Bab 1

Udara siang itu panas sekali, Dinara merasa Jakarta dan Doha nyaris tidak ada bedanya meski jelas kota di bagian negara timur tengah sana berkaitan erat dengan gurun. Jakarta mungkin tidak sepanas itu, tapi ada hawa lain yang membuat udaranya satu tingkat lebih menyiksa dibanding kota dengan padang pasir.

Apa lagi namanya kalau bukan kenangan menyakitkan dan sederet problema yang menguras kewarasan? Dinara tidak tahu bagaimana mendeskripsikan sesuatu dengan baik. Yang jelas sekarang hatinya sedang tidak baik-baik saja.

“Fix!” Wanita akhir dua puluhan itu menghentak sesuatu yang ada di tangannya sekarang ke atas meja. Dia menipiskan bibir, meraba-raba sesak di dada yang nyatanya sudah tidak ada, dan membalas tatapan orang di hadapannya saat ini.

“Mbak Di—”

“Gue nggak minta apa-apa, Vi. Tolong atur pembatalan aja, semuanya, dan lelang gaun pengantin gue kalau bisa.”

Wanita di depannya menatap Dinara iba, padahal dia jelas-jelas tahu kalau Dinara sangat benci tatapan kasihan itu. Hidupnya baik-baik saja, dia masih bernapas dengan benar sampai detik ini dan tidak kehilangan apa pun iwal dari seorang pecundang sialan serta beberapa nominal uang—jangan terlalu dipikirkan, jadi semuanya tidak apa-apa. Dinara baik-baik saja.

Atau dia hanya tengah membohongi dirinya sendiri.

“Bu Melia udah tahu?” tanya wanita itu—Violeva namanya, dia berusia lebih muda, beberapa tahun di bawah Dinara dan memiliki kehidupan yang baik, sekilas terlihat sempurna.

Dinara menggeleng. “Tapi gue yakin mama pasti ngerti arahnya ke mana.”

“Gue kira lo udah obrolin ini sama bu Melia baru ambil keputusan buat batalin semuanya.” Violeva menghela napas berat, tampaknya ingin memberi empati tapi mereka tidak cukup dekat untuk saling berpeluk erat. “Siapa tahu masih ada kesempatan, Mbak.”

Kesempatan? Kesempatan macam apa lagi?

Menyebalkan adalah ketika pulang ke tanah air setelah merantau bertahun-tahun tanpa hasil. Sebagian besar uangnya raib, dibawa kabur oleh mantan kekasihnya sendiri. Dan rasanya tidak ada satu kata baik apa pun untuk mendeskripsikan hidup sialannya ini. Tidak ada kesempatan, tidak akan pernah. Mantan kekasih Dinara adalah sampah paling buruk di dunia.

Sementara kesialan itu belum cukup untuk membuat hidup wanita ini tersiksa, kenyataan lain lebih menamparnya lagi.

“Dia kerja sama lo?” Dinara bertanya sembari menunjuk potret seorang gadis cantik di katalog butik yang tengah didatanginya saat ini.

“Freelancer, Mbak.” Violeva menjawabnya dingin. “Kenapa?”

“Nope.”

“Pacarnya Danish, lo tahu, kan?”

Dinara mengangguk samar, dia tahu. Gadis dalam buku tebal itu pernah ia awasi beberapa bulan yang lalu karena tengah dekat dengan adik kandungnya.

“Namanya Sayna.”

Sialnya, Sayna adalah saudara sepupu dari lelaki bajingan itu. Dan Sayna mengencani adiknya. Luar biasa sekali hidup ini untuk seorang Dinara. Bisakah Danish cari orang lain saja? Jangan Sayna, mari tidak menjalin hubungan lagi dengan lelaki itu dan sekutunya.

Seakan belum cukup dikhianati, uangnya dibawa lari, pernikahannya dibatalkan, kini kenyataan lain menamparnya kalau Sayna dan Haikal—mari perjelas namanya mulai saat ini, adalah saudara sepupu. Dan Dinara amat tidak senang dengan kenyataan itu.

“Gaun lo nggak bisa jadi penghuni butik ini, terlalu mewah.” Violeva menginterupsinya sembari menggelengkan kepala. “Gaun Elie Saab mana mungkin gue sewain di bawah 20 juta, Mbak.”

“Sewain di atas 20 juta kalau gitu.” Dinara menjawabnya datar. “Balikin aja duitnya, itung-itung lo beli gaun dari gue, buat buang sial juga.”

“Tapi bukannya malah yang pake gaun ini ntar ketiban sial? Ketularan sial dari lo?”

Kadang-kadang Dinara punya hasrat untuk menguncir mulut Violeva yang sering asal bicara. Oke, itu benar, tapi tolong jangan mengatakannya terang-terangan seperti itu. apa Violeva bahkan paham? Bukankah sesama wanita biasanya saling menjaga perasaan?

“Bakar aja, Vi.”

“Dih, ngambek.”

Dinara memutar mata. Banyak yang ingin dia katakan sebenarnya, soal kandasnya hubungan dengan Haikal, soal betapa terluka, lelah dan sakit perasaannya saat ini, soal ibunya, adiknya, dan masih banyak lagi. Namun dia tidak pernah benar-benar memiliki seseorang yang bisa disebut teman, Dinara terbiasa sendiri. Dan kesepian bukan lagi hal menyedihkan baginya, saking dia terbiasa.

Pasti menyenangkan jadi Violeva, dia punya teman bergaul yang setia, dia sudah punya suami di usia muda, punya anak perempuan yang menggemaskan, punya usaha sesukses butik ini, Violeva punya segalanya untuk ukuran wanita berusia pertengahan dua puluh. Hidupnya sempurna, tidak seperti Dinara si perawan tua.

“Selamat siang.”

Dua wanita itu menolehkan kepala ke arah pintu butik yang terbuka. Dari sana, sosok pria berkemeja hijau Arthicoke yang menggulung lengannya hingga ke siku, memadu busananya dengan celana bahan dan sabuk hitam kulit yang menawan mendekat ke arah mereka. Sosoknya suami-able sekali, tapi jangan berharap banyak pada pria-pria tampan yang menginjakkan kaki ke butik ini.

Sebab butik Violeva adalah butik khusus jual-beli-sewa gaun pengantin, yang mana tentu hanya orang-orang ingin menikah saja mengunjunginya. Kesimpulan yang bisa ditarik di sini, pria-pria matang sempurna dengan kharisma suami-able itu tentu sudah ada yang punya. Kecuali Dinara berniat jadi pelakor, mungkin dia bisa dapat salah satu dari mereka.

Setelah ini agaknya ke Gramedia dan membeli buku panduan merebut pasangan orang terdengar seperti ide yang cukup brilian.

“Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya Arya.” Pria itu menjulurkan tangan dan berjabat dengan Violeva. “Ada yang mau saya evaluasi terkait reservasi paket pernikahan atas nama Diana.”

Mata Violeva membola, kemudian mereka bergeser ke meja kerjanya dan duduk berhadapan. Wanita itu sempat memberi isyarat agar Dinara menunggu untuk sesaat sementara dia berbicara dengan klien, dan rencananya Dinara memang akan segera pergi. Dia harus ke suatu tempat untuk menyegarkan pikiran, membeli beberapa helai baju sepertinya tidak buruk demi mengusir rasa bosan.

“Saya minta semua proses yang sedang berjalan dihentikan.”

Dinara berhenti bergerak, padahal harusnya dia pergi dari sini. Di sudut kiri butik itu dia bisa menyaksikan Violeva dengan tampang seperti habis kemalingan uang miliaran tengah menutup mulut, tampak sangat gusar. Dan ekspresinya membuat Dinara semakin bernafsu untuk menguping.

“Kami sudah melakukan full payment di muka, jadi—”

“Saya nggak bisa kembalikan kalau itu maksud Mas Arya datang ke sini, semua vendor sudah kami bayar sebagai pengikat perjanjian. Dan ini satu bulan lagi, Mas. Gimana bisa ini dibatalkan begitu aja?”

Orang yang dipanggil mas Arya itu terkekeh kecil, bahunya sedikit bergerak, sayang sekali Dinara tidak bisa melihat bagaimana ekspresinya saat ini.

“Calon mempelai saya kabur, Mbak Vio. Jadi percuma acaranya tetap dilangsungkan, saya nggak bisa menikah sendirian.”

Matanya membeliak. Kabur? Calon pengantinnya kabur H-30 hari pesta pernikahan? Dan dia baru membatalkan acara di saat-saat terakhir seperti sekarang? Dinara bisa membayangkan bagaimana sibuknya Violeva mengurus ini dan itu lalu tahu-tahu acaranya tidak jadi dilangsungkan. Benar-benar mubazir.

“Mas Arya—”

“Saya mau membatalkan pemesanan paket pernikahan atas nama Diana, itu saja.”

Lelaki itu gagal menikah, sama sepertinya.

Kebetulan macam apa rupanya?

“Maaf kalau saya berlebihan dengan mengutarakan masalah saya.”

“Oh, nggak, Mas. Nggak. Saya yang justru harusnya minta maaf kare—”

“Mas, kalau boleh tahu... kenapa dibatalkan?”

Siapa yang bicara barusan? Benarkah itu Dinara? Dia bertindak impulsif dan berjalan mendekat ke arah lelaki itu tanpa sempat ia sadari lebih dulu, tahu-tahu menyerobot obrolan di tengah-tengah, seperti wanita tidak punya sopan santun. Tidak tahu malu. Dan sekarang dua orang yang sibuk terlibat obrolan bisnis tadi beralih menatapnya. Dinara refleks menghadiahkan senyum terprogram yang spesial ala pramusaji martabak Rosalinda langganan ibunya.

Lelaki itu membalas, dia menyunggingkan senyum tipis penuh arti untuk mengubur jiwanya yang patah hati. “Calon istri saya kabur, Mbak.”

“Sama dong kayak saya.” Dinara berbinar. Dia tidak pernah merasa sebahagia ini mendengar seseorang ditinggal pergi oleh kekasihnya.

Entah karena Dinara merasa butuh teman, atau dia punya maksud lain yang bisa jadi jalan keluar atas semua persoalan ini layaknya memperlakukan sampah daur ulang. Dia tidak tahu yang mana yang paling benar, tapi yang jelas kali ini dia merasa... senang.

Senang atas rusaknya hubungan orang? Kenapa terdengar jahat sekali? Tapi bukankah pria ini jadi bisa berteman dengannya sebagai sesama calon mempelai patah hati?

Hening untuk beberapa waktu, bahkan detak jarum jam saja rasanya hilang di pendengaran. Dinara menatap netra hitam di hadapannya dalam-dalam, dia mencari sesuatu meski tidak tahu apa itu. Yang jelas, ada gelenyar di dada yang membuat Dinara ingin mengutarakan maksud, ada dorongan setelah sebuah ide terlintas di pikirannya begitu saja, secara tiba-tiba.

“Gimana kalau nikahnya sama saya aja, Mas? Biar nggak mubazir itu paket pernikahan yang udah dipesan.”

“Ya?”

Dinara pasti sudah gila karena dia tidak bercanda dan justru bersiap untuk mengulanginya. Sebelum—

“Mbak!”

Sebelum teriakan itu mengganggu prosesi lamaran dadakan ala kadarnya barusan.

Violeva melotot sambil berdiri dari kursinya. “Lo eling, Mbak! Nggak usah macem-macem deh! Gue aduin lo ke bu Melia.”

Dinara melirik sebelah mata. Apa Violeva pikir dia setakut itu pada ibunya? Kenapa dia bahkan memakai ancaman murahan seperti itu? Melia? Hanya karena Melia dia pikir Dinara akan mundur begitu saja? Violeva sedang bercanda namanya.

“Hm... Mbak begini, sepe—”

“Mas, udah nggak usah didengerin. Ini teman saya memang agak-agak nggak waras otaknya jadi jangan diambil hati dan diseriusin kata-katanya barusan. Dia cuma bercanda, nggak mungkin soalnya orang ya—”

“Gue serius,” potong Dinara cepat sambil mendelik ke arah Violeva tanda tidak senang. “Jadi gimana, Mas?”

“Hah?” Lelaki di hadapannya menganga. “Mbaknya ngajakin saya bu...buat...”

Dinara mengangguk cepat sambil menyunggingkan senyum terbaiknya. “Saya ngajakin Mas-nya buat nikah.” Wanita itu memberikan cengiran lebar karena merasa ini adalah pemikiran paling luar biasa sekaligus paling membahagiakan untuk diutarakan.

“Ni...kah?”

“Iya, Mas. Nikah yuk, sama saya.”

****

Bab 2

“Udah nggak waras lo, Mbak!”

Tidak terhitung berapa kali banyaknya Violeva mengata-ngatai dia seperti itu. Seingat Dinara, tidak ada yang berani mengatakan hal itu padanya, bahkan ibu kandungnya sendiri. Entah karena dia tidak punya teman dekat, atau Violeva yang terlalu nekat. Anehnya, dia senang diumpat. Dinara merasa memiliki teman, dan meski Violeva hanya rekan bisnis ibunya juga orang yang menyediakan jasa paket pernikahan, tapi mungkin hubungan mereka setelah ini bisa lebih dekat.

Dia melangkah keluar butik dan merasakan sengatan panas matahari siang itu lagi. Semakin panas membara kala mengingat dirinya baru saja ditolak oleh orang asing. Dinara sepertinya harus mandi ke tujuh sumur dan tiga danau untuk membuang sial. Dia sudah ditinggal oleh Haikal, ditipu, dan sekarang ditolak oleh seseorang.

“Mas boleh pikir-pikir dulu,” ujarnya tenang kala berhadapan dengan sosok asing itu.

“Maaf, Mbak, sepertinya langsung saja, saya nggak bisa. Mohon maaf sekali lagi.”

Mau dia pakai bahasa dari surga sekalipun, yang namanya penolakan tetap saja penolakan. Dan meski Dinara tidak menaruh hati atau apa, dia tetap merasa terluka atas hal barusan, penolakan tidak ada dalam kamusnya sama sekali. Harusnya tadi dia paksa sekalian.

“Hai... M-mbak.”

Dinara menghentikan langkah, seketika pikiran-pikiran itu pun menguar di udara, tatapannya beralih ke asal suara, di sebelah kanannya pria berkemeja hijau tadi duduk menyamping dengan pintu mobil yang terbuka, kemudian buru-buru turun dari sana untuk menuju ke arahnya.

Dia menyunggingkan senyum. “Mas berubah pikiran?”

“Ya,” jawabnya tenang tanpa sedikit pun keraguan.

Dinara maju, merasa senang atas ucapan itu. “Dinara, 29 tahun.”

“Saya Arya, 30 tahun.”

“Saya yang panggil Mas Arya, kalau begitu.”

“Oke.” Pria itu mengangguk. “Saya nggak mungkin panggil kamu mas karena kamu perempuan.”

Dinara tersenyum—hampir tertawa sebenarnya, dia suka candaan pria 30 tahun yang agak krispi itu. Namun tidak apa-apa, kesan pertama adalah segalanya, jadi jangan terlalu membuat image berpura-pura. Kalau mereka sepakat, keduanya akan menikah, jadi suami istri, tidak boleh terlalu banyak drama.

Keduanya berjabat tangan, melakukan hal umum sebagaimana orang baru pertama bertemu dan berkenalan. Siapa sangka setelahnya mereka duduk bersebelahan, membelah jalanan untuk mencari tempat mengobrol yang lebih nyaman. Dinara melirik ke sebelah kanan, pria di sampingnya begitu menawan, dan awalnya bahkan dia tidak sadar. Dia hanya bertindak impulsif tanpa menilai apa pun sebelumnya. Dinara hanya ingin menikah, itu saja.

Mereka sampai di tempat makan acak tanpa perencanaan sebelumnya, duduk berseberangan, saling melempar senyum, bukankah ini seperti sedang ikut acara kencan buta? Atau Take Me Out Indonesia?

“Saya boleh pesan minum, Mas? Nanti biar saya yang bayar.”

“Oh, No. Sorry for bad attitude. Saya nggak nawarin kamu dulu, silakan pesan. Apa kita makan siang sekalian?”

Dinara menaikkan alis dan tersenyum. “Boleh.”

“Biar saya yang bayar semuanya.”

Setelah setuju dan sama-sama memesan menu makan siang, Dinara dan Arya fokus menikmati hidangan tanpa bicara. Perlu perut kenyang serta kewarasan penuh untuk melanjutkan diskusi mereka yang sedang ditunda. Kalau tidak begitu, bisa saja mereka membuat keputusan gegabah yang akan disesali di kemudian hari. Dinara tidak mau. Meski aneh karena harus makan semeja dengan orang asing pertama kali, tapi itu tidak lebih aneh dibanding mengajak orang itu menikah di hari pertama berjumpa kemudian sama-sama sepakat untuk menyetujuinya.

“Apa yang membuat Mas Arya berubah pikiran?” tanyanya tanpa aba-aba, saat piring-piring mereka di kesampingkan.

“Pernikahan saya bulan depan.” Arya menaruh kedua tangannya di atas meja dan serius menatapnya. “Terlalu memalukan untuk keluarga saya kalau itu dibatalkan sebenarnya, tapi saya nggak punya pilihan lain.”

“Sekarang Mas punya pilihan lain.” Dinara tersenyum jumawa. “Karena penyelamat Mas Arya ada di hadapan Mas sekarang.”

Arya tertawa, mengangguk untuk menyetujuinya. “Kamu benar.”

“Calon istri Mas, ke mana?”

“Hilang udah tiga bulan, pergi begitu aja tanpa bilang.” Dia menjawabnya dengan mimik datar, kesan ramah dan menyenangkan dari sorot matanya tadi mendadak binasa. “Entah dia punya orang lain, atau dia memang seperti yang digosipkan orang-orang.”

“Apa?” tanya Dinara penasaran.

“Dia nggak mau diajak berjuang dan takut hidup susah sama saya.”

Wanita itu memiringkan kepala. Hidup susah macam apa maksudnya? Dinara tahu betul kendaraan yang baru saja mereka naiki berharga miliaran rupiah, kemeja, bau parfum mahal, serta penampilan Arya secara keseluruhan tidak menunjukkan indikasi demikian. Arya jelas berasal dari keluarga berkecukupan kalau tidak bisa dikatakan kaya, Dinara tahu bahkan hanya dengan sekali lihat.

“Gimana dengan kamu... Di?”

Di? Dinara mengangkat wajah, orang-orang biasa memanggilnya Dinar, mata uang dari negara timur tengah sana. Dinara yang artinya emas berharga. Di? Panggilan macam apa itu? Anehnya, dia suka, terutama aksen Arya dan penekanan di ujungnya.

“Mantan tunangan saya kabur dan bawa uang tabungan kami, sampai sekarang saya dan dia belum ketemu lagi. Tapi saya tahu kalau kami udah nggak bisa sama-sama, saya dan dia nggak punya masa depan. Jadi hari ini, saya datang ke butik Violeva buat membatalkan rencana pernikahan.”

Dinara tidak tahu bagaimana kabar Haikal, terlebih setelah Danish menghajarnya hingga babak belur, dia tidak ingin tahu. Dinara mengambil semua keputusan sendiri, dia merencanakan pernikahan sendiri, dan membatalkannya sendirian pula. Sejak awal, dia yang selalu berjuang sendiri, Haikal tidak pernah memberi sumbangsih apa-apa.

“Udah lapor polisi?” tanya Arya di luar ekspektasi. “Atau mau saya bantu?”

“Mas Arya pengacara, ya?”

“Bukan.” Dia menggeleng. “Saya cuma bantu orangtua menjalankan bisnis keluarga, tapi punya niat buat berhenti, saya sedang mencari jati diri.”

Dinara terkekeh geli. Dia tidak banyak bertemu laki-laki dalam hidupnya, dia juga bukan orang yang gampang terpesona, tapi Arya berbeda, entah itu karena mindset-nya sudah mengatur bahwa Arya adalah calon suami baru, sehingga Dinara mulai membuka pikiran untuk pelan-pelan menyukainya.

“Hm... jadi, saya memutuskan buat nggak lapor polisi. Kebetulan adik saya laki-laki, agak badung juga, jadi dia yang urus mantan tunangan saya.”

Arya memiringkan kepala, kemudian mengangguk-angguk setelahnya.

“Tapi masih ada kemungkinan mantan pacarnya Mas Arya kembali dalam waktu satu bulan ini, kenapa nggak nunggu dulu aja?”

“Saya harap juga begitu,” ujarnya murung. “Saya harap dia tiba-tiba datang dan kasih saya kejutan. Saya harap cuma lagi di-prank aja.”

“Tapi?”

Arya tersenyum dan menatap Dinara sendu, menularkan sakit hatinya. “Tapi saya tahu semua pembenaran itu cuma usaha untuk membohongi diri saya sendiri.” Pria itu membuang pandang dan menghela napasnya pelan. “Kalaupun dia kembali, saya nggak akan sama dia lagi.”

Dinara bisa merasakan getar di suaranya, juga ledakan emosi yang meletup serta gema patah hati dari cara Arya bicara. Sehebat itu ternyata, sampai dia tidak mau kembali pada wanita itu meski mereka bertemu lagi.

“Kalau kamu, Di?”

“Apa?” Dinara mengangkat kepala.

“Kalau mantan tunangan kamu datang, minta maaf, minta kesempatan, dan kembalikan seluruh uang tabungan kalian, apa kamu mau balikan lagi sama dia?”

Alis Dinara berkerut. Dia bahkan tidak pernah memikirkannya, atau memang memungkiri hal itu karena tidak akan pernah terjadi. Dia kenal siapa Haikal, pria itu hanya akan datang dan tidak akan melakukan pertanggungjawaban.

“Saya nggak pernah kepikiran ke sana,” jawabnya jujur. Dinara berusaha keras untuk tidak mengatakan kebohongan apa pun hari ini, setidaknya di hadapan kandidat calon suami. “Saya udah selesai sama dia, dan sama diri saya sendiri.”

“Pantas kamu nggak kelihatan kayak orang patah hati.”

Keduanya tertawa. Memang berbeda, Dinara dan Arya tidak mengambil sikap yang sama untuk menghadapi persoalan ini.

“Saya juga memutuskan untuk selesai sama dia hari ini,” sambung Arya lagi. “Itu yang kita perlukan untuk membuka lembaran baru.”

“Termasuk cari calon istri baru?” Dinara tersenyum menggoda, dia suka cara Arya menatapnya sekarang, Arya begitu dewasa. Cara bicaranya lugas dan bisa mengimbanginya.

“Termasuk memutuskan untuk menikah dengan kamu, itu yang kita perlu.” Mereka saling menatap serius. “Selesai sama diri sendiri, sama masa lalu, dan bertekad untuk nggak kembali meski mereka memohon-mohon waktu datang lagi.”

“Setuju.”

Dinara dan Arya saling melempar senyum saat tangan mereka berjabat untuk kali kedua hari ini. Ya, benar begitu. Lebih dari apa pun, mereka hanya harus selesai dengan urusan masing-masing, terutama mengubur niat untuk kembali pada jajaran para mantan, agar keputusan untuk menikah tidak setengah-setengah.

“Mungkin kita nanti menikah nggak seperti orang kebanyakan, tapi ayo berjanji buat nggak saling menyakiti, Di. Saya mau menjalin hubungan baik dengan kamu.”

“Saya juga begitu.” Dinara mengangguk.

Hatinya lega, dia mendapatkan calon suami baru, dan gaun impiannya tidak akan menganggur di etalase butik itu. Dinara akan memakainya tak lama lagi, meski dengan mempelai pengganti.

“Saya punya kakak laki-laki, dua adik sepupu kembar yang dekat dengan kami karena diurus sama ibu saya sejak bayi. Mereka semua tinggal di Surabaya, saya sendiri di sini.”

Oh, apakah ini mulai memasuki fase pengenalan keluarga?

“Saya sulung dari dua bersaudara,” ucap Dinara canggung. Entah kenapa bagian ini membuatnya agak ragu. “Ayah saya udah nggak ada, ibu saya janda, punya usaha cuci pakaian. Dan saya... saya pengangguran sekarang, tapi saya pasti cari kerja sebentar lagi, Mas. Jangan khawatir, saya juga nggak keberatan diajak hidup susah.”

“Saya bukan trigonometri, kamu nggak perlu susah-susah setelah nikah sama saya nanti.”

Mereka terkekeh, dan Dinara senang. Setidaknya Arya tidak menyuruh dia untuk cari makan sendiri setelah mereka menikah dan tinggal bersama kelak.

“Jadi nanti wali nikah kita adik kamu, Di?” Dinara mengangguk. Arya merekam ucapannya dengan baik, dia ingat kalau adiknya adalah seorang laki-laki. “Usianya berapa?”

“17 tahun, cukup umur untuk seorang wali.”

Arya tertawa renyah. “Oke.” Dia mengangguk lalu berhenti. “Banyak yang harus kita bahas. Dan saya ada ide, gimana kalau kita saling bertukar informasi dalam bentuk file lalu kita pelajari sendiri-sendiri? Kamu pasti trauma sama kasus penipuan yang dilakukan sama mantan tunangan kamu, saya akan kirim semua dokumen pribadi saya yang asli untuk kamu selidiki. Kita harus tahu latar belakang masing-masing, kan? Atau kamu keberatan?”

“Saya nggak keberatan sama sekali.” Dinara tersenyum puas, justru suka sekali pada ide-ide Arya yang terdengar cerdas. “Makasih karena mempersingkat waktu pengenalan kita, Mas.”

“Iya.” Arya ikut membalas senyumnya. “Bikin yang menarik, ya. Kayak surat lamaran kerja, tapi isinya kamu melamar saya.”

Dinara tertawa, meski gengsi melakukannya, tapi dia setuju saja, di mana lagi dia bisa dapat calon suami instan seperti Arya? Jadi membuat surat lamaran seperti itu bukan hal yang sulit seharusnya.

“Nanti saya juga bikin buat kamu, terus kita nilai bagusan punya siapa lamarannya.”

“Konyol banget sih, Mas.” Dinara menggelengkan kepala. “Terus yang menang artinya apa?”

“Yang surat lamarannya menang berarti akan dihadiahi label sebagai pelamar yang berhasil lolos.” Pria menawan di hadapan Dinara itu memainkan alisnya. “Kalau pencari kerja, ya dia dapat kerja. Berhubung ini cari istri, ya dapatnya kamu.”

Lagi-lagi tawa Dinara meledak. Mereka tidak saling kenal sebelumnya, tapi obrolan hari ini benar-benar bagus sebagai perkenalan, sebagai kesan pertama yang mengesankan. “Kalau gitu saya biarin Mas Arya yang menang.”

“Harus.” Arya menganggukkan kepala. “Kamu nggak perlu berusaha terlalu keras.”

Berlebihan tidak, kalau saat ini hati Dinara berbunga-bunga?

“Oke.” Dinara menarik napas lega, pipinya pegal karena terus-terusan tersenyum di depan Arya. “Boleh minta nomornya Mas Arya?”

“Kalau kamu minta, saya pakai apa?” Dia mengerutkan alis. Percayalah, itu candaan garing asal pria berkepala tiga, jadi tertawakan saja daripada dia tersinggung dan suasana di antara mereka berubah kurang nyaman. “Saya bercanda, Di. Mana HP kamu, biar saya ketik sendiri.”

“Ini, Mas.”

Dinara menyerahkan benda kotak itu lalu tertawa geli ketika melihat kontak Arya yang disimpan dalam ponselnya dan diberi nama Calon Suami oleh orangnya sendiri. Agak menggelikan, tapi tidak apa-apa. Dinara menyukainya.

“Kalau saya save sebagai Arya, takutnya ketuker sama Arya-arya yang lain.”

“Iya, Mas.” Dinara tertawa saja. Wajahnya pasti sudah merah sekali.

“Saya save kontak kamu dengan nama yang mirip.” Arya menunjukkan layarnya, nama kontak Dinara adalah Calon Istri. Atau harusnya calon istri nomor dua, sebab dia punya calon istri pertama. Uh, Dinara juga.

“Mas ini benar makanan saya dibayarin sama Mas Arya hari ini?” tanyanya sungkan. Normalnya mereka membayar masing-masing, apalagi untuk pertemuan pertama.

“Nggak papa, biar saya yang bayar makanan kamu hari ini. Next, kamu yang masakin saya makanan setiap hari.”

Dinara terpaku. Terkutuklah skill memasaknya yang mengerikan ini.

“Saya hubungi pihak Beauty Gown segera dan tarik pembatalan acara resepsi.” Arya terpaku sesaat. “Kamu ambil resepsi di tanggal berapa, Di?”

“Masih beberapa bulan lagi kok, Mas.”

“Kamu setuju ngikut tanggal pernikahan saya aja?”

“Iya.” Dinara mengangguk enteng. “Mas atur aja, saya ngikut.”

Arya terkekeh senang. “Bagus ya, mulai latihan untuk nurut dan manut apa kata calon suami.”

“Cuma males ribet aja sebenarnya.”

“Iya tahu, nggak usah dijelasin juga, Di. Bikin calon suaminya senang sedikit lho.”

Dinara tertawa lagi, Arya pura-pura cemberut, tidak terhitung banyaknya dia tertawa dengan pria itu hari ini. “Oke, Mas. Maaf.”

“Hm... sampai jumpa lagi nanti kalau gitu, jangan lupa bawa surat lamaran kamu.”

“Boleh melampirkan piagam-piagam prestasi?” candanya sengaja agar Dinara bisa mengimbangi Arya.

“Boleh dong, boleh banget. Saya jadi ingat piagam penghargaan untuk lomba main bola pakai sarung pas SMA, kamu harus baca. Ini sebagai penunjang buat bikin kamu yakin kalau pasangan kamu nanti adalah bibit unggul.”

“Mas, udah ah!” Lelah tertawa, Dinara meminta Arya menghentikan banyolannya. Jam makan siang hampir usai, siapa tahu Arya harus kembali bekerja, mereka tidak bisa lama-lama. “Nanti kita atur lagi kapan harus ketemu, saya boleh hubungi Mas Arya lebih dulu, kan?”

Pria di hadapannya melemaskan bahu. “Sejak kapan sih ada pasal yang bilang kalau perempuan nggak boleh menghubungi duluan, Di?”

“Saya cuma tanya, Mas.”

“Kamu tanya hal sepele gitu setelah ngajak saya nikah di pertemuan pertama kita hari ini?”

Dinara terkikik dan mengangkat sebelah tangan tanda menyerah. “Oke, maaf,” akunya pasrah. “Makasih untuk makan siangnya.”

“Sama-sama.” Arya membalasnya tenang.

“Makasih juga untuk waktunya dan untuk bersedia dilamar sama saya.”

Pria itu mengangguk pelan dengan cengiran kecil menghias bibirnya. “Sama-sama, Dinara. Saya juga berterima kasih atas hal yang sama ke kamu.”

“Oke.” Dinara bangkit lebih dulu, dia akan pulang sendiri dan tidak menyusahkan Arya untuk mengantarnya pergi. “Saya yang bayar makanan kita lain hari, sampai ketemu lagi ya, Mas.”

“Iya.” Arya juga ikut berdiri. Dia menarik napas dalam dan mengembuskannya, terlihat menahan kata lalu berakhir dengan memasukkan sebelah tangan ke saku celana. “Sampai ketemu lagi, Di.”

“Oke, saya permisi.” Dinara mendorong kursinya mundur, bersiap untuk pergi.

“Di...” Dinara yang sudah berbalik, menolehkan kepalanya lagi. “Kamu akan jadi istri yang baik, itu alasan saya menerima tawaran kamu hari ini.”

*****

Bab 3

Dinara to Haikal

Mas, ganti nomor ya? Aku hubungi kok nggak aktif?

Ada apa ini? Dinara memiliki firasat tidak enak tapi dia mati-matian berusaha menyangkalnya. Nomor ponsel tunangannya tidak aktif. Dan jujur saja selama berbulan-bulan ini saldo tabungan bersama milik mereka semakin menyusut. Maksudnya, Haikal mungkin butuh uang dan menarik beberapa dari sana. Dinara tidak apa-apa, tapi yang terjadi setelahnya justru lebih mengherankan lagi.

Dinara: Mas, kenapa mbanking kita nggak bisa diakses? Mas ganti PIN?

Seminggu yang lalu Dinara menanyakannya. Mereka membuka tabungan bersama dan terdaftar atas nama Haikal sebab pria itu tinggal di Indonesia sementara dirinya bekerja di Qatar. Sejauh ini 40% dari pendapatan bulanan mereka tersimpan di sana, dan Dinara sudah melakukannya selama dua tahun. Mereka tidak memiliki kartu untuk menarik uang-uang itu di mesin otomatis, Dinara hanya memantau dari jauh, tapi Haikal sangat mungkin bisa melakukan tarik tunai ke bank langsung.

Namun begitu aksesnya ke rekening tersebut ditutup, boleh kan dia merasa curiga dan menanyakannya pada Haikal?

Dinara : Mas marah ya karena aku tanya begitu kemarin? Maaf ya, Mas.

Dinara : Mas, kalau ada masalah kita bisa bicara baik-baik.

Namun setelahnya, nomor ponsel Haikal juga ikut tidak aktif. Dinara masih ingin menyangkal, ingin terus-terusan bersikap denial. Sampai akhirnya dia tahu bahwa itu tidak berguna. Bulan demi bulan berikutnya, Haikal benar-benar menghilang, dan satu-satunya cara agar dia bisa menemukan pria itu untuk meminta penjelasan hanyalah pulang ke Indonesia.

Butuh waktu lebih dari enam bulan untuk menyelesaikan pekerjaan, mengakhiri kontrak dan membayar penalti atas keputusannya. Dan selama itu pula, otaknya benar-benar bekerja. Dinara tahu sudah tidak ada gunanya menunggu, mencari atau memperjuangkan hubungan mereka lagi. Dia sudah ditipu dan dicampakkan, dua alasan yang lebih dari cukup untuk mengakhiri sebuah hubungan. Dinara hanya harus pulang agar mengurus hal-hal yang tersisa. Membatalkan rencana pernikahan mereka salah satunya.

“Dek, mau ke mana?”

Siluet seorang pemuda dengan tampang tidak mengantuk sama sekali muncul di hadapannya saat ini. Danish—adik kandung Dinara membuat semua lamunan barusan buyar, ingatannya dari beberapa bulan yang lalu sebelum memutuskan untuk pulang.

“Nggak ke mana-mana.” Danish menjawab singkat.

Sepagi ini dia sudah wangi, terlalu rapi untuk ukuran anak laki-laki berandalan yang gemar ikut tawuran. Adik kandungnya ini mempunyai duality yang keren, entah dia sengaja menciptakan alter ego untuk dirinya sendiri atau apa.

“Kamu nggak sekolah? Udah lama banget bolos perasaan.”

“Nggak.” Dia menggeleng.

Tidak berniat sekolah, tapi bangun sangat pagi, sudah rapi, wangi dan ganteng sekali.

“Mau ke mana lagi habis ini?” tanyanya sungkan. Danish baru saja melakukan hal besar beberapa hari kemarin.

“Lanjut rebahan.” Anak remaja itu menjawabnya singkat. Mereka saling menatap untuk sesaat, Dinara bisa melihat luka di mata adik kecilnya yang sudah tidak kecil lagi itu. Danish tumbuh lebih tinggi dari dirinya sendiri meski usia mereka selisih 12 tahun.

Ada rasa bersalah yang menelusup ke dalam hatinya melihat Danish berubah drastis seperti ini. Dia orang yang pertama kali tahu soal kandasnya hubungan asmara Dinara dan Haikal yang berujung dengan perilaku kriminal mantan tunangannya itu. Dan Danish, sebagai satu-satunya saudara sekaligus berperan seperti pelindung Dinara, tidak bisa tinggal diam. Dia berkeliling mencari keberadaan Haikal lalu menghajar pria itu hingga babak belur, kabarnya diopname dan berbuntut pada pertemuan keluarga untuk menyelesaikan pemicunya.

“Mbak punya kenalan dukun?” tanya Danish tiba-tiba, setelah menenggak habis susu hangat di gelasnya. “Aku nggak bisa bunuh dia karena takut dipenjara, kita santet aja gimana?”

Dinara meringis, tidak tahu kalau adiknya menaruh dendam sebanyak itu. “Udah sih, kan udah selesai. Uang mbak juga bakal diganti.”

“Tetep aja, Mbak. Dia tuh binatang yang lagi pura-pura jadi manusia, akhlaknya nggak ada. Yang gantiin uang Mbak kan ujung-ujungnya keluarga mereka, orangtuanya. Orang kayak gitu nggak pantas hidup, menuh-menuhin karbondioksida di bumi aja.”

Dinara terkekeh, adiknya benar, Haikal memang menyusahkan banyak orang. Beruntung Dinara segera tahu belangnya lelaki itu, sehingga dia tidak harus membuang lebih banyak waktu dengan orang yang salah. Dia harus move on, cari uang lebih banyak lagi dan bersenang-senang karena sudah punya calon suami baru. Hanya saja ibu dan adiknya belum tahu.

“Kenapa kamu nggak bunuh? Uang mbak masih cukup buat ngejamin kamu keluar dari penjara kok, Nish.”

“Mbak yang bener aja!” Danish membeliak. “Aku udah iket kakinya buat diseret keliling komplek itu pake motor sih, kalau aja nggak dilerai pasti dia udah mati.” Pemuda berusia 17 itu mengusap-usap dagu dengan wajah bengis, membuat kakaknya meringis.

Danish mungkin tidak tahu kalau diam-diam dia diawasi dari jauh. Dinara kenal betul adiknya adalah seorang berandalan yang hobi tawuran di sekolah, tapi sisi lain dari Danish, dia sangat baik. Hatinya lembut dan penyayang. Dia juga bersih, terlalu bersih malah untuk ukuran anak laki-laki, dia senang merawat diri, dan jika Dinara mengumumkan kebusukannya di luar sana, ibu mereka atau siapa pun itu tidak akan mudah percaya. Danish kelihatan seperti anak baik-baik.

Atau sebenarnya Melia sudah tahu, tapi memutuskan untuk diam selama anak bungsunya belum diciduk polisi dan terluka parah hingga harus dirawat intensif. Tidak mungkin ibu mereka tidak mengenal anaknya sendiri, tidak tahu sepak terjang Danish di luar rumah sebagai preman sekolah.

“Ya udahlah ya, belum takdirnya juga dia meninggal. Lagian mbak udah bilang, nggak apa-apa, nggak perlu diurusin juga. Mbak malah makasih sama dia, akhirnya mbak tahu kalau mbak harus berhenti menjalin hubungan sama orang yang salah.”

“Dan ditipu uang sebanyak itu?” Danish menyela tak terima.

“Itung-itung buat ngebersihin dosa, mungkin mbak kurang sedekah.”

“Oh, kalau gitu aku bakal nuntut mereka buat kembaliin semua uangnya terus aku sedekahin atas nama mbak Dinar ke panti-panti asuhan. Biar jelas sedekahnya, tepat sasaran! Kalau Mbak biarin kayak gini, dia keenakan, nggak lucu ya Mbak sedekahin uang buat dipake judi, foya-foya dan main perempuan!”

Danish begitu menggebu-gebu, karena dia baru tahu. Sementara bagi Dinara, itu sudah lama berlalu. Dia punya banyak waktu untuk menyembuhkan diri lebih dulu, untuk mengikhlaskan semua itu, sampai Arya saja tahu kalau Dinara tidak kelihatan sama sepertinya. Tidak tampak tengah patah hati atau baru saja ditipu.

“Kalau memang masih rejeki, uang itu akan kembali ke mbak nanti. Kamu jangan khawatir, kita tetap jadi beli mobil.”

“Nggak usah.” Danish mengibaskan tangan tanpa menatapnya. “Aku nggak papa naik motor aja, lebih praktis juga. Lagian uang Mbak memang mau dikembalikan meski dicicil, jadi mbak Dinar jangan ke mana-mana lagi, ya? Jangan ke luar negeri lagi, kerja aja di sini.”

Dinara tersenyum dan mengangguk. “Iya,” jawabnya terharu.

Berandalan ini sudah dewasa dibanding terakhir kali dia mengingatnya. Dinara berjanji untuk membelikannya mobil karena Danish sudah kelas 3 SMA, rata-rata temannya membawa kendaraan beroda empat, hanya dia yang belum. Dan ibu kandung mereka, meski tergolong pengusaha kaya, tidak akan membelikan barang sebesar itu cuma-cuma. Danish bahkan harus bekerja seminggu dua kali di laundry untuk mendapat uang jajan tambahan.

“Tapi mbak bakal tetap beliin kamu mobil, tenang aja.”

Meski berusaha menyanggah, tapi wajah Danish sudah merona merah. Dia tampak senang, tidak apa-apa, Dinara harus memberinya kompensasi karena sang adik maju dengan gagah berani untuk mencari Haikal dan meminta semua uang yang sudah dibawa lari.

*****

Bagi keluarga, kolega bisnis Melia, dan teman-teman alumni Dinara, bekerja di luar negeri dengan jenjang karier sebagus apa pun tetap saja dipandang rendah. Kalau TKI ya sudah, tidak perlu menyanggah. Sebenarnya tidak masalah, tapi bisakah mereka tidak terlalu banyak omong dan bertingkah? Sudahlah, Dinara memutuskan untuk menetap di Indonesia dan mencari pekerjaan baru segera.

“Kerja jauh-jauh ke luar negeri dapat apa? Sekarang udah invest apa aja? Udah punya apa aja nih?”

“Biasanya ya, rejeki yang dicari bukan di tanah sendiri memang kebanyakan begitu. Kayak kurang berkah, kelihatan banyak uang tapi nggak jadi apa-apa. Paling banter beli rumah atau tanah, tapi pas pulang lagi jadi susah dan semuanya dijual lagi dah. Udah paling bener di kampung aja, makan nggak makan ngumpul, cari suami yang baik dan buru-buru nikah.”

Makan nggak makan kumpul. Perumpaan sialan itu, buatan siapa sebenarnya? Banyak orang menafsirkannya berbeda. Untuk apa berkumpul tapi tidak bisa makan? Kebahagiaan tidak tercipta dari perut yang lapar dan kebodohan yang disengaja. Jadi daripada berkumpul lantas kelaparan, lebih baik pergi jauh dan cari uang sebanyak-banyaknya.

Dinara sering mendengar gunjingan itu di grup keluarga, grup arisan ibunya, juga grup-grup lain yang dia kenal. Saat kebanyakan para ibu membanggakan anak-anak mereka, Melia—ibu kandungnya, hanya diam dan mendengarkan. Beliau sangat menunjukkan ketidakbanggaan itu dengan cara yang amat jelas. Bahkan tetap diam saat pekerjaan, pilihan dan keputusan anaknya dikomentari nyinyir habis-habisan.

Dinara tidak bisa dibanggakan. Dia anak perempuan berusia 29 yang belum menikah—atau gagal menikah lebih tepatnya, sekarang pengangguran, dan terlalu kotor disebut perawan, bahkan perawan tua sekalipun.

“Om dan tantenya Haikal mau datang lagi.”

Akhirnya wanita itu buka suara setelah lebih dari setengah jam diam-diaman di samping putrinya.

“Mama harap kamu mau ketemu mereka sebentar aja, Mbak. Keluarganya Haikal nggak salah, mereka ada itikad baik.”

“Nggak.” Dinara menggeleng tegas. “Aku udah nggak mau tahu dan nggak mau terlibat sama orang itu, silakan Mama urus kalau Mama punya banyak waktu.”

“Mbak—”

“Nggak, Ma. Maaf.”

Melia pasti tidak tahu seperti apa hidup yang dijalaninya di luar sana. Dia bekerja keras sendirian di negeri orang, bertahan menjalin hubungan dengan Haikal yang sejak dulu pun hobi berbuat ulah. Dinara sudah sampai di titik muak, dia benci memaklumi orang lain lebih dari ini. Dia sudah banyak menahannya, bertahan dengan Haikal selama dua tahun adalah neraka. Sebab mereka sudah menjalin hubungan cukup lama, Dinara juga mengenal keluarganya, dan dia bertahan agar tidak perlu mencari orang baru lagi.

Berkenalan, menghabiskan banyak waktu serta kesempatan, kembali melakukan pendekatan, bukankah itu melelahkan?

“Aku ke butik Violeva kemarin,” ujarnya hati-hati. Wanita di samping Dinara menatapnya nanar, jelas tahu kalau satu-satunya putri di keluarga ini akan gagal menikah... lagi. Dinara pernah akan menikah dengan Haikal tiga atau empat tahun sebelum ini, tapi sayang dia diterima bekerja di luar negeri hingga pernikahan mereka tertunda cukup lama.

“Iya, Mbak.”

“Aku gagal lagi, Ma.”

“Nggak apa-apa.” Melia menjawabnya cepat. “Semua orang pernah gagal dalam hidup, Mbak. Mama juga, kan? Tapi hidup tetap berjalan, Mama bangga ngeliat Mbak bisa bangkit sendirian, maaf karena mama nggak ada di sana waktu itu.”

“Nope.” Dinara menyunggingkan senyum samar, jarang sekali keduanya bisa mengobrol seperti sekarang.

“Kegagalan adalah hidup yang lagi ngajak bercanda,” sambungnya. Dinara dan Melia saling bertatapan. “Namanya bercanda ya, Mbak, jangan terlalu dibawa serius, ketawain aja.”

Wanita itu tersenyum kepadanya. Dinara tahu, ini adalah bentuk dukungan untuknya yang tengah terpuruk. Tapi Melia salah menempatkan, dia tidak benar-benar membuat Dinara merasa terhibur.

“Apa kegagalan pernikahan Mama juga bagian dari candaan itu?” tanyanya pelan. Senyum di wajah sang ibu memudar. “Atau aku hasil bercandaan Mama juga?”

“Mbak—”

“Aku nggak batal nikah,” potongnya buru-buru. “Aku cuma gagal sama Haikal, tapi aku udah dapat pengganti dan rencananya pernikahan aku bakal digelar bulan depan, aku harap Mama siap-siap buat ngasih restu.”

Sejak awal, Dinara memang ingin mengatakan hal itu. Tentang rencana pernikahannya dengan Arya, tapi tidak begini juga. Tidak dengan cara ini dia mengatakannya pada sang ibu, tidak dengan suasana hati seburuk ini.

Dinara masih saja kesal tiap terkenang masa lalu mereka, meski sudah sepuluh tahun berlalu. Hari di mana Melia benar-benar menyakitinya, dan dia tidak bisa melupakan itu.

“Mama bilang... mama bakal cerai sama dia kalau tahu kelakuannya nggak bener! Mama bilang bakal pisah sama laki-laki manapun yang melecehkan aku! Mama bilang nggak mau nasib aku kayak mbak Putri yang diperkosa sama pamannya sendiri! Kenapa Mama sekarang begini? Kenapa Mama nggak percaya? Kenapa Mama nggak cerai sama dia?! Aku hampir diperkosa, Ma!”

“Mbak... tenang dulu...” Tangan itu gemetar, mencoba menenangkannya. “Mama mohon maaf... maafin mama, ya? Mama butuh waktu, Sayang... Mama butuh uang. Kalau mama pisah, gimana hidup kita? Gimana nasib Danish, Mbak?”

Potongan dialog itu selalu terlintas kala Dinara tengah terluka. Rasa percayanya pada Melia hilang entah ke mana, dia tidak bisa mengandalkan ibu kandungnya. Bahkan ketika Melia adalah satu-satunya orangtua dia punya.

“Aku harus banyak uang, jadi model dan kontestan ajang putri-putrian itu nggak menjanjikan. Aku nggak mau kayak Mama yang setelah nikah malah terjebak dan tersiksa nggak bisa ngebelain anak sendiri hanya karena nggak punya uang kalau pisah sama suami. Padahal jelas-jelas anaknya hampir diperkosa sama suaminya sendiri.”

Kata-katanya bertahun yang lalu sebelum memutuskan pergi dari negara ini. Dinara dengan sombongnya merendahkan sang ibu karena luka di masa lalu. Meski pada akhirnya Melia bercerai dengan orang itu—ayah tirinya, tapi luka-lukanya tidak serta merta hilang dari kepala. Ingatan itu amat lekat, ingatan saat Melia menolak untuk membelanya.

“Padahal Mama dengar dari Danish, dia lihat pake mata kepalanya sendiri, aku ditindih sama suami baru Mama itu! Dia udah lepas celana, dan Danish dipukul sampai pingsan karena mergokin kelakuannya. Tapi Mama tetap nggak percaya, Mama tetap nggak cerai sama dia.”

“Mbak, maaf... mama salah, mama tahu mama salah...”

Air matanya meluncur turun, kenangan itu sulit sekali dilupakan. Hingga hubungan Dinara dan Melia memburuk, mereka tidak dekat sebagai ibu dan anak. Dinara yang pembangkang, tidak bisa diatasi dengan mudah oleh ibunya sejak saat itu... hingga sekarang.

“Mama! Dengerin aku! Mbak dijahatin sama bapak, aku lihat mbak nangis. Terus aku datang dan kepalaku dipukul. Bapak jahat, Ma! Jangan kasih bapak tinggal di sini lagi, aku nggak mau!”

Dan semakin menyakitkan saat dia ingat lagi adik kecilnya menyaksikan hal paling biadab itu. Danish yang masih berusia tujuh tahun, menyelamatkannya meski setelah itu dia dihajar hingga babak belur. Untung saja Dinara memilikinya, Danish selalu jadi penyelamat bahkan saat dia masih belia, saat dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kehadirannya saja sudah sangat berguna. Dinara beruntung karena memilikinya.

“Mbak jangan takut lagi, ya. Aku sama Angga dan Aryan belajar pencak silat di sekolah, kalau ada yang jahatin Mbak bilang aja, aku bakal kasih dia pelajaran.”

Katanya waktu itu, kata-kata yang membuat Dinara akhirnya memutuskan bertahan dibanding mengakhiri hidup. Danish adiknya, adalah satu-satunya alasan. Kalau Dinara mati, bagaimana nasibnya nanti? Meski Melia tidak memihaknya, masih ada Danish yang berjuang untuk membelanya mati-matian.

“Mbak jangan nangis, ada aku. Aku tidur di kamar Mbak mulai sekarang, boleh nggak? Biar Mbak nggak takut lagi, aku bakal hadang bapak di depan pintu kalau nanti ada ke sini.”

Dinara sudah SMA waktu itu, sementara Danish masih duduk di bangku SD kelas satu. Jarak mereka cukup jauh, dan ayah kandung keduanya meninggal sejak Danish berusia delapan bulan, hingga Melia menikahi laki-laki kaya—seorang broker handal yang tampaknya seperti pengangguran namun membuat hidup mereka berkecukupan. Alasan Melia tidak bisa langsung menceraikan laki-laki itu meski sudah berniat menodai putrinya, hanya karena takut hidup mereka sengsara.

Namun meski akhirnya berhasil melepaskan diri dan bekerja mati-matian hingga punya usaha besar dan maju, Melia tidak pernah mendapatkan hati anaknya lagi. Sebab, bukan itu yang dia mau, bukan hidup seperti itu yang Dinara inginkan. Di sisi lain, Danish tumbuh jadi anak laki-laki yang pemberani, dia jago beladiri, dia senang berkelahi meski memakai kedok seperti anak baik hati. Minusnya, dia mencari pelampiasan dengan ikut tawuran dan memakan banyak korban.

Melia salah kalau berpikir hidup sejahtera itu adalah tinggal di rumah besar dengan mobil mewah di garasinya. Bukan itu. Bukan itu yang Dinara mau, entah itu Danish sekalipun.

“Mbak...”

Dinara menolehkan kepala, tidak menyangka jika ibunya masih belum menyerah mengajaknya bicara.

“Soal yang tadi—”

“Aku serius,” ujar Dinara buru-buru. “Dan Mama salah kalau berpikir aku mau minta izin, aku cuma mau ngasih tahu. Mama mau setuju atau enggak, itu nggak akan bikin aku terpengaruh.”

*****

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED