Bab 1

Andini ke luar dari kamar mandi, dia hanya berbalutkan baju tidur saja yang bahannya tipis. Andini melihat seseorang di dalam kamarnya.

"Andini, aku tahu kamu menyukai aku." Pria itu berbalik badan dan menatap Andini. Tatapannya penuh nafsu.

"Tolong jangan mendekat!" pinta Andini ketakutan. Dia beringsut mundur agar jauh dari pria itu. "Aku akan berteriak jika kamu mendekat," ancam Andini. Namun, pria itu tidak menghiraukan ancaman Andini dia mah semakin mendekat.

"Andini, malam ini kamu akan menjadi milikku." Pria itu langsung membekap mulut Andini.

Pria itu menarik Andini ke atas ranjang, Andini berusaha memberontak dan berteriak tetapi tenaganya sangat lemah. pria menyeringai melihat tubuh Andini yang hanya memakai baju tidur tipis.

"Malam ini kita akan bersenang-senang," kata pria itu beringas dan mulai menindih tubuh Andini.

"Em em," Suara Andini tak terdengar. Pria itu membekapnya dengan rapat.

Andini berusaha berteriak sambil memukul tubuh pria itu, namun semua tidak ada gunanya.

Pria itu dengan bringas menciumi leher Andini. Andini terus menolak tetapi usahanya sia-sia. Dia telah berhasil merenggut kehormatan Andini secara paksa.

Andini menangis, dan menutup tubuhnya dengan selimut. Sementara pria itu memakai kembali bajunya dan tersenyum puas.

Pria yang tak lain tetangga Andini itu telah berhasil menodai Andini. Andini menangis sampai tidak terdengar isakan tangisnya karena terlalu takut.

"Aku akan datang lagi, siapkan dirimu, sayang," ucapnya. Pria itu mendekatkan wajahnya ke arah Andini.

Andini meludahinya yang hendak mencium Andini lagi. Pria itu mengusapnya dengan tisu.

"Kamu tidak akan bisa lepas dari ku, Andini." Pria itu emosi. Dia menampar Andini dengan kasar. Andini terisak, bukannya pergi pria itu malah menjalankan aksinya kembali. Kali ini pria itu melakukan Andini dengan sangat kasar sekali. Dia beberapa kali menampar dan memukul Andini karena terus melawan.

"Nikmat sekali tubuhmu, Ahaha ahah," desah pria itu di atas tubuh Andini. Setelah mencapai klimaks keduanya pria itu memakai celananya dan meninggalkan Andini seorang diri.

Andini mengambil bajunya dan segera mandi. Dia cukup lama di dalam kamar mandi. Dia menangis sesegukan. Dinginnya air sudah tidak dia rasakan lagi.

"Mas Arka, maafkan aku," ucap Andini. "Aku wanita kotor, Mas," kata Andini.

Andini menggosok-gosok tubuhnya dengan kasar. Dia merasa jijik sekali karena habis di sentuh pria yang bukan suaminya.

Andini trauma dengan perlakuan pria itu, Andini merasa bersalah karena tidak bisa menjaga diri dengan baik.

**

Flashback

Dua hari yang lalu

Andini sedang mengobrol bersama Maharani di rumah Maharani. Tanpa sengaja Andini bertemu Alex saat dia numpang ke kamar mandi.

Andini kagum dengan Alex yang penyayang terhadap Maharani. Bahkan Maharani sering bercerita pada Andini bahwa Alex sering membantunya mengerjakan pekerjaan rumah.

"Andini, aku beruntung punya suami Mas Alex, dia sangat sayang sama aku. Kalau aku capek dia bantu aku ngerjain kerjaan rumah. Zaman sekarang mana ada pria yang mau kaya gitu." Maharani bercerita. "Selain itu dia juga romantis loh, kemarin waktu aku ulang tahun, dia ngasih aku kado berlian. Udah gitu aku diajak makan malam romantis berdua," lanjut Maharani.

Semakin sering Maharani bercerita, maka Andini semakin kagum dengan sosok Alex. Alex berbeda dengan Arka suami Andini. Arka orangnya pendiam dan tidak romantis. Bahkan kadang cuek dengan Andini.

"Dari rumah Maharani, Dek?" tanya Arka. Dia baru saja pulang kerja, sementara Andini baru pulang dari rumah Maharani.

"Iya, Mas. Aku suka bosen di rumah terus. Nggak apa-apa kan, Mas?" tanya Andini.

"Iya, asal ingat waktu," jawab Arka tersenyum.

Arka membersihkan diri sementara Andini memasak untuk makan malam. Andini tidak terlalu pandai memasak tetapi Arka juga tidak pernah komplain. Dia menerima apapun yang Andini masak.

Flashback off

**

Rasa sedih masih menyelimuti Andini. Dia berjalan pelan menuju ranjang. Dia mengganti seprai bekas pria tadi. Dia tidak mau kalau sampai pria tadi datang lagi dan menodainya.

Drett Drett

"Mas Arka melakukan panggilan vidio?" tanya Andini panik. Andini meletakkan kembali ponselnya.

Andini menyembunyikan diri di dalam selimut. Dia takut kalau sampai Arka tahu dan menceraikannya. Dia tidak mau pernikahannya dengan Arka yang belum genap satu tahun harus berakhir. Andini benar-benar takut sekali Arka tahu hal ini.

"Rasanya susah sekali untuk tidur," ucap Andini gelisah. Pikirannya masih mengingat kejadian tadi.

Bayangan pria itu menghampiri kembali ingatan Andini. Sehingga dia sulit terlelap bahkan dia merasa hidupnya tidak berarti lagi.

**

Maharani tidak melihat suaminya, padahal dia tidak melihat Alex keluar rumah. Tiba-tiba Alex muncul dari dapur.

"Mas, dari mana?" tanya Maharani. "Aku sudah siap kok malah cari kamu nggak ada," kata Maharani dengan manjanya.

"Maaf, Mas tadi merokok di halaman belakang," jawab Alex bohong.

"Mas, yuk! Mumpung aku belum mengantuk!" ajak Maharani.

"Maaf, Sayang. Mas capek, besok malam saja," tolak Alex.

Maharani langsung mengambek dan masuk ke dalam kamar. Dia memakai selimut dan pura-pura tidur. Alex masuk ke kamar. Bukannya membujuk Maharani, Alex justru tidur duluan.

"Kamu kenapa, Mas? Kenapa nolak ajakan aku?" tanya Maharani pada dirinya sendiri. Sementara Alex sudh mendengkur.

Maharani mengirim pesan pada Andini. Namun, Andini tidak membalasnya.

[Andini, besok aku ke rumah kamu. Aku mau curhat.]

Maharani memejamkan matanya, namun tidak kunjung terlelap. Dia masih merasa kesal pada Alex yang menolak ajakannya untuk bercinta.

**

Pagi sekali Andini sudah di datangi Maharani. Dia datang kaya jailangkung, tiba-tiba nongol dengan tanpa di undang.

"Din, semalam kamu tidur jam berapa?" tanya Maharani. "Aku kirim pesan ke kamu kok nggak balas," kata Maharani. Dengan sangat Maharani duduk di kursi makan.

"Nggak tahu, aku ketiduran. Emang mau cerita apa?" tanya Andini.

"Mas Alex," ucap Maharani terhenti.

"Suami kamu kenapa?" tanya Andini.

"Dia semalam nolak saat aku ajak bercinta," jawab Maharani.

Deg

Seketika jantung Andini berdegup kencang. Seperti sedang dalam bahaya. Dia yakin Alex menolak karena ada sesuatu hal.

"Dia sangat aneh, biasanya nggak pernah merokok di halaman belakang. Kenapa tadi malam merokok di halaman belakang?" tanya Maharani.

"Kamu jangan suudzon," ucap Andini. Andini berusaha santai agar tidak ketahuan Maharani. Andini membuat nasi goreng. "Oh ya kamu nggak masak?" tanya Andini.

"Malas, aku ngambek sama Mas Alex," jawab Maharani. "Salah siapa semalam dia menolak aku," kata Maharani.

"Jangan gitu, nanti suami kamu ikutan ngambek. Tugas wanita-kan memang menjaga suaminya, melayani suaminya. Kalau kamu tiap marah nggak masak, nanti Mas Alex makan dimana?" tanya Andini berusaha menghilangkan sikap gugupnya.

"Warung-kan banyak, Din. Ngapain sih susah-susah," jawab Maharani. Maharani memang jarang memasak, selain tidak pandai memasak dia itu malas untuk memasak. "Oh ya, suami kamu di mana?" tanya Maharani.

"Assalamualaikum." Suara Arka . Andini mematikan kompornya lalu ke depan menyambut kedatangan Arka.

"Mas Arka, katanya masih besok pulangnya," kata Andini.

"Salamnya nggak dijawab nih," kata Arka.

"Iya, Wa'alaikumsalam.'' Andini cengegesan.

Arka hendak mencium Andini, tetapi Andini menjauh. Kejadian semalam membuat dia trauma untuk di sentuh.

"Loh, Mas Arka baru pulang dinas dari luar kota ya?" tanya Maharani yang sedari tadi mengikuti Andini.

"Iya, Mbak Rani. Tumben Mbak Rani pagi sekali sudah di sini," kata Arka sambil menaruh jaketnya di kursi makan.

"Iya mau curhat sama Andini, eh Mas Arka keburu pulang," ucap Maharani.

Andini menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga. Andini tidak mungkin menyuruh Maharani pulang.

"Nih, Ran makan buat kamu," kata Andini menaruh sepiring nasi goreng di depan Maharani.

"Wah enak ini," ucap Maharani.

Maharani menyendok nasi gorengnya, dia terlihat lahap sekali. Sesekali dia memperhatikan Andini yang makan di dekat Arka.

"Din, suamimu-kan baru pulang. Kok rambut kamu basah?" tanya Maharani.

"Uhuk," Andini tersedak nasi goreng. Dia segera minum air putih.

"Iya, Dek. Kok keramas?" tanya Arka. Andini berusaha agar tidak gugup. Dia tidak mau Arka curiga. Dia harus bisa memberi alasan untuk Arka.

"Iya nih, biasanya keramas kan kalau habis enak-enak sama suami," timpal Maharani. Arka langsung menolah ke arah Andini dengan tatapan penuh curiga.

Bab 2

Andini tersenyum," Ini semalam kena kotoran cicak, jadi aku tadi keramas. Tahu sendiri kan Mas, kotoran cicak itu bau," jawab Andini.

"Emang bau, Din. Apalagi itu di rambut," ucap Maharani.

Arka selesai makan, dia ke kamar untuk istirahat. Kini tinggal Maharani dan Andini di dapur. Maharani siap dengan curhatannya.

"Mas Alex berubah, Din. Dia nggak sebaik dulu, entah apa yang bikin dia berubah. Apa mungkin dia selingkuh?" tanya Maharani.

Andini bingung harus bicara apa, dia takut Maharani curiga dengan dia. Padahal dia sama sekali tidak mengharapkan kehadiran Alex dalam hidupnya.

"Kenapa diam, Din? Kamu nggak punya solusi apa, biar Mas Alex sayang sama aku lagi," kata Maharani.

"Coba saja bicarakan baik-baik sama Mas Alex. Jangan sampai kamu salah faham sama suami kamu sendiri. Siapa tahu bukan orang ketiga penyebabnya. Bisa saja, Mas Alex ada masalah yang lain," ucap Andini.

"Oh jadi gitu, ya. Kalau dia benar-benar selingkuh, akan aku labrak itu perempuan. Pasti itu perempuan sudah godain Mas Alex," omel Maharani.

"Ngeri amat kamu, Ran," kata Andini.

Maharani tipe wanita yang bar-bar kalau lagi emosi. Bisa-bisa Andini dia cincang kaya daging. Padahal yang salah Alex.

Beberapa hari yang lalu saja, Maharani habis berantem dengan tukang sayur. Hanya karena kembaliannya kurang, tapi Maharani malah menuduh penjual sayur itu korupsi.

"Din, kamu suruh Mas Arka dekati Mas Alex dong. Siapa tahu dengan Mas Arka, Mas Alex curhat. Lumayan, kan? Bisa buat informanku," bujuk Maharani.

"Maaf, Ran. Mas Arka jarang di rumah. Tiap di rumah juga waktunya buat saya," kata Andini.

"Ayolah! Aku mau hubungan aku sama Mas Alex harmonis lagi, Din. Cuma kamu temanku," bujuk Maharani.

"Coba kamu yang berubah, lebih sering masak di rumah. Lebih perhatian sama Mas Alex, jangan ngambekan," pesan Andini.

"Iya, dech. Tapi kamu mau kan jadi teman curhatku terus?" tanya Maharani.

"Emh." Andini hanya berdehem. Dia kesal dengan Maharani.

Maharani justru tidak peka dengan apa yang dirasakan Andini. Arka baru pulang harusnya Maharani juga pulang. Biar Andini bisa berdua dengan Arka. Eh ini malah curhat nggak kelar-kelar.

Andini sudah selesai mencuci piring. Dia mengambil baju kotor ke dalam kamar dan mencucinya. Dia mengambil baju kotor dari koper Arka juga.

"Din, duduk kenapa? Kita ngobrol!" ajak Maharani.

"Mas Arka nggak suka Ran kalau aku biarin baju kotor menumpuk. Jadi aku harus segera cuci," jawab Andini ketus.

"Kamu kok gitu sih, ya sudahlah aku pulang," kata Maharani langsung pulang begitu saja.

Selesai memasukkan baju kotor ke mesin cuci. Andini masuk ke kamar, dia tiduran di samping Arka yang tertidur pulas. Andini merasa bersalah pada Arka atas apa yang menimpanya semalam.

"Eh kamu sayang," kata Arka saat terbangun. "Rani sudah pulang?" tanya Arka.

"Udah, Mas. Baru aja keluar rumah," jawab Andini.

"Andini... Andini," panggil Maharani yang langsung nyelonong masuk.

Andini memang tidak mengunci pintu, pantas Maharani masuk dengan semudah itu. Arka dan Andini bangkit dari ranjang. Mereka berjalan keluar kamar.

"Ada apa, Mbak?" tanya Arka.

"Mas Alex nggak ada di rumah, Mas," jawab Maharani. Dia panik sekali hingga berkeringat.

"Pergi kerja mungkin, Ran." Andini berjalan dari arah tempat mencuci.

"Nggak mungkin, hari ini dia jadwalnya libur. Pasti dia mau ketemu sama selingkuhan dia," kata Maharani.

"Makanya Mbak, pagi-pagi itu suami dilayani. Dimasakin jangan ditinggal ngerumpi," sindir Arka. "Pantas Mas Alex nggak di rumah, cari makan di luar kali," lanjut Arka sambil duduk di ruang tengah.

"Betul, tuh Ran yang Mas Arka bilang," sahut Andini.

Maharani duduk di dekat Arka tanpa dosa. Padahal ada Andini di depannya.

"Mas, sekali-kali kamu temui Mas Alex dong. Siapa tahu sesama laki-laki dia mau curhat dia dekat sama siapa," bujuk Maharani.

"Maaf, Mbak. Saya nggak berani. Mas Alex pasti bukan tipe pria suka curhat," ucap Arka.

"Udah, Ran. Pulang dulu sana. Kamu belum mandi 'kan?" tanya Andini.

"Heheheh, tau aja kamu Din." Maharani cengengesan.

"Pantas, Dek. Mas tadi bau asam," ledek Arka.

"Ihh Mas Arka, ya sudah aku pulang mau mandi," ucap Maharani lalu pergi lagi.

"Emang suaminya selingkuh, Dek?" tanya Arka.

"Nggak kali, Maharani aja yang baper. Main curigaan sama suami," jawab Andini.

"Kalau kamu curiga nggak sama aku?" tanya Arka setengah menggoda Andini.

"Eh lupa cucianku," seru Andini saat Arka mau mendekatkan bibirnya ke pipi Andini.

Arka menunggu Andini selesai nyuci. Dia ingin memadu kasih dengan Andini. Tidak lupa dia mengunci semua pintu dan jendela agar tetangga satu itu tidak memgacaukan kegiatan mereka.

"Dek, udah selesaikan? Ayo ikut Mas ke kamar!" ajak Arka. "Mas kangen kamu, Dek," ucap Arka.

Andini mengikuti suaminya ke dalam kamar.

Arka hendak menyentuh Andini, tetapi Andini menolak.

"Kenapa? kamu sepertinya ketakutan?" tanya Arka.

"Ti-tidak, Mas. Mas Arka pasti capek. Kita tunda saja," jawab Andini gugup. Rasa Traumanya akan berhubungan suami istri semakin dalam. Padahal Arka adalah suaminya.

Arka terdiam, dia merasa aneh dengan sikap Andini yang menolak ajakannya untuk berhubungan.

"Jika ada masalah, katakan!" pinta Arka.

Andini belum sempat menjawab, terdengar gedoran di pintu depan.

"Biang kerok," kata Arka.

"Udah, biarkan saja. Mas Arka istirahat aja!" ucap Andini.

Maharani masih menggedor pintu rumah Andini. Hingga Andini dan Arka terpaksa keluar kamar karema terganggu.. Andini bukan langsung membuka pintu depan. Dia malah ke kamar mandi dahulu.

"Mas, jangan sering-sering keluar kota. Aku takut di rumah sendiri," kata Andini memeluk tubuh Arka dari belakang.

"Kalau nggak berani, terus Mas nggak tugas?" tanya Arka. "Kamu minta temenin adik kamu, ya," kata Arka.

"Aku maunya kamu," ucap Andini manja.

"Dek, Rani gedor-gedor terus tuh. Kasihan dia lama nunggu kita," kata Arka membuat Andini kesal.

Andini membuka pintu, terlihat Maharani menangis sesegukan. Dia mengajak Andini masuk ke dalam.

"Ada apa lagi?" tanya Andini.

"Mas Alex selingkuh," jawab Maharani sembari duduk.

"Kamu tahu dari mana?" tanya Andini.

"Ini lihat foto mereka," kata Maharani memperlihatkan foto Alex dengan seorang perempuan.

"Temannya kali, kamu jangan salah faham," kata Andini.

Arka keluar dari kamar, dia mulai kepo saat mendengar Alex selingkuh.

"Nggak, aku kenal semua temannya," bantah Maharani.

"Yang ngirim pesan itu siapa?" tanya Andini.

"Temanku, dia melihat Mas Alex dengan wanita lain lalu di foto," jawab Maharani.

Tiba-tiba Alex datang, semua terkejut termasuk Andini. Andini langsung mendekati Arka.

"Ran, ayo pulang!" ajak Alex. Dia menarik tangan Maharani.

"Nggak mau, Mas. Kamu selingkuh 'kan, Mas?" tanya Maharani tanpa basa-basi.

"Iya," jawab Alex singkat.

Semuanya terkejut, "Siapa wanita itu?" tanya Maharani.

Alex bukannya menjawab, dia malah melihat Andini dan Arka bergantian.

"Kalau mau tahu, kita pulang!" ajak Alex.

Maharani dan Alex pulang, Andini penasaran dengan jawaban yang akan dikatakan Alex.

Bab 3

Esoknya Maharani tidak ke rumah Andini. Dia tampak khawatir, namun jika Alex bilang dia selingkuh dengan Andini pasti Andini sudah dilabrak Maharani.

"Mas, aku beli sayur ya," kata Andini pada Arka yang sedang memainkan ponselnya.

"Iya, jangan lama-lama," kata Arka.

Andini menuju tukang sayur yang berhenti di depan rumah Bu RT. Namun, Andini tidak melihat Maharani membeli sayur.

"Mbak Dini kok sendirian. Mana Mbak Rani?" tanya Bu RT.

"Nggak tahu, Bu. Mungkin masih punya stok sayur," jawab Andini.

Setelah membeli sayur, Andini pulang. Dia lupa kalau tadi sedang mencuci baju.

**

Maharani sudah punya stok sayur sehingga dia tidak lagi beli di tukang sayur. Kemarin Alex tidak memberitahu dia, siapa wanita selingkuhan Alex.

"Mas, kamu nggak selingkuh 'kan?" tanya Maharani.

"Ya ampun! Kenapa kamu masih bertanya? Siapa yang mau selingkuh sama pria pengangguran seperti aku?" tanya Alex.

Alex belum punya pekerjaan baru setelah pindah rumah. Dia sudah mencari tetapi belum juga dapat pekerjaan baru yang cocok.

"Mas, kita ke rumah Andini yuk!" ajak Maharani.

"Ngapain ke rumah Andini?" tanya Alex.

"Mas minta bantuan Mas Arka saja. Siapa tahu di kantor Mas Arka ada lowongan," jawab Maharani.

"Nggak ah. Aku nggak mau merepotkan Arka," ucap Alex.

Alex naik ke lantai atas dan menuju kamarnya. Sementara Maharani sedang mencuci baju di bawah.

Alex melihat ada Andini sedang menjemur baju di halaman belakang. Dia tampak cantik. Alex terus mengintip Andini dari jendela kamarnya. Dia semakin kagum dengan Andini.

"Aku akan dapatkan kamu," kata Alex.

Maharani masuk ke dalam kamar, Alex tidak menyadarinya. Maharani mendekati Alex yang senyum-senyum sendiri. Maharani melihat ada Andini di bawah sana sedang menjemur baju sendirian.

"Mas, kenapa kamu mengintip Andini?" tanya Maharani.

Alex terkejut dia langsung menutup korden. Dia mengajak Maharani duduk di tepi ranjang.

"Mas, ada apa antara kamu dan Andini? Aku lihat kamu senyum-senyum sendiri pas ngintip dia tadi?" tanya Maharani.

"Tidak ada apa-apa," jawab Alex. "Aku senang aja lihat Andini yang rajin," puji Alex.

"Mas, kamu nggak naksir Andini 'kan?" tanya Maharani penuh selidik.

"Apa-apaan sih kamu! Ya nggaklah!" kilah Alex. "Lagian Mas sudah punya kamu," jawab Alex. "Kamu lebih segalanya dibanding siapapun," puji Alex.

"Mas, aku sudah selesai mencuci. Gimana kalau kita ke rumah Mas Arka?" tanya Maharani.

"Ya sudah, ayo kita ke sana!" ajak Alex.

Mereka datang ke rumah Arka, saat iti Arka dan Andini tengah menonton televisi.

"Assalamualaikum," ucap Maharani sambil mengetuk pintu.

Andini berdiri untuk membukakan pintu. Pintu terbuka, Andini terkejut melihat Maharani datang dengan Alex.

"Dini, Mas Arka ada? Mas Alex mau bertemu?" tanya Maharani.

"A-ada, silahkan masuk!" perintah Andini gugup. Ada rasa ketakutan yang menjalari tubuh Andini seketika.

Alex dan Maharani duduk di kursi ruang tamu. Andini memanggil Arka yang masih menonton televisi.

"Mas, ada Mas Alex sama Maharani. Katanya Mas Alex mau ketemu kamu," kata Andini.

Arka lalu berdiri dan menuju ke ruang tamu. Arka dan Alex mengobrol sementara Maharani menyusul Andini ke dapur.

"Buat minum segala, Din," ucap Maharani.

"Iya, kalian kan tamu," kata Andini.

"Dini, tadi aku mergoki Mas Alex mengintip kamu jemur baju," kata Maharani.

"Ngapain suami kamu ngintip aku?" tanya Andini pura-pura bodoh.

"Katanya dia senang lihat kamu yang rajin," jawab Maharani. "Kemarin dia berbohong, sampai rumah dia bilang tidak selingkuh," lanjut Maharani.

"Bagus dong, Ran. Ayo kita ke depan!" ajak Andini sambil membawa nampan berisi empat gelas es.

Siang hari begini memang cocok minum es. Udaranya sangat panas, meskipun di ruangan ber-AC masih saja terasa panas.

"Silahkan di minum, Ran, Mas!" ucap Andini sambil meletakkan minuman di meja depan Maharani dan Alex. Namun, nampan terlihat bergetar karena Andini masih ketakutan.

"Sayang, kamu gemeteran? Kamu sakit?" tanya Arka.

"Ti-tidak, Mas," jawab Andini tertunduk.

"Mas Arka, tempat Mas Arka kerja ada lowongan nggak? Mas Alex cari kerjaan belum dapat juga," kata Maharani.

"Sementara ini belum ada, Mbak. Nanti kalau butuh karyawan saya kabari," jawab Arka.

Maharani mengajak Andini untuk mengobrol di ruang tengah. Mereka membiarkan Arka dan Alex mengobrol berdua. Andini merasa lega karena dia tidak berhadapan dengan Alex lagi.

Andini dan Maharani mengobrol sambil menonton televisi. Maharani sudah tidak mencurigai Alex lagi. Namun, Andini masih takut jika sering bertemu Alex.

Kejadian malam itu menjadi kenangan buruk Andini. Dia merasa takut jika sewaktu-waktu Alex mendatanginya.

"Mas Arka sering keluar kota, apa kamu nggak takut di rumah sendiri?" tanya Maharani.

"Takut, mau gimana lagi. Itu sudah tugas Mas Arka, aku sih maunya dia sering di rumah." Andini mulai bercerita.

"Tapi uang bulanan nggak pernah kurang 'kan?" tanya Maharani. "Berbeda dengan aku yang harus menghemat karena Mas Alex masih menganggur," bisik Maharani.

Mereka asyik menonton televisi, tiba-tiba Andini mendengar Alex membicarakan Andini di depan Arka.

"Mas Arka beruntung punya istri Mbak Andini. Orangnya rajin dan setia tentunya," kata Alex.

"Iya, Alhamdulillah. Andini adalah wanita pilihanku. Jadi aku tahu bagaimana dia," balas Arka.

"Mencari pasangan yang setia itu tidak mudah, Mas. Apalagi kalau kita punya kekurangan. Kadang suami jarang di rumah juga bisa bikin istri nggak setia," kata Alex.

Andini kesal dengan apa yang dikatakan Alex. Itu artinya Alex menyindir Arka.

"Kalau jarang di rumah, lihat dulu Mas apa yang di lakukan suaminya di luar. Kalau suaminya jarang di rumah karena kerja, pasti istrinya faham. Aku yakin Andini tetap setia denganku. Meskipun aku jarang di rumah," ucap Arka yang peka terhadap sindiran Alex.

Ternyata Maharani menonton televisi dan ketiduran. Andini geleng-geleng kepala. Tiba-tiba Alex mendekati Andini.

"Andini, kamar mandi dimana?" tanya Alex setengah berbisik agar Maharani tidak bangun. Andini terkejut karena Alex tiba-tiba di dekatnya. Perasaan takut tak terbendung lagi, keringat dingin membanjiri tubuh Andini.

'Itu di sebelah dapur," tunjuk Andini pada kamar mandi luar.

"Apa kamu nggak mau ikut?" tanya Alex menggoda. Dia tampak senang melihat Andini ketakutan seperti itu.

"Jangan kurang ajar! Pergi sana sendiri!" bentak Andini. Dia mencoba menghilangkan rasa takutnya.

"Jangan keras-keras," bisik Alex di telinga Andini.

Alex lancang hendak mencium Andini. Tetapi Andini buru-buru pergi. Dia menyusul Arka di ruang tamu.

"Sial!" umpat Alex.

"Mas, kamu kok di sini. Andini mana?" tanya Maharani.

"Tadi aku habis dari toilet, mau bangunin kamu. Ayo kita pulang!" ajak Alex.

Maharani bangun, dia dan Alex ke ruang tamu. Mereka lalu pamit pulang, Maharani terlihat masih mengantuk.

"Mas Arka, jaga istrinya baik-baik," ucap Alex.

"Iya, Mas," balas Arka tersenyum.

Andini tidak faham maksud Alex memperingatkan Arka seperti itu. Tapi Arka nampak biasa saja. Mereka berdua lalu pulang.

"Bicara apa saja Mas sama Mas Alex?" tanya Andini.

"Soal kerjaan, dia juga beberapa kali memuji kamu. Aku rasa dia ada perasaan sama kamu," jawab Arka.

"Perasaan apa maksud Mas Arka?" tanya Andini semakin takut jika Arka curiga.

"Semacam kagum, karena aku lihat dia lebih banyak memuji kamu dari pada Mbak Rani," jawab Arka. "Entah ngapain dia juga nyindir Mas soal kesetiaan istri yang sering ditinggal suami. Mas bingung sama dia," kata Arka.

"Udahlah jangan dipikirin," kata Andini.

"Jangan-jangan ada yang berusaha mendekati kamu," ucap Arka.

"Apa Alex mendekati kamu?" tanya Arka.

Seketika wajah Andini pias dan bingung. "Soalnya aku lihat kamu terlihat aneh saat memandang Alex. Seperti ada yang kamu tutupi dari aku," lanjut Arka.

"Ti-tidak," jawab Andini gugup. Arka mendekati Andini hendak mencium pipi Andini. Andini reflek mendorong Arka hingga jatuh ke sofa.

Ada gurat kekecewaan di wajah Arka.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED