BAB 1
“Ta, ungkep ayamnya udah matang! Cepetan angkat dan goreng!” seru Wa Imah---kakak kandung ibu.
“Iya, Wa … bentar tanggung lagi marut kelapa sedikit lagi!” tukasku. Keringat sudah membanjiri pipi.
“Eh, Ta … tolongin buatin kopi dong buat akang-akang kamu! Udah pada datang! Masaknya belum kelar juga?” teriak Selvi---kakak sepupu pertamaku.
“Sinta belum kelar, Teh! Teteh buatin aja atuh sendiri! Airnya udah aku rebus juga dalam termos! Di dispenser dalam rumah juga ada!” ucapku.
“Eh, dasar ya! Kalau diperintah sama yang lebih tua itu jangan banyak tingkah, tinggal bikin kopi aja susahnya apa sih?” tukasnya dengan mata memutar jengah.
“Siapa, Teh yang banyak tingkah?” Kudengar Rema, kakak sepupuku yang lainnya menyahut dari dalam rumah.
“Itu Si Babu!”
Meskipun benar pekerjaanku hanya sebagai pembantu rumah tangga, tapi entah kenapa ketika mendengar sendiri ucapan itu disebutkan dengan kasar dan nada melecehkan hatiku sakit, ya?
“Oh, Sinta! Biasalah orang yang gak berpendidikan ‘kan sukanya banyak tingkah dan gak punya etika!” ucap Kak Rima lagi.
“Iya, baru jadi babu aja udah belagu!” sambung Rena, Kakak sepupuku yang lainnya.
Mereka memang benar jika mengatakan pendidikanku rendah. Aku hanyalah lulusan SMA tidak seperti mereka yang bisa kuliah dan kini memiliki karir bagus. Memang nasib baik tidak berpihak pada keluargaku. Ibuku yang merupakan anak bontot menikah dengan seorang lelaki yang hanya buruh serabutan. Berbeda dengan kakak-kakaknya yang lain. Mereka beruntung mendapati suami yang memiliki pekerjaan yang lebih baik.
Entah dari mana Kakekku yang sudah tua renta itu datang. Meskipun usianya sudah mencapai lima puluh delapan tahun tapi dia masih saja bugar.
“Sinta, kamu jangan gitu kalau diperintah sama Kakak-kakakmu, gak baik menentang yang lebih tua!” ucap Kakek dengan sekilas melirik ke arahku. Lelaki tua itu berjalan melewatiku begitu saja.
“Biar saya saja Bah, yang buatin!”Ibuku sepertinya tidak tega melihatku. Dia segera berdiri meninggalkan pekerjaannya yang sedang mengulek bumbu.
“Gak usah, Bu! Sinta aja!” tukasku sambil bergegas meninggalkan pekerjaan memarut yang sebetulnya hanya tinggal sedikit lagi.
Aku segera menyiapkan kopi untuk mereka. Kudengar riuh sepupu-sepupuku menyambut kedatangan kakek ke ruang tengah.
“Kakek!” Kudengar teriakan ketiga sepupuku di dalam rumah. Mereka selalu dimanjakan oleh lelaki tua itu.
“Eh, cucu-cucu kesayangan kakek!” Dan mereka terdengar mengobrol dengan hangat.
Bagaimana pun Kakek selalu membanggakan Kakak-kakak dari Ibu yang memiliki kehidupan lebih baik. Dan keempat cucunya yang kini sudah menyelesaikan kuliah di perguruan tinggi. Cucu yang selalu dia bangga-banggakan. Bukan sepertiku yang selalu dibedakan dan dikucilkan.
Tidak hanya para kakak sepupu itu yang merendahkanku. Ibu mereka pun sama memandang rendah pada ibuku yang merupakan adik termudanya. Hanya Wa Imah saja, yang merupakan kakak ketiga dari ibu yang memang hidupnya sama juga serba susah. Ketika sedang ada acara keluarga seperti ini maka yang akan jadi tumbal adalah ibuku dan Wa Imah.
Aku berjalan ke depan dengan membawa nampan berisi kopi. Untuk suami Rena dan Rima. Sementara Kak Selvi meskipun usianya sudah memasuki kepala tiga. Dia masih belum menemukan jodohnya juga hingga saat ini. Dia sedang menggelendot di pangkuan kakek.
“Silakan, Kang!” Aku menawari kopi tersebut pada Kang Bahri dan Kang Sarif.
“Eh, makasih Ta! Oh iya mana suami kamu? Kami minta maaf gak bisa hadir waktu nikahan kamu!” ucap Kang Bahri.
“Gak apa-apa, Kang!” ucapku sebetulnya dengan hati pedih.
Mengingat kejadian seminggu lalu di mana tidak ada seorangpun dari keluarga yang menghadiri pernikahanku. Hanya kedua orang tuaku..
“Iya, soalnya kita kemarin lagi persiapan menghadiri acara di perusahaan Kang Bahri sama Kang Sarif. Soalnya bos mereka ‘kan nikah juga. Biar kita tampil maksimal, secara kan acaranya sebentar lagi akan dilangsungkan di seluruh perusahaan cabang Adireja grup,” ucapnya.
“Eh, kho tanggal nikahnya Tuan muda adireja grup bisa samaan dengan tanggal pernikahan kamu, Ta?” tukas Teh Selvi. Dia masih berbaring di pangkuan Kakek yang sedang menyesap teh manis yang kubuatkan tadi pagi.
“Iya, bisa sama ya? Cuma gak mungkin ‘kan menantu misterius kaluarga konglomerat yang katanya dari kalangan biasa itu, kamu?” cibir Teh Rena.
“Mana ada lah, Tuan Ashraf suka wanita model kayak dia, sekolah aja cuma lulusan SMA, pekerjaan babu, mana mau dia! Meski cantik kalau tidak berbobot buat apa?” timpal Teh Rema.
“Lagian kamu kerja cuma ngurus nenek tua yang sakit-sakitan kan katanya, ya?” tanya Teh Selvi lagi.
Tiba-tiba notifikasi pesan masuk ke dalam gawaiku. Ponsel murahan yang kubeli dari hasil kerja kerasku. Aku mengabaikan mereka dan berjalan kembali ke dapur.
[Sayang! Gimana acara keluarganya? Maaf, ya … malah bentrok sama jadwal berobat Mama ke Singapura!] tulis suamiku.
[Iya, gak apa-apa, Mas! Gimana Mama? Baikan sekarang?] balasku.
[Alhamdulilah! Semenjak kamu merawat dia di rumah dengan telaten, perkembangan kesehatannya berkembang pesat! Aku tidak salah memilih istri sebaik kamu! Makasih, ya, Sayang!] tulisnya.
Aku menitikkan air mata. Hatiku terasa dilambungkan tinggi ke nirwana. Entah perbuatan baik apa yang kulakukan dulu? Atau mungkin kebaikan yang ditanamkan kedua orang tuaku?
Tiba-tiba anak majikan dari tempatku bekerja melamarku. Dengan satu alasan, katanya dia terpesona dengan lantunan ayat Al-qurán yang selalu dia curi dengar setiap shubuh. Ah, biarlah kebahagiaan ini kugenggam sendiri dulu. Bahkan dalam pernikahan sederhana itu, ayah dan ibu menyangka jika yang kunikahi adalah supir dari majikan tempatku bekerja.
Dasar ayah yang kolot, padahal ketika ikrar dengan jelas dan lantang p1ak penghulu menyebutkan nama lengkap suamiku. Ahsraf Adireja Putra, tapi tetap saja ayahku tidak mengerti siapa sebetulnya kini menantunya. Maklum dia juga jarang menonton televisi, mana dia tahu tentang pengusaha-pengusaha kaya yang ada di negeri ini.
Ayah dan ibu yang kolot hanya tahu panas terik dan wangi lumpur sawah. Bergelut mencari rejeki di sana demi sesuap nasi untuk menyambung kehidupan kami.
“Ah, lihat itu Tuan Ashraf … wah ganteng banget ya! Itu lihat beritanya … putra dari konglomerat Adireja grup dengan santun memperlakukan ibunya ketika hendak naik pesawat!” Teh Selvi berteriak ketika melihat berita ti TV. Kulirik sekilas, ada senyum mengembang di wajahku.
“Eh, kenapa kamu senyum-senyum sendiri, Ta? Jangan ngarep ya, punya suami kayak Tuan Ashraf … lihat saja, nanti pas acara perayaan di kantor, akan kupepet … gak apa-apa deh jadi yang kedua!” ucap Teh Selvi denga wajah jutek dia melirik ke arahku.
“Iya, babu mah jangan mimpi ketinggian! Nanti sakit!” ujar Rema.
“Iya, Teh … kita nanti pake baju apa, ya! Aku pengen photo sama Tuan Ashraf!”
Mereka tidak mempedulikanku dan terus mengobrol. Membicarakan tentang pesta yang akan di adakan suamiku di setiap kantor cabangnya.
“Gimana reaksi mereka, jika nanti aku datang dengan gaun Cinderella dan di gandeng sang pangeran?”
Aku jadi senyum-senyum sendiri membayangkannya.
BAB 2
Aku kembali berjalan menuju dapur dan meneruskan memarut kelapa. Pekerjaan yang tadi kutinggalkan. Setelah selesai memarut, kuremas hasil parutannya dan kubuat santan. Kemudian kuserahkan pada Wa Imah untuk melengkapi masakan rendangnya.
Sementara itu aku menyalakan kompor dan mulai menggoreng ayam ungkep ayam yang sudah Wa Imah tiriskan.
Ponselku kembali bergetar. Beberapa notifikasi pesan masuk.
“Nomor baru lagi?” Aku menghela napas melihat nomor baru pada layar ponselku. Segera kuusap layar dan kubuka pesan yang masuk.
[Heyyy! Gadis kampung! Ini peringatan saya yang ke sekian! Kamu pake guna-guna apa hah?! Cepetan hilangkan ilmu hitam yang kamu kirimkan pada Ashraf! Kamu tidak pantas menjadi menantu di keluarga Adireja!]
[Saya peringatkan lagi! Saya tidak main-main dengan ancaman saya! Jika kamu masih tidak mau mundur dan bercerai dari Ashraf! Jangan salahkan saya kalau kamu akan mati atau saya buat cacat seumur hidup!!!]
Aku menghela napas panjang. Sehari setelah aku menerima lamaran Tuan Muda Ashraf, aku selalu mendapatkan terror dari nomor yang tidak dikenal. Awalnya aku mengabaikannya, tetapi tidak hanya satu kali aku mendapatkan terror serupa. Hampir setiap hari.
Sudah kublokir, tapi pasti dia akan muncul lagi dengan nomor yang lainnya. Setiap kutelepon, nomor itu sudah tidak aktif.
Terkadang tengah malam dia mengirimkan gambar-gambar yang mengerikan. Gambar orang yang dibunuh, atau ditabrak terkadang mengirimkan gambar orang memegang pistol dengan disertai ancaman-ancaman serupa. Dia mengancam akan membunuhku atau membuatku cacat seumur hidup jika tidak meninggalkan Tuan Muda Ashraf yang kini telah resmi menjadi suamiku.
Hal ini juga sebetulnya yang membuatku meminta pada suamiku untuk membuat acara pernikahan dengan tertutup. Hanya beberapa keluarga yang hadir. Aku pun memintanya menunda acara resepsi pernikahan kami. Namun aku belum memberitahukan alasan yang sebenarnya.
Sebuah pernikahan dadakan yang tidak kutahu dengan pasti penyebabnya. Terkadang aku berpikir apakah Tuan Muda Ashraf sakit hati dengan seorang wanita dan menjadikanku pelarian saja? Namun melihat perlakuannya, aku kembali menepis prasangka itu. Dia sangat baik memperlakukanku.
Selama hampir dua minggu usia pernikahan kami, selama itu pula pesan-pesan terror dan ancaman selalu kuterima. Aku belum menceritakannya pada siapapun termasuk pada suamiku sendiri.
Bagaimanapun aku masih terlalu sungkan dengannya. Kami menikah tanpa proses pacaran, langsung proses lamaran, kemudian menikah.
Karenanya aku membiarkan saja ketika ayahku mengira jika suamiku hanya seorang supir di keluarga Adireja. Aku masih teringat Ketika ayah bicara.
“Ta, kalau orang kaya nyari supir aja udah kayak artis ya? Ganteng dan keren! Kalau supirnya sekeren ini, gimana dengan majikannya, ya?” ucapnya Ketika pertama kali bertemu dengan Tuan Muda Ashraf. Aku hanya tersenyum.
Tuan muda Ashraf hanya datang ke rumahku sekali untuk memintaku pada ayah. Keluargaku mengira calon suamiku hanya seorang pembantu juga di sana. Tidak ada satupun keluarga yang hadir pada waktu itu, baik itu kakak-kakak dari ibuku, saudara sepupuku maupun kakekku sendiri. Kasta mereka terlalu tinggi. Mereka berkelas dan kami rendahan.
Beberapa tetangga ada yang datang membantu menyiapkan hidangan sebetulnya, tapi mereka pun tidak tahu pastinya siapa calon suamiku. Terlebih ayahku yang sudah berkoar-koar tentang profesi calon suamiku yang katanya adalah supir.
Tuan Muda Ashraf hanya datang ditemani ajudannya waktu itu. Karena memang aku meminta jangan membawa banyak orang. Bagaimanapun aku takut dia akan malu pada keluarganya yang lain ketika melihat kondisi gubuk reyotku.
“Ta! Becus kerja gak sih?!”
Suara Teh Selvi membuatku terperanjat.
“Astagfirulloh!” pekikku sambil mematikan kompor. Ayam yang kugoreng ternyata sudah gosong dan berasap.
“Udah dua tahun jadi babu di kota, tetep aja gak becus kerja! Untung majikanmu gak pecat kamu! Kelas rendahan kayak kamu ‘kan bertebaran, tinggal menjentikan jari ganti deh! Babu rendahan!” cibirnya lagi.
Aku menarik napas panjang. Pikiranku saja sedang kacau sekarang dengan pesan-pesan terror itu. Ditambah omelan dari mulut cabenya Teh Selvi.
“Kalau semua ayam yang kamu goreng gosong? Kamu pergi lagi ke pasar beli ayam lagi pake duit kamu sendiri, punya gak?” cibirnya sambil menuang air ke dalam gelas dan berjalan menghampiriku yang sedang mengangkat ayam yang gosong.
“Udahlah Teh, gaji babu cuma berapa, beda sama Teteh yang kerja kantoran! Kasian kalau suruh ganti! Lagian emang Teh Selvi mau makan ayam yang dibeli dari hasil kuli rendahan kayak gitu,” cibir Teh Rema yang baru saja datang. Dia meletakkan semua piring dan gelas kotor begitu saja kemudian pergi.
“Ta, cuciin semua! Tangan kami takut rusak nanti! Tuh kamu kan lihat kuku cantik kami, kemarin kami habis perawatan,” ucap Teh Rema lagi sambil memamerkan kuku-kukunya yang penuh dengan kutek.
“Kami ‘kan mau menghadiri acara besar, harus tampil cantik maksimal iya, gak?”Teh Rema melirik Teh Selvi.
Mereka tertawa meledek sambil berlalu. Aku tidak ingat jika di pojok dapur ada wanita berhati lembut itu. Ketika kumenoleh, ibu tengah menyeka air matanya. Aku menghampirinya.
“Ibu kenapa?” Dia memelukku.
“Maafin ibu sama ayah kamu, Ta! Kalau saja kami punya uang dan menyekolahkan kamu tinggi, mungkin kakak-kakak sepupumu tidak akan merendahkanmu seperti ini?” isaknya. Wa Imah hanya sesekali melirik ke arahku dan ibu.
“Bu, sudahlah! Sinta tidak apa-apa! Tuhan tidak akan salah memilih orang yang akan Dia tinggikan, Allah tidak hanya melihat dari pendidikannya. Apakah ibu pernah mendengar jika Nabi Muhammad kuliah S1 atau S2, enggak ‘kan Bu? Meskipun seluruh dunia merendahkan orang itu, jika Allah meninggikannya semua bisa apa? Ibu hanya perlu mendoakanku agar tetap menjadi orang yang penuh syukur dan berada di jalan-Nya. Ibu mau kan jika Allah memilihku dan meninggikan derajat kita suatu hari nanti?”
BAB 3
“Bu, sudahlah! Sinta tidak apa-apa! Tuhan tidak akan salah memilih orang yang akan Dia tinggikan hanya dari pendidikannya. Apakah Ibu pernah mendengar jika Nabi Muhammad kuliah S1 atau S2, enggak ‘kan, Bu? Meskipun seluruh dunia merendahkan orang itu, jika Allah meninggikannya semua bisa apa? Ibu hanya perlu mendoakanku agar tetap menjadi orang yang penuh syukur dan berada di jalan-Nya. Ibu mau ‘kan jika Allah memilihku dan meninggikan derajat kita suatu hari nanti?”
Wanita itu makin terisak. Aku memeluknya erat untuk meredam kesedihannya. Karena ibu dan bapak-lah aku memutuskan menerima pinangan Tuan Muda Ashraf. Meskipun hati kecilku belum yakin, tapi dalam istikharohku itu yang Allah tunjukkan. Terlebih aku sudah lelah melihat kedua orang tuaku di anak tirikan oleh orang tuanya sendiri.
“Eh, di suruh masak malah pada nangis!”
Kumenoleh pada asal suara. Wa Ikah datang dari dalam. Rupanya kakak pertama dari ibuku baru saja sampai. Memang betul dia yang membiayai semua acara satu tahun meninggalnya almarhumah nenek. Namun aku merasa miris dan sedih ketika melihat ibuku diperlakukan demikian olehnya.
“Sih, itu tadi teteh bawa kue-kue masih di mobil! Tolong ambilin! Tadi ada yang sedikit rusak, jatuh doang sih, tapi gak kotor! Itu buat kamu aja sama suami kamu, masih bagus kho! Yang dalam plastik putih, ya!” ucapnya dengan nada memerintah pada ibuku.
Wanita yang tengah kupeluk itu melepaskan tanganku. Dia beringsut berdiri dan berjalan keluar mengikuti perintah kakak pertamanya.
Ya Allah, sakitnya hatiku! Izinkan aku memuliakan kedua orang tuaku ya Allah! Memberinya kebahagiaan dan kesejahteraan. Hatiku terasa tercabik-cabik melihat mereka selalu disuruh-suruh dan direndahkan.
“Suami kamu mana, Ta? Katanya supir, ya? Nanti kalau di sana dipecat, bisa suruh nyupirin truk Uwa aja, yang satu kemarin supirnya berhenti,” ucap Wa Ikah sambil melirik ke arahku.
“Gak ikut, Wa! Masih ada kerjaan!” jawabku. Uwa itu adalah panggilan Bahasa daerahku untuk kakak dari bapak atau ibu.
“Kamu harus bersyukur, Ta! Masih ada yang mau sama kamu! Kalau Selvi, dia masih milih-milih secara dia ‘kan punya karir dan pendidikan bagus, jadi gak boleh sembarangan milih suami! Apalagi kerjaannya cuma supir, gak sebanding!” ucap Wa Ikah ibunya Teh Selvi sambil berjalan kembali ke dalam.
Aku menarik napas panjang. Selalu saja seperti ini ketika berkumpul keluarga. Kalau bukan karena cara almarhumah nenek, aku lebih baik ikut berobat ibu mertuaku ke singapura. Passport padahal sudah dibuatkan juga kemarin.
Ibuku datang dari pintu sambil membawa beberapa kerdus kue. Yang paling atas dibungkus plastik, berarti itu yang kue jatuh tadi. Aku memburunya ke pintu samping dan membantunya menurunkan semua barang.
“Bu, biar Sinta yang urus!” Aku segera memindahkan berdus-dus kue itu ke balai-balai.
“Eh, itu yang di plastik sini, Ta!” ucap ibu.
“Bu, ini kan kue yang jatuh! Buang aja!” kataku sambil hendak melempar kue itu ke tempat sampah.
“Ih, jangan mubazir! Itu yang rusak bungkusnya aja! Dalemnya masih bagus!” ucapnya sambil merebut kue yang mikanya terlihat kotor itu.
“Teh, kita potong dua, ya! Buat akang juga di rumah!” Ibuku menghampiri Wa Imah---Kakak ketiganya.
Dia membersihkan kotoran pada mika. Kemudian memotong kue tersebut dibagi dua dengan Wa Imah. Mereka istirahat sebentar dan menikmati kue tersebut.
Air mataku merembes tidak terasa. Ya Allah, suatu saat nanti akan kubelikan ribuan kue yang harganya jauh lebih baik dari itu. Kue yang sengaja kubeli dengan harga terbaik untuknya. Bukan kue yang diberikan karena rusak dan sudah pecah seperti itu.
Ah, entah aku yang terlalu cengeng. Aku menangis dalam diam menyaksikan ibuku dan Wa Imah memakan kue rusak itu. Sambil memotong-motong kue yang masih bagus dan memasukannya ke dalam bingkisan. Air mataku merembes tak berhenti. Sakit sekali Ya Allah, hati ini.
Aku sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga. Menjadi pembantu di rumah besar keluarga Adireja membuatku semakin terlatih mengerjakan pekerjaan dapur. Sebetulnya tugas utamaku hanyalah mengurus nyonya Adireja yang kini menjadi ibu mertuaku. Dia sudah lama menderita sakit semenjak ditinggal wafat oleh suaminya dalam kecelakaan pesawat.
Tapi aku tidak tinggal diam juga di sana. Ketika pekerjaanku senggang, aku biasanya membantu Rani seorang ART bagian dapur yang juga sebayaku. Di sana kami bertiga, ada aku Rani dan Sindi yang bagian mengurus taman dan kebersihan rumah. Dari kami bertiga, memang pekerjaankulah yang terlihat paling ringan.
Namun semenjak aku menikah, sikap keduanya mulai berubah padaku. Terlebih melihat aku diperlakukan sangat baik oleh suami dan mertuaku.
Aku jadi teringat pengirim pesan misterius itu. Soalnya setelah aku ganti nomor baru hanya mereka berdua yang tahu , selain keluargaku. Namun apakah mungkin mereka yang menerorku? Atau salah satu dari mereka yang membocorkan nomorku pada orang yang tidak suka dengan pernikahan ini?
Aku teringat jika Sindi begitu mengagumi Nona Elisa, yang katanya calon tunangan Tuan Muda Ashraf. Namun semenjak aku kerja di sana, aku tidak pernah meilhatnya. Kata Rani dan Sindi dulu wanita itu sering datang berkunjung menemui Nyonya Adireja.
Ah, pikiranku kembali ngalor ngidul tidak karuan. Bercabang memikirkan semuanya. Tiba-tiba Bapak muncul dari pintu samping rumah kakek.
“Ta, tadi Bapak lewat warung terus beli rokok!” ucapnya.
“Terus kenapa Pak?” Aku menoleh padanya kemudian mengambil cangkir untuk membuatkannya kopi. Bergegas berjalan mengambil termos air dan menuangnya pada kopi hitam kesukaan bapak. Aromanya merebak ketika kuaduk dengan sendok.
“Pak, ini kue buat Bapak!” Ibuku memanggilnya. Dia dan Wa Imah masih sedang menikmati kue rusak dari Wa Ikah.
“Wah, kue mahal ini!” Bapak tergopoh-gopoh dan ikut bergabung bersama mereka.
“Eh, itu Ta! Tadi waktu bapak di warung, pas lihat tivi kho ada yang mirip sama suami kamu, ya? Tapi dia di bandara mau naik pesawat!” katanya sambil menatapku.