Bab 1

Hujan belum reda saat jarum jam menunjukkan pukul 23.57. Di balik kaca lobi Hotel Aurelia, kilatan petir sesekali menyambar langit kota Altamira yang tampak kelabu. Aluna Rayendra menghela napas panjang, mengusap kedua tangannya yang dingin dengan hangat sisa teh jahe yang sudah hampir habis.

“Alu, bisa gantiin shift besok pagi juga?” suara teman resepsionis malamnya, Clara, menyelinap di antara lengang.

Aluna menoleh, senyum tipis. “Besok? Bukannya kamu libur?”

“Papa masuk rumah sakit. Aku harus jaga. Aku tahu kamu pasti capek, tapi cuma kamu yang bisa kuandalkan sekarang…”

Aluna mengangguk. “Iya, aku ambil. Semoga papamu cepat sembuh, ya.”

Clara memeluknya sekilas. “Thanks, Alu. Kamu memang malaikat.”

Kalau saja Clara tahu, bahwa malaikat pun bisa jatuh di tempat seperti ini.

Begitu Clara menghilang ke arah ruang ganti, Aluna kembali ke meja resepsionis, mengecek ulang sistem reservasi. Semuanya tampak normal. Tapi jantungnya sedikit berdegup ketika notifikasi merah muncul mendadak di layar monitor utama.

Reservasi mendadak — Presidential Suite (Lantai 20)

Check-in: Malam ini. Nama: D.E.R.

Aluna menatap layar, tak yakin. Presidential Suite hanya bisa diakses oleh tamu VIP terpilih, dan biasanya dipesan jauh-jauh hari, bukan sepuluh menit sebelum tengah malam. Tapi sistem mengonfirmasi pembayaran penuh, tanpa deposit.

Lambat laun, suara langkah mendekat. Seorang pria berpakaian jas hitam masuk ke lobi dengan payung terlipat, air menetes dari ujung-ujung jas hujannya. Pria itu tidak membawa koper, hanya koper kecil kulit hitam yang tampak mahal.

Dia berdiri di hadapan meja.

“Aluna Rayendra?” tanyanya dengan suara rendah, tajam.

Aluna mengerutkan dahi, bingung. “Iya. Bisa saya bantu?”

Pria itu meletakkan kartu ID khusus — bukan KTP biasa, tapi ID khusus karyawan jaringan Elvard Group. Di bawah logo kecil berbentuk elang perak, tertulis nama:

Rizal Mahesa – Operatif Lapangan

“Suite untuk Tuan Renata. Kami tidak butuh formalitas. Buka akses lantai 20 sekarang.”

Aluna menelan ludah. “Saya perlu ID tamu, Pak. Dan tanda tangan check-in.”

Rizal mengangkat alis. “Saya rasa Anda belum dapat instruksi dari atasan Anda. Cek email bagian manajemen.”

Dengan tangan bergetar, Aluna mengeklik folder email pribadi hotel. Sebuah pesan dari GM Hotel Aurelia, dikirim lima menit lalu:

> “Beri akses penuh pada Mr. Davin Elvard Renata ke Presidential Suite.

Jangan tanya, jangan minta data tambahan. Jangan bicara padanya kecuali diminta.

Abaikan semua prosedur biasa. Ini bukan negosiasi.”

Aluna menegang. Nama itu.

Davin Elvard Renata.

Sosok yang selama ini hanya dia kenal dari berita, desas-desus, dan gosip kalangan elite. Pemilik perusahaan ekspor-impor berskala global yang digosipkan memiliki jaringan perdagangan gelap lintas benua. Semua mengenalnya. Tidak ada yang berani menyentuhnya.

Dan kini… dia akan berada hanya beberapa lantai di atas tempat Aluna berdiri.

Dengan suara hampir bergetar, Aluna menyerahkan keycard yang sudah dikonfigurasi khusus. “Kamar siap. Jika Bapak Renata membutuhkan sesuatu, mohon beri tahu kami lewat sistem khusus di kamar…”

Pria itu mengangguk singkat, lalu berbalik. Tapi saat dia hampir menghilang ke lift, ia menoleh sesaat. “Ingat, nona Aluna. Jangan terlalu ingin tahu.”

Aluna hanya mengangguk.

Begitu pria itu masuk lift dan pintu menutup, suasana lobi kembali sunyi. Tapi jantung Aluna masih berdetak keras. Belum pernah ia merasa secemas ini. Bahkan saat mengetahui adiknya divonis gagal ginjal pun, rasa takutnya tak seberat sekarang.

Ia menarik napas panjang, lalu kembali ke monitor.

Semuanya tampak tenang, kecuali satu hal.

Kamera lantai 20 — OFFLINE.

Aluna mencoba mengakses ulang. Gagal. Sistem menunjukkan sinyalnya diputus dari sumber. Aneh, karena bahkan tim keamanan hotel tidak bisa mematikan kamera tanpa perintah pusat. Dan saat ia ingin melapor ke manajemen, muncul notifikasi:

> “Gangguan sistem sementara. Abaikan sinyal kamera 20. Perintah langsung dari pusat Elvard Group.”

Aluna bersandar di kursinya. Rasanya seperti duduk di antara jalur api. Ia tak tahu kenapa pria seperti itu harus menginap di hotel mereka, apalagi tanpa pengamanan seperti biasa. Tapi dia tahu satu hal:

Malam ini bukan malam biasa.

---

Pukul 03.17 dini hari.

Aluna nyaris tertidur saat suara notifikasi keras membuatnya terjaga.

"ALERT — SISTEM ERROR — FILE VIDEO LANTAI 20 TERUNGKAP"

Ia menatap layar dengan panik. Video berdurasi 17 detik dari koridor depan Presidential Suite tiba-tiba muncul di server umum hotel. Aluna segera memutar rekaman itu.

Tampak seorang pria keluar dari suite. Wajahnya penuh darah. Jalannya tertatih. Tapi bukan Davin. Pria itu lebih tua, berbaju safari krem yang robek di bagian dada.

Tiba-tiba video berhenti.

“Kenapa bisa bocor?” bisik Aluna, panik. Ia mengecek log sistem.

File dibuka oleh akun: ALUNA.RAYENDRA

Dia membeku. “Tidak mungkin… aku tidak pernah…!”

Dia mencoba keluar, tapi sistem menolak akses. Semua log memperlihatkan jam dan waktu yang menunjukkan bahwa sekitar pukul 02.53, akun miliknya digunakan untuk mengunduh video itu.

Panik, Aluna menghubungi petugas teknis malam. Tidak ada jawaban.

Ia hendak menelepon manajer, ketika suara berat muncul di belakangnya.

“Sudah terlambat, nona Rayendra.”

Ia berbalik. Davin Elvard Renata berdiri di sana.

Tanpa pengawal. Tanpa jas. Hanya mengenakan kaus hitam dan celana panjang. Tapi aura yang mengelilinginya sangat kuat. Matanya gelap. Tatapannya dingin.

“Bapak… Renata…”

“Jangan bicara.” Suaranya serak, namun tegas. “Ikut saya.”

Aluna ingin membantah, tapi seluruh tubuhnya seolah membeku. Ia mengikuti pria itu ke lift, turun ke basement. Di sana, satu mobil hitam sudah menunggu, dengan mesin menyala.

“Masuk.”

“Ma—maaf… saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya tidak pernah menyebarkan video itu. Saya bahkan—”

“Masuk.” Nada suaranya cukup untuk menghentikan semua penjelasan.

Di dalam mobil, keheningan menegangkan memenuhi kabin. Aluna menatap kaca, mencoba menahan air mata. Ia merasa tubuhnya digiring ke lubang hitam yang tak ia pahami. Hanya karena sistem menyalahgunakan akunnya—mengapa harus dia yang dibawa?

Mobil melaju, melewati batas kota, menuju wilayah yang asing baginya. Setelah tiga puluh menit perjalanan, mereka tiba di sebuah rumah megah bergaya Eropa modern, dikelilingi pagar tinggi dan kamera pengawas.

Pintu terbuka. Davin keluar lebih dulu. Tanpa memandang, ia memerintahkan, “Turun. Mulai hari ini, kamu tinggal di sini.”

Aluna menatapnya, kaget. “Tinggal? Tidak! Saya harus kembali. Saya tidak melakukan apa-apa. Saya tidak—”

“Benar atau tidak, sudah tidak penting. Fakta bahwa kamu dihubungkan dengan video itu cukup membuatku tidak bisa diam.”

Aluna mulai menangis. “Tolong… saya punya adik yang sakit. Saya tidak bisa menghilang begitu saja. Ini tidak adil…”

Davin mendekat. Tangannya mengangkat dagu Aluna agar menatap langsung ke matanya.

“Aku tidak pernah bilang hidup itu adil. Tapi aku punya kekuasaan. Dan kamu… kamu menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya disentuh. Jadi terima saja hukumanmu.”

Bab 2

Aluna tak bisa memejamkan mata sepanjang malam. Matanya menatap langit-langit kamar kecil kosan dengan pandangan kosong, jantungnya masih berdegup cepat mengingat kejadian tadi malam. Dingin AC Hotel Aurelia seolah masih membekas di kulitnya, bersamaan dengan dinginnya tatapan Davin Elvard Renata yang seperti mampu menembus isi kepalanya.

Paginya, suara notifikasi ponsel membangunkannya dari lamunan. Puluhan pesan masuk, dari manajer hotel, rekan kerja, bahkan dari nomor-nomor tak dikenal.

"Kau sudah gila, Lun?"

"Video itu nyebar. Manajemen ngamuk."

"Pusat ngasih deadline sampai jam 12 siang. Kalau kamu nggak klarifikasi, kamu dipecat."

Tangannya gemetar membuka satu per satu pesan. Tapi yang lebih membuat napasnya tercekat adalah satu pesan baru di bagian atas:

DAVIN E. RENATA

> Aku beri waktu dua jam untuk bersihkan namamu. Kalau tidak bisa, datang ke alamat yang kukirim di bawah. Sendiri. Jangan bawa siapa pun.

Aluna menahan napas.

Alamat yang diberikan bukan kantor polisi. Bukan pula kantor perusahaan. Tapi... sebuah vila mewah di dataran tinggi luar kota. Ia mengetahuinya karena itu tempat yang sering dipesan tamu-tamu VIP. Tapi sekarang, bukan tamu yang menginap. Melainkan dirinya yang diminta untuk datang, seperti terdakwa menuju pengadilan pribadi milik seorang penguasa bayangan.

Aluna menelan ludah. Ia mencoba menenangkan diri, menelepon manajer hotel, dan menjelaskan bahwa ia tak pernah menyentuh sistem keamanan. Tapi penjelasannya ditolak mentah-mentah.

"Rekaman CCTV yang bocor semalam terekam dari akunmu, Aluna. Aku bisa diberhentikan juga kalau tidak ada yang bertanggung jawab."

"Aku tidak pernah log in, Pak! Aku tidak pernah sentuh terminal komputer malam itu!"

"Kalau begitu siapa? Kamu kerja malam. Kamu di sana!"

Klik.

Telepon dimatikan sepihak. Dunia seperti ambruk pelan-pelan di depan mata Aluna.

Ia berjalan ke kamar mandi, mencuci wajahnya, lalu menatap bayangannya di cermin.

Kau tidak salah. Tapi siapa yang akan percaya? pikirnya.

---

Jam 10.30 siang, Aluna berdiri di depan vila megah itu. Gerbang hitam setinggi tiga meter terbuka perlahan begitu plat motor ojek online yang membawanya dikenali kamera. Ia masuk ke dalam dengan langkah ragu, hanya ditemani detak jantung yang semakin cepat.

Vila itu sepi. Terlalu sunyi untuk ukuran tempat tinggal seseorang seperti Davin Elvard Renata. Tapi begitu ia membuka pintu utama, suara langkah kaki terdengar. Dua pria berbadan besar berpakaian hitam mendekatinya tanpa bicara.

"Aluna Rayendra?"

Ia mengangguk.

"Ikuti kami."

Mereka membawanya menyusuri lorong vila yang panjang, lantainya mengkilap, dindingnya penuh lukisan abstrak, sampai akhirnya mereka berhenti di depan pintu kaca buram.

Salah satu pria mengetuk dua kali.

Pintu terbuka.

Dan di sanalah dia. Davin duduk di sebuah kursi kulit di depan meja panjang, mengenakan kemeja hitam sederhana tanpa dasi, tangannya menyentuh secangkir kopi yang mengepulkan asap tipis. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Tapi justru itu yang membuat Aluna lebih takut.

"Duduk." suaranya datar.

Aluna mematuhi.

Davin menatapnya dalam diam selama beberapa detik, lalu membuka tablet di hadapannya. Ia memutar ulang video yang bocor semalam. Tampak seorang pria dengan wajah ditutupi masker, keluar dari suite 2003. Di tangannya ada bercak merah seperti darah.

"Kau tahu siapa ini?"

Aluna menggeleng.

"Tapi ini dari akunmu. Semua orang menyalahkanmu. Bahkan rekan kerjamu pun tidak ada yang membela."

"Saya tidak tahu... saya tidak pernah-"

"Kau pikir aku peduli apakah kau tahu atau tidak?" potong Davin.

Suasana hening beberapa detik. Lalu pria itu berdiri, berjalan mendekati jendela besar yang memperlihatkan hutan pinus di kejauhan.

"Video ini seharusnya tidak pernah ada. Kalau muncul ke publik, kau tidak hanya menjatuhkan reputasi hotel tempatmu bekerja. Tapi kau juga membuka kemungkinan seseorang di dalam mencoba membunuhku."

Aluna membeku.

"Saya... saya tidak tahu apa pun soal rencana membunuh..."

"Tentu saja tidak." Davin menoleh. "Karena kau hanya pion kecil. Tapi pion kecil bisa jadi kunci, tergantung di tangan siapa ia diletakkan."

Langkah Davin mendekat. Ia berdiri di depan Aluna, menatapnya lurus-lurus.

"Kau sudah ditandai. Oleh orang-orang yang ingin menyentuh aku, dan oleh orang-orangku yang menganggapmu musuh."

"Jadi sekarang apa?" bisik Aluna. "Saya harus ke penjara? Atau mati?"

Davin menyeringai kecil.

"Tidak. Aku tidak bodoh." Ia berbalik, berjalan kembali ke meja. "Kau tidak akan masuk penjara. Tapi kau juga tidak akan kembali ke hidupmu yang lama."

"Maksudnya?"

Davin menatapnya serius.

"Mulai sekarang, kau akan tinggal di sini. Bersama kami. Dalam pengawasan. Sampai kasus ini selesai."

Aluna langsung berdiri.

"Itu penculikan!"

"Tidak. Itu perlindungan. Percaya atau tidak, hidupmu dalam bahaya."

"Saya bisa lapor ke polisi-"

"Silakan." Davin mengangkat bahu. "Tapi setelah itu, siap-siap temukan fotomu tersebar di media, dituduh sebagai kaki tangan pembocor rahasia jaringan bisnis internasional."

Aluna membeku. Rahang bawahnya mengeras.

**"Ini gila..." bisiknya.

"Kau tidak perlu percaya padaku sekarang. Tapi kau akan mengerti nanti."

---

Sore harinya, Aluna dipindahkan ke kamar tamu di lantai dua vila. Kamar itu luas, bersih, dindingnya warna krem dengan jendela menghadap ke taman belakang. Tidak ada jeruji. Tapi juga tidak ada ponsel, laptop, atau akses keluar.

Ia berjalan pelan ke jendela, membuka tirai, lalu menatap keluar. Sekelompok pria berpakaian hitam berdiri di berbagai sudut taman, seolah menjaga sebuah benteng rahasia.

Aluna merasa seperti tawanan perang. Tapi lebih dari itu, ia merasa seperti boneka kecil dalam permainan yang tidak ia pahami.

Ketika malam tiba, suara ketukan terdengar di pintu.

Seorang perempuan masuk-usia sekitar 30-an, mengenakan pakaian pelayan namun dengan raut wajah cerdas. Ia membawa nampan berisi makan malam dan sebuah map kecil.

**"Namaku Kania. Saya ditugaskan menjadi penghubung Anda selama di sini," katanya dengan sopan. "Ini makan malam Anda. Dan ini," ia menyerahkan map, "adalah kontrak perlindungan."

Aluna mengerutkan dahi. Ia membuka map itu. Isinya adalah surat pernyataan bahwa dirinya tinggal di vila atas kemauan sendiri demi keselamatan pribadi. Di akhir halaman, ada tanda tangan Davin. Kolom kosong di bawahnya-milik Aluna.

**"Saya tidak mau tanda tangan," desis Aluna.

Kania tersenyum kecil.

"Saya juga tidak akan memaksa. Tapi besok pagi, jika Anda masih belum tanda tangan, maka seluruh pengacara Pak Davin akan bekerja penuh waktu untuk memastikan Anda yang dijadikan terdakwa utama dalam kebocoran video itu."

Aluna menutup map itu perlahan. Dunia seperti menyempit.

Ia tidak punya pilihan. Tidak punya kuasa. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar merasa tidak punya siapa-siapa.

Bab 3

Di sisi kiri bangunan, ada lapangan helipad kosong, dan taman yang tampak seperti baru saja disiram. Dua penjaga berseragam hitam berdiri di depan pintu utama, wajah mereka tanpa ekspresi, memindai kendaraan dengan tatapan waspada.

Mobil berhenti tepat di depan tangga marmer yang mengarah ke beranda luas. Bram turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Aluna.

"Kita sudah sampai. Jangan coba-coba lari. Di sini semua dinding punya telinga, dan pelurunya tak butuh peringatan," ucap Bram pelan.

Aluna menelan ludah, melangkah keluar dengan kaki lemas. Dia tidak menyangka hidupnya akan berubah drastis hanya dalam semalam. Belum sempat ia mengatur napas, pintu besar di depannya terbuka pelan-seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun, tinggi besar, mengenakan setelan gelap dengan earpiece di telinganya, mempersilakan mereka masuk.

"Lantai dua. Ruang kerja," kata pria itu singkat.

Mereka berjalan melewati lorong dengan pencahayaan temaram dan lukisan-lukisan tua di dinding. Aluna mencuri pandang ke sana-sini. Aroma kayu tua dan parfum maskulin samar memenuhi udara. Setiap langkah yang ia ambil seakan menggaungkan satu pesan: ini bukan tempat untuk orang biasa sepertinya.

Saat mereka tiba di tangga melingkar yang mengarah ke atas, Aluna merasa napasnya mulai tercekat. Apa yang akan dia hadapi di atas sana? Pria seperti apa Davin Elvard Renata itu?

Sesampainya di lantai dua, Bram berhenti di depan sebuah pintu kayu gelap berukiran detail rumit.

"Masuk sendiri. Dia tidak suka didampingi orang luar saat bicara," ucap Bram, lalu meninggalkannya.

Aluna menatap pintu itu, menggenggam ujung seragamnya yang kini terasa terlalu tipis untuk menahan dinginnya ketakutan. Tapi ia tahu, tak ada jalan kembali. Ia mengetuk pelan.

"Masuk."

Suaranya datar. Dalam. Nyaris tak terdengar tapi bergema.

Aluna mendorong pintu perlahan. Ruangan itu luas, dindingnya dipenuhi rak buku dan jendela besar yang menampilkan pemandangan lembah di kejauhan. Di belakang meja kerja kayu besar yang gelap, duduklah pria itu.

Davin Elvard Renata.

Ia mengenakan kemeja hitam tanpa dasi, lengan tergulung sampai siku. Rambutnya hitam pekat, disisir rapi ke belakang, dan mata tajamnya menatap Aluna tanpa berkedip. Luka kecil masih tampak di pelipis kirinya-bekas dari malam yang menjadi awal kekacauan ini.

"Silakan duduk," katanya pelan.

Aluna berjalan pelan ke kursi di seberang meja, duduk dengan punggung tegak meski tubuhnya gemetar.

Beberapa detik hening berlalu. Davin tak mengatakan apa-apa, hanya menatap. Pandangannya bukan sekadar marah, melainkan memindai, menilai, dan mengintimidasi dalam satu waktu.

"Kau tahu kenapa kau ada di sini?"

"Aku tidak membocorkan rekaman itu," jawab Aluna cepat. "Aku bahkan tidak tahu rekaman itu masih aktif. Aku tidak pernah menyentuh komputer malam itu-"

"Ada dua saksi yang melihatmu sendirian di pos resepsionis pukul 00.45," potong Davin. Suaranya tenang, tapi dingin.

"Itu karena semua orang sudah pulang. Tapi aku pergi ke pantry. Aku tidak pernah duduk di depan komputer malam itu!"

"Kau yakin?"

Aluna mengangguk cepat. "Tolong percaya padaku... Tuan Renata. Aku bukan pelakunya. Aku dijebak."

Davin menyandarkan punggung ke kursinya. "Aku tidak percaya pada kebetulan. Seseorang ingin malam itu bocor, dan satu-satunya pintu yang terbuka adalah akunmu."

"Tapi kenapa aku?" Aluna menatapnya penuh ketakutan. "Aku hanya pegawai kecil. Aku bahkan tidak tahu siapa Anda sebenarnya sebelum malam itu."

Davin menyipitkan mata.

"Kau tidak tahu siapa aku?"

"Tidak," jawab Aluna jujur. "Aku baru tahu nama lengkap Anda dari pemberitaan pagi ini."

Keheningan menggantung. Davin bangkit dari kursinya, berjalan pelan mengitari meja. Aluna menegang saat ia berhenti tepat di belakangnya.

"Siapa pun yang menyentuh urusanku tanpa izin... biasanya tidak bisa bicara lagi untuk membela diri," gumamnya dingin. "Tapi kau berbeda. Kau masih hidup. Kau masih di sini. Kenapa, menurutmu?"

Aluna menggigit bibirnya. "Karena Anda... masih butuh penjelasan?"

Tawa kecil terdengar dari balik punggungnya. "Salah. Karena aku ingin tahu... siapa yang berani menyentuh ranah yang paling aku lindungi. Dan untuk tahu itu... aku butuhmu."

Aluna menoleh, bingung. "Maksud Anda?"

Davin berjalan kembali ke mejanya, mengambil sebuah folder dan melemparkannya ke meja.

"Ini laporan penyusupan digital minggu lalu. Lima orang punya motif membocorkan keberadaanku. Tapi hanya satu akses login yang berhasil tembus ke sistem internal hotel. Aksesmu."

Aluna mengambil folder itu dengan tangan gemetar. Ia membaca cepat-nama-nama asing, kode sistem, hingga bukti log. Semuanya mengarah padanya. Tapi justru karena itu, semuanya terasa terlalu mudah.

"Ini... ini terlalu rapi. Seolah-olah dirancang untuk menjatuhkan satu orang."

Davin menatapnya lekat-lekat. "Itu juga yang aku pikirkan."

"Apa... maksud Anda, Anda percaya aku bukan pelakunya?"

"Aku tidak percaya siapa pun sampai terbukti," jawabnya tajam. "Tapi aku juga tidak suka jadi pion dalam permainan orang lain. Kau akan kuberi satu kesempatan."

Aluna menegakkan tubuhnya. "Kesempatan apa?"

"Kau akan tetap bekerja untukku. Tapi bukan sebagai resepsionis. Mulai hari ini, kau pindah ke posisi khusus. Kau akan membantuku menyelidiki siapa yang menjebakmu. Siapa yang menyerangku."

Aluna membeku. "Apa...? Aku... aku bukan penyelidik. Aku tidak punya keahlian apa pun..."

"Justru karena itu. Mereka tidak akan mencurigaimu. Semua orang sudah mengira kau akan dipecat atau dipenjara. Mereka tak akan waspada."

"Apa yang terjadi kalau aku menolak?"

Davin mencondongkan tubuhnya. "Kalau kau menolak, kasus ini akan diteruskan ke polisi. Dengan semua bukti yang ada... kau tahu bagaimana hasilnya."

Aluna meremas sisi rok seragamnya. Jantungnya berdegup makin kencang. Ini seperti dijebak dua kali. Tapi di sisi lain, ini juga satu-satunya jalan untuk membersihkan namanya.

"Baik," bisiknya lirih. "Aku akan lakukan."

Davin menyunggingkan senyum tipis-bukan senyum hangat, tapi senyum penuh perhitungan. "Pintar. Kita mulai malam ini."

---

Aluna diberi kamar di lantai bawah, di sayap bangunan yang tampak jarang digunakan. Kamar itu luas dan mewah-terlalu mewah untuk seorang pegawai hotel. Tapi ia tahu, ini bukan hadiah. Ini pengawasan.

Saat ia membuka lemari, ia menemukan beberapa setel pakaian kerja baru, serta lencana kecil berwarna perak dengan inisial DR. Sebuah ponsel baru diletakkan di atas meja, bersama selembar catatan kecil bertuliskan: "Mulai pukul 19.00. Jangan terlambat. – DR."

Ia terduduk di tepi ranjang, menatap jendela kecil yang mengarah ke taman belakang. Pikiran-pikiran berkecamuk dalam kepalanya.

Siapa yang ingin menjebaknya?

Kenapa?

Dan... siapa sebenarnya Davin Elvard Renata?

Pria itu terlalu tenang untuk seseorang yang hampir dibunuh. Terlalu rapi untuk menjadi korban. Dan terlalu penuh rahasia untuk dipercaya sepenuhnya.

Tapi untuk sekarang, satu hal yang pasti: hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Dan jika ia ingin selamat... ia harus memainkan permainan ini sampai akhir.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED