Bab 2

“Mulai hari ini dan seterusnya kamu nggak usah buatin Mas bekel kerja lagi,” ujar Bima datar.

“Emang kenapa, Mas?”

“Kalau dibilang nggak usah ya nggak usah, lagian kan kasian kamu repot tiap pagi nyiapin bekel. Aku kan masih bisa beli di luar.”

“Tapi, Mas aku nggak pernah ngerasa direpotin, kamu kan suami aku dan itu emang udah kewajiban aku sebagai istri kamu.”

“Dan patuh sama perintah suami juga kan kewajiban seorang istri, bener nggak?” tanyanya menegaskan.

Aisyah menarik napas dalam, “Iya, Mas.”

Bima bergegas berangkat kerja sedangkan Aisyah segera bersiap-siap ke luar rumah sebelum teman-teman mertuanya datang.

“Ma, semuanya sudah Aisyah siapin. Aku pamit ya.” Aisyah bersalaman lantas pergi

Aisyah sudah lama diperlakukan menjadi orang asing hanya karena ia belum bisa memberikan keturunan untuk keluarga Bima meskipun demikian ia tak pernah menceritakan kepedihannya itu sedikit pun pada kedua orang tuanya. Perempuan malang itu berusaha sendiri mencari berbagai pengobatan medis ataupun herbal, namun hingga sekarang tak kunjung membuahkan hasil, saat-saat kritis seperti itu tak sedikit pun perhatian Bima tertuang padanya alih-alih memberikan support pada istrinya, Bima justru semakin membuat Aisyah terpuruk dalam keadaan itu. Aisyah seorang yang kuat dan pantang menyerah, ia tetap mempunyai harapan kelak ia bisa menjadi seorang ibu walau ia harus berjuang sendiri.

“Mas, aku udah masakin ceker ayam balado kesukaanmu,” ucap Aisyah sembari melontarkan senyum.

“Aku udah makan di luar tadi, kamu makan aja sendiri,” sahut Bima datar.

“Tumben, Mas makan di luar? Udah laper banget ya, Mas? Kalau besok-besok kayak gitu lagi Aisyah boleh kan bawain langsung ke kantor?”

“Kamu kok cerewet banget sih! Kamu mau mempermalukan aku di depan teman-teman kantor? Di bawain bekal segala kek anak kecil,” ucap Bima kesal.

“Aku kan nanya baik-baik, Mas. Nggak perlu marah-marah juga kan? Kalau Mas nggak mau aku nggak maksa kok.”

“Kamu ini emang hobi buat suami kamu marah ya!” timpal wanita tua itu dari ruang makan.

“Maaf, Ma.”

“Udah mending kamu jauh-jauh deh, Mas mau istirahat daripada panjang lebar urusannya aku males debat hari ini.”

“Di luar dingin, Mas. Mas mau aku siapin air anget buat mandi?”

“Kamu ini budek atau apa sih? Udah nggak usah peduli, sana jauh-jauh ilfeel aku liat kamu lama-lama.”

Aisyah mengelus dada, “Astagfirullah, Mas.”

Mertua Aisyah hanya menatap tajam perempuan malang itu, berdalih menasehati anaknya agar tak berlaku demikian pada istrinya seperti biasa wanita tua itu sudah pasti akan membela anaknya yang sudah nyata salah.

“Mas, kamu sibuk nggak?”

“Kenapa?” sahutnya sembari menggosok-gosok rambutnya yang masih basah.

“Aku mau bicara masalah penting,” ucap Aisyah ragu.

“Masalah apa?”

“Kalau, Mas bulan ini nggak sibuk. Mas mau nggak kita jalanin program hamil lagi?”

Bima menepuk jidat, “Gila kamu ya! Ini udah yang keberapa kali? Kalau udah nggak bisa nggak usah mimpi deh kamu.”

“Mas! Bisa nggak kamu, nggak usah ngerendahin aku kayak gitu. Aku ini siapa sih di mata kamu? Kamu tu suami aku Mas harusnya kamu dukung aku di kondisi kayak gini.”

“Ya emang kenyataannya kayak gitu, kalau emang bisa udah dari dulu kamu hamil!”

“Mas, usaha itu dari kita berdua. Selama ini yang usaha itu cuma aku, berobat ke sana ke mari lagian selain kesehatan tubuh pentingnya menjaga kesehatan mental itu perlu! Kalau Mas bersikap kayak gini terus ke aku, aku lama-lama bisa stres tau nggak,” ucap Aisyah gemetar.

“Lagian kamu mimpinya ketinggian, aku kan udah bilang dari dulu kamu itu emang nggak bisa hamil! Udahlah terima nasib aja susah banget.”

“Mas! Sejak kapan sih hati nurani kamu hilang Mas? Mungkin ini sebabnya Allah belum ngasi kita keturunan. Kamu jadi suami yang baik untuk aku aja nggak bisa apalagi jadi seorang ayah nanti,” sahut Aisyah geram.

Tangan Bima meraih mulut Aisyah dan memegangnya dengan keras, “KAMU KALAU BICARA DIJAGA YA!” pekik Bima.

“Apa lagi ini, Mas? Akhir-akhir ini kamu udah banyak berubah! Sekarang kamu udah berani main tangan sama aku?” ucap Aisyah ketakutan.

Bima menatap Aisyah tajam dengan napas yang menggebu, “Sekali lagi aku kasi tau ke kamu ya! Kalau ngomong sama aku itu dijaga mulutnya, Paham!”

Pertikaian di antara keduanya semakin memanas.

“Mas, kenapa sih? Aku salah apa sama kamu, Mas.” Aisyah sudah tak bisa lagi membendung air matanya

“Kenapa? Kenapa? Kenapa? Aku muak dengar pertanyaan itu, kapan sih kamu sadar diri! Aku tuh capek tau nggak, capek! Aku sekarang cuma punya Mama dan sampai sekarang aku belum bisa bahagiain dia dan itu semua karena aku nikah sama perempuan MANDUL!”

Bab 3

Tepat pukul 10 malam handphone Bima berdering, namun Bima terlalu hanyut dalam tidurnya. Aisyah pun tersadar akan dering handphone Bima yang terus saja berbunyi.

“Siapa sih?” gumam Aisyah.

“Jihan (membaca nama kontak yang menelepon).”

Mata Aisyah terbelalak ketika menyadari siapa gerangan yang menelepon suaminya sedari

tadi, “Ngapain Jihan nelepon Mas Bima malam-malam? Hmm … mungkin karena hp aku mati

kali ya makanya Jihan nelepon ke Mas,” gumamnya dalam hati.

Aisyah kembali meletakkan handphone Bima di meja dan membiarkannya karena sudah larut malam. Tak lama kemudian handphone Bima kembali berdering, kini Aisyah tak berusaha untuk mengangkatnya lagi dan beralih membiarkannya, namun hal yang tak disangka terjadi Bima beranjak dari tidurnya dan segera mengangkat telepon. Aisyah dengan perasaan penuh tanya hanya bisa memperhatikan suaminya itu dari tempat tidur dan berpura-pura tidak melihatnya. Bima merogoh jaket dari lemari, tampak berkemas-kemas kemudian beranjak pergi dari kamar.

“Mas Bima ngapain keluar malam-malam gini?” gumam Aisyah dalam hati.

Keanehan yang terjadi membuat Aisyah semakin bertanya-tanya, terbesit dalam pikirannya alasan Bima pergi karena setelah menerima telepon dari seseorang yang bernama Jihan yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Perempuan malang itu pun menunggu suaminya dengan penuh kecemasan, namun tetap berusaha berpikir positif bahwa apa yang ia pikirkan bukanlah hal yang benar.

“Habis dari mana, Mas?” tanya Aisyah penasaran.

“Kamu ngapain bangun jam segini?” jawab Bima berkilah.

“Harusnya aku yang nanyain kamu, Mas. Larut malam malah ke luar rumah dan nggak bilang ke aku.”

“Emangnya kamu siapa? Rumah-rumah aku kok malah kamu yang ngatur sih!”

“Hebat kamu, Mas. Bisa ya kamu amnesia kalau aku ini istri kamu!”

“Bodo amatlah, mau aku pergi jam berapa, sama siapa itu bukan urusan kamu lagi.” Bima lantas pergi ke kamar di tengah percakapan mereka yang belum selesai sedangkan Aisyah hanya bisa menghela napas panjang dan mengelus dada.

“Permisi, selamat pagi!” seru wanita dari luar rumah.

Bima bergegas menghampiri suara tersebut, baru sampai di depan pintu matanya terbelalak kaget karena wanita yang datang ke rumahnya itu adalah Jihan.

“Dompet kamu semalem ketinggalan di kamar aku,” ucap Jihan dengan polosnya.

“Kamu ngapain ke sini segala sih! Aku kan bisa ambil sendiri ke sana!” jawab Bima dengan nada ketakutan.

“Ya aku pikir itu kan dompet isinya hal-hal penting kalau kamu urgent gimana?”

“Ya … ya makasi, udah sana cepat pulang!” titah Bima yang mulai gelagapan.

“Kok kamu malah ngusir aku sih!” ucap Jihan kesal.

“Sayang, kamu pulang dulu, ya. Nanti sore aku janji ke sana sepulang ngantor,” sahutnya lembut.

“Janji ya!”

“Iya, sayang.” Sembari mengusap-usap rambut Jihan

Sementara itu terdengar langkah kaki Aisyah sedang mendekati mereka berdua. Bima semakin terlihat gelagapan dan muncul keringat di keningnya.

“Siapa, Mas?” tanya Aisyah dengan polosnya.

“Hai, Ya!” sapa Jihan dengan tenangnya.

“Lo … Jihan,” jawab Aisyah sedikit bingung.

Aisyah menatap Bima yang tak berkutik sedikit pun dan kembali memperhatikan Jihan yang berada di hadapannya sepagi ini, “Jihan, tumben kamu ke sini, ada apa?”

“Aku (sembari menoleh ke arah Bima) Aku kangen lah sama kamu Ya, makanya aku jalan-jalan ke sini,” jawab Jihan berkilah.

“Sepagi ini? Emang kamu nggak ada kerjaan ya di rumah?” tanya Aisyah masih penasaran.

“Kamu ini yang sopan dikit kenapa! Ada tamu bukannya dipersilahkan masuk malah ditanya-tanya kek wartawan,” timpal Bima yang sudah bisa bernapas lega, karena Jihan tak mengatakan yang sebenarnya kepada Aisyah.

“Maaf, Mas. Jihan ayo masuk.” Aisyah mempersilahkan Jihan untuk masuk dengan polosnya, bahkan ia sendiri tak tahu kalau yang ia sambut dengan baik adalah wanita simpanan suaminya sendiri.

“Ma, Mama ke sini sebentar. Ada yang mau Bima kenalin ke Mama.” Bima terlihat sangat bahagia dan semangat akan kehadiran Jihan ke rumahnya

“Iya, kenapa?”

“Kenalin, Ma. Ini Jihan temennya Aisyah."

Aisyah yang sedang sibuk membuatkan minuman untuk Jihan hanya bisa menatap mereka bertiga bercengkrama akrab, untuk pertama kalinya Aisyah merasa seasing ini di rumah suaminya saat melihat Jihan sangat dekat dengan suami dan mertuanya, padahal yang menjadi istri Bima adalah Aisyah tetapi ia malah merasa seperti pembantu dan orang asing.

“Ow Jihan, ini ma Mama tau. Sahabatnya Aisyah kan, yang dulu pernah ke sini!”

“Iya, tante.”

“Ke mana aja kamu baru kelihatan? Sering-sering main ke sini ya, tante kesepian di rumah.”

“Iya, tante pasti. Belakangan ini emang lagi sibuk-sibuknya ngurus anak agak rewel.”

“Wah, sudah punya anak ternyata, pasti seneng banget ya mama mertua kamu nggak kesepian di rumah kayak tante, punya mantu tapi MANDUL!”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED