Pagi itu, mentari Jakarta terasa menyengat, kontras banget sama hati Anjani yang masih dingin ketakutan. Setelah Sakti pergi subuh tadi, Anjani nggak bisa tidur. Dia cuma duduk di dipan kamarnya, memegang jaket kulit Sakti. Jaket ini sekarang jadi satu-satunya jembatan antara dunianya yang sederhana dan dunia Sakti yang penuh intrik.
Menikah siri. Kata-kata itu berputar terus di kepala Anjani. Itu adalah impian terliar, tapi cara mencapainya terasa salah. Sakti kehilangan rumahnya, ancamannya ke Papanya itu pasti bakal ada konsekuensinya. Anjani merasa egois. Dia merasa dirinya adalah penyebab kehancuran Sakti.
"Anjani! Udah bangun? Ada paket buat kamu!" Suara Mbak Rini, salah satu pengurus panti, mengagetkan Anjani.
Anjani cepat-cepat menyembunyikan jaket itu di bawah bantal dan membuka pintu. Di tangannya, Mbak Rini memegang sebuah kotak kardus kecil dan tas belanja kertas mewah.
"Dari siapa, Mbak? Aku nggak pesan apa-apa," tanya Anjani bingung.
"Ada kurir yang bilang ini dari Tuan Sakti. Buruan buka!" Mbak Rini nyengir.
Dengan tangan gemetar, Anjani membuka kotak itu. Di dalamnya ada gaun putih sederhana, anggun, tapi nggak berlebihan. Kainnya jatuh lembut, pas banget buat upacara kecil. Di tas belanja yang lain, ada sepatu flat cantik dan sebuah clutch kecil. Bersama semua itu, terselip selembar surat tulisan tangan Sakti:
Sayang, pakai ini hari ini. Aku sudah atur semuanya. Kamu cuma perlu hadir. Aku jemput jam 4 sore. Aku tahu kamu takut, tapi ini demi kita. Nggak ada kata mundur. Aku cinta kamu. Sampai jumpa.
Air mata Anjani menetes. Nggak peduli seberapa besar tekanan yang Sakti terima, dia masih sempat mikirin detail kecil ini. Gaun ini, bukan gaun pengantin mewah dari desainer mahal, tapi gaun ini terasa lebih bernilai karena dikirim dari hati Sakti yang sedang berjuang sendirian.
Siang itu, Anjani menghabiskan waktu dengan merenung, berdoa, dan bicara dengan beberapa anak panti yang dia asuh. Dia nggak menceritakan apa-apa, tapi sentuhan tangan anak-anak itu memberinya kekuatan. Mereka adalah alasan kenapa panti asuhan ini harus aman, dan kalau pernikahannya dengan Sakti adalah cara untuk memastikan perlindungan itu, dia akan melakukannya. Dia akan berdiri tegak di samping Sakti.
Sementara itu, di sebuah kafe tersembunyi jauh dari pusat kota, Sakti duduk tegang di hadapan sahabatnya, Rio. Rio adalah satu-satunya orang yang tahu seluruh cerita. Dia seorang pengacara muda, cerdas, dan yang paling penting, punya kesetiaan yang nggak bisa dibeli uang Hardian Valentino.
"Gila, Sakti. Kamu benar-benar nekat," ujar Rio sambil menyeruput kopinya. "Dalam 12 jam, kamu berhadapan dengan Ayahmu, diusir, dan sekarang kamu mau nikah siri? Aku salut sama nyali kamu."
Sakti nggak tertawa. "Nggak ada pilihan, Yo. Begitu aku keluar dari rumah itu, aku tahu Papaku akan bergerak. Kalau aku nggak ikat Anjani, dia akan cari cara buat memisahkan kami secara paksa. Bahkan mungkin buat Anjani terancam."
"Oke, aku ngerti. Makanya aku sudah siapin semuanya. Aku sudah kontak penghulu dan dua saksi yang benar-benar bisa dipercaya. Tempatnya di rumah Eyangku di Bogor. Kosong, terpencil, dan aman dari radar siapa pun."
"Aman dari radar Papaku?" tanya Sakti memastikan.
"Sangat aman. Hardian Valentino nggak akan pernah menyangka kamu kabur ke Bogor. Dia pasti mikir kamu sembunyi di Bali atau ke luar negeri." Rio menunjukkan dokumen singkat. "Ini perjanjian pranikah sederhana. Jaga-jaga kalau Hardian menyerang dari sisi hukum. Aku tekankan, kamu nggak punya aset, dan Anjani nggak menuntut aset apa pun. Jadi nggak ada yang bisa dia gugat."
Sakti tersenyum tipis. "Makasih, Yo. Kamu benar-benar malaikat pelindungku."
"Malaikat pelindung yang akan dimusuhi Hardian seumur hidup," canda Rio, tapi kemudian ekspresinya berubah serius. "Dengar, Sakti. Begitu kamu nikah siri, ini nggak bisa dibatalkan seenaknya. Kamu resmi jadi suami Anjani di mata agama. Kamu siap dengan semua tanggung jawab ini? Kamu udah kehilangan segalanya lho."
Sakti menatap keluar jendela. Hujan mulai turun rintik-rintik. "Aku memang kehilangan uang, rumah, dan status. Tapi aku nggak kehilangan diriku, Yo. Dan aku dapat Anjani. Itu lebih dari cukup."
"Kalau begitu, bagus. Sekarang, fokus. Jam 4 sore kita jemput Anjani, jam 6 upacara, jam 7 kamu bisa bulan madu sederhana di rumah Eyang. Aku akan jaga pintu gerbang di Jakarta. Aku cuma butuh satu hal, janji sama aku: begitu kakek kamu membaik, kamu harus cari cara untuk mengakui Anjani. Jangan biarin dia terus-terusan jadi istri yang tersembunyi."
"Aku janji, Rio."
Tepat pukul 4 sore, Sakti menjemput Anjani. Dia nggak datang dengan mobil sport mewahnya yang biasa, tapi dengan mobil Rio yang nggak mencolok. Sakti terlihat berbeda. Bajunya sederhana, tapi matanya memancarkan ketenangan.
Anjani sudah siap. Melihat Anjani dalam balutan gaun putih itu, semua keraguan Sakti hilang. Dia cantik, murni, dan benar-benar tak ternilai harganya.
"Hai, calon istriku," sapa Sakti lembut, meraih tangan Anjani.
"Hai, calon suamiku," balas Anjani, pipinya bersemu merah.
Mereka berdua naik ke mobil, dan Rio langsung mengemudi menuju Bogor. Perjalanan itu diisi dengan obrolan ringan, tapi di balik tawa kecil mereka, ada ketegangan yang menggantung. Mereka tahu, mereka sedang mempertaruhkan semua yang mereka punya.
Pukul enam kurang lima menit, mereka tiba di rumah Eyang Rio. Sebuah rumah kayu bergaya lama yang dikelilingi kebun rindang. Rumah itu terasa hangat dan jauh dari hiruk pikuk kota.
Di teras, penghulu dan dua saksi sudah menunggu. Semuanya berlangsung cepat, khidmat, dan penuh haru. Nggak ada kemewahan, nggak ada pesta besar, cuma janji suci yang disaksikan oleh Tuhan dan beberapa orang terpercaya.
Saat Sakti mengucapkan ijab kabul, suaranya mantap dan jelas. Anjani menangis, bukan karena sedih, tapi karena rasa syukur yang meluap-luap. Di tengah semua ancaman dan tekanan, dia kini resmi menjadi istri dari pria yang sangat dicintainya. Mereka sudah melalui garis api pertama.
Setelah upacara selesai, Anjani dan Sakti bertukar cincin sederhana yang dibeli Sakti di pinggir jalan. Cincin perak tanpa berlian, tapi bagi mereka, ini lebih berharga daripada cincin warisan keluarga Valentino.
"Selamat, Nyonya Sakti Valentino," bisik Sakti, mencium kening Anjani lama.
Anjani memeluknya erat-erat. "Terima kasih sudah memilih aku, Sakti."
Mereka berdua duduk di kursi rotan di teras, menikmati sisa cahaya senja yang merayap turun. Rio dan para saksi sudah pamit, meninggalkan mereka berdua untuk menikmati momen pertama sebagai suami istri.
Sakti merasa lega. Beban seberat gunung di pundaknya seolah terangkat. Mereka berhasil. Mereka menang. Setidaknya, untuk malam ini.
Tiba-tiba, ponsel Sakti yang diletakkan di meja bergetar hebat. Nomor yang sama seperti semalam: Ayahnya.
Sakti menghela napas. "Pasti dia mau marah lagi. Aku abaikan saja."
"Angkat, Sakti. Siapa tahu penting. Jangan biarkan dia berpikir dia menang dengan mengabaikanmu," desak Anjani.
Sakti mengangguk, mengambil ponselnya dengan enggan. "Ya, Pa?"
Nggak ada amarah di seberang sana. Yang ada cuma suara yang tercekat, nyaris menangis-suara yang nggak pernah Sakti dengar dari Ayahnya seumur hidupnya.
"Sakti! Kakek... Kakek kolaps lagi! Lebih parah dari kemarin. Dia di ICU sekarang! Datang ke Rumah Sakit Medika Sentosa!"
Jantung Sakti langsung berdebar kencang. Dia melompat berdiri, wajahnya tegang. "Kenapa bisa? Bukannya dia stabil?"
"Jantungnya melemah drastis! Dokter bilang dia cuma punya waktu kurang dari 24 jam kalau nggak ada transplantasi segera. Sakti! Kakek..." Suara Hardian putus-putus.
"Aku ke sana sekarang!" Sakti memutus panggilan, langsung meraih kunci mobil.
"Ada apa? Kenapa Kakek?" tanya Anjani, ikut berdiri, matanya penuh kekhawatiran.
"Kakek kolaps. Aku harus pergi, Anjani. Aku minta maaf. Ini... ini nggak bisa ditunda. Tolong, kamu aman di sini. Aku akan segera kembali."
Sakti baru mau berlari ke mobil saat ponselnya bergetar lagi. Kali ini, pesan teks dari Ayahnya:
Jangan bodoh. Aku tahu kamu nikah siri. Urusan itu belakangan. Kakekmu butuh donor jantung. Tiba-tiba ada donor. Tapi ada syarat. Datang ke rumah sakit sekarang! Nyawa Kakekmu di tanganmu!
Sakti membeku di tempatnya. Donor tiba-tiba? Syarat? Ayahnya pasti tahu tentang pernikahannya, tapi kenapa dia nggak marah? Kenapa dia malah fokus ke kakek?
Sakti mengemudi secepat kilat. Dia meninggalkan Anjani sendirian, di malam pertama mereka sebagai suami istri, dengan sebuah janji yang baru saja terukir dan sebuah ancaman baru yang bahkan lebih mengerikan.
Rumah Sakit Medika Sentosa, lantai VIP. Hardian dan Ibu Diana duduk di kursi tunggu, wajah mereka tampak kacau dan rapuh. Untuk pertama kalinya, Sakti melihat Papanya nggak seperti CEO perusahaan besar, tapi cuma seorang anak yang takut kehilangan ayahnya.
"Pa! Bagaimana Kakek?" tanya Sakti, napasnya tersengal.
"Dokter sedang berusaha menstabilkannya. Tapi dia harus segera dioperasi, Sakti. Jantungnya nggak kuat lagi." Hardian menarik Sakti ke samping, suaranya pelan dan mendesak.
"Apa maksud pesan itu, Pa? Donor apa? Syarat apa?"
Wajah Hardian mengeras, kembali pada wujud aslinya yang keras. "Kamu tahu Tuan Wijaya? Sahabat Kakekmu yang dulu partner bisnis kita?"
Sakti mengangguk. "Tahu. Beliau baru meninggal, kan?"
"Tuan Wijaya sudah mendaftarkan diri sebagai pendonor organ sejak lama. Ternyata, jantung beliau cocok. Tapi sebelum meninggal, beliau buat surat wasiat dengan syarat yang nggak masuk akal." Hardian menatap Sakti tajam. "Transplantasi ini cuma bisa dilakukan kalau kamu menikahi cucunya, Sakti. Gadis yang bernama Mala."
Dunia Sakti langsung berhenti berputar. Mala. Gadis yang dia kenal sejak kecil, yang sering bermain dengannya di rumah Kakeknya. Gadis yang selalu dia anggap seperti adiknya sendiri. Sekarang dia harus menikahi Mala?
"Apa-apaan ini, Pa?! Ini gila! Kenapa harus aku?" Sakti nggak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Karena itu wasiatnya! Tuan Wijaya tahu kamu cucu kesayangan Kakekmu. Dia bilang, dia ingin memastikan cucunya punya masa depan yang aman dengan keluarga Valentino. Dia nggak percaya uang, dia percaya ikatan keluarga!" Hardian mencengkeram bahu Sakti. "Ini bukan lagi soal bisnis, Sakti. Ini tentang nyawa Kakekmu! Jantung itu ada di sini, siap digunakan! Tapi kalau kamu bilang nggak, kita kehilangan kesempatan ini. Kakekmu akan meninggal besok!"
Sakti merasa mual. Baru beberapa jam lalu dia menikahi Anjani, berjanji untuk menjadikannya satu-satunya. Sekarang, Ayahnya memaksanya melanggar janji itu demi nyawa Kakek.
"Aku nggak bisa, Pa! Aku nggak bisa menikahi Mala! Aku sudah menikah!" desis Sakti.
"Aku tahu kamu nikah siri dengan gadis panti asuhanmu itu!" Hardian berbisik, matanya menajam, penuh ancaman. "Aku tahu kamu pikir kamu menang. Tapi kamu salah. Aku nggak membatalkan donasi panti asuhan itu, bukan karena ancamanmu soal rahasia bisnis. Aku nggak mau tanganmu kosong saat menghadapi situasi ini, Sakti. Kamu harus punya sesuatu yang bisa aku rebut darimu."
Hardian mendekatkan wajahnya ke telinga Sakti. "Kalau kamu menolak menikahi Mala, besok pagi Kakekmu meninggal. Dan setelah itu, aku akan pastikan gadis panti asuhanmu itu, si Anjani, akan hilang dari muka bumi ini. Aku akan buat dia seolah nggak pernah ada. Kamu pilih, Sakti. Nyawa Kakekmu, atau keselamatan istrimu. Kamu harus jadi suami Mala, atau kamu akan jadi duda yang nggak punya Kakek."
Ancaman itu adalah pukulan telak. Sakti nggak cuma harus memilih antara Kakek dan Anjani. Dia harus memilih antara nyawa Kakeknya dan keselamatan Anjani. Hardian nggak main-main. Dia akan menggunakan segala cara.
Sakti memejamkan mata, membiarkan sakit itu menyebar di dadanya. Dia baru saja bersumpah setia. Kini, sumpah itu harus dikhianati dalam hitungan jam.
"Baik, Pa," kata Sakti, suaranya hampa. "Aku akan menikahi Mala. Tapi ingat, ini bukan pernikahan. Ini adalah perjanjian darah demi Kakek. Dan kamu janji, Anjani akan aman."
Hardian tersenyum dingin. "Dia akan aman, selama kamu menjalankan peranmu dengan baik, Sakti. Sekarang, ayo kita temui Mala dan keluarganya. Malam ini juga kita harus sepakati tanggal pernikahan. Besok, Kakekmu harus dioperasi."
Sakti mengikuti langkah ayahnya, berjalan menuju ruang tunggu lain. Gaun putih Anjani, janji suci yang baru terucap, dan ciuman di bawah senja, semuanya terasa seperti mimpi yang baru saja dia hancurkan sendiri. Malam pertama pernikahannya, dia memilih istri kedua, demi nyawa dan keselamatan.
Langkah Sakti terasa berat, kayak menapaki dasar lautan. Koridor rumah sakit yang dingin dan beraroma antiseptik itu seolah jadi panggung sandiwara paling menyedihkan. Baru beberapa jam lalu dia resmi jadi suami Anjani, sekarang dia dipaksa untuk 'melamar' perempuan lain, demi nyawa dan keselamatan.
Ayahnya, Hardian, berjalan mendahului dengan langkah penuh kemenangan yang tersembunyi di balik kekhawatiran palsu. Hardian tahu, dia sudah menang. Dia berhasil menemukan titik lemah Sakti: Kakek dan Anjani.
Mereka tiba di ruang tunggu VIP lain. Di sana sudah duduk dua orang: paman Mala, Tuan Dharma, dan Mala sendiri. Mala. Gadis yang selalu Sakti anggap adiknya. Mala terlihat rapuh dalam balutan gaun hitam sederhana, matanya sembab karena baru kehilangan kakeknya, Tuan Wijaya.
Melihat Sakti, Mala langsung berdiri. Senyum tipis yang dipaksakan terukir di wajahnya. "Sakti? Aku nggak nyangka kamu datang."
Sakti membalas senyum itu, senyum palsu yang terasa kayak mengiris bibirnya sendiri. Dia menyalami Tuan Dharma, yang terlihat letih dan penuh kesedihan.
"Tuan Dharma, saya ikut berduka atas kepergian Tuan Wijaya," ujar Sakti, nadanya tulus.
"Terima kasih, Sakti. Kami sangat menghargai kehadiranmu. Terutama dalam situasi Kakekmu sekarang ini," balas Tuan Dharma, suaranya pelan.
Hardian langsung mengambil alih kendali, duduk di sofa terdekat seolah dia adalah hakim agung. "Baik, karena waktu kita sangat sempit, kita langsung saja ke intinya. Tuan Wijaya adalah sahabat lama Ayah saya. Wasiatnya harus kita hormati. Kita di sini bukan untuk merundingkan bisnis, tapi merundingkan nyawa. Nyawa Kakek saya, dan harga diri keluarga Anda, Tuan Dharma."
Hardian menoleh ke Sakti. "Sakti, jelaskan rencanamu pada mereka. Kamu harus meyakinkan Tuan Dharma bahwa kamu serius menjalankan wasiat Tuan Wijaya."
Sakti menelan ludah. Ini adalah bagian yang paling sulit. Dia harus berakting, meyakinkan orang-orang yang dia hormati bahwa dia mencintai Mala, padahal hatinya remuk redam memikirkan Anjani yang ditinggal sendirian di Bogor.
"Mala... Tuan Dharma," Sakti mulai bicara, berusaha menahan getaran di suaranya. "Aku nggak bisa bohong, situasi ini sangat mendadak. Tapi aku kenal Mala sejak lama. Kami tumbuh bersama. Kakekku... dia sudah seperti segalanya bagiku. Kalau memang ini satu-satunya syarat agar Kakekku bisa selamat, aku akan melakukannya. Aku akan menikahi Mala."
Mala menatap Sakti, matanya penuh tanda tanya. Dia tahu betul Sakti nggak pernah menunjukkan ketertarikan romantis padanya. Mereka benar-benar murni seperti kakak dan adik.
"Sakti, aku... aku kaget. Kita, kan, sudah kayak keluarga. Apa... apa kamu yakin?" tanya Mala, suaranya ragu.
Sakti memaksakan senyum yang lebih lebar. "Aku yakin, Mala. Aku ingin Kakekku hidup. Dan aku juga ingin melihat kamu bahagia. Mungkin ini cara Tuhan menyatukan kami setelah semua yang terjadi." Astaga, aku terdengar kayak aktor murahan, batin Sakti benci pada dirinya sendiri.
Tuan Dharma terlihat lega, tapi juga sedikit curiga. Dia melirik Hardian, lalu kembali ke Sakti. "Baik, Sakti. Kami menghargai pengakuanmu. Kami tahu kamu berasal dari lingkungan yang berbeda. Tapi Mala adalah harta terakhir yang ditinggalkan Wijaya. Kami mau pernikahan ini dilakukan secara resmi dan terbuka. Tidak ada yang ditutup-tutupi."
"Tentu saja!" seru Hardian cepat. "Kami sudah menyiapkan segalanya. Pernikahan akan dilangsungkan besok lusa. Cepat, tapi megah. Kami akan menggunakan Balai Agung. Sakti akan mengurus semua dokumen. Setelah itu, Kakek bisa dioperasi."
Sakti memotong. "Tunggu, Pa. Besok lusa? Itu terlalu cepat."
"Nggak ada kata terlalu cepat, Sakti! Kakekmu nggak punya waktu!" desis Hardian, matanya memperingatkan Sakti untuk nggak membantah.
Sakti tahu dia harus mundur dari perdebatan waktu. Tapi ada satu hal yang nggak bisa dia kompromikan. Dia menatap Mala lurus-lurus.
"Mala, Tuan Dharma. Ada satu hal yang harus aku jelaskan, ini tentang perjanjian kita," kata Sakti, mencoba mencari kata yang tepat. Dia nggak bisa melibatkan Mala dalam kebohongan.
"Perjanjian apa, Nak?" tanya Tuan Dharma.
Sakti menarik napas. "Pernikahan ini... aku ingin menjamin bahwa Mala akan mendapatkan perlindungan dan keamanan penuh dari keluarga Valentino. Aku akan menjaganya, menghormatinya. Tapi aku juga harus jujur. Aku minta maaf, Mala. Aku nggak bisa menjanjikan hati aku seutuhnya. Paling nggak, nggak untuk saat ini."
Mala terkejut. Tuan Dharma mendengus nggak senang, sementara Hardian langsung menyela.
"Sakti! Jangan bicara omong kosong! Tentu saja kalian akan saling mencintai setelah menikah!" Hardian mencoba menutupi kejujuran Sakti.
"Nggak, Pa. Biarkan aku bicara," potong Sakti tegas. Dia menatap Mala lagi. "Mala, aku butuh kamu untuk peran ini. Setelah Kakekku pulih, kalau kamu mau, kita bisa menyelesaikan ini secara baik-baik, dengan perceraian. Tapi selama kita menikah, aku akan memberimu semua yang kamu butuhkan, kecuali... ya, kamu tahu. Kehidupan pernikahan yang normal. Aku harap kamu mengerti."
Mala, yang tadinya menunduk, mengangkat wajahnya. Di matanya nggak ada marah, cuma kesedihan yang mendalam. Dia mengangguk perlahan. "Aku mengerti, Sakti. Aku tahu kamu cuma ingin Kakekmu selamat. Aku akan menikahimu. Aku... aku hanya ingin Kakekku (Tuan Wijaya) tenang, dan kamu nggak perlu khawatir. Aku akan jalankan peran ini. Tapi sebagai imbalannya, aku mau kamu janji, kamu akan selalu terbuka tentang apa pun yang kamu rasakan, Sakti. Jangan pernah bohong padaku."
Sakti merasa tertampar oleh kemurahan hati Mala. Dia baru saja berbohong tentang perasaannya, tapi Mala memintanya untuk jujur. "Aku janji, Mala. Aku akan berusaha jujur sebisaku."
Tuan Dharma, walau nggak sepenuhnya puas, akhirnya mengangguk. "Baik. Kalau Mala sudah setuju, kami setuju. Besok lusa, di Balai Agung. Tapi ingat, Valentino. Kalian nggak bisa main-main dengan pernikahan ini."
Hardian tersenyum lebar. "Sempurna. Aku akan urus surat-suratnya. Sakti, kamu temui Kakek sebentar. Setelah itu, kamu pulang, dan jangan sampai aku lihat kamu berkeliaran di dekat panti asuhan itu lagi. Paham?"
Sakti nggak menjawab, dia cuma mengangguk kaku.
Sakti masuk ke ruang ICU. Kakeknya terbaring lemah, penuh selang dan kabel. Melihat Kakeknya dalam kondisi itu, semua rasa benci pada Ayahnya, semua rasa bersalah pada Anjani, seolah teredam oleh rasa takut kehilangan.
Sakti meraih tangan Kakeknya yang dingin. "Kakek, ini Sakti. Aku janji, Kakek akan baik-baik saja. Aku akan lakukan apa pun. Besok lusa, jantung baru Kakek akan ada di sini. Aku sudah urus semuanya, Kek. Kakek harus kuat, ya. Aku cinta Kakek."
Dia mencium tangan Kakeknya, air matanya menetes. Ini adalah pengorbanan terbesarnya. Dia baru saja menjual kebahagiaannya sendiri demi menyelamatkan orang yang dia cintai.
Setelah menemui Kakeknya, Sakti meninggalkan rumah sakit. Hardian sudah menyiapkan sebuah flat kecil di pusat kota untuk Sakti tinggali sampai pernikahan dengan Mala. Semacam pembuangan yang nyaman.
Sakti mengemudi menuju flat itu, tapi mobilnya secara refleks berbelok ke arah Bogor. Dia nggak tahan. Dia harus melihat Anjani. Dia harus minta maaf, meskipun dia nggak bisa menjelaskan apa-apa.
Sakti tiba di rumah Eyang Rio pukul 10 malam. Lampu di teras masih menyala. Anjani, yang ternyata nggak tidur, langsung berlari ke arahnya begitu melihat mobil Sakti.
"Sakti! Kenapa baru datang? Aku khawatir banget! Bagaimana Kakekmu?" Anjani langsung memeluk Sakti, erat, penuh lega.
Sakti membalas pelukannya, tapi pelukan itu terasa seperti siksaan. Baru beberapa jam lalu dia memeluk gadis ini sebagai istri, sekarang dia datang sebagai calon suami orang lain.
"Kakek... Kakek stabil. Dia akan dioperasi besok lusa," jawab Sakti, berusaha menjaga suaranya agar nggak bergetar.
"Syukurlah! Aku terus berdoa buat Kakekmu. Jadi, syukurlah operasinya bisa berjalan," kata Anjani, matanya bersinar.
"Anjani, aku... aku harus jujur sama kamu soal satu hal," ujar Sakti, menjauhkan Anjani sedikit agar bisa menatap matanya.
Anjani mengerutkan kening. "Jujur apa, Sakti?"
Ini dia. Momen yang paling dia takuti. Dia harus membuat Anjani menjauh, tapi dia nggak boleh menyebut nama Mala atau pernikahan kedua. Dia harus melindungi Anjani.
"Anjani, tentang operasi Kakek. Papaku... Papaku menggunakan momen ini untuk menyerangku. Dia tahu kita nikah siri. Dia tahu dia nggak bisa membatalkan itu. Tapi dia punya satu kartu truf lagi." Sakti menatap Anjani dengan tatapan penuh keputusasaan. "Dia bilang, dia akan mencelakai kamu. Dia nggak akan membatalkan donasi panti, tapi dia akan menggunakan kekuatannya untuk membuat hidup kamu... nggak nyaman. Ancaman yang jauh lebih pribadi."
Anjani pucat. "Mencelakai aku? Kenapa dia begitu jahat?"
"Dia tahu kamu adalah kelemahanku. Dan dia membuat kesepakatan denganku. Aku harus menjauh dari kamu, menunjukkan bahwa aku sudah 'menyerah' pada tuntutan keluarga, dan berjanji akan menjalani hidup yang dia mau." Sakti berbohong, memutarbalikkan fakta. Dia membuang bagian Mala dan wasiat, dan menggantinya dengan kebohongan yang lebih aman.
"Menjalani hidup yang dia mau? Maksudnya... menikahi Tifany?" tanya Anjani, suaranya tercekat.
Sakti menggeleng cepat. "Nggak, aku nggak akan menikahi Tifany. Aku nggak pernah setuju dengan itu. Tapi aku harus... aku harus pindah. Aku harus putus komunikasi dengan kamu secara total untuk sementara waktu. Paling nggak, sampai Kakek pulih dan aku bisa mendapatkan pijakan sendiri untuk melawannya."
Anjani menggelengkan kepalanya, air mata mulai mengalir. "Nggak... nggak mungkin, Sakti. Baru beberapa jam lalu kita menikah! Kamu bilang kita akan hadapi bersama!"
"Kita hadapi ini dengan cara ini! Ini adalah taktikku! Kalau Papaku melihat kita berjuang bersama, dia akan semakin keras menyerang! Kalau dia melihat aku 'menyerah', kalau dia melihat aku 'sendirian', dia akan mengendurkan pengawasan. Itu adalah satu-satunya cara untuk menjamin keselamatan kamu, Anjani. Aku nggak peduli kehilangan uang, tapi aku nggak akan membiarkan dia menyentuh sehelai rambut pun di kepala kamu."
Sakti meraih tangan Anjani, meletakkan cincin perak mereka di telapak tangannya. "Simpan ini. Jangan pakai. Jangan kontak aku. Kalau kamu dengar rumor apa pun tentang aku, anggap itu kebohongan yang sengaja dibuat Papaku untuk menekan aku."
Anjani terisak, memeluk Sakti seerat mungkin, seolah itu adalah pelukan terakhir mereka. Dia nggak tahu, di balik pelukan itu, Sakti sudah menancapkan pisau pengkhianatan di punggung mereka berdua.
"Berapa lama, Sakti? Sampai kapan aku harus pura-pura kamu nggak ada?" bisik Anjani di bahu Sakti.
Sakti memejamkan mata. Dia nggak bisa bilang 'sehari' atau 'seminggu'. Karena pernikahan dengan Mala akan berlangsung besok lusa.
"Sampai Kakekku pulih total. Mungkin sebulan. Mungkin dua bulan. Begitu aku bebas dari ancaman Papa, aku akan datang menjemput kamu. Kita akan kabur ke tempat yang nggak akan pernah bisa dia temukan," janji Sakti, janji palsu yang dia ucapkan demi keselamatan Anjani.
Anjani akhirnya melepaskan pelukan itu, air matanya membanjiri pipi. "Aku percaya sama kamu, Sakti. Tapi kalau kamu sampai... kalau kamu sampai benar-benar menikahi perempuan lain, aku nggak akan pernah memaafkan kamu."
Sakti nggak sanggup menatap mata Anjani. Dia cuma bisa mencium keningnya, lama, penuh penyesalan. Dia tahu dia sudah menjadi pengkhianat, tapi dia harus meyakinkan Anjani bahwa ini demi kebaikan mereka.
"Jaga diri, Anjani. Aku cinta kamu. Sampai bertemu lagi."
Sakti berbalik, berlari ke mobil, nggak berani menoleh lagi. Dia nggak bisa membiarkan Anjani melihat betapa hancurnya dia. Dia meninggalkan Anjani sendirian, menangis, dengan janji kosong dan sebuah cincin perak di genggamannya.
Saat mobil Sakti menjauh, Anjani berdiri di sana, di bawah rembulan, hati terbelah. Dia percaya pada Sakti, tapi dia nggak bisa menghilangkan firasat buruk yang menggerogoti. Firasat bahwa pengorbanan kali ini jauh lebih besar dan lebih menyakitkan daripada yang Sakti jelaskan.
Sementara itu, Sakti mengemudi kembali ke flat barunya, memukul setir berulang kali. Dia membenci Hardian. Tapi yang paling dia benci adalah dirinya sendiri, yang sudah menjadi pengecut dan pembohong. Besok lusa, dia akan menjadi suami dari dua wanita. Satu di mata Tuhan, satu di mata dunia. Dan dia tahu, badai yang sesungguhnya belum dimulai. Malam itu, Sakti tidur dengan rasa bersalah yang menusuk, seorang suami yang baru menikah tapi sudah mengkhianati janji sucinya.