Chelsea sedang memikirkan strategi balasan. Seluruh tubuhnya terasa lemah akibat pengaruh obat. Dan di mobil itu ada seorang pengawal yang menjaganya. Jelas, tidak mungkin baginya untuk bertarung secara nekat.
Untungnya, afrodisiak tersebut belum bekerja.
Chelsea harus menemukan cara untuk menyelamatkan dirinya sebelum afrodisiak itu mulai bekerja. Jika tidak, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan menimpanya.
Mobil pengantin itu berjalan semakin jauh. Tapi anehnya, mobil itu perlahan-lahan melaju ke suatu tempat terpencil dan hanya ada sedikit orang di sekitar situ.
Mobil tersebut tidak menuju ke rumah Keluarga Sudrajat.
Sebagai keluarga terkaya dan paling berkuasa di Kota Harapan, mustahil bagi Keluarga Sudrajat untuk tinggal di daerah terpencil seperti ini.
Langsung saja Chelsea bingung.
Mungkinkah ini 'hadiah besar' yang disebut Cheline sebelumnya?
Sebelum Chelsea bisa berpikir lebih jauh, dia merasakan semburan panas datang dari dalam tubuhnya, sementara semburat merah penuh gairah muncul di pipinya.
Ah, sialan! Afrodisiak itu mulai bekerja.
Chelsea menjadi sangat cemas.
Begitu pengawal itu melihat wajah Chelsea yang memerah, matanya langsung dipenuhi oleh tatapan mesum. Dia menekan Chelsea di kursi sambil tersenyum mesum dan berkata, "Tampaknya afrodisiak itu sudah bekerja."
Bagaimana dia tahu bahwa Cheline sudah membiusnya? Sepertinya pria ini bekerja sama dengan Cheline.
Chelsea memutar tubuhnya dan berjuang mati-matian. Namun, gelombang nafsu secara bertahap menelan kesadarannya.
"Jangan khawatir, aku akan membantumu sekarang."
Pengawal itu membelenggu tangan Chelsea dan mengutak-atik gaun pengantinnya dengan kurang ajar.
"Ya ampun! Aku tidak pernah menyangka bisa tidur dengan seorang wanita kaya hari ini."
Sang sopir melirik kaca spion dari waktu ke waktu. Dia menjadi semakin gelisah saat melihat kulit halus Chelsea di bawah gaun pengantinnya. Dia mendesak pengawal itu, "Cepatlah! Giliranku setelah kamu. Jangan lupa untuk merekamnya. Itu perintah khusus Nona Kurniawan.
Seluruh tubuh Chelsea gemetar, sementara matanya dipenuhi kebencian.
Ternyata inilah 'hadiah besar' yang dimaksud Cheline. Cheline benar-benar berniat menghancurkannya.
Chelsea terkejut saat menyadari hal ini, tetapi dia memaksa dirinya agar tetap tenang. Dia tidak boleh panik sekarang.
"Jika Keluarga Sudrajat tahu bahwa pengantin mereka ditiduri sebelum pernikahannya, apa kalian pikir mereka akan melepaskan kalian begitu saja?"
Di saat putus asa seperti ini, Chelsea tidak punya pilihan selain menggunakan Keluarga Sudrajat sebagai tamengnya, berharap untuk menghilangkan pikiran jahat kedua pria ini.
Wajah pengawal itu menunjukkan penghinaan. Dia mengeluarkan kamera perekam dan mulai merekam. "Jika Keluarga Sudrajat benar-benar peduli dengan Tristan si pecundang itu, kamu tidak akan menikahi dia hari ini. Dia itu tidak disukai oleh keluarganya. Kamu pikir kamu ini siapa?"
Chelsea menggigit bibir bawahnya. Karena efek dari afrodisiak, wajahnya yang memerah menjadi lebih halus dan cantik.
Memang tidak berlebihan jika hanya dengan wajahnya Chelsea mampu membangkitkan hasrat pria mana pun.
Pengawal itu membelai wajah Chelsea sambil merekamnya dari dekat. Detik berikutnya, dia merobek gaun pengantinnya yang putih bersih.
Bahunya yang halus dan lembut tiba-tiba terpampang. Pengawal itu menelan ludah dan tidak bisa menahan diri untuk tidak memuji, "Kamu cantik sekali!"
Dia menatap kulit Chelsea yang tak terlindungi dengan begitu rakus serta tidak sabar untuk menekan tubuh Chelsea di bawah tubuhnya.
Kedua mata Chelsea terbelalak karena kaget. Dia begitu putus asa sehingga dia menggigit bibir bawahnya, menekuk lututnya, dan menendang selangkangan pengawal itu dengan kencang.
Pengawal itu mengeluarkan raungan kesakitan sementara urat biru langsung menonjol di dahinya. Dia berguling turun dari kursi mobil.
Dia memegangi selangkangannya sambil memelototi Chelsea dengan ganas. Kemudian dia menggunakan seluruh sisa tenaganya untuk bangkit dan menampar wajah Chelsea sambil memakinya dengan marah, "Dasar wanita murahan! Kamu pikir kamu ini wanita terhormat yang tak berdosa dari keluarga kaya? Aku hanya memanggilmu 'Nona' demi sopan santun. Tapi kamu benar-benar menganggapnya serius?"
Tamparan pengawal itu membuat Chelsea mendapatkan kembali kesadaran serta kekuatannya.
Sopir itu tersenyum mengejek dan bertanya, "Kenapa kamu marah padanya? Aku sudah melihat banyak wanita seperti dia. Tiduri dia sekarang. Setelah itu dia akan patuh. Dan mungkin setelah hari ini, dia akan mendatangimu dan memulai hubungan rahasia denganmu. Lagi pula, pecundang dari Keluarga Sudrajat itu mungkin tidak akan sanggup memuaskannya."
"Iya, kamu benar. Hari ini aku akan menjinakkan si murahan ini," jawab si pengawal sambil mencibir.
Chelsea sangat muak mendengar kata-kata kotor mereka. Dia melihat kedua pria itu tertawa jahat dan tidak begitu waspada, lalu dia mengambil kesempatan ini untuk meraih kemudi, terlepas dari rasa sakit yang dia rasakan di wajahnya.
Pengemudi itu ketakutan karena dia tidak menyangka Chelsea akan bertindak seperti itu. "Dasar gila! Apa kamu ingin membunuh kita semua?"
Meski pengawal itu terus menarik Chelsea ke belakang, sopir tersebut masih panik dan gagal menstabilkan setir mobil.
Dalam sekejap mata, mobil pengantin itu kehilangan kendali dan bertabrakan dengan mobil mewah yang sedang melaju.
Mobil pengantin itu terlempar beberapa meter jauhnya. Kepala pengawal dan sopir tersebut pening karena terbentur. Chelsea merasa pening karena kepalanya juga membentur jendela.
Tapi dia berusaha keras untuk tetap sadar. Ini adalah waktu yang tepat untuk melarikan diri.
Chelsea tidak peduli dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dia menendang pengawal itu dengan sekuat tenaga, lalu membuka pintu mobil dan melarikan diri tanpa melihat ke belakang.
"Kurang ajar! Wanita murahan itu mau kabur!" Chelsea panik saat mendengar pengawal itu berteriak.
Sopir dan pengawal itu turun dari mobil dengan sigap untuk mengejar Chelsea. Lagi pula, jika dia berhasil kabur, keduanya akan berada dalam situasi yang menyedihkan.
Chelsea bergegas mendekati mobil mewah di dekatnya dengan sekuat tenaga. Dia merasa pusing dan penglihatannya agak kabur. Untungnya, dia tidak terluka dan gerakannya tidak terpengaruh.
Tidak ada orang lain di sekitar situ. Satu-satunya yang bisa dia lihat adalah mobil tersebut. Ini merupakan satu-satunya kesempatan baginya untuk kabur.
Setelah tabrakan tersebut, mobil Bugatti Royale edisi terbatas itu berhenti di tepi tebing. Jika pengemudi mobil itu tidak kompeten, mobil tersebut mungkin akan jatuh ke dalam jurang dengan konsekuensi yang mengerikan.
Dua orang pria berjas segera keluar dari pintu depan mobil. Salah satu dari pria itu langsung memeriksa mobil, sementara yang lainnya berdiri di depan pintu belakang. Dia membungkuk dan berkata, "Maafkan kelalaian saya."
Pria di dalam mobil itu menunjukkan ekspresi datar. Dia melangkah keluar dari mobil dan menjawab ponselnya yang sudah berdering untuk sementara waktu.
Dari ujung telepon terdengar sebuah suara tegas dan marah. "Kamu sedang apa? Pengantin wanitanya hampir tiba, tapi kamu masih belum kembali. Kamu pikir kami akan melangsungkan upacara pernikahan ini jika kamu bukan putraku? Kota Harapan begitu besar. Kamu bahkan tidak bisa mencari seorang istri. Berapa lama kamu berencana untuk mempermalukan keluarga kita?"
"Aku bukan anggota Keluarga Sudrajat lagi. Aku tidak berniat untuk kembali." Setelah menyatakan ini, pria itu tiba-tiba menutup panggilan tersebut.
Setelah memeriksa mobil itu, asisten pria tersesbut, Bima Purwadi, kembali ke sisi pria itu dan berkata, "Mobil kita ditabrak mobil lain, Tuan. Tapi seharusnya semuanya baik-baik saja dan tidak akan menunda janji Tuan dengan Tuan Kusnandar."
Wajah pria itu terlihat tanpa emosi. "Lanjut menyetir. Gatot, kamu tangani masalah yang tersisa."
Sementara itu, Chelsea berusaha berlari ke arah mereka. Begitu dia melihat pria itu memasuki mobil, dia bergegas maju dan meletakkan tangannya di depan pintu yang sedang menutup.
Telapak tangannya mendapat bekas merah karena dia menghentikan pintu mobil yang sedang menutup itu. Dia berusaha masuk mobil dengan gegabah karena ingin berlindung dari bahaya yang mengincarnya. Dia menatap pria di dalam mobil itu sambil berlinang air mata dan memohon, "Tolong bantu aku!"
Pria itu menundukkan kepalanya dan memandang Chelsea dengan tajam.
Bima menahan dirinya agar tidak buru-buru bertindak. Dia menundukkan kepalanya dan bertanya, "Tuan, waktu janji temu Anda dengan Tuan Kusnandar hampir tiba. Apa yang harus kita lakukan dengan wanita ini?"
Chelsea mendengar ini dan langsung mencengkeram jas pria itu seraya memohon dengan isak tangisnya, "Tolong bantu aku!"
Matanya yang berbentuk almond dan indah dipenuhi dengan air mata.
Setelah melihat wanita yang dibalut gaun pengantin serta berada dalam keadaan kacau balau, pria itu lalu mengingat percakapan telepon dengan ayahnya dan menebak sesuatu.
Saat ini sopir dan pengawal yang bertanggung jawab untuk mengantarkan Chelsea juga tiba. Sopir tersebut melihat bahwa kendaraan di depannya merupakan mobil mewah, jadi dia menekan rasa takut serta amarahnya dan berkata dengan sopan, "Saya minta maaf karena menabrak mobil Anda barusan, Tuan. Tapi itu tidak disengaja. Kami yang salah. Kami sedang terburu-buru untuk mengantarkan pengantin wanita ini kepada Keluarga Sudrajat agar tiba tepat waktu."
Meskipun sopir ini terdengar sopan, tetapi dia menyiratkan bahwa yang terpenting sekarang adalah mengantarkan pengantin ini kepada Keluarga Sudrajat, dan akan buruk akibatnya jika mereka menyinggung keluarga kaya raya itu.
Pria itu tetap diam dengan tatapan paham di matanya.
Chelsea menggelengkan kepalanya dengan mati-matian. Afrodisiak tersebut telah meresap ke seluruh tubuhnya, membuatnya tidak bisa mengatur kata-katanya untuk membantah.
Dia hanya bisa mencengkeram pakaian pria itu dan menolak untuk melepaskannya. Dia berusaha untuk menoleransi penderitaannya sebaik mungkin dan bergumam, "Tuan, jangan ... tolong jangan percaya padanya. Mereka ... mereka ingin meniduriku. Aku butuh ... bantuanmu."
Sopir itu gelisah dan berteriak, "Omong kosong!"
Dia menghadap pria itu dan menyangkal, "Saya sangat menyarankan agar Anda tidak ikut campur dengan ini. Bertengkar dengan Keluarga Sudrajat bukanlah keputusan yang bijaksana."
Bagaimanapun, Keluarga Sudrajat adalah keluarga paling berkuasa di Kota Harapan.
Pria itu memandang Chelsea dengan ekspresi dingin.
Kedua mata Chelsea tampak kabur. Wajahnya semerah tomat sementara bahunya terbuka.
Pria itu mengerutkan kening, lalu melepas mantelnya, dan menyampirkannya di bahu Chelsea. "Masuk ke mobil."
Chelsea memasuki mobil dengan rasa terima kasih seolah-olah nyawanya diselamatkan.
Bima segera menutup pintu tersebut agar kedua pria di luar tidak bisa mendekati Chelsea.
Melihat ini, sopir itu lalu mengancam, "Berani-beraninya kamu! Apa kamu tahu akibatnya jika melawan Keluarga Sudrajat?"
"Yang aku tahu hanyalah akibat dari menyinggungku."
Nada suaranya terdengar sedingin es. Dia melihat ke luar mobil dan memerintahkan pengawalnya, Gatot Brata, "Singkirkan mereka."
Lalu dia berbalik menghadap Bima.
"Jalan."