Aku terlahir dari keluarga yang sedang - sedang saja, atau sederhana. Ibuku bernama Indo Calleda, ayah bernama Ambo Sotta. Ibuku berdagang ikan di pasar, dan itu hasil tangkapan dari ayahku. Yah, ayahku kesehariannya jadi nelayan.
Namaku sendiri Fahrizal, biasa di panggil Rizal, atau Ical.
Aku memiliki saudari wanita bernama Lisa, beda tiga tahun denganku.
Hari ini tepat hari pelulusanku, dimana seharusnya aku merasa bahagia karena aku masuk di tiga besar lulusan terbaik. Tapi rasa bahagiaku tercoreng ketika mengetahui mulai malam ini aku akan mulai belajar untuk tidur sendiri di kamar baruku.
Akupun mencoba menata ulang kamarku yang sebenarnya sudah tertata rapi, tapi aku orangnya paling tidak suka melihat sesuatu yang belum sempurna. Aku meletakkan buku - buku yang sudah di susun di atas mejaku, lalu aku pindahkan di dalam lemari kayu.
"Sudah beres, waktunya untuk tidur !"
Meskipun aku sudah menerima keadaan ini, tetap saja aku merasakan hal baru yang selalunya tidak membuatku nyaman.
Di saat aku berusaha untuk memejamkan mataku, aku kembali teringat pelajaran yang pernah aku baca, bahwa setiap tempat baru pasti memiliki penunggu.
Aku tidak tau apakah ini penyakit atau apalah, tapi aku orangnya sering ketakutan, selalu merasa khawatir, resah dan pikiranku selalu negatif.
Jadi aku kembali terbangun, aku memeriksa di luar kamar sejenak tidak ada siapa - siapa mungkin yang lainnya sedang istirahat siang. Aku kembali mengunci pintu dari dalam, lalu aku melanjutkan rasa khawatirku dengan memeriksa setiap sudut, dalam lemari, bawah kolom meja, dan di bawah ranjangku.
Setelahnya, aku kembali merebahkan tubuhku, namun aku kembali kepikiran.
"Tadi udah periksa lemari belum yah ?" pikirku membatin.
Mungkin inilah alasanku kenapa aku takut tidur sendirian.
Siang harinya aku tidak bisa tidur, jadi aku memutuskan untuk pergi bermain. Kebetulan aku sudah memiliki sepeda, jadi setiap ingin pergi bermain pasti aku memakai sepedaku.
Tujuanku saat ini menuju ke rumah Laras dia sahabatku. Kami biasanya menghabiskan waktu bermain dengan memainkan karambol di rumahnya. Aku yakin di siang bolong begini pasti dia ada di rumahnya.
Benar saja dari arah kejauhan aku melihat Laras berada di teras rumahnya. Tapi sepertinya ada sahabatku yang lain juga, mereka sedang mengobrol di sana.
"Cal, kamu mau kemana ?" tanya Jody.
"Ya elah, aku udah di sini malah nanya lagi, lu ngapain di rumah cewekku?" tanyaku balik.
"Hahah, dia cewekku !" timpal Abi.
"Tunggu - tunggu, sejak kapan kita jadian ?" tanya Laras kebingungan.
"Entah, mungkin besok, !" jawab Jody.
Yah beginilah candaan kami berempat ketika bertemu, pasti Laras selalu di jadikan bahan candaan, berhubung hanya dia yang cewek.
Akupun langsung bergabung duduk melantai dengan mereka.
"Ehh, kalian mau lanjut di mana ?" sahut Laras.
"Aku sih, lanjut pelaminan aja, tapi maunya sama neng Laras !" kata Abi.
"Aku sih cukup di nomor satukan, udah bahagia kok Ras !" tambahku.
"Di mana lagi Ras, kan di sini cuman ada satu sekolah SMP untuk kita lanjut !" jawab Jody, tumben banget dia jawab dengan jawaban yang masuk akal.
"Yah, kalau aku sih, mau lanjut kota, kirain kalian ada yang ikut denganku. !" ucap Laras, namun nada suaranya berubah sedih.
"Hah, beneran kamu mau lanjut di sana ?" tanyaku, sontak aku kaget karena Laras pernah mengatakan dia akan lanjut di sini, dan memilih untuk tinggal dengan neneknya.
"Aku sih hanya bisa pasrah, jika kamu pergi, tapi aku janji akan menjaga hatiku untukmu saja, Cha, Cha, tepuk tangan dulu ngga sih ?" ujar Abi dengan pedenya.
"Main karambol yuk, kayaknya seru nih!" sahutku.
"Gimana kalau kita ke kali aja, sekalian merayakan kelulusan kita !" saran Laras.
Awalnya aku tidak minat ikut, tapi ternyata Abi dan Jody memutuskan untuk ikut.
Sebelum kami pergi tentunya kami meminta izin terlebih dahulu dengan nyokap Laras.
Setelah mendapatkan izin kami menuju ke kali menggunakan sepeda masing - masing, sambil beriringan.
Beberapa menit kami mendayuh dengan penuh semangat, akhirnya kami sampai di kali.
Sesampainya di kali, tanpa pikir panjang, kami langsung nyebur dengan sepeda masing - masing.
Saat aku mencuci sepedaku, dari celah sisinya, aku melirik ke arah Laras.
"Heiii, kamu lihat apaan, Zal ?" tegurnya sambil menyipratkan air.
"Kamu nanya apa, Ras ?" tanyaku.
Dia tidak menjawabnya, namun dia berjalan kearahku.
"Aku sebenarnya power ranger !" katanya.
"Power ranger pink, hah ?" tanyaku.
"Hahah, merah !" jawabnya.
*****
Pulangnya dari kali, aku langsung menuju ke rumah, karena sebelum pergi aku tidak pamit dengan orang di rumah.
Jam baru menunjukkan pukul 15.00, dan aku baru merasakan ngantuk.
Sebelum tidur aku kembali memastikan keadaan kamarku ini.
"Lindungilah hambamu !" ucapku lirih.
Semakin aku mmmeluk gulingku aku merasa semakin ketakutan, aku menutup kepalaku, dan benar saja, aku merasa ada tangan yang tengah merabaku.
"Zakina, Zakina, Laras - Laras !" aku menyebut dua nama temanku yang sebenarnya bukan sekedar teman biasa.
Satunya sahabatku sendiri, tapi sepertinya Laras tidak menyadarinya. Sementara Zakina aku pernah secara terang - terangan mengatakan aku suka dengannya, karena hari itu aku menolongnya dari gangguan teman - temanku. Namun dia tidak menyukaiku, sejak saat itu aku tidak pernah lagi berusaha untuk mendekatinya. Tapi aku masih memikirkan kejadian memalukan itu.
Setelah bergelut dengan pikiranku sendiri, akhirnya aku bisa tertidur. Begitulah diriku, baru bisa tertidur jika otakku sudah capek untuk berpikir.
******
Tepat pukul 08.00 malam, kami sekeluarga sedang berada di ruang makan untuk menyantap makan malam.
Yah beginilah kehidupan di kampung, kebersamaan lebih di utamakan.
Namun setelah kami makan, ibu dan ayah memberi tahu bahwa setelah ini dia akan pergi mengunjungi rumah nenek yang berada di kampung sebelah. Awalnya aku pengen ikut, tapi ternyata mereka mau bermalam di sana.
*****
Setelah mereka pergi aku memutuskan untuk membuang waktu dengan menonton acara tv kartun, namun kesenanganku terusik ketika kak Lisa yang baru saja keluar dari kamarnya, langsung mengganti siaran TV yang menampilkan film yang membuat nafasku berubah memburu.
"Kak jangan nonton film gituan, bikin risih !" sergahku, dan hendak meraih remot.
"Kamu udah nonton, sekarang giliranku lagi !"
Namun kak Lisa enggan untuk memberikan remot yang ada di tangannya. Dia berdiri sembari mengangkat tinggi remot itu, tapi saat ini tinggi badanku sudah hampir sama dengannya. Jadi aku bisa saja mendapatkan remot itu jika aku mendekat.
Bugggg!
Tanpa sengaja ketika aku hendak meraih remot itu, dia langsung memajukan pinggangnya, sehingga membuatku langsung menerpanyanya.
Tubuhku menindihnya, dan inilah awal mula aku merasakan getaran berbeda di dalam tubuhku.
(Selamat membaca, cerita ini sekedar hiburan. Sedikit berbagi pengalaman, tapi tentunya sedikit di bubuhi kata - kata penambahan, untuk membuat cerita lebih seru.)
Sepertinya kak Lisa merasakan ketika aku menggesekkan lenganku di dadanya.
Sampai - sampai dia melenguh, dan menutup matanya.
"Kak boleh pegang ini ngga ?" tanyaku.
Entah keberanian dari mana aku bisa meminta hal yang pastinya di tolak mentah - mentah olehnya. Tapi reaksinya membuatku tidak jadi dilema, dia mendorong tubuhku, lalu dengan santainya dia menarik tanganku sampai aku ikut denganya.
Setelah memasuki kamar kak Lisa, dia langsung menguncinya dari dalam.
"Dek, tadi kakak ngerasain punya kamu berdiri! "
Degg!
"Iya kak, tiba - tiba aja berdiri, tapi sekarang udah ngga kok !" jawabku.
Aku kemudian kepikiran dengan kelainan yang aku miliki, sepertinya kak Lisa bisa memberiku jawaban yang lebih tepat.
"Kak, aku mau nunjukin sesuatu tapi kakak jangan ngejekin Rizal yah ?" kataku dengan perasaan deg degan.
Dia kembali berpikir, namun dia segera menjawabnya dengan saling menyatukan jari kami, seolah setuju denganku.
Akupun langsung membuka lilitan sarungku, namun tidak aku tanggalkan, sementara itu kak Lisa mengintipnya dari atas.
Setelah memastikan dia sudah melihatnya aku kembali melilitkan sarungku di pinggang.
"Astaga dekk, itu kok, itu bahaya tuhh !" jawabnya, aku melihat ekspresi wajahnya seketika berubah bersemu merah, dan cara menjawabnya sedikit gelagapan.
Mendengar jawaban yang sama sekali tidak aku harapkan, aku langsung berlari ke kasur lalu menangis sejadi - jadinya.
"Hikssss, hikss, huaaaaaaa, kakak, gimana ini, apakah aku bukan laki - laki normal.?"
"Tunggu, sepertinya kakak belum memperhatikannya cukup jelas, apakah kakak boleh melihatnya lebih jelas, lebih lama, dan lebih dekat ?" tanya kakakku.
"Heeggg, heegg, boleh kak, tapi aku ngga mau dengar jawaban itu lagi, Rizal takutt, !" kataku.
Kak Lisa langsung menghampiriku, di peluknya diriku dari arah samping, lalu perlahan dia memberikan dorongan perlahan hingga tubuhku merapat dengan kasur.
Dia kemudian menyingkap sarungku, otomatis lututku tertekuk naik, hingga kini kepala kak Lisa ada di dalam sarungku.
"Aduhh, kakak kok enak ?" sahutku, rasanya geli, aneh dan nikmat.
Kak Lisa tidak menimpalinya, melainkan dia mulai meremas milikku.
Aku yang penasaran menyaksikan apa yang sebenarnya di lakukan kak Lisa , segera aku singkap naik sarungku.
Dia mengangkat wajahnya sejenak, sembari melempar senyuman.
"Dek, ini gawatt nihh!" sahutnya.
"Kak, bantu Rizal, apapun Rizal lakukan yang penting bisa sembuh !" kataku.
"Baik dek, kebetulan kakak sangat menyayangimu, jadi akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhanmu !" jawab kak Lisa.
"Hufft, makasih kak, nanti uang jajanku aku kasih ke kakak, yang penting aku bisa sembuh total, anggap saja itu sebagai iuaran pembayaranku!" kataku.
"Hahha, hahaha, !" dia tertawa sejenak.
"Ada yang lucu kak?"
"Punya kamu harus segera di kurangin isinya !"
"Maksudnya harus di lakukan operasi kak ?"
"Tenang kakak punya solusi tanpa operasi, tapi kamu harus janji jangan ngomong kepada siapapun, dan kakak harap hal ini menjadi rahasia kita berdua !"
"Pasti, kak, aku janji !" jawabku semangat.
Remasan kak Lisa berubah menjadi pegangan, tanganya yang lentik melingkar full di pertemuan jari jempol dan jari telunjuknya.
"Kak, !" hanya itu suara aku katakan.
Entah mengapa aku merasa senang ketika kak Lisa mulai mengocoknya pelan, ada rasa nikmat, dan geli.
Dan kocokan tangannya semakin membuat torpedoku membengkak, keras dan mengencang.
"Dek, apa yang kamu rasakan ?" tanyanya.
"Enak, kakkk!" jawabku tertahan.
"Oke, berarti uji coba pertama sukses, namun masih perlu melakukan uji coba sampai teruji klinis. " timpalnya.
"Terserah kakak, intinya Rizal ngikut apa kata kakak !" jawabku.
Kak Lisa meneruskan aksi tangannya untuk menaik turun di torpedoku, sampai aku mulai mendesah, melenguh dan mendesis.
"Aahhh, ssshhtt, aahhh kak, kok bisa enak gini rasanya !" ungkapku.
Mendengarku, kak Lisa semakin bersemangat.
Sluuuurrrppp, sluuuurrrppp, sluuuurrrppp!
Astaga, aku seolah tidak percaya apa yang di lakukan kak Lisa saat ini, dia tiba - tiba memasukkan kepala milikku ke mulutnya.
Aku yang merasakan semakin nikmat, tanpa terasa aku memegang sisi samping kepalanya, dan dengan spontan pinggulku malah naik turun.
Glock, glock, glock!
"Aaakkk, aakkk, aakkk!" suara pekikan tertahan dari kak Lisa.
Inilah rasa ternikmat yang pernah aku rasakan di umurku saat itu, anganku melayang ketika mulut kak Lisa, mengulum dan menjilati sisi torpedoku.
Tubuhku mengejang, aku tidak lagi memegang kepalanya, kedua tanganku berpindah mencengkram sprai kasur. Kak Lisa mencabut mulutnya dari torpedoku, lalu tersenyum sambil menengadah menatapku.
"Enakk ?" dia bertanya, dan aku hanya bisa menjawabnya dengan anggukan.
Dia kembali lanjut, menaik turunkan kepalanya, menarik keluarkan torpedoku, kali ini semakin cepat.
Tiba - tiba aku merasakan ada yang hendak keluar, dengan cepat memegang kepala kak Lisa, untuk menghentikan aksinya.
"Aaaccchh, aaakkk, kak awas, aku mau pip!!sss!" teriakku.
Bukannya berhenti kak Lisa semakin mempercepatnya, kepalanya semakin mangut - mangut dan akupun mendesis, tubuhku kelonjotan tak karuan.
"Kakkkk, cukup, aaahhh, aahh, taaillasssoo, enakkk sekali, aaaahhh!" ungkapku.
Saking kenikmatannya, mulutku spontan berkata kasar, dan biasanya aku mengungkapkan kata kasar itu jika emosiku meluap. Tapi kali ini beda, tiba - tiba aku merasa ada yang mau keluar mendesak dari dalam torpedoku.
"Aaahhh, oiihhh, aaahhh, ssshhhtt, uhhhh !" desahku tidak karuan, tubuhku menggeliat bagaikan cacing kepanasan.
Aku merasa mengeluarkan cairan putus - putus, setiap kali semburannya membuatku menghentak, namun aku bingung, kak Lisa seolah menanti cairan itu, dia lahap dan telan semua cairan yang memenuhi mulutnya.
Gleeekkk!
"Kak, maaf aku keluar di mulut kakak. Aku ngga bisa nahan soalnya, lagi pula tadi aku udah tahan kakak, tapi malah semakin mempercepatnya !" ujarku.
Kak Lisa dengan pelan - pelan melepas torpedoku, dia kembali menatapku sambil membersihkan sisa cairan yang meluber keluar dari bibirnya.
Aku sempat melihat cairan yang baru saja di lahapnya. Warnanya hampir sama dengan air keruh, namun teksturnya kental.
Setelah menelannya, kak Lisa kemudian rebahan di sampingku.
"Dek, sepertinya penyakit kamu agak parah, jadi mungkin kita harus melakukannya secara rutin dan teratur!" kata kakakku.
"Hehe, ngga papa deh, kalau rasanya seperti tadi, aku ngga bakalan keberatan kok. Tapi kenapa kakak menelan airnya ?"
"Dek, itu namanya cairan benih, satu pesan kakak, jangan pernah kamu mengeluarkan cairan itu di dalam kepemilikan teman perempuanmu. Mungkin itu akan menjawab pertanyaan kamu sebelum kita masuk kamar!" jelasnya.
"Wihh, kakak hebat, kakak kok bisa tau itu, sedangkan aku belum ?"
"Kamu akan mengerti, dan mengetahui itu semua seiring bertambahnya umurmu, dek !" jawabnya.
Entah mengapa aku merasa lemas seketika, tubuhku perlahan terasa letih, dan perlahan mataku begitu layu, sayup.
"Kak, aku mau tidur duluan !" kataku.
"Dek, masa kamu ngga mau lanjutin niat kamu, memangnya kamu ngga penasaran liat tubuh, kakak ?" katanya, aku menoleh sejenak, dan dia memainkan alisnya.
"Memangnya boleh, kak ?" tanyaku untuk memastikannya.
Diapun menjawabnya dengan anggukan pelan.
Kak Lisa kemudian beranjak turun dari tempat tidur, dia melepas satu persatu pakaiannya hingga, aku seolah tidak percaya bisa melihat tubuhnya secara detail.
Setelah itu, dia menuju meja riasnya, lanjut dia duduk sembari membuka lebar pahanya.
Astaga, beberapa kali aku mengusap - usap mataku, aku seperti sedang bermimpi, apalagi posisinya saat ini membuatnya lipatan yang ada di pangkal pahanya begitu jelas terlihat olehku.
Aku ikut beranjak turun, lalu kembali melilitkan sarungku di pinggang. Aku kemudian melangkah ke arahnya, dan tanganku langsung meraba serabi kak Lisa. Awalnya aku sangat penasaran dengan dadanya, namun setelah melihat bagian bawahnya yang berbanding terbalik dengan punyaku, akhirnya lebih penasaran dengan bagian bawahnya.
Sesekali jariku menyingkap bentuk bibir itu, aku sempat terpukau merasakan licinnya jariku saat menyapukannya.
"Ouuhhh, dek, iyyaa gituin, punya kakak enak banget di gituin !" rintihannya membuatku semakin penasaran, dan aku tambah semangat menjejalkan jari -jariku.
"Dek, jilatin !" pintanya.
Aku sempat garuk - garuk kepala, sambil menatapnya.
"Ngga bahaya toh ?"
"Ngga dek, malahan kamu akan ketagihan dengan rasanya !" jawab kakakku.
Sebelum melakukan apa yang di minta kakakku, hidungku mengendus sejenak bau miliknya. Baunya cukup menyengat, namun kata - kata dari kak Lisa membuatku penasaran dengan rasanya, yang katanya akan membuatku ketagihan.
Aku dekatkan mulutku, ke serabi kak Lisa, lalu aku menjulurkan lidahku, kujilat pelan bagian lipatannya, seketika tangan kak Lisa menekan kepalaku agar aku tetap di situ, sambil dia meremas pelan kepalaku.
"Dek, iya, gitu kamu memang pintar dek, kakak tambah sayang sama kamu dek, aaahhh !" ucapnya.
Dia mendesis, mendesah, dan aku mengecap rasanya, ada rasa asin, manis.
Sluuuurrrppp, sluuuurrrppp, sluuuurrrppp!
Benar apa yang ia katakan cairan yang senantiasa keluar dari dalam serabinya begitu membuatku ketagihan. Semakin lama aku merasa semakin penasaran.
Sluuuurrrppp, sluuuurrrppp!
Kak Lisa juga terus mendesis, dia juga ikut menggerakkan pinggulnya, dan kepalaku di seolah di kendalikan olehnya.
Kak Lisa tiba - tiba menjepit kepalaku, aku merasa sesak, aku berusaha melepas himpitannya.
Nyiuuttttt.!
Saking kuatnya himpitan pahanya, aku langsung mencubit sisi pahanya bagian luar.
"Aduhhh, aduhhh !" kakakku kesakitan, dia merenggangkan kembali pahanya, dan tubuhku seketika terhempas ke lantai.
"Dekk, kamu kenapa ?" tanyanya.
"Kakak kenapa sih, mau bunuh Rizal, kalau mau bunuh ngga gitu caranya, pake cara yang baik - baik, dan penuh kelembutan !" timpalku.
"Astaga dek, dek, kakak tidak ada maksud seperti itu, kakak tadi itu udah mau sampai, dan sekarang malah ngga jadi !" ujar kakakku, wajahnya tampak kecewa.
"Kak, sini aku lanjut, sampai kakak dapat juga !" kataku segera, aku tidak mau dia marah denganku, apalagi saat itu aku merasa masih terikat dengan pengobatan torpedoku.
Namun dia segera turun dari meja riasnya, dia menarikku untuk menuju tempat tidurnya. Kami sejenak duduk di tengah - tengah kasur, lalu dia menuntun tanganku untuk memegang dadanya.
"Dek, coba kamu mainin dada kakak bentar aja !" katanya.
Akupun langsung meremasnya, rasanya begitu lembut, kenyal, dan sekal.
Ujung jariku memelintir benda mencuat yang ada di ujung dadanya.
"Ssshhttt, dekk, coba kamu hisap ujungnya, pasti kamu juga akan ketagihan!" katanya.
Aku merasa torpedoku kembali berdiri.
"Kak, punyaku udah tegang lagi, gimana kalau kakak keluarin isinya lagi, seperti tadi, Rizal juga akan membuat kakak keluar !" ujarku.
"Hisapin pentil kakak dulu dek, nanti ada saatnya kamu keluar lagi, !" timpalnya.
Aku menurutinya, mulutku mendekati put!ngnya, saat mulutku memasukkan put!ng d*danya, aku langsung memejamkan mataku.
Rasanya hambar, namun ada sensasi untuk terus lanjut. Aku hisap lebih dalam, hingga sisi put!ngnya ikut masuk ke dalam mulutku. Di dalam aku memainkan lidahku, menggelitik ujungnya.
"Ssshhhtt, ohhh, Rizal, kamu pernah ngga menyukai teman perempuanmu ?" tanyanya.
Aku sejenak menghentikan aksiku, lalu menatapnya.
"Bukan pernah kak, tapi sekarang aku sedang menyukainya, dia bernama Zakina, tapi dia tidak menyukaiku kak, !" jawabku.
"Hmm, masa sih dek, kamu sakit hati ngga ?"
"Ngga kak, tapi kakak tau ngga kenapa dia tidak suka denganku ?"
"Hihihi, mungkin karena kamu penakut, !" jawabnya.
"Masa sih, padahal aku pernah nolongin dia sewaktu dia di gangguin sama teman - temanku juga, !"
"Dek, kamu belum waktunya untuk melakukan itu semua, jangan sampai rasa tertarik darimu yang berlebih menimbulkan hal yang tidak di inginkan, jadi lebih baik kamu fokus untuk belajar. Ada saatnya kok kamu akan mengetahui apa yang sebenarnya wanita cari !" jelas kakakku.
Kak Lisa memegang tanganku, bukan lagi di arahkan memegang dadanya, kini dia menuntunnya untuk ke bagian pangkal pahanya.
"Dek, kita lanjutkan yang tadi sempat tertunda, yah !" katanya sambil tersenyum menyeringai.
Tanganku langsung merespon, namun aku merasa gemetar ketika tanganku meraba bagian depannya. Lembut dan hangat.
Lanjut rabaanku turun membelai lipatannya, sambil sedikit menekan masuk. Hingga kak Lisa menggeliat.
"Kak rebahan aja gih, !" pintaku, dia menurutiku, pegangan tangannya di lepasnya.
Posisiku masih duduk di samping tubuhnya yang rebahan.
Di balik permainan jariku, tangan satuku lagi meremas torpedoku di balik sarungku, tentunya tanpa sepengetahuan kak Lisa.
"Hmmmm, ouuhhhh, ssshhttt, dekkk !" desahnya.
Aku semakin bersemangat memainkan jariku di serabinya, yang sudah mulai basah, cairannya kak Lisa mulai merembes keluar di sela jariku, dan cairan itu aku sapukan di sekeliling permukaannya.
Sluuuurrrppp!
Sejenak aku menghisap jariku.
Lalu kembali memainkan kembali serabinya. Namun di tengah permainan tanganku yang mengusap - usap naik turun, aku seolah menyentuh daging kecil yang letaknya di bagian atasnya, dan aku bingung kenapa dia bisa menggeliat setiap kali aku memainkan benda kecil sebesar kacang kedelai itu.
Jariku semakin betah memainkan kacang miliknya, apalagi ketika dia menggigit bibir bawahnya, dia sangat lucu, dan wajahnya begitu membuat torpedoku semakin menegak.
Saat aku tengah fokus menatapnya, tiba tiba aku merasa ada tangan lain masuk di dalam sarung, aku menunduk sejenak ternyata tangan kak Lisa.
Tanganku yang tadinya memegang torpedoku ,kini berpindah bertumpu di samping tubuhku.
Dia menyingkap sarungku, lalu dia mulai mengocoknya lagi.
"Kak, apakah sudah waktunya, punyaku di keluarkan lagi ?" tanyaku.
"Mungkin dek, kakak suka bentuk punyamu, besar dan panjang banget !" katanya.
"Hah, kok kakak suka, jadi kakak suka kalau punyaku tidak normal ?"
"Hihihi!" dia tertawa cekikikan, aku juga tidak ingin banyak tanya saat ini, aku memilih untuk menikmati permainan tangan kami masing - masing.
"kak, aku mau lanjut jilatin, !" kataku setelah beberapa menit merasakan kocokannya.
"Hmmm, kamu ngga mau keluar dulu ?"
"Nanti aja kak, !" jawabku.
Kak Lisa yang mendukung keinginanku kedua pahanya langsung di renggangkan, sesuai dengan postur tubuhku.
"Kakak, jangan di himpit seperti tadi, yah !" pintaku sebelum lanjut.
"Hihi, nanti kakak usahain, lagi pula kamu juga ngga akan mati kok, kalau kakak himpit, kamu aja yang penakut!" timpalnya.
"Huffttt, tapi kakak kasih komando dulu, supaya aku bisa mengambil nafas banyak !"
"Iya, iya, !"