Bab 2

Tubuh Anjani gemetar. Ia tak berani menatap mata Ayudya yang mulai ada rasa curiga. Terdengar lagi suara Ayudya dengan nada menekan agar Anjani menjawab.

"Anjani! Kenapa kau diam?" tanya tegas Ayudya dengan langkah mendekati Anjani.

"Mm, sa ... Saya ..." gugup Anjani tanpa memandang Ayudya.

Belum Anjani meneruskan kata-kata, terdengar suara Barata memotong pembicaraan Anjani.

"Say, Anjani aku suruh mengganti seprai. Bukankah bibi Suti sedang pulang kampung?" suara lembut Barata menjelaskan, dan melangkah mendekati Ayudya yang terlihat masih tak percaya dengan ucapan Barata. Apalagi Barata tertangkap basah hanya memakai celana kolor tanpa baju. Hal itu tak biasa Barata lakukan di depan orang lain selain Ayudya.

"Anjani, benarkah itu?" tanya Ayudya terlihat tak mempercayai.

Anjani masih menunduk, ia masih tak berani menatap sedikitpun Ayudya. Ia berbohong dengan menganggukkan kepala, menyetujui perkataan Barata.

"Ya nyonya, permisi saya hendak ke kamar nona kecil."

Anjani melangkah hendak meninggalkan kamar. Terdengar suara Barata menenangkan Ayudya yang masih shock melihat pemandangan tadi. Ia berusaha merayu dengan memeluk tubuh Ayudya.

"Say, Anjani bukan level aku, dia wanita kampung yang menjijikkan."

Kata-kata Barata terdengar di telinga Anjani sangat menyakitkan, rasanya sakit luar dalam bagi Anjani. Sudah di tampar, dimaki, dihina. Bahkan direnggut kesuciannya hanya karena uang. Uang bisa membuat seseorang menjadi buta.

Anjani merasa beruntung, tadi Ayudya percaya omongan Barata. Hampir saja Anjani mati berdiri mendapat pertanyaan Ayudya.

Anjani dengan cepat menghampiri kamar Aura dan membuka pintunya. Tampak Aura masih tertidur dengan memeluk guling. Mata Anjani langsung tertuju pada jam yang menempel di dinding kamar Aura.

"Masih jam enam pagi," lirihnya.

Anjani menutup kembali pintu kamar Aura. Ia berpikir masih kurang satu setengah jam lagi ia membangunkan Aura untuk berangkat sekolah sekalian mampir ke bank untuk mengirim uang ke Arini adiknya.

Ingatan Anjani pada Amplop yang ia bungkus seprai kotor pemberian dari Barata. Ia dengan cepat masuk kamarnya sendiri yang bersebelahan dengan kamar Aura.

Anjani ingin tau berapa banyak uang yang di berikan Barata. Apakah Barata tak mengingkari janjinya. Bila Anjani masih suci ia hendak memberikan uang lebih dari apa yang disepakati.

Anjani mengeluarkan satu per satu uang lembaran berwarna merah bergambar mawar dari dalam Amplop. ternyata Barata memberikan uang lebih. melebihi dari perjanjiannya.

Mata Anjani membulat sempurna, kala menarik sebuah lipatan kertas putih dari amplop itu. Ia dengan cepat membukanya. Dan tertera di atas kertas putih bertulisan tangan.

ANJANI DUA PULUH LIMA JUTA UANG KU BERIKAN PADAMU. ITU BUKAN NOMINAL YANG SEDIKIT. AKU INGIN, SEHABIS MENGANTAR PUTRIKU, KAU HARUS TEMUI AKU. TUNGGU AKU DI DEPAN TAMAN SENOPATI JAM SEBELAS. SEHABIS KAMU TRANSFER.

Anjani terpana menatap tulisan itu. Ia bingung, ia tak menginginkan kejadian semalam terulang lagi. Ia merasa berdosa sudah mengkhianati kebaikan Ayudya. Tapi bagaimana lagi Anjani tak bisa mengelak, ia takut ancaman Barata kalau sampai Anjani menolak kemauan Barata, Barata akan mengatakan pada Ayudya, kalau Anjani yang menggoda Barata. Dan Anjani bakal tak punya pekerjaan.

Disamping itu Anjani butuh uang, uang untuk biaya operasi ibunya secepatnya. Ia lebih mementingkan nyawa ibunya dibanding kesuciannya. Ia tak mau tau bagaimana kedepannya jika suaminya kelak menuntut kesuciannya.

Cepat-cepat Anjani memasukkan amplop ke dalam tas kecilnya. Ia takut kalau sampai Ayudya mengetahui Anjani punya uang banyak. Tentu akan menimbulkan kecurigaan Ayudya.

Bergegas Anjani hendak keluar untuk menyiapkan sarapan pagi dan memandikan Aura. Serta meletakkan seprai di mesin cuci, rencana nanti sepulang dari mengantar Aura ia hendak mencucinya.

Baru saja Anjani melangkah ia dikejutkan suara ponselnya yang tergeletak di tempat tidur berdering.

Ting tung ... Ting tung ... Ting tung ...

Anjani menghentikan langkahnya secepat kilat ia menyambar ponselnya. Dan memperhatikan tulisan yang tertera pada layar ponselnya.

"Arini," gumamnya dengan mengarahkan ponselnya ke telinga.

Anjani baru menyadari kalau lupa menghubungi adiknya, semalam ia tak menyentuh ponselnya dan membiarkan ponselnya berada di kamarnya. Hingga berderet- deret panggilan tak terjawab dari Arini terpampang di layar ponselnya.

"Maaf Arini, semalam aku bingung, bagaimana aku harus mencari uang. Tapi Alhamdulilah nanti aku transfer," ucap Anjani dalam telpon. Yang disambut kemarahan Arini yang merasa kesal, Sebab Anjani tak mengangkat telponnya sejak semalam.

"Aku panik Mbak! Pihak rumah sakit sudah mendesak terus, ya sudah cepat kirim, sama bayaran sekolahku sekalian!" teriak Arini dalam ponsel, serta mematikan ponselnya sebelum Anjani menjawabnya.

Anjani kesal dengan sikap adiknya. Ia belum juga menyampaikan kata-kata, ponsel sudah ditutup.

"Dikira cari uang itu gampang apa?" gerutu Anjani sambil melempar ponselnya ke atas kasur.

Anjani tak habis pikir dengan Arini. Padahal baru sebulan yang lalu Anjani mengirimkan uang sekolah hingga gaji satu bulan bekerja tak tersisa sama sekali.

Memang kebutuhan keluarga Anjani, semua Anjani yang menanggungnya. Dari biaya sekolah kedua adiknya, sampai biaya hidup makan setiap hari keluarganya.

Ia menginginkan adiknya meneruskan sekolahnya hingga lulus. Jangan seperti dirinya, yang putus sekolah sampai kelas dua SMA. Ia ingin menjunjung nama keluarganya dangan mengirim setiap bulan kebutuhan ibunya agar ibunya tidak hutang ke sana ke mari untuk makan. Apalagi keluarga dari ibu maupun bapaknya yang ada di kampung selalu menghina.

Jangankan meminjamkan uang untuk bayar sekolah. Pinjam beras untuk makan saja tak bakal diberi. Yang pasti makian dan omelan yang Anjani dapatkan.

Beruntung setelah Anjani berhenti sekolah langsung mendapat tawaran pekerjaan dari Astuti teman satu kampung yang hendak menikah. Untuk menggantikan pekerjaannya. Yaitu pekerjaan sebagai baby suster di rumah keluarga Barata yang terkenal kaya raya dengan julukan Sultan.

Anjani yang setiap bulan menerima gaji tiga juta dari Ayudya. Itupun ia tak mengambil sepeserpun uang dari gaji itu. Semua ia kirim ke ibunya. Beruntung segala kebutuhan Anjani di rumah Ayudya, semua yang mencukupi Ayudya.

"Bunda Jani ... Bunda Jani ...!" Suara gadis kecil yang bernama Aura, yang membuat Anjani tersentak dan bergegas keluar kamar menemui Aura setelah mengunci lemarinya.

"Ya, Nona!" teriak Anjani setengah berlari menghampiri Aura yang hendak menuruni anak tangga, sambil mengusap-usap kedua matanya.

Cepat-cepat Anjani berlari kecil menaiki anak tangga menghampiri Aura dan memeluk Aura yang baru bangun tidur, serta mengajaknya masuk kamar untuk mandi dan siap-siap berangkat sekolah.

Rasa penat yang dirasakan Anjani pagi ini sangat terasa. Belum juga ia menyiapkan sarapan, Aura sudah keburu bangun. Tubuhnya terasa lelah dengan permainan semalam melayani Barata, dan belum juga nanti Barata meminta bertemu dengan Anjani.

Anjani bingung, ada apa Barata meminta Anjani untuk menemuinya. Adakah hal yang sangat rahasia? Anjani tak bisa berpikir. Kalau toh Barata hendak berbuat sesuatu yang berhubungan dengan kejadian semalam, Anjani pasrah.

***

Jam menunjukkan angka sembilan. Anjani sudah selesai mengantar Aura. Ia pamit sama Andy sopir pribadi Aura, hendak ke bank untuk mengirim uang ibunya. Andy menyetujuinya dengan mengantar Anjani sampai di kantor bank setempat.

Anjani menyuruh Andy meninggalkan dirinya di kantor. Ia akan pulang sendiri.

"Habis ini aku akan kembali ke sekolahan non Aura, Bang! Jemput non Aura jam tiga sore. Dia ada pelajaran tambahan."

Andy mengangguk dan meninggalkan Anjani yang masih berdiri di depan pintu gerbang sebuah kantor bank, Anjani memandang mobil Andy hingga hilang dari pandangan.

Hanya butuh waktu satu setengah jam, selesai transfer Anjani sudah berada di depan taman Senopati.

Anjani berdiri tepat di pinggir trotoar. Dengan sengatan sinar matahari yang membuat wajah Anjani yang putih alami tampak memerah.

Anjani tak menghiraukan semua itu. Hanya pikirannya yang bergejolak. Rasanya ia enggan untuk menemui Barata. Anjani sangat takut, takut kalau sampai Ayudya memergokki dirinya bersama suaminya. Padahal semua itu bukan kehendaknya.

Sesekali Anjani melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah jam sebelas lewat sepuluh menit. Berarti Anjani sudah menunggu sepuluh menit.

Anjani berpikir, ia akan menunggunya lagi sekitar lima menit, jika Barata tak kunjung datang ia dengan senang hati akan meninggalkan taman. Dan ia punya alasan tersendiri jika Barata marah.

Tin, tin ...

Sebuah sedan warna hitam berhenti tepat di depan Anjani.

Anjani tersentak, ia yakin itu mobil Barata yang setiap hari bertengger di depan rumah. Jendela kaca mobil itu terbuka sendiri.

"Cepat masuk ...!" suara keras Barata yang duduk di belakang kemudi dengan pandangan lurus ke depan tanpa memandang Anjani.

Anjani tanpa pikir panjang membuka pintu mobil dan segera masuk mobil.

Jantung Anjani mulai berdetak kencang. Tubuhnya gemetar, telapak tangannya mulai dingin. Pandangan Anjani lurus ke depan melihat lalu lalang manusia dengan aktivitasnya lewat bentangan kaca mobil di depannya.

Anjani tetap diam, ia tak berani berkata sepatah kata pun. Hanya sesekali ia melihat Barata yang tampak garang duduk di belakang setir lewat sudut matanya.

"Anjani, kau tau kamu akan aku bawa kemana?"

Pertanyaan Barata memecah keheningan dan membuat Anjani tersentak dengan masih diliputi rasa ketakutan.

"Saya tak tau, Tuan. Tapi saya mohon jangan sakiti saya, jangan bunuh saya tuan," mohon Anjani menghiba, dengan menatap Barata.

"Bodoh!" gumam Barata, masih tanpa memandang Anjani.

Tiga puluh menit kemudian, Barata menghentikan mobilnya tepat di sebuah rumah besar berpagar tinggi, yang membuat Anjani tampak panik dan ketakutan.

Ia bertanya pada dirinya sendiri. "Tempat apa ini?"

Seorang laki-laki berpakaian hitam-hitam membuka pintu gerbang pagar setelah mendengar klakson mobil Barata berbunyi. Mobil memasuki halaman rumah, dan berhenti tepat di samping rumah mewah yang bernuansa klasik modern

Anjani semakin panik. Ia tak tau apa yang bakal terjadi pada dirinya. Jangan-jangan Barata hendak menghabisi nyawanya.

Anjani berpikir, kemungkinan besar Ayudya mengetahui dan terjadi pertengkaran tadi pagi dengan Barata. Ayudya tau apa yang dilakukan Barata semalam dengan dirinya.

Dan Barata hendak membunuhnya agar Anjani tidak membuka rahasia pada Ayudya.

"Tidaakkk ...!" tiba -tiba Anjani menjerit dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Bersambung.

Nah, benarkah apa yang ada dalam pikiran Anjani terjadi? dirinya hendak di bunuh Barata? Baca lanjutannya guys.

Bab 3

Teriakan Anjani membuat Barata yang masih duduk didekatnya kaget. Dengan kemarahan ia memandang Anjani tajam dengan wajah yang kurang suka pada sikap Anjani.

"Disgusting." lirih Barata.

Anjani sendiri juga merasakan kekagetannya, kenapa dirinya tanpa sadar berteriak.

Sekilas ia memandang Barata dengan perasaan takut. Ia tak mengerti bahasa yang barusan diucapkan Barata.

Anjani menggigit bibirnya sendiri, mengalihkan pandangannya lewat kaca mobil dengan mata memandang sekeliling penuh tanda tanya.

"Kenapa Barata membawa dirinya ke sini? Dan rumah siapa ini?" tanya batin Anjani.

Anjani yang buta akan perkotaan hanya membisu seribu basa.

Jika hendak menanyakan pada Barata, tak ada keberanian untuk bertanya.

Yang ia pikirkan hanya bagaimana nanti kalau sampai Barata menganiaya dan membunuhnya.

"Kenapa diam? Ayo ke luar!" seru Barata bernada tinggi.

Anjani tetap diam, tak menghiraukan ucapan Barata. Ia tak bergerak dari posisinya.

Dan tetap berada di dalam mobil. Hingga Barata mengulangi perkataannya untuk yang ke dua kalinya dengan membuka kasar pintu mobil.

Cekrek ...

Namun tanpa disadari Anjani. Wajah Barata yang semula garang dengan tiba-tiba berubah lembut hingga terdengar suara tawa Barata renyah.

"Kenapa? Kau takut? Takut aku bunuh?" Barata mengubah posisinya lebih mendekat ke arah Anjani duduk. Hingga tangan Barata menyentuh lembut lengan Anjani dan mengusap-usapnya.

Anjani tercekat, ia bingung dengan sikap Barata.

"Nggak usah takut, justru aku ingin bicara serius denganmu. Ayo, ke luar!" Barata meraih pundak Anjani untuk diajaknya masuk rumah.

"Tapi Tuan!"

"Sstt ... Aku nggak butuh alasanmu," potong Barata sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibir Anjani dan memandang lekat Anjani dengan tersenyum.

Anjani hanya diam, menuruti apa yang dikatakan Barata. Ia menepis prasangka negatif terhadap Barata.

Barata meraih tangan Anjani, serta menggandengnya untuk membawanya masuk ke dalam rumah.

"Duduklah!" ujar Barata lirih.

Barata melangkah masuk ke dalam meninggalkan Anjani yang masih dalam keadaan bingung dan takut.

Anjani memandang sekeliling ruangan. Tampak di sana sini perabotan mahal terpampang di etalase kaca.

Dan sebuah bingkai fto berukuran besar menempel di dinding ruangan.

Ia kembali mengalihkan pandangannya dengan wajah penuh kegelisahan.

Dan Ia yakin, Barata akan mengulangi perbuatannya yang dilakukan semalam. Atau bahkan ia akan membunuhnya agar ia tak menyebar berita pada Ayudya tentang kejadian semalam.

"Minumlah tentunya kau haus," ucap Barata yang tiba-tiba muncul dari ruang dalam dengan membawa dua gelas minuman.

Barata menyodorkan minuman ke arah Anjani.

Anjani yang semula menunduk dengan cepat mendongakkan kepalanya, serta mengarahkan pandangannya pada sebuah gelas yang berisi minuman berwarna oranye di tangan Barata.

Anjani ragu untuk meraih gelas itu. Namun ia tak berani untuk menolaknya.

"Kenapa? Kau takut ku racuni? Dasar bodoh? Tak mungkin aku meracuni kamu? aku masih butuh tubuhmu?" kata keras Barata sembari tertawa ngakak.

Deg ... Jantung Anjani seperti berhenti berdetak.

Ia membenarkan kata batinnya kalau Barata ingin mengulangi perbuatannya yang terkutuk.

Dan kata-kata terakhir Barata, seolah Barata menjadikan Anjani sebagai budak nafsunya.

Anjani menghela nafas panjang, untuk menghilangkan beban berat yang bakalan ia lakukan.

Dalam hati kecil Anjani, sebenarnya ia ingin berontak. Ingin mengakhiri perbuatan yang ia lakukan semalam. Tapi ia tak punya kemampuan untuk menolak ajakan Barata untuk mengulangi perbuatan bejat itu.

Dengan terpaksa Anjani mengambil gelas dari tangan Barata. Namun ia tak segera meminumnya hanya meletakkan minuman itu ke atas meja.

Entah tiba-tiba Anjani sangat takut meneguk minuman itu. Ia takut jika Barata menuangkan sesuatu ke dalam minuman itu. Tampak dari wajah dan ucapan Barata sangat mencurigakan.

Barata tanggap saat melihat ekspresi Anjani. Barata menggeser tubuhnya mendekati Anjani. Serta memeluk Anjani dari belakang, dengan membisikkan kata-kata halus.

"Jangan khawatir, aku bukan orang jahat, justru aku sangat mencintai kamu,"

Barata menyibakkan rambut Anjani ke belakang telinga dengan lembut. "Jangan di minum kalau kau ragu," lirihnya.

Anjani tersentak mendengar ucapan Barata, ia tak percaya seorang pria kaya dan sangat terhormat mencintai seorang babu seperti dirinya. "Mencintai, Tuan Barata mencintaiku?" tanya batin Anjani.

Anjani menggelengkan kepalanya tanda tak percaya ucapan Barata. Itu hanya sebuah rayuan agar Anjani mau menyerahkan lagi tubuhnya. Anjani berusaha mengalihkan pembicaraan Barata.

"Tuan, bukankah saya harus secepatnya pergi dari sini, dan menjemput nona Aura?"

Barata tersenyum. "Waktu kita masih panjang. Kau jangan seperti anak kecil." ucap Barata dengan menghujamkan ciuman bertubi tubi ke wajah Anjani. Salah satu tangannya mulai bergerilya meremas-remas bagian sensitif Anjani.

Mendapat perlakuan seperti itu, libido Anjani mulai berpacu. Ia kembali pasrah, apa yang dilakukan Barata seperti apa yang dilakukan semalam.

Tampak Barata sangat rakus mencium leher serta wajah Anjani tanpa jijik.

Dan mendekap tubuh Anjani, hingga Anjani merasakan sesak pada pernapasan ketika bibir Barata melahap bibir Anjani.

Anjani tak bisa menghindar, apa yang dilakukan Barata terhadapnya, ia hanya pasrah ketika Barata menggendong tubuh Anjani menaiki anak tangga menuju kamar.

Mereka kembali melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan semalam .

Hampir satu jam mereka bergumul dalam kemesraan, Barata lupa pada janjinya kalau dirinya tak akan melakukan hal seperti yang dilakukan semalam, ia malah melakukan hubungan bak suami istri lagi.

Anjani pun semakin tak canggung lagi menghadapi Barata. Dan yakin apa yang di ucapkan Barata bukan isapan jempol belaka, kalau Barata mencintai dirinya.

Anjani sudah mulai berani membalas kemesraan Barata dengan sentuhan-sentuhan lembut yang membuat Barata terlena dalam dekapan Anjani.

Anjani merasakan kalau Barata sungguh mencintai dirinya, apalagi Barata terus memuji Anjani dengan kata-kata mesra.

"Kau membuatku gila, Anjani! Semua yang kau lakukan padaku tak ada pada diri Ayudya," ucap Barata yang masih mendekap tubuh Anjani yang masih belum memakai sehelai benangpun.

permainan semakin memanas, Barata bagaikan joki penunggang kuda yang memacu kudanya dengan liar. sedangkan Anjani bak kuda binal yang berlari kencang menginginkan si joki mencapai tujuannya.

Nafas mereka saling memburu, dan akhirnya satu per satu mencapai puncak klimaks kenikmatan dan terkulai lemas tak berdaya dalam pelukan diatas ranjang sebagai saksi bisu hubungan tanpa ikatan.

Anjani tersenyum dan merenggangkan tubuhnya dari dekapan Barata. Setengah berbisik dan mengatakan.

"Kita harus menyudahi semua ini, Tuan. Saya takut jika nyonya Ayudya mengetahuinya. dan saya takut pula jika saya hamil tuan."

Barata hanya tersenyum kecut menanggapi perkataan Anjani. seolah perkataan Anjani hanya sebuah angin yang lewat tanpa ada jawaban.

"Kita istirahat dulu, aku lelah. kita bisa bicarakan nanti," ucap Barata dengan mata terpejam.

Anjani terdiam. ia ikut berbaring di samping Barata, dengan pikiran yang masih bergejolak. Lama-kelamaan Anjani merasa lelah, matanya terasa berat. Hingga ia terlena dan tertidur dalam kelelahan.

Hampir satu jam Anjani merasakan dirinya tertidur pulas, tanpa ada yang mengganggunya. Ia baru sadar ketika membuka matanya perlahan. Dan menguap lebar-lebar.

"Uaahemm ...!"

Anjani menutupi mulutnya dengan salah satu tangannya, dan menggeliatkan tubuhnya.

Ia diam sejenak, serta mengerjapkan matanya yang masih terasa berat.

Anjani tersentak, dan membuka matanya dengan memandang sekeliling. Ia merasakan sesuatu yang aneh melihat ruangan yang ia tempati.

Ia mencoba membuka matanya lebar-lebar, hingga manik mata membulat sempurna.

Anjani bingung, kenapa dirinya berada di sini.

Anjani meraba tubuhnya yang masih tertutup selimut, ia meraba sebagian dari tubuhnya dan merasakan tubuhnya belum memakai sehelai benang.

Sesaat ia berpikir dan baru menyadari kalau dirinya baru melakukan percintaan dengan Barata.

Anjani duduk dengan menatap kembali sekeliling ruangan, mencari sosok Barata.

Ia berpikir kalau Barata berada di kamar mandi. Sebab dengan jelas terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.

Teng, teng ...

Terdengar suara jam besar yang berada di sudut ruangan kamar berdentang dua kali.

"Jam dua? Nona Aura, aku harus menjemput nona Aura," gumam Anjani menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya.

Ia berdiri hendak memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai untuk dikenakan kembali.

Belum tuntas Anjani mengenakan pakaian, terdengar suara laki-laki menyapanya dengan lembut.

"Anjani ...."

Secepat kilat Anjani mengarahkan pandangannya ke arah suara itu.

Anjani tersentak menatap laki-laki asing yang berdiri di depannya.

"Siapa anda?!" tanya Anjani dengan mata membelalak menatap tajam laki-laki berkulit putih, berambut cepak, bermata sipit, dengan postur tinggi gagah. Sepertinya ia laki-laki berdarah Tionghoa.

Anjani cepat-cepat meraih selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya.

Laki-laki itu tersenyum, menghampiri Anjani yang berdiri dengan tubuh gemetar.

"Jangan dekati aku, siapa kamu?!" teriak Anjani.

Anjani menggeser kakinya dengan gerakan mundur dua langkah menghindari laki-laki itu.

Laki-laki itu tak menjawab sepatah katapun, ia semakin mendekati Anjani dengan tatapan mencurigakan.

Anjani kembali melangkah mundur menghindari laki-laki itu.

Namun secepat kilat laki-laki itu meraih tubuh Anjani serta mendorongnya hingga tubuh Anjani jatuh ke ranjang.

Tangan laki-laki itu menarik selimut yang menutupi tubuh Anjani. Dengan rakus laki- laki itu menindih tubuh Anjani.

Anjani berusaha mendorong tubuh laki- laki itu. Namun kekuatan Anjani kalah dibanding kekuatan tubuh laki-laki yang dengan brutal menciumi wajah serta meremas tubuh Anjani yang sebagian tertutup pakaian.

Anjani berusaha menjerit, memanggil Barata.

"Tuan ...! Tolong ... Tolong!" teriak Anjani dengan tangan mencengkeram lengan laki-laki itu. semakin Anjani berontak semakin kuat kuku-kuku Anjani mencengkeram lengan laki-laki itu, hingga laki-laki itu merasa kesakitan dan sedikit luka.

Plaaak ... Plaaak ... Dua tamparan mengenai ke dua pipi Anjani.

"Diam ...!" seru laki- laki itu sambil menarik rambut Anjani ke atas, Anjani merasakan sakit yang luar biasa.

"Lepaskan!" teriak Anjani berusaha melepaskan diri dari himpitan tubuh laki-laki itu. "Akan aku laporkan pada tuan Barata!"

Namun laki-laki itu tak menghiraukan ancaman Anjani. Ia semakin brutal serta meremas kuat-kuat organ intim Anjani.

Anjani tak tinggal diam. Ia membalas remasan tangan laki-laki itu dengan menggigit tangan laki-laki itu dengan kasar, hingga laki-laki itu merasa kesakitan dan marah.

"Kurang ajar kau!" Laki-laki itu melepas tubuh Anjani dan mengangkat tubuh Anjani serta melempar tubuh Anjani ke atas ranjang.

Bersambung.

Siapakah laki-laki itu? Kenapa ia bisa menyusup ke kamar Barata? Dan bagaimana nasib Anjani selanjutnya? baca lanjutannya guys.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED