“Mas, jangan!” suara teriakan wanita terdengar sangat keras.
“Kamu harus diberikan pelajaran supaya tidak membantah lagi!” Lelaki itu memukulinya.
“Aku tidak akan melakukannya lagi, Mas. Maafkan Aku.” Dia memohon dengan bersujud di kaki lelaki yang adalah suaminya.
“Sesekali Kamu harus diberikan pelajaran.” Lelaki itu tidak peduli dengan istrinya yang memohon ampun kepadanya, dia malah menyeretnya ke dalam kamar.
“Berikan saja dia pelajaran supaya tidak membantah lagi!” teriak ibu mertua memprovokasi.
Suaminya itu menutup pintu dengan keras, dia menyeret dan mendorong wanita malang membuatnya terjatuh di atas ranjang. Tempat biasa mereka pakai untuk saling memberikan kasih sayang, lalu berbagi kehangatan di sana.
“Sudah beberapa kali Aku katakan supaya tidak mencuri di rumahku ini dan menuruti apa yang ibuku katakan kepadamu. Tetapi, kenapa Kamu malah melakukannya lagi!” hardiknya.
“Aku lapar, Mas. Sudah seharian penuh tidak memakan apa pun,”
“Jangan berbohong kepadaku! Kamu sudah diberikan ibuku makankan? Kenapa malah mencuri makanan yang disiapkan untuk adik dan keponakankku?!” tanyanya dengan suara meninggi.
“Aa-ku tt-idak diberikan sedikit pun,” jawab wanita itu dengan tubuh gemetar.
“Sudah Aku katakan jangan berbohong, masih saja!” Lelaki itu malah melepaskan ikat pinggang yang dia pakai.
Lelaki yang mengangkat ikat pinggang adalah bernama Reynald Adrian dan seorang wanita yang sedang gemetar ketakutan itu bernama Riana Anita. Pernikahan mereka sudah berjalan selama 5 tahun tetapi, masih belum kunjung memilik keturunan. Makanya membuat Rey menyalahkan Riana yang tidak kunjung hamil. Belum lagi ibu Mayang selaku mertua Riana ikut memprovokasi anaknya supaya membenci istrinya itu.
“Rey, cepat keluar! Serly dan anaknya sudah datang,”
“Sebentar lagi, Ibu,”
“Tidak usah pedulikan istrimu yang tidak berguna itu, temui saja keluargamu yang datang!”
“Iya.” Reynald memasang kembali ikat pinggang yang sudah dia lepas.
Lelaki itu meminum segelas air yang berada di atas nakas, lalu bergegas keluar menghampiri sang ibu. Riana merasa lega, dia beringsut mundur ke sudut ruangan. Menutupi wajahnya dengan kedua belah tangan dan kemudian menangis terisak, meratapi pilihan yang telah dia buat.
Reynald Adrian. Lelaki berumur 25 tahun, berwajah tampan dengan rahang yang tegas, berhidung mancung, dan memiliki tinggi 164 cm. Lelaki yang berhasil membuat Riana menjadi sangat menyukainya, padahal wanita itu sewaktu gadis banyak sekali lelaki yang menyukainya. Riana yang cantik, manis dan lugu, membuat semua lelaki menjadi tergila-gila kepadanya. Hanya saja dia tidak bisa menatap orang lain selain Reynald.
Ternyata pilihan yang dirinya buat sangatlah salah, lelaki tampan itu memiliki sifat yang buruk. Temperamen, posesif, dan sangat pecemburu, Riana disapa oleh lelaki lain saja dia menjadi marah. Padahal hanya sekedar bertegur sapa saja membuat lelaki itu marah dan mengurungnya di dalam rumah. Tidak membiarkannya untuk pergi me mana pun seorang diri.
“Riana Anita, kemari Kamu!” teriak ibu mertuaku dari luar.
Riana bergegas membersihkan sisa-sisa air mata yang mengalir dengan begitu derasnya. Lalu pergi keluar untuk menghampiri ibu meruanya.
“Ada apa, Bu?”tanyanya pelan.
“Enak banget ya tiduran di kamar, padahal Kamu tahu kalau adiknya dan keponakkan Rey sudah datang!”gerutu ibu.
“Maafkan Aku, Bu,” katanya murung.
Riana tidak mau berdebat dengan mertuanya, dia memilih mengalah saja dari pada harus menjadi sasaran amarah dari suaminya nanti.
“Istrimu ini sangat tidak berguna sekali ya. Coba lihat tubuhnya yang amat kurus seperti tengkorak hidup berjalan,” ejek Serly terkekeh kecil.
“Iya, memang dia istri yang tidak berguna. Aku tidak tahu kenapa Rey malah mempertahankannya sebagai istri,” ejek Mayang.
“Riana, tolong siapkan makanan sekarang di meja!” perintah Reynald.
“Baik, Mas.” Riana berjalan menjauh menuju dapu.
Sesekali wanita itu menoleh ke belakang melihat suaminya yang tengah menggendong anaknya Serly. Ada rasa cemburu di dalam hati kepada sepupu suaminya itu. Ya, benar, Serly adalah adik sepupu Reynald. Wanita yang sangat cantik sekali, Riana merasa tidak percaya diri disamping wanita itu.
Serly bukanlah seorang janda, dia memiliki anak tanpa adanya seorang suami. Wanita itu hamil diluar nikah, karena terlalu bebas dalam bergaul. Dia sering sekali keluar masuk klub malam dengan bergonta-ganti pasangan.
“Makanannya sudah siap,” kata Riana.
“Ayo, Ser kita makan dulu.” Ibu Mayang menggandeng mesra tangan Serly membawanya ke meja makan.
Riana menatap dengan tersenyum kecut, selama mejadi menantu di rumah ini tidak pernah diperlakukan seperti Serly. Padahal dia selalu menuruti apa yang diperintahkan kepadanya dan tidak pernah melawan. Tetapi, tidak pernah sekali pun dapat perlakuan manis atau sekedar senyuman untuknya.
“Mas, Aku belum makan apa pun.” Riana menahan lengan baju suaminya yang mau menghampiri kedua wanita yang sudah lebih dulu ke meja makan.
“Kamu makan nanti saja, tolong asuh Leo dulu sebentar. Kasian ibunya mau makan nanti malah mengganggu.” Reynald menyerahkan bayi berumur empat bulan itu kepada Riana.
Riana menyambutnya dengan perlahan, padahal tubuhnya gemetaran sedari tadi karena belum memasukkan apa pun ke dalam perutnya. Saat mengambil sedikit lauk untuk dirinya makan tadi, dibuang ibu Mayang ke lantai. Baru diadukan kepada Reynald tentang kelakuan yang dia lakukan, mencuri sepiring nasi dan sedikit lauk untuk sarapan.
“Mas, coba lihat ke sini,” kata Serly.
“Apa?” tanya Reynald.
“Coba aa!” Serly mengarahkan satu sendok penuh makanan ke mulut Reynald.
“Aku bisa makan sendiri, Ser,” tolak Reynald.
“Sekali saja kok,” rengek Serly manja.
Reynald masih bergeming, dia tidak mengiraukan rengekan adik sepupunya itu.
“Apa Mas jijik denganku? Karena Aku bekas banyak orang.” Serly menurunkan sendok yang masih mengarah ke Reynald.
“Bukan begitu,” sanggah Reynald.
“Lalu apa?” tanya Serly dengan mata berembun.
“Ayolah, Rey. Sekali ini saja!” titah Ibu Mayang.
Reynald menghela napas berat, dia memandang ke arah Riana yang terlihat masih setia menjaga Leo. Wanita itu pura-pura tidak melihat dan mendengar pembicaraan yang berlangsung di meja makan sana.
“Baiklah, hanya satu suap saja,” kata Reynald.
Serly menjadi bahagia mendengar kalau Reynald mau menerima satu suapan yang diberikannya. Dia mengarahkan sendoknya dengan penuh cinta kepada lelaki yang adalah kakak sepupunya.
“Begitu dong,” kata ibu Mayang senang.
Sedangkan Riana memalingkan wajahnya, dia diam-diam menitikkan air matanya melihat itu.
“Makan yang banyak, Mas.” Serly menyodorkan bebrapa lauk untuk Reynald.
“Iya.” Reynald mengambil pemberian Serly.
“Enak sekalikan masakan Ibu?” tanya ibu Mayang.
“Sangat enak sekali dong, Bu. Bahkan Aku makan sangat banyak,” puji Serly.
“Bukankah Riana yang masak?” tanya Reynald.
“Riana? Dia tidak membantu ibu sama sekali, malah setelah masak dia memakannya sampai beberapa kali!” gerutu ibu Mayang.
Reynald memandangi Riana yang langsung melirik ke arahnya karena mendengar tuduhan ibu mertua. Wanita malang itu menggelengkan kepalanya, pertanda bahwa tuduhan itu tidak benar.
Seketika Serly malah bersendawa, karena terlalu banyak menyantap hidangan yang ada. “Kenyang sekali,” kata Serly.
“Memang masakan ibu tidak ada bandingannya kan?” tanya ibu Mayang yang sebenarnya meminta dipuji.
“Tentu dong, Tante.” Serly bergelayut manja di lengan tantenya itu.
“Bagaimana dengan kabar kedua orang tuamu sekarang, apa mereka baik-baik saja?” tanya ibu Mayang.
“Baik dong, mereka sedang sibuk di London mengerjakan beberapa proyek,” jawab Serly acuh.
“London! Katakan kepada mereka bawakan Tante oleh-oleh dong, Aku kan ingin juga memiliki barang yang dijual di London sana,” rengkek ibu Mayang.
“Tentu, nanti Aku akan bilang kepada ibuku,” kata Serly santai.
“Kamu emang keponakan terbaik, Tante. Tidak seperti anak dari adik-adik Tante yang lain,” keluh Ibu Mayang.
“Tentu dong, Tante,” kata Serly.
“Andai Rey belum menikah pasti Kamu yang akan menjadi menantu Tante,” harapnya.
“Aku mau kok jadi yang kedua, Tante.” Serly mengedipkan matanya kepada Reynald yang masih duduk di kursinya.
“Sayang wanita itu pasti tidak akan mau dimadu, coba saja Rey mau menceraikan Riana. Pasti kalian akan bisa menikah,”
Reynald tidak menggubris pembicaraan ibunya dan adik sepupunya. Dia memilih mendekati Leo yang berada diasuhan Riana, wanita itu menjadi diam sejak pembicaraan yang dilakukan kedua wanita berbeda umur di meja makan.
Memang masih terdengar di telinganya pembicaraan itu, karena hanya bersebelahan dengan tempat di mana dia menjaga Leo. Bayi kecil itu memang tidak bisa terlalu jauh dengan ibunya, Leo akan menangis kalau tidak melihat wajah sang ibu terlalu lama.
“Makan sana! Kamu tadi bilang belum makan kan?” perintah Reynald.
Riana menyerahkan bayi kecil kepada Reynald, lelaki itu segera menyambut sang bayi dengan lembut. Memang sebenarnya sifat suami Riana adalah baik, hanya saja ia selalu dihasut ibunya untuk membencinya.
Riana berjalan ke arah meja makan, dia melihat beberapa piring kotor yang masih berserakan di meja makan tanpa ada yang membereskannya. Membuat ia menghela napas panjang.
'Aku makan saja dulu, baru bereskan ini semua.' batin Riana didalam hati.
Wanita itu tersenyum sambil membuka tudung mencari makanan yang ia masak tadi, Riana mengira kalau masih ada sisa karena suaminya menyuruhnya untuk makan. Kecewa! Itulah yang dia rasakan sekarang, saat membuka tudung saji yang ternyata tidak ada apa pun di sana. Hanya beberapa piring kotor tanpa ada sedikit pun sisa makanan yang terlihat.
Riana berjalan dengan menundukkan kepalanya mendekati sang suami yang masih diam di tempatnya berada. “Mas, tidak ada lauk sedikit pun untuk Aku makan,” kata Riana sedih.
“Mungkin sudah dihabiskan oleh Serly tadi, karena dia sangat lahap memakannya tadi,” kata Reynald acuh.
“Mas Aku belum makan,” rengek Riana.
“Beli saja lauk di luar untuk makan.” Reynald menyerahkan selembar uang berwarna merah kepada Riana.
Dengan mata berbinar wanita itu mengambil uang yang diberikan kepadanya.
“Untuk ibu saja.” Ibu mayang merampas uang yang sudah berada di tangan Riana.
“Tapi, Bu. Uang itu untuk membeli lauk makanku,” kata Riana gugup.
“Bukankah Kamu sudah makan sangat banyak tadi?” Kata Ibu Mayang dengan melotot tajam.
“Aku belu-“ kata Riana terpotong.
“Rey, tambahin lagi dong. Ibu dan Serly mau jalan sebentar keluar, jadi kami titip Leo ya,” rengek sang ibu dengan wajah dibuat memelas mungkin.
“Berikan uang itu kepada Riana, Bu. Dia bilang belum makan,” pinta Reynald.
“Dia sudah banyak makan, Rey! Apa Kamu tidak percaya dengan Ibumu ini?”
Reynald menghela napasnya panjang, lelaki itu memilih diam tanpa menyahut dan memberikan uang seperti yang ibunya minta. Tetapi, saat mengeluarkan dompet dari saku celananya, sang ibu malah mengambil semua uang yang berada di dalamnya.
“Terima kasih, Rey,” kata ibu Mayang senang.
Serly dan Mayang segera pergi tanpa menengok ke belakang lagi. Sedangkan Riana menundukkan kepalanya sedih, perutnya sudah sangat lapar sekali.
“Mas,” panggil Riana pelan.
“Kamu lihat sendirikan uangku diambil semua oleh ibu? Jadi makan saja apa yang ada!” Reynald pergi meninggalkan Riana ke kamarnya.
Riana menghela napasnya berat, wanita itu menatap Leo yang sedang bermain di lantai dengan beberapa mainan yang ada. “Leo, Tante mau ke dapur dulu sebentar ya. Jadi tunggu di sini dulu, Cuma sebentar kok,” pamit Riana.
Bayi yang baru bisa duduk itu terlihat sangat asyik dengan mainan yang tengah dia pegang. Riana meninggalkannya setelah memperhatikan kalau tidak ada barang yang dapat melukai atau pun tertelan oleh bayi kecil itu. Baru ia melangkah ke dapur untuk mencari apa pun yang bisa di makan sekarang, perutnya sudah sangat pedih karena sedari pagi tadi tidak makan apa pun. Padahal, harinya sudah sangat siang sekali sekarang.
“Apa yang bisa dimakan ya?” gumam Riana seorang diri.
Riana membuka semua lemari, dia ingin mencari siapa tahu ada simpanan mi atau telur di sana. Tetapi, nihil, tidak ada apa pun. Hanya ada nasi putih yang tersisa, bahkan minyak dan bawang sudah habis tidak bersisa, Cuma ada garam dengan micin yang bersisa.
“Apa Aku buat nasi goreng saja? Nasi goreng putih tanpa bawang atau minyak, hanya dibuat sepedas mungkin saja.”
Riana berjalan ke samping rumahnya meminta cabe ke tetangganya, lalu baru masuk kembali ke dapur untuk menggoreng nasi tanpa minyak. Tidak membutuhkan waktu lama, masakannya sudah matang. Wanita itu membawa sepiring nasi goreng ke tempat Leo berada. Dia berniat makan sambil mengawasi Leo, supaya bisa makan dengan nyaman tanpa mengkhawatirkan bayi itu.
“Em, ternyata sangat enak sekali,” gumamnya.
Baru beberapa suapan, Leo sudah memangis dengan kencang. Riana menaruh piringnya di atas meja ruang tamu. “Ada apa, Sayang? Kenapa Kamu menangis?”
Riana menggendong Leo dan mencium bau tidak sedap darinya. ”Ternyata Kamu pup ya?” kekeh Riana.
Dia bergegas membawa Leo ke belakang untuk membersihkan popoknya. Saat Riana baru saja pergi, Reynald keluar dari kamarnya karena mendnegar suara Leo menangis.
“Ada nasi goreng.” Reynald mendekati nasi goreng Riana lalu menyantapnya. Baru satu suap, lelaki itu sudah memuntahkannya keluar.
Prang! Suara piring dilempar begitu nyaring terdengar sampai ke tempat Riana berada. Wanita itu bergegas berlari menuju asal suara, dia terkejut saat melihat sepiring nasi goreng yang baru beberapa suap dia makan sudah berserakan di lantai.
“Mas, kenapa nasi gorengku ....” Riana tidak mampu meneruskan kalimatnya.
“Kenapa? Nasi goreng yang tidak enak begitu, ya jelas Aku buang!” gerutu Reynald.
“Tapi, itu baru Aku makan beberapa suap saja loh, Mas,” kata Riana dengan air mata yang tertahan.
“Tinggal buat lagi saja sana! Apa susahnya?” Reynald kembali ke kamarnya dengan membawa serta Leo.
Brak, suara pintu ditutup dengan keras. Riana terduduk lemas di lantai sambil memandangi nasi gorengnya yang sudah kotor. “Padahal ini nasi yang tersisa, mau memasak lagi beras sudah habis,” lirih Riana.
Wanita itu meneteskan air matanya tanpa bisa menahannya lagi, kali ini dia amat sangat lapar. Andaikan punya uang mungkin dia bisa makan di luar rumah saja, tidak mengemis-ngemis meminta makan pada ibu mertua atau pun suaminya yang tidak peduli. Riana memilih membersihkan pecahan beling yang berhamburan dengan sesekali menatap sedih. Padahal, perutnya terasa sangat pedih sekali, tubuhnya saja masih gemetaran karena belum makan apa pun.
Setelah dirasa sudah bersih, Riana memilih meringkuk di sofanya untuk berbaring. Dia sudah tidak memiliki tenaga lain untuk sekedar berdiri, untung saja Leo sudah dibawa suaminya ke dalam kamar. Jadi, ia tidak perlu repot menjaga bayi itu. Apa lagi Leo sering sekali rewel, sehingga pasti ia akan kelelahan atau bisa pingsan nantinya.
.
.
“Enak sekali tidur ya! Padahal suaminya repot mengurus Leo yang sedang menangis!” geram ibu Mayang.
“Siram saja, Tante,” usul Serly.
Ibu Mayang bergegas ke belakang untuk mengambil seember air, ia mengguyur Riana dengan air yang dia bawa itu.
“Siapa?!” pekik Riana terkejut.
“Cepat bangun dan tenangkan Leo yang sedang menangis itu!” perintah Mayang.
“Dasar istri tidak berguna!” umpat Serly.
Kesabaran Riana habis saat terus-menerus mendengar hinaan yang diberikan kepadanya.
“Kenapa harus Akuyang mengurus anakmu itu? Bukankah Kamu ibunya? Di mana tanggung jawabmu sebagai ibu? Jangan hanya bisa membuatnya saja tapi, tidak mau mengurusnya! Oh, iya. Aku lupa, anakmu itukan hasil hubungan dari luar nikah,” sindir Riana.
“Riana!” teriak Serly marah.
“Apa!?” Riana tidak mau kalah.
“Riana, jangan berbicara omong kosong seperti itu!” kata Reynald.
“Kan memang benar apa yang Aku katakan! Semua orang juga tahu kalau Serly hamil di luar nikah, kalian saja yang tidak ingin mengakuinya!”
“Setiap kali dia datang ke rumah ini, pasti ibu akan menyuruhku untuk memasak banyak makanan. Padahal dia bukan seseorang yang penting untuk diberikan jamuan setiap kali dia datang kemari. Bahkan, Aku tidak dibiarkan menyantapnya walau sedikit karena wanita seperti dia.” Riana menunjuk wajahnya Serly dengan penuh emosi.
“Riana, jangan Ka-“ kata ibu Mayang terpotong.
“Apa? Jangan berani melawan kepada kalian semua, begitu maksud ibu? Aku sudah muak diperlakukan seperti ini terus, kalau Aku melawan sedikit saja seluruh tubuhku akan penuh luka lebam. Jadi, silahkan pukuli Aku sekarang, kalau berani!”
Semua orang terdiam, bahkan sampai bayi kecil saja ikut terdiam mendengar Riana marah. Setelah dirasa tidak ada yang akan menjawab apa yang dia katakan, Riana memilih masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya yang basah karena diguyur air oleh ibu mertuanya.
“Rey, istrimu berani sekali kepada ibu. Kamu lihat sendirikan?” Ibu Mayang bergelayut meminta pembelaan kepada sang anak.
“Iya, Mas. Dia juga mengatai Aku yang hamil di luar nikah, Aku sangat sedih sekali sekarang.” Serly merengek sambil berpegangan di lengan kanan Reynald.
“Salah kalian sendiri seperti itu! Dia tidak ditinggali lauk sedikit pun, padahal dia yang memasaknya,” ketus Reynald.
“Ibukan sudah bilang kepada, Rey. Kalau Ibu yang memasak semuanya sendiri,”
“Aku melihat sendiri loh, Bu. Kalau Ibu hanya menonton Riana memasak, bahkan malah makan di depannya tanpa mengajak dia untuk ikut makan!”
“Lalu, bagaimana denganku, Mas? Bukankah Aku tidak melakukan sesuatu kepada istrimu itu. Tapi, kenapa dia malah menghinaku?” tanya Serly dengan mata berbinar.
“Kamu juga salah karena menyuruh Ibu untuk menyiramkan air ke Riana. Ibu, mana sisa uang yang tadi diambil? Aku mau membelikan Riana sarapan, kasian dia belum makan apa pun,”
“Tapi, Kamukan sudah mengasihnya ke Ibu. Kenapa malah diminta lagi?” tanya Ibu Mayang.
“Bukan Aku yang kasih. Tapi, ibu yang ngambil dari Aku,” jawab Reynald.
Ibu Mayang menyerahkan sisa uangnya dengan wajah ditekuk, terlihat sangat tidak rela sekali memberikan uangnya kepada Reynald.
“Ini, anakmu.” Reynald menyerahkan Leo kepada Serly, ia bergegas masuk ke dalam kamar menyusul Riana.
“Tante sih,”
“Bukannya Kamu yang nyuruh buat menyiram Riana,”
“Riana,” panggil Reynald lembut.
Riana tidak menyahut panggilan dari suaminya, ia tetap berbaring membelakanginya.
“Riana, maafkan, Mas ya. Mas mengaku salah.” Reynald menyentuh lembut lengan Riana.
Wanita itu tetap tidak menjawab suaminya.
“Kamu pasti sangat laparkan, Sayang? Ayo kita beli makanan di luar, terserah mau makan apa pun, Mas yang bayar,” bujuk Reynald.
Riana baru menoleh kepada suaminya. “Benarkan apa yang Kamu katakan, Mas?” tanya Riana dengan mata berkaca-kaca.
“Benar kok,” jawab Reynlad.
“Kalau begitu Aku siap-siap dulu ya, Mas.” Riana langsung beranjak dari ranjang untuk bersiap.
Sedangkan Reynald, ia menatap sang istri dengan terpesona. Karena disaat Riana tersenyum, ia sangat cantik sekali. Senyuman itulah yang membuat dirinya terpikat dengan sang istri, senyuman dengan lesung pipi yang membuatnya semakin manis.
“Mas! Kok melamun?”
“Tidak papa, Mas hanya sedang kepikiran sesuatu,” jawab Reynald.
“Eh, tadi uang Mas kan diambil sama ibu semua. Lalu, bagaimana cara bayarnya nanti?” tanya Riana khawatir.
“Tenang, uangnya ada kok. Ayo kita pergi sekarang, kasian istri Mas sudah kelaparan dari pagi.” Reynald mengacak rambut Riana gemas.
“Ih, Mas! Jadi berantakan lagi kan.” Riana membenarkan rambutnya dengan jari mungilnya.
Reynald tertawa kecil, ia menarik tangan istrinya untuk segera berangkat.
Mereka berangkat dengan menggunakan mobil milik Reynald, lelaki itu adalah seorang manager di sebuah perusahaan terkenal. Tidak mungkin gajihnya kecil, hanya saja dia selalu memberikan gajihnya kepada sang ibu, separuh lagi untuk dirinya sendiri. Riana tidak pernah tahu berapa gajihnya, suaminya selalu berkata bahwa ibu Mayang sangat pandai mengelola uang untuk membeli kebutuhan makan. Jadi, Riana hanya perlu memasak dan melakukan pekerjaan rumah lainnya.
“Kamu mau makan di mana, Sayang?” tanya Reynald.
“Terserah Mas saja, di mana yang enak,” jawab Riana
“Jangan gitu dong, kapan lagi kita makan di luar seperti ini,”
“Ayam bakar saja, sudah lama sekali Aku ingin makan itu. Saat ibu memesan makanan online, Aku jadi ngiler lihatnya,” kekeh Riana
“Baiklah, kalau Kamu maunya itu,”
Tidak perlu menunggu waktu lama, mereka sudah sampai di rumah makan yang menyediakan ayam bakar kemauan Riana. Reynald memarkirkan mobilnya di parkiram yang disediakan rumah makan di sana.
“Aromanya harum sekali,” kata Riana senang.
“Ayo,” ajak Reynald.
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah makan tersebut dengan bergandengan tangan, layaknya sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Riana memilih tempat duduk yang berada di pojok, ia tidak terlalu nyaman berada di tempat ramai.
“Pelayan!” panggil Reynald.
“Mau pesan apa?”
“Ayam bakar dua dan minumnya es tehnya,”
Pelayan pergi setekah mencatat pesanan milik Reynald dan Riana.
“Lama sekali ya, kita tidak makan di luar,” kata Riana.
“Aku kan sibuk, Sayang. Kebetulan kalau kita terlalu sering makan di luar nanti pengeluaran membengkak,”
“Memang, berapa gajih Mas bekerja di kantor? Selama ini Aku tidak tahu berapa gajih Kamu selama kita menikah,” tanya Riana penasaran.
“Ee-em, lumayan,” jawab Reynald gugup.
Riana terdiam, suaminya tidak pernah mau membocorkan berapa gajihnya bekerja di kantor. Padahal, ia sangat penasaran sekali tentang gajih Reynald, karena ada yang mengatakan kalau gajih suaminya lumayan cukup memberikan penampilan yang layak untuknya. Riana berpenampilan sangat sederhana bagi seorang istri manager perusahaan terkenal. Tidak jarang ada yang mencemohnya sebab penampilannya itu. Tetapi, tidak jarang ada yang kasihan dengannya.
Pesanan mereka akhirnya datang, Riana sangat senang sekali melihat ayam bakar yang berada didepannya. Dia menyantapnya dengan sangat lahap, membuat Reynald menjadi kasihan kepada istrinya itu.
“Reynlad?”
“Eh, Chiko. Bersama siapa Kamu di sini?” tanya Reynald.
“Sama siapa lagi kalau bukan istriku,” jawab Chiko.
“Istrimu tidak pernah ketinggalan ya,” sindir Reynald.
“Tentu dong. Wanita yang Aku pilih untuk menemaniku seumur hidup, harus diperlakukan dengan baik,”
“Iya-iya, deh. Suami sayang istri,” canda Reynald.
“Itu siapa, Rey?” tanya Chiko melirik Riana.
Riana sedang menikmati makanannya sehingga tidak sadar kalau ada teman suaminya yang mendekat.
“Itu, istriku,” jawab Reynald malu.
“Ternyata ini istri Pak Manager kita. Perkenalkan, namaku Chiko.” Chiko mengulurkan tangannya kepada Riana.
Wajah Riana memerah karena malu, sungguh ia tidak sadar dengan kedatangan teman suaminya itu. Ingin mengulurkan tangannya. Tetapi, tangannya kotor karena sedang makan, membuat ia hanya tersenyum menatap Chiko.
“Riana,” jawabnya.
“Sayang, ayo kita makan.” Istri Chiko bergelayut di lengan suaminya.
“Tunggu dulu, Sayang. Ini ada Pak Manager kita sedang makan bersama dengan istrinya, disapa dulu,”
“Laras.” Kata laras sambil memandang Reynald dan Riana bergantian.
“Reynald,”
“Riana,” kata Riana tersenyum.
“Eh, Aku baru saja sadar. Kenapa istrimu memakai pakaian itu ke mari? Bukankah Kamu seorang manager? Bagimu membelikan pakaian yang mahal tidak ada arti sama sekali,” ejek Chiko.
Laras menyikut suaminya pelan, memang Chiko selalu seperti itu. Dia tidak pernah segan untuk mengatakan apa yang ada di hatinya.
“Maaf. Kami pergi dulu,” pamit Laras dan langsung membawa suaminya untuk pergi.
Reynald mengangguk. Namun, lama ia memandangi Riana yang sedang menundukkan kepalanya. Memang pakaian istrinya itu tidaklah buruk. Masih bagus tanpa ada bekas jahitan di sana, hanya saja pakaiannya itu sudah berwarna kusam. Membuat siapa pun tahu kalau itu sudah sangat lama sekali.....
“Ayo kita pulang!” ajak Reynald dengan gigi bergerutuk kesal.
“Tapi, Mas. Makanan yang Aku makan belum habis, masih tersisa setengah,” tolak Riana sedih. Jarang sekali ia bisa menikmati makanan senikmat ini.
Namun, Reynald semakin geram. Ditatapnya tajam wajah sang istri. “Tidak ada tapi-tapian!”