Bab 1

Seorang gadis cantik bermata rubah dengan pupil hitam legam, bening seperti mata bayi, menatap nanar pada seorang pria yang kini tengah berdiri di hadapannya sedang memegang ponsel. Di layar ponsel tersebut terdapat sebuah video bedurasi dua menit. Di sana, dia tampak sedang digandeng oleh seseorang.

Hana Anindya Prayoga namanya. Dia anak dari Guntoro Prayoga—pemilik sebuah perusahaan bergerak di berbagai bidang. Dia adalah putri satu-satunya di keluarga kaya raya tersebut.

Malam itu, acara pertunangannya digelar dengan seorang pria yang berasal dari keluarga sederhana, namanya Raka Herlambang.

Akan tetapi, pria itu membatalkan pertunangan tersebut disebabkan oleh video tersebut. Apalagi mengingat calon mertuanya juga tidak pernah suka melihat dirinya berhubungan dengan Hana Anindya Prayoga.

"Apakah hanya karena itu kamu menyerah?" tanya Hana Anindya Prayoga sambil terisak-isak.

"Apa? Ini kamu bilang hanya? Belum menikah saja, kamu sudah menyepelekan sesuatu," ujar Raka Herlambang mencelos.

"Tapi ... tapi aku dalam keadaan mabuk. Jika sadar aku nggak mungkin digandeng oleh pria lain," ucap Hana Anindya Prayoga, membela diri.

Raka Herlambang menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tetap tak mau menerima jika calon istrinya disentuh oleh orang lain.

"Kalau kamu memang tidak mau, ya, sudah. Silakan pergi," ucap Guntoro Prayoga dengan suara datar, tetapi menatap sinis pada pria berkaca mata itu.

"Baik. Ini, kan, yang memang Anda inginkan? Sekarang terkabul!" ucap Raka Herlambang membalas dengan sengit.

"Tidak, jangan pergi Raka. Aku mencintai kamu." Hana Nindya Prayoga memohon pada pria yang dicintainya.

Namun, keputusan pria itu sudah bulat. Dia sengaja menarik dasi kupu-kupu yang dihadiahkan oleh Hana Anindya Prayoga lalu melemparnya ke bawah panggung.

Gadis itu terpana melihat kejadian itu. Air matanya terus meleleh tak tertahankan. Semenjak duduk di bangku sekolah menengah mereka menjalin hubungan, akhirnya kandas juga.

***

Setelah kejadian malam yang menghancurkan hati Hana Anindya Prayoga, ayahnya pun menjodohkan dia dengan anak pemilik perusahaan yang bergerak di bidang mode dan pemilik salah satu channel televisi swasta.

Perjodohan yang mungkin sama-sama tidak bisa mereka hindari.

Karena Hana Anindya Prayoga adalah anak tunggal dan dipaksa oleh sang ayah untuk mengembangkan bisnis. Sebagai anak tunggal satu-satunya pewaris perusahaan kedua orang tuanya.

Sementara, Demian Dewantara calon suaminya, adalah anak dari pemilik perusahaan nomor tiga terbesar di Asia.

Bertahun-tahun kedua orang tua mereka menjalin kerja sama yang terlihat sangat klop. Sehingga Hana Anindya Prayoga dan Demian Dewantara menjadi target hibahan harta kekayaan yang melimpah ruah.

Dari itu, mereka melakukan perjanjian dan menjodohkan anak-anak mereka yang kebetulan sesama anak tunggal.

Mungkin mereka berdua takut, kalau suatu hari nanti, harta keyaannya jatuh ke tangan orang lain.

***

Pertanyaan dari pemimpin nikahan, justru membuat gendang telinga Hana Anindya Prayoga terasa pekak, dan hatinya terasa hancur berkeping-keping.

Bayangan wajah pria berkaca mata menari-nari di pelupuk mata, sehingga Hana Anindya Prayoga tak sadar sudah beberapa kali ditanyakan apakah dia bersedia menikah atau tidak. Begitu juga dengan Demian Dewantara yang sudah diketahui sejak lama oleh Hana Anindya Prayoga, juga sangat intim dengan kekasihnya yang bernama Jesica.

***

Hari pertama setelah pernikahan berlangsung.

Hana Anindya Prayoga dan Demian Dewantara hanya sama-sama terdiam di sudut kamar.

Sesekali terdengar hempasan napas karas dari mulut pria berparas tampan, tetapi arogan itu.

Dia terkesan sangat membenci sang istri, tatapan sinisnya mulai terlihat sejak hari pertama bertukar cincin.

Senentara Hana Anindya Prayoga santai saja, selama pria itu tak menyentuhnya, dia akan merasa baik-baik saja.

Namun dari hari ke hari pria berparas tampan memiliki tatapan teduh itu, membuat suasana rumah seperti di neraka.

Demian Dewantara tidak pernah mau menyentuh apa yang disentuh oleh Kim Nuri. Seperti sebelumnya, Hana Anindya Prayoga memegang gelas di atas meja, tapi sang suami langsung buru-buru menjatuhkan gelas itu.

Braakk!

Suara keras dari hempasan kursi meja makan seiring dengan jatuhnya gelas ke lantai.

Hana Anindya Prayoga yang tidak pernah menerima perlakuan itu di tengah-tengah keluarga besarnya, kini dia merasakan setelah hidup dengan pria yang tak pernah dia sukai sama sekali.

Sakit hatinta, sampai kelopak mata cantik itu menjadi terasa panas.

Ingin dia memaki dan membalas perlakuan Demian Dewantara terhadapnya, tetapi dia masih berpikir, akan malu jika terdengar oleh tetangga.

"Dasar wanita sialan! Kenapa juga dia menyetujui perjodohan ini? Apa dia memang suka padaku?" bisik Demian Dewantara dalam hati. "Secara aku, kan, lebih tampan dari pria yang tak jadi menikahi wanita itu," lanjutnya.

Demian Dewantara terus menggerutu dalam kamar mandi. Tak habis pikir dengan sikap istri bohongannya—Hana Anindya Prayoga selalu santai saat dia memperlakukan seperti babu.

"Apakah dia bodoh? Atau kah dia manusia yang terlalu polos? Aghh! Menyebalkan sekali."

Sejak menikah mereka sudah memutuskan untuk tidak sekamar, walaupun berada di bawah satu atap.

Rumah pemberian orang tua Demian Dewantara cukup besar kalau hanya dihuni oleh mereka berdua. Dan lingkungan begitu asri dan di samping kiri kanan juga dihuni oleh pasangan pengantin yang baru-baru menikah.

Sungguh takdir sedang bermain-main. Berkali-kali Hana Anindya Prayoga mencoba untuk tidak ambil pusing, tetapi Demian Dewantara malah semakin menjadi-jadi menyiksanya dengan mulut kasar.

"Apakah aku harus lapor ke ayah? Ah, tidak-tidak. Itu hanya akan membuat hubungan ayah dengan ayah pria angkuh itu akan bermasalah," ujarnya bermonolog.

Kriing!

Nada dering ponsel memaksanya keluar dari lamunan panjang.

"Selamat malam, Sayang. Apa kabar kamu?" terdengar suara Raka Herlambang yang begitu sangat khas di telinganya.

Hana Anindya Prayoga tercengang, kenapa pria itu tiba-tiba menghubunginya lagi?

Namun, ada rasa tidak enak hati ketika menjawab telpon dari mantan tunangannya itu.

"Aku, kan, sudah punya suami," batinnya menyela.

"Halo! Masih di sana, kan, Hana?"

Untuk yang kedua kalinya, Raka Herlambang kembali membuka obrolan.

"Aku ngantuk, Ka. Udah malam, ngobrolnya besok aja, ya?" tawar Hana Anindya Prayoga berbohong, padahal matanya masih ingin terbangun. Kegelisahan hati terhadap sikap sang suami, membuat matanya enggan terpejam.

Hana Anindya Prayoga takut jika kegilaan pria itu menjadi kumat, dia bisa-bisa menggorok lehernya. Itu lah yang ada di pikiran istri cantik yang masih perawan itu, hingga dia bergidik membayangkan hal yang mengada-ngada begitu.

Pukul tiga dini hari, matanya mulai terasa berat. Hana Anindya Prayoga mengunci pintu kamar, dan dia ingin tidur sampai siang. Karena kebetulan esoknya adalah hari Minggu.

***

Mentari masih terlihat malu-malu menampakkan wajahnya. Hana Anindya Prayoga masih terpaku di sudut kamar itu, memandang lekat dedaunan yang terkena bias embun yang ditinggalkan sang malam.

Hari Minggu biasanya ayah dan ibunya datang berkunjung, tetapi minggu ini mereka tidak akan datang. Karena masih berada di luar kota.

Berharap sekali dia mendapatkan pelukan hangat dari ibunya. Akan tetapi, untuk saat itu, dia akan melewati minggu tanpa mereka kedua orang tuanya.

Bab 2

Dia melirik jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat. Suara Baek Hyeon tak terdengar sama sekali, mungkin dia masih tertidur.

Hana Anindya Prayoga pun beranjak dengan malas, menuju kamar mandi yang memang tersedia di dalam kamarnya.

Setelah selesai mandi dan berdandan, Hana Anindya Prayoga mulai mengerjakan pekerjaan rumah. Berberes dan memasak untuk dirinya sendiri.

Sang ibu pernah menawarkan asisten rumah tangga, tetapi dia tidak mau. Karena sudah dipastikan Demian Dewantara akan semakin murka dengan adanya orang lain di rumah itu. Dan tentu pria berparas tampan tersebut, tidak akan bebas menyiksa istri bohongannya.

"Hana!"

Teriakan Demian Dewantara membuat dia tersedak.

"Iya, ada apa?" tanyanya datar.

"Ini sepatuku kenapa bisa basah begini?" jawab Demian Dewantara, balik bertanya. Dia dengan masih menggunakan volume hampir full.

"Aku lupa menjemurnya, kemaren aku nyuci sepatu. Ya, udah sekalian aku cuci juga sepatu kamu," jawab Hana Anindya Prayoga masih bernada datar.

"Siapa yang menyuruh kamu menyentuh barang-barangku? Aku, kan, sudah bilang, jangan menyentuh apa-apa kalau itu milik pribadiku. Kamu paham nggak, sih?!" teriak Demian Dewantara.

"Kamu bisa nggak bebicara sedikit pelan? Telingaku masih normal, belum tuli sama sekali!" balas Hana Anindya Prayoga. Kali ini dia beranikan menaikan suara.

Lalu, Hana Anindya Prayoga melihat sang suami masuk ke kamarnya, kemudian dia keluar lagi dengan menggunakan sarung tangan.

Diperhatikan saja olehnya. Ternyata Demian Dewantara mengambil sepatu itu dan membuangnya ke tong sampah.

"Begitu jijiknya dia melihatku, aku seperti manusia najis yang berada di sekitar seorang pangeran angkuh itu," gerutu Hana Anindya Prayoga, dalam hati.

Hatinya mengutuk kejam. Andai saja dia bisa memilih untuk membatalkan perjodohan itu dari awal, tentu sudah dia lakukan.

Ekting sang ayah yang pura-pura terkena serangan jantung, telah sukses membuatnya mengatakan setuju di saat perjodohan yang telah disusun matang oleh ayahnya dan ayah Demian Dewantara.

***

Tugas kantor kembali menumpuk, Demian Dewantara mulai bermalas-malasan setelah kehidupannya mulai membosankan.

Tidurnya tidak teratur, makan pun apa lagi. Hanya seadanya saja ketika dia malas keluar kamar, atau hanya sekedar memencet tombol ponsel untuk memesan makanan lewat aplikasi.

"Wanita sialan itu telah menghancurkan masa depanku dengan Jesica. Aku akan membalas kamu, Hana!" Kepalan tangannya mengeras.

Ada rasa benci yang bertahta di otak dan hatinya. "Kenapa harus dia yang dipilih ayah? Tapi, memang tidak diragukan lagi, watak ayah dan ayah perempuan sialan itu, tidak jauh beda. Mereka hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri. Sementara masa depanku dipertaruhkan. Aku benci wanita sialan itu, aku benci dengan hidupku saat ini," sambungnya merutuk.

***

Sesekali Hana Anindya Prayoga masih juga merindukan Raka Herlambang, walau pria itu telah membuatnya patah hati, tapi segala rasa itu dia coba menepisnya. Bagaimanapun, dia sudah menjadi istri dari Demian Dewantara. Walaupun pria itu tidak pernah menganggapnya ada, tapi Hana Anindya Prayoga tetap menjaga kehormatan hubungan pernikahannya.

Bagaimana dengan Demian Dewantara?

Iya, dia tetap menjalin hubungan dengan Jesica. Bahkan dia dengan sengaja mengajak perempuan itu datang ke kediaman mereka.

Tidak merasa bersalah sedikitpun, dia malah sengaja bermesraan di depan wanita yang sudah dinikahinya itu.

Akan tetapi, Hana Anindya Prayoga memilih sikap masa bodoh saja, sampai tiba masanya dia merasakan ada duri yang menghujam di hati kecil, di saat Demian Dewantara dengan beraninya mengecup lembut kening Jesica pada sore itu, tepat di saat Hana Anindya Prayoga menoleh ke ruang tamu.

"Ah, tidak! Apa aku cemburu?"

Hana Anindya Prayoga berusaha menenangkan hatinya, sekuat hati dia berjalan santai menuju kamar. Sampai di dalam kamar, tiba-tiba air matanya meleleh.

Dalam waktu tiga bulan, Demian Dewantara sudah beberapa kali mengajak Jesica datang ke rumah itu. Awalnya Hana Anindya Prayoga merasa biasa-biasa saja, tapi dia tak tahu apa yang terjadi padanya sore itu. Wanita berparas cantik tersebut, merasa sakit hati melihat sepasang kekasih bermesraan, sampai air mata berhasil lolos dari kedua kelopak matanya.

"Ada apa dengan diriku?"

Tap! Tap! Tap!

Suara langkah kaki milik seseorang terdengar mendekat. Membuat Hana Anindya Prayoga harus buru-buru menyeka air mata yang sedari tadi meleleh tiada henti.

Tanpa mengetuk pintu mau pun memanggil, Jesica langsung mendorong pintu dan menyelonong masuk ke kamarnya.

"Hmmm ... kamar kamu cukup bagus, dan begitu mewah. Seharusnya aku yang tinggal di sini bersama kekasihku!" kata Jesica sambil berkacak pinggang.

Hana Anindya Prayoga diam saja, pura-pura tidak mendengar celotehan perempuan itu.

"Kamu kaya, dan kamu anak satu-satunya dari keluarga kamu. Kenapa kamu masih mengejar Demian, Hah? Kamu pikir cinta itu bisa dipaksakan? Ooo ... iya ... iya, aku tahu, nih, kamu kan, memang sudah tergila-gila sama Demian kekasihku, dan itu terjadi sudah lama, sejak kita sama-sama memasuki sekolah yang sama, betulkan?" tebaknya berapi-api.

"Sok, tahu kamu! Sampai saat ini aku masih mencintai Raka. Kalau nggak tahu permasalahannya, kamu jangan ikut campur dengan masalah rumah tangga orang lain. Paham kamu?!" tegas Hana Anindya Prayoga sambil menahan diri agar tidak menjambak rambut perempuan yang berdiri di depannya itu, yang masih dengan gaya berkacak pinggang.

"Au ... au. Rumah tangga yang mana? Bukankah tadi kamu bilang kalau kamu masih mencintai Raka, terus kamu lagi membahas rumah tangga siapa?" tanya Jesica mengejek, semakin menjadi-jadi.

Hana Anindya Prayoga mengatupkan kelima jarinya membentuk kepalan tinju yang siap mendarat di mulut Jesica.

Namun gagal, Demian Dewantara langsung datang ke kamarnya. Dan, membawa Jesica keluar untuk menjauhinya.

Hana Anindya Prayoga sakit hati. Di depan Jesica, dia diperlakukan kasar dan Demian Dewantara bilang kalau dia adalah wanita pembawa sial. Ditambah lagi dengan lirikan mata Jesica ke arahnya sambil mengulum senyuman yang penuh ejekkan.

Setelah mereka berdua berlalu dari pandangannya, Hana Anindya Prayoga kembali menutup pintu dengan satu tendangan.

Braaak!

"Woi! Dasar cewek gila! Itu pintu mahal, tahu?!" teriak Demian Dewantara dari ruang tamu.

Dret! Dree! Dreeet!

Ponsel milik Hana Anindya Prayoga bergetar beberapa kali.

Dia melihat notifikasi, ternyata dari Do Hyun. Satu hal yang Hana Anindya Prayoga inginkan saat itu adalah mengunci pintu dan diam tanpa bicara. Akan tetapi, lagi-lagi Raka Herlambang melakukan panggilan berulang-ulang.

"Iya ada apa, Ka?" tanyanya malas.

"Kamu lagi apa, Hana?" sahut pria itu dari seberang sana bertanya dengan mesra.

Namun, Hana Anindya Prayoga tidak berharap lagi Raka Herlambang terus-terusan seperti itu padanya.

"Raka, udah dulu, ya? Aku mau mandi, sudah sore soalnya," katanya ingin menutup pembicaraan dengan pria tersebut.

"Aku tau kenapa sifatmu belakangan berubah kepadaku, kamu telah melupakan aku, bukan? Ya, aku tau itu," tebak Raka Herlambang.

Bab 3

"Aku tidak mau bahas masalah ini sekarang, kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Hana Anindya Prayoga, dengan suara datar.

"Sulit bagiku untuk percaya saat ini, aku kecewa dengan sikapmu, Sayang," jawab Raka Herlambang.

"Ya udah kalau gitu, kita tidak usah lagi berbicara atau membahas hubungan ini. Toh, aku sudah menikah, sulit bagiku untuk keluar dari permasalahan ini, Raka."

"Tapi aku masih mencintai kamu, Hana! Tidak bisakah kamu membuat kesepakatan sama suamimu yang tidak kamu cintai itu? Atau bisa saja kalian memohon pada masing-masing orang tua kalian, tidak bisakah kau lakukan untuk cinta?" kata Raka Herlambang dengan pertanyaan yang mendesak, membuat perempuan di seberang sana bingung.

Pernyataan Raka Herlambang setelah itu semangkin membuatnya gugup. Rasanya dia tidak ingin mengakhiri pernikahan palsu itu, walau Demian Dewantara sangat membencinya.

"Kamu, sih, enak ngomong gitu, karena kamu nggak tahu bagaimana ayahku! Aku mohon, Raka. Beri aku waktu untuk berpikir," pintanya tak sungguh-sungguh. "Oh iya, aku heran sama kamu, jika masih memiliki perasaan, kenapa kamu harus menyerah dengan hal itu kalau akhirnya menyesal?"

"Untuk pertama kalinya aku merasakan rasa sakit sesak di dadaku benar-benar menyakitkan, perasaan apa ini sebenarnya? Apakah cinta itu tidak bisa mengalahkan keangkuhan orang tua kamu?" tanya Raka yang terus mendesak Hana Anindya Prayoga.

"Please, beri aku waktu. Aku merasa semakin kalut kalau terus didesak seperti ini!" ujar Hana terdengar tegas.

"Sampai kapan? Sampai kamu benar-benar melupakan aku, hah?"

"Udah ah, aku mau mandi dulu. Besok aku telepon balik," ucap Hana dan langsung memutuskan sambungan telepon.

Raka Herlambang merasa sangat kecewa pada pada perempuan yang masih dia cintai saat. Akan tetapi, Hana Anindya Prayoga benar-benar tidak bisa berpikir jernih, apalagi setelah dia mengingat Demian Dewantara mengatakannya wanita pembawa sial.

Takdir telah menyeretnya ke dalam kubangan luka. Walaupun Hana Anindya Prayoga punya segalanya, tetapi cinta tidak pernah berpihak padanya saat itu. Dia membenci dengan semua yang terjadi, benci dengan hubungan bisnis yang memaksa dia untuk menikah dengan Demian Dewantara, pria yang selalu jijik menatapnya.

Namun, Hana Anindya Prayoga terlalu naif untuk mengakui semua itu, bahwa sebenarnya dia mungkin telah jatuh cinta walau membenci. Di saat ada getaran-getaran yang melebur di dalam hati, akankah logika itu masih bisa menghalangi bahwasanya dia tak mencintai pria angkuh itu?

Bodohnya, Hana Anindya Prayoga di sana hanyalah sebagai alat atau sebuah boneka yang bisa ditelantarkan dan menjadi kerak di dalam hidup Demian Dewantara. Dan waktupun kian berlalu, menggelitik luka dan mentertawakan setiap butiran bening yang menganak sungai dari pelupuk matanya.

***

Mentari kembali bersinar cerah, cahaya pun masuk menerobos celah-celah pentilasi kamar.

Hana Anindya Prayoga ingin melanjutkan tidur nyenyak pagi itu, tetapi deringan dari benda kotak persegi panjang, terus memaksanya untuk bangkit.

"Halo, siapa ini?" tanyanya.

"Hey, Nona. Bangunlah!"

"What? Syifa! Kamu, ih. Kamu udah nyampe tanah air, ya?" tanya Hana Anindya Prayoga girang dan langsung melompat-lomoat di atas tempat tidurnya.

"Buruan! Aku udah berdebu di bandara, nih. Jemput dong," pinta Syifa di seberang telepon.

"Oke, aku mandi dulu. Da

Bye ... Cin! Tunggu akuh di sana."

Hana Anindya Prayoga memutuskan sambungan telepon, lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.

***

Sesampai di bandara, Syifa sudah berdiri menunggu jemputan. Dress berwarna merah terbalut dengan sempurna di tubuhnya.

Syifa dia manis dan terawat, sangat berbeda dengan Hana Anindya Prayoga yang tidak bisa memakai high heel berjenis apa pun. Syifa adalah temannya sejak kecil. Dia melanjutkan studi ke negeri Kangguru, karena dia berkomitmen setelah sukses barulah ia menikah.

Sungguh berbanding terbalik dengan Hana Anindya Prayoga. Lulus kuliah malah dipaksa menikahih, setelah acara pertunangan dengan Raka Herlambang batal.

"Eh, manten anyar udah datang," ucap Syifa sambil memamerkan gigi-giginya yang tersusun rapi.

"Jangan bahas itu dulu ngapa, aku laper, nih. Entar selera makanku jadi berkurang. Ayo, cepatan masuk ke mobil!" seru Hana Anindya Prayoga dengan mimik muka yang entah seperti apa.

"Baiklah, Nyonya! Kita ke rumahku dulu. Aku mau mandi dan dandan yang cakep, habis itu barulah kita cari warteg ...."

"What, warteg? Kamu serius, Fa?" tanya Hana Anindya Prayoga, langsung memotong kalimat Syifa.

"Huum, aku tu kangen masakan Indonesia, Na. Apalagi semur jengkol, wih ... jadi nggak tahan aku. Ngebut dikit, Na! Aku udah ngiler, nih."

***

Di kediaman rumah pengantin bohongan.

"Tumben rumah sepi, perempua stres itu kemana, ya? Mobilnya juga nggak ada di garasi. Jangan-jangan dia pulang ke rumah orang tuanya? Terus dia ngadu deh, terus aku dan dia disuruh bercerai. Baguslah kalau begitu," ujar Demian Dewantara sambil manggut-manggut.

Lalu Demian Dewantara bergegas mengganti pakaian, kemudian pergi lagi menjemput Jesica. Karena gadis itu minta diantarkan ke salon.

"Memang dasar wanita, kalau nggak minta perhiasan, ya, minta uang untuk perawatan kecantikannya. Tapi aku sih, santai aja, toh dia merawat dirinya dan mempercantik wajahnya memang untuk aku. Apa salahnya aku menghambur-hamburkan sedikit uang perusahaan milik papaku," gumam Demian Dewantara. "Aku heran aja sama si Hana itu, kenapa dia tidak seperti kebanyakan wanita. Aku lihat dia bedakan pun tidak pernah, irit amat apa, ya? Atau jangan-jangan dia bukan wanita?" sambungnya.

Sesampai di depan apartemen Jesica, Demian Dewantara melihat ada Raka Herlambang.

"Ngapain dia ada di depan apartemen Jesica? Ah, mungkin saja hanya kebetulan lewat," tepisnya.

Selang beberapa menit, Jesica pun datang. Dan mereka langsung berangkat ke salon langganan kekasihnya.

***

"Kita ke warteg langganan aja ya, Fa?" tanya Hana Anindya Prayoga pada Syifa di perjalan menuju lokasi yang dicari.

"Pasti, dong. Aku beneran kangen sama Mbok Iyem. Dia tu, jago banget kalau masalah masakan tradisional," jawab Syifa menyunggingkan senyumannya yang manis.

Sesampai di warteg, Hana Anindya Prayoga dan Syifa langsung memesan makanan. Warteg itu tidak pernah sepi pengunjung. Pelanggannya mulai dari kalangan bawah sampai kalangan atas pun ada di sana. Kadang bule-bule juga sering Vlog di warung Mbok Iyem. Ya cukup terkenal juga, karena anak Mbok Iyem yang bernama Santi, sering upload foto-foto di internet. Akhirnya warteg itu semakin ramai.

"Eh, ada Neng Hana dan Neng Syifa. Kalian ke mana saja? Sudah bertahun-tahun tidak mampir ke sini," sapa Mbok Iyem ramah.

"Iya, Mbok. Aku, sih, sibuk membantu perusahaan papa, kalau Syifa kan memang baru pulang dari luar negri. Ternyata ingatan mbok masih tinggi juga, ya," jawab Hana Anindya Prayoga sambil tersenyum semringah

"Mbok denger-denger, Neng Hana sudah menikah, ya?" tanya Mbok Iyem lagi.

Bersambung ....

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED