebabnya saya memilihmu. Kamu nggak akan merepotkan. Pekerjaan ini hanya butuh ketaatan buta. Kamu taat?"
Lia mengangguk cepat. Rasa sakit hati itu tertelan oleh kebutuhan mendesak untuk membayar kontrakan.
"Taat, Pak. Saya akan bekerja keras. Saya janji."
"Bagus." Guntur kembali menatap laptopnya, seolah Lia sudah nggak ada lagi di ruangan itu. "Sekarang keluar. Besok pagi, tepat jam delapan. Cari tahu semua yang harus kamu tahu tentang bank ini. Dan jangan pernah membuat saya menunggu. Paham?"
"Paham, Pak," jawab Lia. Dia berdiri, membungkuk hormat, dan berjalan cepat keluar dari ruangan Direktur Neraka itu.
Saat pintu tertutup, Lia bersandar ke dinding, mencoba bernapas normal. Dia baru saja masuk ke sarang singa. Dia baru saja mendapatkan pekerjaan paling nggak masuk akal di hidupnya, dari seorang laki-laki paling arogan yang pernah dia temui.
Doni, suamiku, di mana pun kamu berada, tolong lindungi aku. Karena aku baru saja menemukan pria yang sama sekali nggak mirip dengan kamu. Pria ini cuma akan membuat aku sadar, kalau aku nggak akan pernah menemukan cinta kedua. Janji.
Lia mengepalkan tangannya. Dia harus bertahan demi anak-anaknya. Guntur Mahendra boleh dingin, galak, dan merendahkan. Tapi Lia Adelia nggak akan menyerah.
Lia Adelia resmi bangun jam empat pagi. Bukan karena excited mau kerja, tapi karena rasa cemas itu bikin perutnya melilit. Ini hari pertama. Kalau sampai dia gagal-dan peluangnya besar banget-dia akan kehilangan gaji tiga kali lipat yang dijanjikan si Direktur Neraka itu.
Rutinitas paginya terasa seribu kali lebih berat. Lia harus menyiapkan sarapan, bukan cuma buat Arka dan Bima, tapi juga buat Bu Tati, tetangga baik hati yang mau dititipi anak-anak selama jam kerja. Menu sarapan? Nasi goreng sederhana yang Lia usahakan tetap bergizi.
"Arka, ayo cepat! Jangan main robot-robotan mulu. Mama harus pergi sekarang," tegur Lia, suaranya berusaha sabar padahal dalam hati dia udah kayak gunung berapi mau meletus.
"Iya, Ma," jawab Arka lesu. Dia masih nggak ngerti kenapa mamanya mendadak jadi secepat kilat di pagi hari dan pulang se-lemah siput di malam hari.
Lia memeluk kedua anaknya erat-erat, mencium kening mereka, dan berjanji akan pulang cepat (janji palsu, Lia tahu banget Guntur Mahendra nggak kenal kata 'cepat').
Pukul 06:30, Lia udah berdiri di halte bus. Udara Jakarta udah mulai panas dan macetnya udah kelihatan dari jauh. Di dalam bus yang penuh sesak, Lia harus berdiri, menahan tasnya agar nggak tertinggal, sambil berusaha menjaga kemeja blazernya nggak lecek. Dia merasa dirinya kayak ikan teri yang berjuang keluar dari jaring, sementara semua orang di bank itu pasti datang dengan mobil pribadi ber-AC. Kontras itu menusuk banget.
Lia Adelia, wanita gendut, janda, dan sekarang Asisten Direktur (yang cuma jadi tameng si bos).
Dia berhasil sampai di lobi Bank Arta Utama tepat pukul 07:50. Sepuluh menit sebelum jam delapan. Cukuplah. Dia menarik napas dalam, membetulkan letak blazernya yang udah agak kusut, dan melangkah masuk.
Resepsionis yang kemarin cekikikan melihatnya, hari ini cuma senyum formal. Lia menunjukkan ID Access sementara yang udah disiapkan. Rasanya aneh banget punya ID card bank super elit kayak gini. Lia naik lift khusus eksekutif. Lantai teratas. Sunyi dan mewah.
Tepat jam 08:00, Lia sudah berdiri di depan pintu ruang kerja Guntur Mahendra. Ruangan Direktur itu dikelilingi cubicle super besar yang ternyata adalah ruang kerja Lia. Meja Lia besar, ada dua monitor, printer canggih, dan tumpukan berkas yang menjulang tinggi. Ini bukan meja Office Girl.
Saat Lia duduk, dia merasa sangat asing. Meja ini terlalu bersih, terlalu modern, dan terlalu dingin, sama kayak pemiliknya.
Belum sempat Lia mencolokkan kabel laptop, pintu ruangan Guntur terbuka. Direktur itu sudah berdiri di ambang pintu, kemeja birunya terlihat sempurna tanpa satu pun kerutan, rambutnya rapi klimis, dan matanya langsung menyala tajam ke arah Lia.
"Kamu terlambat lima detik," Guntur berkata datar. Lia melihat jam di layar komputernya: 08:00:05.
Lia langsung berdiri, "Maaf, Pak Guntur. Saya janji besok akan datang lebih pagi."
Guntur melipat tangan. "Saya nggak butuh janji. Saya butuh hasil. Dan kamu tahu apa hasil dari keterlambatan? Kamu membuang waktu miliaran rupiah bank ini. Sekarang, saya nggak mau dengar alasan apa pun. Duduk dan mulai bekerja."
Dia melempar kunci kecil ke meja Lia. "Itu kunci ruang brankas kecil. Di dalamnya ada briefing document yang harus kamu pelajari. Semua tentang struktur klien dan proyek bank tiga tahun terakhir. Dalam waktu satu jam, saya mau kamu rangkum dalam satu halaman, poin per poin. Saya butuh data utang terbesar klien A dan margin profit klien B. Paham?"
Lia menatap tumpukan berkas di ruang brankas yang kelihatan dari kaca transparan. Ada ratusan dokumen di sana. Dirangkum dalam satu jam? Itu namanya bunuh diri.
Tapi Lia cuma mengangguk, "Paham, Pak."
Guntur nggak mengatakan apa-apa lagi. Dia kembali masuk ke ruangannya, menutup pintu kaca itu rapat-rapat, dan meninggalkan Lia sendirian di lautan kertas.
Lia segera masuk ke ruang brankas, napasnya tercekat. Dokumennya bukan ratusan, tapi mungkin ribuan! Semuanya dalam bahasa Inggris, penuh istilah keuangan yang bahkan Lia nggak pernah dengar. Derivatives, short selling, leveraged buyout. Lia cuma bisa mendalami resep rendang dan gulai.
"Ya Tuhan, ini bener-bener neraka," gumam Lia. Dia tahu, Guntur memang sengaja mau mengujinya. Mungkin dia berharap Lia menyerah dalam sepuluh menit.
Tapi Lia nggak akan menyerah. Dia teringat Doni yang selalu bangga padanya. Dia teringat wajah Arka dan Bima.
Lia mulai bekerja. Dia nggak paham semua istilah itu, tapi dia punya satu skill yang dia asah selama delapan tahun jadi ibu rumah tangga: organisasi dan kecepatan memilah. Dia menyortir berkas berdasarkan warna sampul, tanggal, dan nama klien yang paling sering disebut. Dia mencari kata kunci 'Debt' dan 'Profit Margin' di setiap halaman. Dia nggak membaca, dia memindai. Cepat, fokus, dan gila.
Tepat jam 08:55, Lia selesai. Tangannya gemetar, punggungnya sakit, tapi dia berhasil. Rangakuman satu halaman, ditulis tangan dengan rapi, poin-poin pentingnya dia highlight dengan pulpen.
Dia mengetuk pintu kaca Guntur.
"Masuk," suara Guntur.
Lia melangkah masuk, menyerahkan kertas itu. Guntur mengambilnya tanpa melihat Lia, matanya masih terpaku di layar.
Lia berdiri di sana, menunggu hukuman mati.
Guntur akhirnya membaca. Matanya bergerak cepat, alisnya bertaut. Lia bisa melihat ketidakpercayaan di wajahnya.
"Klien A, utang tertinggi pada Q3 2024: 500 Miliar. Klien B, margin profit terendah pada Q1 2023: 5.2%. Bagaimana kamu tahu?"
"Saya memindai berkas-berkasnya, Pak. Data itu ada di bab rekapitulasi akhir setiap laporan tahunan. Saya melihat angkanya dan mencocokkannya dengan nama klien yang Bapak sebutkan," jelas Lia, suaranya mantap.
Guntur meletakkan kertas itu. Dia nggak memuji. Nggak berterima kasih. Hanya ada tatapan dingin yang menilai. "Lain kali, jangan tulis tangan. Ketik. Meja kamu sudah dilengkapi komputer. Sekarang, ini tugas kedua."
Dia melempar sebuah tablet tipis ke meja Lia. "Tiga jam dari sekarang, saya harus bertemu dengan CEO PT Sinar Abadi. Jadwalkan pertemuan itu. Pastikan ruang rapat VVIP siap, semua kopi dan air mineral harus bermerek yang paling mahal. Dan ini yang terpenting: PT Sinar Abadi adalah klien paling sensitif saya. Cari tahu apa yang mereka suka dan apa yang mereka benci. Background check selengkapnya. Saya nggak mau ada kesalahan kecil pun."
Lia mengambil tablet itu. Di situ tertulis nama CEO-nya: Satya Wiguna.
Lia keluar dari ruangan, berjalan kembali ke mejanya, dan kali ini dia nggak panik. Dia mulai menyusun rencana. Tugas ini nggak butuh istilah keuangan yang rumit. Tugas ini butuh kemampuan stalking tingkat dewa, yang kebetulan banget, skill itu diasah Lia saat dia sibuk mencari tahu resep makanan yang lagi viral di TikTok.
Dia mulai mencari Satya Wiguna. Nggak cuma LinkedIn, tapi juga Instagram, Facebook, berita lama, semuanya. Dan dia menemukan hal-hal menarik.
Satya Wiguna ternyata gila golf, suka koleksi jam tangan mahal, dan yang paling penting: istrinya baru saja ulang tahun. Di postingan media sosialnya, istrinya curhat kalau suaminya nggak pernah punya waktu buat ngasih hadiah spesial. Ada juga komentar di salah satu artikel berita, kalau Satya Wiguna paling benci sama orang yang nggak on time dan benci banget sama aroma lavender.
Lia menulis semua itu dalam laporannya. Dia bahkan mencari tahu restoran mana yang paling sering dikunjungi Satya Wiguna di akhir pekan. Lia melampirkan tiga rekomendasi jam tangan mewah terbaru yang bisa dibeli Guntur sebagai 'hadiah' spontan untuk istrinya Satya Wiguna. Lia tahu banget, urusan personal touch kayak gini bisa melunakkan hati klien.
Guntur Mahendra butuh asisten yang nggak menarik perhatian, tapi yang Lia berikan adalah asisten yang prediktif dan efektif.
Waktu berlalu tanpa Lia sempat minum apalagi makan siang. Pukul 11:45, Lia kembali mengetuk pintu Guntur.
"Tugas selesai, Pak," kata Lia, menyerahkan tablet yang sudah diisi file presentasi rapi dan laporan background check detail.
Guntur mengambil tablet itu, membaca sambil berdiri, berjalan mondar-mandir di depan jendela kacanya yang membentang luas. Ia terlihat seperti sedang menyerap setiap informasi.
"Klien suka golf. Benci aroma lavender. Istrinya baru ulang tahun," Guntur membacanya. Wajahnya nggak menunjukkan apa-apa, tapi Lia yakin dia terkejut. "Dari mana kamu tahu ini semua?"
"Internet, Pak. Data publik. Saya menyimpulkan bahwa kunci kesuksesan pertemuan ini bukan hanya di angka, tapi di personal touch. Saya sudah meminta staf mempersiapkan ruang rapat, dan saya sudah menghubungi vendor untuk menyiapkan custom hadiah jam tangan untuk istri Bapak Satya," jawab Lia tanpa ragu.
Guntur berhenti berjalan. Dia menoleh ke Lia. Tatapannya kali ini beda. Bukan lagi menilai, tapi... mengamati.
"Kamu bertindak terlalu jauh, Lia," katanya. Tapi nggak ada nada marah di suaranya. Lebih ke terkejut.
"Saya bertindak efektif, Pak. Tugas asisten adalah mempermudah pekerjaan Direktur. Bapak nggak perlu memikirkan hal-hal kecil ini, cukup fokus pada angka-angka besar di rapat nanti. Urusan kemanusiaan, biar saya yang urus," balas Lia. Dia juga heran kenapa dia berani banget ngomong kayak gitu ke Guntur. Mungkin rasa lapar dan lelah membuatnya nekat.
Guntur menyunggingkan senyum tipis lagi. Tapi kali ini, senyum itu terlihat sedikit lebih manusiawi, meski masih jauh dari ramah.
"Baiklah, Lia. Sekarang, kamu bisa keluar dan makan siang. Tapi kamu punya waktu tiga puluh menit. Setelah itu, saya mau kamu menyiapkan itinerary perjalanan saya ke Singapura minggu depan. Jadwal penerbangan, hotel bintang lima, dan semua reservasi makan malam harus sudah dikirimkan ke email saya sebelum jam lima sore."
Lia menghela napas. Singapura? Dia cuma bisa bayangin tiket bus kota. Tapi ya sudahlah.
"Siap, Pak," kata Lia.
Dia keluar. Saat baru aja mencapai mejanya, ia bertemu Dinda, si HRD yang kemarin meneleponnya. Dinda membawa nampan berisi dua cangkir kopi latte dan sandwich kecil.
"Lia," panggil Dinda, matanya terlihat sedikit kasihan. "Kamu beneran masih di sini? Aku kira kamu udah kabur dari jam sembilan pagi."
Lia cuma tersenyum tipis. "Gaji tiga kali lipat bikin aku nggak bisa kabur, Dinda."
"Aku serius. Nggak ada yang pernah bertahan lebih dari seminggu jadi asisten Guntur Mahendra. Dia itu perfectionist gila, dingin, galak, dan... ya, dia nggak percaya sama siapa pun, apalagi sama cewek. Dia selalu mikir semua cewek yang masuk ke sini cuma mau godain dia," bisik Dinda.
Lia mengangkat bahu. "Untungnya, aku nggak termasuk targetnya. Aku terlalu gendut dan punya dua anak untuk jadi target godaan. Aku safe, kata dia."
Dinda menatap Lia, merasa nggak enak hati. "Lia, kamu itu cantik, lho. Kamu cuma... berisi. Jangan dengerin omongan dia. Tapi, hati-hati ya. Dia bener-bener kayak robot."
Dinda menyerahkan satu latte pada Lia. "Ini dari aku. Tenaga buat survival. Jangan sampai kamu kena stress eating di sini."
Lia tertawa kecil. Sejak Doni meninggal, ini tawa yang paling tulus yang dia rasakan. "Makasih, Dinda. Kamu penyelamatku."
Dinda pergi. Lia duduk di mejanya, memandangi latte di tangannya. Dia baru sadar betapa laparnya dia.
Lia menghabiskan waktu makan siangnya sambil mengerjakan itinerary Singapura. Dia harus membandingkan harga penerbangan kelas bisnis, rating hotel mewah, dan memesan meja di restoran yang punya Michelin Star. Semua ini terasa kayak Lia lagi merencanakan kehidupan orang lain di planet yang berbeda.
Di sela-sela pekerjaannya, Lia sempat melihat ke dalam ruangan kaca Guntur. Direktur itu sedang menerima telepon. Wajahnya nggak menunjukkan emosi, tapi rahangnya terlihat mengeras. Ia berbicara dengan nada yang sangat dingin, seolah sedang memarahi seseorang.
Saat Guntur menutup telepon, ia menghela napas panjang, dan untuk sepersekian detik, Lia melihat sesuatu di matanya: kesepian.
Guntur Mahendra, si Dewa Es yang punya segalanya, ternyata juga manusia yang kesepian. Lia jadi bertanya-tanya, kenapa dia begitu paranoid? Kenapa dia begitu yakin semua orang mau menggulingkannya?
Lia teringat ucapan Dinda: "Dia nggak percaya sama siapa pun, apalagi sama cewek."
Mungkin Guntur punya masa lalu yang menyakitkan. Mungkin dia pernah dikhianati oleh orang yang sangat dia cintai atau dia percaya. Atau, mungkin memang dia cuma terlahir galak. Lia memutuskan nggak mau ambil pusing. Yang penting, dia nggak ikut campur dalam drama hidup Guntur, dan gajinya lancar.
Saat jam 16:30, Lia sudah menyelesaikan semua tugasnya. Itinerary Singapura, lengkap dengan informasi cuaca, mata uang, dan nomor telepon penting, sudah Lia kirimkan. Dia juga sudah membersihkan mejanya, memastikan nggak ada satu pun debu tersisa. Kebiasaan ibu rumah tangga yang terorganisir ternyata sangat berguna di sini.
Lia mengecek jam. 16:50. Dia sudah bisa pulang.
Ia mengetuk pintu Guntur untuk pamit.
Guntur sedang sibuk dengan laptopnya. "Kenapa?"
"Tugas sudah selesai, Pak. Saya ingin pamit. Saya sudah mengirimkan itinerary-nya," kata Lia.
Guntur nggak mendongak. "Ya, saya sudah lihat. Cukup rapi. Tapi itu baru permulaan. Besok pagi, saya mau kamu menyiapkan semua berkas rapat yang kamu rangkum tadi. Dan ada lagi, Lia. Saya nggak suka kamu berinteraksi terlalu banyak dengan staf lain. Fokus pada pekerjaan kamu. Jangan cari teman di sini."
Lia merasa kesal. Bahkan mencari teman pun dilarang? "Baik, Pak Guntur."
"Satu lagi," Guntur akhirnya mendongak. Ia mengeluarkan dompet tipis dari jasnya. Bukan dompet, tapi klip uang. Dia mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan. "Ini untuk taksi kamu. Saya nggak mau kamu kecapean di jalan, besok kamu harus fit. Kalau kamu nggak fit, yang rugi saya."
Lia terkejut. Guntur memberinya uang taksi? Ini bukan kebaikan hati, ini murni investasi agar asistennya nggak sakit. Lia menerima uang itu, merasa harga dirinya sedikit tergores, tapi dia harus mengakui, ini sangat membantu.
"Terima kasih, Pak," kata Lia.
Dia berbalik, berjalan keluar. Tepat sebelum menutup pintu, Lia mendengar Guntur berbicara lagi, nadanya jauh lebih lembut, seolah dia nggak berbicara pada Lia, tapi pada dirinya sendiri.
"Dan Lia, jangan sampai kamu mengecewakan saya. Saya benci dikecewakan."
Lia menutup pintu. Kalimat terakhir Guntur itu menusuk banget. Saya benci dikecewakan. Ada sejarah panjang di balik kalimat itu, Lia yakin.
Lia sampai di rumah kontrakan pukul 18:30. Bau masakan Bu Tati menyambutnya. Arka dan Bima langsung berlari, memeluk kaki Lia.
"Mama! Mama pulang!" seru Arka.
"Ma, aku kangen," rengek Bima, si bungsu.
Rasa lelah, sakit hati karena direndahkan, rasa insecure karena badannya yang besar, semuanya lenyap digantikan kebahagiaan sejati. Inilah alasan Lia bertahan. Inilah Doni versi kecil yang tersisa di hidupnya.
"Mama juga kangen, Sayang. Gimana hari ini? Kalian baik-baik aja sama Bu Tati?" Lia menciumi pipi mereka bergantian.
Bu Tati, perempuan paruh baya yang baik hati, muncul dari dapur. "Alhamdulillah, Bu Lia. Anak-anak pinter. Tapi Bu Lia kelihatan capek banget. Hari pertama ya?"
"Iya, Bu Tati. Rasanya kayak perang," Lia tertawa kecil.
Setelah makan malam sederhana dan menidurkan anak-anak, Lia duduk sendirian di ruang tamu yang sempit. Dia memegang uang taksi dari Guntur. Dua ratus ribu. Cukup untuk bayar uang susu Bima besok.
Dia memikirkan hari ini. Guntur yang galak, tugas yang nggak masuk akal, dan tatapan meremehkan dari staf lain. Tapi dia berhasil. Dia nggak dipecat. Dia bahkan berhasil membuat Guntur sedikit terdiam.
Lia bersandar di dinding. Matanya menatap langit-langit, seolah Doni sedang melihatnya dari sana.
"Doni... aku janji. Aku akan kuat. Aku akan besarkan anak-anak kita dengan baik. Aku nggak butuh siapa-siapa lagi. Aku nggak butuh pria lagi," bisik Lia, air matanya menetes.
Dia tahu, Guntur Mahendra itu racun. Pria yang membuat Lia semakin yakin pada sumpahnya: dia nggak akan pernah menikah lagi. Doni adalah yang terakhir dan yang terbaik.
Tapi ada satu hal yang Lia nggak tahu. Di saat yang sama, di apartemen mewah di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit, Guntur Mahendra sedang membaca ulang itinerary Singapura.
Ia memandangi rekomendasi hadiah jam tangan untuk istri Satya Wiguna. Sebuah detail kecil yang sangat personal, sangat manusiawi, dan sangat efektif.
Guntur tersenyum. Senyum kali ini bukan mengejek, tapi penuh perhitungan. Lia Adelia memang wanita gendut yang desperate, tapi dia punya insting. Insting yang Guntur butuhkan untuk mengalahkan para musuhnya di dunia bisnis.
Guntur menutup tablet-nya. Lia Adelia akan jadi asistennya untuk waktu yang lama. Dan ia nggak akan membiarkan Lia pergi. Karena, tiba-tiba, Guntur Mahendra yang dingin itu merasa sedikit... terhibur. Sedikit penasaran. Wanita gendut yang nggak tertarik padanya ini, mungkin bisa jadi pengalih perhatian dari kesepiannya yang tak berujung. Tapi itu cuma pemikiran sesaat. Tentu saja.
Lia harus tetap profesional. Dia harus tetap menjadi tameng yang nggak menarik perhatian. Titik.
Seminggu. Lia Adelia sudah bertahan seminggu di Bank Arta Utama, yang lebih cocok disebut Bank Neraka Utama. Dan ajaibnya, Lia masih hidup.
Selama tujuh hari itu, Guntur Mahendra menjalankan perannya sebagai Direktur Iblis dengan sangat konsisten. Dia nggak pernah datang telat, nggak pernah senyum, dan nggak pernah bicara lebih dari sepuluh kata tanpa memberikan perintah baru. Lia merasakan tekanan yang luar biasa. Tugas-tugasnya selalu di luar nalar. Kemarin, Guntur memintanya mencari tahu apa penyebab saham perusahaan fintech klien mereka anjlok 15% dalam waktu 30 menit. Lia nggak tahu apa-apa soal saham, tapi dia akhirnya berhasil, bukan dari analisis keuangan, tapi dari mencari berita di forum online yang bilang CEO perusahaan itu kedapatan selingkuh di Bali. Personal drama affects stock price. Lia belajar hal baru.
Hari ini, hari Senin. Lia sudah berdiri di mejanya sejak pukul 07:30. Dia nggak mau lagi ada drama 'terlambat lima detik'.
Lia sedang sibuk menyortir surat-surat yang masuk-semuanya harus private dan rahasia-saat pintu ruang kerja Guntur terbuka. Direktur itu keluar, mengenakan setelan jas abu-abu tua yang terlihat seharga motor matic Lia yang udah disita. Ia kelihatan tegang.
"Lia," panggil Guntur, suaranya seperti gergaji yang menggesek kayu.
"Ya, Pak?" Lia langsung berdiri, siap siaga.
"Kopi saya. Sudah kamu siapkan?"
Lia mengerutkan dahi. Sejak kapan Lia mengurus kopi? Tugas itu harusnya urusan pantry. "Maaf, Pak Guntur, saya belum sempat. Saya sedang menyortir berkas penting yang baru datang."
Guntur menatapnya tajam. "Lia. Asisten saya yang lama selalu menyiapkan kopi saya. Hanya kopi. Apa susahnya? Kamu pikir kamu dibayar untuk hanya menyortir kertas?"
Lia menahan napas. Ini dia, diskriminasi kelas pekerja yang paling menjengkelkan. Lia, seorang Asisten Direktur (meski cuma Asisten Tameng), tetap dianggap pesuruh.
"Baik, Pak. Kopi seperti apa yang Bapak inginkan?" tanya Lia, berusaha profesional.
"Kopi hitam, tanpa gula, panasnya harus pas. Jangan terlalu panas, jangan terlalu hangat. Kalau sampai salah, kamu harus ganti. Paham?"
"Paham," jawab Lia singkat. Dia segera pergi ke pantry, hatinya panas banget. Kenapa si Direktur ini harus ribet banget sih cuma gara-gara kopi?
Lia kembali ke mejanya lima belas menit kemudian, membawa kopi hitam pekat di cangkir keramik. Dia tahu Guntur pasti memperhatikan setiap gerakannya.
"Ini kopi Bapak," kata Lia, meletakkannya di sudut meja Guntur.
Guntur mengambil cangkir itu, menyesapnya sedikit. Ekspresinya masih datar. Lia menunggu, siap untuk diceramahi soal suhu yang salah atau aroma yang kurang.
"Lumayan," kata Guntur, itu adalah pujian terpanjang yang pernah Lia dengar dari mulutnya. Tapi setelah itu, ia menambahkan, "Tapi lain kali, pastikan cangkirnya nggak ada sidik jari kamu. It's distracting."
Lia mau sekali melempar tumpukan berkas padanya. Distracting? Gila. Benar-benar gila!
Sejak hari itu, menyiapkan kopi Guntur jadi salah satu tugas harian Lia. Tapi anehnya, Lia menemukan pola. Guntur nggak pernah minum kopi itu sampai habis. Selalu sisa sepertiga cangkir. Dan ia cuma minum tepat pukul 08:15 dan 15:00. Nggak lebih, nggak kurang.
Lia mulai menemukan celah di balik tembok es Guntur. Di balik semua perintahnya yang absurd, Lia menyadari Guntur itu gila keteraturan. Semua yang dia minta, sekacau apapun kelihatannya, pasti ada tujuannya.
Misalnya, dia menyuruh Lia memesan makanan dari restoran fast food yang jauh dan mahal untuk makan siangnya. Lia bingung. Kenapa nggak pesan makanan hotel mewah yang ada di bawah gedung saja?
Lia mencari tahu. Ternyata, Guntur sedang melakukan negosiasi rahasia dengan pemegang saham mayoritas restoran fast food itu, yang benci makanan mewah. Guntur cuma mau terlihat "biasa-biasa saja" di mata kliennya. Lia, dengan insting ibu rumah tangganya, menyimpulkan: Guntur nggak cuma cerdas dalam berbisnis, dia juga cerdas dalam berpura-pura. Dia memainkan peran.
Di hari lain, Lia menemukan Guntur berdiri di depan jendela kaca, menatap pemandangan kota. Lia masuk untuk menyerahkan jadwal rapat. Saat dia masuk, Guntur buru-buru membalikkan badannya, seolah ia nggak mau Lia melihat dia sedang 'melamun'.
"Ini jadwal rapat Bapak, sudah saya masukkan ke kalender digital Bapak juga," kata Lia, meletakkan tablet di meja.
"Bagus," Guntur mengambilnya. "Oh, satu lagi. Saya mau kamu carikan pengasuh anak yang bisa datang ke sini. Untuk anak-anak saya."
Lia terdiam. "Bapak sudah menikah? Maaf, saya tidak tahu."
Guntur menatapnya dengan pandangan paling dingin yang pernah ada. "Itu bukan urusan kamu. Tapi, nggak. Saya nggak menikah. Itu anak-anak sepupu saya. Mereka akan tinggal di apartemen saya selama dua minggu. Saya nggak punya waktu untuk mengurus mereka. Cari pengasuh yang profesional. Saya nggak mau dengar suara tangisan di apartemen saya."
Lia merasa kasihan. Jadi, si dingin ini ternyata punya keponakan, dan dia nggak tahu cara mengurus mereka. Dia terlihat sangat panik, meskipun ia mencoba menyembunyikannya di balik sikap arogan.
Lia mengangguk. "Saya akan carikan, Pak. Saya rasa lebih baik mencari pengasuh yang sudah punya pengalaman mengurus anak-anak, bukan cuma yang profesional. Mengurus anak kecil butuh hati, Pak, bukan cuma CV."
Guntur menyipitkan mata. "Kamu berani menggurui saya?"
Lia menelan ludah. "Bukan, Pak. Hanya saran. Saya ibu dari dua anak. Saya tahu bagaimana sulitnya mencari orang yang tulus mengurus anak. Apalagi anak yang baru ditinggal orang tuanya. Pengasuh dari agen biasa mungkin hanya melihat uang."
Guntur terdiam lama. Dia menatap Lia, kemudian perlahan menoleh ke jendela. "Terserah. Lakukan apa pun yang perlu. Tapi pastikan anak-anak itu nggak mengganggu pekerjaan saya."
Lia keluar dari ruangan, hatinya terasa sedikit lembut. Guntur Mahendra, si Dewa Es, ternyata cuma pria yang nggak tahu cara mencintai atau dicintai, apalagi mengurus anak. Lia jadi merasa punya keuntungan kecil: dia tahu urusan hati, sementara Guntur cuma tahu urusan uang.
Pencarian pengasuh nggak gampang. Guntur nggak mau pakai agen formal karena takut bocor ke media. Akhirnya, Lia memutuskan memanggil Bu Tati.
"Bu Tati, mau nggak bantu saya? Gajinya lumayan, malah lebih besar dari yang saya bayar ke Ibu," bujuk Lia.
Bu Tati, yang memang senang mengurus anak-anak, akhirnya setuju. Malam itu, Lia membawa Bu Tati ke apartemen Guntur untuk perkenalan.
Apartemen Guntur di lantai paling atas. Mewah, luas, dengan pemandangan malam kota yang spektakuler. Lia merasa dirinya benar-benar nggak pantas berada di sana.
"Ini Bu Tati, Pak. Dia bukan dari agen, tapi dia yang mengurus anak-anak saya di kontrakan. Dia orangnya tulus dan bertanggung jawab," jelas Lia pada Guntur, yang berdiri dengan angkuh di tengah ruang tamu minimalisnya.
Guntur menatap Bu Tati dari atas ke bawah. "Kamu yakin, Lia? Saya butuh yang lulusan sekolah keperawatan anak."
Bu Tati, dengan santai, menjawab, "Saya nggak lulusan sekolah, Mas. Tapi saya udah ngurus tujuh anak cucu, dan semua sehat walafiat. Kalau cuma ngurus dua bocah, saya jamin mereka nggak akan nangis. Saya juga bisa masak makanan bergizi, nggak cuma mi instan."
Guntur terdiam. Lia menahan tawa. Bu Tati memang jago dalam menghadapi orang sombong.
"Baiklah. Lia, urus kontraknya. Pastikan semua rahasia apartemen ini nggak bocor. Kamu yang bertanggung jawab," kata Guntur, kembali ke mode Direktur Dinginnya.
Saat Bu Tati dan Guntur sibuk membicarakan jadwal anak-anak sepupunya, Lia melihat ada sesuatu yang aneh. Di sudut ruang kerjanya yang sangat teratur, ada sebuah bingkai foto yang terbalik.
Rasa penasaran Lia nggak bisa dibendung. Saat Guntur sedang berbicara di telepon dengan nada galak, Lia mendekat dan membalik bingkai itu.
Di sana, ada foto seorang wanita cantik, kurus, berambut panjang, sedang tersenyum bahagia bersama Guntur. Mereka terlihat sangat muda dan sangat bahagia. Wajah Guntur di foto itu... nggak ada dingin-dinginnya sama sekali. Dia tertawa lepas.
Tiba-tiba, Guntur menyelesaikan teleponnya. "Lia! Apa yang kamu lakukan?!"
Lia tersentak. Dia meletakkan kembali bingkai itu. "Maaf, Pak. Saya nggak sengaja."
Guntur berjalan cepat ke arah Lia, wajahnya merah padam. "Jangan pernah! Dengar saya, Lia. Jangan pernah menyentuh barang-barang pribadi saya. Kamu di sini untuk bekerja. Bukan untuk mencampuri urusan saya. Keluar sekarang!"
Lia Adelia nggak pernah melihat Guntur semarah itu. Wajahnya benar-benar menyeramkan. Lia langsung keluar dari apartemen, hatinya berdebar kencang. Dia tahu dia melanggar batas.
Tapi Lia juga tahu satu hal: Guntur Mahendra yang sekarang, adalah pria yang hancur. Wanita di foto itu pasti adalah masa lalunya, masa lalu yang membuatnya menjadi robot es seperti sekarang. Lia jadi sedikit kasihan.
Seminggu kemudian, keadaan di kantor sedikit berubah. Kehadiran Bu Tati di apartemen Guntur ternyata membawa kedamaian. Anak-anak sepupu Guntur nggak pernah menangis lagi.
Guntur, tanpa sadar, mulai ketergantungan pada Lia. Bukan cuma soal pekerjaan, tapi soal hal-hal kecil yang Lia atur tanpa perlu diperintah.
Misalnya, Lia tahu Guntur nggak suka sayur brokoli di makan siangnya. Lia akan menelepon restoran dan meminta koki menggantinya dengan wortel, sebelum Guntur sempat komplain. Lia juga tahu, Guntur sering sakit kepala kalau nggak minum air putih yang cukup. Lia meletakkan botol air mineral di sebelahnya, setiap dua jam.
Guntur nggak pernah berterima kasih. Dia cuma menatap Lia, seolah bilang, saya tahu kamu yang melakukannya.
Suatu sore, jam sembilan malam. Lia sedang lembur, menyelesaikan laporan yang harus Guntur bawa ke luar negeri. Guntur sendiri masih di ruangannya, terlihat stres.
Tiba-tiba, Guntur keluar dari ruangannya, kemejanya sudah agak kusut, dasinya longgar. Lia hampir nggak percaya melihat Guntur dalam mode 'manusia biasa'.
"Lia, sudah jam segini. Kenapa kamu nggak pulang?" tanyanya, nadanya sedikit lebih rendah dari biasanya.
"Laporannya harus selesai malam ini, Pak. Saya sudah janji," jawab Lia.
Guntur berjalan ke meja pantry kecil di sudut ruangan Lia. Dia membuat kopi lagi. Tapi kali ini, dia membuat dua cangkir.
Dia meletakkan satu cangkir kopi di meja Lia. "Minum. Itu kopi. Bukan racun."
Lia memandangi kopi itu. Kopi hitam tanpa gula. Sama persis seperti punya Guntur.
"Makasih, Pak. Tapi... saya nggak suka kopi hitam tanpa gula. Itu terlalu pahit buat saya," kata Lia jujur.
Guntur mengangkat alisnya. "Pahit? Hidup ini memang pahit, Lia. Kamu harus terbiasa."
"Justru itu, Pak. Karena hidup sudah pahit, kita butuh hal-hal manis untuk menyeimbangkan. Saya sukanya kopi dengan banyak susu dan sedikit gula. Atau, lebih baik, teh manis hangat," balas Lia, sedikit berani.
Guntur terdiam lagi. Ekspresi di wajahnya... itu adalah perpaduan antara terkejut dan tertarik. Dia nggak pernah bertemu orang yang berani menantang filosofi hidupnya yang pahit.
"Baiklah. Kalau begitu, buang kopi itu. Dan lain kali, jangan sampai saya melihat kamu lembur lagi tanpa ada kopi manis di mejamu," perintah Guntur, nada arogannya kembali, tapi kali ini terdengar lebih seperti perhatian yang terselubung.
Lia tersenyum tipis. "Siap, Pak. Besok saya bawa bekal teh manis dari rumah."
Guntur nggak menjawab. Dia kembali ke ruangannya.
Lia menatap cangkir kopi hitam itu. Dia nggak membuangnya. Dia meminumnya sedikit, hanya untuk merasakan bagaimana rasa pahit yang disukai Guntur. Sambil minum, dia berpikir.
Guntur Mahendra itu nggak sepenuhnya dingin. Dia hanya terlalu takut untuk menjadi hangat. Dia takut di-khianati lagi. Dia takut diperlakukan sebagai manusia, bukan sebagai uang.
Lia, yang sudah bersumpah nggak mau menikah lagi, justru menemukan dirinya perlahan mulai mengerti si Direktur Galak ini. Dia melihat kesamaan di antara mereka: sama-sama hancur karena masa lalu, dan sama-sama membangun tembok tinggi. Bedanya, tembok Lia dibangun dari duka, tembok Guntur dibangun dari trauma dan kesombongan.
Lia nggak tahu kenapa Guntur memilihnya. Tapi dia tahu, kenapa dia bertahan.
Gaji besar, itu pasti. Tapi yang lebih penting, Lia Adelia yang gendut dan janda, di kantor itu merasa dirinya berharga. Guntur Mahendra, si Dewa Es, membutuhkan kemampuannya. Dan kebutuhan itu, terasa jauh lebih memuaskan daripada pujian yang tulus.
Malam itu, saat Lia naik taksi yang dibayarkan Guntur (dengan uang dari klip uang yang selalu Lia kembalikan sisanya), dia melihat ke luar jendela. Dia tersenyum.
Di kantor, Guntur Mahendra sedang membaca background check Lia yang Lia abaikan: riwayat kesehatan, alamat kontrakan, dan catatan sekolah Doni.
Ia tahu Lia Adelia adalah orang yang paling nggak mungkin dia sukai di dunia ini. Tapi ia juga tahu, ia nggak bisa bekerja tanpa Lia. Ketergantungan itu menyebalkan. Ketergantungan itu berisiko. Tapi Lia Adelia, si plus size yang efisien, adalah satu-satunya orang yang membuat hidup Guntur yang kacau ini terasa sedikit... terkendali.
Ia membuang berkas Lia ke tempat sampah. Kemudian, tanpa sadar, ia mengambil ponselnya, dan diam-diam mencari tahu di mana restoran yang punya teh manis yang enak. Cuma untuk memastikan, tentu saja.