Bab 1

Chelsea Kurniawan tersadar dalam keadaan linglung, dia mendapati dirinya begitu lemah dan pusing. Yang paling aneh adalah dia mengenakan gaun pengantin.

Ada beberapa pengawal yang sedang menyokongnya dan hendak memasukkannya ke dalam mobil pengantin.

"Tunggu! Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku!" Chelsea menjadi panik. Dia tidak percaya dengan apa yang terjadi.

Dia hanya kembali untuk mengambil barang-barang peninggalan ibunya dan tinggal untuk makan atas permintaan ayahnya. Hanya itu yang bisa dia ingat. Apa yang sedang terjadi?

Para pengawal yang kuat itu mencengkeram Chelsea dengan erat dan mendorongnya dengan kasar ke dalam mobil pengantin itu.

"Ini perintah Tuan Kurniawan. Masuk mobil sekarang!" bentak salah satu pengawal dengan suara yang lantang dan menakutkan.

Chelsea tercengang. Dia hampir tak percaya bahwa ini adalah ide ayahnya.

Dia terkejut sekaligus bingung, mencoba mengingat apa yang telah terjadi.

Dua jam yang lalu, ayahnya, Andri Kurniawan, memberitahunya bahwa dia tidak sengaja menemukan barang-barang peninggalan ibunya di loteng. Dia bertanya apakah Chelsea ingin datang dan mengambil barang-barang itu.

Chelsea pindah saat dia berusia tujuh belas tahun. Sejak itu, dia tidak pernah datang ke rumah ayahnya lagi. Jika bukan karena barang-barang peninggalan ibunya itu, dia tidak akan pernah kembali ke sana.

Saat Chelsea tiba di rumah itu, Andri memintanya untuk tinggal dan makan bersama. Sebenarnya, dia agak curiga karena sungguh tidak biasa bagi ayahnya untuk memintanya seperti itu. Jadi dia hanya duduk dan menyesap jusnya. Tapi dia tidak menyangka sedikit jus itu cukup untuk membuatnya pingsan. Ketika dia siuman, apa yang terjadi berada di luar imajinasinya.

Chelsea masih lemah karena pengaruh obat bius. Tapi dia telah berlatih karate selama bertahun-tahun untuk menjaga dirinya dalam kondisi prima. Sekarang dia harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

"Tidak, aku tidak akan masuk ke mobil itu." Dia menekan bahunya ke pintu mobil untuk melawan. Lalu dia berkata dengan tegas, "Apa-apaan ini? Jika ini benar-benar perintah Andri, aku ingin mendengar langsung darinya."

Tepat setelah dia mengatakan ini, terdengar sebuah suara dengan nada agak meminta maaf dari belakangnya. Itu adalah Andri.

"Chelsea, aku tidak akan melakukan ini jika aku punya pilihan lain. Turuti saja perintahku. Masuk ke mobil dan cepatlah menikah dengan Keluarga Sudrajat."

Chelsea menyentakkan kepalanya dan melihat Andri berdiri di sana. Di samping Andri ada ada ibu tirinya, Megan Budiono, dan adik tirinya, Cheline Kurniawan.

Andri selalu bersikap asing dan tidak menunjukkan perasaan apa pun terhadapnya. Tapi sekarang, dia tampak begitu malu sampai tidak berani menatap mata Chelsea.

"Tidak usah banyak bicara! Kita membesarkannya selama bertahun-tahun dan dia berutang pada kita. Sekarang perusahaan kita berada dalam masalah, sudah saatnya dia membayar utangnya."

Megan melangkah maju dan menatap Chelsea dengan arogan. "Jangan bilang aku ini ibu tiri yang jahat. Kamu seharusnya berterima kasih padaku. Kamu akan menikah dengan Keluarga Sudrajat dan itu adalah hal yang baik. Kamu akan menjalani kehidupan mewah yang diimpikan banyak orang. Semua orang akan iri denganmu. Ibumu yang mengawasimu dari surga pasti senang melihat ini."

Chelsea memelotot pada Megan dengan tatapan ganas ketika wanita itu menyebut mendiang ibunya.

"Perusak rumah tangga yang hina sepertimu tidak berhak untuk memutuskan pernikahanku."

"Hmph!" Wajah Megan berubah kesal karena amarah. Tetapi dia segera mencibir, "Ya, aku memang perusak rumah tangga dan aku tidak bisa mengaturmu. Tapi sekarang, Grup Kurniawan berada dalam bahaya. Keluarga kita sedang menghadapi krisis. Keluarga Sudrajat bersedia membantu kita selama kamu menikah dengan keluarga mereka."

Dia membungkuk dan menjambak rambut Chelsea untuk menariknya lebih dekat. "Kamu adalah anak pertama ayahmu, jadi kamu harus melakukan sesuatu untuk Grup Kurniawan, bahkan jika itu berarti kamu harus mengorbankan pernikahan serta kebahagiaanmu sendiri.

Lagi pula, bagaimana bisa menikah dengan Keluarga Sudrajat disebut sebagai pengorbanan? Keluarga Sudrajat adalah keluarga terkaya di Kota Harapan. Banyak wanita akan berebut mati-matian untuk menikah dengan keluarga ini, tetapi berakhir dalam kegagalan."

Chelsea mencibir, "Kalau begitu, kenapa bukan putrimu saja yang dinikahkan?"

"Kakak, kamu salah paham dengan Ibu."

Cheline memasang tampang khawatir dan berkata dengan munafik, "Ibu ingin aku menikah dengan Keluarga Sudrajat. Tapi Ayah tidak setuju saat beliau tahu bahwa aku akan menikahi Tristan Sudrajat. Semua orang tahu bahwa Tristan mengalami kecelakaan mobil hingga wajahnya rusak. Sekarang dia sangat lemah dan bisa meninggal kapan saja. Bagaimana mungkin aku menikahi pria seperti itu? Kamu tahu sendiri Ayah bagaimana. Ayah tidak tahan melihatku menderita, jadi beliau mencetuskan ide ini."

Dia tampak sedih saat mengatakan hal tersebut. Kemudian dia lanjut berbicara di antara isak tangisnya, "Kakak, tolong jangan salahkan Ayah. Salahkan aku saja."

Hati Chelsea seakan mencelos. Dia menatap Andri dengan dingin serta diliputi perasaan marah dan kecewa.

Dia dan Cheline adalah putrinya. Namun, Andri memilih untuk menjodohkannya demi melindungi putri kesayangannya, Cheline. Sungguh ayah yang 'baik'.

Andri tetap tidak mengangkat kepalanya untuk menatap Chelsea. Megan mengambil kesempatan ini dan memerintahkan para pengawal untuk mendorong Chelsea masuk mobil. Chelsea berusaha memberontak, tetapi usahanya sia-sia saja. Dia tidak sebanding dengan para pengawal yang kuat ini.

Sebelum mesin mobil menyala, Cheline berjalan mendekati Chelsea. Air mata bergulir di wajahnya, tapi bibirnya melengkung menjadi senyum kemenangan.

"Kakak, aku hampir lupa memberitahumu sesuatu." Suaranya begitu pelan dan hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya.

"Obat bius yang Ayah masukkan ke dalam jusmu hanya bisa membuatmu tak sadarkan diri. Tapi diam-diam aku menambahkan beberapa tetes afrodisiak di dalamnya."

Senyum Cheline menjadi lebih angkuh dan puas diri, benar-benar berbeda dari aktingnya yang menyedihkan tadi. "Hari ini adalah hari besarmu. Sebagai adikmu, aku akan memberimu hadiah besar nanti."

Chelsea sangat marah sehingga dia berjuang mati-matian. Dia benar-benar ingin menampar Cheline dengan keras.

"Kamu tidak perlu berterima kasih padaku. Silakan nikmati saja."

Dengan senyum sinis, Cheline membanting pintu dan memberi isyarat kepada sang sopir untuk segera pergi.

Mobil menyala dan melaju pergi. Di dalam mobil, Chelsea masih ditahan dengan erat oleh seorang pengawal. Kedua matanya yang terbuka lebar dipenuhi dengan rasa benci.

Bab 2

Chelsea sedang memikirkan strategi balasan. Seluruh tubuhnya terasa lemah akibat pengaruh obat. Dan di mobil itu ada seorang pengawal yang menjaganya. Jelas, tidak mungkin baginya untuk bertarung secara nekat.

Untungnya, afrodisiak tersebut belum bekerja.

Chelsea harus menemukan cara untuk menyelamatkan dirinya sebelum afrodisiak itu mulai bekerja. Jika tidak, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan menimpanya.

Mobil pengantin itu berjalan semakin jauh. Tapi anehnya, mobil itu perlahan-lahan melaju ke suatu tempat terpencil dan hanya ada sedikit orang di sekitar situ.

Mobil tersebut tidak menuju ke rumah Keluarga Sudrajat.

Sebagai keluarga terkaya dan paling berkuasa di Kota Harapan, mustahil bagi Keluarga Sudrajat untuk tinggal di daerah terpencil seperti ini.

Langsung saja Chelsea bingung.

Mungkinkah ini 'hadiah besar' yang disebut Cheline sebelumnya?

Sebelum Chelsea bisa berpikir lebih jauh, dia merasakan semburan panas datang dari dalam tubuhnya, sementara semburat merah penuh gairah muncul di pipinya.

Ah, sialan! Afrodisiak itu mulai bekerja.

Chelsea menjadi sangat cemas.

Begitu pengawal itu melihat wajah Chelsea yang memerah, matanya langsung dipenuhi oleh tatapan mesum. Dia menekan Chelsea di kursi sambil tersenyum mesum dan berkata, "Tampaknya afrodisiak itu sudah bekerja."

Bagaimana dia tahu bahwa Cheline sudah membiusnya? Sepertinya pria ini bekerja sama dengan Cheline.

Chelsea memutar tubuhnya dan berjuang mati-matian. Namun, gelombang nafsu secara bertahap menelan kesadarannya.

"Jangan khawatir, aku akan membantumu sekarang."

Pengawal itu membelenggu tangan Chelsea dan mengutak-atik gaun pengantinnya dengan kurang ajar.

"Ya ampun! Aku tidak pernah menyangka bisa tidur dengan seorang wanita kaya hari ini."

Sang sopir melirik kaca spion dari waktu ke waktu. Dia menjadi semakin gelisah saat melihat kulit halus Chelsea di bawah gaun pengantinnya. Dia mendesak pengawal itu, "Cepatlah! Giliranku setelah kamu. Jangan lupa untuk merekamnya. Itu perintah khusus Nona Kurniawan.

Seluruh tubuh Chelsea gemetar, sementara matanya dipenuhi kebencian.

Ternyata inilah 'hadiah besar' yang dimaksud Cheline. Cheline benar-benar berniat menghancurkannya.

Chelsea terkejut saat menyadari hal ini, tetapi dia memaksa dirinya agar tetap tenang. Dia tidak boleh panik sekarang.

"Jika Keluarga Sudrajat tahu bahwa pengantin mereka ditiduri sebelum pernikahannya, apa kalian pikir mereka akan melepaskan kalian begitu saja?"

Di saat putus asa seperti ini, Chelsea tidak punya pilihan selain menggunakan Keluarga Sudrajat sebagai tamengnya, berharap untuk menghilangkan pikiran jahat kedua pria ini.

Wajah pengawal itu menunjukkan penghinaan. Dia mengeluarkan kamera perekam dan mulai merekam. "Jika Keluarga Sudrajat benar-benar peduli dengan Tristan si pecundang itu, kamu tidak akan menikahi dia hari ini. Dia itu tidak disukai oleh keluarganya. Kamu pikir kamu ini siapa?"

Chelsea menggigit bibir bawahnya. Karena efek dari afrodisiak, wajahnya yang memerah menjadi lebih halus dan cantik.

Memang tidak berlebihan jika hanya dengan wajahnya Chelsea mampu membangkitkan hasrat pria mana pun.

Pengawal itu membelai wajah Chelsea sambil merekamnya dari dekat. Detik berikutnya, dia merobek gaun pengantinnya yang putih bersih.

Bahunya yang halus dan lembut tiba-tiba terpampang. Pengawal itu menelan ludah dan tidak bisa menahan diri untuk tidak memuji, "Kamu cantik sekali!"

Dia menatap kulit Chelsea yang tak terlindungi dengan begitu rakus serta tidak sabar untuk menekan tubuh Chelsea di bawah tubuhnya.

Kedua mata Chelsea terbelalak karena kaget. Dia begitu putus asa sehingga dia menggigit bibir bawahnya, menekuk lututnya, dan menendang selangkangan pengawal itu dengan kencang.

Pengawal itu mengeluarkan raungan kesakitan sementara urat biru langsung menonjol di dahinya. Dia berguling turun dari kursi mobil.

Dia memegangi selangkangannya sambil memelototi Chelsea dengan ganas. Kemudian dia menggunakan seluruh sisa tenaganya untuk bangkit dan menampar wajah Chelsea sambil memakinya dengan marah, "Dasar wanita murahan! Kamu pikir kamu ini wanita terhormat yang tak berdosa dari keluarga kaya? Aku hanya memanggilmu 'Nona' demi sopan santun. Tapi kamu benar-benar menganggapnya serius?"

Tamparan pengawal itu membuat Chelsea mendapatkan kembali kesadaran serta kekuatannya.

Sopir itu tersenyum mengejek dan bertanya, "Kenapa kamu marah padanya? Aku sudah melihat banyak wanita seperti dia. Tiduri dia sekarang. Setelah itu dia akan patuh. Dan mungkin setelah hari ini, dia akan mendatangimu dan memulai hubungan rahasia denganmu. Lagi pula, pecundang dari Keluarga Sudrajat itu mungkin tidak akan sanggup memuaskannya."

"Iya, kamu benar. Hari ini aku akan menjinakkan si murahan ini," jawab si pengawal sambil mencibir.

Chelsea sangat muak mendengar kata-kata kotor mereka. Dia melihat kedua pria itu tertawa jahat dan tidak begitu waspada, lalu dia mengambil kesempatan ini untuk meraih kemudi, terlepas dari rasa sakit yang dia rasakan di wajahnya.

Pengemudi itu ketakutan karena dia tidak menyangka Chelsea akan bertindak seperti itu. "Dasar gila! Apa kamu ingin membunuh kita semua?"

Meski pengawal itu terus menarik Chelsea ke belakang, sopir tersebut masih panik dan gagal menstabilkan setir mobil.

Dalam sekejap mata, mobil pengantin itu kehilangan kendali dan bertabrakan dengan mobil mewah yang sedang melaju.

Mobil pengantin itu terlempar beberapa meter jauhnya. Kepala pengawal dan sopir tersebut pening karena terbentur. Chelsea merasa pening karena kepalanya juga membentur jendela.

Tapi dia berusaha keras untuk tetap sadar. Ini adalah waktu yang tepat untuk melarikan diri.

Chelsea tidak peduli dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dia menendang pengawal itu dengan sekuat tenaga, lalu membuka pintu mobil dan melarikan diri tanpa melihat ke belakang.

"Kurang ajar! Wanita murahan itu mau kabur!" Chelsea panik saat mendengar pengawal itu berteriak.

Bab 3

Sopir dan pengawal itu turun dari mobil dengan sigap untuk mengejar Chelsea. Lagi pula, jika dia berhasil kabur, keduanya akan berada dalam situasi yang menyedihkan.

Chelsea bergegas mendekati mobil mewah di dekatnya dengan sekuat tenaga. Dia merasa pusing dan penglihatannya agak kabur. Untungnya, dia tidak terluka dan gerakannya tidak terpengaruh.

Tidak ada orang lain di sekitar situ. Satu-satunya yang bisa dia lihat adalah mobil tersebut. Ini merupakan satu-satunya kesempatan baginya untuk kabur.

Setelah tabrakan tersebut, mobil Bugatti Royale edisi terbatas itu berhenti di tepi tebing. Jika pengemudi mobil itu tidak kompeten, mobil tersebut mungkin akan jatuh ke dalam jurang dengan konsekuensi yang mengerikan.

Dua orang pria berjas segera keluar dari pintu depan mobil. Salah satu dari pria itu langsung memeriksa mobil, sementara yang lainnya berdiri di depan pintu belakang. Dia membungkuk dan berkata, "Maafkan kelalaian saya."

Pria di dalam mobil itu menunjukkan ekspresi datar. Dia melangkah keluar dari mobil dan menjawab ponselnya yang sudah berdering untuk sementara waktu.

Dari ujung telepon terdengar sebuah suara tegas dan marah. "Kamu sedang apa? Pengantin wanitanya hampir tiba, tapi kamu masih belum kembali. Kamu pikir kami akan melangsungkan upacara pernikahan ini jika kamu bukan putraku? Kota Harapan begitu besar. Kamu bahkan tidak bisa mencari seorang istri. Berapa lama kamu berencana untuk mempermalukan keluarga kita?"

"Aku bukan anggota Keluarga Sudrajat lagi. Aku tidak berniat untuk kembali." Setelah menyatakan ini, pria itu tiba-tiba menutup panggilan tersebut.

Setelah memeriksa mobil itu, asisten pria tersesbut, Bima Purwadi, kembali ke sisi pria itu dan berkata, "Mobil kita ditabrak mobil lain, Tuan. Tapi seharusnya semuanya baik-baik saja dan tidak akan menunda janji Tuan dengan Tuan Kusnandar."

Wajah pria itu terlihat tanpa emosi. "Lanjut menyetir. Gatot, kamu tangani masalah yang tersisa."

Sementara itu, Chelsea berusaha berlari ke arah mereka. Begitu dia melihat pria itu memasuki mobil, dia bergegas maju dan meletakkan tangannya di depan pintu yang sedang menutup.

Telapak tangannya mendapat bekas merah karena dia menghentikan pintu mobil yang sedang menutup itu. Dia berusaha masuk mobil dengan gegabah karena ingin berlindung dari bahaya yang mengincarnya. Dia menatap pria di dalam mobil itu sambil berlinang air mata dan memohon, "Tolong bantu aku!"

Pria itu menundukkan kepalanya dan memandang Chelsea dengan tajam.

Bima menahan dirinya agar tidak buru-buru bertindak. Dia menundukkan kepalanya dan bertanya, "Tuan, waktu janji temu Anda dengan Tuan Kusnandar hampir tiba. Apa yang harus kita lakukan dengan wanita ini?"

Chelsea mendengar ini dan langsung mencengkeram jas pria itu seraya memohon dengan isak tangisnya, "Tolong bantu aku!"

Matanya yang berbentuk almond dan indah dipenuhi dengan air mata.

Setelah melihat wanita yang dibalut gaun pengantin serta berada dalam keadaan kacau balau, pria itu lalu mengingat percakapan telepon dengan ayahnya dan menebak sesuatu.

Saat ini sopir dan pengawal yang bertanggung jawab untuk mengantarkan Chelsea juga tiba. Sopir tersebut melihat bahwa kendaraan di depannya merupakan mobil mewah, jadi dia menekan rasa takut serta amarahnya dan berkata dengan sopan, "Saya minta maaf karena menabrak mobil Anda barusan, Tuan. Tapi itu tidak disengaja. Kami yang salah. Kami sedang terburu-buru untuk mengantarkan pengantin wanita ini kepada Keluarga Sudrajat agar tiba tepat waktu."

Meskipun sopir ini terdengar sopan, tetapi dia menyiratkan bahwa yang terpenting sekarang adalah mengantarkan pengantin ini kepada Keluarga Sudrajat, dan akan buruk akibatnya jika mereka menyinggung keluarga kaya raya itu.

Pria itu tetap diam dengan tatapan paham di matanya.

Chelsea menggelengkan kepalanya dengan mati-matian. Afrodisiak tersebut telah meresap ke seluruh tubuhnya, membuatnya tidak bisa mengatur kata-katanya untuk membantah.

Dia hanya bisa mencengkeram pakaian pria itu dan menolak untuk melepaskannya. Dia berusaha untuk menoleransi penderitaannya sebaik mungkin dan bergumam, "Tuan, jangan ... tolong jangan percaya padanya. Mereka ... mereka ingin meniduriku. Aku butuh ... bantuanmu."

Sopir itu gelisah dan berteriak, "Omong kosong!"

Dia menghadap pria itu dan menyangkal, "Saya sangat menyarankan agar Anda tidak ikut campur dengan ini. Bertengkar dengan Keluarga Sudrajat bukanlah keputusan yang bijaksana."

Bagaimanapun, Keluarga Sudrajat adalah keluarga paling berkuasa di Kota Harapan.

Pria itu memandang Chelsea dengan ekspresi dingin.

Kedua mata Chelsea tampak kabur. Wajahnya semerah tomat sementara bahunya terbuka.

Pria itu mengerutkan kening, lalu melepas mantelnya, dan menyampirkannya di bahu Chelsea. "Masuk ke mobil."

Chelsea memasuki mobil dengan rasa terima kasih seolah-olah nyawanya diselamatkan.

Bima segera menutup pintu tersebut agar kedua pria di luar tidak bisa mendekati Chelsea.

Melihat ini, sopir itu lalu mengancam, "Berani-beraninya kamu! Apa kamu tahu akibatnya jika melawan Keluarga Sudrajat?"

"Yang aku tahu hanyalah akibat dari menyinggungku."

Nada suaranya terdengar sedingin es. Dia melihat ke luar mobil dan memerintahkan pengawalnya, Gatot Brata, "Singkirkan mereka."

Lalu dia berbalik menghadap Bima.

"Jalan."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED