Bab 1

JAKARTA | INDONESIA| JAM 11 MALAM.

Gadis bermanik amber mendengkus kesal. Pasalnya dia sedang terburu-buru pulang, tetapi taksi yang ditumpanginya justru mogok. Gadis itu takut dimarahi oleh sang paman, karna pulang terlalu malam.

Grazella Elnara Wesley itu namanya, gadis dengan wajah penuh jerawat, dan berkacamata bundar itu, baru saja pulang dari rumah sakit. Dia harus menjaga adik tunggalnya, Giorgino Austin Wesley. Sang adik masih berusia 7 tahun.

Gio mengalami kelainan jantung, dan harus senantiasa, dirawat di rumah sakit. Kedua orang tua mereka, sudah meninggal 5 tahun yang lalu, karena kecelakaan.

Grazella nekat mengambil jalur cepat, dan melewati gang sempit yang gelap. Gadis itu sudah tidak tahan, menahan nyeri di bagian payudaranya. Karena seharian ini dia lupa memompa asi. Alhasil dadanya sangat besar dan kram.

Yah ... gadis berusia 20 tahun tersebut mengidap 'Galaktorea' kondisi di mana, tubuhnya kelebihan hormon, yang membuatnya bisa menghasilkan ASI. Masa bodoh, dengan desas-desus ada penunggu di sana. Gadis itu terus melangkah masuk.

Baru juga beberapa langkah, sayup-sayup Grazella mendengar ada suara erangan, kakinya sudah bergetar tak menentu. Gadis itu ingin berbalik dan berlari, tetapi kakinya justru lancang melangkah maju mengikuti suara tersebut.

Grazella berusaha mengambil ponselnya, karena gang itu sangat gelap, ditambah suara rintik hujan, menambah kesan horor.

"Aakkhhh!" Gadis itu tersandung sesuatu, dan terjatuh cantik di aspal.

"Sial. Apa'an sih, tadi?" Grazella mencari ponselnya yang terjatuh.

DEG!

"Aarrgggh!" Mata Grazella membola sempurna, saat menyinari benda yang membuatnya terjatuh. Di sana seorang pria tergeletak dengan badan penuh darah, dan wajah yang sudah babak belur, tangan gadis itu terlihat bergetar.

Grazella mendekati pria itu, dan menjadikan pahanya sebagai bantalan. Dia berucap dengan nada bergetar. "Ak-u harus bagaimana?"

Beberapa detik kemudian, mata pria itu perlahan terbuka. Grazella langsung menyambutnya dengan berbagai pertanyaan. "Kamu kenapa? Siapa yang melakukan ini?" Gadis itu memegang wajah sang pria, dan meneliti setiap lukanya.

Pria itu hanya diam, memperhatikan manik gadis di depannya ini.

"Bellissimo," ucapnya lemah.

'cantik,'

Setelah mengatakan itu, sang pria menutup matanya kembali.

"Aku tidak bisa mendengarmu, bisa lebih keras lagi." Grazella menggoyangkan badan sang pria.

Gadis itu terlihat khawatir. "Aduh ... berpikirlah, El. Kenapa otakmu jadi bodoh begini, sih!"

"Aduh, Om, Paman, atau siapa pun dirimu, ayo bangun donk! Jangan mati dulu! Nanti aku yang kena imbasnya! Lagian, kenapa kamu malah meninggalkan jejak di tubuhnya, El?"

Grazella menoleh ke kanan dan kiri. "Tidak ada orang lagi. Aduh, bagaimana ini? Ah, ya, nomor darurat!" Gadis itu segera mendial nomor 112 di ponselnya.

• • •

Mobil ambulans melaju dengan cepat, pria itu terlihat membuka matanya kembali. Dia melihat lekat wajah Grazella yang sedang fokus menghadap ke depan. Ponsel gadis itu terlihat bergetar. Dengan cepat, Grazella segera menggeser tanda hijau.

"Iya, kak Dicky kenapa, ya? Apa? Bagaimana bisa kak? Bukankah tadi Gio, baik baik saja? I- iya, aku segera ke sana sekarang." Grazella segera mematikan ponsel itu.

"Pak, kit-a mau ke rumah sakit mana, ya?" tanyanya dengan suara bergetar.

"Mutiara Kasih, dek," jawab supir ambulans dengan cepat.

"Pak, lebih cepat lagi, ya pak." Gadis itu sangat khawatir dengan sang adik.

Beberapa saat kemudian, ambulans telah sampai, di depan loby rumah sakit. Grazella segera turun, saat akan pergi tangannya dicekal, oleh pria yang ia tolong. Grazella langsung menghempaskan tangan itu, dan segera pergi ke ruang inap adiknya. Pria itu menggeram kesal.

"Kamu tidak bisa lari dariku, baby girl! Mulai sekarang, kamu milikku!" batinnya dengan senyum menyeringai.

• • •

Grazella memegang tangan Gio dengan erat, dia merasa bersalah telah meninggalkan adiknya sendirian.

Satu panggilan masuk terdengar di ponsel sang gadis.

Grazella menghela napas kasar, pasti sang Aunty akan marah besar, karena dia tidak pulang. Grazella memilih mengabaikan panggilan itu.

Sudah 3 hari Grazella tidak berangkat kuliah, dia fokus untuk mengurus Gio, dia juga bolak-balik ke rumah, dan rumah sakit. Seperti saat itu, Grazella sedang menyiapkan makan malam untuk keluarga pamannya.

"Aunty, setelah ini aku akan ke rumah sakit, besok pagi aku datang lagi," ucap Grazella dengan lembah lembut.

"H'm!" jawab sang paruh baya dengan ketus. Grazella melangkah pergi, dan akan memakan makanannya di dapur.

Nyatanya selama hampir 5 tahun lalu, pasca kematian kedua orang tuanya, hidup Grazella bagaikan pembantu, di rumahnya sendiri. Beruntung pamannya sedikit mempunyai belas kasih. Saat Grazella menerima hukuman, karena tidak becus bekerja, pamannya diam-diam memberi Grazella makanan.

Perusahaan keluarganya, juga diambil alih oleh pamannya. Gadis itu tidak keberatan, karena dia juga tidak tau menahu masalah perusahaan. Grazella hanya fokus untuk menyembuhkan sang adik.

Saat akan makan, suara bagai mutiara kembali menyambut telinganya. "Grazella! Sini kamu! Dasar anak sialan!" teriak paruh baya tersebut.

Gadis itu dengan langkah cepat, segera melangkah menuju sang Aunty. "Iya, Aunty, kenapa?" tanya Grazella.

Bukannya dijawab, satu tamparan keras, mengenai wajahnya.

"Kamu mau meracuni kami, hah?" teriaknya dengan nada menggelegar.

"Maksud Aunty?" tanya Grazella kebingungan.

"Cicipi udang itu, cepat!" bentak paruh baya tersebut.

"Ma-af aunty, tapi aku aler–gi udang, makanya aku tidak mencicipinya tadi."

Satu tamparan, kembali mendarat di wajah penuh jerawatnya.

"Saya tidak peduli! Kamu mau alergi, atau tidak! Bella mau makan udang, dan kamu masaknya asin begini! Kamu mau meracuni anakku, hah! Dasar pembawa sial!"

Gadis itu menunduk, dan meremas bajunya, dia sangat lelah. Kenapa hidupnya sangat melelahkan, disaat semua gadis menikmati hidup, dan berkutik dengan make up, kenapa dirinya justru hidup melelahkan seperti ini.

Itulah satu alasan wajahnya jelek, Grazella tidak punya waktu untuk mengurus diri.

Jangankan untuk membeli skincare, untuk membeli baju saja dia harus berhemat, mungkin jika Bella sedang baik, dia bisa minta baju lengseran.

Dulu hidupnya bak putri ratu, tapi setelah orang tuanya meninggal, Grazella langsung berubah menjadi babu di rumahnya sendiri sungguh tragis.

RUMAH SAKIT MUTIARA KASIH

Pria dengan setelan serba hitam, terlihat menghampiri seseorang. Dia membungkukkan badannya, memberi hormat. "Tuan, Anda sudah diperbolehkan pulang. Apa kita terbang hari ini, saja?"

Pria yang sedang berbaring, di brangkar tersebut mendelik tajam. "Dimana gadisku! Jangan pernah berpikir kembali, sebelum menemukannya!" Anak buahnya, langsung memberikan sebuah map coklat.

Pria itu segera membukanya, dan terlihat sebuah lengkungan dibibir manisnya. "Grazella Elnara Wesley ... nama yang cantik. Apa ada lagi, yang mau kau sampaikan, Wil?" ucapnya dengan membuka berkas itu.

"Nona, mempunyai seorang adik, Tuan. Dia juga dirawat di rumah sakit ini, Tuan," jawab sang anak buah, yang membuat pria itu semakin bersemangat.

Bibirnya langsung tersenyum menyeringai. "Kerja bagus, Wiliam!"

Anak buahnya langsung menanggapi pujian sang, Tuan. "Nona juga bekerja di salah satu cafe dekat sini, Tuan. Apa anda ingin menemuinya?" Pria dengan pakaian pasien itu, langsung tersenyum lebar.

"Tentu! Dan lakukan sesuai arahanku!" Dia tersenyum miring, membayangkan rencananya.

"Baik, Tuan, Gabriel. Saya akan persiapkan semuanya," jawab sekertaris sekaligus sahabat, pria bernama Gabriel Leonard Mattew tersebut.

"Kamu akan segera menjadi milikku, sayang." Dengan bibir terangkat Gabriel berucap.

To be continued...

Bab 2

Grazella segera menuju Cafe, untuk mencari pundi-pundi rupiah. Baru juga sampai, gadis itu sudah di sibukkan dengan banyaknya, pesanan pelanggan. Dengan semangat Grazella menyiapkan, dan membawa pesanan itu ke pelanggan.

Sebenarnya gadis itu sangat risih, bekerja menjadi Waiters. Grazella lebih memilih menjadi tukang cuci piring, atau office girl, tapi karena Cafe ini milik keluarga, Veronica sahabatnya, dia ditaruh di bagian Waiters.

Bukan tanpa alasan, Grazella membencinya. Gadis itu sangat risih dengan seragam kerjanya. Karna dia harus memakai baju ketat, dengan rok di atas lutut. Tentu saja akan memperlihatkan lekuk tubuhnya, dan dia sangat membenci itu.

Grazella juga harus melepas, kacamata bundar atas tuntutan dari manager. Karena Gadis itu sudah di ijinkan, memakai masker untuk menutupi wajah penuh jerawatnya. Kadang ada pelanggan yang bersikap seenaknya. atau sekedar memegang tangannya.

Seperti saat itu, dengan lancangnya seorang pria menarik tangan, Grazella yang mengakibatkan sang gadis, harus duduk dipangkuan pria itu. Di meja lain, seorang pria yang melihat semua itu mengeraskan rahangnya. Dengan tatapan iblis, yang ingin memangsa.

"Fuck! Beraninya tangan kotormu menyentuh milikku! Lihat saja, setelah ini hanya aku yang boleh menyentuhmu, baby girl."

Pria Itu tersenyum senang, saat melihat Grazella menampar dan menendang area junior sang pelanggan dengan kerasnya.

"Good girl," ucapnya, dengan bangga.

Dengan lancang, pelanggan itu justru memeluk erat, Grazella. Sudah pasti sang gadis, memberikan hadiah kepada pelanggan tersebut.

Grazella terlihat mengikuti, langkah sang manajer. "Sudah berapa kali aku bilang, tahan saja! Jangan buat keributan! Apa kamu tidak mengerti ucapanku, Grazella!" bentak sang manager, yang di hadiahi senyum getir sang gadis. Grazella menatap tajam ke arah manajer tersebut.

"Bapak lihat sendiri tadi! Bagaimana bisa saya menahannya!" jawab gadis itu, tak mau kalah.

"Aku tau ... tapi kamu bisa bicara baik-baik, Grazella!" Sang manajer memijit pelipisnya, dia tau sangat susah berdebat dengan karyawan yang satu ini.

Dia berusaha kembali memberi saran. "Kamu bukan preman, dan bagaimana pun mereka pelanggan yang menggajimu," ucap sang manajer.

Grazella hanya mengangguk, tanpa memperdulikan wajah sang atasan yang sudah kusut. Grazella kembali melakukan pekerjaannya. Sedangkan di lain meja, Gabriel enggan berpaling dari Grazella. Pria itu terus menatap lekat, sang gadis. Sampai manager pun, tidak berani mengganggunya, karena sudah pasti uanglah yang membuatnya diam.

Barulah saat Cafe itu tutup, Gabriel langsung pergi, dan masuk ke mobilnya. Beberapa menit kemudian, Grazella ikut keluar dari Cafe, dan segera pulang. Dia sudah rindu dengan ranjang empuknya.

Baru juga melangkah, matanya menyipit heran, melihat jalanan yang biasa dia gunakan ternyata di tutup. Dengan terpaksa dia memilih pulang, menggunakan rute lain.

Gadis itu terpaksa melewati gang sempit, waktu itu. Sementara di lain tempat, pria di dalam mobil tersenyum puas mendapatkan kabar dari orang orangnya. "Tuan, Nona sudah masuk perangkap, Anda!" Dengan kecepatan seribu, pria itu melajukan mobil menuju tempat eksekusi.

• • •

Baru masuk setengah jalan, Grazella merasa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. Dia pun menoleh, dan benar saja, seseorang dengan hoodie hitam, dan celana sobek, sedang terlihat berpura pura olahraga.

Bukankah orang itu sangat bodoh? Bagaimana mungkin, ada orang yang berolahraga jam 11 malam. Grazella berlari bak kesetanan.

"Arrgh! Aku takut." Gadis itu mencoba mencari persembunyian, dia menemukan sebuah tong.

Dengan langkah cepat, Grazella berlari ke sana. Sialnya orang itu menemukannya lebih dulu. "Aargggh! Ka-mu siapa?" Grazella tidak mengenal pria tersebut.

Gabriel mengambil tangan, Grazella dan menariknya.

"Andiamo a casa," ucapnya santai.

'Ayo kita pulang,'

Gadis itu hanya diam, karena bingung.

"Can you speak English, please?"

"You are mine, let's go home." Mata gadis itu membola sempurna.

"What? are, you crazy!" Grazella menghempaskan tangan Gabriel dengan kasar.

Pria itu menatap tajam ke arah Grazella, yang membuat gadis itu sedikit bergidik. Pria itu kembali mengeluarkan suara baratnya. "Aku tidak perlu persetujuanmu, baby girl." Pria itu tersenyum miring.

'Mereka menggunakan bahasa inggris'

"Ti-dak! Enak saja. Aku tidak mengenalmu Paman! Lagi pula, apa salahku?" ucapan gadis itu, membuat sang pria kesal.

Bagaimana mungkin, dia di panggil dengan sebutan Paman?

"Kesalahanmu cuma satu, karna kamu membuatku jatuh cinta, sayang," ucap pria tersebut.

"Bwuuhaha." Grazella tertawa dengan sangat kencangnya. pria itu terlihat kebingungan, apa ada yang salah?

Grazella menatap lekat sang pria, dengan masih sedikit tersenyum geli, "Matamu buta ya? Liat wajahku! Apa yang kamu sukai dari wajah buruk ini Pama ... aarrghh!" Dengan sigap, pria itu menggendong sang gadis bak karung beras.

Grazella langsung mengeluarkan suara emasnya. "Lepasin aku, brengsek! Tolong! Tolong!" Gadis itu memukul punggung kekar sang pria, kacamata bundar yang ia pakai pun, terlepas jatuh di bawah dengan cantiknya.

"Aku banyak uang, sayang. Aku akan membuat wajahmu, cantik."

"Dasar psikopat! Lepas!" teriak Grazella.

"Apa, kamu tidak mau bertemu dengan Adikmu, baby?" Gadis itu langsung menghentikan pukulannya.

Dengan cekatan Grazella mengambil benda pipih, dan menelfon seseorang. "Halo, Kak Dicky. Gio ada di rumah sakitkan? Dia la-gi di sana kan kak?" Suara Grazella sudah sedikit bergetar.

"Tadi, ada beberapa orang pake setelan jas hitam, terus membawa Gio pergi, bukannya kamu yang menyuruh mereka, Grace?"

Ponsel gadis itu terjatuh, dengan cantiknya di aspal.

"Dimana, Adikku bangsat!" Gadis itu menegakan tubuhnya, dan menatap tajam ke arah sang pria.

Sementara sang empu, hanya tersenyum manis, dan mengusap lembut wajah sang gadis. "Jangan mengumpat, sayang. Adik ipar berada di mansionku, kita akan menyusulnya sekarang."

Tanpa menunggu jawaban, pria itu segera menghubungi anak buahnya. "Segera bawa

helikopter ke tempatku berada! Dan persiapkan penerbangan ke Italia, sekarang juga!" Gadis itu hanya terdiam, dengan banyak pikiran di kepalanya.

To be continued..

Bab 3

Pria dengan wajah tampan, bak dewa. Terlihat menyodorkan sebuah gelas berisi wine, pada gadis di depannya.

"Apa kamu mau, sayang?" Sang empu justru menatap bengis, ke arah pria itu. Grazella sangat ingin membunuh, dan mencincang habis pria di depannya ini.

Pria itu menatap lekat, manik amber Grazella. "Matamu terlihat lebih cantik, tanpa kacamata bundar, sialan itu." Gadis itu mendengkus kesal.

"Jangan terlalu bersemangat, baby. Tubuhmu bisa sakit semua." Grazella tidak menggubris, dan terus menggeliatkan badannya agar sealtbealt itu terlepas.

Selama dibawa masuk ke pesawat, Grazella sangat memberontak, dan sedikit susah. Akhirnya dengan terpaksa dia di bius. Dan saat terbangun, tubuhnya sudah di ikat menggunakan sealtbealt pesawat itu.

"Apakah nyaman, dengan itu semua, baby?" Gabriel menunjukan dagunya ke arah badan Grazella, sang empu menatap horor sang pria.

Gadis itu langsung mengeluarkan, suara merdunya. "Anjing kamu! Sialan brengsek!" Dengan sekali tarikan nafas, gadis itu berucap bahasa asli atau Indonesia.

Di sebelah Gabriel, seorang pria tampak pucat, dan berkeringat dingin. Dia sudah sangat tau, bahasa apa yang diucapkan gadis itu. Wiliam adalah orang campuran Itali - Indo, ibunya berasal dari Indonesia, sehingga dia tau betul kata-kata mutiara tersebut.

Sementara, Gabriel yang dihina, terlihat kebingungan. Dia mengeluarkan suaranya. "Jangan menggunakan, bahasa yang tidak kumengerti, baby." Pria itu meminggirkan rambut, yang menganggu di wajah gadisnya.

Gabriel bertanya kepada sang sekretaris. "Apa yang gadisku ucapkan, Wil?" Wiliam terlihat gugup, pria itu berusaha untuk tenang.

"Em ... kata Nona. Apa yang, Tuan makan karena, Tuan sangat tampan." Seketika wajah datar itu, berubah bak tomat busuk.

"Apakah aku setampan itu, baby? Sampai matamu melotot begitu, kamu tidak perlu memandangku seperti itu, sayang. Wajahku ini milikmu, kau bisa memandangnya dengan puas, kalo kita sudah sampai, di mansion." Grazella terlihat semakin jengah.

"Dasar, Om Om narsis! Amit-amit aku suka sama kamu, bangsat! Muka kamu itu udah kusut, tua, meskipun aku jelek, aku juga milih milih kali! Lepasin aku, lepas, brengsek!"

Setelah beberapa jam mereog, Grazella sedang asyik memakan makanannya. Dengan telaten Gabriel menyuapi gadis itu, matanya berbinar melihat cake yang dibawa, seorang pramugari. Dengan cepat, Grazella menunjuk dengan dagunya.

Saat melihat sudut bibir, Grazella belepotan tanpa ragu, Gabriel menyapa bibir gadis itu yang membuat Grazella terdiam mematung. Setelah sadar, gadis itu berusaha menolak ciuman tersebut, tetapi nihil. Badannya masih saja terikat di sealtbealt, sialan itu.

• • •

Saat malam tiba, Grazella merasa tubuhnya sudah segar, dengan perlahan dia membuka matanya.

DEG

Pakaiannya sudah diganti sepenuhnya. rambutnya juga, masih terlihat basah. Bukankah dia tertidur? Lalu siapa, yang ...

"Akkhhh!" Gadis itu berteriak, dengan menutup bagian dadanya. Padahal tubuhnya sudah di lapisi dengan dress cantik.

Gabriel yang mendengar suara Grazella, langsung melangkah dengan cepat ke kamar gadisnya. Saat ini, Grazella sedang tertidur di salah satu kamar, yang terdapat di dalam pesawat.

"Ada apa, baby?" Gabriel duduk dan mengusap lembut, wajah gadisnya yang terlihat pucat.

"Kamu? Siapa yang mengganti bajuku, sialan! Dasar brengsek, kamu!" Grazella melemparkan bantal ke arah Gabriel. Wajah tampan itu, berubah bak iblis kehausan.

"Lepas, breng-sek!" Dengan susah payah, Grazella berucap.

"Jangan membuat iblisku keluar, El!" bentak Gabriel, pada sang gadis.

Grazella menatap tajam, ke arah Gabriel. Pria itu kembali mengeluarkan suaranya. "Bisakah kau menurut! Aku Sudah berusaha lembut, padamu!" Gabriel melepaskan cengkraman tangannya, pada leher Grazella.

"Kamu gi-la? Mau bunuh a-ku kamu! Lepaskan aku! Kembalikan aku ke negaraku, sialan!" Grazella memukul dada Gabriel, dengan tangan mungilnya. Namun pria itu segera mencengkram tangan Grazella, dan menatap penuh intimidasi ke arahnya.

"Sampai mati pun, aku tidak akan melepasmu, baby, kau milikku!"

Grazella tersenyum remeh, dan menjawab dengan di tatapan jijik, yang membuat Gabriel semakin naik pitam.

"Jangan mimpi, brengsek! Kau__"

"Tutup mulutmu, El. Aku bukan orang yang penyabar! Selamanya, kau akan berada di sisiku, kau mengerti?" Gabriel memegang dagu Grazella dengan kasar. Bukannya takut, gadis itu semakin menjadi.

"Tidak sudi aku berada di sisimu, bastrad!"

Satu tamparan keras, mendarat di wajah Grazella.

Wajah Grazella menoleh ke samping, tangan gadis itu memegang pipinya, yang sudah mati rasa. Terlihat cairan merah sudah keluar dari sana.

Sementara tersangka tersenyum remeh. "Menurutlah, El. Aku tidak suka dibantah!" Dengan lihai, Gabriel menyingkirkan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya.

"Aarrgh! Apa yang kau lakukan!" Grazella menutup wajahnya dengan kedua tangan, yang membuat Gabriel semakin emosi.

"Buka matamu! Beraninya kau membuang pandangan, di depanku! Lihat ke sini, brengsek!" bentak pria itu, umpatan Gabriel tetap tidak membuat sang gadis melihat ke arahnya.

"Fucking, shit!" Gabriel yang merasa di abaikan, langsung mengambil pistol yang ada di bawah bantal ranjang.

Beberapa saat kemudian, Grazella merasakan pelipisnya di sentuh benda keras, dia pun menoleh.

DEG!

"Ap-a yang, kau lakukan?" Suaranya sudah bergetar hebat.

"Saat bicara denganku. Tatap mataku, baby! aku tidak suka diabaikan!"

Gabriel menodongkan sebuah pistol di pelipis Grazella. "Apa jika aku tidak mengabaikanmu, aku bisa pulang kembali ke negaraku?" jawab Grazella tegas.

"Sampai kapanpun, kau milikku! Kau harus berada di sisiku!"

"Tidak! Aku tidak akan mau hidup dengan iblis, sepertimu."

"Huh. Kau pandai melawan ternyata, aku suka yang seperti ini, suka sekali! Tapi sebelum itu, akan kutunjukan sesuatu padamu, sayang."

Gabriel duduk di sofa kamar itu, dia melebarkan kedua tangannya di sandaran sofa, dan membiarkan kakinya ikut terbuka. Seketika junior gabriel terlihat jelas di depan mata Grazella.

Gadis itu meneguk ludahnya kasar. Dia segera memusatkan perhatian ke segala arah, karena tidak ingin melihat benda tersebut.

"Sekali lagi, kau membuang pandanganmu, kupastikan peluru ini akan bersarang di kepalamu, Elnara!"

Tubuh Grazella sedikit bergetar, suara pria di depannya ini sangat mengerikan. Nadanya sangat dingin, mencekam ke seluruh ruangan.

"Come here, baby." Gadis itu hanya diam.

"Apa perlu? Aku menyeretmu, dan memotong kedua kakimu itu, h'm?"

Dengan langkah bergetar, Grazella melangkah mendekat, ke arah sang pria.

"Arghh!" Gabriel menarik rambut sang gadis, dan memaksa gadis itu berlutut di depannya.

"Buka mulutmu!" Grazella menggelengkan kepalanya. Terlihat milik Gabriel, sudah sedikit mengeluarkan cairan.

Meskipun pertama kali dia melihat itu secara langsung, Grazella tau apa yang Gabriel inginkan.

Sahabatnya selalu menonton vidio biru, untuk belajar memuaskan kekasihnya. Sedikit-sedikit Grazella tau tentang itu, dia pun menutup mulutnya rapat rapat.

"Aku tidak suka mengulangi kata kataku, baby girl!" Wajah Gabriel sudah merah padam, menahan emosinya.

"Hiks ... aku tidak mau!" teriak sang gadis, sambil memberontak. Gadis itu sangat jijik melihat benda di depannya ini.

"Kau membantahku, hah?" Grazella menggeleng cepat.

"Aku tidak membantahmu. Tapi ... itu sangat menjijikan."

"Shit! buka mulutmu!"

To be continued...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED