"Tidurlah di kamar ini, ini kamarku. Malam ini aku akan tidur dikamar Riko," ucap mas Arsen. Arseno Candra Wijaya laki-laki yang beberapa jam lalu menikahiku berkata datar tanpa ekspresi, setelah berkata begitu dia keluar kamar tanpa berkata lagi.
Aku hanya diam tidak menjawab ucapannya, otakku masih belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi padaku. Harusnya hari ini adalah hari yang bahagia buatku, aku akan menikah dengan orang yang sangat aku cintai, Riko Candra Wijaya adik dari mas Arsen.
Pagi tadi, saat semua sudah siap, penghulu sudah menunggu tapi rombongan pengantin laki-laki tidak kunjung datang. Sampai waktu sudah molor satu jam dari jadwal mereka masih belum datang, saat semua sudah mulai panik karena telpon pun tak ada yang menjawab akhirnya mas Arsen datang.
Dia datang seorang diri, tanpa mas Riko maupun iringan pengantin. Mas Arsen datang dengan kabar duka, dia bilang mobil yang ditumpangi mas Riko dan mamanya mengalami kecelakaan. Mas Riko meninggal ditempat sedangkan mama terluka.
Mas Arsen datang dan akan menggantikan mas Riko menikah denganku atas perintah dari papanya. Sejujurnya aku tidak bisa menerima keputusan ini, bagaimana bisa kami menikah disaat orang yang aku cintai pergi meninggalkanku dalam sebuah kecelakaan, apa itu masuk akal.
Sudah tidak ada lagi negosiasi, tamu dan penghulu sudah menunggu, semua berjalan dengan cepat dan disinilah aku sekarang. Dikamar orang yang seharusnya menjadi kakak ipar ku.
💕💕💕
Keluarga Chandra Wijaya adalah keluarga yang cukup kaya di kota kami. Papa dan pak Candra Wijaya adalah teman dekat sejak dulu, selain teman mereka juga partner bisnis.
Karena sering bertemu sehingga hubungan papa tidak hanya dekat dengan pak Candra, tapi juga dengan istri dan anak-anaknya. Pak Canda memiliki tiga orang putra dan putri, Arsen Candra Wijaya, Alana Candra Wijaya, dan Riko Candra Wijaya.
Pertemuan kami dengan mereka membuat benih-benih cinta tumbuh aku dan mas Riko anak ketiga mereka. Sebenarnya mereka hendak menjodohkan aku dengan putra pertama mereka tapi aku malah tertarik dengan mas Riko.
Mas Riko orang yang hangat, ceria, dan romantis, jauh berbeda dengan mas Arsen yang kaku, selalu serius dan dingin. Mungkin karena dia anak pertama yang dari kecil sudah disiapkan untuk menjadi penerus papanya sehingga tidak ada jiwa santai dalam dirinya. Entahlah aku sendiri kurang tahu.
Saat awal aku dan mas Arsen bertemu dia tidak pernah menunjukkan rasa tertariknya padaku, dia begitu dingin dan irit bicara siapa yang mau menghabiskan hidupnya dengan orang seperti itu. Dia mirip bos-bos galak yang ada dalam novel.
Bahkan ketika Alana adiknya yang nomer dua menikah dia tetap tidak berniat untuk segera mencari pasangan hidupnya. Beda dengan mas Riko yang hangat, dan sopan, cara bicara lembut dan santun. Dia juga tahu cara mengambil hati wanita. Pokoknya semua yang wanita inginkan ada padanya.
Aku Elvira Askhana anak perempuan satu-satunya papa dan mamaku yang suka dimanja dan disayang tentu lebih tertarik dengan mas Riko yang aku yakin bisa membahagiakan diriku.
****
Aku terbangun dengan kepala pusing, aku menangis semalam hingga akhirnya tertidur. Aku segera kekamar mandi yang terletak didalam kamar, membersihkan diri berganti pakaian dan turun kelantai satu menuju dapur. Kamar mas Arsen dan mas Riko ada di lantai atas, sedangkan mbak Alana sudah pindah ikut dengan suaminya.
Di dapur sudah ada bibi Sumi yang membantu urusan rumah tangga disini.
"Bibi lagi masak apa? biar aku bantu," aku menawarkan diri.
"Ngak usah non, non Vira duduk saja di situ gak perlu bantuin bibi," bi Sumi berkata sambil menunjukkan kursi yang ada tidak jauh dari tempat bi Sumi sedang memasak.
" Nggak apa-apa bi, aku gak ada kerjaan bingung mau ngapain,"
"Non Vira bikin jus buah aja buat mas Arsen, dia suka meminum jus di pagi hari," bi Sumi mengatakan hal itu sambil menunjuk letak alat pembuat jus dan buah-buahan yang ada di kulkas.
"Jadi mas Arsen suka sarapan dengan jus di pagi hari. Ah... bahkan aku tidak tahu apa makanan kesukaan laki-laki itu, bagaimana aku akan melewati hidup bersamanya," aku berkata dalam hati. Ada rasa sesak di dalam dada, aku teringat pada mas Riko.
Aku belum melihat peristirahatan terakhirnya, bolehkah aku pergi kesana?
Setelah semua masakan selesai, bi Sumi menatanya di meja makan, sedangkan aku berinisiatif pergi untuk memanggil mas Arsen. Ku ketuk pintu kamar yang ada disebelah kamar yang semalam aku tiduri.
Tidak lama keluar mas Arsen dengan memakai celana panjang dan kaos berkerah lengan pendek. Sepertinya dia sudah mandi juga, jika dia murah senyum aja pasti ketampanannya akan tampak sempurna.
"Mas, sarapan sudah siap ayo makan," Aku berkata untuk menghilangkan rasa canggung.
Tanpa berkata laki-laki itu berjalan duluan mendahului ku menuju ke ruang makan. Bukankan setidaknya dia bisa berkata iya.
Di ruang makan sudah ada papa dan mama mertua sudah duduk disana. Melihatku datang bersama mas Arsen tiba-tiba mama berdiri.
"Mau kemana mah?" papa bertanya.
"Mama tidak mau makan satu meja dengan wanita itu," mama berkata sambil menunjuk ke arahku.
"Gara-gara dia putra kesayangannya mama meninggal, gara-gara dia Riko pergi dari dunia ini. Mama sudah bilang pada kalian kalau anak pertama tidak boleh menikah dengan anak ke tiga, tapi kalian tetap memaksa dan semua akan baik-baik saja. Tapi lihatlah sekarang, Riko yang menerima nasib buruk itu." Mama berkata sambil menangis dan memukul-mukul dadanya.
Melihat hal itu aku sangat sedih, ada rasa sakit yang tidak bisa di gambarkan. Aku juga sedih kehilangan mas Riko dan aku disalahkan atas hal ini. Aku hanya menunduk dan menetaskan air mata tanpa kata.
"Kalian makanlah duluan, papa akan mengantar mama ke kamar dulu, biar mama sarapan dikamar." papa berkata sambil memapah mama menuju kamar.
Mas Arsen terlihat sudah duduk di kursi seperti tidak terjadi apa-apa, sedangkan aku masih berdiri diam di tempat tidak jauh dari meja makan.
"Duduklah dan makanlah," mas Arsen berkata dingin kepadaku.
Mau tidak mau akhirnya aku duduk di sebelahnya dan mencoba makan dengan menahan air mata. Bagaimana kehidupan rumah tanggaku setelah ini, bahkan ibu mertuaku sekarang membenciku dan suamiku dia tidak mencintaiku akankah dia peduli padaku?
***
"Mas, boleh gak aku ke makam mas Riko," aku bertanya usai kami menghabiskan sarapan.
"Tidak, tidak sekarang," jawab pria itu datar.
"Kenapa mas, aku ingin melihat makam mas Riko sekali saja mas." aku mencoba memaksakan kehendak.
"Sekarang ini kamu istriku, kalau aku bilang tidak maka kamu tidak boleh pergi kemanapun," mas Arsen berkata setengah berteriak dan pergi meninggalkanku sendirian di meja makan.
Air mataku jatuh tanpa bisa dibendung, aku harus bagaimana menghadapi semua ini. Aku binggung dengan keadaan ini, aku berharap setidaknya dia mengijinkan ku untuk pergi ke makam mas Riko setelah itu akan berusaha menjadi istri yang baik untuknya.
"Sabar yaa non, tiba-tiba bik Sumi sudah ada di belakangku. " Ayo ikut bibi aja lihat tanaman bunga di samping rumah, siapa tahu bisa menghilangkan sedih di hati non Vira."
Tanpa banyak berpikir akhirnya aku mengikuti bik Sumi, setidaknya disini ada yang peduli dengan diriku saat ini. Benar, lebih baik aku pergi ke kebun bunga daripada aku harus pergi ke kamar pria galak itu.
Kebun di samping rumah ini banyak bunga-bunga yang indah, ada mawar, melati sedap malam dan bunga-bunga yang mengeluarkan aroma wangi lainnya. Bi Sumi terlihat sibuk hendak menyiram bunga.
"Sini bi, biar Vira saja yang menyiram,"
"Gak usah non, non Vira duduk saja di situ biar bibi yang menyiramnya."
"Trus ngapain bibi ajak aku kesini jika tidak boleh ngapa-ngapain?" aku pura-pura ngambek. Akhir bi Sumi mengalah.
"BI, kenapa suasana rumah sepi sekali? Alana juga tidak ada?" aku bertanya sambil menunggu bi Sumi menyiapkan selang untuk menyimpan.
"Setelah acara pemakaman den Riko, nyonya ngamuk non. Semua orang diusir dari rumah, bahkan non Alana juga diusir dan tidak di ijinkan masuk kerumah karena non Alana juga mendukung pernikahan mas Riko. Karangan bunga ucapan belasungkawa juga di obark-abrik sama nyonya, beliau seperti jadi orang lain non," bi Sumi terdiam sesaat.
"Akhirnya upacara kirim doapun tuan minta dipindahkan ke masjid yang terletak di ujung kompleks sini non. Itupun bibi yang mengurus semuanya, karena tuan sibuk menenangkan nyonya yang kalap. Makanya semalam saat non Vira dan den Arsen sampai suasananya sudah sepi dan tidak ada siapapun," bi Sumi mengakhiri ceritanya dan memberikan selang air padaku.
"Hatiku makin sedih mendengar cerita bi Sumi, apa benar semua ini terjadi karena aku?" bisikku dalam hati.
Aku menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan kembali, segera ku alihkan perhatianku pada bunga-bunga di depanku.
"Hai bunga, selamat pagi cepatlah berbunga aku ingin melihat kalian mengeluarkan kelopak bunga yang indah," aku berkata sambil menyirami bunga tersebut.
Setelah selesai menyimpan bunga-bunga itu aku membereskan selang dan mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah. Rumah ini cukup mewah dan besar, dikelilingi oleh tembok dan gerbang yang tinggi. Halaman depan rumah dibiarkan tanpa ada apapun untuk memudahkan mobil masuk, dan di samping rumah tempatku berdiri saat ini ditumbuhi berbagai bunga yang menyejukkan pandangan.
Pandanganku berpindah ke lantai dua, diatas sana ada balkon yang terhubung dengan kamar kami, saat aku menatap ke balkon terlihat sosok laki-laki yang dingin itu sedang berdiri menatap ke arahku. Apa dia sedang memperhatikan ku? Ah! mana mungkin. Segera aku pergi masuk kerumah tanpa memperhatikan dia lagi.

Aku masuk kedalam dan pergi ke dapur untuk minum, kemana bi Sumi, aku tidak menemukan dia didapur.
"Non, disuruh mas Arsen ke kamar," ucap bi Sumi yang tau-tau sudah ada di belakangku.
"Oh iya bi, terima kasih ya," bergegas aku ke kamar memenuhi panggilan mas Arsen. Ku ketuk pintu sebelum masuk kedalam, aku tidak mau terjadi adegan masuk kamar dalam keadaan dia bertelanjang dada. Bagus jika seperti dalam adegan novel yang biasa aku baca, masuk kamar suaminya bertelanjang dada trus terjadi adegan romantis. Tapi yang aku bayangkan jika itu terjadi padaku, suamiku ini akan marah dan berteriak padaku seperti tadi.
Setelah aku mengetuk pintu dan menunggu beberapa saat, aku segera membukanya. Terlihat mas Arsen sedang memindahkan pakaiannya ke sisi lemari sebelah kanan.
"Masukkan pakaianmu kesini," dia menunjukkan sisi lemari sebelah kiri. "Papa tidak mau kita tidur terpisah, jadi malam ini aku akan tidur di sini," dia melanjutkan ucapannya
"Kita akan tidur satu ranjang, tidak ada drama yang satu tidur di atas yang lainnya tidur di lantai atau sofa," mas Arsen berkata lagi.
Aku hanya diam menatapnya, "kenapa laki-laki satu ini demen memerintahkan dan berbicara tegas sih, apa dia tidak bisa berkata lembut pada perempuan?" batinku.
"Kenapa tidak menjawab, setidaknya bilang tidak atau iya jangan diam saja," mas Arsen berkata sambil menatapku tajam.
Air mataku lolos satu persatu, aku sudah tidak tahan lagi.
"Apa mas Arsen tidak bisa bersikap ramah padaku?" aku berkata dengan bibir bergetar. "Mama sekarang membenciku, mas Arsen tidak pernah ramah denganku. Bukan hanya kalian yang kehilangan, aku juga kehilangan orang yang aku sayangi. Aku juga butuh dihibur untuk mengurangi kesedihanku," aku berkata sambil menangis terisak-isak.
"Tidak ada yang menyayangiku disini, lebih baik aku pergi," aku berkata sambil membalikkan badan menuju ke pintu.
Saat tanganku hendak meraih handle pintu tiba-tiba mas Arsen memelukku dari belakang. "Maaf," sebuah kata terucap dari mulutnya.
Aku diam terpaku, tidak menduga reaksinya akan seperti ini. Ada kehangatan dalam pelukannya.
***
POV ARSEN
_____&_____
Musibah yang menimpa keluarga kami sungguh diluar dugaan, harus hari ini adalah hari yang berbahagia buat adiku Riko. Dia akan menikah dengan wanita yang dia cintai, tapi kecelakaan itu merenggut nyawanya ditempat itu juga.
"Arsen pergilah ke tempat pernikahan, kamu harus mengantikan adikmu menikahi Elvira. Meskipun kita tengah bersedih tapi kita tidak boleh mengacaukan acara pernikahan ini. Papa masih punya anak laki-laki yaitu kamu, pergi sekarang juga," titah papa kepadaku.
Dengan berat hati akhirnya aku pergi hanya dengan seorang sopir ke acara pernikahan itu, aku ceritakan semuanya termasuk perintah papa. Tanpa banyak diskusi akhirnya aku mengantikan adikku menikahi wanita itu.
Di malam hari setelah kami sampai dirumah aku meninggalkannya seorang diri di kamarku, aku pun tidak tahu apa yang harus aku lakukan kepadanya dan pilihan itu aku rasa yang terbaik. Kami semua dalam situasi kehilangan, tidak bisa saling menguatkan.
Sejujurnya saat dulu pertama kali aku bertemu dengannya aku sudah tertarik padanya. Dia wanita yang ceria tapi lembut dalam berbicara, senyumannya manis dan menawan. Wajahnya juga terlihat cantik dan terawat. Tapi nyatanya dia lebih nyaman dengan adikku Riko, dan ternyata Riko pun menyukainya. Tentu saja, meskipun kami sama-sama memiliki wajah yang tampan tadi Riko lebih pandai dalam meraih hati wanita.
Tidak sepertiku, aku tidak tahu cara merayu wanita, aku tidak tahu cara mendapatkan hati mereka. Keinginan papa menjadikan ku penerusnya membuat aku sibuk belajar hingga tidak pernah belajar cara menyenangkan wanita. Mungkin wanita menganggap diri ku kaku dan tidak menyenangkan.
Pagi itu saat mama menyalahkan dia atas kematian Riko aku melihat dia menangis, ingin rasanya aku bawa dia kedalaman pelukanku dan memberikan kenyamanan dalam dirinya. Aku ingin mengatakan kalau dia tidak sendirian dirumah ini, ada aku suaminya yang akan menjaganya. Tapi aku takut dia akan menolakku jadi aku putuskan untuk bersikap acuh padanya.
Kemarahan ku meledak saat dia memaksa untuk pergi ke makam Riko, setidaknya jangan sekarang. Aku tidak mau dia meratap dan menangis disana, aku tidak akan sanggup melihatnya.
Apa aku salah melarang dia, apa seharusnya dia memang kesana. Mungkin dia ingin mengucapkan kata-kata terakhir untuk orang yang dia cintai, orang yang seharusnya menjadi suaminya.
"Aaakk...!" aku frustasi dengan semua ini. Tiba-tiba papa masuk ke ruang kerjaku.
"Arsen, papa mau bicara denganmu," papa berkata sambil duduk didepan meja kerjaku.
Aku yang sedang pura-pura sibuk akhirnya menghentikan aktivitas dan menatap kearah papa.
"Sekarang kamu yang menjadi suami Vira, berlakulah selayaknya seorang suami. Kamu harus menjaganya, pasti dia juga merasa kehilangan. Terlebih lagi mamamu sekarang membencinya, pastikan dia tidak kesepian disini." Papa berbicara tanpa jeda.
"Papa lihat kalian tidur terpisah, kembalilah tidur di kamarmu sendiri," ucap papa lagi.
Aku hanya bisa diam tak tahu mau berkata apa, jika ini menyangkut pekerjaan aku akan selalu punya jawaban tapi jika menyangkut wanita aku tidak tahu harus berbuat apa.
"Jagalah dia untuk papa, dia sudah papa anggap seperti anak perempuan papa sendiri," papa berkata sambil menepuk bahuku dan berlalu keluar ruangan.
Kepalaku berdenyut, pusing memikirkan semuanya. Akhirnya aku memutuskan untuk mengirup udara segar dari balkon, saat melihat bunga-bunga itu dari atas aku melihat Vira sedang menyiram bunga disana. Terdengar dia mengajak bicara bunga-bunga itu, aku tersenyum tipis.
Wanita itu memang wanita yang tidak biasa, bisakah aku mendapatkan hatinya. Saat dia melihat kearahku dia terlihat tidak peduli kemudian masuk kembali kedalam. Aku hanya busa menarik nafas dalam-dalam.
Akhirnya akupun memilih masuk ke kamar dan berniat mengosongkan salah satu sisi lemariku, sebelumnya aku meminta bi Sumi untuk menyuruh Vira ke kamar.
Setelah dia masuk ke kamar aku menyuruhnya melakukan ini dan itu, tapi dia diam tidak menjawab maupun melakukan apa yang aku suruh. Aku kesal dibuatnya, hingga ku berkata sambil menatapnya tajam.
Aku tidak menduga dia akan menangis dan melupakan semua emosinya, setelah itu dia bilang tidak mau disini lagi.
Melihat hal itu aku reflek mengejar dan memeluknya, kali ini aku bergerak mengikuti naluriku tanpa banyak berpikir. Aku bisikkan kata maaf di telinganya, dan dia hanya diam tidak berusaha menolak ku.
Ah... ternyata seperti ini rasanya memeluk seorang wanita, hangat dan nyaman.
"Ayo aku antar ke makam Riko," aku berkata padanya yang masih diam membeku.
Mendengar perkataanku dia membalikkan badan dan menatapku, " benarkah?" dia bertanya dengan mata yang berbinar. Mata itu adalah mata yang selalu ku kagumi dalam diam.
"Iya, berkemaslah aku akan menunggumu di mobil," segera aku keluar dari kamar. Aku tidak mau terlarut dalam suasana ini, bagaimana pun aku hanyalah suami pengganti. Mungkin Vira butuh lebih banyak waktu untuk menerimaku.
***