“Seperti apa yang kalian janjikan kepadaku, kita akan melangsungkan pernikahan antara Iren dan Daffin. Secepatnya akan lebih baik.”
Perkataan itu seketika meluluh lantahkan perasaanku. Aku baru saja lulus dari SMA. Sekarang pun, tanganku memegang ijazah yang akan kuperlihatkan kepada orang tua. Nilainya sangat bagus.
Padahal aku sangat berantusias dan berharap mereka akan bahagia serta memuji keberhasilanku. Namun, ternyata aku harus mendengarkan kenyataan yang sangat pahit. Kenapa secepat itu mereka menjodohkanku dengan laki-laki yang tak kukenal?
“Maaf kalau saya lancang. Saya tidak setuju dengan pernikahan ini.”
Aku masuk rumah begitu saja tanpa permisi dan menolak mentah-mentah perjodohan ini. Bagaimanapun, aku harus melakukan pembelaan. Ini tentang masa depanku. Bukan masa depan mereka. Kenapa seenaknya sendiri memutuskannya tanpa bertanya pendapatku?
“Iren? Sudah pulang? Ayo sini duduk dulu.”
Mama Rita bangkit dari duduknya dan menghampiriku untuk menuruti perkataannya. Ia adalah mama sambungku. Papa menikah lagi saat mamaku meninggal dunia. Saat itu usiaku masih tujuh tahun.
Mama Rita membawa anak perempuan hasil pernikahannya terdahulu ke dalam rumah ini. Aku pikir, kami akan menjadi saudara yang baik mengingat usianya tidak terlampau jauh dariku. Usianya tiga tahun lebih tua. Pada kenyataannya, mereka selalu berbuat semena-mena kepadaku. Papa pun sama. Ia selalu menuruti permintaan istri barunya dan anak tirinya itu.
“Urusan saya di sini sudah selesai. Kalian harus mempersiapkan segalanya. Saya pamit untuk pulang.”
Aku saja masih berdiri dan belum mengutarakan apa yang ada di dalam hati. Namun, orang itu justru akan pergi dari rumah ini. Apa memang takdirku seperti ini?
“Maaf, Om. Saya tidak mau menikah dengan anak Om.” Aku nekat saat mengatakannya.
“Iren!” Mama Rita memanggilku penuh penekanan. Matanya pun membelalak. Aku tak peduli. Ini masa depanku. Aku berhak memilihnya.
Orang itu justru berhenti di depanku dan bibirnya membisikan sesuatu. Aku tercengang saat mendengarnya dan cukup membungkam mulutku. Ia pun meninggalkanku sambil tersenyum.
“Iren! Seharusnya kamu tidak boleh berkata seperti itu kepada Pak Darma. Beliau orang yang sangat baik dan berjasa untuk kita. Saat papamu kesulitan uang, beliaulah yang mau membantu kita. Meski papamu itu hanya bekerja di restorannya, Pak Darma tetap mau memberikan hutang dan membantu keluarga kita.”
Setelah orang yang bernama Pak Darma itu pergi, Mama Rita tidak segan-segan untuk memarahiku. Hanya saat di depan orang ia terlihat baik kepadaku, kenyataannya ia selalu membentakku. Sudah biasa. Namun, tetap saja menyakitkan. Bukankah seorang ibu sambung harus tetap memperlakukan anak tirinya dengan lembut dan penuh kasih sayang? Apa aku tidak berhak untuk menerimanya?
“Kenapa harus aku, Ma? Ada Mbak Tisa. Usianya lebih dewasa dari aku, Ma! Aku baru lulus SMA. Masa depanku masih panjang. Nilaiku juga bagus kok. Aku masih bisa kuliah atau bekerja. Bukan justru dinikahkan seperti ini. Aku mohon, Ma! Lihat ijazahku ini, Ma, Pa! Aku tidak bohong.”
Aku harus membela diri sambil menyodorkan ijazah yang baru saja diambil dari sekolah. Namun, tidak ada yang mau melihatnya. Apa ini? Susah payah belajar dengan giat dan berharap mendapat nilai sempurna, tetapi mereka tidak mau melihat hasil kerja kerasku? Tega sekali mereka. Papa pun sama saja. Semua menyebalkan.
“Tisa sedang fokus kuliah. Dia belum bisa menikah, Ren. Dia harus mengejar cita-citanya. Kalau menikah, tentu saja mimpinya akan terhenti. Bukan begitu, Pa?”
Mama Rita selalu begitu. Membela anak kandungnya dan akan menekan semua keinginannya kepada papa. Lalu, papa pun hanya diam dan menurutinya. Papa macam apa dia. Tidak adil dalam mempimpin keluarga.
Andai saja mama kandungku masih hidup, ini semua pasti tidak akan terjadi. Tidak ada perjodohan karena hutang. Aku pikir, bukan aku yang menggunakan uang tersebut. Tetapi, kenapa harus aku yang menerima getahnya? Tentang makan dan kebutuhan sehari-hari pun, aku menerima apa pun yang Mama Rita berikan. Tidak aneh-aneh dan sederhana saja.
“Bagaimana denganku, Ma? Aku juga punya mimpi. Aku baru lulus SMA, Ma. Nilaiku bagus. Bisa masuk kuliah atau mencari pekerjaan. Mungkin aku bisa melakukan keduanya. Aku akan membantu perekonomian keluarga kita, Ma. Aku mohon, batalkan pernikahan itu, Ma. Pa, tolong, Pa.”
Aku melihat orang tuaku secara bergantian sambil mengiba agar mereka mau mendengar permintaanku.
“Kamu beda, Ren. Jauh dari Tisa. Dia punya masa depan yang cerah, beda denganmu. Sudah terima saja. Ini memang garis hidupmu. Seharusnya kamu berterima kasih kepada Mama, karena ada keluarga kaya yang akan menikahimu. Hidupmu pasti akan bahagia. Tidak merepotkan Mama lagi di sini.” Kalimat terakhir itu diucapkan sangat lirih. Namun, telingaku masih bisa menangkapnya.
“Kenapa Mama selalu pilih kasih? Papa juga nggak pernah membelaku. Aku juga anak kalian. Aku anak kandung papa. Apa salahnya kalau aku ingin melanjutkan kuliah seperti Mbak Tisa? Kita punya kesempatan yang sama, Ma. Kalau memang aku akan bahagia dengan laki-laki itu, kenapa Mama tidak menyuruh Mbak Tisa saja yang menikah. Mama bahagia ‘kan kalau anak sendiri akan bahagia saat menikah dengan orang kaya?”
Aku yang penurut kini menjadi pintar berkelit. Jika permasalahan lain, mungkin aku masih bisa menerimanya. Tetapi, ini tentang pernikahan. Aku tidak bisa hidup dengan laki-laki yang tak kukenal. Apalagi usiaku baru 18 tahun. Aku ingin menikmati masa mudaku sebelum terjun ke dalam masalah rumah tangga. Aku tidak siap.
“Iren! Sekarang kamu berani membantah ya? Tisa itu wanita normal, berbeda denganmu! Jangan berharap bisa memposisikan dirimu seperti Tisa. Kamu harus sadar diri. Turuti perkataan Mama dan papa. Jangan jadi anak durhaka! Kamu pasti akan susah mendapatkan jodoh kalau bukan seperti ini caranya. Seharusnya kamu bersyukur!”
Tiba-tiba hatiku mendesir saat Mama Rita kembali mengingatkanku tentang kejadian yang mengerikan itu dan menganggapku tidak sepadan dengan Mbak Tisa. Dia memandangku rendah karena kejadian beberapa tahun silam. Itu juga alasanku menolak pernikahan ini. Ada trauma sendiri saat bersentuhan dengan laki-laki selain papa dan orang terdekat. Meski sekedar bersalaman sudah membuatku berkeringat dingin.
“Aku tidak bermaksud menjadi anak durhaka, Ma. Mama tau sendiri, aku ini ada trauma dengan laki-laki. Tapi kenapa Mama menyuruhku untuk menebus hutang kalian dan menikah dengan laki-laki yang tak kukenal? Bukankah Mama dan Mbak Tisa yang menggunakan uang itu untuk berfoya-foya? Kenapa semua getah itu dilimpahkan kepadaku? Itu tidak adil, Ma!”
Plak!
Tangan kanan Mama Rita mendarat di pipiku. Tak kusangka rasa sakit ini semakin ditambah dengan pedihnya bekas tamparan. Apa mama tiri memang sekejam ini? Papa pun hanya diam saja. Mungkin rasa sayangnya sudah hilang dan tidak menganggapku sebagai anaknya lagi.
“Seminggu lagi, kamu sudah harus menikah. Kalau saja tadi kamu tidak membuat Mama marah, tamparan itu pasti tidak akan pernah melukai pipimu. Jangan lagi membantah perkataan Mama. Sana masuk ke kamar.”
Kini perkataannya lebih halus dari sebelumnya. Tangannya pun mengusap pundakku seraya pergi dari hadapanku.
“Kamu akan baik-baik saja. Percaya sama Om.”
Di dalam kamar yang hening, aku berusaha memenangkan diri dan kembali mengingat perkataan yang diucapkan oleh Om Darma—orang yang baru saja memintaku untuk secepatnya menikah dengan anaknya karena hutang keluargaku. Menurutnya aku akan baik-baik saja. Apa iya? Membayangkannya saja sepertinya mustahil.
“Aku akan baik-baik saja katanya? Masa depanku sudah tidak ada saat statusku sudah menikah. Harus patuh dengan suami dan mungkin dilarang untuk pergi sesuka hati. Dan lagi, aku harus melayani laki-laki layaknya suami istri. Aku tidak bisa melakukannya. Aku takut. Aku tidak bisa.”
Aku merangkul kedua kakiku dan meringkuk di pojok tempat tidur. Sesekali memegang pipi bekas tamparan yang Mama Rita lakukan. Ada rasa perih di sana. Tetapi, di dalam dada ini ada rasa yang lebih sakit lagi.
Keringat dingin pun mendadak keluar karena membayangkan tentang pernikahan secara berlebihan. Aku sangat takut jika nanti di malam pertama laki-laki itu akan melakukannya dan memaksa untuk memenuhi tugasku sebagai istrinya. Aku tidak bisa. Aku takut bersentuhan dengan laki-laki.
***
“Dek Iren ini benar-benar cantik ya? Calon suaminya pasti akan sangat beruntung mendapatkan Dek Iren. Masih muda, cantik lagi.”
Pujian itu keluar dari mulut seorang perias. Ya, pada akhirnya aku pun akan menikah menuruti permintaan Mama Rita. Dengan berat hati, aku pun mengukir senyuman untuk menanggapi perkataan ibu perias tersebut.
“Tapi kok, Dek Iren mau menikah diusia yang sangat muda seperti ini sih? Bukankah lebih baik kuliah atau bekerja cari pengalaman dulu?” ucapnya lagi.
Perkataan itu tentu mengundang rasa sedihku kembali. Padahal dengan susah payah, aku membuang jauh-jauh rasa sedihku itu agar tidak memalukan keluargaku sendiri. Mama Rita pun sudah mewanti-wanti agar senyumku tetap mengembang tanpa ada air mata yang akan tumpah atau kemarahan saat acara berlangsung.
Ingin sekali menolaknya, tetapi percuma karena di rumah ini tidak ada lagi yang mempedulikanku. Papa pun sudah tidak lagi memikirkan perasaanku. Hanya bisa pasrah dan mengharapkan perkataan Om Darma waktu itu.
“Halah Ibu ini, jangan ikut campur masalah orang lain! Tugas Ibu hanya merias anakku saja biar terlihat semakin cantik dan menarik, bukan ingin tau tentang permasalahan orang lain. Sudah, Bu, jangan banyak bertanya lagi. Selesaikan tugas Ibu saja.”
Siapa lagi yang akan mengatakannya dengan kalimat yang pedas jika bukan Mama Rita. Ia tak akan memikirkan perasaan orang lain. Apalagi pernikahanku terjadi karena hutang mereka. Sudah pasti, mereka akan menutup rapat-rapat rahasia ini agar tidak ada orang yang mengetahui. Mungkin malu, atau apalah aku tidak tahu dengan pasti. Yang aku tahu, diriku saat ini ingin sekali kabur dari tempat ini dan menggagalkan pernikahan. Tetapi, semua itu tidak mungkin terjadi.
Perias itu hanya diam. Namun, aku melihat bibirnya yang mencebik. Ia kembali merapikan hijabku yang sebenarnya sudah rapi.
“Dek Iren, mamamu itu mama tiri ya? Kalau ngomong kok sadis gitu,” kata perias itu lagi.
Sebelum mengatakannya, ia menoleh ke belakang terlebih dahalu padahal di depannya ada cermin dan bisa melihat dari pantulan yang ada di sana. Namun, entahlah. Ia pun mengatakannya dengan berbisik.
“Kok tau?” jawabku sambil memaksa untuk terus tersenyum.
“Wah, pantesan. Apa mungkin pernikahan ini adalah perjodohan?” Kini suaranya sedikit lantang.
“Ehem!” Mama Rita berdehem. Ia sedang berdiri di ambang pintu. Padahal belum lama ini ia sudah pergi, kini malah sudah menampakan diri lagi. Aku bisa melihatnya lewat cermin yang ada di depanku.
“Anaknya sudah cantik, Bu. Ini lihat. Semoga hidupnya selalu bahagia,” ujarnya kepada Mama Rita. “ Selamat untuk penikahanmu ya, Dek Iren. Kamu harus ikhlas dan bersabar ya? Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untukmu. Jangan lupa tersenyum ya?” Kini ia berbicara kepadaku. Entah apa maksudnya. Dari ucapannya itu, sepertinya ia sedang menyindir Mama Rita. Atau entah, aku pun kurang tahu. Tetapi, aku bahagia saat mendengar ucapannya itu.
“Amin, Bu. Terima kasih,” balasku.
“Iren … kamu jadi nikah, Ren?”
“Iya Ren, apa kamu baik-baik saja? Bukankah calon suamimu usianya lebih tua sepuluh tahun darimu, Ren? Aku nggak bisa membayangkannya, Ren. Kamu yang sabar ya?”
Tiba-tiba kedua sahabatku datang, menerobos masuk dengan hebohnya dan menabrak Mama Rita yang masih berdiri di ambang pintu. Lagi-lagi aku melihatnya dari pantulan cermin. Perasaanku kembali tergelitik saat melihat ekspresi Mama Rita yang hampir jatuh.
“Anak-anak ini! Tidak sopan! Masuk tanpa permisi! Perhatikan langkah kalian. Apa kalian tidak melihat ada orang yang sedang berdiri di sini!”
Sudah pasti dan tidak diragukan lagi, Mama Rita pasti akan memarahi kedua sahabatku itu. Melati dan Lily. Entah bisa kebetulan seperti itu, nama mereka sama-sama diambil dari bunga yang indah.
“Eh iya, maaf Tante, kami benar-benar tidak melihat ada Tante di sana,” kata Melati dengan sopan.
Kedua orang konyol itu seketika terdiam dan tidak heboh seperti awal masuk ke ruangan ini. Aku hanya bisa melihat ekspresi mereka yang lucu dari pantulan cermin.
“Jangan diulangi lagi! Kalian sebagai sahabatnya Iren, seharusnya mendukung keputusan Iren untuk menikah. Jangan malah ditanya yang aneh-aneh. Iren pasti akan baik-baik saja. Dia bahagia dengan pernikahan ini. Kalian paham kan?”
Aku melihat Mama Rita di cermin dengan sorot mata kebencian. Ia sangat tega memperlakukanku seperti ini. Seperti barang yang tidak mempunyai perasaan sama sekali. Padahal, aku sangat bahagia saat kedua sahabatku itu mengkhawatirkan keadaanku. Tidak seperti dirinya yang tidak punya belas kasihan.
“Iya, Tante. Maafkan atas kecerobohan kami.” Kali ini Lily yang mengatakannya.
“Kalian lebih baik pergi dari ruangan ini. Acaranya sebentar lagi akan dimulai. Iren sebentar lagi pasti akan keluar dari tempat ini. Kalian duduk di tempat tamu undangan saja.”
“Oh begitu ya, Tante. Tapi sebelum keluar, apa kami boleh memberitahukan sesuatu kepada Iren terlebih dulu, Tan?” Mendengar perkataan Melati, aku pun menjadi penasaran apa yang akan ia katakan.
“Ya sudah, jangan lama-lama. Tante juga akan pergi dari sini untuk persiapan acara.” Mama Rita pun akhirnya pergi dari sini.
“Ada apa Mel?” tanyaku saking penasarannya.
“Nggak sih, Ren. Hanya alasan saja biar bisa ngobrol sebentar sama kamu. Mamamu itu lho, sudah kayak siluman ular saja. Menyebalkan setengah mati.” Bibirku kembali mengembang saat mendengar ocehan Melati.
“Iya! Apa saja dikomentari sama siluman ular itu. Heran nggak sih!” Lily pun ikut saja membuatku semakin tersenyum lebar.
“Iya benar, mamanya Dek Iren persis seperti siluman ular. Ucapannya bagaikan bisa beracun!”
Sontak kedua sahabatku itu terkejut saat perias yang masih berusaha merapikan pakaianku ikut berbicara. Lalu, mereka pun tertawa.
“Kamu harus kuat ya, Ren. Kita akan selalu ada untukmu. Kami pergi ke tempat duduk tamu dulu. Nanti takut disemprot sama siluman ular lagi.” Mereka cekikikan sambil pergi meninggalkanku.
Ya, beberapa saat lagi, aku akan menjadi istri orang. Saat ini hanya bisa pasrah dan kembali mengingat perkataan Om Darma. Semoga ucapannya akan menjadi kenyataan.
‘Jika memang inilah jalan terbaik yang Engkau pilihkan untukku, aku mohon kuatkan hatiku dan mudahkanlah jalanku.’
Aku melangkah menuju kepelaminan seraya memanjatkan doa di dalam hati.
Pelaminan sudah di depan mata. Mas Daffin sudah duduk di kursi yang disediakan khusus untuk mengikrarkan janji pernikahan kami. Ya, ia sudah siap dihadapan bapak penghulu. Sejauh yang kutahu, Mas Daffin orang yang tidak banyak bicara. Saat beberapa kali bertemu, ia pun tak pernah mencoba untuk merayuku, apalagi berusaha memegangku.
Meski usianya lebih dewasa sepuluh tahun dariku, tetapi aku tak menyangkal jika dirinya memang laki-laki yang tampan. Postur tubuhnya pun bagus. Bandannya tinggi besar. Pasti banyak wanita yang mengidolakannya. Saat Melati melihat fotonya di undangan pernikahan kami, ia mengatakan jika wajahnya mirip seperti Kim Taehyung. Meski begitu, ketakutanku tetap muncul. Ia tetap saja laki-laki.
Aku melangkah semakin mendekatinya. Ada kursi kosong di sebelahnya. Kursi itu tentu saja disediakan untukku. Aku harus duduk bersanding sebagai calon mempelai wanita. Degupan jantungku mendadak terasa sangat kuat. Berdebar tak menentu. Bukan cemas tentang Mas Daffin yang nanti akan tidak lancar dan gagal saat mengucapkan ijab Kabul. Jika seperti itu, aku justru bahagia karena gagal nikah. Aku berdebar mengingat nanti setelah sah menjadi suami-istri pasti harus mencium tangannya. Apakah aku bisa melakukannya?
Kini aku sudah duduk di sampingnya. Mas Daffin sama sekali tidak melihatku. Saat awal memasuki ruangan ini pun, ia hanya melihatku sekilas. Tanpa senyuman atau ekspresi bahagia lainnya. Apakah ia sama sepertiku? Menikah karena orang tua yang menyuruh. Atau ia merasa sangat gugup? Entahlah. Aku harap setelah acara ini selesai, hidupku akan baik-baik saja.
“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Daffin Prawira bin Darma Prawira dengan anak saya yang bernama Iren Salsabila dengan maskawinnya berupa uang senilai 106 dollar dan seperangkat alat salat, tunai.”
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Iren Salsabila binti Handoko dengan maskawinnya berupa uang senilai 106 dollar dan separangkat alat salat, tunai.”
Tak kusangka, Mas Daffin sangat lancar mengucapkan ijab Kabul tersebut. Hanya satu tarikan napas saja. Jantungku semakin berdebar saat para saksi mengatakan sah secara serempak. Sebentar lagi, aku harus menggenggam tangannya dan mencium punggung tangannya itu sebagai ketakdzimanku sebagai seorang istri. Membayangkannya saja sudah merinding dan merasa takut.
Selain itu juga, statusku kini sudah berubah menjadi seorang istri dari Mas Daffin. Istri? Untuk berpegangan dengan laki-laki saja aku tidak sanggup. Apakah benar aku bisa menjadi istri yang baik dan bisa menunaikan tugas-tugasku? Terlebih tentang nafkah batin, khususnya masalah ranjang. Aku tidak bisa melakukannya.
“Untuk mempelai wanita dipersilakan mencium tangan suaminya, sebagai tanda ketakdzimannya kepada suami.”
Apa yang ditakutkan akhirnya terjadi. Pembawa acara itu mempersilakanku agar bersalaman dengan Mas Daffin. Keringat dingin mendadak keluar dari badanku. Aku benar-benar tak sanggup. Papa melihatku yang semakin tak berdaya ini, justru diam saja. Entah orang tua macam apa papa itu.
“Biarkan dia melakukannya saat kami berdua saja. Maafkan atas kelancangan saya! Silakan dilanjutkan ke acara berikutnya.”
Entah mengapa, Mas Daffin seperti tahu kondisiku saat ini. Dengan suaranya yang berwibawa dan tegas, ia tidak memaksaku untuk bersalaman dan mencium tangannya. Kalimat yang terlontar dari lisannya pun, sama sekali tidak merendahkan posisiku.
Apa ia mengetahui semua tentang kondisiku? Ya, mungkin kedua orang tuaku sudah menceritakan segalanya. Lalu, mengapa ia masih tetap mau menerimaku sebagai istrinya? Bukankah akan merugikannya saja? Banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepala.
Tamu undangan yang hadir ada yang meneriaki dan bersiul menggoda kami. Mungkin bagi mereka, apa yang Mas Daffin lakukan sangat manis. Ia menginginkannya saat kami berdua saja. Ia seperti tidak ingin mengumbar kemesraan kami di depan umum. Padahal entah apa alasan sesungguhnya.
Untuk saat ini aku merasa sedikit lega. Namun, kembali muncul kekhawatiran saat nanti memasuki sesi pemotretan. Bagaimana jika kami diminta untuk berpelukan atau berpose mesra? Bisa-bisa aku pingsan di sana. Pikiran itu sebisa mungkin kutepis, agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan. Kini aku melangkah ke pelaminan.
“Terima kasih.” Aku mengucapkannya saat kami duduk di kursi panjang tak bersekat berwarna putih itu.
Meski ada rasa lega di dalam dada, tetapi jantungku masih berdebar dan belum normal seperti biasanya. Apalagi sekarang kami duduk di kursi yang sama. Dari awal sampai detik ini, aku sangat berusaha untuk menenangkan diri sendiri mengatasi trauma itu agar tidak mempermalukan keluargaku. Tadi saja, keringat dinginku sempat keluar. Namun, berkat perkataan Mas Daffin, aku bisa kembali mengontrolnya. Andai tidak ada yang bertindak, mungkin saja aku sudah tak sadarkan diri karena saking takutnya.
“Ya.” Ia menjawabnya singkat sambil menoleh sekilas ke arahku. Aku melihat ada senyum tipis yang menghiasi bibirnya.
Benarkah ia mengetahui kondisiku? Kenapa ia tersenyum seperti tanpa beban? Padahal ia tak bisa menyentuhku. Aku pikir, laki-laki normal akan menolak saat mengetahui calon pengantinnya takut disentuh oleh tangan laki-laki. Seperti apa yang Mama Rita katakan. Aku mungkin bukan wanita normal, sedangkan hal utama yang diinginkan oleh seorang suami setelah menikah adalah memenuhi nafsu syahwatnya.
Meski duduk berdampingan, kami tidak bercengkrama layaknya dua insan yang sedang menikmati kebahagiaan. Tidak akrab seperti pengantin pada umumnya. Hanya akan berbicara saat ada hal penting saja. Itu pun dengan sangat berhati-hati, jangan sampai bersentuhan.
Mungkin tamu undangan yang benar-benar memperhatikan kami, pasti akan mempertanyakan tentang pernikahan ini. Kenapa pasangan pengantin itu tidak selayaknya pengantin baru? Biarlah, Mas Daffin pun sepertinya tidak mempermasalahkannya dan bibirku pun tetap mengembang meski perasaan ini tak menentu.
Setelah kami dipertontonkan di depan para tamu undangan dan mendapatkan ucapan selamat dari mereka, tibalah saatnya untuk sesi pemotretan. Sungguh aku tak berkutik. Sudah pasrah. Jika nanti seandainya akan pingsan, mereka bisa menduga karena aku kecapekan. Sudah tidak begitu mempermalukan keluargaku lagi.
Kenapa pula aku masih sempat-sempatnya mempertahankan kewibawaan keluargaku. Padahal mereka sendiri yang membuatku menjadi seperti ini. Dari awal pun, Mama Rita sudah mewanti-wanti agar diriku tidak mempermalukannya. Seharusnya aku tidak menurutinya, tetapi entahlah, rasanya sulit untuk berbuat jahat kepada mereka yang masih punya ikatan keluarga.
“Silakan kedua mempelai mempersiapkan diri untuk memasuki sesi pemotretan,” ucap pembawa acara memberitahukan kegiatan selanjutnya sesuai urutan acara.
Lagi-lagi keringat dinginku mulai bermunculan. Seandainya wajahku tidak dirias demikian rupa, pasti sudah terlihat pucat seperti orang yang akan pingsan. Napasku mulai tersengal dan perut terasa mual. Tanda-tanda ini hampir muncul semua. Ya, trauma itu kembali membayangiku. Jika saja keadaan ini terus berlanjut, mungkin aku akan benar-benar tidak sadarkan diri.
“Sekali lagi saya meminta maaf, mungkin sesi pemotretan ditiadakan saja. Saya merasa lelah. Atau mungkin Iren sendiri yang akan melakukannya. Saya lebih baik beristirahat saja. Maafkan kelancangan saya.”
Mas Daffin kembali melakukannya. Aku bergeming dan terkejut saat ia mengatakan hal yang tidak terduga seperti itu. Aku yang sudah hampir pingsan, kembali bisa mengontrol diri berkat apa yang ia lakukan. Benarkah ini hanya kebetulan saja? Atau Mas Daffin sengaja melakukannya?