Bab 1

"Kamu hanya pelacur bagiku!"

Perkataan Wisnu seperti sayatan pisau pada hati Sefia.

Siapa yang tidak panas mendengar perkataan tersebut? Meluncur begitu saja dari mulut tunangannya.

Pernikahan akan dilangsungkan besok!

Malam ini, tanpa sengaja Sefia singgah ke apartemen mewah milik sang kekasih-Wisnutama Adijaya Putra, seorang CEO di perusahan property terbesar di Jakarta. Tujuannya adalah ingin mengantar jas pengantin yang ketinggalan di mobilnya.

Sefia semakin curiga saat mendengar desahan manja milik seorang wanita pada waktu ia membuka pintu utama.

Hati Sefia semakin berdegup kencang saat langkah kakinya semakin mendekati kamar tidur, di mana ia pernah bermadu kasih dengan pujaan hati.

"Kamu sungguh sempit, tidak seperti pelacur itu." Terdengar suara yang ia kenali sebagai tunangannya.

"Ahh, Mas Wisnu. Lebih keras lagi!" Rintihan suara wanita yang sepertinya ia juga kenal.

Sefia mengernyitkan alisnya dengan tangan dan kaki yang gemetaran.

"Siapa pelacur itu, Mas?"

"Sefia, siapa lagi kalau bukan dia?"

Perlahan Sefia membuka pintu kamar utama dengan tangan yang sudah lemas karena gemetaran. Kedua matanya langsung membulat sempurna.

Dua sosok yang dikenalnya sedang berpacu tanpa busana di atas ranjang. Wisnu dan Cyntia—wanita cantik yang digaji Sefia sebagai asisten.

"Bu Sefia!" pekik Cyntia dengan tangan malu menutup wajahnya. Tubuhnya yang polos berada di bawah kukungan sang kekasih. Jelas sekali bahwa tubuh bagian bawah mereka masih bersatu.

"Se-Sefia!"

"Pelacur katamu?" Sefia melayangkan tatapan tajam dan merasa jijik dengan pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.

Wisnu menelan salivanya, pria itu masih tidak mau melepaskan wanita dalam kukungan yang berlindung dalam pelukannya.

Wisnu merasakan gadis dalam pelukannya sedang ketakutan.

"Iya, betul! Kamu tidak salah dengar! Kamu hanya pelacur bagiku!" teriak Wisnu dengan lantang.

"Baik! Pernikahan kita batal!" balas Sefia lalu memutar tubuhnya dan berlari meninggalkan dua sejoli itu.

"Mas, bagaimana ini? Aku akan dipecat," rintih Cyntia dengan manja.

"Tidak perlu khawatir, Sayang. Aku mencintaimu, kamu akan menjadi istriku, aku akan memenuhi semua kebutuhanmu, Sayang," ucap Wisnu tanpa mengeluarkan senjatanya dari tubuh gadis cantik tersebut.

"Tanggung! Kita lanjutkan saja!" teriak Wisnu dengan bersemangat, tanpa merasa bersalah dan langsung mempercepat gerakannya sehingga Cyntia mengerang dalam kedasyatan yang sempurna.

"Ha ha, rasakan! Ini pembalasan dendamku," gumam Cyntia dalam hati kecilnya sambil mendesah mesra.

"Ughh! Mas."

Sementara Sefia berlari menuju ke mobilnya dengan air mata yang sudah sukses membentuk dua garis sempurna di pipi.

"Persetan semuanya! Biadab!" pekik Sefia sembari membanting pintu mobil lalu menekan laju gas dengan tekanan tinggi.

Mobil dipacu melalui belokan sempurna menelusuri gedung parkiran yang berputar sampai ke bawah.

Palang parkir dipatahkan dan diterobos oleh wanita yang sudah menggila tersebut.

Petugas palang parkir hanya melongo dan segera menghubungi pihak yang berwenang untuk membuat laporan.

Mobil dipacu dengan kecepatan tinggi melintasi jalur cepat di kota Jakarta. Pemandangan lampu kerlap-kerlip Jakarta menambah kehancuran hati Sefia. Air mata menetes dengan deras sampai membasahi rok yang dipakainya.

Eyeliner di bawah mata Sefia meleleh sehingga pipi Sefia menjadi kehitaman.

"Tidak adil!" teriak Sefia. Walaupun wanita itu sedang hancur hatinya, kelihaian dalam membawa mobil perlu diberi jempol.

Sefia sampai di apartemennya dengan selamat. Satu-satunya yang terluka dan hancur hanyalah hatinya.

Dengan wajah kacau dan mata sembab, wanita itu menekan lift untuk menuju ke apartemen di tingkat 32, di mana ia tinggal.

Bab 2

Ting.

Sefia masuk ke dalam lift dengan tatapan kosong. Lelehan eyeliner membuat wajahnya menjadi jelek.

"Kamu baik-baik saja?" tanya seorang pria di dalam lift.

Bab 2

Sefia tidak sadar ada orang di dalam lift sehingga dia terperanjat. Sefia menatap pria itu sekilas. Seorang pria ganteng, melebih Wisnu dengan tinggi 180cm. Sefia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain karena saat ini, ia merasa jijik melihat pria ganteng.

"Kaget!" pekik Sefia sambil mengelus dada dan merasa kesal.

"Eh, maaf. Aku cuma nanya."

"Tidak apa-apa. Aku juga sedang melamun sehingga tidak menyadari keberadaanmu," jawab Sefia dengan lirih.

"Kamu baik-baik saja?" ulang pria tersebut.

Sefia menarik napas dalam-dalam, menahan amarah dalam dirinya. Dia merasa butuh melampiaskan amarahnya.

"Tidak! Aku tidak baik-baik saja!" Sefia menatap pria di hadapannya dengan galak.

"Tunanganku baru saja menyebutku pelacur. Sekarang aku ingin mencari seseorang yang mau membayarku mahal agar aku benar-benar menjadi pelacur baginya. Kamu mau bayar mahal? Sepertinya kamu banyak uang!" Sefia mengedarkan pandangan menatap pria itu dengan tatapan menggoda.

Sambil tertawa, Sefia membuka blazer yang dipakai dan menunjukkan bongkahan dada yang dimilikinya di balik blus ketat selaras dengan rok padat.

"Lihat, aku punya dada yang montok. Aku minta dua ribu, tunai!" seloroh Sefia lalu menutup kembali blazernya sambil tertawa. Kemudian memalingkan wajah menatap ke arah layar kecil berisi angka lift.

"Eh, kelewatan, aku tidak menekan tombol tingkat 32 tadi!"

Pria itu menelan salivanya dengan kasar lalu berkata, "Baik! Aku akan membayarmu!"

"Eh ..."

Sefia melongo. Belum sempat Sefia mencerna perkataan pria asing itu, lift sudah berhenti di lantai paling tinggi gedung bertingkat tersebut. Lift eksklusif berhenti langsung di apartemen pria asing itu.

"Eh! Lepaskan!" teriak Sefia dengan panik. Tubuh mungilnya sudah diangkat masuk ke dalam apartemen termewah di gedung tersebut.

"Lepaskan! Aku cuma bercanda!"

"Aowh!" teriak Sefia dengan mata membulat tajam. Tubuhnya dihempaskan dengan kasar ke ranjang.

Pria berwajah Asian dan mirip artis korea itu membuka kancing kemejanya sendiri dengan sebelah tangan. Tangannya satu lagi menarik kaki Sefia yang ingin melarikan diri.

"Eh, ampun! Aku cuma bercanda! Tidak serius!" teriak Sefia sambil menghentakkan kakinya, berusaha terlepas dari kukungan pria yang tidak dikenalnya sama sekali.

"Hmmmpt, hmmmpt." Sefia berusaha menghindar dari ciuman paksa yang dilayangkan. Pria itu menekan tengkuk leher Sefia yang menciumnya dengan liar.

Karena gerakan kaki Sefia yang menendang sembarangan. Pria itu menggunakan kaos yang dipakai Sefia. Kedua tangan Sefia dinaikkan di atas kepala lalu diikat pada tiang ranjang yang terdiri dari besi-besi mewah bercat warna emas.

"To-tolong!" teriak Sefia dengan panik karena melihat bagian bawahnya sudah dilucuti dengan sempurna. Demikian juga celana dari pria asing itu.

"Jangan, kumohon! Aku bukan pelacur! Aku hanya seorang tunangan yang diselingkuhi!" teriak Sefia dengan ketakutan dan meliukkan tubuhnya dengan liar.

"Tolong! Jangan. Aku hanya bercanda!"

Teriakannya hanya membuat pria itu tersenyum sinis dan kembali memainkan lidahnya di seluruh tubuh milik Sefia.

Sefia merasakan getaran yang aneh dalam dirinya karena rangsangan liar yang diberikan, geli dan juga menyakitkan tetapi ia harus menjaga kewarasan.

Kesialan akan berlipat ganda bila ia diperk*sa oleh pria asing ini! Sefia kembali memberontak dengan meliukkan pinggulnya, berusaha melepas ikatan pada tangannya dengan menghentakkan tangan berulangkali.

Bab 3

Walau tangannya kesakitan, Sefia menggerakkan tubuhnya terus, sehingga pergerakannya mengganggu pria asing itu.

Plak! Sebuah tamparan dilayangkan dengan mulus ke pipi Sefia sehingga wanita itu merasakan nyeri akibat bibirnya yang sobek.

"Diam!" perintah pria itu dengan suara yang lantang.

Baru saja Sefia diam dan menahan sesungukkan, senjata pria itu berhasil mendobrak masuk menembus tubuhnya yang tidak siap.

Bab 3

"Arghhhh!" jerit Sefia kesakitan karena senjata pria itu selaras dengan tinggi badannya.

Sefia meliukkan tubuhnya ke atas, menahan kesakitan yang menembus jantung sehingga dadanya membusung, gerakannya malah menambah gairah sang pria untuk melumatnya.

"Sa-sakit!" pekik Sefia sambil berlinang air mata. Kedatangannya ke apartemen Wisnu hari ini telah menjadi hari tersial baginya.

Senjata milik pria asing ini lebih besar dan lebih panjang daripada milik Wisnu yang pernah merengut keperawanannya dulu.

Dengan pasrah, Sefia membiarkan tubuh pria itu berpacu di atasnya. Ia tidak dapat melawan lagi. Tubuhnya juga sudah kehilangan banyak tenaga.

Setelah yakin Sefia tidak bergerak dengan liar lagi, sang pria pelan-pelan melepas ikatan tangan Sefia. Bekas memerah pada pergelangan Sefia yang sudah lecet, tidak sanggup dihiraukan lagi karena kesakitan di bagian bawah melebihi apa yang Sefia bayangkan.

Sefia hanya mampu menarik sprei dengan erat menahan kesakitan pada sekujur tubuhnya. Air mata mengalir dengan deras membasahi sprei.

Pria itu bukan hanya mencumbu, ia mengigit dengan liar dan meninggalkan bekas yang membiru di berbagai tempat. Ketiak Sefia bahkan dihisap dengan brutal sehingga lecet.

Bila Sefia bergerak sedikit atau pun berusaha menutup dadanya, maka sebuah tamparan akan dilayangkan kembali.

Pria itu tetap mencium paksa bibir Sefia yang sudah robek, walau ikut mengecap dar*h dari luka bibir wanita malang tersebut.

Sambil berpacu dalam goyangannya, pria berwajah Asian itu menjambak rambut Sefia dengan keras seolah-olah itu menambah gairahnya.

Hampir satu jam, tubuh Sefia dipacu dengan berbagai gaya panas yang membuat wanita itu seperti boneka mainan s*ks.

Tidak mampu Sefia ingat lagi berapa kali benih ditanamkan dalam rahimnya. Ia hanya menatap kosong dan jijik ke arah lain seperti patung yang sedang dipakai.

"Terkutuk! Aku benar-benar menjadi pelacur dalam waktu 1 malam," rintih Sefia sambil menutup matanya dengan tubuh yang masih berguncang-guncang karena pria asing itu bermain di atasnya.

Dalam pikiran wanita itu hanya satu.

"Aku akan memb*nuh pria ini setelah ia tertidur!"

"Aku juga akan memb*nuh Wisnu dan Cyntia, wanita tidak tahu balas budi!"

Sefia menahan kesakitan yang teramat memilukan atas pelecehan yang dialaminya saat ini.

Sampai entah berapa lama, ia pun pingsan.

Entah berapa lama Sefia pingsan karena tidak tahan melayani pria dengan hasrat tinggi melebih yang pernah ia rasakan bersama Wisnu, sang kekasih yang baru saja mengkhianatinya.

"Arghh," pekik Sefia menahan sakit pada bagian sensitifnya walau belum sepenuhnya sadar. Wanita cantik itu terbangun dan merasa remuk pada tubuhnya.

Pandangan Sefia berkunang-kunang sebelum apa yang dilihat di depannya lama kelamaan menjadi semakin jelas. Pelan-pelan Sefia bangkit dan terduduk di ranjangnya dengan masih memegang selimut putih yang terbuat dari sutra tipis dan halus.

Ia tidak menemukan bayangan orang lain di ruangan yang luas itu.

Cahaya matahari pagi masuk dari jendela kaca yang berada di hampir semua sisi ruangan yang mewah itu. Sefia menyadari bahwa hari sudah pagi dan dia baru menyadari pelecehan yang dialaminya semalam.

"Astaga! Aku menikah hari ini!" pekik Sefia. Kedua matanya melebar dengan sebelah tangannya menahan kepalanya yang masih pusing.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED