Aldrian menunduk dan meniup pergelangan tangan Anara dengan lembut. "Nanti jangan lupa oleskan obat biar nggak tinggalkan bekas."
Kyna belum pernah melihat tatapan Aldrian yang seperti itu. Bahkan ketika kakinya lumpuh dan tubuhnya dipenuhi bekas luka dalam kecelakaan itu, Aldrian juga tidak pernah menunjukkan rasa sakit hati yang mendalam seperti ini.
Aldrian memang pernah dengan lembut bertanya apakah dia sakit dan dia boleh menangis jika merasa sakit. Namun, itu bukan karena rasa sakit hati, melainkan rasa bersalah.
Aldrian tidak akan pernah membelai luka Kyna dengan lembut. Dalam menghadapi penampilannya yang penuh bekas luka, Aldrian memilih untuk melarikan diri, menghindar, dan menolak untuk melihat.
"Nggak apa-apa. Aku benar-benar nggak sakit!" Suara Anara menjadi makin manja.
"Kyna." Aldrian menatap Kyna dan berujar, "Lihat betapa pengertiannya Nara. Cepat minta maaf."
"Kenapa aku harus minta maaf?" Entah sejak kapan, rasa sakit telah menyerang mata Kyna dan mengaburkan pandangannya. Dia tidak bisa lagi melihat wajah Aldrian dengan jelas. "Dia sudah ngaku jadi istri suamiku. Aku masih harus minta maaf ke dia?"
"Kyna! Kenapa kamu jadi berlidah tajam sekarang! Bukannya Nara sudah menjelaskannya padamu? Pak Evan salah paham dan kami cuma lanjutkan kesalahpahaman itu demi proyek! Kenapa kamu masih menyimpan dendam?"
Aldrian marah lagi. Selama Kyna "menyinggung" Nara-nya, dia pasti marah.
Kyna tersenyum dan menggeleng. "Nggak, Aldrian. Kamu salah. Aku sama sekali nggak ingin menyimpan dendam. Aku bahkan nggak ekspos kebohongan kalian berdua tadi. Aku nggak peduli siapa yang mau duduki posisi sebagai istrimu. Aldrian, aku sudah bilang mau cerai. Sebaiknya kamu setuju secepatnya. Setelah itu, semuanya akan kembali ke jalan seharusnya."
Kyna tidak mengungkap kebohongan Aldrian dan Anara karena itu memang tidak diperlukan. Lagi pula, dia dan Aldrian akan segera bercerai. Untuk apa dia menambah masalah bagi dirinya sendiri? Saat bertemu dengan Sonia kelak, dia malah harus menjelaskan hubungannya dengan kedua orang ini. Itu sungguh tidak sepadan dengan kerepotan yang akan dihadapinya.
"Kyna! Tabiatmu makin keterlaluan saja!" Aldrian makin marah dan berseru, "Mau merajuk juga ada batasnya. Cepat minta maaf pada Nara sekarang juga!"
"Nggak!" Kyna berbalik dan hendak pergi.
"Berhenti!" Aldrian menerjang ke depan dan mencengkeram tangan Kyna. "Mau ke mana kamu? Kamu sudah dorong Nara sampai jatuh dan lengannya lecet, tapi nggak mau minta maaf?"
Kyna menatap tangan yang mencengkeram pergelangan tangannya. Keputusasaan menerpanya bagai gelombang pasang. Dia menatap mata Aldrian dan menekankan kata demi kata, "Ya, aku cuma pincang, sedangkan tangannya sudah lecet ...."
Kyna melihat kilatan sakit yang mendalam di mata Aldrian. Pada saat yang sama, Aldrian melonggarkan cengkeramannya dan mundur dua langkah.
Saat mendapatkan kembali kebebasannya, Kyna berbalik dan berlari menuju lift. Benar, dia berlari. Betapa menyedihkan pun penampilannya sekarang, dia tidak peduli. Dia benar-benar tidak ingin membiarkan Aldrian melihat dirinya menangis.
Sejak Kyna terluka sampai mereka menikah, dan selama lima tahun pernikahan mereka, ini adalah pertama kalinya dia menggunakan cedera kakinya untuk melukai Aldrian.
Sebelumnya, Kyna sangat berhati-hati dan selalu melindungi perasaan Aldrian. Dia takut Aldrian akan merasa bersalah, khawatir, atau menyalahkan diri sendiri. Oleh karena itu, dia tidak pernah menyinggung tentang kakinya, apalagi kecelakaan mobil lima tahun lalu.
Meskipun tidak berhenti digosipkan dan diejek orang lain, Kyna memendam semuanya dan diam-diam mencernanya seorang diri. Dia hanya berharap Aldrian bisa memberinya sebuah keluarga yang hangat, nyaman, dan tenang. Dia hanya berharap cintanya akan bersemi indah seiring berjalannya waktu.
Sayangnya ....
Apakah Aldrian juga merasa sakit?
Kyna mengerti.
Aldrian akan menanggung beban ini seumur hidupnya tanpa bisa melepaskan diri. Bagaimana mungkin Aldrian tidak merasa sakit? Orang yang paling dicintainya ada di sampingnya, tetapi karena keberadaan Kyna, mereka tidak bisa bersama secara terbuka. Bagaimana mungkin dia tidak merasa sakit?
Hati nurani dan keinginan untuk melepaskan diri itu tidak berhenti menyiksa jiwanya. Bagaimana mungkin itu tidak menyakitkan bagi Aldrian?
'Jadi, Aldrian, lepaskanlah aku. Oke?' pikir Kyna.
Kyna pulang ke rumah sendiri, lalu mengeluarkan sepuluh kotak jam tangan itu. Dia menatap kotak-kotak jam tangan itu dan tenggelam dalam pikirannya untuk waktu yang sangat lama.
Untuk sesaat, Kyna terdorong untuk membanting setiap kotak jam tangan itu ke dinding. Namun, dia mengurungkan niatnya. Tindakan gegabah tidak bisa menyelesaikan masalah.
Setelah akhirnya tenang, Kyna membuka aplikasi jual-beli barang bekas dan mulai mencari penjual yang membeli barang-barang mewah. Dia segera menemukan satu di dalam kota dan menyuruh orang itu untuk datang mengambil barangnya pada jam 10 pagi besok. Pukul 10 pagi adalah waktu Sani pergi berbelanja.
Setelah menangani masalah ini, Kyna menyalakan laptop dan mulai fokus dalam urusan pengajuan visa. Rombongan Sonia akan berangkat sebulan lagi. Hitungan mundur sampai kepergiannya benar-benar sudah dimulai.
Kyna duduk di depan laptop dan berkonsentrasi membaca postingan demi postingan. Hatinya berdebar kencang. Baginya, dunia tidak pernah sedamai tetapi semenyenangkan ini. Tanpa disadarinya, malam ini telah berlalu. Dia begitu fokus hingga tak menyadari kepulangan Aldrian.
Sampai terdengar suara seseorang bertanya "lagi ngapain kamu?" dari balik pintu di belakangnya, Kyna baru buru-buru menutup laptopnya.
Aldrian telah kembali dan bersikap lembut seperti biasa, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Dia berjalan ke samping Kyna dan bertanya dengan suara lembut, "Lagi nonton drama? Drama apa yang begitu bagus sampai-sampai kamu belum tidur?"
Aldrian hanya sedang memaksakan percakapan.
Kyna menekan tangannya erat-erat ke laptop. Halaman webnya masih terbuka. "Drama yang nggak kamu suka."
"Aku belum nonton. Gimana kamu tahu aku nggak suka?" Aldrian mengulurkan tangan untuk membuka laptopnya.
Tidak, Kyna tidak ingin Aldrian melihat halaman web yang sedang dia baca. Dia pun menekan laptopnya erat-erat.
Aldrian berasumsi Kyna masih marah. Dia berhenti berebutan dengan Kyna, lalu berjongkok dan memandangi profil wajahnya. "Masih ngambek?"
"Nggak." Kyna merasakan banyak perasaan. Dari kekecewaan, keputusasaan, amarah, tetapi dia tidak merajuk.
Merajuk berarti selama Aldrian menghiburnya, semuanya akan baik-baik saja dan dia masih menaruh harapan pada pernikahan ini. Namun, Kyna tidak lagi menaruh harapan pada pernikahan ini .... Lima tahun benar-benar sudah cukup.
"Kyna, aku dan Nara benar-benar nggak punya hubungan apa-apa. Kami cuma teman kuliah. Dia baru kembali dari luar negeri, makanya kami semua adakan pesta untuk menyambutnya. Kesalahpahaman di mal hari ini murni nggak disengaja. Kamu harus percaya padaku."
Saat ini, Aldrian telah kembali menjadi orang yang penuh kesabaran dan kelembutan seperti biasa. Melihat Kyna diam saja, dia melanjutkan, "Kita seharusnya makan malam di rumah orang tuamu hari ini, tapi nggak jadi. Gimana kalau kita pergi ke sana lain hari?"
Kyna menggeleng. Dia tidak ingin pulang untuk makan malam. Setelah pulang, orang tua dan adik laki-lakinya hanya akan mengatakan bahwa dia seharusnya merasa sangat bersyukur karena Aldrian bersedia menikah dengan orang pincang sepertinya.
"Nggak pengen pulang? Sudah lebih dari sebulan kita nggak kunjungi orang tuamu. Kamu nggak rindu sama mereka?" Suara Aldrian terdengar makin lembut.
Kyna menatap mata Aldrian, tetapi tidak menemukan antusiasme di balik kelembutan itu. Kelembutan itu bagaikan program yang sudah terpasang di tubuh Aldrian dan akan otomatis aktif begitu diinginkan.
"Aldrian." Kyna bertanya, "Kamu nggak capek?"
Aldrian tertegun dan sepertinya tidak mengerti apa yang Kyna maksud.
Kyna tersenyum getir dan bertanya, "Ada orang lain di hatimu, tapi kamu harus hadapi aku setiap hari. Kamu nggak capek?"