Bab 1

Fallen Permana, seorang gadis cantik yang hidup bagaikan di dalam sangkar. Ia tak pernah menginjakkan kaki bahkan untuk ke luar dari rumahnya. Bahkan ia bersekolah di rumah. Tanpa teman, tanpa kasih sayang, ia tumbuh menjadi gadis yang pendiam dan penakut.

Bukan tanpa alasan, Fallen hidup dalam kesepian dan kesedihan akibat sang ayah yang bernama Gunanda sangat membencinya. Sebenarnya, sejak lahir, ayahnya tidak menyukai keberadaannya karena ia adalah anak perempuan. Keberadaannya pun turut mengganggu waktu Gunanda bersama sang istri.

Hingga saat Fallen berusia delapan tahun, bencana itupun terjadi. Ia dan ibunya terlibat kecelakaan sehingga membuat sang ibu meninggal.

Dan sejak itulah, Gunanda semakin membenci Fallen, yang ia anggap sebagai anak pembawa petaka.

Pada saat Fallen dewasa, ia dipaksa menikah dengan seorang CEO kejam bernama Arjun Wijaya agar hidupnya semakin menderita.

"Kau adalah pembunuh. Menderita lah seumur hidupmu!" Gunanda menatap wajah Fallen dengan penuh dendam yang membara. Membuat Fallen hanya bisa tersenyum menahan tangis.

"Ayah, bolehkah aku memelukmu meski untuk yang terakhir kali?" pinta Fallen dengan raut wajah memelas.

"Bermimpi lah, anak pembawa sial! Aku tidak akan mengotori tubuh ku dengan kesialan mu!" Gunanda pergi meninggalkan Fallen yang kini berurai air mata.

Dengan air mata yang sudah tumpah, ia pun tersenyum sembari berkata, "Aku menyayangi mu, Ayah."

Namun tak hanya sampai di situ, kehidupan baru Fallen pun dimulai bersama Arjun, sang CEO kejam.

Hingga hari itu pun terjadi, satu persatu misteri pun terkuak dalam kehidupan mereka. Siapa Fallen dan Arjun sebenarnya adalah sebuah rahasia besar yang disembunyikan beberapa orang dengan alasan berbeda.

***

Di sebuah rumah mewah di tengah kota.

Plakkkk!!

Tamparan keras mendarat tepat di pipi Fallen. Seorang gadis belia berusia dua puluh satu tahun. Pipi mulusnya kini terdapat ruam kemerahan akibat tamparan dari seseorang yang biasa ia panggil dengan sebutan Ayah.

"Apa kau bilang? Kau tidak mau menikah dengan Arjun?" tanya Gunanda dengan tatapan tajam.

"Dia sangat kejam, Ayah, aku takut." Fallen menangis sembari memegangi pipinya yang terasa sangat sakit akibat tamparan dari Gunanda.

"Asal kau tahu, aku tidak peduli dengan hidupmu. Aku menunggu saat ini, agar kau bisa menikah dengan pria kejam itu dan merasakan penderitaan seumur hidupmu, anak pembawa sial!" Gunanda menunjuk wajah Fallen dengan mata merah menyala, tampak jelas tatapan kebencian di mata nya.

Fallen langsung bersimpuh di kaki ayahnya. "Ayah, aku mohon, jangan paksa aku menikah dengannya. Selama ini aku selalu menuruti keinginan Ayah. Kasihani aku, Ayah. Kenapa di saat Ayah mau berbicara padaku, malah ini yang aku dengar."

"Menyingkir dari kakiku, dasar sialan!" Gunanda mendorong tubuh Fallen hingga kaki nya terlepas dari tangan Fallen.

Fallen hanya bisa menangis menerima perlakuan seperti itu dari ayah nya. Melawan? Tentu ia tidak akan berani. Karena sejak ia sadar dari koma, ayah nya tidak pernah menyayanginya, atau bahkan menganggap nya sebagai anak. Bahkan, publik pun tidak tahu bagaimana rupa anak dari seorang Gunanda Permana. Anak yang sejak lahir, tidak pernah diperkenalkan ke publik, dan lebih parah nya, sejak kecil, Fallen selalu menggunakan kacamata, topi dan masker ketika keluar bersama sang ibu saat masih hidup.

"Apa kau tahu, kenapa aku memberi mu nama Fallen?" tanya Gunanda tanpa menatap wajah Fallen.

Fallen hanya diam mendengarkan.

"Fallen artinya jatuh. Dan aku ingin kau selalu jatuh, hidup berantakan, agar kau merasakan bagaimana tersiksa nya hidup dalam penderitaan. Bagiku, kau itu hanya lah anak pembawa sial! Jika saja malam itu kau tidak bersama istriku, maka kecelakaan itu tidak akan terjadi! Kau yang menyebabkan istriku meninggal, dan kau malah hidup setelah itu!" Tatapan tajam Gunanda yang kini sangat menusuk membuat Fallen semakin takut.

"Ayah, maafkan aku, aku tidak ingat apa yang terjadi saat aku masih kecil, aku bahkan kehilangan ingatan setelah nya." Fallen menatap sembari memohon.

"Harus nya kau tidak hanya kehilangan ingatan, harus nya kau kehilangan nyawa sekalian!"

Mendengar ucapan Gunanda, Fallen hanya bisa terdiam. Ia dapat mengerti pasti rasa cinta ayah nya pada ibu nya sangat lah besar.

"Apa sekarang kau masih menolak?"

Dengan berat, akhir nya Fallen menggeleng. "Aku akan menuruti keinginan Ayah."

"Bagus, kalian akan segera menikah. Lebih cepat kau keluar dari rumah ini, itu akan lebih baik." Gunanda melangkah meninggalkan Fallen yang masih bersimpuh di atas lantai ruang keluarga.

Kakinya terasa berat untuk berdiri. Ia kembali mengingat perlakuan ayah nya setelah ia sadar dari koma. Begitu membuka mata, ia melihat tatapan kebencian di wajah ayah nya. Dan sejak itu, ayah nya tidak pernah mau berbicara dengannya kecuali hari ini, hanya untuk memaksa nya menikah dengan seorang Arjun Wijaya, seorang CEO yang terkenal akan kekejaman nya.

Seorang pelayan yang sudah berumur, datang menghampirinya lalu memeluk nya dan ikut menangis. Dialah Fatimah, seorang pelayan yang menyayangi Fallen sejak kecil seperti anaknya sendiri. Ketika Fallen bersedih, dia lah yang selalu ada untuk Fallen.

"Bibi Fatimah." Fallen menangis di pelukan pelayan nya itu.

"Bersabar lah, Nona. Semua ini ujian untuk Nona. Bibi akan selalu menyayangi Nona." Fatimah mengusap pelan kepala Fallen. Tampak jelas bahwa ia sangat menyayangi Fallen.

"Kenapa semua ini terjadi padaku, Bi. Aku pun tidak ingin hidup seperti ini. Aku tidak ingin kehilangan ibuku, aku tidak ingin mengalami kecelakaan itu. Tapi kenapa semua harus seperti ini, Bi." Fallen mengeluarkan semua keluh kesah nya.

"Allah tidak akan menguji melebihi kemampuan umatnya, Nona. Jalani semua ini dengan ikhlas, Bibi yakin Nona akan mampu melewati nya.

Setelah lama bertangis-tangisan, akhirnya Fallen pun pergi ke kamar nya.

Di sana, ia mengambil sebuah bingkai kecil berisi foto ibu nya, lalu menangis. "Bu, kenapa Ayah tidak pernah menyayangi ku. Kenapa, Bu?"

"Jika saja waktu dapat diputar ulang, pasti aku tidak akan menderita seperti ini. Aku ingin sekali saja, Ayah menyayangi ku. Kenapa rasanya itu sulit sekali, Bu." Fallen mengusap air mata nya yang ini membasahi foto ibu nya. Dengan air mata yang masih mengalir, akhir nya ia pun tertidur.

*****

Di sebuah rumah mewah di kota yang sama.

Seorang pria tampan yang berwajah datar sedang menatap sebuah foto. Ia terus memandangi foto tersebut sambil sesekali tersenyum licik. Dialah Arjun Wijaya, pria berusia dua puluh lima tahun yang merupakan calon suami Fallen.

"Kenapa Gunanda memberikan putri yang sedari dulu tidak pernah ia perkenalkan ke publik? Apa yang dia rencanakan?" gumamnya sambil terus memandangi foto yang adalah foto Fallen.

"Hei, aku sedang bertanya, seharusnya kau menjawab ku, Jim," ucap Arjun tanpa menoleh.

"Apapun yang Tuan putuskan, saya yakin itu adalah hal yang tepat," ucap Jim, yang merupakan asisten pribadi Arjun.

"Bukan itu yang aku ingin dengar, apa kau ingin ku hukum cambuk lagi?" Kini Arjun menoleh ke asisten pribadi nya itu.

"Saya rasa Tuan Gunanda ingin melihat putri nya menikah."

"Menikah? Atau menderita?" tanya Arjun kurang puas.

"Saya rasa, keduanya, Tuan."

"Ya, kau benar. Tidak ada gadis yang berani dekat denganku, dan dia malah menyerahkan anaknya yang masih belia itu. Lihat saja, aku akan membuat hidup gadis itu menderita. Karena aku, tidak percaya pada wanita." Arjun menatap tajam ke foto Fallen. Ia dapat melihat betapa polosnya gadis yang akan ia nikahi. Ia bahkan masih ingat, saat Gunanda mendatanginya beberapa hari yang lalu hanya untuk memintanya untuk menikahi putrinya, dan meminta imbalan suntikan dana ke perusahaannya yang sedang tidak stabil.

Arjun langsung menerima permintaan Gunanda tanpa syarat apapun. Itu merupakan suatu keberuntungan untuk Gunanda karena keinginannya untuk melihat Fallen lebih menderita lagi, akhirnya terkabul.

Arjun melangkah menuju lift untuk menuju ke kamarnya. Namun, saat ia menyentuh tombol luar lift, ia merasakan bahwa tombol itu masih berdebu.

"Panggil pelayan kebersihan!" teriaknya hingga membuat seisi rumah menjadi takut.

Beberapa pelayan kebersihan yang adalah wanita semua pun datang dengan wajah pucat. Tanpa berkata, Arjun langsung menampar mereka satu persatu dengan tangannya sendiri.

"Berani sekali kalian membuat debu menempel di lift. Sekarang, pergi ke ruang hukuman dan jalani hukuman kalian. Jika aku melihat kesalahan lagi, aku akan membuat kalian kehilangan satu anggota tubuh kalian!" Arjun melangkah masuk ke dalam lift. Sementara, Jim hanya mengantar sampai depan lift.

Hukuman apa yang mereka terima? Itu adalah hukuman cambuk. Sebagaimana yang telah disepakati saat mereka melamar kerja, mereka harus menandatangani surat yang menyatakan bahwa mereka siap menerima sanksi dan hukuman dari Arjun apapun itu, meski menyakiti tubuh mereka. Karena bekerja pada Arjun, artinya menyerahkan diri mereka pada CEO kejam itu.

Bab 2

Hari ini pun tiba. Fallen akan menikah dengan Arjun. Sebelumnya, Fallen dan Arjun belum pernah bertemu meski dalam pertemuan singkat atau sekadar membicarakan tentang pernikahan.

Mereka menikah di rumah Gunanda. Hanya dihadiri oleh penghulu, para saksi, Gunanda, dan kedua mempelai saja.

Langkah pertama saat Arjun memasuki rumah tersebut, hawa buruk langsung menerpa Fallen. Sosok yang datang itu memiliki penampilan yang sangat rapi. Bertubuh tinggi, berkulit putih, dan berwajah sangar meskipun ia memang tampan.

Tatapan menusuk langsung dirasakan Fallen saat Arjun menatap dirinya yang telah mengenakan kebaya pernikahan. Terlihat Arjun tersenyum menyeringai. Sangat menyeramkan bagi Fallen. Membuat gadis penakut itu semakin takut.

Tanpa berbicara, Arjun langsung duduk di sebelah Fallen, tepatnya di depan penghulu.

"Kenapa Anda tidak menjadi wali nikahnya?" tanya Arjun. Membuatnya kini semakin yakin kalau Gunanda memang sangat membenci anaknya.

"Biar penghulu saja," ujar Gunanda.

Arjun mengangguk, dan pernikahan pun segera dimulai.

"Sah!" seru para saksi serempak.

Dengan begitu, maka Fallen dan Arjun pun resmi menjadi suami istri.

Perlahan, Fallen mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Arjun atas anjuran sang penghulu. Saat ia tengah mencium punggung tangan suaminya itu, tiba-tiba saja tangan kiri Arjun mengusap kepalanya dan sedikit menunduk seraya berbisik. "Apa kau tahu, jika kau jadi istriku, maka hidup mu akan penuh dengan kesakitan dan penderitaan." Mencengkram tengkuk Fallen hingga membuat gadis itu bergetar ketakutan.

Selesai dengan pernikahan, penghulu dan para saksi pun pamit.

"Tuan Gunanda, saya harus pulang, masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Termasuk menggulung tikar beberapa perusahaan yang berhutang kepada saya." Arjun tersenyum menyeringai. Tatapan dinginnya sungguh menusuk.

Gunanda tahu, bahwa Arjun baru saja memperingatkan dirinya. Karena sesungguhnya, kemajuan perusahaannya sekarang adalah campur tangan Arjun.

"Ya, aku mengerti."

Arjun pun berjalan ke mobilnya. Sang asisten turut membukakan pintu mobil untuknya.

"Katakan pada gadis itu, dia punya waktu lima menit atau pulang dengan berjalan kaki."

"Baik, Tuan." Jim membungkukkan badannya. Ia segera menghampiri Fallen yang masih ada di dalam rumah.

"Nona, segeralah berkemas," ujar Jim.

"Iya, baiklah." Fallen segera bergegas menghampiri ayahnya yang hendak pergi ke atas.

"Ayah." Panggilan Fallen pun berhasil membuat langkah Gunanda terhenti. Ia berbalik, menatap Fallen yang kini berdiri diam di hadapannya.

"Pergilah, kau bukan tanggung jawabku lagi."

"Ayah, aku,,,,"

"Kau adalah pembunuh. Menderitalah seumur hidupmu!" Gunanda menatap wajah Fallen dengan penuh dendam yang membara. Membuat Fallen hanya bisa tersenyum menahan tangis.

"Ayah, bolehkah aku memelukmu meski untuk yang terakhir kali?" pinta Fallen dengan raut wajah memelas.

"Bermimpilah, anak pembawa sial! Aku tidak akan mengotori tubuh ku dengan kesialan mu!" Gunanda pergi meninggalkan Fallen yang kini berurai air mata.

Dengan air mata yang sudah tumpah, ia pun tersenyum sembari berkata, "Aku menyayangi mu, Ayah."

Segera, ia melangkah menuju mobil Arjun. Jim membukakan pintu untuknya.

Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Fallen hanya duduk diam sembari menunduk sepanjang jalan. Bukan tanpa alasan, ia begitu takut berada di samping Arjun yang kini sedang menatap ponselnya. Sedangkan Jim duduk di depan bersama sang supir. Bukan hanya mobil mereka saja, yang sedang berada di jalanan tersebut. Ada dua mobil pengawal yang mengiringi mobil mereka.

"Jim, bagaimana dengan Henry? Apakah dia sudah mengabari mu perihal hutang yang harus dilunasinya hari ini?" tanya Arjun sambil terus menatap layar ponselnya.

"Belum, Tuan. Sebenarnya beliau menolak panggilan saya beberapa hari ini. Ia mengirimi saya pesan singkat, katanya orang tuanya yang ada di luar negeri baru saja meninggal."

"Hahaha." Arjun tertawa sembari menggelengkan kepalanya. "Apa dia kira aku ini orang yang punya belas kasih? Hutang tetaplah hutang. Persiapkan pengacara ku, kita akan menemuinya siang ini juga. Jika perusahaannya tidak cukup untuk menutupi hutangnya, maka dia harus kita masukkan ke penjara."

"Baik, Tuan. Saya akan mengerahkan orang kita untuk melacak keberadaannya sekarang." Jim langsung beralih ke ponselnya, mengetikkan sesuatu, lalu mengirimnya ke seseorang yang merupakan pelacak handal.

"Oh, ya, bagaimana dengan Danu?" tanya Arjun lagi.

"Tuan Danu baru saja meninggal dua hari yang lalu, Tuan, akibat serangan jantung karena kalah tender."

"Ah, benar aku sampai lupa. Jangan lupa untuk mendatangi keluarganya dan meminta mereka melunasi hutang-hutangnya, atau rumah mereka akan kita sita."

"Baik, Tuan."

"Kau juga harus memeriksa laporan dari cabang perusahaan ku yang di kota F, tendang siapa saja yang berani curang. Masukkan namanya dalam daftar hitam, sehingga warung kecil pun tak ingin mempekerjakan dirinya."

"Siap, Tuan."

Fallen semakin takut, mendengar setiap ucapan tak berhati yang keluar dari mulut Arjun. Ia sungguh tak berniat menjadi pendengar orang yang kejam seperti ini.

"Jim, kau juga jangan lupa dengan sampah kecil yang akan masuk ke dalam rumahku. Pastikan dia bersih saat menginjakkan kaki ke dalam rumahku. Saat ini saja, aku sudah mencium bau sampah dari tubuhnya." Arjun menutup hidungnya.

Hal itu membuat Fallen langsung mencium sisi kanan dan kiri tubuhnya.

"Cih, hentikan aksi menjijikkan mu itu." Arjun menatap tajam ke arah Fallen. Membuat gadis itu langsung mnyudut di pojok mobil karena Arjun mencondongkan kepalanya dengan tatapan mata yang begitu tajam.

"Ma-maaf, Tuan." Fallen langsung menunduk.

"Hahaha, lihatlah wajah menyedihkan mu ini. Kau benar-benar sangat menyedihkan."

Fallen terus menunduk mendengar tertawaan Arjun yang begitu menakutkan. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa hidupnya akan berakhir ditangan orang yang sangat kejam seperti ini.

Ia masih ingat saat beberapa minggu lalu, saat mendengar ayahnya berbicara lewat ponsel. Ayahnya mengatakan tentang perjodohannya dengan Arjun Wijaya.

Karena penasaran, Fallen pun mencari nama Fallen di internet. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat semua berita yang menyangkut Arjun adalah berita-berita yang fenomenal.

Perusahaan B berada diambang kehancuran karena terlilit hutang dengan Arjun Wijaya, akibat saham yang terus merosot.

Seorang pimpinan perusahaan Z melakukan aksi bunuh diri setelah tahu bahwa perusahaannya kalah tender dari perusahaan Arjun Wijaya.

Arjun Wijaya kembali menggetarkan dunia bisnis karena berhasil menjatuhkan beberapa perusahaan yang berani menyaingi dirinya dengan kecurangan.

Arjun Wijaya, seorang CEO yang terkenal kejam dan berdarah dingin.

Begitulah berita yang ia baca di internet. Meskipun berita itu terdengar berlebihan, namun Fallen dapat merasakan bahwa itu benar adanya. Dan karena itulah, Fallen sempat menolak perintah ayahnya untuk menikah dengan Arjun karena ia sangat takut pada pria yang kini telah resmi jadi suaminya itu. Arjun, Wijaya, pengusaha kejam yang sangat menakutkan akan menjadi teman tidurnya mulai sekarang.

Bab 3

Mobil sampai di sebuah rumah yang sangat mewah dan besar. Tampak jelas desain bangunan yang dibuat oleh arsitek handal.

Arjun turun setelah pintu dibuka oleh Jim. Sedangkan Fallen turun setelahnya.

Mata Fallen tampak begitu takjub melihat pemandangan yang ada di sekitarnya. Ia pernah melihat rumah semegah ini, tetapi hanya di dalam film-film saja. Jelas sekali, karena ia tidak pernah menginjakkan tanah atau menghirup udara kebun belakang rumahnya sekalipun.

"Sterilkan sampah ini sebelum memasuki rumahku!" titah Arjun tanpa menoleh. Ia lantas melangkah menuju ke rumahnya dengan disambut beberapa pengawal di depan rumah megahnya itu.

"Nona, ayo, kita sterilkan dulu di sana," ujar Jim dengan wajah datar tanpa ekspresi.

Fallen mengikuti langkah Jim menuju sebuah bilik sterilisasi untuk membersihkan dirinya dari kuman. Memang, semua orang yang hendak masuk ke dalam rumah Arjun, harus membersihkan diri mereka di sana.

Setelah itu, Fallen pun diantar masuk ke dalam rumah itu.

"Ah, aku lupa, bagaimana dengan tas ku?" Fallen hendak pergi ke mobil.

"Maaf, Nona. Hanya Nona yang boleh masuk. Tas dan lainnya akan dibuang."

"Apa? Dibuang? Tetapi semua barang-barang ku ada di sana, termasuk,,,,,"

"Maaf, Nona, peraturan adalah peraturan."

"Tidak, biarkan aku mengambil satu barang berharga ku di sana, aku mohon," ucap Fallen dengan memelas.

"Maaf, Nona, sebaiknya Anda jangan membantah perkataan Tuan."

"Tidak, aku tidak bisa melihat foto ibuku dibuang begitu saja!" Fallen mendorong tubuh Jim yang tak bergeser, lalu mencari celah untuk mengambil kopernya.

Pengawal yang melihat langsung mengejar Fallen dan menangkapnya sebelum ia berhasil sampai ke mobil. Matanya terbelalak saat melihat sopir menurunkan koper miliknya, untuk dibuang.

"Jangan! Jangan buang! Aku mohon!" Fallen menjerit menyaksikan sopir telah membawa koper miliknya.

"Tidak! Ibu! Jangan! Ibu!" pekik Fallen diiring dengan air matanya yang jatuh berlinang. Kehilangan sosok ibu dan juga ingatan serta kenangan masa lalu saja sudah buruk, apalagi sekarang, ia harus kehilangan satu-satunya foto ibunya yang ia punya.

Jim menghampiri Arjun yang sedang duduk di sebuah sofa. Tampak jelas raut wajah yang sedang kesal.

"Kau tahu, Jim. Aku tidak suka keributan. Kenapa mengurus hal seperti ini saja kau tidak bisa!" Arjun melayangkan satu tinju ke wajah Jim. Membuat Jim terhuyung hampir jatuh dengan pipi yang memar.

"Maafkan saya, Tuan. Nona Muda menginginkan foto almarhum ibunya."

"Aku tidak peduli dengan apa yang diinginkannya. Diamkan dia atau kau akan tahu akibatnya!"

"Baik, Tuan." Jim membungkukkan badannya, lalu pergi ke tempat Fallen yang masih berteriak meminta foto ibunya.

"Nona, tenanglah! Tidak ada yang bisa Nona lalukan. Membuat keributan sama saja dengan membuat Tuan Muda marah." Jim mengingatkan.

Fallen berhenti memberontak. Ia pun berlutut sambil terus menangis meratapi foto ibunya yang kini sudah dibuang. "Ibu, aku tidak ingat seperti apa kasih sayangmu dulu. Tapi kenapa, hanya untuk menyimpan fotomu saja aku tidak bisa."

"Nona, berdirilah. Tangisan dan kepiluan Nona tidak akan mengubah aturan rumah ini. Sekarang, Nona harus kembali membersihkan diri, lalu masuk ke dalam rumah. Tuan Muda tidak suka menunggu."

Fallen langsung menghapus air matanya. Betapa ia lupa siapa sosok yang tengah menunggunya di dalam. Ia berdiri dengan tatapan penuh kekecewaan pada Jim. "Semoga dompetmu hilang." Ia melangkah menuju bilik sterilisasi, lalu pergi ke dalam rumah.

Di dalam, ia berjalan perlahan menghampiri Arjun yang masih duduk sembari melihat arlojinya.

"Kau hebat! Kau orang pertama yang membuat aku menunggu. Orang seperti mu memang pantas diberi penghargaan. Apa yang kau inginkan?" tanya Arjun dengan tatapan setajam belati. Berhasil menggetarkan tubuh Fallen, membuat gadis itu ketakutan.

"Maafkan saya, Tuan." Fallen menunduk.

Brakkk! Arjun menggebrak meja kaca hingga suaranya membuat Fallen semakin ketakutan. Meja itu sangat mahal, tentu gebrakan Arjun tidak akan membuatnya pecah. Memangnya, sehebat apa tangan orang kejam ini?

"Hahaha, maaf? Aku menyuruh mu meminta hadiah, tetapi kau malah minta maaf. Ayolah, sampah kecil. Apa keinginan mu?" Setelah tertawa, Arjun kembali memasang wajah datar yang bagi Fallen sangatlah menakutkan. Suaranya yang berat dan menggelegar, mampu membuat jantung Fallen berdebar kencang.

Fallen hanya diam menunduk.

"Tatap wajahku saat aku berbicara denganmu!" Arjun kembali berteriak sambil menggebrak meja. Kali ini ia berdiri, mendekati Fallen yang berdiri satu langkah di depannya.

"Sa-saya mmmin-nta ma-af, Tuan," ucap Fallen dengan suara bergetar.

"Hahaha, aku suka suara orang yang ketakutan." Arjun kembali tertawa.

Fallen hanya diam saja. Ia tetap menunduk dan memasrahkan dirinya jika Arjun melayangkan tangannya.

Tangan Arjun mulai menyentuh kepala Fallen. Dengan satu usapan, ia mencapai belakang kepala gadis itu. Membuat Fallen semakin bergetar ketakutan.

"Kenapa? Apa kau takut aku akan mencekik mu?" Arjun menunduk untuk melihat wajah Fallen. Tampak mulut Fallen yang sedang komat-kamit seperti membaca mantra.

"Kau sedang apa? Membaca mantra?"

"Ti-tidak, Tuan. Saya sedang berdoa."

"Berdoa untuk apa? Kau ingin mendoakan ku supaya cepat mati?"

"Jika bisa akan saya lakukan, ma-maksud saya, saya ingin agar Tuan ma, anu bertobat. Tidak, maksud saya, agar Tuan tidak marah. Saya mengusir setan dari, tidak, anu, itu." Brukkk! Fallen bersimpuh di kaki Arjun.

"Ampuni saya, Tuan. Ampuni saya!" Fallen menangis sembari memegangi kaki Arjun.

'Gadis ini cukup menarik. Dia sangat takut padaku meski ini pertemuan pertama kami. Bagus, aku tidak perlu melakukan kekerasan padanya. Suara dan kemarahan ku sudah cukup membuatnya ketakutan. Dengar wanita, tidak ada yang boleh melawan denganku, apalagi sampai meninggalkan ku.' batin Arjun.

"Berdiri!" teriak Arjun.

Dalam sepersekian detik, Fallen langsung berdiri. Air mata tampak masih membasahi pipinya.

"Di sini, kau harus menuruti segala perintahku. Apapun yang aku ingin kau lakukan, maka kau harus melakukannya. Jika kau melakukan kesalahan sedikit saja, maka kau akan masuk ke dalam ruangan hukuman. Di sana, kau tidak akan pernah berpikir untuk berbuat kesalahan lagi, apa kau mengerti?"

"Sa-saya mengerti, Tuan." Fallen mengangguk dengan cepat.

"Tuan, ada telepon penting dari Nyonya besar," ucap Jim dengan wajah gelisah.

"Ada apa? Kenapa nenek menelepon ku?"

Jim tampak ragu.

"Katakan saja, Jim!"

"Kata Nyonya besar, kondisi ibu Anda, Nyonya Airin semakin kritis. Beliau membutuhkan Tuan."

"Hahaha, akhirnya wanita itu hampir menemui ajalnya. Abaikan saja, aku tidak peduli jika dia mati, wanita licik seperti itu memang pantas mati!"

"Baik, Tuan." Jim membungkukkan badan, lalu pergi.

Fallen sangat terkejut karena Arjun bahkan tidak punya belas kasih pada ibunya sendiri. Namun ia tidak pernah tahu, luka apa yang dialami Arjun semasa kecil.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED