Bab 1

Kegelapan malam menyelimuti Kota Driyver layaknya tirai besar.

Cahaya bulan menembus awan, menyinari gang-gang yang sempit.

Corinna Hudson membawa peralatan medis, buru-buru berjalan keluar dari sebuah rumah di gang.

Saat dia mencapai pintu masuk gang, sesosok tubuh ambruk ke arahnya.

Hidungnya menangkap bau darah menyengat yang memancar dari sosok asing itu.

Tanpa pikir panjang, dia menarik diri ke belakang dan sesaat kemudian, dia mengenali bahwa sosok itu adalah seorang pria.

Disertai bunyi gedebuk, pria itu terjatuh ke tanah. Dia pingsan sebelum dia bisa mengucapkan apa pun.

Corinna mendekat dengan hati-hati, mengerahkan tenaganya untuk membalikkan pria itu, dan mengenali wajah di depannya.

Pria itu tidak lain adalah Andres Spencer, pewaris terkenal dari keluarga yang terkemuka di Kota Driyver.

Dia mempertimbangkan risiko dan keuntungan dari campur tangannya. Keputusannya jelas dengan adanya potensi di mana situasi ini bisa menguntungkan untuknya.

Dia memeriksa napas Andres, samar tetapi masih bisa dirasakan.

Pria ini masih hidup, ada harapan untuk menyelamatkannya.

Dia menopang lengan Andres di bahunya dan perlu mengerahkan tenaga besar untuk mengangkat pria yang tidak sadarkan diri itu.

Mereka berjalan ke pintu tersembunyi di gang, pintu yang kemudian Corinna buka dengan sebuah kunci.

Tempat ini merupakan salah satu klinik rahasianya di area kumuh.

Di dalam, dia dengan sigap memindahkan Andres ke meja operasi.

Setelah melepas mantelnya yang basah oleh darah dan mengenakan snelli, dia mensterilkan peralatan bedahnya dan mulai menjalankan operasi.

Beberapa saat kemudian, peluru yang berlumuran darah berdenting saat mengenai nampan logam.

Corinna menghela napas lelah, operasi ini jelas menguras tenaganya. Kemudian dia menjahit luka Andres, memastikan lukanya telah ditangani dengan baik.

Akan tetapi, saat dia selesai ....

Pintu kliniknya dibuka paksa dari luar!

Tiba-tiba, sekelompok pengawal bersenjata berpakaian hitam menyerbu masuk ke dalam ruangan.

Beberapa pengawal segera mengelilingi Andres, yang masih tak sadarkan diri di ranjang operasi, sementara yang lain bergerak untuk mengamankan lokasi.

Seorang pengawal menempelkan laras pistol yang dingin ke pelipis Corinna, suaranya kaku saat dia bertanya, "Apa rencanamu dengan menyandera Pak Andres?"

Meski mendapat ancaman, Corinna tidak sedikit pun memperlihatkan rasa takut.

Dia melirik Andres dan memperhatikan jemarinya yang bergerak.

Sepertinya pria itu perlahan kembali sadar.

Perubahan situasi ini membuat kecemasannya makin berkurang.

Dia mempertimbangkan apa seseorang yang berpengaruh seperti Andres, seseorang yang dihormati di kedua sisi hukum, akan berterima kasih atas campur tangannya.

Rasa sakit melanda tubuh Andres, setiap gerakan kecil menimbulkan rasa nyeri tajam yang membuatnya berkeringat.

"Lepaskan wanita itu." Suara Andres lemah tetapi tetap berwibawa saat berbicara.

"Kalian semua keluar."

Meskipun kondisinya lemah, karisma dalam suaranya tidak terelakkan dan para pengawal tidak ragu-ragu untuk mematuhinya.

Mereka segera pergi, meninggalkan Corinna dan Andres berduaan di dalam klinik tersebut.

Corinna memanfaatkan momen ini untuk duduk di kursi terdekat, menyilangkan kakinya dengan santai.

Dia mengamati Andres dengan lekat, tidak mengucapkan sepatah kata pun.

"Kamu yang menyelamatkanku?" Suara Andres terdengar sedikit curiga.

Corinna hanya menjawab dengan singkat, ketenangannya tidak tergoyahkan.

Andres meringis kesakitan saat menyentuh lukanya. "Sebagai tanda terima kasih, aku bersedia membantumu dalam satu hal. Apa ... yang ingin kamu minta?"

Corinna menyandarkan diri ke belakang, pura-pura memikirkan jawaban atas pertanyaannya.

"Anggap saja aku akan meminta bantuan yang kamu janjikan itu di lain waktu."

Nada suaranya santai, tapi dia sudah mempertimbangkan hubungan ini bisa membuka banyak kemungkinan baru.

Andres terkenal di Kota Driyver, merupakan sosok tangguh yang tidak bisa dianggap remeh.

Mengingat tantangan yang dihadapi Corinna sekarang, tentunya sangat berharga mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan seseorang seperti Andres.

"Hubungi aku jika kamu membutuhkan bantuanku," ucap Andres, memberikan kartu nama ke arahnya sambil perlahan bangkit dari tempat tidur.

Corinna menyaksikannya pergi, sebuah senyuman terbentuk di bibirnya.

Menyelamatkan tokoh penting seperti Andres bukanlah bagian dari rencananya, tetapi di sinilah dia, mungkin selangkah lebih maju dari harapannya karena campur tangan ini.

Bab 2

Di dalam mobil, Andres sedang mempelajari dokumen yang baru saja diserahkan padanya.

Nama wanita yang menyelamatkannya barusan adalah Corinna Hudson.

Ada masa di mana Keluarga Hudson di Kota Driyver pernah menjadi keluarga terkemuka.

Jeff Hudson dan Sandra Rampton, kakek dan nenek Corinna, pernah menjadi tokoh terpandang di dunia medis, tapi sayangnya mereka meninggal dalam usia yang terbilang muda.

Putra mereka yang bernama Brad Hudson, meneruskan warisan keluarga dan kemudian menikah dengan Rachael Brown, putri dari keluarga lain yang bergerak dalam dunia medis. Corinna adalah putri dari pasangan suami istri ini.

Namun, ketika Corinna baru berusia satu tahun, Keluarga Hudson tertimpa kemalangan dan tidak lagi sesukses dulu.

Rachael tiba-tiba mengidap penyakit mental yang parah dan dirawat di sanatorium untuk menerima perawatan jangka panjang.

Brad menceraikan Rachael, dan di tahun yang sama dia menikahi istrinya yang sekarang, Monica Lambert.

Enam bulan setelah pernikahan mereka, Monica melahirkan seorang putri, Cassie Hudson, dan dua anak kembar pada tahun berikutnya.

Alhasil, Corinna yang sudah tidak disukai Keluarga Hudson merasa kehidupannya di rumah semakin tidak tertahankan.

Dia cukup beruntung karena masih bisa bertahan hidup sampai sekarang.

Andres menutup laporan tersebut dan merenung dalam diam saat tangannya terulur untuk menyentuh lukanya.

Sudah lama rasa sakitnya berubah menjadi mati rasa.

"Pak, sudah waktunya untuk kembali," ucap asistennya, Kevin Curtis, dari kursi depan, dia berbalik untuk mengingatkannya dengan hati-hati.

Andres mengangguk dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran untuk mengistirahatkan matanya.

Berita tentang penyergapannya yang baru saja terjadi mungkin sudah sampai ke telinga keluarganya. Jika dia tidak segera kembali, kekacauan akan terjadi.

Pada sore hari berikutnya, Corinna yang mengenakan pakaian hitam sekaligus topi dan masker muncul di gang.

Pasien yang dia rawat malam sebelumnya telah sepenuhnya sadar hari ini, dan dia ada di sana untuk menerima pembayaran terakhirnya.

Saat dia memasuki gang dan berjalan sedikit jauh, dia tiba-tiba berhenti.

Area ini lebih sunyi dibandingkan biasanya, dan ada sesuatu yang terasa aneh.

Setelah ragu selama beberapa saat, dia berbalik untuk pergi.

Namun. di ujung gang, dia dihadang oleh ayahnya, Brad.

Sekelompok pengawal berpakaian hitam muncul dengan cepat dan mengepungnya.

Ekspresi Brad sedingin es saat dia angkat bicara. "Sudah berbulan-bulan sejak terakhir kali kamu pulang ke rumah. Apa menurutmu tempat ini jauh lebih baik daripada rumahmu sendiri?"

"Ayah, bagaimana tempat ini bisa dibandingkan dengan rumah keluarga kita?" balas Corinna, suaranya dipenuhi sindiran.

Akan tetapi, tempat yang mereka sebut sebagai rumah bukanlah rumahnya.

"Kalau begitu, pulanglah sekarang," perintah Brad.

Segera setelah dia selesai berbicara, dua pengawal muncul di samping Corinna dan membawanya dengan paksa untuk masuk ke dalam mobil.

Tersembunyi di sudut yang gelap, seorang penonton yang jeli mengamati segalanya. Setelah Brad dan anak buahnya pergi, pengamat ini mengirimkan pesan dengan cepat.

Kevin menerima pesan ini dan segera melapor pada Andres.

"Pak, apa kita perlu turun tangan?"

Suaranya menyampaikan kekhawatirannya, Brad dan anak buahnya tidak terlihat seperti orang baik.

Andres menjawab dengan suara tenang penuh wibawa, "Mari kita tunggu sebentar lagi."

"Baik, Pak!" Kevin mengiakan dengan patuh.

Kembali ke mansion Keluarga Hudson, Corinna didorong ke aula.

"Berlutut!" Tanpa basa-basi, dia diperintahkan untuk berlutut.

Corinna dipaksa berlutut di lantai yang dingin, dan maskernya dilepas, memperlihatkan tatapan tanpa rasa takut yang tidak tergoyahkan.

Brad berdiri tinggi di atasnya, menginterogasinya dengan nada tanpa ampun. "Apa kamu diam-diam mempelajari ilmu kedokteran?"

"Tidak," balas Corinna dengan suara dingin dan penuh tekad.

Derak keras cambuk yang mengenai daging bergema di aula, membuat semua adik tiri Corinna tanpa sadar bergidik.

Namun, orang yang dicambuk, Corinna, tampaknya tidak sedikit pun terpengaruh oleh rasa sakit. Dia mengatupkan giginya, secara keras kepala tetap diam.

"Jangan berpikir kamu bisa menipuku!" teriak Brad, tangannya mencengkeram cambuk dengan semakin erat. "Seseorang memberitahuku bahwa kamu diam-diam mempelajari ilmu kedokteran dan bahkan berani mengobati orang! Dan sekarang kamu masih tidak mau mengaku?!"

Raut wajah Corinna menjadi pucat pasi, tapi semangatnya tidak tergoyahkan, suaranya bahkan terdengar lebih tegas. "Aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Kenapa aku harus mengakui hal yang tidak kulakukan?"

"Bagus, jadi kamu berkata bahwa informasi yang kuterima salah?" Brad mengayunkan cambuknya lagi.

Corinna mengepalkan tangannya, tekadnya semakin kuat. "Aku tidak tahu dari mana Ayah mendapatkan informasi itu, tapi aku tidak diam-diam mempelajari ilmu kedokteran atau diam-diam merawat siapa pun. Jika Ayah meragukan kata-kataku, bawa informan Ayah ke sini, dan mari kita ungkap kebenarannya bersama-sama."

Bab 3

Melihat sikap Corinna yang tetap teguh dan bersiap menghadapi apa pun yang menghadangnya, Brad mendapati kepercayaan dirinya goyah untuk sesaat.

Istrinya, Monica, menghampirinya dan berkata, "Brad, bagaimana kamu bisa begitu kejam terhadap Corinna? Bahkan jika dia mempelajari ilmu kedokteran secara diam-diam, dia hanya meneruskan warisan ibunya. Ingat, Rachael dulu memang seorang dokter yang disegani sampai kesalahan bedah itu terjadi karena penyakitnya."

Brad semakin marah saat istrinya menyebutkan hal ini. Dia mengangkat tangannya dan mencambuk Corinna lagi. "Kamu masih tidak mau mengaku?!"

Terkena cambukan lain, wajah Corinna menjadi pucat pasi. Namun, matanya tidak menunjukkan pertanda dia akan menyerah. Sorot matanya makin menantang saat menatap Monica.

"Beraninya kamu membicarakan ibuku? Ibuku adalah salah satu dokter terbaik di dunia. Kalian berdua tahu betul apa penyebab di balik penyakitnya!"

Dia tidak tahu semua detailnya, tetapi setidaknya dia menyadari hal kecil ini.

Kesehatan ibunya semakin memburuk setelah mengetahui Brad berselingkuh dengan Monica.

Bagaimana mungkin dua orang ini begitu berani berbicara tentang ibunya di hadapannya?

Kebencian di mata Corinna membuat Brad merinding ketika dia mengingat hari ketika Rachael memergokinya berselingkuh dengan Monica.

Rachael tidak menunjukkan tanda-tanda kehilangan akal sehatnya. Dia hanya menatap mereka, sorot matanya tenang dan penuh penghinaan, seolah-olah mereka hanyalah kotoran di bawah sepatunya.

Wanita itu memandang rendah mereka berdua.

Ekspresi wajah Rachel kala itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa Brad hapus dari ingatannya.

Rachael selalu menjadi pujaan banyak orang, selalu menjadi yang lebih unggul. Di samping mantan istrinya itu, Brad selalu merasa rendah diri.

Di mata semua orang, dia hanyalah suami Dr. Rachel.

Dia sangat membenci perasaan itu.

Malam itu adalah malam yang paling membanggakan bagi Brad, karena dia merasa telah menghancurkan harga diri Rachael.

Namun, itu juga merupakan hal yang paling memalukan, karena Rachael sepenuhnya mengabaikan mereka, memperlakukan mereka seolah-olah mereka tidak lebih dari orang bodoh.

Kata-kata mengejek dan tatapan menantang Corinna mengingatkan Brad akan perasaan rendah diri yang sering dia rasakan saat berada di dekat Rachael.

Kejengkelannya dengan cepat berubah menjadi kemarahan, dan dia mencambuk Corinna dengan sekuat tenaga untuk melampiaskan amarahnya.

"Siapa yang mengajarimu bicara seperti itu?!" bentak Brad, suaranya dipenuhi amarah. Setiap pukulan cambuknya sepertinya bertujuan untuk membunuh Corinna.

Meski seluruh tubuhnya gemetar, Corinna tidak menundukkan kepalanya. Sebaliknya, dia menjawab dengan sinis, "Apa yang Ayah lakukan akan kembali pada Ayah sendiri. Semuanya hanya masalah waktu."

"Dasar anak durhaka!" Dibutakan oleh amarahnya, serangan Brad semakin tidak kenal ampun.

Di aula yang sunyi, suara cambuk yang menghantam daging bergema dengan keras.

Adik-adik tiri Corinna menyaksikan pemandangan ini dengan sorot mata dingin, beberapa bahkan menikmati penderitaan Corinna, diam-diam berharap dia tidak akan selamat dari amukan ayahnya.

Brad kelelahan karena mencambuk Corinna, tidak dapat menghitung seberapa banyak dia telah mencambuk putrinya itu.

Corinna terbaring meringkuk di atas lantai yang dingin, berlumuran darah dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Barulah di saat ini, Monica melangkah maju dan turun tangan. "Brad, apa yang kamu lakukan? Corinna masih muda. Dia mungkin blak-blakan, tapi aku yakin dia hanya belajar ilmu kedokteran secara diam-diam untuk mengikuti jejak ibunya."

Untuk mengikuti jejak ibunya.

Gagasan itu justru memicu kepahitan yang membengkak dalam diri Brad.

Rachael merupakan hantu yang telah menghantui Brad sepanjang hidupnya, dan sekarang dia melihat warisan wanita itu dalam diri putrinya yang terus-menerus mengingatkannya akan kekurangan dan kegagalannya sendiri.

"Baik! Karena dia begitu hebat, kalau begitu kita tidak perlu memanggil dokter ke sini untuknya. Biarkan dia mengobati dirinya sendiri!" seru Brad, suaranya dipenuhi sindiran.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED