Bab 1

Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, yang mengagetkan Anjani.

Sontak Anjani mengarahkan pandangannya ke arah pintu kamar mandi. Ia tau Barata baru menyelesaikan mandi besarnya.

Terlihat rambutnya yang basah, sambil mengusap-usap dengan handuk.

Sesaat ia berpikir dan baru menyadari kalau semalam dirinya menemani tidur tuan Barata. Seorang entrepreneur sukses, yang usianya baru menginjak tiga puluh tahun.

Anjani masih berbaring di ranjang. Tubuhnya masih terasa lemas, ia enggan untuk segera beranjak dari ranjang sebab permainan semalam bersama Barata yang menguras tenaga hingga terenggut kesuciannya.

Barata menatap dingin ke arah Anjani. Dan berjalan menghampiri Anjani yang masih berbaring dengan selimut masih menutupi tubuhnya yang belum memakai sehelai benang.

Secepat kilat tangan Barata menarik selimut yang menutupi tubuh Anjani,

"Cepat bangun! Dan tinggalkan kamar ini, sebelum putri kecilku mengetahui kamu ada di kamarku!" bentak Barata menunjuk ke arah pintu kamar.

Anjani tersentak, melihat sikap Barata yang tiba-tiba berubah garang. Anjani cepat- cepat meraih selimutnya dan menutup kembali tubuhnya sambil duduk.

"Tuan, ada apa?" tanya Anjani bingung, matanya menatap Barata tajam.

Barata tersenyum sinis dengan menarik kedua ujung bibirnya ke bawah.

"Huh, Kenapa? Pertanyaan tolol! Bukankah transaksi kita sudah selesai? Cepat ke luar, sebelum aku menyeret kamu!" teriak Barata yang semula matanya menyipit, berubah melotot ke arah Anjani.

Anjani kaget, tubuhnya gemetar melihat Barata mengeluarkan amarahnya. Cepat -cepat Anjani menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Dan turun dari ranjang hendak memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai untuk dikenakan kembali.

Anjani berpikir secepat itu Barata berubah, padahal semalam ia begitu lembut memperlakukan dirinya.

"Auuww ...!" jerit Anjani tiba-tiba.

Salah satu tangannya memegang bawah perutnya. Ia merasakan sakit yang amat sangat dan perih di sela-sela kedua kakinya ketika jongkok meraih pakaiannya.

Mendengar jeritan Anjani Barata malah tersenyum sinis, dan tak memperdulikan keadaan Anjani.

Ia meraih amplop berwarna coklat yang tergeletak di atas meja. Rupanya Barata sudah menyediakan amplop itu sejak tadi.

Tanpa disadari Anjani, sebuah amplop berwarna coklat melayang jatuh tepat di atas ranjang depan Anjani berdiri.

Anjani tersentak, mengalihkan pandangan ke wajah Barata yang berdiri menyilangkan kedua tangannya ke dadanya dengan menatap garang Anjani.

"Cepat Ambil dan ke luar, itu upahmu yang sudah menemaniku tidur semalam!" suara kasar Barata dengan angkuhnya, seolah menertawakan perbuatan Anjani gadis kampung yang bodoh.

Anjani menatap amplop coklat di depannya. Ia tau, uang itu sangat dibutuhkannya untuk biaya operasi ibunya.

Ia rela menjual tubuhnya ke Barata seorang majikannya yang terkenal kaya-raya dengan julukan Sultan. Yang terkenal sangat dingin terhadap wanita. Dan selalu memandang rendah wanita. Ia mengira hampir semua wanita bisa dibelinya dengan uang. Dan semua wanita mayoritas mata duitan.

Ia menikahi Ayudya seorang model papan atas, hanya sebuah perjodohan

Barata tak mau mengecewakan orang tuanya. Apalagi ia anak semata wayang dan pewaris tunggal. Yang mana orang tuanya seorang konglomerat ternama di negeri ini.

Anjani terdiam, gadis kampung yang usianya baru menginjak dua puluh tahun itu, tak berani mengatakan sepatah katapun. Sesekali ia memandang Barata lewat sudut matanya.

Anjani berusaha melangkah dengan tertatih-tatih menahan sakit pada kedua kakinya. Ia memunguti satu per satu pakaiannya, sesekali mendesah menahan sakit yang luar biasa pada organ intimnya. Ia berusaha memakai kembali pakaiannya.

Barata sepertinya tak sabar, melihat Anjani lama memakai pakaiannya. Ia kembali membentak Anjani agar Anjani cepat- cepat meninggalkan kamar.

"Cepat ... Tinggalkan kamar ini! Jangan manja, kau sudah aku bayar. Aku tak suka wanita manja!" bentak Barata lagi, dengan mata melotot mengarah wajah Anjani, ia tetap tak perduli melihat ekspresi wajah Anjani yang merasakan sakit.

Tanpa berpikir panjang Anjani menarik seprai yang tampak ada noda merah. Ia harus menghilangkan noda itu sebelum Ayudya istri Barata pulang dari luar kota yang mendapat tugas membintangi iklan disalah satu produk kosmetik yang bekerja sama dengan Brand Ambasador.

Sakit rasanya, sakit sekali mendengar kata-kata kasar Barata. Bahkan rasa perih yang tadi Anjani rasakan tak ada apa-apanya dibanding mendengar ucapan Barata mengusir dirinya bak binatang.

Namun, rasa sakit yang dirasakan Anjani perlahan hilang, ketika terlintas bayangan ibunya merintih menahan kesakitan.

Anjani tak bisa membayangkan lagi, betapa bingungnya Arini adiknya menunggu kiriman transfer darinya.

Hanya demi uang, Anjani menjalankan semua ini. Ia tak mau kehilangan ibunya, ia tak perduli hinaan dan makian yang ke luar dari mulut Barata.

Anjani meraih amplop yang tegeletak di atas ranjang. Perlahan ia melangkah hendak ke luar kamar.

Namun belum sampai Anjani ke luar, tiba -tiba Barata menghentikan langkah Anjani.

Anjani membalikkan tubuhnya menghadap Barata. Dengan cepat Barata melempar seprei yang barusan diambilnya dari lemari, tepat mengenai wajah Anjani.

Anjani tersentak. Ia hanya diam dan tak bisa berbuat apa- apa. Anjani paham apa yang dilakukan Barata. Ia melangkah mendekati ranjang, untuk membenahi seprai yang belum terpasang. Dan ingin secepatnya menyelesaikan pekerjaannya untuk menemui Aura yang ada di kamar sebelah.

Tanpa Anjani sadari, dua bola mata Barata terus mengawasi gerak Anjani yang naik turun membenahi letak seprai.

Entah tiba-tiba Barata merasakan tubuhnya kembali panas, desir darah birahinya naik kembali saat melihat tubuh sintal Anjani yang tampak montok berisi.

Barata tak bisa mengendalikan nafsunya, ia segera berdiri melangkah mendekati Anjani yang sudah berdiri hendak meninggalkan kamar.

Tanpa pikir panjang, Barata mendekap tubuh Anjani dari belakang.

Anjani tercekat, dengan mata memandang lurus ke depan. Ia bingung, ia tak berani menghindar dari dekapan tangan kekar Barata. Anjani yakin, kalau Barata ingin mengulangi apa yang tengah dilakukan semalam.

Padahal Anjani tak ingin mengulangi perbuatan laknat itu. Namun Anjani tak kuasa menolak.

Anjani takut kalau sampai menolak, ia bakalan dipecat dari pekerjaannya sebagai pengasuh Aura putri Barata yang baru berusia lima tahun.

Apalagi Anjani baru lima bulan bekerja di rumah Barata, menggantikan Astuti teman satu kampung, yang berhenti sebab menikah.

Kalau sampai itu terjadi, hanya karena tak mau melayani majikan laki-lakinya. Trus uang darimana untuk membiayai sekolah ke dua adiknya, serta membiayai kebutuhan ibunya.

Apalagi semenjak bapaknya meninggal satu tahun yang lalu, ibunya sakit-sakitan ia tak bisa meneruskan sekolahnya. Hanya kelas dua SMA Anjani ke luar sebab ibunya tak bisa membiayai sekolah Anjani.

"Anjani, aku ingin menikmati tubuhmu lagi." bisik Barata di telinga Anjani. Dengan mencium leher jenjang Anjani, serta menggigit lembut tengkuk leher Anjani.

"Tapi Tuan, saya harus segera ke kamar nona Aura, waktunya nona Aura berangkat sekolah," ucap Anjani memberanikan diri dengan kata-kata lembut agar Barata tidak tersinggung.

Namun tiba-tiba Barata membentak dengan suara keras.

"Diam, itu urusanmu! Jangan sekali-kali membantah perintahku! Kalau tidak, aku akan mengatakan sama istriku kalau kau sudah menggodaku," ancam Barata dengan membalikkan tubuh Anjani kasar. Hingga wajah Anjani tepat menghadap wajah Barata yang masih bertelanjang dada.

Barata sudah tak bisa menguasai nafsunya. Ia menekan tubuh Anjani kuat-kuat, serta menciumi wajah Anjani penuh nafsu. tangannya menelusuri setiap lekuk tubuh Anjani dengan meremas-remas bagian tubuh sensitif Anjani.

Anjani kembali pasrah apa yang hendak diperbuat Barata. Bekas rasa sakit itu masih terasa, namun Barata masih menginginkan kembali.

Barata mendorong tubuh Anjani hingga jatuh ke ranjang serta menindihnya.

Namun kepasrahan itu tak membuat Barata bersikap lembut. Ia malah memperlakukan Anjani dengan kasar. Hingga Anjani memberanikan diri mengatakan.

"Bukankah transaksi itu sudah selesai, Tuan?"

Tiba-tiba mata Barata melotot. sebuah tamparan hinggap di pipi Anjani.

Plaakkk ...

"Aduuh!" pekik Anjani sambil mengusap pipinya yang terasa panas.

"Wanita bodoh, aku membayarmu. Kau budakku sekarang, tau?"

Anjani menggigit bibirnya sendiri menahan kesakitan dengan menepuk-nepuk pipinya yang memerah bekas tamparan tangan Barata.

Mata Anjani berkaca- kaca, ia menahannya agar airmata tak jatuh di hadapan Barata.

Ia takut Barata akan mengumpatnya serta menamparnya kembali.

Anjani masih merasakan perihnya pada organ intimnya, dan ketambahan lagi pipinya kena tamparan tangan Barata.

Namun Barata sepertinya tak memperdulikannya rasa sakit yang Anjani rasakan. Yang Barata inginkan kepuasan berhubungan dengan Anjani. Apalagi bisa merenggut kesuciannya yang mana selama menikah dengan Ayudya ia tidak merasakan kesucian pada Ayudya di malam pertama.

Ting, tung, ting tung, ting tung ...

Bunyi ponsel Barata yang tergeletak di meja kamar, mengagetkan Barata.

Namun Barata tak segera beranjak dari atas tubuh Anjani. Ia terus menghujamkan ciuman ke wajah Anjani serta membuka satu per satu kancing baju Anjani.

Suara ponsel Barata semakin lama semakin memekakkan telinga, dan sangat mengganggu aktifitas Barata.

"Huh ...!" keluh Barata kesal, dengan terpaksa Barata beranjak dari tubuh Anjani. Ia melangkah ke meja dimana ponselnya tergeletak.

Bergegas Barata meraih ponselnya serta memandang tulisan pada layar ponsel.

Seketika mata Barata membulat sempurna sambil bergumam kecil.

"Mama Aura?"

Barata mengarahkan ponselnya ke arah telinganya.

"Sayang aku sudah di depan rumah!" suara Ayudya dalam ponsel yang membuat Barata panik dan bingung

"I ... Iya Say. Aku akan ke depan menyambutmu," suara gugup Barata sambil menutup ponselnya.

"Cepat ke luar dari sini!" teriak Barata dengan mata melotot mengarah ke Anjani.

Anjani bingung, tubuhnya gemetar, ia cepat melompat turun dari ranjang dan meraih seprai yang kotor beserta amplopnya.

Anjani merapikan letak pakaiannya kembali. Ia tau dan mendengar pembicaraan Barata dan Ayudya dalam ponsel kalau Ayudya sudah pulang dan berada di halaman rumah.

"Awas! Sampai kau bocorkan rahasia ini," ancam Barata pada Anjani, sambil membenahi celananya yang agak miring.

Cekrek ...

Suara pintu kamar yang tak terkunci terbuka, berdiri Ayudya di ambang pintu dengan senyum sumringah menatap Barata.

Namun senyum Ayudya seketika berubah, saat melihat Anjani berdiri dekat ranjang sambil mendekap seprai. Serta mata Ayudya beralih ke arah Barata yang hanya memakai celana tanpa baju dan berdiri kaku memandang Ayudya.

Tatapan curiga menyeringai wajah Ayudya, saat memandang Anjani dan Barata berada di kamarnya.

"Kamu Anjani? Kenapa berada di sini?"

Anjani tak berani menatap Ayudya, ia hanya menunduk.

Bersambung.

Pembaca, bagaimana sikap Ayudya melihat Anjani berada di kamarnya? baca lanjutannya.

Bab 2

Tubuh Anjani gemetar. Ia tak berani menatap mata Ayudya yang mulai ada rasa curiga. Terdengar lagi suara Ayudya dengan nada menekan agar Anjani menjawab.

"Anjani! Kenapa kau diam?" tanya tegas Ayudya dengan langkah mendekati Anjani.

"Mm, sa ... Saya ..." gugup Anjani tanpa memandang Ayudya.

Belum Anjani meneruskan kata-kata, terdengar suara Barata memotong pembicaraan Anjani.

"Say, Anjani aku suruh mengganti seprai. Bukankah bibi Suti sedang pulang kampung?" suara lembut Barata menjelaskan, dan melangkah mendekati Ayudya yang terlihat masih tak percaya dengan ucapan Barata. Apalagi Barata tertangkap basah hanya memakai celana kolor tanpa baju. Hal itu tak biasa Barata lakukan di depan orang lain selain Ayudya.

"Anjani, benarkah itu?" tanya Ayudya terlihat tak mempercayai.

Anjani masih menunduk, ia masih tak berani menatap sedikitpun Ayudya. Ia berbohong dengan menganggukkan kepala, menyetujui perkataan Barata.

"Ya nyonya, permisi saya hendak ke kamar nona kecil."

Anjani melangkah hendak meninggalkan kamar. Terdengar suara Barata menenangkan Ayudya yang masih shock melihat pemandangan tadi. Ia berusaha merayu dengan memeluk tubuh Ayudya.

"Say, Anjani bukan level aku, dia wanita kampung yang menjijikkan."

Kata-kata Barata terdengar di telinga Anjani sangat menyakitkan, rasanya sakit luar dalam bagi Anjani. Sudah di tampar, dimaki, dihina. Bahkan direnggut kesuciannya hanya karena uang. Uang bisa membuat seseorang menjadi buta.

Anjani merasa beruntung, tadi Ayudya percaya omongan Barata. Hampir saja Anjani mati berdiri mendapat pertanyaan Ayudya.

Anjani dengan cepat menghampiri kamar Aura dan membuka pintunya. Tampak Aura masih tertidur dengan memeluk guling. Mata Anjani langsung tertuju pada jam yang menempel di dinding kamar Aura.

"Masih jam enam pagi," lirihnya.

Anjani menutup kembali pintu kamar Aura. Ia berpikir masih kurang satu setengah jam lagi ia membangunkan Aura untuk berangkat sekolah sekalian mampir ke bank untuk mengirim uang ke Arini adiknya.

Ingatan Anjani pada Amplop yang ia bungkus seprai kotor pemberian dari Barata. Ia dengan cepat masuk kamarnya sendiri yang bersebelahan dengan kamar Aura.

Anjani ingin tau berapa banyak uang yang di berikan Barata. Apakah Barata tak mengingkari janjinya. Bila Anjani masih suci ia hendak memberikan uang lebih dari apa yang disepakati.

Anjani mengeluarkan satu per satu uang lembaran berwarna merah bergambar mawar dari dalam Amplop. ternyata Barata memberikan uang lebih. melebihi dari perjanjiannya.

Mata Anjani membulat sempurna, kala menarik sebuah lipatan kertas putih dari amplop itu. Ia dengan cepat membukanya. Dan tertera di atas kertas putih bertulisan tangan.

ANJANI DUA PULUH LIMA JUTA UANG KU BERIKAN PADAMU. ITU BUKAN NOMINAL YANG SEDIKIT. AKU INGIN, SEHABIS MENGANTAR PUTRIKU, KAU HARUS TEMUI AKU. TUNGGU AKU DI DEPAN TAMAN SENOPATI JAM SEBELAS. SEHABIS KAMU TRANSFER.

Anjani terpana menatap tulisan itu. Ia bingung, ia tak menginginkan kejadian semalam terulang lagi. Ia merasa berdosa sudah mengkhianati kebaikan Ayudya. Tapi bagaimana lagi Anjani tak bisa mengelak, ia takut ancaman Barata kalau sampai Anjani menolak kemauan Barata, Barata akan mengatakan pada Ayudya, kalau Anjani yang menggoda Barata. Dan Anjani bakal tak punya pekerjaan.

Disamping itu Anjani butuh uang, uang untuk biaya operasi ibunya secepatnya. Ia lebih mementingkan nyawa ibunya dibanding kesuciannya. Ia tak mau tau bagaimana kedepannya jika suaminya kelak menuntut kesuciannya.

Cepat-cepat Anjani memasukkan amplop ke dalam tas kecilnya. Ia takut kalau sampai Ayudya mengetahui Anjani punya uang banyak. Tentu akan menimbulkan kecurigaan Ayudya.

Bergegas Anjani hendak keluar untuk menyiapkan sarapan pagi dan memandikan Aura. Serta meletakkan seprai di mesin cuci, rencana nanti sepulang dari mengantar Aura ia hendak mencucinya.

Baru saja Anjani melangkah ia dikejutkan suara ponselnya yang tergeletak di tempat tidur berdering.

Ting tung ... Ting tung ... Ting tung ...

Anjani menghentikan langkahnya secepat kilat ia menyambar ponselnya. Dan memperhatikan tulisan yang tertera pada layar ponselnya.

"Arini," gumamnya dengan mengarahkan ponselnya ke telinga.

Anjani baru menyadari kalau lupa menghubungi adiknya, semalam ia tak menyentuh ponselnya dan membiarkan ponselnya berada di kamarnya. Hingga berderet- deret panggilan tak terjawab dari Arini terpampang di layar ponselnya.

"Maaf Arini, semalam aku bingung, bagaimana aku harus mencari uang. Tapi Alhamdulilah nanti aku transfer," ucap Anjani dalam telpon. Yang disambut kemarahan Arini yang merasa kesal, Sebab Anjani tak mengangkat telponnya sejak semalam.

"Aku panik Mbak! Pihak rumah sakit sudah mendesak terus, ya sudah cepat kirim, sama bayaran sekolahku sekalian!" teriak Arini dalam ponsel, serta mematikan ponselnya sebelum Anjani menjawabnya.

Anjani kesal dengan sikap adiknya. Ia belum juga menyampaikan kata-kata, ponsel sudah ditutup.

"Dikira cari uang itu gampang apa?" gerutu Anjani sambil melempar ponselnya ke atas kasur.

Anjani tak habis pikir dengan Arini. Padahal baru sebulan yang lalu Anjani mengirimkan uang sekolah hingga gaji satu bulan bekerja tak tersisa sama sekali.

Memang kebutuhan keluarga Anjani, semua Anjani yang menanggungnya. Dari biaya sekolah kedua adiknya, sampai biaya hidup makan setiap hari keluarganya.

Ia menginginkan adiknya meneruskan sekolahnya hingga lulus. Jangan seperti dirinya, yang putus sekolah sampai kelas dua SMA. Ia ingin menjunjung nama keluarganya dangan mengirim setiap bulan kebutuhan ibunya agar ibunya tidak hutang ke sana ke mari untuk makan. Apalagi keluarga dari ibu maupun bapaknya yang ada di kampung selalu menghina.

Jangankan meminjamkan uang untuk bayar sekolah. Pinjam beras untuk makan saja tak bakal diberi. Yang pasti makian dan omelan yang Anjani dapatkan.

Beruntung setelah Anjani berhenti sekolah langsung mendapat tawaran pekerjaan dari Astuti teman satu kampung yang hendak menikah. Untuk menggantikan pekerjaannya. Yaitu pekerjaan sebagai baby suster di rumah keluarga Barata yang terkenal kaya raya dengan julukan Sultan.

Anjani yang setiap bulan menerima gaji tiga juta dari Ayudya. Itupun ia tak mengambil sepeserpun uang dari gaji itu. Semua ia kirim ke ibunya. Beruntung segala kebutuhan Anjani di rumah Ayudya, semua yang mencukupi Ayudya.

"Bunda Jani ... Bunda Jani ...!" Suara gadis kecil yang bernama Aura, yang membuat Anjani tersentak dan bergegas keluar kamar menemui Aura setelah mengunci lemarinya.

"Ya, Nona!" teriak Anjani setengah berlari menghampiri Aura yang hendak menuruni anak tangga, sambil mengusap-usap kedua matanya.

Cepat-cepat Anjani berlari kecil menaiki anak tangga menghampiri Aura dan memeluk Aura yang baru bangun tidur, serta mengajaknya masuk kamar untuk mandi dan siap-siap berangkat sekolah.

Rasa penat yang dirasakan Anjani pagi ini sangat terasa. Belum juga ia menyiapkan sarapan, Aura sudah keburu bangun. Tubuhnya terasa lelah dengan permainan semalam melayani Barata, dan belum juga nanti Barata meminta bertemu dengan Anjani.

Anjani bingung, ada apa Barata meminta Anjani untuk menemuinya. Adakah hal yang sangat rahasia? Anjani tak bisa berpikir. Kalau toh Barata hendak berbuat sesuatu yang berhubungan dengan kejadian semalam, Anjani pasrah.

***

Jam menunjukkan angka sembilan. Anjani sudah selesai mengantar Aura. Ia pamit sama Andy sopir pribadi Aura, hendak ke bank untuk mengirim uang ibunya. Andy menyetujuinya dengan mengantar Anjani sampai di kantor bank setempat.

Anjani menyuruh Andy meninggalkan dirinya di kantor. Ia akan pulang sendiri.

"Habis ini aku akan kembali ke sekolahan non Aura, Bang! Jemput non Aura jam tiga sore. Dia ada pelajaran tambahan."

Andy mengangguk dan meninggalkan Anjani yang masih berdiri di depan pintu gerbang sebuah kantor bank, Anjani memandang mobil Andy hingga hilang dari pandangan.

Hanya butuh waktu satu setengah jam, selesai transfer Anjani sudah berada di depan taman Senopati.

Anjani berdiri tepat di pinggir trotoar. Dengan sengatan sinar matahari yang membuat wajah Anjani yang putih alami tampak memerah.

Anjani tak menghiraukan semua itu. Hanya pikirannya yang bergejolak. Rasanya ia enggan untuk menemui Barata. Anjani sangat takut, takut kalau sampai Ayudya memergokki dirinya bersama suaminya. Padahal semua itu bukan kehendaknya.

Sesekali Anjani melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah jam sebelas lewat sepuluh menit. Berarti Anjani sudah menunggu sepuluh menit.

Anjani berpikir, ia akan menunggunya lagi sekitar lima menit, jika Barata tak kunjung datang ia dengan senang hati akan meninggalkan taman. Dan ia punya alasan tersendiri jika Barata marah.

Tin, tin ...

Sebuah sedan warna hitam berhenti tepat di depan Anjani.

Anjani tersentak, ia yakin itu mobil Barata yang setiap hari bertengger di depan rumah. Jendela kaca mobil itu terbuka sendiri.

"Cepat masuk ...!" suara keras Barata yang duduk di belakang kemudi dengan pandangan lurus ke depan tanpa memandang Anjani.

Anjani tanpa pikir panjang membuka pintu mobil dan segera masuk mobil.

Jantung Anjani mulai berdetak kencang. Tubuhnya gemetar, telapak tangannya mulai dingin. Pandangan Anjani lurus ke depan melihat lalu lalang manusia dengan aktivitasnya lewat bentangan kaca mobil di depannya.

Anjani tetap diam, ia tak berani berkata sepatah kata pun. Hanya sesekali ia melihat Barata yang tampak garang duduk di belakang setir lewat sudut matanya.

"Anjani, kau tau kamu akan aku bawa kemana?"

Pertanyaan Barata memecah keheningan dan membuat Anjani tersentak dengan masih diliputi rasa ketakutan.

"Saya tak tau, Tuan. Tapi saya mohon jangan sakiti saya, jangan bunuh saya tuan," mohon Anjani menghiba, dengan menatap Barata.

"Bodoh!" gumam Barata, masih tanpa memandang Anjani.

Tiga puluh menit kemudian, Barata menghentikan mobilnya tepat di sebuah rumah besar berpagar tinggi, yang membuat Anjani tampak panik dan ketakutan.

Ia bertanya pada dirinya sendiri. "Tempat apa ini?"

Seorang laki-laki berpakaian hitam-hitam membuka pintu gerbang pagar setelah mendengar klakson mobil Barata berbunyi. Mobil memasuki halaman rumah, dan berhenti tepat di samping rumah mewah yang bernuansa klasik modern

Anjani semakin panik. Ia tak tau apa yang bakal terjadi pada dirinya. Jangan-jangan Barata hendak menghabisi nyawanya.

Anjani berpikir, kemungkinan besar Ayudya mengetahui dan terjadi pertengkaran tadi pagi dengan Barata. Ayudya tau apa yang dilakukan Barata semalam dengan dirinya.

Dan Barata hendak membunuhnya agar Anjani tidak membuka rahasia pada Ayudya.

"Tidaakkk ...!" tiba -tiba Anjani menjerit dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

Bersambung.

Nah, benarkah apa yang ada dalam pikiran Anjani terjadi? dirinya hendak di bunuh Barata? Baca lanjutannya guys.

Bab 3

Teriakan Anjani membuat Barata yang masih duduk didekatnya kaget. Dengan kemarahan ia memandang Anjani tajam dengan wajah yang kurang suka pada sikap Anjani.

"Disgusting." lirih Barata.

Anjani sendiri juga merasakan kekagetannya, kenapa dirinya tanpa sadar berteriak.

Sekilas ia memandang Barata dengan perasaan takut. Ia tak mengerti bahasa yang barusan diucapkan Barata.

Anjani menggigit bibirnya sendiri, mengalihkan pandangannya lewat kaca mobil dengan mata memandang sekeliling penuh tanda tanya.

"Kenapa Barata membawa dirinya ke sini? Dan rumah siapa ini?" tanya batin Anjani.

Anjani yang buta akan perkotaan hanya membisu seribu basa.

Jika hendak menanyakan pada Barata, tak ada keberanian untuk bertanya.

Yang ia pikirkan hanya bagaimana nanti kalau sampai Barata menganiaya dan membunuhnya.

"Kenapa diam? Ayo ke luar!" seru Barata bernada tinggi.

Anjani tetap diam, tak menghiraukan ucapan Barata. Ia tak bergerak dari posisinya.

Dan tetap berada di dalam mobil. Hingga Barata mengulangi perkataannya untuk yang ke dua kalinya dengan membuka kasar pintu mobil.

Cekrek ...

Namun tanpa disadari Anjani. Wajah Barata yang semula garang dengan tiba-tiba berubah lembut hingga terdengar suara tawa Barata renyah.

"Kenapa? Kau takut? Takut aku bunuh?" Barata mengubah posisinya lebih mendekat ke arah Anjani duduk. Hingga tangan Barata menyentuh lembut lengan Anjani dan mengusap-usapnya.

Anjani tercekat, ia bingung dengan sikap Barata.

"Nggak usah takut, justru aku ingin bicara serius denganmu. Ayo, ke luar!" Barata meraih pundak Anjani untuk diajaknya masuk rumah.

"Tapi Tuan!"

"Sstt ... Aku nggak butuh alasanmu," potong Barata sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibir Anjani dan memandang lekat Anjani dengan tersenyum.

Anjani hanya diam, menuruti apa yang dikatakan Barata. Ia menepis prasangka negatif terhadap Barata.

Barata meraih tangan Anjani, serta menggandengnya untuk membawanya masuk ke dalam rumah.

"Duduklah!" ujar Barata lirih.

Barata melangkah masuk ke dalam meninggalkan Anjani yang masih dalam keadaan bingung dan takut.

Anjani memandang sekeliling ruangan. Tampak di sana sini perabotan mahal terpampang di etalase kaca.

Dan sebuah bingkai fto berukuran besar menempel di dinding ruangan.

Ia kembali mengalihkan pandangannya dengan wajah penuh kegelisahan.

Dan Ia yakin, Barata akan mengulangi perbuatannya yang dilakukan semalam. Atau bahkan ia akan membunuhnya agar ia tak menyebar berita pada Ayudya tentang kejadian semalam.

"Minumlah tentunya kau haus," ucap Barata yang tiba-tiba muncul dari ruang dalam dengan membawa dua gelas minuman.

Barata menyodorkan minuman ke arah Anjani.

Anjani yang semula menunduk dengan cepat mendongakkan kepalanya, serta mengarahkan pandangannya pada sebuah gelas yang berisi minuman berwarna oranye di tangan Barata.

Anjani ragu untuk meraih gelas itu. Namun ia tak berani untuk menolaknya.

"Kenapa? Kau takut ku racuni? Dasar bodoh? Tak mungkin aku meracuni kamu? aku masih butuh tubuhmu?" kata keras Barata sembari tertawa ngakak.

Deg ... Jantung Anjani seperti berhenti berdetak.

Ia membenarkan kata batinnya kalau Barata ingin mengulangi perbuatannya yang terkutuk.

Dan kata-kata terakhir Barata, seolah Barata menjadikan Anjani sebagai budak nafsunya.

Anjani menghela nafas panjang, untuk menghilangkan beban berat yang bakalan ia lakukan.

Dalam hati kecil Anjani, sebenarnya ia ingin berontak. Ingin mengakhiri perbuatan yang ia lakukan semalam. Tapi ia tak punya kemampuan untuk menolak ajakan Barata untuk mengulangi perbuatan bejat itu.

Dengan terpaksa Anjani mengambil gelas dari tangan Barata. Namun ia tak segera meminumnya hanya meletakkan minuman itu ke atas meja.

Entah tiba-tiba Anjani sangat takut meneguk minuman itu. Ia takut jika Barata menuangkan sesuatu ke dalam minuman itu. Tampak dari wajah dan ucapan Barata sangat mencurigakan.

Barata tanggap saat melihat ekspresi Anjani. Barata menggeser tubuhnya mendekati Anjani. Serta memeluk Anjani dari belakang, dengan membisikkan kata-kata halus.

"Jangan khawatir, aku bukan orang jahat, justru aku sangat mencintai kamu,"

Barata menyibakkan rambut Anjani ke belakang telinga dengan lembut. "Jangan di minum kalau kau ragu," lirihnya.

Anjani tersentak mendengar ucapan Barata, ia tak percaya seorang pria kaya dan sangat terhormat mencintai seorang babu seperti dirinya. "Mencintai, Tuan Barata mencintaiku?" tanya batin Anjani.

Anjani menggelengkan kepalanya tanda tak percaya ucapan Barata. Itu hanya sebuah rayuan agar Anjani mau menyerahkan lagi tubuhnya. Anjani berusaha mengalihkan pembicaraan Barata.

"Tuan, bukankah saya harus secepatnya pergi dari sini, dan menjemput nona Aura?"

Barata tersenyum. "Waktu kita masih panjang. Kau jangan seperti anak kecil." ucap Barata dengan menghujamkan ciuman bertubi tubi ke wajah Anjani. Salah satu tangannya mulai bergerilya meremas-remas bagian sensitif Anjani.

Mendapat perlakuan seperti itu, libido Anjani mulai berpacu. Ia kembali pasrah, apa yang dilakukan Barata seperti apa yang dilakukan semalam.

Tampak Barata sangat rakus mencium leher serta wajah Anjani tanpa jijik.

Dan mendekap tubuh Anjani, hingga Anjani merasakan sesak pada pernapasan ketika bibir Barata melahap bibir Anjani.

Anjani tak bisa menghindar, apa yang dilakukan Barata terhadapnya, ia hanya pasrah ketika Barata menggendong tubuh Anjani menaiki anak tangga menuju kamar.

Mereka kembali melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan semalam .

Hampir satu jam mereka bergumul dalam kemesraan, Barata lupa pada janjinya kalau dirinya tak akan melakukan hal seperti yang dilakukan semalam, ia malah melakukan hubungan bak suami istri lagi.

Anjani pun semakin tak canggung lagi menghadapi Barata. Dan yakin apa yang di ucapkan Barata bukan isapan jempol belaka, kalau Barata mencintai dirinya.

Anjani sudah mulai berani membalas kemesraan Barata dengan sentuhan-sentuhan lembut yang membuat Barata terlena dalam dekapan Anjani.

Anjani merasakan kalau Barata sungguh mencintai dirinya, apalagi Barata terus memuji Anjani dengan kata-kata mesra.

"Kau membuatku gila, Anjani! Semua yang kau lakukan padaku tak ada pada diri Ayudya," ucap Barata yang masih mendekap tubuh Anjani yang masih belum memakai sehelai benangpun.

permainan semakin memanas, Barata bagaikan joki penunggang kuda yang memacu kudanya dengan liar. sedangkan Anjani bak kuda binal yang berlari kencang menginginkan si joki mencapai tujuannya.

Nafas mereka saling memburu, dan akhirnya satu per satu mencapai puncak klimaks kenikmatan dan terkulai lemas tak berdaya dalam pelukan diatas ranjang sebagai saksi bisu hubungan tanpa ikatan.

Anjani tersenyum dan merenggangkan tubuhnya dari dekapan Barata. Setengah berbisik dan mengatakan.

"Kita harus menyudahi semua ini, Tuan. Saya takut jika nyonya Ayudya mengetahuinya. dan saya takut pula jika saya hamil tuan."

Barata hanya tersenyum kecut menanggapi perkataan Anjani. seolah perkataan Anjani hanya sebuah angin yang lewat tanpa ada jawaban.

"Kita istirahat dulu, aku lelah. kita bisa bicarakan nanti," ucap Barata dengan mata terpejam.

Anjani terdiam. ia ikut berbaring di samping Barata, dengan pikiran yang masih bergejolak. Lama-kelamaan Anjani merasa lelah, matanya terasa berat. Hingga ia terlena dan tertidur dalam kelelahan.

Hampir satu jam Anjani merasakan dirinya tertidur pulas, tanpa ada yang mengganggunya. Ia baru sadar ketika membuka matanya perlahan. Dan menguap lebar-lebar.

"Uaahemm ...!"

Anjani menutupi mulutnya dengan salah satu tangannya, dan menggeliatkan tubuhnya.

Ia diam sejenak, serta mengerjapkan matanya yang masih terasa berat.

Anjani tersentak, dan membuka matanya dengan memandang sekeliling. Ia merasakan sesuatu yang aneh melihat ruangan yang ia tempati.

Ia mencoba membuka matanya lebar-lebar, hingga manik mata membulat sempurna.

Anjani bingung, kenapa dirinya berada di sini.

Anjani meraba tubuhnya yang masih tertutup selimut, ia meraba sebagian dari tubuhnya dan merasakan tubuhnya belum memakai sehelai benang.

Sesaat ia berpikir dan baru menyadari kalau dirinya baru melakukan percintaan dengan Barata.

Anjani duduk dengan menatap kembali sekeliling ruangan, mencari sosok Barata.

Ia berpikir kalau Barata berada di kamar mandi. Sebab dengan jelas terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.

Teng, teng ...

Terdengar suara jam besar yang berada di sudut ruangan kamar berdentang dua kali.

"Jam dua? Nona Aura, aku harus menjemput nona Aura," gumam Anjani menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya.

Ia berdiri hendak memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai untuk dikenakan kembali.

Belum tuntas Anjani mengenakan pakaian, terdengar suara laki-laki menyapanya dengan lembut.

"Anjani ...."

Secepat kilat Anjani mengarahkan pandangannya ke arah suara itu.

Anjani tersentak menatap laki-laki asing yang berdiri di depannya.

"Siapa anda?!" tanya Anjani dengan mata membelalak menatap tajam laki-laki berkulit putih, berambut cepak, bermata sipit, dengan postur tinggi gagah. Sepertinya ia laki-laki berdarah Tionghoa.

Anjani cepat-cepat meraih selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya.

Laki-laki itu tersenyum, menghampiri Anjani yang berdiri dengan tubuh gemetar.

"Jangan dekati aku, siapa kamu?!" teriak Anjani.

Anjani menggeser kakinya dengan gerakan mundur dua langkah menghindari laki-laki itu.

Laki-laki itu tak menjawab sepatah katapun, ia semakin mendekati Anjani dengan tatapan mencurigakan.

Anjani kembali melangkah mundur menghindari laki-laki itu.

Namun secepat kilat laki-laki itu meraih tubuh Anjani serta mendorongnya hingga tubuh Anjani jatuh ke ranjang.

Tangan laki-laki itu menarik selimut yang menutupi tubuh Anjani. Dengan rakus laki- laki itu menindih tubuh Anjani.

Anjani berusaha mendorong tubuh laki- laki itu. Namun kekuatan Anjani kalah dibanding kekuatan tubuh laki-laki yang dengan brutal menciumi wajah serta meremas tubuh Anjani yang sebagian tertutup pakaian.

Anjani berusaha menjerit, memanggil Barata.

"Tuan ...! Tolong ... Tolong!" teriak Anjani dengan tangan mencengkeram lengan laki-laki itu. semakin Anjani berontak semakin kuat kuku-kuku Anjani mencengkeram lengan laki-laki itu, hingga laki-laki itu merasa kesakitan dan sedikit luka.

Plaaak ... Plaaak ... Dua tamparan mengenai ke dua pipi Anjani.

"Diam ...!" seru laki- laki itu sambil menarik rambut Anjani ke atas, Anjani merasakan sakit yang luar biasa.

"Lepaskan!" teriak Anjani berusaha melepaskan diri dari himpitan tubuh laki-laki itu. "Akan aku laporkan pada tuan Barata!"

Namun laki-laki itu tak menghiraukan ancaman Anjani. Ia semakin brutal serta meremas kuat-kuat organ intim Anjani.

Anjani tak tinggal diam. Ia membalas remasan tangan laki-laki itu dengan menggigit tangan laki-laki itu dengan kasar, hingga laki-laki itu merasa kesakitan dan marah.

"Kurang ajar kau!" Laki-laki itu melepas tubuh Anjani dan mengangkat tubuh Anjani serta melempar tubuh Anjani ke atas ranjang.

Bersambung.

Siapakah laki-laki itu? Kenapa ia bisa menyusup ke kamar Barata? Dan bagaimana nasib Anjani selanjutnya? baca lanjutannya guys.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED