Namaku Anisa Rahma, yang biasa dipanggil Nisa, baru berumur 20 tahun. Aku mencintai seorang lelaki bernama Seno Bagaskara yang berumur lebih tua dariku 10 tahun.
Kami menjalin hubungan atas dasar cinta. Walau pun aku dan Seno bagai langit dan bumi. Karena, aku orang tidak berpunya dan cuma lulusan SMA. Akan tetapi, aku setelah lulus langsung berkerja meringankan beban orang tuaku untuk membantu membesarkan dan menyekolahkan adikku Nur Halisa yang kebetulan masih SMP. Jadi, karena kemandirian dan baktiku kepada orang tua, itu lah sebabnya yang membuat mas Seno jatuh cinta kepadaku.
Di suatu hari mas Seno mengatakan sesuatu yang serius kepadaku. Ya, dia berniat melanjutkan hubungan ini kejenjang lebih serius alias pernikahan. Sebenarnya aku ragu. Apakah,aku akan direstui oleh keluarga besar Bagaskara? Apakah nanti mereka malah menghinaku, karena aku miskin? Atau malah menjadi kan aku babu? Perasangka itu segeraku tepis jauh-jauh.
"Mas, apa keluargamu sudah tahu tentang ini?" Ujarku gugup
"Ya, keluargaku sudah tahu dan mereka tidak keberataan dengan hubungan kita ini," jawabnya dengan senyum yang ramah.
"Syukurlah, aku takut mereka tidak setuju." jawabku dengan hati yang bahagia.
Kami pun mulai melanjutkan pembicaraan masalah pertunangan. Karena semua adik-adiknya mas Seno sudah menikah. Jadi, dia tidak berniat untuk menunda dengan pertunangan yang lama. Dia pun ingin mengadakan resepsi mewah di hotel bintang lima. Karena banyak keluarga dan rekan bisnis nya yang turut hadir. Aku setuju-setuju saja. Soalnya rumah kami kecil dan karena mengadakan resepsi nya di hotel. Kami tidak perlu repot mengurus semua dekorasi dan makanan yang mau disuguhkan.
___
Hari ini adalah hari pernikahan ku yang sudah aku tunggu-tunggu. Pagi ini, aku bangun lebih awal untuk bersih-bersih dan sarapan untuk menambah tenagaku melewati hari bahagia ini. Pukul enam pagi datang MUA yang mulai merias wajahku dan memasang baju pengantin. Sejam sudah berlalu, aku sangat menikmati hasil dari MUA yang meriasku. Karena, membuatku yang menjadi sangat cantik.
Saat aku asyik bercermin, mas Seno memelukku dari belakang. Dia berbisik lirih ditelingaku. "kamu sangat cantik hari ini sayang," Aku cuma tertunduk malu dan pipiku memerah mendengar bisikan manis calon suamiku. "ayo kita kebawah, acara nya sudah dimulai."
Acara pun segera dimulai. Aku pun terharu mendengar ucapan lantang mas Seno saat ijab Kabul. Ibuku, ayah dan Lisa pun menangis bahagia disampingku. Tidak lupa keluarga suamiku pun tersenyum bahagia. Aku sangat menganggumi dekorasi mewah acara pernikahanku ini. Tidak henti-hentinya aku tersenyum, karena aku merasa menjadi orang yang sangat beruntung memiliki mas Seno dan juga mempunyai keluarga suami yang tidak memandang status.
Mahar ku pun lumayan banyak 10gram emas, rumah besar, dan restoran dia berikan sebagai mahar. Tapi, semua itu aku serahkan keorang tuaku untuk mereka kelola. Karena, aku tahu mereka lebih membutuhkan dari aku, mas Seno pun tidak keberataan dengan keputusanku saat itu. Mereka menolak untuk diberikan secara cuma-cuma. Jadi, mereka menyarankan hasil penjualannya dibagi. Sebenarnya aku tidak mau tetapi, mereka memaksaku untuk itu. Kalau tidak mereka bersikeras menolaknya. Aku pun terpaksa menerima keputusan itu.
Aku tidak berhenti tersenyum dan mengobrol dengan teman atau rekan bisnis mas Seno. Mereka terus saja memujiku mereka mengatakan betapa beruntungnya mas Seno memilikiku. Akan tetapi, didalam hatiku, aku menyangkal semua itu. Karena, aku lah yang paling beruntung memiliki mas Seno sebagai suamiku
Setelah seharian penuh duduk dipelamin itu. Aku merasa sangat kelelahan. Untunglah acaranya sudah selesai. Aku pun bergegas naik kelantai atas dengan lift menuju kamar pengantin kami yang disediakan oleh pihak hotel. Setelah masuk kamar, aku dibantu untuk melepas gaun yang aku kenakan. Supaya aku bisa segera membersihkan badan. Mas Seno ijin kepadaku untuk mengobrol dengan para tamu yang masih ada di tempat pesta kami. Ya, tak masalah karena, aku bisa meredakan kegugupanku di malam pertama ini.
Disaat aku sedang melamun. Aku pun mulai mengingat tentang keluarga mas Seno. Mas Seno Bagaskara memiliki tiga saudara yang bernama, Purnama Bagaskara, Karina Bagaskara dan Aditya Bagaskara. Mereka semua sudah menikah, dan dipercaya memimpin salah satu perusahaan.
Seno Bagaskara sendiri memilih untuk menunggu semua Para adik nya menikah, baru dia menikah. Entah alasan apa dia memilih pilihan itu. Keluarga Bagaskara adalah keluarga konglomerat terkaya di Indonesia. Jadi, tidak heran mereka memiliki banyak perusahaan. Tomi Bagaskara memulai semua usaha ini dari nol. Dia memulai dengan istri nya Sinta, sampai menjadi sebesar ini. Tapi, sekarang Sinta mulai sakit-sakitan. Padahal dia baru berumur 50, Tomi dan Sinta menikah sangat lah muda dan memiliki anak yang hanya berjarak sedikit.
Seno Bagaskara adalah anak pertama. Jadi, dia dipercaya memimpin banyak usaha oleh ayah mertua, tentu lah aku sebagai istri nya hidup bagaikan ratu di istana megah ini. Akan tetapi, semua harta kekayaan Tomi Bagaskara ini diwariskan dengan satu syarat. Syaratnya adalah kami semua harus tinggal satu atap. Oh tidak! Aku mulai takut untuk satu atap dengan keluarga suami. Pikiran negatif ini mulai ku tepis. Karena, suamiku yang sudah selesai berbincang-bincang masuk ke dalam kamar hotel yang diberikan secara khusus untuk malam pengantin kami.
"Sayang." mas Seno langsung menghampiriku yang sedang duduk dimeja rias. Dia mulai memelukku dari belakang langsung mencium keningku lalu turun kebibir dan langsung mengecup bibirku dengan beringas.
Aku mendorong nya dengan perlahan, sambil berujar. "Kamu mandi dulu gih, bau tau," kataku sambil menutup hidung.
"Baiklah sayang, aku mandi. Setelah mandi baru kita," jawab nya sambil mengedipkan mata dengan nakal, Aku langsung tersipu malu mendengarnya.
Selesai mandi mas Seno keluar dengan cuma berbalut handuk dipinggangnya. Aku akui dia sangat lah tampan dan gagah. Bagaimana tidak, dia bertubuh atletis, tinggi, berhidung mancung bak model papan atas.
Entah kenapa dia bisa naksir aku. Walau, banyak lelaki yang mengejarku dulu mengatakan aku ini wanita yang cantik, manis, bertubuh tinggi dan memiliki body yang montok berisi, belum lagi katanya rambut hitam legam yang panjang ini membuat aku semakin menarik. Akan tetapi, itu tidak membuat aku percaya diri saat bersanding dengan mas Seno.
Aku terkejut mas Seno memelukku dan berbisik ditelingaku. "Kenapa melamun sayang?"
"Aku cuma tidak menyangka akan menikah dengan kamu mas. Serasa semua ini adalah mimpi,"
"Ya, ini seperti mimpi. Aku akan membuat mimpi ini menjadi semakin indah." Dia langsung menggendong ku keranjang besar itu. Mulai melepas pakaian yang aku kenakan satu persatu, dia mulai melakukan permainan yang panas
"Aah!" Aku teriak karena merasakan sakit diintimku. Karena, tentu nya aku masih perawan wajar aku merasakan sakit.
"Ternyata kamu masih pera-wan." lirihnya dan memulai permainan ini dengan lembut.
Selama empat jam kami baru selesai bergumul di ranjang itu pun dia masih ingin lagi. Akan tetapi, aku menyerah karena lelah dan merasa perih dibagian bawah sana. Aku pun tertidur karena kelelahan.
Aku bangun di pagi hari dengan kondisi tubuhku yang terasa remuk. Ingin pergi kekamar mandi pun rasanya susah sekali untuk berdiri. Mas Seno yang melihat itu pun merasa prihatin. Karena, itu sebab nya sendiri, dia pun berinisiatif bertanggung jawab untuk menggendong ku kekamar mandi. Sampai dikamar mandi dia langsung ingin memandikan ku. Tentu saja aku menolak. Sebab, aku bisa mandi sendiri. Tapi, dia memaksa untuk memandikan ku. Aku tak kuasa menolaknya walau pun aku malu.
Saat dia memandikan aku cuma bisa menunduk malu. Sambil membiarkan dia menggosok badanku dengan sabun. Tapi, kok aku merasa ada sesuatu yang aneh dari sentuhan tangannya. Dan benar saja ada yang menegang dengan kokoh dibawah sana. Alhasil jadi lah bathtub menjadi pengganti ranjang.
Dia melumat bibirku yang ranum, begitu lembut caranya memperlakukan aku, aku jadi terbuai dengan itu. Aku terus menikmati apa yang dia lakukan hingga ciumannya itu turun ke bagian tubuhku semakin turun ke bagian tengah pahaku. Aku menggelinjang liar karena nafsuku jadi tersulut saat dia melakukannya sampai milikkumenjadi terasa basah Dia membuka kedua pahaku, mendorongku untuk membelakanginya lalu memasukkan miliknya ke dalam milikku. Aku merasakan sensasi panas yang mengalir dalam tubuhku.
Akhirnya aku sudah selesai berpakaian dan berdandan. Setelah dua jam terjebak dikamar mandi bersama mas Seno dan badan yang sudah sakit tambah jadi sakit akibat ulahnya. Itu pun, dia pengen tambah lagi. Tentu saja, aku menolak. Karena, aku takut tidak bisa berangkat ke makan siang keluarga mas Seno.
Sebenarnya aku tidak ingin pergi. Karena, tubuhku sakit sekali. Akan tetapi, aku tetap berusaha untuk bisa pergi. Karena, menghormati keluarga mas Seno. Siangnya kami berangkat menuju kerestoran yang menjadi tempat mengadakan pertemuan. Katanya, pertemuan ini dirancang khusus untukku, supaya bisa mengenal keluarga inti Baskara.
Sebenarnya kami datang lebih awal. Karena, mas Seno ingin menenangkanku yang mulai gugup. Sebab ini pertemuan yang membuat kami supaya semakin akrab. Setelah sejam berlalu, akhirnya datang lah adik pertama mas Seno, yang bernama Purnama Bagaskara beserta anaknya Cantika Bagaskara dan suami nya Suryanata.
Purnama ini memiliki tubuh yang kata para lelaki, seperti gitar spanyol. Yang menurut ku sendiri tubuh nya itu montok berisi. Dia memiliki paras yang cantik dan gaya berpakaiannya yang membuat kesannya menjadi elegan. Sangat serasi dengan suami nya yang sangat tampan. Dan, tentu saja anaknya pun memiliki paras yang cantik sekaligus manis.
Diurutan kedua, datang lah adik kedua yang bernama Karina Bagaskara. Dia datang berdua bersama suaminya Tio Nurcahyo. Mereka, belum mempunyai anak. Karena, kata mas Seno dia belum dikaruniai sang buah hatinya walau pun mereka sangat menginginkan. Jadi, usahakan jangan berbincang masalah itu, takut dia tersinggung. Karina memiliki paras yang manis. Tapi, penampilan sangat sederhana tidak seperti Purnama semua yang dipakainya adalah brand ternama. Yang ku tahu harganya bisa sampai ratusan juta. Tio berbanding terbalik dengan istrinya. Penampilan sangat mewah. Karena dia adalah salah satu pemimpin diperusahaan yang dikelola istri nya. Yah, karena istri nya tidak ingin menjadi wanita karir seperti Purnama. Dia, hanya ingin fokus untuk menjadi istri yang baik dan berbakti pada ibu yang sedang sakit.
Yang terakhir Aditya Bagaskara berserta istrinya Citra Amelia yang sedang hamil muda. Tidak lupa berserta mama mertua dan ayah mertua. Sebenarnya keluarga ku juga turut diundang. Tapi, mereka tidak bisa hadir. Karena, mereka masih sibuk pindahan rumah dan belajar mengelola restoran yang kami berikan. Tentu saja keluarga mas Seno tidak keberataan dengan itu. Mereka memaklumi saja dengan ketidak hadiran mereka, masalah itu bisa diadakan ulang nanti. Yang penting kehadiran ku. Supaya aku tidak canggung untuk tinggal bersama nanti.
Mereka sangat baik dan ramah kepadaku. Jadi, membuat perasaan ku yang tidak menentu tadi sudah hilang menjadi nyaman. Mereka berkata kalau kamu sudah selesai berbulan madu. Baru pulang kerumah, walau bulan madu nya sebulan penuh.Karena katanya kalau dirumah takut terganggu. Sebab pengantin baru juga butuh privasi.
"Kak Nisa mau honeymoon kemana?" Tanya Purnama
"Mm... aku belum tau mau kemana," jawabku bingung. Karena, kami belum memutuskan untuk pergi kemana.
"Gimana, kalau Paris?" Saran nya Citra dengan antusias
"Itu kan, tempat honeymoon kita dulu, sayang," ujar Aditya
"Soalnya aku sangat suka disana. Kotanya sangat romantis menurut aku" kekeh Citra
"Gimana kalau kita kesana lagi?" ucap Citra kepada Aditya.
"Beneran, boleh?"
"Apa sih yang enggak buat kesayangan aku." Sambil memeluk istrinya dengan manja
"Ehm." Ayah mertua sambil melotot tajam kearah Aditya
"Dit, kamu gak ingat kehamilan Citra yang pertama? Kan kandungan Citra itu lemah. Kata dokter dia gak bisa capek. Ini malah mau pergi ke Paris yang perjalanan nya memakan waktu beberapa jam. Kamu gak takut terjadi sesuatu sama Citra?" Karina mengingatkan dengan lembut. Mungkin supaya mereka mengerti.
"Bener tuh kata Karina. Hamil tu harus dijaga, jangan disia-siakan. Coba lihat Karina yang bertahun-tahun pengen hamil tapi gak bisa. Tapi dia tetap berusaha walau pun gak bisa sampai sekarang. Ups" cerocos Purnama yang membuat suasana jadi hening
"Sudah sudah, jangan diteruskan. Ini hak Nisa sama Seno mau kemana. Kalian gak usah ikut campur dengan keputusan mereka. Dan untuk Purnama minta maaf kepada Karina. Entah omongan mu sengaja atau tidak, kamu tetap harus minta maaf," ujar mama mertua dengan tegas.
"Baik, ma" jawab Purnama sambil menunduk
"Dan kamu Aditya. Jaga baik-baik istrimu. Karena kandungan nya sangat lemah, jadi dia tidak boleh capek atau perjalanan jauh. Nanti kalau dia sudah lahiran dan kalau anak mu sudah besar, kamu mau keliling dunia pun kami tidak melarang. Tapi, untuk saat ini jangan!"
" Baik, Ma," Aditya pun menjawab dengan menunduk
Sepertinya mereka takut dengan ketegasan mama mertua. Aku pun makin kagum dengan cara beliau mendidik anak. Setelah Purnama minta maaf kepada Karina. Pembicaraan ini pun berlanjut ke masalah bisnis. Tidak terasa hari sudah sore. Mereka pun bergegas pamit untuk pulang kerumah dan kami pulang ke hotel.
Sesampai nya dihotel, aku ingin mandi membersihkan diriku yang mulai terasa lengket. Setelahku keluar dari kamar mandi, mas Seno langsung memelukku dari belakang dan membantu memijit semua badanku yang terasa pegal. Aku menolak karena ini bukan tugasnya. Tapi, dia bersikukuh untuk memijatku. Jadi, dengan sangat berat hati aku menerima pijatan yang dilakukan mas Seno.
"Aaakkkhh!" Aku teriak saat dia memijit pinggangku, sungguh rasanya sakit saat dia memijat bagian pinggangku.
"Sakit yah?" tanyanya dengan wajah yang polos.
"Iya sakit," jawabku dengan setengah meringis.
"Padahal aku cukup pelan lo," ujarnya merasa heran
"Mas, menurut kamu pelan. Tapi, kalau menurut aku kencang! Tenaga wanita sama lelaki beda lo!" sungutku
"Ya, sudah. Aku tidak jadi mijit," ujarnya dengan wajah ditekuk.
"Ciyee, yang ngambek," godaku
"Abisi ngeselin, sudah dipijetin malah kayak gitu!"
Sungguh rasanya sakit saat dia memijat bagian pinggangku.
"Sakit yah?" tanyanya dengan wajah yang polos.
"Iya sakit," jawabku dengan setengah meringis.
"Padahal aku cukup pelan lo," ujarnya merasa heran
"Mas, menurut kamu pelan. Tapi, kalau menurut aku kencang! Tenaga wanita sama lelaki beda lo!" sungutku
"Ya, sudah. Aku tidak jadi mijit," ujarnya dengan wajah ditekuk.
"Ciyee, yang ngambek," godaku
"Abisi ngeselin, sudah dipijetin malah kayak gitu!"
___
Setelah selesai drama ngambeknya mas Seno. Akhirnya kami makan malam didalam kamar hotel. Sebab, aku yang malas turun kebawah untuk makan direstoran hotel ini. Jadilah, kami makan malam didalam kamar hotel sambil menikmati pemandangan yang indah dimalam hari.
"Nis, kamu mau honeymoon ke mana?"
"Masih bingung mas. Terserah mas aja deh mau kemana, aku nurut aja" jawabku asal
"Gak boleh gitu dong, Nis. Nanti pas mas yang pilih kamu ngambek lagi" ujarnya dengan raut wajah kesal
"Sebenarnya aku ada sih, kepengen liburan kesana. Tapi, gak pernah kesampaian" ujarku dengan mata yang berbinar-binar.
"Emang, mau kemana?"
"Aku pengeen banget ke Bali mas, boleh?"
"Boleh dong sayang. Mau keliling dunia pun boleh." jawab nya sambil mencium bibirku
"Ih mas, nakal deh." pukulku kedada nya yang bidang, kami pun melanjutkan makan malam dengan membincangkan masalah honeymoon, setelah makan kami langsung tertidur pulas.
Di pagi hari, setelah bersih-bersih dan sarapan, kami pergi untuk membeli keperluan untuk berlibur kebali, yang direncakan besok.Aku pun dengan antusias memilih segala keperluan kami selama disana. Disaat mau pulang suamiku malah masuk ke toko pakaian wanita, aku turut mengekor dibelakang.Aku langsung memerah malu. Sebab, yang sedang dipilih suami ku adalah sebuah baju tidur dan sebuah bikini yang sangat seksi.
"Nanti kita pakai saat honeymoon ya," bisik nya lirih ditelingaku. Yang berhasil membuat ku semakin salah tingkah, saking malunya.
Hari keberangkatan pun tiba. Kami berpamitan kepada kedua orang tua ku, baru ketempat mertua. Mereka melepaskan kami dengan senyum bahagia dan tidak lupa mengucapkan doa supaya kami selamat tidak lupa pulang dengan keadaan sehat. Kami pun berangkat kebandara. Karena, dua jam lagi pesawat kami akan berangkat. Kami sengaja berangkat lebih awal, antisipasi kalau terjebak macet dijalan. Dan benar saja kami terjebak macet. Untung saja kami datang tepat waktu. Jadi, tidak ketinggalan pesawat. Aku yang tidak biasa naik pesawat pun mulai takut saat pesawat nya mulai naik keatas, rasanya aku pengen teriak saking takut nya, cuma ingat dengan penumpang yang lain.
Beberapa jam perjalanan, mas Seno langsung memesan taksi menuju ke villa yang sudah kami sewa untuk liburan kami. Sesampai di villa kami disambut ramah oleh pengurus villa. Barang-barang kami pun dia yang membawakan kekamar.VAku dan mas Seno berencana hari ini untuk istirahat dulu. Karena, tubuh kami yang sangat lah lelah. Setelah dirasa lelah hilang, aku pun berinisiatif pergi berkeliling divilla yang besar ini. Sambil mencari makanan yang bisa dimakan. Sebab perut ku yang mulai lapar. Akhirnya setelah mencari sampai lah aku didapur. Yang ternyata disana ada mbok Imah yang sedang memasak. Ku lihat dia seperti tengah kerepotan.
"Ada yang bisaku bantu mbok?"
"Gak usah Non, ini sudah jadi tugas saya,"
"Eh.. non kedapur cari apa? Atau mau minta tolong sesuatu?" Sambungnya, yang tangan nya tetap sibuk memasak makanan.
"Aku lapar mbok, pengen makan," ucapku nyengir.
"Sebentar ya non, sebentar lagi masak." Ucap mbok Imah sambil bergelut dengan perabotan dapur.
Aku pun dengan sabar menunggu dengan sambil memakan camilan yang disuguhkan mbok Imah kepada ku. Katanya biar ganjel perut, walau pun malah bikin tambah lapar. Makanan pun sudah siap dimeja makan. Aku bergegas membangun kan suami yang sedang tidur dikamar, ternyata mas Seno sangat susah untuk dibangun kan. Ya, wajar sih karena mungkin dia sangat kelelahan. Setelah dia berhasilku bangunkan, mas Seno pun bergegas untuk cuci muka. Kami pun berjalan bergandengan dengan mesra ke meja makan
Selesai makan, aku pamit membersihkan diri. Kebetulan hari nya sudah malam. Saat aku keluar dari kamar mandi, mas Seno melemparkan pakaian yang dibeli nya kemarin kepadaku, sambil berkedip nakal dan berlalu kekamar mandi.NDisaat mas Seno sudah selesai mandi, dia terkejut melihat ku yang berbungkus selimut.
"Sayang, kenapa? Kamu sakit?" tanya nya dengan khawatir, tangan nya pun mulai meraba kening ku
"Gak panas, tapi, muka kamu kok merah?"
"Aku malu," jawabku dengan sangat pelan.
"Hah, apa?" ucapnya dengan tertawa
"Kok, kamu malah ketawa?" geramku
"Gak, lucu aja, kok bisa malu sama suami sendiri," cengirnya
Aku pun cuma cemberut tanpa ada niat untuk menjawab. Dia berbaring disampingku, sambil memperlihatkan video didalam smartphone nya. Video itu memuat adegan yang sangat panas dan ganas, tanpa sadar aku pun jadi terangs*ng dengan adegan yang ditampilkan didalam video itu.
"Yank, coba kamu turutin adegan yang ada didalam video ini, aku juga pengen kayak gini." Aku cuma mengangguk dengan masih tetap fokus ke smartphone mas Seno.
Video nya sudah selesai. Kami pun memulai adegan panas seperti divideo itu.Sampai beberapa kali permainan dan segera pergi tidur setelah membersihkan diri.
Hari ini aku bangun agak kesiangan. Tapi, aku tidak melihat mas Seno disamping ku. Mungkin dia sudah turun duluan kebawah. Aku bergegas mengambil handuk yang tergantung digantungan langsung bergegas untuk mandi. Setelah selesai mandi dan berdandan, aku mulai mencari mas Seno disetiap penjuru rumah, sampai halaman belakang villa pun tak luput dari pencarian ku. Nihil, aku tidak menemukan nya dimana pun
Aku bergegas mengambil handuk yang tergantung digantungan langsung bergegas untuk mandi. Setelah selesai mandi dan berdandan, aku mulai mencari mas Seno disetiap penjuru rumah, sampai halaman belakang villa pun tak luput dari pencarian ku. Nihil, aku tidak menemukan nya dimana pun. Alhasil aku berjalan gontai menuju dapur untuk menemui mbok Imah, siapa tahu dia, tahu dimana mas Seno.
"Eh, non Nisa, baru bangun non?" Jawab nya sambil menyiapkan makanan untuk ku.
"Iya mbok, mbok lihat mas Seno gak? Aku cari kemana-mana gak ketemu," tanyaku, sambil menyendokan makanan kemulutku. Kebetulan aku sangat lapar.
"Oh tuan, dia setelah sarapan pagi tadi langsung pergi, gak bilang sih mau kemana. Cuman, pesan nya tadi kalau non Nisa sudah bangun, bilangin dia cuma pergi sebentar aja. Karena, ada keperluan mendadak"
"Oh," jawab ku singkat.
Jujur aku sangat kesal dengan mas Seno. Sebab, dia pergi tanpa pamit kepada ku. Malahan dia pamit kepada orang yang baru dikenal. Dia anggap apa aku ini. Aku mencoba menghubungi mas Seno tapi tidak diangkat pesanku pun tidak dibalas atau sekedar dibuka. Aku semakin kesal dibuatnya. Andaikan bisa aku mau pulang saja kerumah.BalasTeruskan