"Ma --- maaaaa."
Suara Fahmi mengagetkan Ningroem. Fahmi ---anak pertamanya bangun kemudian mencari Ningroem ----ibunya yang tidak terlihat di dalam kamar.
Padahal usianya sudah lima tahun, tapi ia masih saja mencari ibunya jika baru saja bangun tidur.
"Sini Aa, mama di depan," sahut Ningroem memberitahukan keberadaannya.
Terdengar Fahmi turun dari tempat tidur, berjalan menghampiri Ningroem yang berada di ruang utama. Fahmi berjalan menuju kursi kemudian merebahkan tubuhnya kembali, sepertinya anak pertama Ningroem masih mengantuk.
Melihat anaknya ---Fahmi bersikap seperti itu. Ningroem bertanya,
"Aa, masih ngantuk?"
"Iya," jawab Fahmi singkat seolah enggan untuk menjawab pertanyaan dari ibunya.
"Aa, Mama hari ini tidak masak itu, ada nasi uduk buat Aa di dapur. Makan sekarang gih. Jika sudah dingin nanti rasanya tidak enak."
Ningroem menunjukan nasi uduk yang baru saja dibelinya. Yang masih berada di dalam kantong plastik. Baru ia taruh beberapa menit lalu di atas meja dapur.
"Aa makan ya, laper."
Fahmi perlahan bangkit kemudian ia melangkah ke dapur, untuk mengambil nasi uduk yang ditunjukkan oleh ibunya.
"Iya makan memang beliin buat Aa, kalau kurang buka yang satu lagi, ya?
Fahmi membawa nasi uduk yang masih berada di dalam kantong plastik. Membawanya kemudian duduk di lantai yang beralaskan karpet. Tangannya perlahan membuka kantong plastik dan membuka bungkusan kertas. Fahmi makan dengan lahap mungkin memang dia lapar.
"Mas Bram kok belum kembali ya? Jangan-jangan dia pergi gitu aja ninggalin Aku disini sama anak-anak. Duh jika benar seperti itu bagaimana nasibku dan kedua anakku? Ya Allah semoga saja tidak. Kembalikan Bram padaku ya Allah rasanya aku belum siap jika harus hidup tanpanya," rintih Ningroem di dalam hatinya. Hingga tak terasa air mata menetes dari sudut kedua matanya.
Ningroem beranjak dari duduknya, untuk mengerjakan rutinitas sore yaitu memandikan kedua anaknya.
Setelah selesai, seperti biasanya ibu-ibu nongkrong, ngerumpi di depan kontrakan Ningroem di teras salah satu kontrakan yang berderet di situ.
"Mbak ada yang punya info lowongan kerja enggak?" tanyaada ibu-ibu kontrakan.
"Ada di tempatku Ning, lagi butuhin buat nyuci gosok tapi bayar bulanan mau?" sahut Yesi tetangga kontrakan menjelaskan jika di tempatnya bekerja sedang membutuhkan pegawai baru.
"Tapi aku bingung kan punya bayi."
"Tumben kamu ingin kerja lagi?" tanya Ratna yang ingin tahu alasan dari tetangganya itu.
"Aku bingung Mas Bram sekarang jarang sekali ngasih uang," jelas Ningroem memberikan alasan mengapa dirinya ingin kerja lagi.
"Yang sabar ya, mungkin kamu sedang di uji," ucap Yesi mengusap punggung Ningroem.
"Kalau tahu dia seperti itu gak mungkin aku mau sama dia, walaupun ganteng."
"Hus, Disyukuri saja Ning. Aku saja menikah sudah lama belum punya-punya anak tapi suamiku tetap sayang sama aku," ucap Ratna menimpali ucapan Ningroem.
"Iya Mbak, tapi bagaimana dengan kedua anakku jijaMas Bram marah keterusan. Aku sih bisa saja puasa tapi kedua anakku tidak bisa keduanya masih sangat kecil."
"Masing-masing rumah tangga itu masing-masing masalahnya. pasti ada jalan keluarnya pula," ucap Mbak Yesi menimpali ucapan Mirna.
"Anakku tidur, aku masuk dulu ya."
Ningroem pamit pada ibu-ibu yang masih berkumpul di teras rumahnya. Ia menggendong putra kecilnya masuk ke dalam rumah, kemudian diletakkan di tempat tidur yang dijagain oleh bantal di bagian tubuh Denis supaya anaknya tidak jatuh dari atas tempat tidur.
Ningroem adalah penghuni rumah petak delapan pintu yang satu pintunya dihargai satu bulannya lima ratus ribu rupiah.
Malam harinya pintu diketuk keras oleh seseorang dari luar. Ningroem buru-buru bangun dari tempat tidur, ia tak ingin jika kedua anaknya terbangun. Setelah mengintip dari kaca jendela dengan menyingkap tirai gorden. Ia melihat Bram yang sedang mengetuk pintu dengan tangan terkepal. Wanita berlesung pipit segera membuka pintu. Begitu pintu terbuka Bram langsung masuk ke dalam rumah dengan berjalan sempoyongan.
Bram menabrak tubuh Ningroem hingga wanita berlesung pipit itu menahan tubuhnya supaya tidak jatuh. Tapi Bram malah memeluk tubuh Ningroem, menghujani pipinya dengan ciuman yang bertubi-tubi. Ningroem berusaha menghindar namun Bram malah semakin kuat memeluknya, mendorong tubuh indah Ningroem ke kursi panjang. Sehingga Wanita berlesung pipit itu berontak. Tidak sudi disentuh oleh suaminya yang sedang mabuk karena Ningroem mencium bau minuman beralkohol dari mulut Suaminya.
Tenaga Ningroem tidak kuasa melawan tenaga pria kalah oleh nafsu Bram yang begitu brutal. Pada akhirnya Ningroem hanya bisa pasrah walaupun tak terima dengan perlakuan Suaminya. Yang sudah bersikap kasar dalam melakukan sunah rasul tanpa pemanasan terlebih dahulu.
Setelahnya Ningroem hanya bisa menangis meratapi nasib diri yang buruk. Wanita berlesung pipit tidak diberikan nafkah berhari-hari kemudian Suaminya datang hanya untuk menuntaskan nafsunya saja.
"Sungguh keterlaluan. Rintih Ningroem di dalam hatinya.
Untung kedua anaknya sedang tidur dengan pulasnya, sehingga tidak mendengar tangisannya yang memeluk lututnya sendiri di lantai.
Sedangkan Bram tertidur pulas di lantai setelah tadi memaksa Ningroem untuk melayani birahinya.
Wanita berlesung pipi itu terduduk di lantai tanpa pakaian yang menutupi tubuhnya. Dengan sisa kekuatannya ia perlahan bangkit untuk memunguti pakaian yang tercecer di lantai, dengan sisa tenaga perlahan dikenakannya kembali pakaiannya.
Setelah itu Ningroem melangkah ke dalam kamar mengambil selimut. Untuk menutupi tubuh suaminya. Bagaimanapun ia tidak tega membiarkan tubuh suaminya kedinginan tanpa sehelai benang yang menutupinya. Yang sudah tertidur pulas tanpa sehelai pakaian di lantai.
Pagi harinya
"Mam makan," pinta Bram dari ruang keluarga.
"Aku gak masak Mas, gak ada uang untuk belanja," sahut Ningroem menjelaskan jika dirinya tidak memasak makanan hari ini.
"Kemarin kamu makan apa? Kok gak kelaparan?" tanya Bram heran dengan kening yang mengkerut.
"Ada yang memberikan kami nasi uduk," sahut Ningroem sedikit berbohong.
"Oh baguslah gak usah bersusah-susah tapi tetap bisa makan," timpal Bram dengan nada menghina Ningroem.
"Mas, kok bicaranya seperti itu. Mencari nafkah itu kewajiban suami walaupun istri bekerja. Itu hanya untuk membantu bukan kewajiban. Bukankah ada hadisnya di dalam Al-Qur'an." Ningroem menjelaskan panjang lebar tentang kewajiban suami menafkahi anak-istrinya.
"DIAM!! kamu ini bicara yang tidak-tidak saja." hardik Bram mulai emosi dengan perkataan yang baru terlontar dari bibir istrinya.
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus Ningroem, otomatis wanita berlesung pipit itu berteriak,
"Ahh, sakit Mas! bisa-bisanya menamparku," ucap Ningroem memegangi pipinya yang baru saja ditampar oleh suaminya. Terasa panas sekaligus sakit, hingga meninggalkan bekas tangan berwarna merah di pipinya mulusnya.
"Ceraikan aku! Mas sudah berani menamparku. Jika memang Mas sudah tidak bisa memberikan nafkah untukku dan kedua anakku!" pinta Ningroem terisak karena dadanya terasa sesak seketika seperti terhimpit batu besar sehingga susah untuk bernafas. Ningroem tidak terima karena Suaminya telah berani melayangkan tangan untuk menamparnya. Oleh sebab itu Ningroem berani meminta cerai tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.
Ningroem sudah terlanjur meminta cerai dalam keadaan marah. Bagaimanapun dirinya tidak terima jika harus mendampinginya tanpa diberikan nafkah. Itu dosa untuk Bram. Wanita berlesung pipit tidak ingin membenarkan tindakan suaminya yang jelas-jelas salah. Bram sangat marah pintu dibanting sangat keras sehingga membangunkan kedua anaknya yang sedang tertidur dengan pulas.
"Ma ---ma," jerit Fahmi yang terbangun karena kaget berlari ke arah Ningroem.
"Sini sayang, maaf kaget ya," tanya Ningroem pada kedua anaknya.
Wanita berlesung pipi meraih tubuh mungil Fahmi kemudian menggendong Denis yang menangis, menghapus sisa air mata kedua anaknya dengan jemari lentiknya.
Biarlah suaminya pergi tidak di rumah hari ini. Itu akan lebih baik untuk menjaga kewarasan dirinya. Ningroem mencoba mengambil nafas untuk mengurangi rasa sesak di dadanya yang terasa sakit, hingga menyebabkan susah untuk bernafas.
Setelah kepergian Bram dari rumah.
Ningroem menghirup oksigen dari luar sebanyak-banyaknya,l untuk menghilangkan rasa sesak yang sedari tadi terasa menghimpit paru-parunya. Ia pun menutupi gurat sedih di wajahnya dengan tetap tersenyum supaya anak-anaknya tidak bertanya tentang ayahnya.
"Mah..., mah..., Aa, mau makan!"
Fahmi memegang tangan Ningroem mengguncangkannya. Wanita berlesung pipi itu menoleh ke arah anak sulungnya.
"Sebentar, ya."
Ningroem menaruh Denis di lantai membiarkannya untuk bermain. Anak kecil berambut ikal merangkak sesukanya. Ningroem berdiri mematung termenung di lantai memperhatikan Denis bermain untuk sesaat.
Anaknya minta makan sedangkan Bram tidak memberikannya uang sepeserpun untuk hari ini. Sebetulnya Ningroem bingung tetapi ia tetap bersikap biasa saja demi untuk menjaga kewarasan kedua anaknya.
Ningroem melangkahkan kakinya gontai menuju lemari baju. Ia hendak mencari celengan yang disembunyikannya di balik tumpukkan baju. Supaya tidak diketahui oleh Bram.
Wanita lesung pipi ternyata masih punya celengan walaupun isinya tidak banyak karena hanya menyisihkan sedikit dari sisa uang belanja dan juga sisa uang jajan dari kedua anaknya jika sore harinya tidak jajan.
Ningroem melangkah ke dapur mengambil pisau untuk merobek celengan plastik. Kemudian wanita berlesung pipi mengeluarkan isi celengannya hingga isinya bertebaran di lantai.
Ningroem mengambil uang yang berceceran di lantai, menghitungnya. Tak disangka jumlahnya ternyata ada delapan ratus lima puluh rupiah. Dengan uang ini dirinya bisa membeli lauk matang di Mbak Wiwi. Selarik senyum tersungging di wajahnya manisnya.
Wanita berlesung pipi merapikan uang hasil dari celengannya. memasukan ke dalam dompet beberapa lembar, seperlunya saja. Kemudian sisanya ia sembunyikan lagi untuk berjaga-jaga seumpama Bram tidak pulang lagi hari ini.
Wanita berlesung pipi berdiri di pintu memanggil Denis
Putra bungsunya merangkak menghampiri dan berdiri dengan berpegangan pada kaki Ningroem. Wanita berlesung pipi meraih tubuh mungilnya kemudian menggendongnya.
"Aa, ayo mau ikut gak?" tanya Ningroem pada anak sulungnya yang sedang asyik menonton tv.
"Mama mau kemana?" anak sulungnya malah balik bertanya.
"Mama, mau beli lauk untuk makan kita."
"Aa, di rumah saja, gak mau ikut," sahut Fahmi
"Ya udah. Mama, pergi dulu sebentar. Jangan kemana-mana?" pesan Ningroem pada Fahmi putra sulungnya.
Ningroem menggendong Denis dengan kain gendongan, keluar dari rumah untuk membeli lauk matang di Mbak Wiwi tetangganya.
Biasanya Ningroem masak. Namun, karena suaminya tidak memberikan uang belanja berhari-hari. untuk menghemat pengeluaran terpaksa Ningroem sengaja membeli makanan jadi di warung nasi. Supaya pengeluarannya lebih hemat tinggal langsung makan. Tidak perlu ribet oleh segala tetek bergerak bumbu yang dibutuhkan untuk memasak.
Ningroem berjaga-jaga jika suaminya--- Bram pulang beranggapan jika anak istrinya belum makan. Bukankah berbohong sedikit untuk kebaikan tidak ada salahnya?
Wanita berlesung pipi membeli sayur sop, sambal, tahu dan nasi jadi total makanan yang harus di bayarannya senilai lima belas ribu rupiah.
Setelah selesai Ningroem buru-buru pulang.
"Dari mana Ning," tanya Mbak Maya tetangganya menyapa Ningroem ketika melintas melewati rumahnya.
"Habis beli lauk Mbak," sahut Ningroem menoleh menghentikan langkah kakinya sejenak.
"Tumben kamu nggak masak?"
"Bagaimana mau masak Mbak, wong suamiku nggak ngasih-ngasih uang sudah beberapa hari ini," sahut Ningroem kesal terlihat dari raut wajahnya yang masam.
"Yang sabar Ning, ini ujian," tipal Maya.
"Bukannya nggak sabar Mbak, hanya saja jika tidak dikasih uang dari mana kami bisa makan. ini saja Aku bobol celengan," jelas Ningroem kesal seolah ingin meluapkan kekesalannya pada Maya.
Maya yang merasa di omelin oleh Ningroem diam saja tidak membalas ucapan tetangganya.
Sesaat kemudian Ningroem menyadari jika ucapannya telah melukai hati Maya. Sehingga ia sedikit tersinggung dengan ucapan Ningroem. Kemudian wanita berlesung Pipi segera minta maaf atas ucapannya tadi.
"Mbak maaf kok Aku jadi ngomelin Mbak, habis aku sedang emosi banget."
"Gak apa-apa Ning, Mbak mengerti kamu lagi banyak pikiran sehingga tak sengaja meluapkannya padaku," sahut Maya yang masih memegang sapu hendak menyapu lantai tetapi tidak diteruskan ketika melihat Ningroem lewat jadi malah mengobrol.
Wanita berlesung pipit merasa lega karena ternyata tetangganya tidak marah padanya.
"Ning," sapa Yesi tetangga kontrakan juga.
"Ada apa?"
"Bisa ikut aku, sekarang?" tanyanya.
"Kemana? Ngapain?" Ningroem balik bertanya.
"Karyawan di tempat Aku bekerja sakit. Aku sama si bos di suruh cari gantinya, kamu mau gak? gajinya harian lima puluh ribu, jika ingin diambil bulanan juga bisa," jelas Mbak Yesi.
"Aku mau lah kalau gaji segitu, tapi bagaimana dengan Denis?" Ningroem menatap Denis yang berada dalam gendongannya.
"Titipkan saja dulu sama Mbak Ratna, dia 'kan belum punya anak nanti upahin, bagaimana? Jadi kamu bisa kerja untuk membiayai hidupmu juga kedua anakmu."
Yesi memberikan saran pada Ningroem supaya dia tetap menghasilkan uang, anaknya juga ada yang menjaga.
"Hem betul juga, Aku tanya Mbak Ratna dulu deh? moga-moga dia mau Aku titipin Denis."
Ningroem bergegas pergi meninggalkan Yesi dan Maya yang sedang duduk di depan kontrakan.
Wanita berlesung Pipi melangkah menuju kontrakan sebelah rumahnya, tepatnya Rumah Mbak Ratna.
Mengetuk pintu, memanggil namanya.
"Mbak."
"Masuk saja, aku lagi di dapur. Lagi goreng ikan nanggung takut gosong!" teriak Ratna dari arah dapur
Ningroem yang sudah mendapatkan izin untuk masuk. Segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Ratna. Tercium bau harum ikan yang di goreng dari arah dapur memenuhi ruangan. Membuat perut Ningroem keroncongan karena sedari tadi belum diisi nasi. Namun, Ningroem tidak menghiraukannya karena ia menemui Rara bukan untuk menumpang makan.
Akan tetapi ada keperluan lain, ingin menitipkan anaknya beberapa jam saja pada Ratna. Supaya ia bisa mencari uang untuk menghidupi keluarganya sendiri. Ningroem mencoba untuk hidup mandiri tanpa bergantung pada Bram lagi. Mulai detik ini.
"Ada apa, Ning?" tanya Ratna setelah Mirna sampai di dapur.
Tangannya sibuk membolak balik ikan mujair yang berada di dalam wajan.
"Mbak, Aku mau minta tolong tapi bisa nggak, ya?" tanya Ningroem sedikit ragu ingin mengungkapkan keperluannya pada Ratna.
"Memang ada apa? kalau mau pinjaman uang? jujur Aku lagi nggak punya, Ning."
Ratna langsung menduga jika Ningroem ingin meminjam uang seperti hari-hari sebelumnya.
"Bukan, bukan itu maksudku, Aku hanya ingin titip Denis satu atau dua jam saja bisa enggak ya? nanti Mbak aku beri upah jagain nya."
Ningroem menjelaskan keperluannya pada Ratna.
"Boleh kalau hanya sebentar, Mbak, mau kerja lagi, ya?"
"Iya Mbak, aku jarang di kasih uang sama Mas Bram, kalau nggak nyari kami makan dari mana?" sahut Ningroem lirih.
"Mbak, percaya Denis sama Aku 'kan?" tanya Ratna meyakinkan Ningroem sekali lagi atas keputusannya menitipkan anaknya ke padanya.
"Tentu setahu Aku, Mbak orang baik jadi Aku percaya sepenuhnya sama, Mbak!" Jelas Ningroem mantap.
"Titip anakku ya Mbak, kalau Mbak lagi repot bisa taruh di roda saja. Dia anaknya anteng kok tidak rewel."
Ningroem melepaskan kain gendongan, menyerahkan Denis pada Ratna.
"Denis sama ibu dulu ya? mama pergi sebentar cari uang buat Dede.
Denis yang belum paham pada ucapan Ratna menangis.
Setelah mencium Denis yang masih menangis dalam gendongan Ratna. Ningroem menghampiri Yesi, yang telah menunggunya dari tadi di teras rumah Ningroem.
Kemudian Ningroem menghampiri Fahmi Setelah berpamitan pada anak sulungnya wanita berlesung pipi kembali menemui Mbak Yesi yang sedang menunggunya.
Ningroem yang masih merasa tak tega meninggalkan anaknya, berpesan sambil berjalan menghampiri Mbak Yesi.