"Rafael, ada tugas berat untukmu. Datanglah ke rumah Tuan Rommy!" perintah salah satu pria bertubuh tegap itu.
"Baik, saya segera datang!" jawab Rafael tegas.
Langit Texas, kota besar di utara Meksiko, tampak muram sore itu. Di kejauhan, suara sirene polisi tak pernah benar-benar berhenti, seperti nyanyian kota yang tak pernah tidur.
Di antara kekacauan itu, sebuah SUV hitam berhenti di depan rumah megah bergaya kolonial Spanyol. Halaman depannya dijaga ketat, menandakan rumah itu bukan milik orang biasa.
Dari dalam mobil, keluar seorang pria bertubuh tegap, berwajah keras, dengan bekas luka samar di telapak tangan kiri. Jaket hitamnya rapi, tapi aura dinginnya seperti milik seseorang yang sudah terlalu lama hidup di antara peluru.
Rafael. Mantan pasukan khusus yang dulu terkenal di unit bayangan La Sombra. Kini, ia bekerja di dunia gelap, melindungi orang-orang kaya yang hidup di ambang maut.
Seorang pria berperut buncit menyambutnya di gerbang. "Tuan Rafael, silakan masuk! Tuan besar sudah menunggu di dalam."
Rafael hanya mengangguk dan melangkah masuk.
Di ruang tamu bergaya klasik dengan lampu gantung besar, duduk salah satu tokoh politik paling berpengaruh di Texas. Pria itu menatap Rafael dengan mata tajam seperti singa tua yang lelah.
"Rafel," katanya berat. "Putri saya beberapa kali menerima ancaman pembunuhan. Dua pengawal yang menjaga anak saya tewas minggu lalu. Dan saya tak percaya siapa pun lagi, kecuali kau, karena kau salah satu anak buah Tuan Julian yang terbaik."
Rafael menatapnya tanpa ekspresi. "Ancaman? Siapa yang berani mengancam Tuan Rommy?"
"Salah satu pesaing pembisnis saya. Saya pernah menolak kerja sama dengan mereka. Dan sekarang, mereka ingin membalasnya melalui Alexa."
Nama itu seakan tak asing di telinga Rafael. Dan ia pun seolah merasa terpanggil dengan gadis cantik yang terkenal itu. Ia pernah mendengar puteri Tuan Rommy adalah wanita tercantik di kota ini, namun sayang sikapnya yang angkuh membuat para pria tak satu pun yang berani mendekatinya.
"Bagaimana Tuan Rafael?" tanya Rommy.
"Baik Tuan. Saya siap melaksanakan tugas dari Anda," jawab Rafael.
Beberapa menit kemudian, Alexa masuk dengan gaun merahnya yang anggun, gaun itu kontras dengan kulitnya yang seputih salju, rambut hitamnya tergerai, dan sepasang mata tajam itu langsung mengunci pandangan Rafael, penuh percaya diri, sedikit angkuh.
"Rafael, kenalkan ini Alexa, puteri saya satu-satunya. Dan Alexa, ini Tuan Rafael, yang akan mengawal ke mana pun kamu pergi, Nak?" jelas Rommy.
"Ayah, jadi ini ... pengawal baruku?" katanya datar. "Kau yakin pria ini bisa kita andalkan?"
Rafael menatap balik, lalu tersenyum sinis. Benar dugaan orang-orang, puteri keluarga besar Rommy terlihat cantik, tapi sayang gadis itu terlalu angkuh dan manja.
"Ya Alexa, Tuan Rafael adalah mantan salah satu prajurit terbaik di kota ini," jelas sang ayah.
Alexa menaikkan alis, tersenyum kecil. "Ayah yakin?"
Rafael menyela. "Jika Anda meragukan saya, carilah bodyguard lain untuk menjaga Anda, Nona muda."
"Tampaknya ayahku menyukai pria yang tidak tahu cara bercanda," ujarnya kesal.
"Aku tidak dibayar untuk bercanda," jawab Rafael singkat.
Rommy tertawa kecil, ia tahu watak puterinya yang keras dan Rafael, pria terkeras dan dingin. "Rafael, mulai malam ini kau tinggal di rumah ini. Dan jagalah Alexa jangan sampai terluka sedikit pun."
"Baik Tuan!" sahut Rafael.
Alexa mendengus pelan, lalu berjalan pergi. "Cih, sangat menyebalkan!"
Pagi itu udara kota Texas masih terasa dingin, Alexa berdiri di depan mobil hitam mewahnya sembari berkacak pinggang dengan wajah masam.
"Hei, bisa lebih cepat nggak? Aku nggak punya waktu buat nunggu orang lelet," ujarnya tajam.
Rafael, hanya menatap dingin sementara kacamata hitamnya menutupi pandangan dan kekesalan, ia hanya mendengus pelan. Seumur hidupnya melindungi para pejabat, belum pernah ada satu pun yang membuatnya ingin menarik napas panjang sesering ini.
Tanpa menatap Alexa, pria itu langsung membuka pintu sisi kemudi, masuk, lalu menyalakan mesin. Suara mesin yang menggeram pelan memenuhi suasana.
Alexa terbelalak. "Tunggu dulu-dia nggak membukakan pintu untukku?" gumamnya tak percaya.
Rafael menoleh sedikit, menurunkan kacanya, lalu berkata datar, "Cepat naik! Aku di sini cuma untuk jaga nyawa kamu, bukan jadi pembantumu."
Alexa mengerjap, separuh kaget, separuh terpesona pada nada berat yang keluar dari bibir pria itu.
"Kurang ajar," bisiknya pelan, sebelum akhirnya membuka pintu sendiri dan duduk di kursi penumpang, matanya masih melirik tajam ke arah Rafael.
Namun, Rafael tak bereaksi. Hanya tangan kasarnya yang menggenggam setir kuat, sementara matanya lurus menatap jalan, seolah gadis di sampingnya tak lebih dari beban yang harus dia jaga.
Alexa melirik dari sudut mata. Dagu Rafael yang tegas, kulit putih dengan sedikit bayangan janggut tipis di rahangnya, terlalu rapi untuk disebut liar, tapi juga terlalu berbahaya untuk disebut jinak.
"Tampan sih," gumamnya pelan, sambil menyandarkan tubuh ke jok mobil. "Tapi sayang ... pria ini sepertinya nggak punya gairah hidup. Kayak patung hidup yang cuma tahunya marah."
Rafael melirik sekilas lewat kaca spion. "Jika Nona ingin selamat, patuhi semua aturan dari saya."
Alexa mengangkat alis, separuh tersenyum. "Kenapa harus patuh pada Anda?"
"Jika Anda masih ingin hidup patuhi aturan saya, kecuali jika sudah bosan untuk hidup, silakan ... semua tergantung pada Anda."
"Sial! Kenapa ayah kirimkan pria aneh seperti orang ini?" gerutunya kesal.
Hening kembali memenuhi mobil, hanya suara mesin dan alunan pelan lagu dari radio yang memecah suasana. Alexa menatap jendela, namun dalam bayangan kaca, ia bisa melihat wajah Rafael yang fokus. Tatapan dingin itu ... membuatnya penasaran.
Untuk pertama kalinya, Alexa mengerti kenapa ayahnya begitu percaya pada pria ini, meski dari sisi lain, sesuatu dalam dirinya mulai terusik.
Setibanya di kampus, Rafael memarkir mobil hitamnya di sisi jalan, tak jauh dari gerbang utama. Ia perlahan turun, lalu membuka pintu perlahan.
"Silakan turun, Nona muda!" titah Rafael.
Alexa keluar dari mobil, menatap sekeliling dengan angkuh. Mahasiswi lain sudah mulai memperhatikan, beberapa bahkan berbisik-bisik melihat mobil mahal dan pengawal gagah yang berdiri di dekatnya.
Rafael menatapnya sekilas, lalu memberi instruksi. "Jangan keluar dari area kampus. Saya akan menunggu di sekitar sini."
Alexa menghela napas kesal, melipat tangan di dada. "Kau serius mau tunggu di sini seharian? Pulang saja, aku ada kelas sampai sore."
Rafael menatapnya dari balik kacamata hitam, suaranya dalam, memperingati. "Saya akan tetap menunggu, Nona. Ingat pesan saya, jika Anda ingin selamat, jangan terlalu jauh dari pandangan saya."
Alexa menahan tawa kecil. "Kau ini pengawal atau hantu?"
"Terserah Anda, Nona!" jawab Rafael tenang, lalu menutup pintu mobilnya dan bersandar di sisi kendaraan.
Alexa mendengus. "Kau sungguh menyebalkan, Rafael."
Sambil melangkah masuk ke kampus, Alexa sempat menoleh sekilas. Rafael masih berdiri di sana, tegap, tenang, dan ... membuat Alexa penasaran pada sosok pria tampan itu, apalagi saat melihat tubuhnya yang kekar.
"Apaan sih Alexa ... kau membayangkan tidur dengan bodyguardmu? Oh my good! Kau benar-benar gila!" pekik Alexa.
Alexa mengangkat bahunya pelan, geli sendiri dengan pikirannya yang konyol. Namun, saat ia menoleh, pria itu-Rafael, masih berdiri di samping mobil hitamnya. Tatapannya tajam, dalam, seperti sedang menembus pikirannya.
"Damn it!" bisiknya pelan, menekan dada yang berdebar tak karuan. "Kenapa jantungku malah berdebar."
Ia buru-buru melangkah, berusaha menjauh sebelum pikirannya makin gila. Tapi langkahnya justru berhenti mendadak ketika tubuhnya menabrak seseorang.
"Shit-! I'm sorry, Andrew!" katanya cepat, sedikit panik.
Andrew menoleh, senyumnya hangat tapi matanya meneliti. "Hey, easy. You okay?"
Alexa menelan ludah, mencoba menenangkan diri. "Yeah ... I'm fine," ujarnya, berusaha terdengar santai meski pipinya memanas. Ia tahu, pria di depannya ini adalah kapten basket yang cukup Populer.
Andrew menatap Alexa dengan senyum penuh arti. Ia tahu gadis di hadapannya bukan sembarang wanita, Alexa , si pewaris keluarga politik yang cantiknya mampu membuat siapa pun kehilangan logika.
Dan saat Alexa masih berada dalam pelukannya, Andrew sedikit menunduk, jaraknya hanya tinggal beberapa inci dari bibirnya. Tatapan matanya jelas, penuh rasa ingin memiliki, dan kemenangan.
Namun, sebelum bibir itu sempat menyentuh, suara berat dan dingin memotong udara.
"Ekhem. Nona Alexa, masuk ke dalam kelasmu. Sekarang."
Nada itu datar, tapi mengandung perintah yang tak bisa dibantah.
Alexa membeku, matanya melebar kaget. Rafael berdiri tak jauh di depan mereka, tegak, berbaju serba hitam, dengan tatapan yang cukup tajam untuk membelah keheningan.
"Bagaimana mungkin?" pikir Alexa panik. "Bukankah pria itu tadi masih di depan gerbang?"
Andrew refleks melepaskan pelukannya, namun tak bisa menyembunyikan ketegangan di wajahnya. Sedangkan Rafael hanya menatap keduanya dengan pandangan yang dingin dan berbahaya, seolah cukup satu langkah salah, Andrew akan lenyap dari kampus itu detik ini juga.
"Dia ... siapa?" tanya Andrew dengan nada heran, matanya bergulir menilai Rafael dari ujung kepala sampai kaki.
"Supirku!" sahut Alexa cepat.
Sebuah senyum miring muncul di sudut bibir Rafael. Tenang, tak berekspresi, tapi ada sesuatu di balik tatapan matanya yang dingin, tajam, dan sulit dibaca.
Andrew terkekeh pelan. "Supir, huh?" ujarnya sambil menepuk bahu Rafael dengan angkuh. "Kau cuma supir, tapi berani ikut campur urusan majikanmu? Punya nyali juga, kau!"
Rafael tak bergeming. Tapi detik berikutnya, dengan gerakan pelan dan presisi, ia merogoh saku jasnya. Sapu tangan hitam keluar dari sana, lalu ia mengusap bagian bajunya yang baru saja disentuh Andrew-gerakannya lambat, seolah sedang membersihkan noda menjijikkan.
"Jangan pernah menyentuh saya lagi, kalau kau masih menginginkan tanganmu utuh," ucap Rafael datar.
Nada suaranya terlalu tenang untuk disebut marah-tapi cukup dingin untuk membuat udara di sekitar mereka membeku.
Andrew hanya terkekeh, mencoba menutupi kegugupannya dengan arogansi. "Ancaman dari supir? Lucu juga," ejeknya sambil melangkah maju.
Namun, detik berikutnya, ia melemparkan tinju ke arah wajah Rafael. Gerakannya cepat-tapi pria di depannya jauh lebih cepat.
Dengan satu gerakan halus, Rafael menepis pukulan itu, lalu berbalik memelintir pergelangan tangan Andrew dengan presisi militer. Suara kecil crack terdengar, membuat Andrew menahan erangan.
"Rafael! Lepas!" suara Alexa memecah ketegangan, terdengar panik sekaligus marah.
Rafael menoleh perlahan ke arahnya, senyum tipis dan sinis muncul di sudut bibirnya, senyum yang lebih menakutkan dari ancaman mana pun.
Lalu tanpa berkata apa pun, ia melepaskan tangan Andrew begitu saja.
Andrew terhuyung mundur, menatapnya dengan amarah bercampur ketakutan. Sedangkan Rafael hanya berdiri tegap, membenarkan jaketnya dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa.
"Pergilah! Dan jauhi Nona Alexa!"
Nada ancaman itu membuat bulu kuduk Alexa berdiri. Sementara Andrew segera pergi, dan tak ingin semua rencananya gagal untuk mendekati Alexa.
Setelah pria itu pergi, Rafael mendekat. "Masuklah Nona Alexa, saya akan menunggu Nona di depan!" katanya datar.